Culture,  Leisure

Mengenal 7 Festival Musim Dingin di Jepang, Kemeriahan di Tengah Dinginnya Salju!

Hai Minasan~! Musim dingin di Jepang sering dirasakan dengan meluasnya hamparan putih yang dingin, embusan angin yang menusuk, dan orang-orang yang berjalan cepat membungkus diri dalam mantel tebal. Namun, di balik citra itu, Jepang menyimpan salah satu musim perayaan paling unik dan memikat di dunia.

Ketika suhu semakin menurun dan salju menutupi atap-atap rumah tradisional, masyarakat Jepang justru turun ke jalan, membangun istana dari es, menyalakan lilin di dalam rumah salju, dan menyambut pengunjung dengan kehangatan yang kontras dengan udara beku di luar.

Festival musim dingin di Jepang lebih dari tontonan pariwisata saja lho. Festival ini adalah perpaduan antara tradisi berusia ratusan tahun, kearifan lokal dalam menghadapi alam yang keras, serta kreativitas modern yang menjadikan salju sebagai kanvas raksasa. Dari Hokkaido yang membeku hingga Fukushima yang berselimut putih, setiap festival memiliki karakter, tujuan, dan jiwa yang berbeda.

Pandai Kotoba pada artikel kali ini akan mengajak Minasan menjelajahi beberapa festival musim dingin Jepang mulai dari festival musim dingin ini seperti apa, bagaimana festival ini tetap bertahan, dan mengapa orang Jepang begitu antusias menyambutnya setiap tahun. Ingin tahu festival musim dingin di Jepang? Yuk, kita simak di bawah ini.

4348887772 9d1206023e b
Megahnya Istana Salju di Sapporo Snow Festival
flickr.com

Contents

Mengenal 7 Festival Musim Dingin di Jepang, Kemeriahan di Tengah Dinginnya Salju!

A. Mengapa Musim Dingin Menjadi Musim Festival di Jepang?

Sebelum kita masuk ke bagian inti dari festival musim di Jepang. Kita perlu tahu nih alasan di balik diselenggarakannya. Musim dingin di Jepang justru menjadi salah satu puncak kalender budaya yang paling penuh maknanya. Jika kita telusuri lebih dalam, alasan mengapa musim dingin menjadi musim festival tidak tunggal, tapi jalinan antara siklus pertanian, kebutuhan spiritual, adaptasi terhadap alam, dan struktur sosial masyarakat Jepang itu sendiri.

1. Siklus Pertanian, Waktu Istirahat yang Menjadi Ruang Tenang

Alasan paling mendasar dan bersifat historis terletak pada ritme pertanian. Jepang secara tradisional adalah masyarakat agraris, dan musim dingin terutama setelah panen musim gugur adalah periode ketika lahan pertanian beristirahat. Aktivitas di sawah dan ladang terhenti secara alami karena suhu rendah dan salju.

Masa tenang ini bukan berarti waktu kosong ya. Sebaliknya, masa ini memberi ruang bagi masyarakat untuk melakukan refleksi, ritual, dan doa. Karena tidak ada pekerjaan fisik di ladang, energi komunal dialihkan ke aktivitas spiritual dan sosial. Festival-festival musim dingin karenanya sering berfokus pada beberapa tujuan utama seperti mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen selama setahun, melakukan pemurnian ruang dan spiritual menjelang Tahun Baru, serta memanjatkan doa untuk kesehatan, keselamatan, dan musim tanam berikutnya. Logika pertanian ini tetap hidup hingga hari ini bahkan ketika sebagian besar masyarakat Jepang modern tidak lagi bekerja di sawah.

2. Tahun Baru dan Siklus Spiritual, Titik Nol Pembaruan

Musim dingin juga identik dengan perayaan terpenting dalam kalender Jepang yaitu Tahun Baru atau Shougatsu. Tahun Baru bukan hanya hari libur biasa, tapi titik awal pembaruan budaya dan spiritual. Salah satu tradisi utamanya adalah Hatsumde atau kunjungan pertama ke kuil Shinto atau Buddha pada 1 hingga 3 Januari di mana jutaan orang memanjatkan doa pertama di awal tahun.

Tradisi ini mencerminkan keinginan untuk menyelaraskan kehidupan pribadi dengan siklus alam dan spiritual. Ritual Tahun Baru dilakukan dengan penjadwalan yang presisi mengikuti kalender. Dalam kalender lama, periode sekitar bulan purnama pertama tahun baru (sekitar Februari) disebut Koshogatsu atau “Tahun Baru Kecil”.

Pada masa inilah komunitas pertanian dan nelayan secara tradisional menggelar acara untuk mendoakan panen dan tangkapan yang melimpah di tahun yang akan datang. Festival seperti di Tokamachi, Niigata secara eksplisit merujuk pada periode Koshogatsu ini sebagai akar sejarah mereka di mana salju tidak dipandang sebagai musuh, tapi sebagai tanda keberkahan dan sarana untuk memperkuat ikatan sosial yang memungkinkan bertahan hidup di wilayah bersalju lebat.

3. Adaptasi terhadap Alam, Merangkul Salju sebagai Identitas

Bagi wilayah-wilayah di Jepang yang menerima curah salju sangat tinggi terutama di sepanjang pantai Laut Jepang dan Hokkaido, salju adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Alih-alih mengutuknya, masyarakat di wilayah ini mengembangkan strategi budaya untuk hidup berdampingan dengannya. Festival musim dingin menjadi manifestasi dari adaptasi ini, yaitu salju dan es diubah dari beban menjadi bahan utama perayaan, sumber kebanggaan, dan bahkan identitas budaya.

Contoh paling mencolok adalah Festival Salju Tokamachi. Pada tahun 1950, Kaisar Hirohito menyarankan pembuatan festival musim dingin baru untuk membantu penduduk “negara salju” menikmati musim tersebut dan menghargai keindahan salju. Sejak itu, masyarakat Tokamachi menciptakan berbagai hiburan yang mencerminkan hubungan bersahabat mereka dengan salju menjadikannya peluang untuk berkumpul dan memperkuat ikatan persahabatan serta kerja sama yang membuat bertahan hidup di wilayah bersalju menjadi mungkin. Dengan kata lain, festival bukan hanya tentang merayakan salju, tapi tentang merayakan kemampuan komunitas untuk bertahan dan bahkan berkembang di tengah kondisi yang keras.

4. Kontras dengan Musim Panas, Terasa Khidmat dan Simbolis

Memahami mengapa musim dingin menjadi musim festival juga memerlukan perbandingan dengan musim panas. Matsuri atau festival musim panas di Jepang cenderung meriah, energik, dan penuh dengan kembang api serta makanan jalanan. Sebaliknya, festival musim dingin memiliki atmosfer yang lebih khidmat, simbolis, dan terasa mendalam. Jika musim panas adalah tentang pelepasan energi dan keramaian, musim dingin adalah tentang merenungi hidup dan keheningan yang hangat.

Perbedaan ini bukan kebetulan saja lho. Secara historis, musim panas yang panas dan lembap sering dikaitkan dengan wabah penyakit, sehingga festival yang riuh berfungsi mengusir energi negatif. Sementara itu, musim dingin yang keras adalah waktu untuk bersyukur telah melewati tahun tanpa musibah dan berharap untuk tahun yang akan datang.’

Festival musim dingin karenanya lebih sering mengandung dimensi doa dan pemurnian yang lebih dalam seperti yang terlihat dalam penggunaan api sebagai simbol pemurnian di tengah dingin atau lilin-lilin yang menyimbolkan kehangatan dan harapan di tengah kegelapan malam.

Oleh karena itu, musim dingin menjadi musim festival di Jepang karena ia menjawab kebutuhan manusia pada lapisan yang berbeda-beda. Secara ekonomi-agraris, musim dingin adalah waktu luang setelah panen. Secara spiritual, musim ini adalah momentum untuk pemurnian dan pembaruan menyambut tahun baru.

Secara kultural, musim dingin adalah cara masyarakat di wilayah bersalju untuk berdamai dengan alam dan merayakan identitas mereka. Dan secara emosional, musim ini menawarkan kontras yang menyegarkan terhadap hiruk-pikuk musim panas yang menjadi ruang untuk hening, merenung, dan merasakan kehangatan yang lahir dari kebersamaan di tengah dingin. Ini yang membuat festival musim dingin Jepang menjadi cermin dari hubungan masyarakatnya dengan waktu, alam, dan satu sama lain. Pada bagian selanjutnya, kita akan bahas satu per satu mengenai festival musim dingin ini di Jepang ya.

B. Sapporo Snow Festival, Raksasa Salju di Jantung Hokkaido

Sapporo Snow Festival atau juga disebut Sapporo Yuki Matsuri (さっぽろ雪まつり) adalah festival musim dingin paling ikonik di Jepang dan salah satu yang terbesar di dunia. Berbeda dari festival lain yang menekankan keintiman atau spiritualitas, Sapporo menonjol karena skala monumentalnya, presisi teknis, dan jangkauan internasionalnya. Setiap Februari, kota yang biasanya tenang ini berubah menjadi galeri terbuka raksasa yang menarik lebih dari dua juta pengunjung.

1. Awal Mula yang Sederhana, Dari Enam Patung ke Fenomena Nasional

Sejarah Sapporo Snow Festival dimulai pada 18 Februari 1950. Saat itu, sekelompok siswa sekolah menengah setempat membuat enam patung salju di Odori Park yang menjadi sebuah area yang pada masa itu berfungsi sebagai tempat pembuangan salju. Ide sederhana ini ternyata menarik perhatian luar biasa. Lebih dari 50.000 orang datang untuk melihatnya dan jauh melampaui perkiraan para siswa .

Pada tahun-tahun berikutnya, festival ini tumbuh dengan cepat. Keterlibatan Pasukan Bela Diri Jepang (Self-Defense Forces) pada tahun 1950-an memungkinkan pembuatan patung-patung berskala raksasa yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan. Liputan televisi dan surat kabar semakin menyebarkan namanya ke seluruh Jepang. Titik balik internasional terjadi pada 1972, ketika Sapporo menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin. Festival ini pun dikenal di seluruh dunia, dan sejak 1974 dimulailah International Snow Sculpture Contest yang mengundang tim dari berbagai negara .

2. Diadakan di 3 Lokasi dan Terasa 3 Pengalaman yang Berbeda

Sapporo Snow Festival tidak terpusat di satu tempat. Festival ini tersebar di tiga lokasi utama, masing-masing dengan karakter dan daya tariknya sendiri:

a) Odori Site: Jantung dari Festival

Odori Park adalah pusat festival yang membentang sepanjang 1,5 kilometer dari 1-chome hingga 12-chome. Di sinilah patung-patung salju raksasa setinggi 12 hingga 15 meter yang setara bangunan 4-5 lantai dipajang. Pada edisi 2026, pengunjung dapat melihat patung bertema Star Wars (karakter Mandalorian dan Grogu), replika Istana Tsuruga setinggi 15 meter, serta patung Furukawa Hall Universitas Hokkaido untuk memperingati 150 tahun pendiriannya.

Di area 11-chome, berlangsung International Snow Sculpture Contest. Tim dari berbagai negara termasuk Finlandia, Indonesia, Mongolia, Hawaii, dan Thailand berlomba menciptakan karya seni dari blok salju berukuran 3×3×3 meter. Pengunjung dapat menyaksikan langsung proses pembuatannya dan menjadi pemandangan yang jarang terlihat di festival lain.

b) Tsudome Site: Bermain dengan Salju

Berbeda dari Odori yang bersifat pameran, Tsudome Site (Sapporo Community Dome) menawarkan pengalaman interaktif. Di sini terdapat seluncuran salju raksasa, berbagai atraksi luar ruangan, serta kegiatan yang memungkinkan keluarga benar-benar menyentuh dan bermain dengan salju. Lokasi ini dirancang untuk pengunjung yang ingin merasakan kegembiraan fisik musim dingin, bukan hanya dilihat saja.

c) Susukino Site: Kilau Es di Malam Hari

Susukino, distrik hiburan malam Sapporo, menjadi panggung bagi kompetisi patung es dan iluminasi es. Sekitar 60 patung es dipajang di sepanjang jalan dan berkilau di bawah lampu kota dan menciptakan suasana yang lebih dewasa dan romantis dibandingkan dua lokasi lainnya. Terdapat pula ice bar tempat pengunjung dapat menikmati minuman di tengah dinginnya malam

3. Proses Pembuatan

Keajaiban patung-patung Sapporo bukan hanya hasil sulap lho, tapi hasil kerja keras dan perencanaan teknis yang matang. Proses pembuatan satu patung salju besar melibatkan beberapa tahap.

Yang pertama, salju bersih dikumpulkan dari lokasi penimbunan salju di sekitar Sapporo. Untuk satu patung besar saja, dibutuhkan sekitar 600 truk muatan salju. Salju kemudian ditumpuk dengan bantuan alat berat dan perancah atau scaffolding didirikan untuk membentuk kerangka. Setelah tumpukan mencapai bentuk dasar, salju dibiarkan beberapa hari agar stabil dan padat. Baru setelah itu pemahatan kasar dimulai, diikuti dengan pemahatan detail yang sering kali dilakukan pada malam hari untuk menghindari suhu yang terlalu hangat .

Tahap akhir melibatkan penambahan bagian-bagian yang telah disiapkan sebelumnya dan penyelesaian detail. Untuk patung-patung besar, alat yang digunakan bukan hanya sekop dan pisau, tapi juga gergaji mesin dan peralatan listrik lainnya untuk mencapai presisi yang tinggi. Secara keseluruhan, festival ini membutuhkan hingga 30.000 ton salju dengan separuhnya digunakan untuk patung-patung raksasa, dan melibatkan sekitar 10.000 orang dalam proses pengangkutan dan pembuatannya setiap tahun.

4. Tujuan dari Festival Ini, Lebih dari Hiburan Biasa

Sapporo Snow Festival memiliki beberapa lapisan tujuan. Pada tingkat paling dasar, festival ini adalah perayaan identitas Hokkaido yang merupakan sebuah cara untuk merangkul musim dingin yang panjang dan keras, mengubahnya dari beban menjadi sumber kebanggaan. Ini sejalan dengan filosofi yang juga terlihat di festival-festival Hokkaido lainnya yaitu salju bukan musuh, tapi menjadi teman.

Pada tingkat ekonomi, festival ini adalah mesin pariwisata yang sangat efektif. Pada edisi 2026, jumlah pengunjung mencapai 2.539.000 orang (1.926.000 di Odori dan 613.000 di Tsudome), angka tertinggi sejak pandemi COVID-19. Hotel-hotel di sekitar Odori dan Susukino melaporkan lonjakan harga yang signifikan selama minggu festival, dan sektor kuliner serta transportasi merasakan dampak langsungnya.

Pada tingkat diplomatik dan budaya, International Snow Sculpture Contest menjadikan Sapporo panggung pertukaran lintas negara. Tim dari negara-negara yang tidak pernah bersalju seperti Indonesia, Thailand, dan Hawaii turut berpartisipasi, menciptakan dialog budaya yang unik melalui medium salju .

5. Yang Membedakan Sapporo dari Festival Musim Dingin Lainnya

Jika dibandingkan dengan festival-festival lain yang telah dibahas, Sapporo menonjol dalam beberapa aspek di antaranya adalah:

– Skala dan Presisi.
Festival lain seperti Otaru Snow Light Path atau Kamakura di Yokote mengandalkan keintiman dan kesederhanaan. Sapporo justru membanggakan monumentalitas seperti patung setinggi gedung, kompetisi internasional, dan infrastruktur yang melibatkan ribuan pekerja. Festival ini dirancang untuk mengesankan secara visual dan teknis.

– Orientasi Internasional
Sejak Olimpiade 1972 dan dimulainya kompetisi internasional pada 1974, Sapporo secara sadar memosisikan diri sebagai festival global dan bukan hanya perayaan lokal. Ini tercermin dalam partisipasi tim lintas negara dan liputan media internasional yang konsisten.

– Struktur Tiga Lokasi
Tidak banyak festival musim dingin yang mampu menawarkan tiga pengalaman berbeda dalam satu kota di antaranya yaitu pameran seni salju (Odori), rekreasi interaktif (Tsudome), dan kehidupan malam dengan es (Susukino). Diversifikasi ini memungkinkan festival menjangkau berbagai segmen pengunjung dari pecinta seni hingga keluarga dengan anak-anak.

– Ketergantungan pada Teknologi dan Organisasi
Berbeda dari festival yang mengandalkan tradisi turun-temurun, Sapporo adalah produk rekayasa modern. Penggunaan alat berat, perencanaan bulanan, dan koordinasi antara pemerintah kota, militer, dan sukarelawan menjadikannya contoh bagaimana tradisi dapat diciptakan dan dilembagakan dalam skala besar.

6. Antusiasme, Mengapa Orang Jepang dan Dunia Datang

Antusiasme terhadap Sapporo Snow Festival tercermin dalam angka dan perilaku. Pengunjung rela memesan hotel 3-6 bulan sebelumnya dengan harga yang bisa dua hingga tiga kali lipat pada minggu festival . Mereka datang meskipun suhu siang hari berkisar antara -2°C hingga 0°C, dan malam bisa turun hingga −12°C. Mereka berdiri berjam-jam di tengah dingin untuk mengabadikan patung-patung, dan banyak yang kembali tahun demi tahun.

Bagi orang Jepang, Sapporo Snow Festival adalah ritual musim dingin yang telah menjadi bagian dari kalender budaya nasional. Sejak liputan media pada 1950-an, festival ini masuk ke kesadaran kolektif sebagai “sesuatu yang harus dilihat setidaknya sekali seumur hidup.” Bagi wisatawan internasional, festival ini menawarkan pengalaman musim dingin yang tidak ada bandingannya mulai dari kombinasi antara keajaiban alam (salju Hokkaido) dan keajaiban manusia (kreativitas dan organisasi).

Pada akhirnya, Sapporo Snow Festival adalah bukti bahwa musim dingin yang secara alami menantang dapat diubah menjadi panggung kebanggaan kolektif. Festival ini selain tentang salju, tapi juga tentang apa yang dapat dilakukan manusia dengan salju ketika imajinasi, kerja keras, dan kolaborasi bertemu di tengah udara yang membeku.

C. Asahikawa Winter Festival, Salju dari Sungai dan Cahaya di Malam Hari

Jika Festival Salju Sapporo adalah panggung megah yang telah mendunia, maka Festival Musim Dingin Asahikawa (旭川冬まつり) adalah saingan berat yang menyimpan pesona lebih intim tapi tidak kalah spektakuler. Festival ini berlangsung setiap tahun pada awal Februari di kota Asahikawa, Hokkaido, dan menarik sekitar satu juta pengunjung setiap tahunnya. Yang membuatnya istimewa bukan hanya ukuran patungnya yang monumental, tapi juga asal-usul salju yang digunakan, sejarah yang lebih tua dari Sapporo, serta perpaduan antara cahaya, es, dan api di malam hari.

1. Sejarah yang Lebih Tua dari Sapporo, Berawal Dari Tumpukan Salju Menjadi Seni

Festival Musim Dingin Asahikawa memiliki akar sejarah yang bermula pada Januari 1946, empat tahun lebih awal dari Festival Salju Sapporo yang dimulai pada 1950. Saat itu, Kepolisian Asahikawa mendorong warga untuk membersihkan salju dari jalan demi keselamatan lalu lintas. Namun, tumpukan salju yang dihasilkan menjadi masalah tersendiri seperti terlalu banyak dan sulit dibuang.

Di sinilah peran Sato Monji, ketua asosiasi pariwisata saat itu menjadi kunci. Ia mendapat saran dari Kato Kensei, seorang pematung kelahiran Asahikawa untuk mengubah salju menjadi karya seni. Ide sederhana ini kemudian menjadi cikal bakal festival yang kita kenal sekarang.

Perjalanan festival ini tidak selalu mulus. Pada Februari 1947, digelar “Festival Musim Dingin Utara” yang menampilkan Iomante (upacara beruang) suku Ainu. Pada 1948, sekolah-sekolah dan perusahaan mulai membuat patung salju di depan gedung mereka. Pada 1949, pemerintah kota Asahikawa bergabung sebagai penyelenggara dan memilih “Ratu Musim Dingin” untuk pertama kalinya. Namun, pada 1951, festival sempat berganti nama menjadi “Festival Salju Asahikawa” dan terhenti selama tiga tahun akibat wabah flu dan pergantian personel.

Festival ini baru benar-benar bangkit kembali pada Februari 1960, ketika “Festival Musim Dingin Asahikawa Pertama” digelar menjadi titik awal festival modern yang kita saksikan sekarang. Sejak saat itu, festival terus berkembang, dan pada edisi ke-67 yang digelar pada 6 hingga 11 Februari 2026, tema yang diusung adalah “Bermain dengan Rokon” (ロコンたちとあそぼう) yang menampilkan Pokémon Vulpix asal Alola dan Vulpix biasa sebagai maskot.

2. Salju dari Sungai, Keunikan yang Membedakan

Salah satu aspek paling khas dari Festival Musim Dingin Asahikawa adalah sumber saljunya. Berbeda dari Sapporo yang mengumpulkan salju dari berbagai titik di kota, Asahikawa memanfaatkan salju yang dikumpulkan dari area kota dan dibawa ke tepi Sungai Ishikari untuk diolah menjadi patung-patung raksasa. Lokasi utama festival bernama Asahibashi Riverside Venue berada tepat di tepi sungai yang membeku dan menciptakan latar belakang alamiah yang tidak dimiliki festival di tengah kota.

Pendekatan ini selain soal logistik, tapi juga mencerminkan filosofi yang lebih dalam yaitu salju yang selama ini menjadi beban karena menutupi jalan dan menghambat mobilitas diubah menjadi bahan mentah untuk karya seni. Proses ini melibatkan Pasukan Bela Diri Jepang (Self-Defense Forces) yang membantu pembuatan patung-patung besar menjadi kerja sama yang telah menjadi bagian dari tradisi festival ini .

3. Patung Salju Raksasa, Rekor Dunia di Tepi Sungai

Daya tarik utama Festival Musim Dingin Asahikawa adalah patung salju utamanya yang berukuran luar biasa. Pada tahun-tahun tertentu, patung ini mencapai lebar 140 meter dan tinggi 20 meter di mana skala yang membuatnya pernah tercatat dalam Guinness World Records sebagai struktur salju terbesar di dunia. Berbeda dari patung Sapporo yang dibangun dengan kerangka dan perancah, patung raksasa Asahikawa dibangun hanya dari salju yang dipadatkan tanpa kerangka .

Setiap tahun, tema patung berubah. Pada edisi 2026, patung utama menampilkan Rokon dan Alolan Rokon, Pokémon bertipe es yang menjadi maskot resmi Hokkaido sejak 2018. Desain patung ini dipilih melalui kompetisi publik dengan tema “Beras Lezat yang Abadi” menjadi sebuah harapan agar Asahikawa tetap menjadi penghasil beras berkualitas hingga 50 atau 100 tahun mendatang. Selain patung utama, terdapat pula labirin salju raksasa dan seluncuran salju sepanjang 80 hingga 100 meter yang menjadi favorit anak-anak.

4. Cahaya di Malam Hari dari Kembang Api, Proyeksi, dan Es yang Berkilau

Jika siang hari didominasi oleh putihnya salju, malam hari di Festival Musim Dingin Asahikawa adalah simfoni cahaya di atas banyak salju. Begitu matahari terbenam, suasana berubah secara dramatis. Kembang api musim dingin diluncurkan ke langit gelap, menciptakan ledakan warna di atas patung-patung salju raksasa menjadi kontras yang memukau antara kehangatan api dan dinginnya udara.

Selain kembang api, proyeksi mapping dan iluminasi menerangi patung salju utama membuatnya tampak hidup dan berwarna-warni di tengah malam . Di area Heiwa-dori Shopping Park di mana jalan utama yang membentang sekitar satu kilometer dari Stasiun JR Asahikawa menjadi deretan patung es yang dipahat dengan detail halus dipajang dan diterangi lampu warna-warni serta berkilau seperti permata di udara malam yang jernih. Di sinilah juga berlangsung Kompetisi Pahatan Es Dunia (氷彫刻世界大会) di mana para pematung dari berbagai negara berlomba menciptakan karya seni dari es.

5. Winter Marche, Kehangatan dari Dalam

Di tengah dingin yang menusuk, Winter Marche (冬マルシェ) menawarkan pelarian yang menyenangkan. Pada edisi tahun ini, area kuliner ini menghadirkan lebih dari 40 hingga 42 kedai makanan menjadikannya yang terbesar dalam sejarah festival . Pengunjung dapat menikmati ramen Asahikawa yang terkenal, oden hangat, minuman amazake, dan lebih dari 200 jenis menu yang siap menghangatkan tubuh dari dalam. Aroma makanan panas yang bercampur dengan udara dingin menciptakan pengalaman menarik yang khas menjadikannya sebagai undangan untuk berhenti sejenak, menikmati kehangatan, dan meresapi atmosfer festival.

6. Tujuan Diadakan Festival ini

Festival Musim Dingin Asahikawa memiliki beberapa lapisan tujuan yang membuatnya berbeda dari sekadar pesta salju. Pada tingkat paling mendasar, festival ini adalah solusi kreatif atas masalah praktis. yaitu bagaimana mengelola salju yang menumpuk akibat pembukaan jalan agar tidak menjadi beban, tapi menjadi sumber kebanggaan. Ini adalah bentuk adaptasi budaya terhadap lingkungan yang keras.

Pada tingkat komunitas, festival ini adalah proyek kolektif yang melibatkan warga, sekolah, perusahaan, pemerintah kota, dan Pasukan Bela Diri. Partisipasi dalam pembuatan patung, penyelenggaraan acara, dan penyambutan tamu memperkuat ikatan sosial yang penting untuk bertahan hidup di wilayah bersalju lebat. Pada tingkat pariwisata, festival ini mempromosikan Asahikawa sebagai destinasi musim dingin yang serius dengan akses mudah dari Stasiun JR Asahikawa (satu menit berjalan kaki ke Heiwa-dori) dan shuttle bus gratis ke lokasi tepi sungai .

7. Yang Membedakan Asahikawa dari Festival Musim Dingin Lainnya

Dibandingkan dengan Sapporo, Festival Musim Dingin Asahikawa menonjol dalam beberapa aspek. Pertama, lokasinya yang memanfaatkan tepi sungai menciptakan latar belakang alamiah yang lebih dramatis dan organik dibandingkan taman kota. Kedua, sejarahnya yang lebih tua bermula pada 1946 yang memberinya aura tradisi yang lebih dalam, meskipun festival modernnya baru dimulai pada 1960. Ketiga, patung utamanya dibangun tanpa kerangka menjadikannya prestasi teknis yang membedakannya dari patung Sapporo yang menggunakan perancah atau scaffolding.

Dibandingkan dengan festival yang lebih intim seperti Otaru Snow Light Path atau Kamakura di Yokote, Asahikawa jelas berada di spektrum yang lebih spektakuler. Namun, festival ini tidak sebesar Sapporo dalam hal jumlah lokasi atau jangkauan internasional. Festival ini berada di titik tengah yang menarik, karena cukup besar untuk mengesankan, cukup terfokus untuk terasa seperti milik komunitas lokal, dan cukup unik untuk menawarkan pengalaman yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.

8. Antusiasme, Satu Juta Alasan untuk Datang

Angka satu juta pengunjung per tahun adalah bukti nyata antusiasme terhadap festival ini. Mereka datang meskipun suhu di Asahikawa pada Februari bisa sangat rendah, dan mereka rela berjalan kaki atau menggunakan shuttle bus karena tidak ada parkir di lokasi festival. Mereka berdiri di tepi Sungai Ishikari yang membeku, menunggu kembang api malam, dan berdesakan di Winter Marche untuk semangkuk ramen hangat.

Bagi warga Asahikawa, festival ini adalah ritual tahunan yang membanggakan di mana kesempatan untuk menunjukkan kepada Jepang dan dunia bahwa kota mereka yang mungkin kurang terkenal dibandingkan Sapporo dan mampu menciptakan sesuatu yang sama-sama menakjubkan. Bagi wisatawan, festival ini menawarkan alternatif yang lebih tenang tapi tak kalah memukau dari keramaian Sapporo dengan pesona tambahan berupa sejarah yang lebih tua dan suasana tepi sungai yang lebih intim. Pada akhirnya, Festival Musim Dingin Asahikawa adalah bukti bahwa salju bahkan salju yang menumpuk sebagai masalah dapat diubah menjadi cahaya, tawa, dan kebanggaan ketika tangan-tangan manusia bekerja bersama di tengah dingin.

D. Otaru Snow Light Path, Kesunyian yang Bercahaya

Berbeda dari kemegahan Sapporo dan Asahikawa yang bersaing dalam skala patung, Otaru Snow Light Path (小樽雪あかりの路) justru memilih jalan yang berlawanan. Festival ini ia tidak ingin memukau dengan ukuran, tapi menyentuh dengan keheningan. Festival ini berlangsung setiap Februari di kota pelabuhan Otaru, Hokkaido, dan dalam beberapa tahun terakhir mencatat sekitar 500.000 pengunjung.

Angka pengunjung tersebut signifikan, tapi para penyelenggara dengan tegas menyatakan bahwa jumlah pengunjung dan pendapatan bukanlah tujuan utama. Festival ini adalah tentang menghubungkan manusia, memberikan ruang bagi siapa saja yang datang untuk berhenti sejenak, merenung, dan merasakan kehangatan cahaya lilin di tengah dinginnya malam musim dingin. Berikut di bawah ini penjelasannya ya.

1. Lahir dari Keprihatinan akan Kota yang Kehilangan Vitalitas

Sejarah Otaru Snow Light Path tidak dimulai dari keinginan untuk membuat atraksi spektakuler, tapi dari kekhawatiran akan nasib kota. Pada 1997, dewan promosi pariwisata Otaru membahas masalah yang dihadapi kota pelabuhan bersejarah ini. Otaru terkenal karena kanalnya dan kerajinan kaca, tapi wisatawan sebagian besar datang antara Mei dan September. Pada musim dingin, kota ini sepi dan hampir tidak ada wisatawan .

Festival musim dingin yang sudah ada sebelumnya, “Winter Festival” telah berlangsung selama 23 tahun hingga 1998, tapi semakin dianggap monoton dan kurang mampu menarik minat. Para pelaku pariwisata mendesak perlunya acara baru untuk mempromosikan pariwisata musim dingin. Momentum datang pada 1999 ketika Otaru menjadi tuan rumah National Sports Festival musim dingin. Ide pun muncul yaitu alih-alih membuat patung salju raksasa, orang-orang pada waktu itu menyalakan lilin untuk menerangi kanal dan kota dan menciptakan suasana yang mampu mengubah citra Otaru dari “sepi dan gelap” menjadi sesuatu yang hangat dan mengundang.

Festival ini pertama kali digelar pada 11 hingga 21 Februari 1999 dan langsung menyedot 180.000 pengunjung. Sejak itu, jumlahnya terus meningkat, mencapai puncaknya pada edisi ke-10 (2008) dengan 575.000 pengunjung. Nama “Snow Light Path” sendiri diambil dari kumpulan puisi “Yuki Akari no Michi” karya Sei Ito, sastrawan awal era Showa yang lahir di Otaru di mana menjadikannya sebagai penghormatan pada akar sastra kota ini.

2. Filosofi, Acara Spiritual Bukan Komersial

Yang paling membedakan Otaru dari festival musim dingin Jepang lainnya adalah pernyataan tujuan yang eksplisit. Situs resmi festival menulis dengan jelas, “Skala dan jumlah pengunjung bukan hal yang perlu dibanggakan”. Sejak awal, konsep festival ini adalah “dibuat dengan tangan” (tezukuri).

Para penyelenggara ingin pengunjung merasakan ketenangan, berpikir dengan santai di bawah cahaya lilin, dan memiliki waktu untuk merenung, melupakan sejenak hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat yang berubah dengan cepat. Mereka berharap festival ini tetap menjadi acara spiritual bukan festival yang berorientasi komersial.

Filosofi ini terwujud dalam setiap detail. Lilin-lilin dinyalakan satu per satu oleh sukarelawan termasuk banyak relawan asing dari Korea dan Cina yang datang setiap tahun untuk membantu. Ketika badai salju tiba-tiba memadamkan lilin, mereka harus menyalakannya kembali satu per satu. Pekerjaan di tengah dingin yang menusuk tulang ini, menurut para sukarelawan, memberikan kepuasan dan rasa kedekatan yang tidak dapat diperoleh dengan cara lain. Festival ini juga merupakan gerakan warga yang didukung oleh warga lokal, asosiasi pedagang, perusahaan, sekolah, dan sukarelawan bukan hanya proyek pemerintah .

3. Tiga Lokasi Utama: Kanal, Rel Tua, dan Gunung

Festival ini tersebar di beberapa lokasi, tapi tiga yang paling penting memiliki karakter yang sangat berbeda di antaranya adalah:

a) Lokasi Kanal (Canal Site). Cahaya yang Bergetar di Atas Air

Lokasi ini menjadi lokasi utama festival. Di sepanjang 300 meter kanal Otaru yang ikonik, lilin-lilin dalam bola kaca apung yang dulunya digunakan untuk menangkap ikan haring ini dibiarkan mengambang di permukaan air yang membeku. Cahaya lilin yang lembut memantul di air menciptakan pemandangan yang tampak seperti lukisan.

Di sepanjang jalur pejalan kaki, terdapat “Message Candles” di mana pengunjung menuliskan pesan di cangkir kertas dan cangkir itu dinyalakan sebagai lentera. Ada juga “Couples’ Sanctuary” dan “Heart Monument” di Jembatan Asakusabashi yang menambah suasana romantis dengan gudang batu dan bata tua di sekitarnya.

b) Lokasi Bekas Jalur Kereta Temiya, Keheningan di Antara Rel

Rel kereta ini dibuka pada 1880 dan merupakan jalur kereta tertua ketiga di Jepang. Jalur ini mengangkut batu bara dan mimpi pembangunan Hokkaido dan sebelum akhirnya ditutup pada 1985. Saat ini rel yang tidak lagi digunakan itu menjadi saksi bisu . Selama festival, rel yang tertutup salju diterangi cahaya lilin membentuk terowongan salju yang tampak membentang tanpa akhir. Tidak ada lagi suara gemuruh kereta yang tersisa hanyalah keheningan yang begitu pekat hingga langkah kaki terdengar jelas. Situs resmi menggambarkannya sebagai tempat yang sempurna untuk berdialog dengan diri sendiri .

c) Lokasi Gunung Tengu, Pemandangan Malam dan Lilin Es

Lokasi ini ditambahkan pada edisi ke-20 festival. Terletak agak jauh dari pusat kota, pengunjung harus naik kereta gantung untuk mencapainya, tapi hadiahnya adalah pemandangan malam kota Otaru yang menakjubkan berpadu dengan lilin-lilin es yang menyala. Ini adalah lokasi yang lebih sunyi dan lebih tinggi, cocok bagi mereka yang ingin melihat festival dari kejauhan.

4. Keterlibatan Warga agar Cahaya yang Menyebar ke Seluruh Kota

Yang membuat Otaru Snow Light Path benar-benar istimewa adalah bagaimana festival ini melampaui lokasi resminya. Selama periode festival, lebih dari 100.000 lilin pribadi dinyalakan di seluruh penjuru kota mulai di depan toko, rumah, sekolah, perusahaan, bahkan rumah sakit.

Warga secara sukarela menghiasi bangunan mereka dengan lentera dan patung salju kecil. Fenomena ini menyebar dari tahun ke tahun menciptakan rasa keramahan yang tulus yang menyelimuti seluruh kota. Pengunjung yang berjalan dari stasiun menuju kanal akan menemukan cahaya kecil di setiap sudut, seolah seluruh kota ikut menyambut mereka.

5. Tujuan dan Makna dari Festival Ini

Pada tingkat paling praktis, Otaru Snow Light Path lahir untuk mengatasi masalah pariwisata musim dingin yang sepi. Namun, dalam perjalanannya, festival ini berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam. Festival ini menjadi gerakan warga untuk membangkitkan kembali kota yang pernah mengalami kemunduran setelah industri batu bara menurun dan pusat perbelanjaan besar menggeser toko-toko kecil. Festival ini adalah cara warga Otaru untuk mengatakan bahwa kota mereka masih hidup, masih hangat, dan masih mampu memberikan sesuatu yang berarti bagi orang lain .

Pada tingkat spiritual, festival ini menawarkan ruang kontemplasi yang langka di Jepang modern. Tidak ada patung raksasa untuk difoto dengan gagah, tidak ada kompetisi, tidak ada keramaian yang memaksa. Yang ada hanyalah cahaya lilin, salju, dan waktu untuk diri sendiri. Inilah yang membuat Otaru berbeda dari Sapporo yang megah atau Asahikawa yang spektakuler, karena festival ini tidak ingin mengesankan dan ingin menenangkan.

6. Yang Membedakan Otaru dari Festival Musim Dingin Lainnya

Perbedaan pertama dan terpenting adalah skala dan niat. Sapporo dan Asahikawa bersaing dalam ukuran patung dan jumlah pengunjung. Sedangkna, Otaru justru secara eksplisit menolak logika tersebut. Perbedaan kedua adalah bahan dan teknik, karena tidak ada gergaji mesin atau alat berat di sini.

Lilin dinyalakan dengan tangan, patung salju dibuat dalam skala kecil, dan keindahannya terletak pada ketidaksempurnaan yang manusiawi. Perbedaan ketiga adalah hubungan dengan kota. Di Sapporo, festival terkonsentrasi di taman. Sedangkan, di Otaru, festival menyebar ke seluruh kota meresap ke dalam kehidupan warga dan menjadikan kota itu sendiri sebagai panggungnya.

Oleh karena itu, Otaru Snow Light Path adalah bukti bahwa festival musim dingin tidak harus menjadi tontonan besar untuk meninggalkan kesan mendalam. Kadang-kadang, cahaya lilin yang bergetar di atas air yang membeku, di sepanjang rel tua yang sunyi, sudah cukup untuk mengingatkan kita bahwa kehangatan paling tulus sering datang dari hal-hal yang paling sederhana.

E. Festival Kamakura di Yokote, Rumah Salju dan Kehangatan Anak-Anak

Jika Sapporo dan Asahikawa adalah panggung megah bagi seni salju berskala raksasa, maka Festival Kamakura di Yokote (横手の雪まつり「かまくら」) adalah kebalikannya. Perayaan festival ini sifatnya intim, bersahaja, dan justru menjadikan anak-anak sebagai target utamanya.

Berlangsung setiap pertengahan Februari di Kota Yokote, Prefektur Akita, festival ini telah berlangsung selama sekitar 450 tahun dan merupakan salah satu dari lima festival salju terbesar di wilayah Michinoku. Dengan sekitar 220.000 pengunjung setiap tahunnya, festival ini tidak menjanjikan patung setinggi gedung, tapi menawarkan sesuatu yang jauh lebih langka yaitu kehangatan manusiawi di tengah malam musim dingin yang membeku.

1. Sejarah, Tiga Akar Tradisi yang Melebur Menjadi Satu

Sejarah Kamakura Yokote tidak berasal dari satu sumber saja, tapi dari peleburan tiga tradisi berbeda yang berlangsung selama berabad-abad. Pada masa pemerintahan pada periode Edo, wilayah Yokote terbagi menjadi dua komunitas dengan praktik yang berbeda.

Di Uchimachi, tempat para samurai tinggal, pada malam tanggal 14 bulan pertama kalender lama, warga membuat dinding salju berbentuk persegi, mengisinya dengan hiasan Tahun Baru dan persembahan, lalu membakarnya. Ritual ini disebut Sagicho Kamakura, dan tujuannya adalah mendoakan keselamatan serta pertumbuhan anak-anak. Sementara itu, di Sotomachi, tempat para pedagang tinggal pada malam tanggal 15 warga menggali lubang di salju dekat sumur dan memuja dewa air (Oshizu no Kami) sembari berdoa agar diberkahi air yang bersih dan melimpah.

Tradisi ketiga datang dari permainan anak-anak seperti menggali lubang di tumpukan salju dan bermain di dalamnya. Ketiga elemen ini mulai dari ritual Sagicho, pemujaan dewa air, dan permainan salju anak-anak, semuanya melebur selama bertahun-tahun hingga membentuk Kamakura seperti yang kita kenal sekarang. Ada rumah salju yang di dalamnya terdapat altar dewa air dan anak-anak yang menjadi tuan rumah bagi para pengunjung.

2. Bentuk dan Pembuatan, Rumah Salju yang Dikerjakan Tangan

Kamakura adalah struktur mirip iglo yang seluruhnya terbuat dari salju yang dipadatkan. Proses pembuatannya dilakukan oleh warga lokal yang disebut “kamakura shokunin” (pengrajin kamakura). Mereka memulai dengan menggambar lingkaran berdiameter 3,5 hingga 4 meter, lalu menumpuk salju di dalamnya sambil terus diinjak-injak hingga padat dan mencapai ketinggian sekitar 3 meter. Setelah tumpukan kokoh, bagian dalamnya dikeruk mulai dari pintu masuk dan di dinding seberang pintu, dipahatlah altar (kamidana) untuk memuja dewa air .

Selama periode festival, sekitar 60 hingga 80 kamakura besar dibangun di berbagai lokasi di Kota Yokote terutama di depan Balai Kota Yokote, Taman Yokote, dan area Futabacho. Selain itu, ribuan kamakura mini bertebaran di tepi sungai dan halaman sekolah dasar, masing-masing dengan satu lilin di dalamnya, menciptakan pemandangan yang oleh banyak orang digambarkan sebagai “dunia dongeng”.

3. Anak-Anak sebagai Tuan Rumah, Inti dari Kehangatan

Yang paling membedakan Kamakura Yokote dari festival musim dingin lainnya adalah peran sentral anak-anak. Setiap kamakura besar “dihuni” oleh tiga hingga empat anak berusia antara 5 dan 12 tahun. Mereka duduk di dalam kamakura yang meskipun terbuat dari salju, ternyata terasa hangat karena adanya shichirin (tungku tanah liat kecil) di dalamnya.

Dengan dialek lokal yang khas, anak-anak ini memanggil orang-orang yang lewat seperti “Haitte tanse!” (Silakan masuk!) dan “Ogande tanse!“ (Silakan berdoa kepada dewa air!). Begitu pengunjung masuk, mereka disuguhi amazake (minuman beras fermentasi yang manis dan hangat) serta mochi yang baru dipanggang.

Interaksi inilah yang menjadi jiwa festival, karena bukan pertunjukan yang dipentaskan untuk penonton, tapi keramahan yang diberikan oleh anak-anak kepada orang asing yang menjadi pertukaran yang tulus antara generasi muda dan pengunjung dari berbagai penjuru.

4, Makna Spiritual, Doa untuk Keluarga, Panen, dan Anak-Anak

Di dalam setiap kamakura, altar untuk dewa air bukanlah hiasan semata. Pengunjung yang masuk dianjurkan untuk berdoa, dan doa-doa yang dipanjatkan mencakup keselamatan keluarga, kelancaran usaha, panen yang melimpah, serta pertumbuhan anak-anak yang sehat. Dimensi spiritual ini mengingatkan bahwa di balik suasana riang dan hangat, Kamakura Yokote tetap berakar pada tradisi Koshogatsu (Tahun Baru Kecil) yang menjadi momen untuk memohon berkah bagi tahun yang akan datang.

5. Pemandangan Malam dari Lilin, Salju, dan Keheningan

Pada malam hari, festival ini berubah menjadi sesuatu yang magis. Lilin-lilin dinyalakan di dalam kamakura besar, sementara ribuan kamakura mini di tepi sungai dan jalan-jalan menyala serentak, menciptakan jalur cahaya di tengah hamparan salju. Bruno Taut, arsitek Jerman yang mengunjungi Yokote pada tahun 1936 dan menuliskan kesannya dalam bukunya Rediscovering Japanese Beauty, “Betapa indahnya. Aku belum pernah melihat sesuatu seindah ini bahkan tidak pernah membayangkannya. Ini adalah mahkota dari perjalananku kali ini. Kamakura yang menakjubkan ini, ruang salju anak-anak ini!”.

6. Yang Membedakan Kamakura Yokote dari Festival Musim Dingin Lainnya

Perbedaan pertama terletak pada skala dan filosofinya. Sapporo dan Asahikawa bersaing dalam ukuran dan teknologi. Sedangkan, Yokote justru memilih kesederhanaan. Kamakura tidak dibangun dengan alat berat atau gergaji mesin, tapi dengan tangan, salju, dan kesabaran. Perbedaan kedua adalah peran anak-anak di hampir semua festival musim dingin Jepang, anak-anak adalah pengunjung. Sedangkan, di Yokote, mereka adalah tuan rumah. Mereka menyambut, menyajikan, dan berinteraksi menjadi pendidikan budaya yang berlangsung secara alami dan menyenangkan.

Perbedaan ketiga adalah dimensi spiritual yang eksplisit. Jika banyak festival musim dingin modern berfokus pada estetika atau hiburan, Kamakura Yokote tetap mempertahankan altar dewa air dan doa-doa yang menyertainya. Festival ini tidak hanya memanjakan mata, tapi juga menenangkan jiwa dan menguatkan harapan.

Oleh karena itu, Festival Kamakura di Yokote adalah bukti bahwa kehangatan paling tulus tidak lahir dari api yang besar, tapi dari senyum anak-anak, semangkuk amazake, dan cahaya lilin kecil di tengah malam yang membeku. Di sinilah salju bukan hanya bahan untuk karya seni, tapi rumah bagi anak-anak belajar menjadi tuan rumah yang baik dan tempat orang dewasa diingatkan bahwa kehangatan sejati datang dari kebersamaan.

F. Festival Salju Ouchi-juku, Nostalgia di Desa Bersejarah

Jika festival-festival musim dingin lainnya menawarkan pertunjukan salju atau kehangatan anak-anak, Festival Salju Ouchi-juku (大内宿雪まつり) menawarkan sesuatu yang berbed yaitu perjalanan melintasi waktu. Berlangsung setiap tahun pada akhir pekan kedua bulan Februari di Desa Ouchi-juku, Prefektur Fukushima, festival ini tidak hanya memajang karya seni dari salju, tapi juga menghidupkan kembali desa pos dari periode Edo yang telah berusia lebih dari 350 tahun dengan deretan rumah beratap jerami yang menjadi latar, dan cahaya lilin yang menari di tengah salju setebal lebih dari satu meter. Yuk, kita lanjut lagi di bawah ini.

1. Desa yang Membeku dalam Waktu, Ouchi-juku sebagai Warisan Budaya

Untuk memahami festival ini, kita harus memahami tempatnya terlebih dahulu. Ouchi-juku adalah sebuah desa pos (shukuba) yang didirikan pada tahun 1640 di sepanjang rute Aizu Nishi Kaido, jalur yang menghubungkan wilayah Aizu dengan Edo (kini Tokyo). Pada masa itu, para daimyo (tuan tanah feodal) diwajibkan untuk bolak-balik ke Edo dan desa-desa pos seperti Ouchi-juku menyediakan makanan serta penginapan bagi para pelancong yang kelelahan .

Yang membuat Ouchi-juku istimewa adalah pelestariannya yang luar biasa. Desa ini terdiri dari sekitar 30 hingga 33 bangunan tradisional beratap jerami yang berjajar di sepanjang jalan sekitar 450 hingga 500 meter. Pada tahun 1981, kawasan ini ditetapkan sebagai Distrik Pelestarian Penting untuk Kelompok Bangunan Tradisional oleh pemerintah nasional Jepang.

Penetapan ini melalui banyak perjuangan. Pada tahun 1970-an, jumlah rumah beratap jerami terus berkurang karena biaya perawatan yang tinggi. Namun, pada tahun 1980-an, muncul gerakan warga dan akademisi untuk melestarikan lanskap desa. Mereka menyusun piagam warga yang menyatakan bahwa bangunan tidak boleh dijual, disewakan, atau dirobohkan. Berkat upaya ini, Ouchi-juku kini menjadi salah satu destinasi wisata utama Fukushima yang menarik sekitar 1,2 juta pengunjung per tahun termasuk dari luar negeri seperti Cina dan Korea Selatan.

Ketika musim dingin tiba, desa ini berubah secara dramatis. Salju menumpuk tebal di atap-atap jerami menciptakan bentuk-bentuk yang hampir seperti makhluk hidup. Jalanan yang biasanya ramai dengan wisatawan menjadi sunyi, dan udara terasa lebih dingin, lebih hening, dan lebih terasa nostalgia. Inilah yang menjadi inti Festival Salju Ouchi-juku.

2. Sejarah Festival, Perayaan yang Tumbuh dari Tradisi Lokal

Festival Salju Ouchi-juku bukan acara yang diciptakan dari nol oleh pemerintah atau perusahaan, tapi acara yang tumbuh dari tradisi lokal masyarakat Aizu yang telah berlangsung selama beberapa generasi. Di wilayah Aizu yang bersalju lebat, masyarakat mengenal tradisi Koshogatsu (Tahun Baru Kecil) di mana mereka berdoa untuk panen yang melimpah dan keselamatan keluarga. Salah satu ritualnya adalah “Dango Sashi” atau menusukkan dango dan buah-buahan ke ranting pohon sebagai persembahan.

Festival modern ini kemudian dikembangkan dari tradisi tersebut. Pada edisi ke-26 yang diliput oleh pemerintah Jepang pada tahun 2012, festival ini sudah menjadi acara tahunan yang mapan. Pada tahun 2026, festival ini mencapai edisi ke-40, sebuah tonggak yang dirayakan dengan skala kembang api 1,5 kali lebih besar dari biasanya. Sepanjang perjalanannya, festival ini tetap setia pada semangatnya yaitu dibuat oleh warga untuk merayakan desa mereka sendiri.

3. Sorotan Utama dari Obor, Lilin, dan Kembang Api di Langit Musim Dingin

Festival ini berlangsung selama dua hari, biasanya pada Sabtu dan Minggu minggu kedua Februari. Pada tahun 2026, festival digelar pada 14 dan 15 Februari, dengan pencahayaan malam dimulai dari 13 hingga 15 Februari, pukul 18.00 hingga 20.00 . Berikut adalah elemen-elemen yang membuat festival ini tak terlupakan sebagai berikut:

a) Penyalaan Obor oleh Pria Berpakaian Minim (Goshinbi Sonae)

Inilah momen paling ikonik dan paling dinanti. Pada malam pertama (14 Februari), setelah matahari terbenam, sebuah ritual kuno bernama “Goshinbi Sonae” (御神火載火) digelar. Api suci yang telah dimurnikan di depan altar diterima oleh para pria yang hanya mengenakan fundoshi (cawat tradisional) meskipun suhu udara berada di bawah titik beku. Mereka berlari dan berbaris di sepanjang jalan desa menyalakan sekitar 50 lentera salju satu per satu dengan obor yang menyala. Pemandangan ini selain menjadi atraksi wisata, tapi juga ritual spiritual yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, simbol pemurnian dan harapan akan berkah di tahun yang akan datang.

b) Lentera Salju dan Iluminasi Rumah Tradisional

Sepanjang jalan desa, warga setempat membuat lentera salju (yuki doro) dengan tangan mereka sendiri. Setiap lentera adalah kotak salju kecil yang di dalamnya diletakkan lilin, menciptakan cahaya hangat yang menembus putihnya salju. Selain lentera di jalan, rumah utama desa (Honjin, bekas kediaman resmi untuk daimyo) juga diterangi, menambah suasana historis yang kental. Pada tahun 2026, juga ditampilkan patung salju berbentuk gudang penyimpanan (kura) di depan museum desa .

c) Kembang Api di Langit Musim Dingin

Setelah ritual penyalaan obor selesai, langit malam Ouchi-juku dihiasi dengan kembang api. Pada tahun 2026, sebagai perayaan edisi ke-40, kembang api diluncurkan dengan skala yang lebih besar menciptakan kontras yang memukau antara cahaya warna-warni di langit dan cahaya lilin yang lembut di bumi. Kembang api di musim dingin memiliki kualitas yang berbeda dari musim panas. Udara yang dingin dan jernih membuat ledakan cahaya tampak lebih tajam dan lebih dekat.

d) “Dango Sashi” Terbesar di Jepang dan Acara Budaya Lainnya

Pada siang hari, festival ini menampilkan berbagai acara yang berakar pada budaya lokal. Yang paling terkenal adalah “Nihon Ichi no Dango Sashi” (日本一の団子差し), sebuah acara partisipatif di mana pengunjung dan warga bersama-sama menusukkan banyak dango ke tusuk bambu raksasa, berdoa untuk kesehatan dan keselamatan. Selain itu, terdapat pertunjukan taiko (drum tradisional), kompetisi makan soba, tarian Yosakoi, dan kompetisi pakaian era Edo yang menambah semarak suasana .

4. Kuliner Khas, Soba yang Dimakan dengan Daun Bawang

Salah satu daya tarik kuliner yang tidak boleh dilewatkan di Ouchi-juku adalah Negi Soba (葱そば). Ini bukan soba biasa lho. Alih-alih menggunakan sumpit, pengunjung disajikan sebatang daun bawang utuh yang panjang dan diminta untuk menggunakannya sebagai pengganti sumpit untuk menyantap soba.

Ini adalah tradisi lokal yang unik dan menjadi salah satu alasan mengapa wisatawan datang ke desa ini. Di tengah dinginnya musim dingin, semangkuk soba hangat dengan cara makan yang tidak biasa ini menjadi pengalaman yang menghangatkan tubuh dan mengundang tawa.

5. Tujuan Festival untuk Melestarikan Masa Lalu, Menghidupkan Masa Kini

Festival Salju Ouchi-juku memiliki tujuan yang jauh lebih dalam daripada hanya hiburan biasa. Pada tingkat paling praktis, festival ini adalah cara untuk menarik wisatawan di musim dingin, ketika desa ini biasanya sepi. Namun, bagi warga Ouchi-juku, ini adalah tentang melestarikan warisan budaya yang telah mereka pertahankan dengan susah payah.

Ketika rumah-rumah beratap jerami mulai ditinggalkan pada tahun 1970-an, warga bersatu untuk menyelamatkan desa mereka. Festival ini adalah perayaan atas keberhasilan itu dan sebuah pengingat bahwa desa ini masih hidup, masih dihuni, dan masih memiliki sesuatu yang berharga untuk dibagikan kepada dunia .

Pada tingkat spiritual, festival ini mempertahankan ritual-ritual kuno yang menghubungkan warga dengan leluhur mereka. Api suci, lentera salju, dan doa untuk panen adalah benang yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Di tengah dunia yang berubah dengan cepat, Ouchi-juku menawarkan stabilitas dan kontinuitas yaitu sebuah rasa bahwa beberapa hal setidaknya tetap sama.

6. Yang Membedakan Ouchi-juku dari Festival Musim Dingin Lainnya

Perbedaan paling mencolok antara Ouchi-juku dan festival-festival lain yang telah dibahas adalah latar belakangnya yang berupa desa bersejarah yang masih dihuni. Di Sapporo, patung-patung dibangun di taman kota modern. Di Yokote, kamakura dibangun di area publik. Di Ouchi-juku, festival ini menyatu dengan kehidupan sehari-hari warga.

Rumah-rumah yang menjadi latar festival adalah rumah yang benar-benar dihuni, atap jerami yang tertutup salju adalah atap yang dirawat oleh pemiliknya, dan lentera-lentera salju dibuat oleh tangan-tangan yang sama yang menanam padi di musim panas.

Perbedaan kedua adalah skala dan keintiman. Ouchi-juku tidak memiliki patung raksasa atau kompetisi internasional. Yang ada hanyalah sekitar 50 lentera salju yang tersebar di sepanjang jalan desa, api obor yang menyala di tangan para pria berpakaian minim, dan kembang api yang mewarnai langit. Namun justru dalam kesederhanaan inilah letak kekuatannya. Festival ini tidak berusaha mengesankan dengan ukuran, tapi juga mengundang pengunjung untuk merasakan seperti merasakan dinginnya salju, hangatnya api, dan heningnya malam di desa yang telah berdiri selama berabad-abad.

Perbedaan ketiga adalah dimensi historis yang tak tertandingi. Ouchi-juku adalah monumen hidup dari periode Edo. Berjalan di sepanjang jalannya yang tertutup salju, dengan lentera-lentera yang menyala di depan rumah-rumah beratap jerami, pengunjung benar-benar merasakan seperti kembali ke masa lalu. Festival ini menciptakan ilusi nostalgia dan nostalgia sebenarnya itu sendiri.

7. Antusiasme, Kunjungan yang Melampaui Bencana

Antusiasme terhadap Festival Salju Ouchi-juku tecermin dalam kisah-kisah pengunjung dan ketahanan warga. Pada tahun 2012, setahun setelah bencana gempa dan tsunami Tohoku, seorang pasangan muda dari Tokyo yang berkunjung untuk pertama kalinya mengatakan kepada pemerintah Jepang:

“Kami selalu tertarik pada Ouchi-juku dengan jalanan tuanya yang masih bertahan. Kami tidak ragu sama sekali tentang dampak Gempa Tohoku. Festival Salju ini benar-benar bagus karena terasa seperti sesuatu yang ‘dibuat dengan tangan’ oleh penduduk lokal. Kami cukup terkejut dengan banyaknya salju, tapi jalanan yang tertutup salju sangat indah.”

Pernyataan ini menangkap esensi dari daya tarik Ouchi-juku adalah keaslian. Di tengah pariwisata massal yang sering kali terasa steril dan diproduksi, Ouchi-juku menawarkan sesuatu yang tulus. Warga setempat, yang khawatir kehilangan pelanggan akibat bencana, tetap menyambut pengunjung dengan tangan terbuka. Ketua komite eksekutif festival mengatakan, “Kami berharap orang-orang juga datang ke Festival Hange di bulan Juli, ketika warna musim gugur spektakuler.” Ibu menjadi promosi sekaligus undangan dari orang-orang yang bangga dengan desa mereka dan ingin berbagi keindahannya sepanjang tahun.

Pada tahun 2026, ketika festival merayakan edisi ke-40, antusiasme itu tetap kuat. Ketua Asosiasi Pariwisata Ouchi-juku, Yuda Morio menyatakan harapannya, “Kami ingin pengunjung menikmati pesona musim dingin sepenuhnya”. Pesan ini sederhana, tapi mengandung seluruh filosofi festival. Bukan tentang jumlah pengunjung atau pendapatan, tapi tentang berbagi keindahan musim dingin yang telah menjadi bagian dari identitas Ouchi-juku selama berabad-abad.

Oleh karena itu, Festival Salju Ouchi-juku adalah bukti bahwa yang paling berkesan bukan yang terbesar atau termegah, tapi yang paling tulus. Di desa kecil di Fukushima ini, salju merupakan selimut yang menghangatkan kenangan. Lilin-lilin kecil di lentera salju, obor yang menyala di tangan para pria pemberani, dan kembang api yang mekar di langit musim dingin. Semuanya adalah cara untuk mengatakan bahwa masa lalu masih hidup dan bahwa keindahan sejati sering ditemukan dalam hal-hal yang paling sederhana.

G. Festival Es Sounkyo, Seni dari Air dan Beku

Jika festival-festival sebelumnya berbicara tentang salju yang dipadatkan atau lilin yang dinyalakan, Festival Es Sounkyo (層雲峡氷瀑まつり) berbicara tentang sesuatu yang lebih elemental, yaitu air yang membeku perlahan, lapis demi lapis hingga menjadi karya seni yang kasar namun memukau.

Berlangsung di kaki Pegunungan Daisetsuzan, Hokkaido, festival ini tidak membangun patung dari salju, tapi menyiramkan air dari Sungai Ishikari ke atas kerangka kayu dan membiarkannya membeku selama berbulan-bulan menciptakan struktur es setinggi lebih dari 10 meter yang tampak seperti air terjun yang tertangkap dalam gerakan membeku.

1. Lahir dari Keinginan Mengubah Dingin Menjadi Daya Tarik

Festival ini dimulai pada tahun 1976, ketika sekelompok pemuda dari distrik perbelanjaan Sounkyo bekerja sama dengan Takenaka Toshihiro, seorang pematung dari Eniwa, Hokkaido untuk menciptakan sebuah acara yang dapat menarik wisatawan di musim dingin. Saat itu, Sounkyo lebih dikenal sebagai destinasi musim panas, dan musim dingin yang mencapai suhu -20 derajat Celsius membuat daerah ini sepi pengunjung.

Takenaka yang dikenal karena karyanya berupa pohon-pohon yang disemprot air dan dibiarkan membeku membawa ide tersebut ke Sounkyo. Pameran patung es pohonnya mendapat sambutan hangat dan sejak itu festival ini diadakan setiap tahun. Pada tahun 2026, festival ini mencapai edisi ke-51 dengan sejarah lebih dari setengah abad yang menjadikannya salah satu festival musim dingin paling mapan di Hokkaido.

2. Proses Pembuatan, Kesabaran yang Membeku Menjadi Seni

Yang paling membedakan Sounkyo dari festival es dan salju lainnya adalah proses pembuatannya yang sepenuhnya bergantung pada alam dan waktu. Persiapan dimulai pada musim gugur tahun sebelumnya. Setelah tema festival ditentukan, pekerjaan pada kerangka kayu yang akan menjadi cetakan karya seni es dimulai pada awal November.

Dari bulan Desember, air dari Sungai Ishikari disemprotkan ke kerangka yang telah selesai. Tetesan air membeku dan menggantung, membentuk es yang perlahan-lahan tumbuh besar. Proses ini berlangsung selama sekitar satu setengah bulan hingga karya seni es selesai tepat sebelum festival dimulai. Bagian-bagian yang akan menjadi jalur dan tangga dipotong dengan gergaji mesin tapi selebihnya karya seni es dibiarkan apa adanya dan hasil dari alam yang dingin.

Filosofi ini tecermin dalam nama festival adalah “Hyoubaku” (氷瀑) berarti air terjun yang membeku. Karya seni es di Sounkyo tidak dipahat dengan presisi seperti patung Sapporo; mereka meniru proses alamiah di mana air terjun membeku di tengah musim dingin, menciptakan bentuk-bentuk yang kasar, organik, dan penuh kejutan.

3. Skala dan Daya Tarik, 30 Karya Es di Tepi Sungai

Festival ini berlangsung di area seluas 12.000 meter persegi di sepanjang tepi Sungai Ishikari, dengan sekitar 30 karya es yang berdiri tegak. Ukurannya bervariasi, tapi yang paling mencolok adalah struktur es setinggi 13 meter yang berfungsi sebagai ruang dan dek observasi, memungkinkan pengunjung melihat seluruh area festival dari ketinggian.

Beberapa atraksi utama yang wajib dikunjungi di antaranya sebagai berikut:

a) Terowongan Es (Ice Tunnel)

Terowongan ini membentang lebih dari 100 meter dan dibuat melalui proses penyiraman air berulang kali ke struktur yang kemudian dibiarkan membeku. Proses pembuatannya memakan waktu berbulan-bulan, dan hasilnya adalah terowongan es yang tidak memiliki bandingan di dunia terutama ketika lampu-lampu warna menyala di malam hari.

b) Kuil Hyoubaku (氷瀑神社)

Sebuah kuil yang seluruhnya terbuat dari es, tempat pengunjung sering menyelipkan koin ke dinding es sebagai simbol harapan akan keberuntungan. Jika koin tetap menempel tanpa jatuh, dipercaya sebagai pertanda keberhasilan. Kuil ini menambahkan dimensi spiritual pada festival, mengingatkan bahwa di balik keindahan es, ada doa dan harapan yang disampaikan.

3. Dek Observasi Es

Dari ketinggian dek ini, pengunjung dapat melihat pemandangan 360 derajat seluruh area festival termasuk sungai yang membeku dan tebing-tebing curam Sounkyo. Ini adalah salah satu spot fotografi paling populer terutama saat senja ketika langit berwarna jingga berpadu dengan birunya es.

4. Cahaya di Malam Hari, Tujuh Warna dan Kembang Api Setiap Malam

Jika siang hari menampilkan es dalam warna alaminya yang putih kebiruan, malam hari mengubah Sounkyo menjadi dunia yang sama sekali berbeda. Karya-karya es diterangi dengan tujuh warna lampu yang bergantian menciptakan efek visual yang oleh banyak pengunjung digambarkan sebagai “kristal yang berkilau” atau “istana es dalam dongeng”.

Yang membuat Sounkyo istimewa adalah kembang api yang diluncurkan setiap malam selama periode festival biasanya pada pukul 20:30. Kembang api ini meluncur ke langit musim dingin yang jernih dan gelap menciptakan kontras yang dramatis dengan es yang diterangi di bawahnya. Suara ledakan kembang api yang memantul di antara tebing-tebing curam Sounkyo menambah dimensi audio yang membuat pengalaman ini semakin mendalam

Pada tahun 2026, sebagai perayaan edisi ke-51, kembang api menjadi salah satu daya tarik utama yang dipromosikan secara khusus. Keindahan iluminasi ini telah diakui secara resmi. Sounkyo Ice Fall Festival terdaftar sebagai “Japan Night View Heritage” (日本夜景遺産) menjadi pengakuan atas kualitas visual malamnya yang luar biasa.

5. Kehangatan di Tengah Dingin, Amazake dan Kuliner Lokal

Di tengah suhu yang bisa mencapai -20 derajat Celsius, festival ini menyediakan tempat perlindungan berupa warung-warung yang menjual makanan dan minuman hangat. Yang paling khas adalah amazake buatan tangan yang menggunakan sake kas dari Kamikawa Daisetsu Shuzo, tempat penyulingan sake lokal di Kota Kamikawa. Amazake ini memiliki rasa manis alami dan hangat di tenggorokan, menjadikannya minuman yang sempurna untuk mengembalikan suhu tubuh setelah berjalan-jalan di tengah es.

Selain itu, terdapat juga penjualan produk lokal dari Kamikawa menambahkan dimensi kuliner pada pengalaman festival yang tidak hanya memanjakan mata tapi juga menghangatkan tubuh.

6. Tujuan dari Festival ini

Festival Es Sounkyo memiliki tujuan yang lebih dalam daripada hanya menarik wisatawan saja. Pada tingkat paling mendasar, festival ini adalah strategi untuk mengatasi masalah musim dingin yang sepi. Sounkyo yang ramai di musim panas dengan pendaki dan wisatawan yang menikmati keindahan alam Daisetsuzan mengalami penurunan drastis kunjungan di musim dingin. Festival ini mengubah kelemahan (dingin ekstrem) menjadi kekuatan (daya tarik wisata yang unik).

Pada tingkat komunitas, festival ini adalah proyek kolektif yang melibatkan warga lokal, asosiasi pariwisata, dan pemerintah kota. Persiapan yang dimulai berbulan-bulan sebelumnya, kerja sama dalam pembuatan karya es, dan operasional festival selama lebih dari sebulan adalah bukti komitmen komunitas terhadap kelangsungan acara ini.

Ketua Asosiasi Pariwisata Sounkyo, Nakajima Shinichi, menyatakan bahwa festival ini “telah menjadi acara yang sangat penting bagi warga lokal, karena telah diadakan secara terus-menerus tanpa pernah dibatalkan, bahkan selama pandemi coronavirus dengan menerapkan protokol pencegahan infeksi” .

Pada tingkat budaya, festival ini mempertahankan hubungan antara manusia dan alam. Di era di mana segalanya dapat diproduksi secara digital dan instan, Sounkyo menawarkan sesuatu yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan kerja sama dengan alam. Karya es yang dibiarkan apa adanya tanpa diubah secara berlebihan adalah pengingat bahwa keindahan sejati sering lahir dari penerimaan bukan kontrol

7. Yang Membedakan Sounkyo dari Festival Musim Dingin Lainnya

Perbedaan pertama dan paling jelas adalah medianya. Sapporo dan Asahikawa menggunakan salju yang dipadatkan. Sedangkan, Sounkyo menggunakan air yang dibekukan. Hasilnya adalah tekstur yang berbeda. Salju memberikan permukaan yang halus dan empuk, sementara es memberikan kilau yang tajam dan transparan. Karya es Sounkyo memiliki kualitas kristalin yang tidak dimiliki patung salju, terutama saat diterangi cahaya.

Perbedaan kedua adalah proses pembuatannya yang lebih lama dan lebih organik. Patung Sapporo dapat diselesaikan dalam hitungan minggu dengan alat berat dan perancah atau scaffolding. Karya Sounkyo membutuhkan berbulan-bulan hanya untuk proses pembekuannya, dan hasil akhirnya tidak sepenuhnya dapat diprediksi. Ini menciptakan rasa kejutan dan keaslian karena setiap tahun, karya es akan tampak berbeda karena kondisi alam yang berbeda.

Perbedaan ketiga adalah skala dan aksesibilitasnya. Sounkyo lebih kecil dari Sapporo (sekitar 30 karya es vs. ratusan di Sapporo), tapi lokasinya yang terpencil di dalam taman nasional memberikan suasana yang lebih intim dan dramatis. Tebing-tebing curam yang mengelilingi lokasi festival menciptakan latar belakang alamiah yang tidak dimiliki festival di tengah kota.

Perbedaan keempat adalah kembang api setiap malam. Sapporo dan Asahikawa mungkin mengadakan kembang api pada malam-malam tertentu, tapi Sounkyo menawarkannya setiap malam selama festival berlangsung menjadikannya bagian tak terpisahkan dari pengalaman. Ini memastikan bahwa pengunjung yang datang pada hari apa saja dapat menikmati pertunjukan cahaya di langit.

8. Antusiasme, Kunjungan dari Negara Tanpa Salju

Festival Es Sounkyo menarik sekitar 70.000 hingga 120.000 pengunjung setiap tahunnya, tergantung pada sumbernya. Meskipun angka ini lebih kecil dari Sapporo, festival ini memiliki daya tarik khusus bagi wisatawan dari negara dan wilayah tanpa salju. Nakajima mencatat bahwa “pengunjung dari Taiwan, Hong Kong, dan Korea Selatan terlihat menonjol. Bagi orang-orang dari negara/wilayah tanpa salju, ini mungkin konten yang menarik”.

Antusiasme ini tercermin dalam cara pengunjung menggambarkan pengalaman mereka. Ulasan di platform perjalanan menyebutkan betapa “magisnya” melihat es diterangi cahaya di tengah salju yang turun, meskipun suhu mencapai -25 derajat Celsius. Banyak yang menyarankan untuk menginap di Sounkyo Onsen agar dapat menikmati festival pada malam hari tanpa harus khawatir tentang jadwal bus terakhir dan kemudian menghangatkan diri di pemandian air panas setelahnya menjadi kombinasi yang sempurna antara pengalaman visual yang ekstrem dan kenyamanan fisik yang maksimal.

Oleh karena itu, Festival Es Sounkyo adalah bukti bahwa keindahan tidak selalu datang dari tangan yang memahat, tapi juga dari kesabaran yang membiarkan alam bekerja. Di tengah dingin yang membekukan tulang, air Sungai Ishikari diubah menjadi karya seni yang tidak hanya memukau mata, tapi juga mengingatkan kita bahwa bahkan elemen yang paling sederhana seperti air dan waktu dapat menciptakan sesuatu yang luar biasa ketika diperlakukan dengan hormat dan pemahaman.

H. Festival Tinta di Mihonoseki: Tradisi 250 Tahun di Ujung Semenanjung

Jika festival-festival musim dingin sebelumnya berbicara tentang salju, es, dan cahaya, maka Festival Tinta Mihonoseki (美保関の墨つけトンド) berbicara tentang sesuatu yang sama sekali berbeda. Wajah-wajah yang hitam oleh tinta, tawa yang lahir dari kekacauan, dan ritual kuno yang telah berlangsung lebih dari 250 tahun di ujung timur Semenanjung Shimane.

Festival ini tidak bergantung pada salju sebagai tema utamanya meskipun berlangsung di musim dingin, tapi pada tinta Cina yang dioleskan ke wajah siapa saja yang berani datang merupakan tindakan yang dipercaya membawa perlindungan dari penyakit dan kecelakaan laut selama satu tahun ke depan.

1. Lokasi dan Waktu, Desa Nelayan di Ujung Semenanjung

Festival ini berlangsung di Distrik Katae, Kota Mihonoseki, Matsue, Prefektur Shimane, sebuah desa nelayan kecil yang terletak di ujung timur Semenanjung Shimane menghadap Laut Jepang. Mihonoseki sendiri adalah kota pelabuhan bersejarah yang memiliki keterikatan kuat dengan mitologi Jepang dan Distrik Katae adalah salah satu komunitas nelayan yang masih mempertahankan tradisi-tradisi kuno hingga hari ini.

Festival ini digelar dua kali setahun, tapi yang paling terkenal dan paling banyak dikunjungi adalah edisi musim dingin yang berlangsung pada hari Minggu pertama setelah tanggal 6 Januari. Pada tahun 2026, festival digelar pada 11 Januari dimulai dengan pendirian tondo (struktur bambu) pada pukul 07.00 pagi diikuti dengan ritual di Kuil Katae pada pukul 11.00 dan puncaknya berupa arak-arakan mikoshi serta pencelupan ke laut. Edisi musim panas biasanya berlangsung pada bulan Juli, tapi edisi musim dingin adalah yang paling ikonik dan paling banyak diliput.

2. Sejarah, Lebih dari Dua Setengah Abad Pengabdian

Festival ini telah berlangsung lebih dari 250 tahun, menurut catatan lisan dan dokumentasi lokal. Meskipun asal-usul pastinya tidak terdokumentasi secara tertulis, para sejarawan dan warga setempat meyakini bahwa praktik ini dimulai sebagai bagian dari ritual Tahun Baru Kecil (Koshogatsu) yang bertujuan memohon kesehatan dan keselamatan bagi komunitas nelayan.

Yang menariknya lagi, praktik mengoleskan tinta ke wajah tidak selalu menjadi bagian dari ritual ini sejak awal. Menurut catatan, praktik ini sudah ada sebelum Perang Dunia II, tapi asal-usulnya tidak jelas. Ada yang mengatakan bahwa tinta yang dibuat dari arang kayu yang dihaluskan dan dicampur dengan sake ini awalnya digunakan sebagai bentuk pemurnian, dan kemudian berkembang menjadi tradisi yang menyenangkan dan penuh tawa seperti yang kita lihat sekarang. Yang pasti, selama lebih dari dua abad, festival ini telah menjadi denyut jantung budaya Distrik Katae diwariskan dari generasi ke generasi tanpa terputus.

3. Ritual dan Prosesi: Tondo, Mikoshi, dan Tinta yang Menghitamkan

Festival ini terdiri dari beberapa elemen yang saling terkait, masing-masing dengan makna dan daya tariknya sendiri. Berikut di bawah ini penjelasan lebih lengkapnya.

a) Pendirian Tondo (Pukul 07.00)

Sejak pagi buta, warga berkumpul untuk mendirikan tondo atau sebuah struktur tinggi dari bambu yang dihiasi dengan bendera warna-warni dan bendera tangkapan besar (tairyo bata) milik kapal-kapal nelayan Katae. Tondo ini adalah simbol dari Sagicho atau Dondoyaki, ritual membakar hiasan Tahun Baru untuk memohon berkah. Di Distrik Katae, tondo didirikan dengan kerja gotong royong, dan tingginya mencapai sekitar 7 meter menjadi penanda visual festival yang gagah di tepi pelabuhan.

b) Ritual di Kuil Katae (Pukul 11.00)

Pada pukul 11.00, ritual Shinto dimulai di Kuil Katae (方結神社) yang menurut kepercayaan telah berdiri sejak abad ke-18 dan memuja Kuni no Sachi Wake no Mikoto, dewa yang menurut Izumo Fudoki memberi nama “Katae” pada wilayah ini. Para pendeta wanita (kannushi) membacakan doa dengan suara serak yang khusyuk, sementara para pemuda yang mengenakan happi biru dengan karakter “Kata” (片) di punggung bersiap untuk mengarak mikoshi.

c) Oleskan Tinta, “Semakin Hitam, Semakin Banyak Berkah”

Inilah inti dari festival ini. Setelah ritual selesai, para wanita setempat mengeluarkan mangkuk-mangkuk berisi tinta hitam pekat yang terbuat dari arang kayu yang dihaluskan dan dicampur dengan sake suci (omiki) dan mulai mengoleskannya ke wajah siapa saja yang lewat, tanpa pandang bulu: warga lokal, wisatawan, bahkan jurnalis. Alat yang digunakan secara tradisional adalah irisan lobak daikon putih (daikon) yang dicelupkan ke dalam tinta, meskipun dalam praktik modern kadang-kadang digunakan kuas atau jari.

Yang membuat ritual ini unik adalah tidak ada yang menolak. Bahkan, semakin banyak tinta yang menempel di wajah seseorang, semakin besar keberuntungan yang dipercaya akan diterimanya. Warga setempat dengan sengaja mendekatkan wajah mereka untuk mendapatkan olesan tinta yang lebih banyak. Tawa pecah di mana-mana. Tawa dari mereka yang wajahnya menghitam dan tawa dari mereka yang melihat wajah teman atau orang asing berubah menjadi hitam legam. Inilah yang membuat festival ini dijuluki sebagai “matsuri tawa” (festival tawa) oleh beberapa pengunjung.

d) Arak-arakan Mikoshi dan Pencelupan ke Laut

Setelah wajah semua orang dipenuhi tinta, dua mikoshi diarak keliling distrik dengan teriakan “Chousadaa, Chousadaa!” yang menggema di antara rumah-rumah nelayan. Para pembawa mikoshi mengenakan pakaian tradisional dan membawa tabut itu menuju pelabuhan, lalu masuk ke dalam air laut yang membeku. Momen ini yang menegangkan dan penuh energi terutama di musim dingin ketika suhu air bisa sangat rendah.

Setelah mikoshi dibawa kembali ke pantai, tibalah puncak keceriaan. Para pengantin baru, pria yang baru membangun rumah, dan para tetua adat (oyatou) dilempar ke laut satu per satu. Ini adalah bentuk ucapan syukur dan doa agar kehidupan baru mereka seperti pernikahan, rumah baru diberkahi dengan keselamatan dan keberuntungan. Pada tahun 2024, seorang jurnalis bahkan ikut dilempar ke laut dan menambah semarak suasana .

4. Makna Spiritual, Perlindungan dari Penyakit dan Kecelakaan Laut

Di balik keseruan dan tawa, Festival Tinta Mihonoseki mengandung lapisan spiritual yang serius. Kepercayaan yang diwariskan turun-temurun menyatakan bahwa tinta yang dioleskan ke wajah akan melindungi seseorang dari penyakit terutama masuk angin dan dari kecelakaan di laut selama satu tahun penuh. Bagi komunitas nelayan yang hidupnya bergantung pada laut, perlindungan dari kecelakaan laut adalah doa yang sangat nyata dan mendesak.

Tinta ini sendiri bukan sembarang tinta. Tinta ini dibuat dengan arang dari kayu tertentu yang dihaluskan dan dicampur dengan sake suci. Dalam proses pembuatannya, warga setempat dikatakan memikirkan kesehatan dan keselamatan semua orang yang akan menerima tinta tersebut. Ini menjadikan tinta sebagai medium doa bukan hanya bahan untuk mengotori wajah. Ketika mikoshi dibawa ke laut, ia dipercaya mengumpulkan segala kesialan dan bencana dari distrik dan menghanyutkannya ke laut membersihkan komunitas untuk tahun yang akan datang .

5. Kuliner dan Keramahan, Tonjiru Hangat di Tengah Dingin

Festival ini juga dikenal karena keramahan warganya yang tulus. Setelah wajah hitam legam, pengunjung sering disuguhi tonjiru (sup miso dengan babi dan sayuran) yang hangat dibuat oleh warga setempat dengan tangan mereka sendiri. Di tengah dinginnya musim dingin Shimane, semangkuk sup hangat sambil tertawa melihat wajah sendiri dan orang lain yang hitam adalah pengalaman yang sulit dilupakan. Keramahan ini selain bagian dari pertunjukan wisata, tapi juga ekspresi dari komunitas yang bangga dengan tradisinya dan senang bisa berbagi kebahagiaan dengan orang luar.

6. Yang Membedakan Festival Tinta Mihonoseki dari Festival Musim Dingin Lainnya

Perbedaan pertama dan paling jelas adalah medianya. Festival-festival sebelumnya menggunakan salju, es, atau cahaya sebagai bahan utama. Mihonoseki menggunakan tinta sebagai medium yang sama sekali tidak terkait dengan musim dingin secara alami, tapi telah menjadi bagian dari identitas festival ini selama berabad-abad. Ini menunjukkan bahwa festival musim dingin di Jepang bisa dalam hal lain bukan hanya salju, tapi juga tentang tradisi yang kebetulan berlangsung di musim dingin.

Perbedaan kedua adalah tingkat interaksi dan keramaian. Di Sapporo, pengunjung melihat patung dari kejauhan. Di Yokote, mereka masuk ke kamakura dan berbicara dengan anak-anak. Di Mihonoseki, pengunjung menjadi bagian dari pertunjukan. Wajah mereka diolesi tinta dan mereka tertawa bersama warga. Tidak ada batas antara penonton dan peserta. Semua orang adalah bagian dari ritual yang sama.

Perbedaan ketiga adalah sifatnya yang tidak bergantung pada skala atau estetika visual. Festival ini tidak memiliki patung raksasa, iluminasi megah, atau kembang api. Keindahannya terletak pada wajah-wajah hitam yang tersenyum, pada tawa yang lahir dari kekacauan yang disengaja, dan pada kesadaran bahwa ritual kuno ini telah bertahan selama lebih dari dua setengah abad justru karena festival ini menyenangkan. Festival ini tidak berusaha mengesankan, tapi berusaha menghubungkan dengan banyak orang.

7. Antusiasme, Partisipasi Generasi Muda dan Wisatawan Asing

Meskipun Mihonoseki adalah desa kecil dengan sekitar 500 penduduk, festival ini menarik perhatian yang tidak proporsional dengan ukurannya. Pada tahun 2024, setelah jeda akibat pandemi COVID-19, festival ini kembali dengan penuh semangat dengan jumlah pengunjung yang melebihi tahun-tahun sebelumnya. Warga lokal terutama generasi muda terlibat aktif sebagai pembawa mikoshi. Lalu, pada tahun 2024, seorang wisatawan asing bahkan ikut serta membawa mikoshi dan meminta secara khusus untuk dilempar ke laut yang menjadikannya momen yang menjadi kenangan bagi dirinya dan komunitas.

Antusiasme ini juga tecermin dalam kompetisi fotografi yang diadakan setiap tahun untuk menangkap momen-momen terbaik festival, serta liputan media lokal dan internasional yang terus berlanjut. Bagi wisatawan yang mencari pengalaman Jepang yang autentik dan tidak biasa, Festival Tinta Mihonoseki menawarkan sesuatu yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Kesempatan untuk menjadi “hitam”, tertawa, dan merasakan menjadi bagian dari komunitas nelayan yang telah menjaga tradisinya selama berabad-abad.

Oleh karena itu, Festival Tinta Mihonoseki adalah pengingat bahwa festival musim dingin tidak selalu tentang dingin. Kadang-kadang, festival ini tentang kehangatan tawa, wajah-wajah yang saling menghitamkan, dan keyakinan sederhana bahwa tinta dan juga kebersamaan dapat melindungi kita dari hal-hal yang tidak terlihat di tahun yang akan datang. Di ujung semenanjung yang jauh dari hiruk-pikuk kota, ada sebuah tradisi berusia 250 tahun terus hidup dan membuat banyak orang tersenyum.


Festival musim dingin di Jepang adalah hubungan unik antara manusia dan alam. Di negara yang sebagian besar wilayahnya mengalami musim dingin yang keras, salju bisa menjadi musuh yang harus dilawan. Namun, Jepang memilih untuk melihatnya sebagai teman, karena bahan mentah untuk seni, latar untuk kenangan, dan alasan untuk berkumpul.

Dari patung raksasa Sapporo yang dibuat dengan gergaji mesin dan presisi milimeter hingga kamakura kecil di Yokote di mana anak-anak memanggang mochi dan menyambut orang asing dengan senyum, dari keheningan lilin di kanal Otaru hingga tawa anak-anak di festival salju Fukushima. Setiap festival tersebut adalah cerita tentang bagaimana manusia mengubah dingin menjadi kehangatan, dan kesunyian menjadi perayaan.

Bagi wisatawan, festival-festival ini menawarkan pengalaman yang tidak bisa ditemukan di musim lain. Mereka adalah kesempatan untuk melihat Jepang dari sudut yang berbeda bukan sebagai negara teknologi dan efisiensi, tapi sebagai masyarakat yang masih menghargai tradisi, komunitas, dan keindahan yang lahir dari kesederhanaan. Dan bagi orang Jepang sendiri, festival-festival ini adalah pengingat tahunan bahwa di tengah musim yang paling tidak bersahabat, ada alasan untuk tersenyum, berkumpul, dan merayakan kehidupan.

Jika Minasan mengunjungi Jepang di musim dingin, sempatkan diri dan datang ke festival-festival di atas ya. Dijamin seru dan pastinya menambah kenangan. Semoga artikel ini bermanfaat ya. Nah, cukup sekian yang bisa Pandai Kotoba berikan 7 Festival musim dingin di Jepang yang kemeriahan di tengah dinginnya salju. Jika Minasan masih penasaran dan ingin baca lagi tentang budaya di Jepang lainnya, di website kami banyak tersedia informasinya lho. Salah satunya ini nih: Geijutsu no Aki, Mengisi Kegiatan Musim Gugur dengan Menghargai Seni di Jepang. Klik untuk membacanya.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *