Culture

Mengenal Teater Bunraku, Seni Bercerita lewat Sandiwara Boneka 

Jika Indonesia memiliki seni tradisional wayang, maka di Jepang ada Bunraku, yaitu seni pertunjukkan boneka tradisional yang memiliki keunikan dan kekhasannya sendiri. 

Meskipun tidak sepopuler beberapa bentuk teater lainnya di Jepang seperti kabuki atau teater Noh, Bunraku tetap menjadi bagian penting dari warisan seni pertunjukan Jepang.

Ingin tahu lebih banyak tentang seni teater Bunraku? Simak ulasannya di artikel Pandai Kotoba kali ini.

Apa itu Bunraku?

teater bunraku

Bunraku adalah bentuk teater tradisional Jepang yang mempertunjukkan sandiwara boneka yang digerakkan oleh tiga orang dalang untuk satu boneka. 

Boneka Bunraku memiliki ukuran yang cukup besar dibandingkan boneka-boneka kecil yang biasanya dipertunjukkan dalam teater boneka lainnya. Boneka Bunraku biasanya memiliki tinggi sekitar 1,2 hingga 1,5 meter, yang membuatnya hampir setinggi manusia dewasa.

Boneka yang biasa terbuat dari kayu ini diukir dengan sangat detail untuk menciptakan karakter yang realistis dan ekspresif. Karena ukurannya yang besar, boneka Bunraku memerlukan tiga orang dalang yang bekerja bersama-sama untuk mengendalikan gerakan tubuh, memasang ekspresi wajah, sekaligus gerakan tangan boneka. 

Pertunjukan teater Bunraku biasanya mengisahkan cerita-cerita klasik Jepang berupa legenda, cerita rakyat, atau kisah sejarah yang dibalut dengan drama.

Asal Usul Bunraku

Bunraku pada dasarnya merupakan perkembangan dari Ningyo Joruri, sebuah sandiwara boneka yang telah ada sejak abad ke-14 di Jepang. 

Ada teori yang menyatakan bahwa teater Bunraku terinspirasi dari sejumlah seni pertunjukkan yang telah ada sebelumnya. Yaitu, NIngyo Joruri dan Gidayubushi.

“Ningyo Joruri” yang berarti “boneka yang bernyanyi dan bercerita” adalah bentuk teater tradisional Jepang yang menggunakan boneka untuk menghidupkan karakter dalam cerita. Ningyo Joruri pun termasuk salah satu bentuk teater boneka tertua dalam catatan sejarah Jepang.

Ningyo Joruri yang berkembang pada abad ke-14 dan 15, awalnya digunakan untuk keperluan ritual dan hiburan di kuil-kuil. Pertunjukan Ningyo Joruri melibatkan boneka-boneka kayu yang diukir dengan detail dan dihiasi dengan kostum yang indah.

Boneka-boneka ini dioperasikan oleh dalang yang tersembunyi di balik panggung, dan sang dalang menggunakan tangan mereka untuk mengendalikan gerakan boneka, sekaligus mengisi suara boneka untuk menyuarakan karakter-karakter dalam cerita.

Selain Ningyo Joruri, seni pertunjukkan lain yang diyakini menjadi asal-usul Bunraku adalah seni pertunjukkan tradisional Jepang yang disebut Gidayubushi.

“Gidayubushi” adalah bentuk musik naratif tradisional Jepang yang berkembang pada abad ke-17 yang dibawakan oleh seorang narator atau penyanyi yang juga berperan sebagai pencerita dalam pertunjukan.

Ciri khas Gidayubushi adalah penggunaan musik dan lagu untuk menceritakan cerita dengan penuh ekspresi. Penyanyi Gidayubushi harus memiliki kemampuan vokal yang baik dan mampu mengendalikan intonasi dan emosi agar sesuai dengan kisah yang diceritakan. Gidayubushi biasanya dinyanyikan dengan iringan musik tradisional Jepang seperti shamisen, taiko, dan alat musik tiup Jepang tradisional.

Kehadiran Gidayubushi pun masih terlihat di pertunjukkan Bunraku. Dalam pertunjukan Bunraku, Gidayubushi berperan untuk memberikan latar belakang naratif sekaligus menyuarakan dialog karakter-karakter di atas panggung.

Narator Gidayubushi akan menyanyikan lagu-lagu yang mencerminkan perasaan, konflik, dan perkembangan plot dalam cerita, sementara para dalang menggerakkan boneka-boneka Bunraku yang besar di atas panggung.

Seiring berjalannya waktu, kemunculan Bunraku sebagai bentuk seni pertunjukan seperti yang dikenal sekarang ini dimulai pada pertengahan abad ke-17 ketika seorang seniman bernama Takemoto Gidayu mendirikan teater Bunraku pertama di Osaka. 

Seorang Takemoto Gidayu yang juga dianggap sebagai pendiri teater boneka Bunraku menggabungkan elemen-elemen dalam Bunraku, seperti musik, drama naratif, dan boneka untuk menciptakan pertunjukan yang dramatis.

Setelah itu, Bunraku kemudian berkembang dan menjadi sangat populer di Jepang, dengan Tokyo menjadi pusat utama pertunjukan Bunraku di zaman Edo (abad ke-17 hingga awal abad ke-19).

Berbagai Peran dalam Teater Bunraku

Pertunjukan Bunraku melibatkan beberapa peran yang bekerja sama untuk menciptakan sebuah pertunjukan.

Dengan kolaborasi berbagai peran ini, pertunjukan Bunraku dapat mempertunjukkan teater boneka yang dramatis dan menakjubkan. Setiap peran dalam Bunraku memiliki tanggung jawabnya sendiri berbekal teknik yang sangat terampil.

Berbagai peran dalam Bunraku di antaranya adalah:

1. Tayu

Tayu adalah salah satu peran penting dalam pertunjukan Bunraku. Tayu adalah seorang narator yang berdiri di atas panggung dan memiliki tugas untuk menceritakan kisah kepada penonton, memberikan dialog karakter-karakter dalam cerita, dan memberikan nuansa emosi yang sesuai dengan adegan yang dipentaskan.

Seorang Tayu menggunakan suaranya dengan berbagai nada, intonasi, dan ekspresi vokal untuk menghidupkan karakter-karakter dalam cerita. Tayu juga menjelaskan perkembangan plot, hubungan antar karakter, dan latar belakang cerita kepada penonton.

Tayu harus bekerja sama dengan puppeteer (pengendali boneka) untuk menjaga sinkronisasi antara suara yang mereka hasilkan dan gerakan boneka agar tetap sesuai. Hal ini harus diperhatikan untuk menciptakan kesan bahwa suara datang dari boneka itu sendiri.

Peran Tayu memerlukan keterampilan vokal yang luar biasa, kemampuan narasi yang kuat, serta pemahaman mendalam tentang cerita dan karakter yang dimainkan. Tayu pun berperan sebagai penyambung antara cerita yang dipentaskan, boneka, dan penonton.

2. Gidayubushi

Gidayubushi adalah seorang penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu naratif selama pertunjukan. Gidayubushi juga memainkan shamisen (alat musik senar tiga) untuk menyertai lagu-lagu mereka.

Selain itu, Gidayubushi juga berperan untuk memberikan latar belakang musik, mendukung dialog karakter-karakter, dan memberikan nuansa emosi yang sesuai dengan adegan yang dipentaskan.

3. Ningyozukai

Peran Ningyozukai meliputi mengendalikan gerakan tubuh, wajah, dan tangan boneka sesuai dengan kebutuhan pertunjukan. Karena boneka-boneka Bunraku sangat besar dan memiliki banyak komponen yang rumit, tugas ini memerlukan koordinasi yang sangat baik antara para pengendali. Setiap boneka biasanya dikendalikan oleh tiga Ningyozukai yang bekerja sama-sama untuk menciptakan gerakan boneka yang halus dan realistis.

Ningyozukai harus memiliki keterampilan khusus dalam mengendalikan boneka untuk menciptakan ilusi bahwa boneka tersebut adalah karakter yang hidup di atas panggung Bunraku. Mereka juga harus menjaga sinkronisasi dengan para pengisi suara, seperti Gidayubushi dan Tayu.

Para Ningyozukai biasanya mengenakan pakaian dengan warna yang netral atau gelap, seperti hitam atau biru tua, untuk tidak menarik perhatian penonton dari boneka yang sedang dipentaskan.

Selain itu, sebagian besar Ningyozukai mengenakan topeng atau penutup wajah yang berfungsi untuk menyembunyikan ekspresi mereka dari penonton. Hal ini pun membantu untuk menjaga fokus penonton hanya pada boneka dan pertunjukan.

4. Kuroko

Kata “Kuroko” berarti “orang yang mengenakan pakaian hitam”. Peran Kuroko bertanggung jawab untuk memindahkan dan mengatur properti panggung yang diperlukan dalam pertunjukan, seperti replika bangunan, atau objek-objek penting lainnya. Kuroko harus melakukan ini dengan hati-hati dan cermat untuk menjaga kelancaran pertunjukan.

Selain itu, Kuroko pun membantu para Ningyozukai (pengendali boneka) dalam mengendalikan boneka besar Bunraku dan melakukan beberapa tugas lainnya seperti mengganti aksesori boneka, atau merapikan pakaian boneka.

Para Kuroko mengenakan pakaian khusus berwarna hitam dan penutup wajah agar mereka tidak terlihat oleh penonton. Mereka harus menjaga agar tidak terlihat saat bergerak di panggung untuk tidak mengganggu perhatian penonton dari pertunjukan.

Jenis Boneka Bunraku

Dalam pertunjukan Bunraku, ada beberapa jenis boneka yang digunakan untuk menggambarkan berbagai karakter dalam cerita.

Berikut adalah beberapa jenis boneka Bunraku yang paling umum, di antaranta:

  • Ningyo (Boneka Manusia)

Ini adalah jenis boneka yang mewakili karakter manusia dalam cerita. Ningyo memiliki ukuran yang besar dan diukir dengan sangat detail. Boneka ini memiliki tubuh yang bisa digerakkan, tangan, wajah, dan seringkali mata yang dapat bergerak. Ningyo digunakan untuk menggambarkan karakter utama dan karakter pendukung dalam cerita.

  • Ko-ningyo (Boneka Anak-Anak)

Ko-ningyo adalah jenis boneka yang menggambarkan karakter anak-anak dalam cerita. Mereka seringkali lebih kecil dari Ningyo.

  • Kage-ningyo (Boneka Bayangan)

Kage-ningyo adalah boneka yang mewakili karakter yang muncul dalam adegan tertentu sebagai bayangan atau refleksi. Jenis boneka Bunraku ini seringkali lebih kecil dan sederhana dari segi desainnya daripada Ningyo utama.

  • Tokubei-ningyo (Boneka Tangan)

Tokubei-ningyo adalah boneka yang digunakan dalam adegan ketika karakter hanya memerlukan tangan untuk berinteraksi dengan objek atau karakter lainnya. Ukuran boneka ini kecil karena yang hanya menggambarkan tangan karakter.

  • Kokata (Boneka Bayi)

Kokata adalah boneka yang digunakan untuk menggambarkan bayi dalam cerita. Kokata sangat kecil dan digunakan dalam adegan yang melibatkan bayi.

Alat Musik dalam Pertunjukkan Bunraku

Dalam pertunjukan Bunraku, alat musik tradisional Jepang memainkan peran penting dalam menciptakan suasana, mengiringi pertunjukan, dan meningkatkan pengalaman teater.

Penggunaan alat musik tradisional ini tidak hanya menciptakan atmosfer yang mendalam dalam pertunjukan Bunraku tetapi juga memberikan nuansa budaya Jepang yang khas dalam seni pertunjukan ini. Alat musik tersebut harus selaras dengan gerakan boneka dan ekspresi wajah boneka dalam pertunjukkan Bunraku untuk menciptakan pengalaman teater yang unik dan memikat hati penonton.

Beberapa alat musik tradisional yang umum digunakan dalam pertunjukan Bunraku, di antaranya:

  • Shamisen. Shamisen adalah alat musik senar tiga yang sangat penting dalam pertunjukan Bunraku. Ini adalah instrumen yang sangat fleksibel yang digunakan untuk menciptakan musik latar dan mengiringi adegan, menyampaikan emosi karakter, dan mengatur tempo pertunjukan.
  • Taiko. Taiko adalah drum besar Jepang yang digunakan untuk menciptakan ketukan dan efek suara dramatis dalam pertunjukan. Drum taiko sering digunakan dalam adegan pertempuran atau momen-momen penting lainnya.
  • Nohkan dan Ryuteki. Nohkan adalah seruling bambu yang digunakan untuk menciptakan melodi dan nuansa dalam pertunjukan. Sedangkan, Ryuteki adalah seruling panjang yang digunakan untuk mengiringi tarian dan adegan tertentu dalam Bunraku.
  • Koto. Koto adalah alat musik senar tradisional Jepang yang digunakan untuk menciptakan musik latar dan melodi dalam pertunjukan Bunraku.
  • Shakuhachi. Shakuhachi adalah seruling bambu yang dapat digunakan untuk menghasilkan musik latar atau efek suara tertentu dalam pertunjukan.
  • Hyoshigi. Hyoshigi adalah alat perkusi kayu yang digunakan untuk memberikan efek suara tertentu, seperti ketukan atau peluit dalam pertunjukan.

Kisah-Kisah dalam Teater Boneka Bunraku

Pertunjukan Bunraku memiliki beberapa kisah yang sangat terkenal dan sering dipentaskan. Beberapa kisah paling populer dalam pertunjukan Bunraku, di antaranya:

1. Chushingura

Ini adalah salah satu cerita paling terkenal dalam pertunjukan Bunraku, juga dikenal sebagai “Kanadehon Chushingura.” Cerita ini berdasarkan peristiwa sejarah nyata dari abad ke-18 tentang 47 samurai yang membalas dendam atas kematian tuan mereka. Ini adalah kisah tentang kesetiaan, pengorbanan, dan keadilan.

Cerita ini berkisah tentang kelompok samurai yang setia kepada tuan mereka, Lord Asano Naganori, yang dihukum bunuh diri (seppuku) oleh penguasa istana, Kira Yoshinaka. Lord Asano melakukan tindakan tersebut setelah ia terprovokasi oleh Kira dalam sebuah konflik di istana Edo. Setelah kematian Lord Asano, para samurai ini kehilangan tempat dan status mereka dan menjadi ronin (samurai tanpa tuan).

Para ronin ini, terutama yang dipimpin oleh Oishi Kuranosuke, berencana membalas dendam atas kematian tuan mereka dan memulihkan nama baik keluarga Asano. Mereka menyusun rencana rahasia yang rumit untuk memburu dan membunuh Kira Yoshinaka. Selama beberapa tahun, mereka berpura-pura hidup dalam kemiskinan dan menderita, memungkinkan Kira untuk merasa aman. Namun, mereka akhirnya berhasil membalaskan dendam mereka dalam sebuah serangan yang epik.

Cerita “Chushingura” mengeksplorasi tema-tema seperti kesetiaan, keadilan, pengorbanan, dan moralitas. Ini adalah kisah heroik yang telah menginspirasi banyak orang dan merupakan simbol kesetiaan dan kehormatan dalam budaya Jepang. Pertunjukan Bunraku yang menceritakan “Chushingura” biasanya menampilkan berbagai adegan dramatis, pertempuran, dan konflik moral yang membuat cerita ini sangat menghibur dan mendalam.

2. Heike Monogatari 

Kisah ini termasuk cerita epik sejarah Jepang yang mengisahkan konflik antara dua klan, Heike dan Genji, selama periode pertengahan Jepang. Cerita ini memiliki banyak karakter dengan subplot yang mencakup peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Jepang.

Cerita dimulai dengan latar belakang perang antara klan Heike dan klan Genji. Heike adalah klan yang berkuasa di Jepang, sedangkan Genji adalah klan yang pernah diusir dan mencoba merebut kembali kekuasaan.

Kisah ini menggambarkan berbagai pertempuran, intrik politik, dan konflik antara kedua klan tersebutselama perang Genpei. Di tengah konflik ini, karakter-karakter penting seperti Minamoto no Yoshitsune dan Taira no Kiyomori muncul.

Pada awalnya, klan Heike memegang kendali, tetapi seiring berjalannya waktu, keadaan berbalik melawan mereka. Genji berhasil memenangkan pertempuran penting, salah satunya Pertempuran Dan no Ura yang fenomenal.

Akhirnya, klan Heike mengalami kekalahan telak, dan banyak dari mereka terbunuh atau melarikan diri. Salah satu adegan yang terkenal adalah ketika permaisuri Heike menjatuhkan diri ke dalam laut bersama putranya, mengakhiri garis keturunan Heike.

3. Yoshitsune Senbon Zakura

Yoshitsune Senbon Zakura adalah salah satu karya sastra Jepang yang sangat terkenal dan sering dipentaskan dalam berbagai bentuk seni pertunjukan, termasuk teater Bunraku.

Cerita ini mengisahkan petualangan Minamoto no Yoshitsune, seorang jenderal terkenal dalam sejarah Jepang, beserta konfliknya dengan saudara tirinya, Minamoto no Yoritomo. Dalam pertunjukan Bunraku, “Yoshitsune Senbon Zakura” sering diadaptasi menjadi beberapa episode yang menyoroti berbagai peristiwa dan karakter dalam cerita tersebut. 

Salah satu adegan awal dalam cerita ini adalah pertemuan antara Yoshitsune dan Benkei, seorang biksu perang yang setia kepada Yoshitsune. Dalam pertunjukan Bunraku, pertemuan mereka sering digambarkan sebagai adegan penting yang menampilkan dialog dan interaksi antara kedua karakter ini.

Adegan pertempuran Yoshitsune melawan musuh-musuhnya seringkali menjadi highlight dalam pertunjukan. Boneka Yoshitsune yang dikendalikan dengan rumit oleh Ningyozukai akan beraksi dalam pertempuran yang dramatis.

Cerita ini juga melibatkan berbagai karakter lain, seperti Tengu, Ono no Komachi, dan lainnya. Pertunjukan Bunraku kerap mempertunjukkan adegan-adegan yang menampilkan interaksi antara Yoshitsune dan karakter-karakter lain ini.

4. Sonezaki Shinju

Ini adalah kisah romantis tragis yang mengisahkan cinta yang tidak dapat bersatu antara seorang pria dan wanita muda. Pertunjukan ini menyoroti masalah sosial dan moral sebagai bagian dari fenomena sosial di masyarakat Jepang.

Cerita dimulai dengan pengenalan tokoh-tokoh utama, Ohatsu dan Tokubei. Ohatsu adalah seorang wanita muda yang bekerja sebagai pelayan di kedai minuman di Sonezaki, Osaka. Sedangkan, Tokubei adalah seorang pedagang muda yang sering mengunjungi kedai tersebut.

Ohatsu dan Tokubei jatuh cinta satu sama lain, tetapi cinta mereka terhalang oleh berbagai masalah, termasuk kewajiban dan tekanan sosial. Tokubei memiliki utang yang besar dan juga telah dijodohkan dengan seorang wanita yang memiliki kaitan dengan bisnisnya.

Karena cinta mereka tidak dapat terwujudi, Ohatsu dan Tokubei membuat keputusan yang tragis. Mereka berjanji untuk bertemu di Sonezaki pada waktu yang ditentukan untuk melakukan bunuh diri bersama sebagai tanda cinta yang abadi.

Pada hari yang telah mereka tentukan, Ohatsu dan Tokubei bertemu di Sonezaki, di tempat yang telah mereka sepakati. Mereka berbicara tentang cinta mereka satu sama lain dan akhirnya melakukan bunuh diri bersama sebagai tanda kesetiaan cinta mereka.

5. Kokusenya Kassen

Kokusenya Kassen adalah salah satu pertunjukan terkenal dalam teater Bunraku yang menggambarkan kisah epik tentang perjuangan seorang pangeran Tiongkok yang bernama Yang Lin dan upayanya untuk membebaskan negerinya dari penjajahan.

Kisah dimulai dengan pengenalan Pangeran Yang Lin, seorang pangeran Tiongkok yang memiliki tekad yang kuat untuk membebaskan negerinya dari penjajahan.

Tiongkok sedang dikuasai oleh musuh yang kejam, dan penduduknya menderita di bawah penjajahan mereka. Pangeran Yang Lin memutuskan untuk memberontak dan memimpin perjuangan melawan penjajah.

Pangeran Yang Lin melakukan perjalanan melintasi negeri untuk mengumpulkan pasukan dan dukungan. Selama perjalanan, dia berhadapan dengan berbagai rintangan dan pertempuran melawan musuh-musuh penjajah.

Selama perjalanannya, pangeran bertemu dengan karakter-karakter yang setia padanya, tetapi juga menghadapi pengkhianatan dari beberapa orang yang dekat dengannya. Ini menciptakan drama dan konflik dalam cerita.

Cerita mencapai puncaknya saat pasukan Pangeran Yang Lin menghadapi pasukan musuh dalam pertempuran besar yang dikenal sebagai “Kokusenya Kassen.” Pertempuran ini merupakan momen klimaks dalam cerita.

Akhir cerita menggambarkan akhir dari konflik dan kemenangan pangeran serta pembebasan Tiongkok dari penjajahan.

Demikian Minasan, ulasan mengenai teater Bunraku sebagai seni tradisional warisan budaya Jepang yang masih bertahan hingga kini. Tak bisa dipungkiri ya Minasan, boneka-boneka dalam teater Bunraku terasa sangat hidup dengan gerakannya yang halus dan teramat sangat realistis.

Dengan mempertunjukkan gerakan boneka yang membutuhkan keterampilan khusus tersebut, serta musik, narasi, dan penyanyi naratif yang khas, Bunraku menciptakan pengalaman teater yang menggabungkan berbagai unsur seni budaya Jepang. 

Selain itu, dalam pertunjukan Bunraku, cerita-cerita epik, kisah cinta tragis, dan peristiwa sejarah dihidupkan kembali, sehingga turut menjaga kelestarian cerita-cerita rakyat dan kisah-kisah epik dalam sejarah Jepang.


Selain artikel dalam web pandaikotoba.net ini, Minasan juga bisa ikuti informasi tentang bahasa dan budaya Jepang di Instagram Pandai Kotoba dan channel Youtube Pandai Kotoba.

Mata!

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *