Culture

Yukimi, Serunya Nikmati Budaya Melihat Salju di Jepang!

Hai Minasan~! Ketika musim dingin tiba, Jepang berubah menjadi wilayah yang dipenuhi dengan warna putih. Di balik dinginnya udara dan tumpukan salju yang sangat tebal, terdapat sebuah tradisi budaya yang telah berakar dalam-dalam dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa Jepang yaitu bernama Yukimi (雪見) atau seni menikmati salju.

Budaya ini selain menjadi melihat pemandangan, tapi juga interaksi yang penuh estetika dan spiritual antara manusia dengan alam yang telah diwariskan dari generasi ke generasi selama lebih dari seribu tahun. Pandai Kotoba pada artikel ini akan membahas mengenai serunya yukimi atau menikmati salju di Jepang mulai dari pengertian dari budaya ini, apa saja yang dilakukan saat Yukimi, dan alasan di balik dari budaya ini dilakukan. Penasaran dengan Yukimi? Yuk, kita simak di bawah ini.

yukimi shoji 2
Melihat dan Menikmati Turunnya Salju dari Yukimi Shoji atau Pintu Geser Tradisional Jepang yang Sudah Dimodifikasi untuk Yukimi
grapee.jp

Yukimi, Serunya Menikmati Budaya Salju di Jepang!

A. Apakah Budaya Menikmati Salju di Jepang Itu?

Secara harfiah, Yukimi (雪見) berarti “melihat salju”. Namun, dalam konteks budaya Jepang, maknanya jauh melampaui dari tindakan visualnya. Sebuah praktik budaya ini yang menghargai keindahan salju baik saat turun maupun setelah menumpuk sebagai momen untuk direnungkan dan dinikmati.

Budaya ini tidak hanya terbatas pada kekaguman pasif, tapi juga melahirkan berbagai tradisi turunan yang memperkaya pengalaman tersebut seperti Yukimi Zake atau menikmati sake sambil melihat salju, Yukimi Shoji atau pintu geser dengan kaca untuk melihat salju dari dalam ruangan, dan bahkan istilah kuliner seperti Yukimi Daifuku atau mochi manis yang bentuknya menyerupai bola salju.

yukimi shoji
Yukimi Shoji
renoco.jp

Di Jepang yang merupakan salah satu negara dengan curah salju terbesar di dunia zona beriklim sedang, salju adalah bagian dari kehidupan. Bagi daerah-daerah yang sering dilanda badai salju, salju bisa menjadi sumber kesulitan. Namun, di kota-kota di sisi Pasifik yang menerima lebih sedikit salju, orang Jepang mengembangkan cara untuk mengapresiasi keindahan langka ini.

Mereka menyebut kepingan salju dengan istilah puitis “Mutsunohana” atau “Rikka” (bunga enam) yang merujuk pada bentuk kristal salju yang heksagonal. Oleh karena itu, budaya ini adalah cara untuk mengubah sesuatu yang berpotensi menjadi beban menjadi sumber keindahan dan perenungan.

B. Apa yang Dilakukan Orang Jepang Saat Menikmati Salju?

Bagian ini adalah inti dari budaya Yukimi karena di sinilah kita melihat bagaimana sebuah apresiasi estetika berubah menjadi tindakan nyata, ritual sosial, dan bahkan inovasi budaya yang bertahan hingga hari ini. Berikut adalah penjelasan yang mendalam mengenai berbagai aktivitas yang menyertai budaya menikmati salju di Jepang ya.

1. Menikmati Salju dari Dalam Ruangan, Keajaiban “Yukimi Shoji”

Salah satu cara paling khas dan cerdas orang Jepang menikmati salju adalah melalui arsitektur. Alih-alih harus menahan dingin di luar, mereka menciptakan cara untuk “membawa” pemandangan salju ke dalam ruangan yang hangat. Solusinya adalah Yukimi Shoji (雪見障子).

Jika biasanya pintu geser tradisional Jepang atau yang disebut “shoji” (障子) seluruhnya dilapisi kertas washi yang tembus cahaya namun tidak tembus pandang, Yukimi-shoji adalah inovasi yang brilian. Bagian atas shoji tetap menggunakan kertas washi, tapi bagian bawahnya yang sejajar dengan mata orang yang duduk di lantai tatami diganti dengan kaca.

Melihat Pemandangan Salju Turun dari Yukimi Shoji (youtube.com)

Inovasi ini memungkinkan orang untuk melihat langsung ke taman atau halaman yang tertutup salju tanpa harus membuka pintu dan membiarkan hawa dingin masuk. Kaca di bagian bawah ini juga berfungsi ganda untuk memasukkan lebih banyak cahaya alami ke dalam ruangan yang sering kali redup di musim dingin.

Lebih dari hanya fungsi, Yukimi Shoji adalah perwujudan dari filosofi estetika Jepang yang menghargai pemandangan yang dibingkai. Bingkai jendela menjadi pigura alami untuk lukisan hidup yang berubah setiap saat seiring salju turun dan menumpuk. Beberapa desain yang lebih canggih bahkan memiliki panel kaca yang bisa digeser atau diangkat memungkinkan interaksi langsung dengan udara musim dingin jika diinginkan atau sebagai cara untuk membersihkan salju yang menempel di kaca.

2. Ritual Sosial dan Kuliner, Pesta dan Sake di Bawah Salju

Bagi orang Jepang, keindahan alam sering menjadi lebih bermakna jika dinikmati bersama. Oleh karena itu, budaya Yukimi sejak awal melahirkan tradisi berkumpul.

a) Yukimi Zake (雪見酒)

Ini adalah praktik menikmati sake sambil memandang salju. Tradisi ini selain menjadi kegiatan minum-minuman, tapi juga adalah sebuah seni. Bayangkan berada di sebuah onsen atau pemandian air panas terbuka dengan uap hangat mengepul dari tubuh, sementara di luar, butiran salju turun perlahan ke tanah yang membeku, dan kita menyeruput sake hangat (atsukan) yang menghangatkan tenggorokan. Sensasi kontras antara panas dan dingin ini adalah puncak dari kenikmatan Yukimi Zake.

L3216080001686953
Yukimi Zake di Samping Kolam Onsen
jalan.net

Sejarah mencatat bahwa tradisi ini sudah ada sejak zaman Heian. Konon, Murasaki Shikibu, penulis Genji Monogatari juga menikmatinya. Pada zaman Edo, orang-orang bahkan menyewa perahu (Yukimi Bune) untuk bersulang di atas sungai sambil menikmati pemandangan salju di tepian. Sake hangat dianggap cocok karena uapnya yang hangat dan rasanya yang kaya dapat menangkal hawa dingin, sementara sake dingin (hiyazake) dinikmati untuk merasakan “kedinginan” alami dari salju itu sendiri.

b) Yukimi no Utage (雪見の宴)

Ini adalah pesta atau pertemuan untuk melihat salju. Sejak abad ke-9, istana kekaisaran mengadakan jamuan resmi saat salju turun. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini menyebar ke masyarakat umum. Pada periode Edo, orang-orang biasa akan berkumpul di tempat-tempat terkenal seperti Ueno atau Asakusa membawa bekal dan minuman, lalu duduk bersama menikmati pemandangan sambil berbincang dan bersosialisasi. Intinya adalah berbagi momen keindahan yang fana dengan orang lain menciptakan memori kolektif yang mempererat ikatan komunitas.

3. Seni Kuliner yang Terinspirasi Salju

Kreativitas orang Jepang dalam merayakan musim juga tercermin dalam makanan. Salju tidak hanya dinikmati dengan mata, tapi juga dengan lidah. Berikut ini penjelasannya.

a) Yukimi Daifuku (雪見だいふく)

Ini adalah salah satu contoh paling populer dari budaya kuliner modern yang terinspirasi oleh Yukimi. Nama ini secara harfiah berarti “daifuku melihat salju”. Produk ini adalah es krim vanila yang dibungkus dengan mochi yang lembut dan kenyal. Bentuknya yang bulat dan putih bersih menyerupai bola salju atau daifuku tradisional.

yukimi daifuku
Es Krim Vanila Yukimi Daifuku
lotte.co.jp

Es krim ini dirancang agar tetap lembut bahkan dalam keadaan beku, menciptakan kontras tekstur yang unik. Nama “Yukimi” di sini adalah permainan kata yang cerdas, karena kita menikmati “salju” (es krim) di dalam ruangan yang hangat, persis seperti konsep Yukimi Shoji.

b) Yukimi Nabe (雪見鍋) atau Miso Nabe

Ini adalah hidangan hot pot yang secara visual meniru pemandangan salju. Biasanya hidangan ini menggunakan kaldu bening dan di atasnya, lalu ditaburi parutan daikon (lobak putih) yang sangat banyak. Parutan daikon ini mengapung di permukaan kaldu menyerupai salju yang menutupi pemandangan. Ketika dimasak, parutan daikon ini menyerap rasa kaldu dan memberikan tekstur segar sekaligus menghangatkan tubuh. Ini adalah cara yang cerdas untuk mengapresiasi musim dingin melalui pengalaman bersantap yang menghangatkan.

yukimi nabe
Yukimi Nabe atau Miso Nabe
mizkan.co.jp

4. Festival dan Seni Cahaya, Ketika Salju Menjadi Kanvas

Di daerah-daerah dengan curah salju yang tinggi, Yukimi berkembang menjadi festival komunitas yang megah mengubah “beban” salju menjadi karya seni. Berikut ini penjelasannya ya.

– Festival Lentera Salju Uesugi (上杉雪灯篭まつり) di Yonezawa

Festival ini adalah contoh sempurna bagaimana semangat Yukimi diterapkan dalam skala komunitas. Awalnya dimulai pada tahun 1977 oleh sekelompok kecil orang yang ingin menikmati keindahan salju sambil minum sake. Mereka menemukan bahwa meletakkan lilin di dalam lubang salju menciptakan pemandangan yang sangat indah. Ide ini kemudian berkembang menjadi festival tahunan yang melibatkan seluruh kota.

uesagi
Festival Lentera Salju Uesugi di Yonezawa
yukidourou.yonezawa-matsuri.jp

Ribuan lentera salju (yukidoro) dan bonbori (lentera kertas) diletakkan di atas salju menciptakan pemandangan cahaya oranye yang hangat dan berkelap-kelip di tengah malam musim dingin yang gelap dan sunyi. Festival ini bukan tentang pertunjukan yang megah, tapi tentang suasana Wabi Sabi atau keindahan yang tenang dan melankolis,di mana suara salju yang menyerap bunyi dan cahaya lilin yang lembut menciptakan pengalaman spiritual yang mendalam. Warga setempat bahkan terlibat langsung dalam pembuatan lentera menjadikannya sebagai kegiatan komunal yang mempererat hubungan sosial.

5. Aktivitas Praktis, Hidup Berdampingan dengan Salju

Tentu saja, budaya Yukimi juga tidak bisa dilepaskan dari realitas praktis hidup di daerah bersalju. Bagi banyak orang di Hokkaido atau wilayah Tohoku “menikmati” salju juga berarti “menghadapinya”. Menyekop salju adalah aktivitas pagi yang umum bagi warga di daerah bersalju. Setiap pagi orang-orang akan keluar untuk membersihkan salju di depan rumah dan jalan setapak. Jika tidak, jalanan tidak bisa dilalui.

Meskipun terdengar melelahkan, aktivitas ini sering kali menjadi momen interaksi sosial antar tetangga. Saling membantu menyekop salju adalah bentuk solidaritas komunitas yang penting. Truk-truk pemerintah juga berkeliling untuk membersihkan jalan utama, memastikan mobilitas kota tetap terjaga. Dalam konteks ini, Yukimi bukan hanya tentang mengagumi keindahan, tapi juga tentang menghormati dan beradaptasi dengan kekuatan alam, serta merawat lingkungan bersama.

Oleh karena itu, apa yang dilakukan orang Jepang saat menikmati salju jauh lebih dari hanya melihat-lihat saja. Ini adalah keberagaman aktivitas yang luas mulai dari merenung diam-diam di balik kaca Yukimi Shoji, pesta pora yang hangat dengan sake dan hot pot hingga partisipasi aktif dalam festival komunitas yang mengubah salju menjadi cahaya.

Setiap aktivitas baik itu yang bersifat estetika, sosial, kuliner, maupun praktis, semuanya berakar pada satu hal yang sama. Sebuah penghormatan mendalam terhadap alam dan keinginan untuk menemukan keindahan, kehangatan, dan makna bahkan di tengah musim dingin yang paling dingin sekalipun.

C. Mengapa Orang Jepang Melakukan Budaya Ini?

Jika bagian sebelumnya menjelaskan apa yang mereka lakukan, bagian ini menggali akar penyebabnya yaitu mengapa sebuah bangsa memilih untuk merayakan bukan hanya bertahan dari musim dingin yang keras. Jawabannya terjalin dari kondisi geografis yang unik, estetika filosofis yang mendalam, dan adaptasi psikologis terhadap alam. Yuk, kita lanjut lagi di bawah ini.

1. Faktor Geografis, Paradoks Negara Bersalju di Zona Beriklim Sedang

Alasan paling mendasar mengapa budaya Yukimi tumbuh subur di Jepang adalah karena Jepang adalah salah satu negara dengan curah salju terbesar di dunia di antara negara-negara beriklim sedang. Ini adalah posisi geografis yang unik dan menciptakan dinamika tersendiri.

Jepang memiliki kontras wilayah yang ekstrem. Di sisi Laut Jepang (bagian barat), angin musim dingin dari Siberia membawa kelembapan yang sangat besar menghasilkan hujan salju lebat yang bisa menimbun hingga beberapa meter. Wilayah ini sering “menderita” karena salju memiliki beban berat, adanya gangguan transportasi, dan bahaya longsor. Namun, di sisi Samudra Pasifik bagian timur termasuk Tokyo dan Kyoto, salju jauh lebih jarang turun.

salju di tokyo
Salju yang Turun di Tokyo
news.yahoo.co.jp

Paradoks inilah yang melahirkan budaya Yukimi. Di daerah yang jarang bersalju, orang Jepang mengembangkan apresiasi estetis terhadap salju karena kelangkaannya. Mereka memberinya nama-nama puitis seperti “Mutsunohana” atau “Rikka” (bunga enam) yang merujuk pada bentuk kristal salju yang heksagonal. Salju tidak dilihat sebagai ancaman, tapi sebagai hadiah langka dari langit yang layak untuk dikagumi, dinikmati dengan sake, dan diabadikan dalam puisi. Dengan kata lain, budaya ini lahir dari rasa syukur atas keindahan yang tidak selalu hadir.

2. Estetika Mono no Aware, Merayakan Keindahan yang Fana

Jika faktor geografis adalah pemicunya, maka Mono no Aware (物の哀れ) adalah jiwanya. Konsep estetika ini adalah kunci untuk memahami mengapa orang Jepang tidak hanya “melihat” salju, tapi juga merasakan kedalaman emosional saat melakukannya.

Mono no Aware secara harfiah berarti “kesedihan atas segala sesuatu” atau “perasaan akan kefanaan”. Ini adalah kesadaran bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat sementara dan justru karena kesementaraan itulah sesuatu menjadi indah. Salju adalah simbol paling sempurna untuk konsep ini. Salju turun dengan murni dan indah menutupi dunia dalam keheningan putih yang sempurna, tapi kemudian meleleh dan hilang tanpa jejak.

Dalam konteks Yukimi, orang Jepang tidak hanya mengagumi keindahan visual salju, tapi juga merenungkan sifat sementara dari keberadaan. Mereka menikmati momen tersebut karena momen itu tidak akan bertahan lama. Inilah yang membedakan Yukimi dari hanya rekreasi biasa.

Ini adalah latihan spiritual untuk menerima kefanaan hidup, sebuah cara untuk menemukan keindahan bahkan dalam hal-hal yang akan segera berakhir. Sensitivitas estetis inilah yang mendorong orang Jepang untuk keluar, duduk di ruangan hangat, dan benar-benar menyaksikan salju bukan mengabaikannya.

3. Harmoni dengan Alam, Mengubah “Beban” Menjadi “Berkah”

Orang Jepang memiliki pandangan yang unik terhadap alam yang sering digambarkan sebagai hubungan yang harmonis dan saling menghormati. Namun, dalam praktiknya, hubungan ini juga merupakan bentuk adaptasi dan “penjinakan” terhadap kekuatan alam yang bisa sangat kejam .

Salju dalam bentuk mentahnya bisa menjadi “musuh”. Namun, budaya Yukimi adalah proses budaya yang mengubah “alam liar” yang berpotensi berbahaya menjadi “alam yang dimasak” (cooked nature) atau sesuatu yang bisa dinikmati, dipahami, dan dirayakan. Dengan membingkai salju dalam konteks estetika seperti Yukimi Shoji, sosial (pesta sake), dan kuliner (Yukimi Nabe), orang Jepang “menjinakkan” salju. Mereka mengambil kendali atas pengalaman mereka terhadap alam, mengubah dingin yang menusuk menjadi pemandangan yang indah, dan mengubah isolasi menjadi kesempatan untuk berkumpul.

Ini adalah bentuk ketahanan psikologis dan spiritual. Alih-alih mengutuk cuaca, orang Jepang memilih untuk menemukan kegembiraan di dalamnya. Ini adalah cara untuk berdamai dengan lingkungan yang keras, menerima apa yang tidak bisa diubah, dan menemukan keindahan di dalamnya. Yukimi adalah pernyataan bahwa manusia dapat hidup bersama alam bukan hanya di bawah kekuasaannya.

4. Warisan Sejarah dan Identitas Budaya

Alasan lain mengapa budaya ini terus dilestarikan adalah karena ia telah menjadi bagian dari identitas budaya Jepang selama lebih dari seribu tahun. Sejak pertama kali tercatat pada tahun 872 dalam Nihon Sandai Jitsuroku, Yukimi telah berevolusi dari ritual istana yang eksklusif menjadi tradisi nasional.

Melestarikan tradisi ini adalah cara untuk tetap terhubung dengan akar sejarah dan identitas kolektif. Ketika orang Jepang modern menikmati Yukimi Zake atau membeli Yukimi Daifuku, mereka tidak hanya menikmati produk atau pengalaman. Mereka berpartisipasi dalam sebuah keberlanjutan budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad.

nihon sandai jitsuroku
Isi dari Buku Nihon Sandai Jitsuroku
online.bunka.go.jp

Ini memberikan rasa stabilitas dan makna di tengah dunia yang berubah dengan cepat. Ini juga menjelaskan mengapa tradisi ini tidak hilang seiring modernisasi, tapi justru beradaptasi dan menemukan bentuk-bentuk baru (seperti es krim mochi atau festival lentera salju) untuk tetap relevan.

Jadi, mengapa orang Jepang melakukan budaya menikmati salju? Mereka melakukannya karena lingkungan geografis mereka telah menjadikan salju sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan, terkadang langka dan terkadang melimpah. Mereka melakukannya karena estetika Mono no Aware telah mengajari mereka untuk melihat keindahan dalam kefanaan dan kerapuhan.

Mereka melakukannya sebagai bentuk harmoni dan adaptasi terhadap alam mengubah tantangan menjadi kesempatan untuk refleksi dan perayaan. Dan akhirnya, mereka melakukannya karena itu adalah bagian dari siapa mereka. Sebuah warisan budaya yang menghubungkan mereka dengan generasi masa lalu dan memberikan makna pada musim dingin yang panjang.

Pada intinya, Yukimi bukan tentang salju itu sendiri. Ini tentang bagaimana manusia memilih untuk merespons dunia di sekitar mereka. Ini adalah pilihan untuk berhenti, bernapas, dan menemukan keajaiban bahkan dalam dingin yang paling menusuk sekali pun.

D. Makna di Balik Budaya Yukimi

Jika bagian sebelumnya menjelaskan mengapa orang Jepang melakukannya, bagian ini membahas lebih dalam apa yang sebenarnya mereka pahami dan rasakan ketika mereka menikmati salju. Makna-makna ini bersifat simbolis, filosofis, dan spiritual. Lapisan-lapisan yang menjadikan Yukimi bukan hanya rekreasi musiman, tapi sebuah praktik budaya yang sarat dengan pesan tentang kehidupan, alam, dan manusia. Yuk, kita lanjut lagi bawah ini.

1. Keselarasan dengan Alam, Manusia sebagai Bagian dari Siklus Bukan Penguasa

Makna paling fundamental dari budaya Yukimi adalah hubungan harmonis antara manusia dan alam. Dalam pandangan dunia Jepang yang berakar pada tradisi Shinto dan Buddhisme, alam bukan objek yang harus ditaklukkan atau dikendalikan, tapi entitas hidup yang memiliki nilai dan kehendaknya sendiri. Manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasa di atasnya.

Budaya Yukimi mewujudkan prinsip ini secara nyata. Ketika orang Jepang duduk di dalam ruangan hangat dan memandang salju yang turun melalui Yukimi Shoji, mereka tidak sedang berusaha “mengalahkan” dingin atau “menghindari” salju. Sebaliknya, mereka sedang mengundang alam masuk ke dalam ruang hidup mereka, membingkainya sebagai pemandangan yang layak dihormati. Mereka menerima salju apa adanya bukan sebagai gangguan, tapi sebagai bagian dari ritme musim yang harus dijalani dengan penuh kesadaran.

Makna ini juga tecermin dalam cara orang Jepang beradaptasi terhadap salju bukan melawannya. Menyekop salju bersama tetangga, membangun atap yang miring untuk mencegah penumpukan, atau menciptakan Yukimi Shoji, semua ini adalah bentuk dialog dengan alam. Manusia tidak memaksa alam untuk berubah. Manusia menyesuaikan diri dan menemukan cara untuk hidup bersama alam. Yukimi adalah perayaan atas keselarasan ini: sebuah pengakuan bahwa keindahan sejati muncul ketika manusia dan alam saling menghormati.

2. Kesunyian dan Kontemplasi, Ruang untuk Ketenangan Batin

Salju memiliki kualitas akustik yang unik, karena salju dapat menyerap suara. Ketika salju turun lebat, dunia menjadi sunyi. Suara langkah kaki teredam, hiruk pikuk kendaraan meredup, dan gemerisik dedaunan menghilang. Dalam budaya Jepang, keheningan ini bukanla kekosongan yang menakutkan, tapi ruang sakral untuk introspeksi dan ketenangan pikiran.

Yukimi memberikan izin budaya untuk berhenti. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, menikmati salju adalah alasan yang sah untuk duduk diam, menatap ke luar jendela, dan tidak melakukan apa-apa selain ada. Ini adalah bentuk meditasi yang tidak memerlukan instruksi khusus dan hanya kesediaan untuk hadir dan merasakan momen.

salju turun
Pemandangan Salju Menumpuk dari Luar
matsunoyama.com

Dalam estetika Jepang, keheningan yang diciptakan salju sering dikaitkan dengan konsep “seijaku” (静寂), yaitu ketenangan yang mendalam. Momen ini memungkinkan seseorang untuk mendengarkan suara batinnya sendiri, melepaskan diri dari kebisingan dunia luar, dan menemukan kedamaian di dalam. Banyak orang Jepang menggambarkan pengalaman Yukimi sebagai momen ketika “pikiran menjadi jernih” atau “hati menjadi tenang”. Dengan demikian, budaya ini memiliki fungsi psikologis yang nyata. Budaya ini menyediakan ruang terstruktur untuk relaksasi mental dan pemulihan spiritual.

3. Komunitas dan Kebersamaan, Kehangatan di Tengah Dingin

Meskipun salju sering diasosiasikan dengan isolasi dan kesendirian, budaya Yukimi justru mengandung makna komunal yang kuat. Di Jepang, menikmati salju sering kali adalah aktivitas kolektif yang menjadi cara untuk mempererat ikatan sosial dan merasakan kebersamaan.

Sejak zaman Heian, pesta melihat salju atau Yukimi no Utage adalah acara sosial yang penting di istana. Para bangsawan berkumpul untuk menikmati pemandangan sambil berbagi puisi, musik, dan sake. Tradisi ini berlanjut hingga zaman Edo, ketika orang biasa juga mulai berkumpul di tempat-tempat terkenal untuk menikmati salju bersama. Di era modern, semangat ini hidup dalam festival-festival seperti Festival Lentera Salju Uesugi di mana seluruh komunitas bekerja sama membuat lentera dan merayakan musim dingin bersama-sama.

Makna di balik kebersamaan ini sangat mendalam adalah salju yang secara fisik mendinginkan, justru menghangatkan hubungan antarmanusia. Ketika orang-orang berkumpul di sekitar api unggun, menikmati nabe panas bersama, atau saling membantu menyekop salju, mereka menciptakan kehangatan sosial yang melampaui dinginnya cuaca.

Yukimi mengajarkan bahwa tantangan alam. Dalam hal ini, musim dingin yang keras bukanlah sesuatu yang harus dihadapi sendirian. Budaya ini adalah kesempatan untuk memperkuat solidaritas, berbagi cerita, dan merayakan kebersamaan. Dalam masyarakat Jepang yang sering kali menekankan harmoni kelompok (wa), Yukimi menjadi wadah sempurna untuk mengekspresikan nilai tersebut.

4. Kesementaraan dan Mono no Aware, Keindahan yang Tak Abadi

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, makna terdalam dari Yukimi terkait erat dengan konsep Mono no Aware atau kesadaran akan kefanaan segala sesuatu. Salju adalah metafora sempurna untuk kehidupan itu sendiri, ia datang tanpa peringatan, bersinar dengan keindahan yang murni, lalu menghilang tanpa jejak.

Dalam konteks ini, Yukimi bukan hanya tentang mengagumi salju, tapi tentang merenungkan sifat sementara dari keberadaan. Orang Jepang menikmati salju karena ia tidak akan bertahan lama. Jika salju turun sepanjang tahun, ia mungkin akan kehilangan daya tariknya. Justru karena kelangkaan dan kesementaraannya, salju menjadi berharga.

Pemandangan Salju dari Luar Jendela Kamar (youtube.com)

Makna ini memiliki implikasi filosofis yang dalam. Kehidupan ini singkat dan justru karena itu kita harus menghargainya. Yukimi mengajarkan untuk hadir sepenuhnya di momen ini untuk merasakan keindahan yang ada di depan mata dan untuk menerima bahwa segala sesuatu termasuk kesedihan, kepedihan, dan kebahagiaan adalah bagian dari siklus yang harus dijalani dengan lapang dada. Ini adalah bentuk penerimaan terhadap ketidakkekalan dan pelajaran spiritual yang telah diwariskan selama berabad-abad dalam budaya Jepang.

5. Transformasi Beban Menjadi Berkah, Ketahanan dan Kreativitas

Salah satu makna paling inspiratif dari budaya Yukimi adalah kemampuannya untuk mengubah sesuatu yang berpotensi menjadi beban menjadi sumber keindahan dan kegembiraan. Bagi banyak orang di daerah bersalju, salju adalah tantangan nyata seperti pekerjaan berat, bahaya, dan gangguan. Namun, alih-alih mengutuk salju, orang Jepang memilih untuk menemukan cara menikmatinya.

Makna ini tecermin dalam berbagai inovasi budaya yang lahir dari Yukimi. Yukimi Shoji yang memungkinkan orang menikmati salju tanpa kedinginan, Yukimi Zake yang mengubah momen dingin menjadi kesempatan bersosialisasi, dan festival lentera salju yang mengubah tumpukan salju menjadi kanvas seni. Semua ini adalah bukti ketahanan psikologis dan kreativitas budaya. kemampuan untuk tidak menyerah pada keadaan, tapi mencari cara untuk menemukan makna dan kegembiraan bahkan dalam situasi yang tidak ideal.

Dalam konteks yang lebih luas, makna ini dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Kita tidak selalu bisa mengendalikan apa yang terjadi pada kita, tapi kita bisa mengendalikan bagaimana kita meresponsnya. Yukimi adalah pengingat bahwa kebahagiaan sering kali bukan tentang menghindari kesulitan, tapi tentang menemukan keindahan di tengah kesulitan itu sendiri.

6. Identitas Budaya dan Kontinuitas Sejarah

Terakhir, budaya Yukimi memiliki makna sebagai penanda identitas budaya dan jembatan dengan masa lalu. Ketika orang Jepang modern menikmati Yukimi Zake atau membeli Yukimi Daifuku, mereka tidak hanya menikmati produk atau pengalaman, mereka sedang berpartisipasi dalam tradisi yang telah berlangsung lebih dari seribu tahun.

Makna ini memberikan rasa keterhubungan dengan generasi sebelumnya. Orang Jepang kuno yang menulis puisi tentang salju, bangsawan Heian yang mengadakan pesta melihat salju, dan warga Edo yang naik perahu di Sungai Sumida. Semua mereka adalah bagian dari rantai budaya yang sama. Dengan melestarikan Yukimi, orang Jepang modern merawat warisan leluhur mereka dan memastikan bahwa nilai-nilai estetika dan filosofis yang terkandung di dalamnya tidak hilang ditelan modernisasi.

Ini juga menjelaskan mengapa Yukimi terus berevolusi tanpa kehilangan esensinya. Bentuknya berubah dari pesta istana menjadi festival komunitas, dari puisi menjadi es krim mochi, ttapi jiwanya tetap sama yaitu penghormatan terhadap alam, apresiasi terhadap keindahan, dan kesadaran akan kefanaan. Inilah yang menjadikan Yukimi bukan hanya tradisi musiman, tapi bagian dari jiwa bangsa Jepang.

Oleh karena itu, makna di balik budaya menikmati salju di Jepang sangatlah berlapis. Budaya ini adalah perayaan harmoni dengan alam, latihan kontemplasi dan ketenangan, wadah kebersamaan dan kehangatan sosial, renungan tentang kefanaan hidup, bukti ketahanan dan kreativitas manusia, serta penanda identitas budaya yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.

Yukimi mengajarkan bahwa salju hanya cuaca, tapi juga adalah cermin bagi jiwa manusia. Dalam keindahannya yang murni dan kesementaraannya yang singkat, salju mengingatkan kita pada keindahan hidup itu sendiri seperti rapuh, sementara, tapi sangat berharga. Dan dengan menikmatinya bersama-sama, kita menemukan kehangatan bahkan di tengah musim dingin yang paling dingin sekali pun.

E. Sejak Kapan Orang Jepang Melakukan Budaya Ini?

Terakhir, jika bagian-bagian sebelumnya membahas apa, mengapa, dan maknanya,bagian ini adalah tentang kronologi dan evolusi sejarah. Bagaimana sebuah praktik yang dimulai di kalangan elit istana berusia lebih dari seribu tahun lalu bertahan, berubah bentuk, dan akhirnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat luas hingga hari ini. Berikut penjelasan lebih mendalam mengenai jejak sejarah budaya Yukimi di Jepang.

1. Titik Awal, Catatan Tertulis Pertama pada Tahun 872

Sejarah tertulis budaya menikmati salju di Jepang dapat dilacak dengan cukup presisi. Catatan tertulis paling awal yang diketahui berasal dari tahun 872 (zaman Jogan) yang tercatat dalam “Nihon Sandai Jitsuroku” (日本三代実録), sebuah teks sejarah resmi yang diselesaikan pada awal abad ke-10 . Di dalamnya tercatat bahwa pada tahun tersebut diadakan sebuah “pesta melihat salju” atau yang disebut Yukimi no Utage (雪見の宴)

Catatan ini penting karena menunjukkan bahwa pada paruh kedua abad ke-9, menikmati salju bukan lagi hanya reaksi spontan terhadap cuaca, tapi telah menjadi acara sosial dan estetika yang terorganisir di lingkungan istana kekaisaran. Ini menandai transisi dari “melihat salju” menjadi “budaya menikmati salju” yang memiliki nama dan bentuk ritual.

2. Zaman Heian, dari Ritual Istana ke Apresiasi Estetika Bangsawan

Setelah catatan pertama pada tahun 872, budaya Yukimi terus berkembang di kalangan bangsawan selama zaman Heian (794-1185). Pada periode ini, Yukimi tidak lagi hanya pesta, tapi mulai meresap ke dalam sensibilitas estetika dan sastra.Salah satu bukti paling terkenal berasal dari “Makura no Soushi” (Buku Bantal) karya Sei Shonagon, yang ditulis sekitar awal abad ke-11.

Dalam anekdot tersebut, Permaisuri Teishi menyatakan keinginannya untuk melihat “Salju Puncak Xianglu” (sebuah referensi ke puisi Cina) dan Sei Shonagon dengan cerdik membuka tirai untuk memperlihatkan taman yang tertutup salju untuk memuaskan keinginan Permaisuri. Kisah ini menunjukkan bahwa pada saat itu, menikmati salju telah menjadi bagian dari percakapan budaya dan permainan estetika di istana.

Selain itu, catatan sejarah juga menyebutkan bahwa pada abad ke-11, Kaisar Shirakawa yang sudah turun takhta melakukan perjalanan kekaisaran khusus untuk melihat salju. Ini menunjukkan bahwa Yukimi telah menjadi aktivitas yang cukup penting untuk melibatkan rombongan kekaisaran.

3. Abad ke-13, Inovasi “Perahu Melihat Salju” (Yukimi Bune)

Memasuki abad ke-13, praktik Yukimi semakin beragam. Catatan penting berikutnya datang dari tahun 1251 yang menyebutkan bahwa Kaisar Gosaga yang sudah turun takhta menaiki perahu untuk menikmati salju. Praktik ini kemudian dikenal sebagai “Yukimi Bune” (雪見船) atau perahu melihat salju.

Apa makna dari catatan ini? Ini menunjukkan bahwa Yukimi tidak lagi terbatas pada melihat salju dari tepi kolam atau taman. Orang Jepang mulai memindahkan titik pandang dari daratan ke atas air untuk mendapatkan perspektif baru dalam menikmati keindahan salju. Ini adalah bukti awal kreativitas budaya dalam mengembangkan cara-cara baru untuk menikmati salju.

4. Zaman Edo, Demokratisasi Budaya dan Munculnya “Meisho” (Tempat Terkenal)

Lompatan besar berikutnya terjadi pada zaman Edo (1603-1868). Jika sebelumnya Yukimi adalah domain eksklusif bangsawan dan istana, pada periode ini budaya tersebut menyebar ke masyarakat umum terutama di kota Edo (sekarang Tokyo modern).

Orang-orang Edo mulai mengunjungi tempat-tempat tertentu yang terkenal akan pemandangan saljunya. Berbagai sumber menyebutkan nama-nama seperti Atagoyama, Kuil Chomeiji, Kuil Ueno Kaneiji, Kuil Asakusa Matsuchiyama, dan Kuil Ichigaya Hachimangu sebagai meisho (名所) atau tempat terkenal untuk melihat salju. Ini menandai munculnya “peta budaya” tentang di mana salju harus dinikmati sebagai fenomena urban yang khas.

yukimi bune
Yukimi Bune atau Kapal untuk Menikmati Yukimi
photolibrary.jp

Pada periode ini juga muncul praktik “Yukimi Bune” dalam skala yang lebih luas. Orang-orang Edo naik perahu di Sungai Sumida untuk menikmati salju sambil bersulang, sebuah pemandangan yang diabadikan dalam lukisan ukiyo-e seperti karya Utagawa Kuniyoshi (“Yukimi Bune Zu”) dan Katsushika Hokusai (“Koishikawa Yuki no Ashita” dari Thirty-six Views of Mount Fuji) . Penyair haiku terkenal Matsuo Basho juga menulis tentang Yukimi berbunyi, “Iza yukan yukimi ni korobu tokoro made” (Ayo pergi sampai kita tersandung saat melihat salju) yang menangkap semangat petualangan dan kegembiraan yang lebih santai dan manusiawi dari tradisi ini.

Oleh karena itu, zaman Edo adalah periode ketika Yukimi bertransformasi dari ritual elit menjadi rekreasi budaya populer, lengkap dengan tempat-tempat favorit, transportasi (perahu), dan ekspresi seni (ukiyo-e dan haiku).

5. Era Modern, dari Tradisi Klasik ke Festival Komunitas dan Budaya Populer

Pada era modern, khususnya setelah Perang Dunia II, budaya Yukimi terus berevolusi. Budaya ini tidak hilang, tapi menemukan bentuk-bentuk baru yang relevan dengan kehidupan kontemporer. Contoh paling menonjol adalah Festival Lentera Salju Uesugi (上杉雪灯篭まつり) di Yonezawa, Prefektur Yamagata.

Festival ini dimulai pada tahun 1977 oleh sekelompok kecil orang yang ingin menikmati keindahan salju sambil minum sake. Salah satu dari mereka meletakkan lilin di dalam lubang salju dan terpesona oleh keindahannya. Ide ini kemudian berkembang menjadi festival tahunan yang melibatkan seluruh komunitas, dengan ribuan lentera salju yang menerangi malam musim dingin.

Festival Lentera Salju Uesugi di Yonezawa, Prefektur Yamagata (youtube.com)

Contoh lain adalah Yukimi Daifuku, es krim mochi yang diciptakan pada era modern dan dinamai berdasarkan tradisi Yukimi. Produk ini adalah contoh bagaimana budaya kuliner kuno beradaptasi dengan selera modern dan mengemas konsep “menikmati salju” ke dalam bentuk yang dapat dinikmati kapan saja dan di mana saja.

Jadi, sejak kapan orang Jepang melakukan budaya ini? Jawabannya adalah setidaknya sejak tahun 872 dengan catatan tertulis pertama tentang pesta melihat salju di istana kekaisaran. Namun, sejarah Yukimi bukan ibarat garis lurus yang statis. Budaya ini mengalami evolusi bertahap:

  • Abad ke-9 hingga ke-12 (Zaman Heian): Ritual istana dan apresiasi estetika bangsawan.
  • Abad ke-13: Eksperimen bentuk baru seperti perahu melihat salju.
  • Zaman Edo (abad ke-17 hingga ke-19): Demokratisasi budaya, munculnya tempat-tempat terkenal, dan ekspresi seni populer.
  • Era modern: Festival komunitas, produk kuliner, dan adaptasi terhadap kehidupan kontemporer.

Oleh karena itu, budaya menikmati salju di Jepang bukanlah warisan yang beku, tapi tradisi hidup yang terus bernapas, karena berakar pada praktik kuno namun terus menemukan cara baru untuk tetap relevan, dari istana Heian hingga festival salju modern dan es krim mochi di zaman sekarang.


Budaya menikmati salju di Jepang atau yang disebut Yukimi adalah fenomena yang kaya dan berlapis. Ini adalah tradisi yang telah berlangsung selama lebih dari seribu tahun yang berevolusi dari ritual istana yang eksklusif menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Ini adalah praktik yang menggabungkan apresiasi estetika, interaksi sosial, dan refleksi filosofis.

Di balik kesederhanaan melihat salju, terdapat pemahaman mendalam tentang sifat sementara kehidupan, keindahan alam, dan pentingnya menemukan kegembiraan bahkan dalam menghadapi kesulitan. Di Jepang modern, di mana kehidupan sehari-hari sering kali sibuk dan penuh tekanan, Yukimi menawarkan pelarian yang tak lekang oleh waktu.

Apakah itu menikmati secangkir sake hangat di dalam ruangan sambil memandang taman yang tertutup salju atau berpartisipasi dalam festival lentera salju yang memukau, orang Jepang terus menemukan cara untuk merayakan keajaiban musim dingin. Budaya ini adalah pengingat bahwa keindahan sejati sering ditemukan dalam kesunyian, dalam kesementaraan, dan dalam kemampuan untuk berhenti sejenak dan mengagumi dunia di sekitar kita. Jika Minasan berkesempatan datang ke Jepang pada saat musim dingin, luangkan untuk melakukan budaya Yukimi ini ya. Semoga artikel ini bermanfaat.

Nah, cukup sekian yang bisa Pandai Kotoba berikan mengenai serunya yukimi atau menikmati salju di Jepang. Jika Minasan masih penasaran dan ingin baca lagi tentang budaya musim dingin di Jepang lainnya, di website kami ada banyak informasinya lho. Salah satunya ini nih: Mengenal 7 Festival Musim Dingin di Jepang, Kemeriahan di Tengah Dinginnya Salju. Klik untuk membacanya.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *