Culture,  Kisah,  News

“To Yoko Kids” Fenomena Anak Muda Jepang Yang Meresahkan

to yoko kids

Hai mina san! kembali lagi di website Pandai Kotoba yang membantu mina san belajar bahasa Jepang, mengenal budaya, ataupun fenomena-fenomena yang sedang terjadi di negeri yang terkenal dengan animenya ini. Pada artikel kali ini kita akan membahas sebuah fenomena sosial yang mungkin sangat berbeda dari pandangan mina san terhadap Jepang yang terlihat sempurna, fenomena sosial tersebut bernama To Yoko Kids.

Fenomena sosial ini adalah kumpulan anak muda yang berkumpul di salah satu kawasan Tokyo, yang lebih mencengangkan ternyata banyak sekali anak-anak yang masih dibawah umur ホームレスキッズ (dibaca : Homuresu kizzu) dari kata bahas inggris yang berarti Homeless atau tidak memiliki rumah. Kira-kira apa saja fakta lainnya dari fenomena ini, yuk kita bahas sama-sama mina san!

トー横キッズ To Yoko Kids : Fenomena Apakah Itu?

Media Jepang menyebu fenomena anak-anak yang selalu berkumpul di sekitar gedung TOHO Cinema, Kabukicho, Shinjuku ini sebagai トー横キッズ (dibaca : To Yoko Kids) dari kanji 横 yang berarti berbaring dan katakanaトー yang merujuk ke gedung TOHO Cinema. Tetapi mereka sendiri biasanya menyebut diri mereka sebagai 界隈の子 (dibaca Kaiwai No Ko) atau yang berarti lingkungan pemuda dan bisa juga トー横民 (dibaca : To Yoko Min) yang berarti orang-orang To Yoko.

Seperti yang terlihat di salah satu postingan akun @skull_face7997 diatas, pada waktu malam mereka biasanya berkumpul di sekitar kawasan Kabukicho dengan melakukan berbagai macam kegiatan seperti Barbequean, minum-minum, atau sekedar merekam video yang mereka upload di media sosial. Tetapi yang sangat disayangkan dari fenomena ini adalah banyaknya kasus mabuk berlebihan, kekerasan seksual, perkelahian, atau bahkan sampai dengan kematian yang disebabkan berbagai macam hal yang terjadi sehingga fenomena ini dirasa sangat meresahkan masyarakat Jepang lainnya.

Kumpulan Tunawisma Muda di Jepang

Fenomena To Yoko Kids didominasi oleh tunawisma yang tidak memiliki tempat tinggal, anehnya kebanyakan dari mereka bukannya tidak memiliki tempat tinggal seperti rumah melainkan memilih untuk tidak pulang karena berbagai macam alasan. Bahkan interview yang dilakukan oleh channel YouTube アットホームチャンネル (dibaca : atto hoomu cyanneru) dengan salah satu To Yoko Kids bernama Moka san yang masih berumur 15 tahun menyebutkan mereka biasanya tidur di hotel terdekat dengan sistem patungan bersama yang lain atau tingal di ネットカフェ (dibaca : Netto Kafe) sekitar shinjuku.

Jika kebanyakan dari kita beranggapan tunawisma adalah orang-orang dewasa ataupun orang-orang tua, tetapi anak-anak To Yoko didominasi oleh banyak anak muda yang berpakaian nyentrik atau 地雷系 (dibaca : Jirai Kei) dimana mereka berdandan imut dengan boots dan pakaian yang mereka anggap lucu dan keren. Satu hal yang mengejutkan lainnya adalah kebanyakan mereka adalah anak-anak dibawah umur bahkan ada yang seharusnya masih berstatus 小学生 (dibaca : Shoogakusei) atau siswa-siswi sekolah dasar.

Fakta lainnya adalah tidak semua To Yoko Kids adalah orang yang memilih tidak pulang kerumah, ada juga beberapa pemuda yang tetap memiliki tempat pulang tetapi memang menyukai kawasan kabukicho sebagai tempat mereka bermain dan bercengkrama bersama teman-teman lainnya.

Pemicu Fenomena To Yoko Kids

Menurut informasi dari interview yang dilakukan salah satu web Jepang toyokeizai.net terhadap seorang To Yoko Kids yang berjudul トー横 キッズ が 歌舞伎町 に 居場所 求める 本当の訳 (dibaca : To yoko kizzu ga kabukicho ni ibasho motomeru honto no wake) dikatakan bahwa fenomena ini sebenarnya terjadi begitu saja tanpa direncanakan, dimulai dari wabah korona yang membuat orang tua sering di rumah dan membuat anak-anak tersebut merasa semakin terkekang serta adanya seorang “Tokoh” yang mengundang anak-anak atau pemuda yang merasa memiliki gangguan mental untuk berkumpul bersama.

Banyak sekali pemicu dan alasan-alasan fenomena ini terjadi seperti yang Pandai Kotoba jelaskan diatas. Kebanyakan dari anak-anak dibawah umur yang ikut terseret dalam fenomena ini adalah koran dari broken home yang merasa “rumah” mereka tidak nyaman untuk ditempati lagi, karena alasan itu pula mereka bisa bertemu dan saling melengkapi dengan orang-orang yang memiliki masalah yang sama.

Sumber Penghasilan yang Tidak Terduga

Setelah mengetahui bagaimana fenomena ini dan melihat bagaimana tampilan mereka, jika dilihat sebenarnya banyak dari mereka yang mengenakan baju bagus dan terawat, belum lagi untuk makanan mereka, lalu darimanakah mereka mendapatkan biaya untuk hidup jika mereka memilih untuk tidak pulang?

Beberapa dari To Yoko Kids ada yang bekerja paruh waktu seperti siswa siswi Jepang lainnya, tetapi hal yang membuat masyarakat bahkan pemerintah Jepang prihatin adalah perilaku To Yoko Kids yang kehidupannya disokong oleh パパ活 (dibaca : Papa Katsu). Papa Katsu dalam istilah bahasa inggris sering dikenal sebagai Sugar Daddy yang biasa mengongkosi orang lain yang tidak dalam hubungan keluarga, untuk kepentingan dan lain-lain biasanya mengarah ke hal-hal yang bersifat dewasa.

Selain Papa Katsu, pelaku To Yoko Kids juga tidak jarang bergantung terhadap temannya yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti makan minum atau tempat untuk tidur.


image 28
Photo Cr : Huckmag.com

Itulah mina san beberapa fakta dan juga informasi yang dapat Pandai Kotoba berikan kepada mina san mengenai fenomena sosial To Yoko Kids, yaitu anak-anak dan pemuda yang berkumpul di sekitar gedung Toho Cinema, Kabukicho, Shinjuku. Seperti yang sudah dijelaskan banyak dari mereka yang masih dibawah umur dan melakukan berbagai macam kegiatan semenjak wabah korona berlangsung di Jepang sampai sekarang.

Disamping perilaku mereka yang banyak mengotori kawasan Kabukicho, mabuk-mabukan, bahkan sampai ada yang オーバードース (dibaca : Oobaadoosu) atau overdosis minuman dan obat-obatan, beberapa dari mereka berkumpul di tempat tersebut karena alasan tertentu seperti adanya orang-orang yang memiliki kesamaan dengan mereka dalam masalah hidup dan menerima mereka dalam keadaan apapun. Bahkan To Yoko Kids seperti Moka san berpikir untuk meninggalkan kehidupan To Yoko Kids saat umurnya beranjak 18 Tahun.

Video Seorang Pemuda yang Mengalami Overdosis dan Ditolong oleh Polisi Setempat

Mimin Pandai Kotoba berharap fenomena ini bisa cepat ditanggulangi dengan benar dan dapat membantu anak-anak untuk kembali menjadi generasi yang baik di kemudian hari. Sampai ini dulu artikel mengenai To Koyo Kids ya mina san, semoga bisa bermanfaat dan menjadi pengetahuan baru untuk mina san, untuk mina san yang tertarik dengan fenomena sosial lainnya, apakah pernah mendengar mengenai Hikikomori? jika belum klik disini ya mina san : Apa itu Hikikomori?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *