Culture

Komunikasi Khas Orang Jepang

“Wa” merupakan penghargaan masyarakat Jepang dalam berkomunikasi antar manusia. Ini adalah budaya khas Jepang. Bisa jadi, di dunia ini pun merupakan hal yang langka. Inilah artikel yang membahas tentang khasnya komunikasi orang Jepang.

Budaya Komunikasi Orang Jepang

Pertama-tama, orang Jepang mempunyai budaya tidak bicara terus terang. Mereka tidak mengungkapkan secara terus terang dengan kata-kata dalam menyampaikan perasaannya. Membawa perasaan lawan bicara, selalu hati-hati agar tidak menyinggungnya.

Tidak dapat menyetujui apa yang dikatakan atau biarpun mempunyai pendapat sendiri, tapi untuk mengatakan semua itu di hadapan orang lain tidak dilakukannya. Sebaliknya, mereka takut berbeda pendapat dengan orang lain.

komunikasi orang jepang

Agar tidak menyinggung perasaan orang lain, orang Jepang tidak banyak bicara, menyampaikan pendapat pun menggunakan cara bicara yang merendah. Tanpa mengemukakan pendapat dengan jelas, ketidakjelasan cara bicara, melakukan manipulasi-manipulasi. Kemudian, dari cara bicara dan gerak tubuh dan lainnya.

Sebenarnya di Jepang, kata-kata tidak hanya merupakan sarana menyampaikan pendapat/berkomunikasi. Tapi, ada makna kata di balinya, mengukur maksud sebenarnya dari lawan bicara dan dilakukan agar tidak mengganggu hubungan dengan lawan bicara.

Bagi orang luar Jepang, apa yang dipikirkan, diucapkan dengan jelas atau terang itu baik, tidak ada masalah. Orang Jepang pun sebenarnya memiliki perasaan itu.

Tetapi, di Jepang sangat penting untuk menghormati lawan bicara, selalu mempertimbangkan kepentingan pihak lain, dan mempertahankan hubungan. Hal ini penting untuk perkembangan selanjutnya.

Misalnya, pada istirahat siang mengajak pergi makan rekan kerja. Pertanyaannya: Mau makan apa? Padahal si orang Jepang sendiri ingin makan sesuatu, tapi hampir tidak akan mengatakannya.

Mereka tidak ingin memaksa pilihan atau referensi sendiri ke orang lain, atau karena merasa bahwa hal ini tidak sopan. Mereka akan menyesuaikan dengan pilihan pihak lain dan berpikir “ya sudah, ikut saja lah.”

Karena semua merasa seperti itu, siapapun tidak akan mengatakan keinginan sendiri.

Sekalipun paham bahwa lawan bicara tidak mengatakan pilihannya, pertama-tama sudah dapat dipastikan akan menanyakan pilihan atau referensi mereka.

Orang yang menanyakan pilihan, tidak bisa diharapkan mengatakan “Ingin makan masakan…?” dengan jelas. Jawabannya juga ambigu atau tidak jelas, “Apa pun tidak apa-apa ya”, “Kamu mau makan apa”, atau balik bertanya, melihat reaksi lawan bicara.

Jadi tanpa memutuskan makan apa, yang keluar hanya sebuah usulan. Kalau muncul usulan seperti itu, untuk sementara waktu, misalkan ada orang yang tidak setuju pun, ia tidak akan menentang. Karena ada kemungkinan melukai perasaan orang lain.

Misalnya, kamu menunjukkan reaksi dengan mengatakan “Ide yang bagus. Kemarin juga masakan Jepang”. Hal ini kedengarannya seperti sependapat dengan yang mengusulkan masakan Jepang, tetapi kamu harus menilai arti pernyataan, “Kemarin juga masakan Jepang”.

Ada kemungkinan artinya adalah, “Karena saya suka masakan Jepang, maka selalu memakannya.” Atau ada kemungkinan mengatakan secara tidak langsung, “Karena kemarin sudah makan masakan Jepang, hari ini ingin makan masakan yang lain”.

Ya ampuunn, ribet dah komunikasi orang Jepang.

Kalau hanya dari kata-kata saja, tidak akan mengerti maksud sebenarnya dari pihak lain. Harus mengamati darti intonasi bicara, mimik muka, atau gerakan dan lainnya. Dengan begitu, kemungkinan tidak paham tujuan pihak lain. Karena tidak mengatakan maksud yang sebenarnya antara satu dengan yang lain. Percakapan berlangsung untuk menggali maksud sebenarnya dari pihak lain.

Orang Jepang Lebih Banyak Mendengar

Orang Jepang lebih banyak mendengar daripada didengar ketika mengobrol, dan berperilaku sopan santun pada teman bicara. Oleh karena itu, ketika orang atau pihak lain bicara, orang Jepang sering mengangguk, dalam bahasa Inggris artinya “yes”, dalam bahasa Jepang kata-kata yang diucapkan adalah “hai”.

Di Jepang mengangguk sambil berkata “hai”, tidak berarti hanya setuju saja. Mungkin juga artinya hanya sebatas “saya mendengarkan apa yang kamu bicarakan. Karena saya mendengarkan dengan baik, silakan bicara lebih lanjut lagi.”

Itu yang orang Jepang ajarkan untuk lebih mendengarkan pihak lain, bersopan santun dengan pihak lain.

“I Love You” ala Orang Jepang

Orang Amerika mengatakan “I love you” khususnya ke istri, orang yang dicintainya. Sebaliknya, orang Jepang hampir tidak ada yang mengatakan perasaan “aishiteru” kepada orang dicintai, tidak juga kepada istri.

Seperti yang disebutkan di atas, orang Jepang tidak mengatakan dengan tegas atau jelas apa yang dipikirkannya. Ini adalah salah satu komunikasi khas orang Jepang. Kata-kata tidak selalu dianggap sebagai sarana untuk menyampaikan niat mereka. Apalagi menyampaikan hal-hal yang dipikirkan orang lain, ke orang lainnya.

Oleh karena itu, untuk mengatakan “aku cinta kamu” ke orang lain tidak dilakukan.

Sering kali muncul dialog “I love you” di TV, film, maupun novel-novel Barat. Hal ini kalau diterjemahkan ke bahasa Jepang akan sulit. Kalau kita tarik arti dari kamus, apakah artinya asihiteru? Karena sesama orang Jepang tidak mengatakannya.

Akhir-akhir ini di drama Jepang dan lainnya mungkin muncul dialog “aishiteru”, tetapi pada kenyataannya jarang digunakan. Lalu “I love you”, ketika diterjemahkan ke percakapan bahasa Jepang seperti tidak pas. Jadi sebaiknya diterjemahkan seperti apa?

Berkaitan dengan hal ini, mari kita sambut penulis Jepang bernama Natsume Soseki. Tidak hanya sebagai penulis, di Jepang beliau sangat terkenal dan karyanya dibaca secara luas.

Di Jepang, sampai saat ini, sosok beliau pernah tergambar di uang yen. Beliau merupakan penulis populer di masyarakat Jepang.

Natsume Soseki adalah penulis sukses pada zaman Meiji, 100 tahun lalu. Karya novelnya yang terkenal adalah Wagahi/Watashi Wa Neko De Aru (Aku Seekor Kucing).

Sebelum menjadi penulis, beliau merupakan guru bahasa Inggris di sekolah menengah. Ada cerita menarik tentangnya.

Pada mata pelajaran bahasa Inggris, beliau memerintahkan para siswanya untuk menerjemahkan “I love you” yang baik ke bahasa Jepang. Bisa dibayangkan? “Malam ini, bulan indah” adalah jawabannya. Natsume Soseki sepertinya berpendapat bahwa wanita akan memahami makna di baliknya.

Hal tersebut “sangat Jepang”. Dalam komunikasi, orang Jepang tidak pernah mengatakan perasaannya, terutama mengatakan perasaan cinta kepada lawan bicara. Budaya ini ada. Mungkin jika kita mengatakan bahwa “Malam ini, bulan indah” bisa diartikan “I love you” pada jaman ini, pemuda-pemudi Jepang pun, kemungkinan besar tidak akan mengerti.

Mari kita telaah persoalan “Malam ini, bulan indah” bisa diartikan “I love you” oleh Natsume Soseki.

Ini dikatakan oleh laki-laki: malam ini, bulannya indah. Ia terkesan dengan keindahan bulan. Ukuran bulan berubah, tapi warnanya tidak. Namun, malam ini, karena ia sangat senang bersama dengan seorang gadis, bulan yang biasa-biasa pun jadi terlihat begitu indah.

Dengan kata lain, artinya “Bulan yang biasa-biasa saja ini terlihat cantik, saya senang karena ada kamu”. Karena itu artinya menjadi “aku cinta kamu”.

Di sini, mungkin lebih jelasnya dengan mengatakan “Bersamamu, bulan jadi terlihat lebih cantik”, tetapi ungkapan seperti ini pun terlalu langsung, tidak tepat untuk orang Jepang. Gadis yang mendengarnya pun mungkin akan bingung. Lebih baiknya dikatakan secara implisit.

Tetapi, ini adalah 100 tahun lalu. Kalau sekarang, bila mengatakan pada gadis muda Jepang, “Malam ini bulannya cantik” mungkin sebagian dari mereka akan mengartikannya sebagai bulan yang sedang bagus. Perasaanmu tidak akan sepenuhnya bisa tersampaikan. Beda jaman, beda juga I love you-nya.

Orang Jepang adalah Pembicara yang Kurang Baik

Pada dasarnya, apabila dilihat dari karakternya, masyarakat Jepang adalah masyarakat yang tidak terlalu banyak berbicara. Mereka kesulitan untuk menerima dan menghormati orang-orang yang tidak karuan dan banyak bicara.

Seratus tahun yang lalu, Nitobe Inazo menerbitkan sebuah buku dalam bahasa Inggris berjudul Bushido: The Soul of Japan. Pada saat itu, buku tersebut menjadi buku dengan penjualan terbaik di seluruh dunia karena Jepang menang atas Rusia dalam Perang Rusia-Jepang.

Hal ini membuat perhatian dunia tertuju pada Jepang. Bahkan Presiden Amerika saat itu, Theodore Roosevelt sangat terkesan pada buku tersebut. Di dalam buku Bushido ini terdapat sebuah pernyataan sebagai berikut.

“To give so many articulate words one’s inmost thoughts and feelings, notably the religious. is taken among us as an unimistakable sign that they are neither very profound nor very sincere.”

(“Apabila seseorang mengutarakan terlalu banyak pemikiran dan perasaan mereka yang terdalam, terutama dalam hal keagamaan, akan dianggap sebagai pertanda yang salah bahwa mereka orang yang sangat mendalam atau sangat tulus.”)

Singkat kata, sejak dahulu di Jepang, orang-orang yang banyak berbicara itu dilihat sebagai orang yang sembrono, tidak ada kesungguhan dan kejujuran.

Dalam aspek ini, Indonesia dan Jepang memiliki budaya yang sangat berbeda.

Apabila dibandingkan dengan orang Jepang, orang Indonesia adalah masyarakat yang aktif dan senang berbicara. Juga, hal yang pling mengejutkan adalah perbedaan “budaya berbicara” dan “budaya membaca” di Jepang dan Indonesia.

Sebagai contoh, di Jepang ketika sedang berada di dalam kereta atau bis, atau sedang menunggu seseorang, orang-orang biasanya akan diam sambil membaca buku, majalah atau koran. Tetapi masyarakat Indonesia akan berbincang-bincang apabila ada waktu luang.

Contoh lain adalah orang Jepang merasa tidak perlu menyapa orang yang tidak dikenal. Apabila seseorang tidak sedang berada di dalam situasi tersesat di jalan dan ingin menanyakan jalan, maka ia tidak akan menyapa orang yang tidak dikenal.

Apabila menyapa orang yang tidak dikenal walaupun tidak ada keperluan yang penting, pasti orang tersebut akan merasa waspada dan berpikir bahwa kita merencanakan sesuatu atau sedang berusaha menjual sesuatu secara paksa.

Berbeda dengan di Indonesia, yang kerap terlihat orang berbincang-bincang meski tidak saling kenal satu sama lain. Menurut saya, Indonesia memiliki “budaya berbicara” yang cukup berbeda dengan Jepang.

Beberapa waktu lalu, saya pernah melihat sebuah acara televisi Jepang yang mengangkat tema tentang perbedaan budaya Jepang dengan negara-negara asing lainnya. Acara tersebut menampilkan bintang tamu berbagai orang luar Jepang, salah satunya Indonesia.

Pembawa acara memberikan pertanyaan, “Ketika naik elevator dan di dalamnya hanya ada Anda dan seorang lainnya, apakah Anda akan menyapa orang tersebut?” Dalam situasi seperti itu, orang Jepang tidak akan menyapa.

Menanggapi pertanyaan tersebut, bintang tamu asal Indoneisa menjawab, “Akan menyapa”. Alasannya, “Karena kalau tidak menyapa berarti tidak sopan”. Dan ketika mendengar jawaban dari bintang tamu lain, selain Jepang, ternyata kebanyakan dari mereka menjawab “akan menyapa”.

Lalu mengapa masyarakat Jepang memiliki budaya tidak menyapa orang yang tidak dikenal?

Hal ini dapat disebabkan karena orang Jepang berpikir justru menyapa orang yang tidak dikenal itu adalah hal yang kurang sopan dan dengan tidak menyapa adalah hal yang sopan.

Terutama apabil orang yang disapa adalah seseorang yang lebih senior, maka dikhawatirkan akan dirasa lebih tidak sopan. Walau bagaimanapun kita mengenali orang tersebut, menyapa orang yang lebih senior dengan bersikap ramah tamah akan terasa tidak sopan.

Salah satu alasan masyarakat Jepang tidak menyapa orang yang tidak dikenal adalah kemungkinan adanya situasi ketika mereka tidak mengetahui siapa orang yang disapa tersebut, maka akan sulit untuk mengetahui cara berbicara dan penggunaan kata-kata yang tepat.

Cara berbicara dalam komunikasi bahasa Jepang akan berubah-ubah sesuai dengan siapa mereka berbicara. Orang yang lebih senior, lebih tua, dan terhadap atasan, harus menggunakan bahasa hormat (keigo).

Bagi orang asing yang mempelajari bahasa Jepang, penggunaan bahasa hormat ini akan terasa sangat sulit. Bahkan orang Jepang sekalipun sering melakukan kesalahan dalam penggunaannya. Akan tetapi untuk menghargai orang yang lebih senior dan keberadaan bahasa hormat dan sopan ini menunjukkan rasa hormat tersebut, maka bagi masyarakat Jepang penggunaan bahasa hormat ini sangatlah penting dalam komunikasi.

Budaya Tidak Menunjukkan Perasaan dalam Masyarakat Jepang

Orang Indonesia kerap memberikan senyuman, bahkan terhadap orang yang tidak dikenal sekalipun. Ini merupakan sebuah kebiasaan yang dianggap sangat baik. Tersenyum akan memberikan kesan yang sangat baik terhadap orang lain.

Sedangkan masyarakat Jepang hampir tidak pernah memberikan senyum terhadap orang yang tidak dikenal atau orang yang baru pertama kali bertemu. Di dalam Bushido terdapat sebuah pernyataan sebagai berikut.

“It was considered unmanly for a samurai to betray his emotions on his fase. ‘He shows no sign of joy or anger’ was a phrase used in describing a strong character. The most natural affections were kept under control.”

(“Menunjukkan emosi di wajah dianggap tidak jantan bagi seorang samurai. ‘Seorang samurai tidak menunjukkan tanda-tanda kegembiraan atau amarah apapun’. Ini merupakan sebuah frase yang menjelaskan karakter yang kuat. Rasa sayang yang paling alami pun tetap dijaga di bawah kendali.”)

Kesimpulannya, seorang samurai tidak diperbolehkan untuk tersenyum atau tertawa ketika merasa senang, terlihat sedih ketika sedang berduka, atau menunjukkan bahwa dia sedang marah karena hal tersebut dianggap kurang jantan.

Ada sebuah kisah dari orang Jepang yang sudah lanjut usia (kini beliau sudah meninggal dunia). Ketika masa kanak-kanak, beliau pernah terjatuh dan terluka di bagian kaki. Karena merasa sangat kesakitan, beliau pun menangis. Kakek beliau saat itu berkata, “Seorang samurai tidak boleh menangis.”

Dulu, anak-anak di Jepang dibesarkan dengan cara seperti itu.

Demikian bahasan tentang Komunikasi Khas Orang Jepang. Untuk artikel lainnya soal Budaya Jepang bisa kamu simak hanya di Pandai Kotoba ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published.