Culture

Apakah Mayoritas Agama Orang Jepang? Benarkah Atheis?

Kementrian Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, Kebudayaan, dan Olahraga Jepang setiap tahunnya merilis jumlah penganut agama dan kepercayaan terkini yang dianut orang Jepang. Lantas, apa saja sih agama orang Jepang itu?

agama orang jepang shinto

Penganut Agama Lebih Besar Dari Jumlah Penduduk

Jika melihat jumlah penganut dari tiap-tiap kepercayaan di akhir tahun 2012, Shinto dengan jumlah penganut kira-kira seratus juta jiwa adalah yang terbesar. Urutan kedua adalah agama Buddha dengan jumlah penganut berkisar 85 juta jiwa, urutan ketiga Kristen dengan jumlah kira-kira 19 juta jiwa, dan lain-lain berkisar 9 juta 1010 ribu jiwa.

Jika semuanya dijumlahkan, total keseluruhan penganut berjumlah 197.100.000 jiwa. Jumlah penduduk Jepang sendiri tahun 2013 akhir adalah 127 juta jiwa. Dengan kata lain, dibandingkan dengan jumlah penduduk, maka jumlah keseluruhan pemeluk agama jauh lebih besar. Sebenarnya fenomena apakah ini?

Jumlah penganut agama di Indonesia, Islam berkisar 87 persen dan Kristen berkisar 10 persen. Dengan ini, jika ditanyakan pada orang Indonesia mengenai agama, maka akan diperoleh jawaban pasti. Dengan begitu jumlah penganut tiap agama dan jumlah penduduk akan sama.

Dalam laporan, tidak diperoleh jumlah orang Jepang yang mendeklarasikan sendiri agamanya. Jumlah penganut didapatkan dari masing-masing organisasi keagamaan.

Dan karena masing-masing organisasi keagamaan mengeluarkan data sendiri dan tidak perlu mendapatkan persetujuan dari tiap pemeluk untuk melaporkan jumlahnya, maka jumlah penganut dan jumlah penduduk tetap tidak sama, karena itulah data tersebut sebenarnya tidak bisa mewakili.

Saya kira kebanyakan orang Jepang yang menganut agama tertentu pun tidak mengerti dengan apa yang diajarkan agamanya sendiri. Bahkan angka untuk jumlah penganutnya juga bisa dipertanyakan.

Besaran selisih angka tersebut sangatlah mengejutkan. Menurut saya ini menunjukkan perbedaan yang sangat besar akan kesadaran tentang agama antara orang Jepang dengan Indonesia dan negara lainnya.

Agama Adalah Tradisi dan Pilihan

Pada saat tahun baru orang Jepang pergi ke kuil Jinja (Shinto) untuk berdoa. Namun, tidak pernah ada anggapan orang Shinto harus berdoa di kuil. Sebaliknya, kebiasaan untuk mengunjungi kuil Shinto terjadi saat pergantian tahun baru.

Di Tokyo ada kuil Shinto yang terkenal bernama Kuil Meiji. Pada awal bulan, selama 3 hari (1-3 Januari) sebanyak 3 juta lebih jiwa telah mengunjungi kuil ini untuk merayakan tahun baru.

Pada saat upacara pemakaman, banyak orang pergi ke kuil Buddha. Bagi orang Jepang itu sudah kebiasaan, dan tidak menyadari itu adalah praktik keagamaan. Hari kelahiran Buddha (Hana Matsuri) menjadi hari libur nasional dan pada saat Hana Matsuri ada juga yang pergi ke kuil untuk berdoa. Namun jika dibandingkan, banyak juga orang Jepang yang melakukan Hana Matsuri tanpa tujuan untuk berdoa.

Keluarga orang Jepang banyak yang memiliki kuburan turun-temurun dari leluhur di kuil Buddha. Karenanya, banyak orang Jepang yang merasa menjadi bagian dari kuil tersebut, sehingga juga menjadi bagian dari agama Buddha. Ini disebut sistem jemaat, suatu peninggalam Zaman Edo.

Jika kamu bertanya pada orang Jepang, “Agama Buddha kamu alirannya apa?”, maka banyak yang dapat menjawabnya, “Dari aliran kuil Buddha di mana kuburan keluarga saya terletak.” Jika ditanya apa bedanya aliran dari spesifikasi tersebut dengan aliran lain, kemungkinan besar banyak orang yang tidak bisa menjawabnya secara mendetail.

Saat upacara pernikahan, banyak yang menerapkan ajaran Shinto. Banyak juga yang mengadakan upacara pernikahan di gereja walaupun mereka bukan pemeluk agama Kristen. Kemudian, meskipun kebanyakan orang Jepang bukan beragama Kristen, Jepang merayakan natal.

931735 1 0830 OJAPANRELIGION standard

Karena mereka merayakan natal bagi orang asing yang tinggal di Jepang, banyak orang menjadi salah paham bahwa Jepang adalah negara dengan jemaat Kristen yang taat.

Orang Jepang tidak begitu spesifik memandang agama. Jumlah pengikut agama dalam masyarakat Jepang sangatlah beragam. Itulah poin besar yang membedakan dengan bangsa Indonesia dan bangsa dari negara lain.

Agama Orang Jepang Shinto

Jika melihat total penganut agama di Jepang, orang Jepang kebanyakan memeluk agama Shinto. Dari jumlah penduduk Jepang, seperdelapannya memeluk agama Shinto.

Di Jepang, gunung, sungai, dan lainnya adalah kekayaan alam yang besar. Orang Jepang sejak dahulu kala takut pada gunung, hutan, danau, batu dan pohon yang dianggap sebagai hal yang suci, dan jika ada hal baik yang terjadi, orang Jepang akan berterima kasih pada benda-benda itu.

Jepang juga banyak terkena gempa bumi, topan, gunung berapi. Orang Jepang sadar bahwa ada kekuatan yang lebih besar daripada manusia, karena setiap komponen alam jadi terlihat sebagai Tuhan/dewa.

Dewa agama Shinto sangat banyak, dan ada istilah Yooyorozu yang artinya adalah 8 juta dewa. Ini tentu tidak berarti jumlah dewa tepat 8 juta, tetapi pendek kata ini berarti “sangat banyak” dan karenanya angka 8 juta yang selalu dipakai.

Sejak dahulu kala, orang Jepang (Shinto) takut akan kemarahan alam, maka mereka selalu menjaga kelestarian alam yang sudah ada.

Shinto adalah agama unik di Jepang. Meskipun dikatakan sebagai agama, namun sangat berbeda jika dibandingkan dengan Islam, Kristen, dan agama lainnya. Bagi agama Shinto, orang yang pertama kali menyebarkan ajaran bukanlah penemu ajaran tersebut.

Ajaran Shinto juga tidak dikumpulkan sebagai kitab suci. Penganut Shinto menyebarkan ajaran ini sedikit demi sedikit, dan tidak ada ajakan untuk juga menjadi penganut Shinto.

Orang Jepang sendiri tidak memiliki kesadaran bahwa mereka adalah penganut Shinto, tidak pula memiliki kesadaran bahwa ajaran tertentu adalah ajaran Shinto. Ajaran Shinto pada akhirnya menjadi cara pikir yang umum, dan menjadi adat istiadat, yang disebarkan lewat pergaulan atau pun ajaran orang tua.

Karena itu, jika ada orang asing yang ingin belajar Shinto atau ingin jadi pemeluk Shinto, saya rasa itu sulit karena tidak ada kitab suci.

Dalam pemikiran Shinto, orang Jepang dan kehidupan harus berjalan beriringan. Hal seperti ini bisa dijalankan jika mengetahui cara berpikir orang Jepang.

Untuk keluar masuk ke Jinja (kuil bagi agama Shinto), sangat bebas, siapa pun bisa, tidak terkecuali bagi penganut agama lain. Menurut jumlah yang dihimpun oleh pemerintah, jumlah kuil Shinto di Jepang sekitar 81.000 kuil. Kuil Buddha ada 77.000 kuil.

Alasan semakin meningkatnya jumlah penganut agama Shinto adalah kepercayaan yang dipakai pada Jepang masa lampau, bisa jadi alasannya adalah latar belakang kebijakan sebelum perang.

Kebijakan Sebelum Perang

Setelah berakhirnya masa kekuasaan tentara Tokugawa di zaman Edo, Jepang membuka negara dan menjadi zaman Meiji. Saat itu, banyak kawasan Asia yang menjadi koloni/sekutu Eropa. Orang Jepang cemas bahwa di pemerintahan Meiji Jepang akan jadi wilayah sekutu Eropa: Jepang juga akan menjadi modern, secara spesifik dalam bidang ekonomi terjadi penguatan dalam pembangunan dan persenjataan.

Saat kemerdekaan Indonesia, Presiden Sukarno mengumumkan 5 prinsip dasar Pancasila yang menjadi dasar pemikiran Indonesia. Saat memasuki zaman Meiji, saat itu Jepang yang dikuasai oleh Kaisar Meiji mengumumkan sumpah lima dasar yang akan menjadi undang-undang dasar negara.

Jepang tidak akan menjadi negara sekutu pihak asing, zaman Meiji bukan berarti kemerdekaan, perubahan zaman Edo ke Meiji adalah perubahan atas lahirnya kembali suatu negara.

Indonesia dan Jepang membangun kembali negaranya, adapun 5 prinsip dasar yang sama kemungkinan kebetulan semata, tetapi hal itu sangat menarik.

Saat pemerintahan Meiji, sangat penting untuk menjauhi dominasi pihak asing, itulah yang saat itu menjadi pemikiran yang ditanamkan oleh kaisar pada rakyatnya. Jika dipikirkan, masyarakat meringkasnya dalam ajaran Shinto, dan kaisar menjadi bukan hanya sebagai alat politik saja, namun juga menjadi pemimpin Shinto. Bahkan ada pula yang meyakini ia adalah Tuhan.

Pada zaman Meiji, konstitusi juga memberikan jaminan untuk kebebasan beriman. Tetapi apa pun kepercayaan sebuah agama yang dianut, sesungguhnya masyarakat Jepang terus wajib mengikuti ajaran Shinto. Itu adalah pemikiran sebelum perang.

Setelah berakhirnya Perang Dunia II, Kaisar Heiwa memberi pernyataan bahwa pengakuan tentang diri sendiri adalah Tuhan merupakan hal yang negatif.

Orang Jepang yang lahir setelah perang sepertinya tidak akan percaya pada apa yang terjadi pada Jepang dulu jika melihat sejarahnya. Tampaknya, sampai saat ini detil ajaran Shinto sendiri pun tidak banyak dimengerti kebanyakan masyarakat Jepang.

Kini kaisar yang dianggap Tuhan menjadi hal yang abnormal. Bagaimanapun, Tuhan yang diyakini oleh Shinto dengan Tuhan pencipta yang dimaksudkan oleh Islam atau Kristen mempunyai perbedaan yang besar. Tuhan Shinto lebih menitikberatkan pada ketakutan orang-orang akan kemarahan Tuhan.

Tuhan Toilet

Orang Jepang beranggapan bahwa Tuhan/dewa ada di rumah mana-mana dan dalam “benda” apa pun. Di dalam rumah juga ada. Dan di dapur ada Dewa Dapur. Bahkan di toilet juga ada Tuhan.

Pada tahun 2010, lagu “Toire no Kamisama” (Tuhan Toilet) sangat sukses di Jepang. Ini merupakan lagu yang dinyanyikan dan diciptakan oleh penyanyi perempuan yang bernama Kana Uemura, berisi percakapan antara seorang anak perempuan dengan neneknya:

“Hiduplah seorang anak perempuan bersama neneknya. Nenek selalu menyuruh cucunya agar membersihkan toilet, tetapi si anak perempuan berkata bahwa ia tidak pandai membersihkan toilet. Nenek berkata, seorang gadis harus melakukannya karena di toilet hidup seorang dewi. Jika setiap hari membersihkan toilet, maka lama-kalamaan akan menjadi cantik seperti seorang dewi. Sejak saat itu ia mulai membersihkan toilet sampai mengkilap. Ia ingin terus menggosok setiap hari.”

Karena lagu itu sangat sukses, Kana Uemura menerbitkan novel yang mencerminkan dirinya sendiri dengan judul Tuhan Toilet. Pada tahun 2011 juga ditayangkan drama televisi yang berjudul sama, yang diambil dari biografi Kana Uemura.

Karena di Jepang ada Tuhan Toilet, bukan hanya jika membersihkan toilet dipercaya bisa menjadi cantik, namun juga dipercayai bahwa “jike membersihkan toilet maka akan melahirkan anak yang cantik dan sehat”. Wanita hampil pun membersihkan toilet secara tekun untuk menyenangkan Tuhan Toilet.

Baca artikel tentang Budaya Jepang lainnya hanya di Pandai Kotoba ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *