Culture

5 Drama Jepang Paling Menguras Air Mata

Ada yang bilang, salah satu kecerdasan orang Jepang adalah membuat dorama yang bisa membuat pria-pria menangis. Iya gitu? Berikut ini adalah daftar drama Jepang yang bisa bikin mendadak berlinang air mata padahal tidak sedang makan seblak.

Oshin

oshin drama jepang sedih

Ini drama Jepang klasik. Serial Oshin tayang dari tahun 1983-1984, didapuk sebagai serial Jepang yang paling sering ditonton di seluruh dunia. Ceritanya simple aja sebenarnya, menceritakan seorang gadis miskin menjadi sukses. Tapi yang jadi tidak simple adalah penderitaan yang dilaluinya: sedih.

Cerita Oshin berdasarkan kisah nyata. Oshin seorang gadis yang lahir di keluarga miskin yang tinggal di pedesaaan. Konflik cerita dimulai ketika Oshin harus bekerja sebagai pelayan di sebuah keluarga kaya. Serangkaian penderitaan silih berganti menimpa Oshin, bahkan sempat ia mendapati dirinya harus berada di rumah bodil. Oshin yang sabar menghadapi penderitaan, akhirnya sukses menjadi pemilik supermarket.

Serial Oshin berlatar belakang kondisi sosial pasca perang dunia ke-2 di Jepang.  Lebarnya kesenjangan status antara si kaya dan si miskin, depresi, kerapuhan berpikir manusia menjadi tema lain yang membuat serial ini tidak hanya mengharukan, tetapi juga terkesan kelam.

Titik emosional dari kisah Oshin terletak ketika ia akhirnya mencapai titik kesukesan dalam hidupnya yang malang dan penuh derita. Oshin berhasil melalui segala macam kesusahan dalam pundaknya dengan kesabaran yang luar biasa. Pengorbanan tanpa henti yang ia lakukan untuk kehidupannya yang lebih baik.

1 Liter of Tears

Nagareru kisetsu no mannaka de~

Bagi kamu penonton setia dorama Jepang mesti tahu lagu di atas. Yup, salah satu lagu dari dorama 1 Liter of Tears (Ichi Rittoru No Namida) yang  berjudul Sangatsu Kokonoa yang sanggup membasahi pipi para penontonnya bahkan pria-pria bertampang preman.

Yabai! Ini adalah dorama yang paling emosional dan memilukan pada masanya ya.

Film ini dibuat berdasarkan kisah nyata seorang wanita bernama Kito Aya.

Cerita 1 Litre of Tears ini diadopsi dari Buku Harian yang Aya tulis sampai dirinya tidak mampu lagi untuk memegang bolpen. Di Jepang sendiri, buku ini laris terjual sampai dengan 1.1 juta copy. Saat berusia 15 tahun, dokter memvonis Aya menderita suatu penyakit langka yang disebut Spinocerebellar Ataxia.

Penyakit ini menyerang otak kecil sehingga kelak penderitanya akan mengalami gangguan keseimbangan tubuh yang secara perlahan menyebabkan kelumpuhan, kesulitan berbicara, dan kesulitan menelan.

Film 1 Litre of Tears diperankan oleh Erika Sawajiri dan Nishikido Ryo. Semasa hidupnya, Aya hanya memiliki satu impian yaitu tetap hidup. Keluarga, teman, serta orang-orang terdekat selalu memberikan semangat kepada dirinya. Penyakit yg semakin lama semakin menggerogoti tubuhnya tidak membuat Aya berkecil hati. Justru dengan penyakit inilah Aya semakin terpacu untuk menolong orang lain meskipun dengan kondisi fisik yang terbatas.


Aya meninggal pada usia 25 tahun. Kurang lebih selama 10 tahun dirinya menderita akibat Spinocerebellar Ataxia. Semangat pantang menyerah serta semangat hidupnya kini dijadikan sebagai sumber inspirasi bagi orang banyak.

Beautiful Life

Kisah yang sederhana, tapi jleb… mendalam.

Shuji, seorang hairstylist muda yang penuh percaya diri, secara tidak diduga bertemu dengan Kyoko, seorang pustawakan pemalu berkursi roda penyandang disabilitas.

Shuji meminta Kyoko untuk menjadi model makovernya. Awalnya Kyoko enggan, tetapi pada akhirnya ia menyetujui permintaan Shuji. Keduanya mulai dekat, dan tumbuh perasaan cinta antara keduanya.

Hubungan mereka tampak baik-baik saja, namun seiring penyakit Kyoko yang semakin parah, apakah cinta mereka akan berakhir tragedi? Kamu harus nonton untuk mengetahui apa yang akhirnya terjadi ya. Hehehe.

Kisahnya bisa dikatakan tidak mudah ditebak. Kebahagiaan dan kesedihan datang silih bergantian, tidak bisa diduga, memang begitulah namanya kehidupan ya.

Baca Juga: 4 Film Horor Jepang Klasik Yang Harus Kamu Tonton.

Dosokai

Tayang perdana tahun 1993, dorama Dosokai cukup heboh saat itu dengan mengangkat tema tentang LGBTQ.

Fuma adalah seorang homoseksual dengan kepribadian tertutup. Tak seorang pun tahu bahwa dirinya suka dengan sesama jenis. Kemudian, Fuma menikah dengan seorang perempuan bernama Natsuki.

Sampai kemudian Natsuki mengetahui bahwa suaminya telah tidur dengan pria lain. Natsuki melarikan diri dan melampiaskan kekesalannya dengan tidur bersama pria lain bernama Nama Arashi. Ternyata Nama Arashi adalah seorang pria biseksual yang juga pernah bercinta dengan suaminya sendiri.

Diawali dengan pengkhianatan, penonton seakan-akan dibawa naik roller coaster dengan tingkat emosional yang intens.

The Hours of My Life

Satu lagi drama Jepang yang berhubungan dengan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Tokuto Sawada adalah seorang pria yang mengidap penyakit ALS – Amyotrophic Lateral Sclerosis (Lou Gehring Syndrom). Penyakit tersebut perlahan-lahan membuat Tokuto tidak bisa menggunakan anggota tubuhnya sebagaimana biasa.

Bener-bener membuat mata berkaca-kaca ketika Tokuto mengaku pada teman-teman di pekerjaannya bahwa ia mengidap penyakit serius tersebut. Rekan-rekan kerja Tokuto yang awalnya menganggap ia tidak cakap dalam bekerja, setelah mengetahui hal tersebut jadi menyemangati Tokuto.

Tokuto pun membuat keputusan berat dengan memutuskan pacarnya karena ia tidak mau jadi beban. Namun setelah pacarnya mengetahui fakta sebenarnya perihal penyakit yang Tokuto derita, ia justru tidak mau mundur Tokuto.

Terus adegan yang sedih lagi adalah, apakah kalau paru-paru berhenti berfungsi, Tokuto mau di pasang alat pompa paru-paru yang artinya dia akan kehilangan suaranya. Salah satu teman Tokuto yang bertemu di RS malah memilih mati dibanding hidup dengan keterbatasan. Harap dibayangkan kalau paru-paru berhenti berfungsi maka orang tersebut sudah tidak bisa ngapa2in dan cuma bisa berbaring saja di tempat tidur. 

Btw, sekarang ada komputer yang bisa melihat gerakan mata (seperti yang dipakai oleh Steven Hawking) untuk membantu pasien ALS untuk berkomunikasi.


Nah, itulah 5 drama Jepang klasik yang bisa membuat air mata terkuras tak kering-kering. Kalau kamu lagi pengen nonton film yang sedih-sedih coba deh nonton di antaranya. Atau udah nonton semua?

Leave a Reply

Your email address will not be published.