Culture

Hachiko Dan Konfusianisme

Sudah akrab di telinga kita tentang anjing setia dari Jepang yang beberapa kali difilmkan ini. Yup, dia adalah Hachiko, anjing yang setia (chuken-hachi-ko).

Nama Hachiko (Chuken-Hachi-Ko)

Nama anjing tersebut Hachi, yang dalam bahasa Jepang berarti angka 8. Ko di belakangnya adalah kata yang diberikan saat memanggil dengan penuh rasa sayang atau keakraban.

Sementara Chu dalam kata Chuken memiliki arti bersedia melakukan apapun untuk pemilik atau majikan. Kalau dalam bahasa Inggrisnya “loyalty”. Dan Ken adalah anjing dari kanji yang sama dengan Inu.

Cerita Hachiko

Cerita tentang Hachi-ko di Jepang dikenal oleh siapapun. Salah satu tempat di Jepang yang paling banyak dikunjungi orang adalah Stasiun Shibuya, Tokyo. Tempat yang dikenal sebagai tempat berkumpulnya anak muda.

Di depan stasiun ini ada patung Hachi-ko. Karena Shibuya merupakan tempat yang disesaki orang, maka banyak orang memanfaatkan patung Hachi-ko sebagai titik tempat bertemu.

hachiko

Hachi lahir pada tahun 1923, kalau dihitung umurnya sekarang mendekati 100 tahun. Pemilik Hachi adalah seorang dosen universitas yang menyukai anjing, ia tinggal dekat stasiun Shibuya.

Hachi hampir setiap pagi menemani dan mengantar dosen universitas yang merupakan majikannya itu sampai stasiun Shibuya. Konon katanya pada jam majikannya pulang, Hachi datang ke stasiun untuk menjemput.

Selang setahun, dosen universitas ini meninggal mendadak. Hachi diambil oleh pemilik lain. Tetapi, pada saat jam kepulangan dosen universitas yang merupakan majikan sebelumnya, Hachi datang ke Stasiun Shibuya untuk menunggu dosen universitas ini pulang.

Kejadian ini berlanjut sampai 7 tahun dan Hachi pun mati di dekat Stasiun Shibuya. Cerita Hachi ini mengetuk hati banyak orang Jepang. Oleh karena itu, dibangunlah patung Hachi di depan Stasiun Shibuya.

Banyak orang di seluruh dunia juga terkesan dengan cerita Hachi. Tetapi, mungkin menurut orang Jepang cerita Hachi ini merupakan cerita yang indah, lebih dari yang dipikirkan oleh orang di luar Jepang.

Kenapa seperti itu?

Karena bagi orang Jepang tradisional, Kesetiaan 「忠」 atau Loyalitas yang diberikan kepada majikannya itu merupakan hal yang sangat penting.

Konfusianisme Dalam Hachiko

Orang Jepang terpengaruh kuat oleh pola pikir Konfusianisme. Ajaran Konfusianisme merupakan ajaran yang berawal di Tiongkok lebih dari 2000 tahun lalu, dan sekarang pun memberikan pengaruh yang kuat, berpusat di Asia Timur.

konfusianisme

Kesetiaan merupakan salah satu ajaran yang penting dalam Konfusianisme. Satu lagi yang penting dalam Konfusianisme adalah Bakti, yang berarti mematuhi orang tua, menjaga dengan baik orang tua, dan mau melakukan sepenuh hati untuk orang tua.

Adakalanya Kesetiaan dan Bakti sulit berjalan seiring. Misalnya, pada saat kita harus mempertaruhkan nyawa diri sendiri untuk mejaikan, dan kita meninggal mendahului orang tua. Kita akan menjadi orang yang sangat tidak berbakti terhadap orang tua, yaitu tidak bisa memenuhi bakti, tetapi yang penting adalah mendahulukan Kesetiaan daripada Bakti.

Pada saat orang tua sakit dan harus merawatnya, merupakan pilihan yang sulit saat harus keluar dari perintah majikan. Orang Jepang lebih menitikberatkan pada Kesetiaan daripada Bakti.

Tetapi, perlu digarisbawahi bahwa yang menitikberatkan Kesetiaan dan lebih mementingkannya dari Bakti seperti ini hanya pemikiran orang Jepang saja. Negara Konfusianis yang sama, yaitu Tiongkok dan Korea, sepertinya lebih menitikberatkan Bakti daripada Kesetiaan.

Kesetiaan Dalam Bushido

Pada Bushido tertulis “Griffis was quite right in stating that whereas in China Confucian ethics made obedience to parents the primary human duty, in Japan precedence was given to loyalty.” (“Griffis cukup benar ketika mengatakan bahwa etika Konfusian di Cina menjadikan ketaatan sebagai tugas utama manusia. Di Jepang, hal tersebut adalah Kesetiaan.”)

Selain itu Nitobe dalam Bushido menuliskan bahwa pada saar terjadi konflik antara Bakti dan Kesetiaan, maka Bushido tanpa bingung-bingung memilih Kesetiaan. Di Jepang pada zaman samurai, Kesetiaan merupakan hal yang paling penting, dan lebih besar artinya daripada Bakti.

Tetapi, samurai tidak berarti menutup mata dan tetap mematuhi majikan pada saat majikan melakukan kesalahan dan tidak benar. Dalam kondisi seperti itu, secara tegas ia berusaha untuk meluruskan kesalahan majikannya.

Baca Juga: Miyamoto Musashi Samurai Paling Legendaris

Nitobe menulis, “When a subject differed from his master, the loyal path for him to pursue was to use every available means to persuade him of his error.”

Perlu diketahui, bahwa orang Jepang lebih mementingkan Kesetiaan daripada Bakti adalah cerita sebelum Perang Dunia II. Setelah perang, Jepang mengalami perubahan yang besar.

Pemikiran harus setia kepada negara atau kaisar sudah tidak ada. Tetapi, kesadaran orang Jepang sangat kuat untuk “mematuhi kata-kata orang yang lebih tua usianya atau lebih tinggi jabatannya”, “membalas budi kepada orang yang telah membantunya”, dan “melakukan sepenuhnya untuk perusahaan tempat dirinya bekerja”.

Baca juga artikel tentang Budaya Jepang lainnya hanya di Pandai Kotoba!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *