Culture

Miyamoto Musashi Samurai Paling Legendaris

Miyamoto Musashi, seorang samurai yang hidup dari tahun 1584 sampai 1645. Musashi melakukan duel pertamanya sampai mati sewaktu berusia 13 tahun, membunuh seorang samurai kawakan yang berusia lebih dari dua kali lipat usianya.

Ketika berusia 29 tahun, ia telah membunuh lebih dari 60 lawan dalam duel sampai mati, dan menjadi legenda di masanya.

Era Samurai di Jepang

Selama periode Heian yang termahsyur, antara tahun 794 sampai 1185, Jepang terbagi menjadi sejumlah provinsi yang dipimpin oleh para gubernur melalui penunjukkan oleh pemerintah pusat di ibu kota Heiankyu (sekarang Kyoto).

Sebagian besar adalah para pangeran yang memiliki pengawal bersenjata sendiri yang dikenal sebagai para samurai, yang berarti “orang yang melayani”.

miyamoto musashi samurai jepang

Seiring beberapa generasi, para gubernur ini makin mandiri dan perlahan memekarkan jumlah samurai di bawah kepemimpinan mereka, serta membangun klan keluarga mereka sebagai penguasa turun-temurun dari provinsi yang bersangkutan.

Pada periode itu, samurai turut berevolusi menjadi kelas kesatria yang juga turun-temurun dan profesional.

Pada abad ke-12, mulai terjadi persaingan dominasi di antara para gubernur yang lebih kuat dan lebih kaya. Tahun 1170-an, Klan Minamoto memulai kampanye militer untuk mengganyang Klan Taira yang membangun hubungan erat dengan keluarga kaisar melalui ikatan tali perkawinan. Hal ini membuat Klan Minamoto menjadi penguasa sesungguhnya di negeri tersebut.

Dalam pertempuran besar di Laut Dannoura tahun 1185, Klan Minamoto dan sekutunya mengalahkan pasukan Taira. Anggota keluarga Taira yang masih hidup terjun menenggelamkan diri ke laut. Kisah ini diceritakan dalam novel besar Heike Monogatari karya seorang bangsawan abad berikutnya.

Yoritomo, pemimpin Klan Minamoto yang membangun markas militernya di Kamakura, sebuah kampung nelayan kecil sekitar satu jam naik kereta api ke Tokyo, memperkuat cengkeramannya atas negeri itu.

Dan akhirnya pada tahun 1192, ia memaksa Kaisar yang tanpa daya agar menunjuknya secara resmi sebagai shogun, yang biasa diterjemahkan sebagai “generalissimo”, dengan kata lain diktator militer.

Yoritomo mengubah Kamakura menjadi ibu kota administratif Jepang. Ia membangun sistem feodal yang berlaku di negeri itu sampai tahun 1868. Ia menghadiahi para sekutunya dengan mengubah kedudukan mereka sebagai gubernur di provinsi yang mereka kuasai menjadi para penguasa wilayah feodal, serta menguatkan mereka sebagai lord (tuan tanah) secara turun-temurun. Akhirnya, para lord feodal ini dikenal sebagai daimyo.

Shogun, penguasa wilayah, dan para pengawal mereka selanjutnya menjadi salah satu kelas paling luar biasa yang pernah ada dalam masyarakat. Mereka memerintah Jepang hingga 676 tahun ke depan.

Seiring waktu, seluruh anggota kasta penguasa ini, mulai dari shogun sampai kesatria terendah, secara umum disebut samurai.

Bushido Kode Etik Samurai

Tahun 1400-an, populasi samurai mencapai 10% dari populasi total Jepang. Karena tidak ada perang, mereka mulai mempelajari keahlian di bidang budaya.

Mereka mengggabungkan latihan sehari-hari yang keras dengan pelajaran Cina klasik, puisi, kaligrafi, melukis, dan membuat tembikar. Semakin tinggi tingkatan si samurai, termasuk shogun, semakin penting pembelajaran ini.

Perdamaian bertahan hanya sampai tahun 1467, ketika keshogunan berangsur melemah dan para penguasa wilayah yang paling kuat mulai berlomba-lomba meraih kekuasaan tertinggi. Seratus satu tahun berikutnya kita kenal sebagai Periode Sengoku (Periode Perang), yang memperlihatkan serangkaian pertarungan dan pertempuran antar-daimyo kuat.

Mencapai kemahiran luar biasa dalam ilmu pedang, dan senjata-senjata lainnya begitu penting bagi samurai semasa periode ini.  Keshogunan dan penguasa wilayah serta klan para lord di negeri tersebut memili dojo (tempat berlatih), atau “sekolah” yang dikelola oleh para guru pedang.

Beragam gaya bertarung, beberapa di antaranya bahkan sudah ada sejak ratusan tahun sebelumnya, juga turut diajarkan. Teknik-teknik baru pun banyak diperkenalkan.

Selama periode ini, para samurai yang beralih menjadi pembelajar mulai mencatat sifat-sifat yang dianggap ideal bagi seorang samurai. Catatan ini akhirnya menghasilkan kode etik yang selanjutnya dikenal sebagai Bushido atau “Jalan Prajurit/Kesatria”.

Bushido merupakan kode yang sedikit-banyak telah membentuk karakter dan sikap bangsa Jepang hingga tingkatan yang belum pernah dicapai sebelumnya di dalam masyarakat mana pun.

Tahun 1500-an, kode ini mengatur setiap aspek kehidupan samurai. Kode ini mengatur setiap aspek kehidupan samurai.

Kode ini mengharuskan mereka untuk memperdalam keahlian memainkan pedang dan senjata-senjata lainnya, berpakaian dan bersikap dengan cara-cara tertentu, serta siap menemui ajal sewaktu-waktu dalam pengabdian kepada tuan mereka. Termasuk bunuh diri dan/atau membunuh keluarga mereka bila hal itu dianggap dapat melayani kebutuhan atau keinginan tuan mereka.

Sama halnya prajurit modern yang didukung oleh pemerintah yang mereka layani, samurai pun menerima gaji tahunan sebagai mata pencaharian. Mereka dilarang melakukan pekerjaan biasa atau aktivitas dagang.

Ronin dan Shugyosha

Jika penguasa wilayah ditangkap oleh daimyo lain atau diambil alih kekuasaannya, maka para samurai tanpa tuan itu disebut Ronin, atau “manusia gelombang”. Istilah ini merujuk pada cara hidup mereka yang menjelajah segala penjuru negeri, mencari nafkah sebagai pengawal, petarung lepas, melaksanakan tugas untuk samurai yang tidak bermoral, mata-mata, dan sebagainya.

Pada akhir tahun 1500-an, ratusan ribu ronin tersebar di seluruh negeri. Dalam pertempuran besar kala itu, 100.000 di antaranya terjun memperkuat para penguasa wilayah.

Reputasi Ronin beragam. Beberapa tetap lurus dan jujur, menerapkan kode etik samurai tradisional dengan ketat. Sementara yang lain menjadi penjahat kejam.

Di luar itu, ada sejumlah kecil samurai mandiri yang menelusuri jalan-jalan di Jepang dengan tujuan lain. Mereka disebut Shugyosha, yaitu “ahli pedang yang sedang berlatih”.

Shugyosa mengembara ke seluruh negeri, mencari lawan duel yang tangguh untuk mengasah kemampuan bertarung mereka. Duel biasanya sampai mati sehingga tidak dilakukan secara sambil lalu. Pertarungan kadang diatur oleh para shugyosha itu sendiri, dan di lain waktu lewat penguasa wilayah atau dojo.

Pemerintah mengetahui perihal duel ini, tetapi tidak keberatan selama para pesertanya mengikuti hukum dan budaya keshogunan. Beberapa duel dilakukan mendadak, lainnya diatur resmi lewat pemberitahuan dan saksi.

Reputasi seorang shugyosha yang memenangi banyak duel akan menyebar ke seantero negeri, dan para shugyosha lainnya akan datang menantang mereka bertarung.

Beberapa shugyosha, seperti halnya ronin, menawarkan jasa kepada para lord yang mau mengikutsertakan mereka di medan perang. Tujuannya adalah meningkatkan keahlian dan reputasi dengan cara membunuh banyak lawan dalam pertarungan satu lawan satu. Praktik ini dinamakan “meminjam medan pertempuran”.

Shugyosha yang dapat bertahan hidup dalam banyak duel dan pertempuran yang mereka ikuti biasanya berakhir sebagai guru. Mereka lantas mengajarkan teknik-teknik kesuksesan mereka.

Miyamoto Musashi

Sang legenda di antara para samurai lainnya adalah Miyamoto Musashi. Lahir pada 1584 dan meninggal secara wajar pada 19 Mei 1645 di usia 61 tahun.

Bangsa Jepang menganggapnya sebagai teladan yang berasan dari kewarisan samurai, kemampuan untuk berfokus pada tujuan spesifik, usaha tiada henti untuk maju, dedikasi terhadap kualitas, ketekunan dan semangat tak terpadamkan.

miyamoto musashi

Mungkin yang paling luar biasa dari Miyamoto Musashi adalah ia sendiri tidak punya mentor atau guru, setidaknya begitulah yang ia katakan. Sementara pada kenyataannya ayahnya, Munisai, adalah seorang ahli pedang terkenal yang telah menguasai berbagai gaya bertarung.

Ayahnya juga merupakan instruktur samurai dari Klan Shinmen yang sangat kuat dan pernah menerima penghargaan dari shogun yang berkuasa pada masa itu, yang menyebutnya sebagai ahli pedang kenamaan di masanya.

Tidak ada kisah yang menyatakan bahwa Musashi pernah dilatih oleh ayahnya atau orang lain. Tampaknya, seperti halnya orang yang begitu berbakat dalam musik, matematika, atau bidang lainnya, ia terlahir dengan kekuatan luar biasa yang membuatnya tak terkalahkan dalam duel satu lawan satu.

Namun, dikisahkan bahwa Musashi termasuk individu langka yang mampu menangkap dan menyerap esensi dari segala seuatu yang diamatinya dan membuatnya menjadi miliknya.  Dikisahkan pula bahwa ia pernah bertemu dan bertukar pikiran dengan beberapa ornag paling terpelajar dan ahli di masanya.

Miyamoto Musashi dan Ayahnya

Hubungan Musashi dengan ayahnya tetap menjadi misteri. Willian Scott Wilson dalam The Lone Samurai, sebuah karya biografi Musashi yang luar biasa, menceritakan kisah yang diungkapkan dalam Tanji Hokkin Hikki, yaitu riwayat lain di masa itu, yang menyinggung betapa sejak usia sangat muda, Musashi senang mengamati gaya bertarung ayahnya, Munisai.

Musashi yang masih sangat muda berani mengecam penggunaan jitte, yaitu tangkai logam kecil yang digunakan samurai untuk menangkis pedang. Munisai sangat marah sehingga ia melemparkan pisau pahat ke arah anaknya.

Musashi berhasil mengelak. Ayahnya kemudian mencabut pedang pendek dan melemparkannya ke arah Musashi, berusaha membuatnya terluka parah syukur-syukur membunuhnya. Musashi berhasil mengelak dan melarikan diri ke desa ibunya, tempat ia tinggal bersama seorang pendeta yang masih kerabat.

Ditambahkan juga bahwa Musashi tidak pernah kembali ke rumah ayahnya, dan memulai hidup sebagai penyendiri dan menjadi terkenal sebagai ahli pedang paling tangguh yang lahir melalui Jalan Samurai.

Pengembaraan Miyamoto Musashi

Terkenal di Jepang saat itu dan berfisik kuat, terutama di usia muda, Musashi jelas dikaruniai kemampuan yang membuatnya menjadi salah seorang samurai paling luar biasa dalam sejarah Jepang. Ia begitu menonjol di tengah budaya yang telah menghasilkan sejumlah besar ahli pedang kawakan selain juga ilmuwan dan pemerintah yang andal.

Dalam upaya mengasah kemampuannya dengan cara melawan para petarung kawakan, Musashi menjadi pengembara. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di jalanan. Ia menelusuri jalan-jalan utama yang menghubungkan 200 wilayah dengan ibu kota keshogunan, yang awalnya di Kamakura kemudian di Edo (Tokyo), dengan ibu kota Kyoto.

Musashi mencemooh usaha menumpuk kekayaan, dan sepanjang hidupnya mengembara dari satu tempat ke tempat lain hanya berbekal baju dan pedang, bahkan seringkali tanpa uang.

Seperti halnya pendeta yang selalu berpindah tempat, ia mengandalkan pemberian orang lain, penguasa wilayah, pejabat, dan dojo, berupa kamar dan makanan sebagai ganti atas pelajaran bertarungnya yang unik. Namun ada kalanya, ia tidur di tempat terbuka.

Dengan standar masa kini, penderitaan fisik yang dialami Musashi selama mengembara cukup untuk menguji jiwa seorang suci. Setidaknya dalam 70% sepanjang tahun, Jepang terlalu panas atau terlalu lembap, terlalu panas atau terlalu dingin. Hujan musim semi tahunan berlangsung berminggu-minggu. Topan menerpa kepulauan itu pada akhir musim panas dan musim gugur.

Di musim dingin, pegunungan bagian tengah dan utara kepulauan tertutup salju tebal. Namun, Musashi menempa diri dengan kondisi ini sepanjang hidupnya sebagai bagian dari latihan fisik dan mentalnya.

Karena obsesinya terhadap penguasaan ilmu pedang, Musashi tak pernah menikah. Ia membujang hampir sepanjang hidupnya, dan mengingatkan murid-muridnya untuk menghindari cinta serta berhati-hati terhadap wanita.

Namun ada bukti, seperti kebanyakan laki-laki, ia mengunjungi tempat pelacuran yang merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat Jepang. Ia diketahui menjalin hubungan intim dengan seorang pelacur terkenal.

Duel-Duel Miyamoto Musashi

Musashi berduel untuk pertama kalinya ketika berusia 13 tahun. Ia membunuh seorang shugyosha tangguh bernama Kihei Arima. Arima berkelana di seluruh negeri untuk menantang duel semua petarung sampai mati.

Ketika sampai di desa tempat tinggal Musashi, ia memasang pengumuman bertuliskan huruf emas, menantang bertarung semua orang di wilayah itu. Musashi muda membaca pengumuman itu dan merusaknya, menuliskan bahwa ia menerima tantangan itu dan akan muncul keesokan hari.

Ketika mengetahui penantangnya hanyalah anak 13 tahun, Arima menjadi marah. Namun ia mau mengampuninya jika anak itu meminta maaf secara resmi. Esok harinya, Musashi muncul sambil membawa sebatang tongkat kayu panjang dengan ditemani oleh pendeta pemilik rumah tempat ia tinggal, yang tampaknya bertindak sebagai perantara.

Alih-alih meminta maaf, Musashi menyerang Arima dengan tongkat kayunya. Samurai kawakan itu mengelak serangan dan mencabut pedangnya. Setelah berusaha menyerang kepala Arima, Musashi menjatuhkan tongkat kayunya, menyerang, mengangkat tubuh Arima, dan membantingnya ke tanah dengan kepala di bawah.

Kemudian, ia mengambil kembali tongkatnya dan menghancurkan tulang Arima dengan dua serangan kuat.

miyamoto musashi duel

Duel kedua Musashi dilakukan pada musim semi 1599 di jalanan provinsi tetangga. Kali ini lawannya seorang petarung bernama Akiyama, yang hanya dikenal sebagai “si kuat”. Saat itu, Musashi berusia 16 tahun.

Tahun berikutnya, ia bertarung melawan Klan Tokugawa dalam Pertempuran Sekigahara yang terkenal. Pertempuran ini menghasilkan supremasi Ieyase Tokugawa dan menjadi awal dari berdirinya Keshogunan Tokugawa pada tahun 1603.

Konon, Musashi berharap bahwa dengan menunjukkan ilmu pedangnya yang luar biasa dalam pertempuran penting, ia dapat diangkat sebagai instruktur oleh salah satu lord yang berperang melawan Tokugawa.

Namun, meskipun secara pribadi ia berhasil dalam pertempuran itu, yang digambarkan telah membuatnya terkenal di antara para petarung pada kedua belah pihak, lord yang ia pihaki kalah. Dalam setiap peristiwa, ia mengembara ke seluruh penjuru negeri sebagai shugyosha, berduel mirip koboi di Amerika.

Tahun 1604, ketika berusia 21 tahun, Musashi melawan dan membunuh semua ahli pedang ternama dari Klan Yoshio di Kyoto. Dalam pertarungan pertama, ia membunuh pemimpin kelompok. Ketika pertarungan kedua, ia membunuh saudaranya.

Kemudian pertarungan ketiga, saat para anggota klan yang tersisa hadir, ia membunuh anaknya, dan langsung diserang oleh seluruh anggota kelompok. Jumlah penyerang lebih dari 100 orang, tetapi Musashi tak gentar.

Bahkan dalam waktu singkat ia sudah menghabisi begitu banyak dari mereka, membuat sisanya melarikan diri. Pertarungan ini membuatnya menjadi legenda di seluruh Jepang.

Masih banyak samurai lain yang sepanjang hidupnya terkenal sebagai ahli pedang kawakan, setidaknya salah seorang tercatat membunuh 200 orang dalam duel sampai mati.

Banyak dari petarung ini berpenampilan flamboyan. Beberapa mengenakan ikat pinggang yang menunjukkan asal-usul dan gelar mereka.

Musashi Vs Kojiro

Salah satu dari para petarung ini adalah Kojiro Sasaki, yang dikenal sebagai Iblis dari Provinsi Barat. Ia adalah instrukur pedang untuk Lord Hosokawa yang terkenal dan samurai pelayannya. Musashi membunuhnya pada tahun 1612. Duel tersebut menjadi duelnya yang paling terkenal.

miyamoto musashi duel kojiro
Monumen Musashi ketika berduel dengan Kojiro.

Musashi berhasil mengalahkan Iblis dari Provinsi Barat karena ia tidak peduli pada nyawanya sendiri. Ia sekadar bergerak dan menyerang. Namun, Musashi memang sangat berbeda dibanding orang-orang terkenal di masanya.

Ia seorang penyendiri dengan pakaian sederhana, tidak pernah menyombongkan diri, dan sering menemui lawannya di tempat yang telah ditentukan, bukannya di tempat umum.

Musashi Berhenti Membunuh Lawan

Ketika berusia 29 tahun, Musashi telah bertemu dan membunuh lebih dari 60 orang. Ia kemudaian mengubah gaya hidupnya menjadi pelukis, penulis kaligrafi, penyair, perancang taman, dan pemahat ulung.

Ia terus berkelana ke penjuru negeri, melakukan banyak duel dengan samurai lain, beberapa di antaranya dikenal di seluruh Jepang sebagai ahli pedang.

Namun, ia kemudian berhenti membunuh semua lawannya. Ia hanya mencegah mereka membunuhnya. Ia mempertahankan diri sampai mereka lelah dan menyerah, atau sampai mereka sadar tidak dapat mengalahkannya dan berhenti bertarung.

Ini sering terjadi setelah mereka berupaya membunuhnya. Mereka menyadari tidak ada cara untuk menembus taktik pertahanannya.

Tahun 1637, ketika usianya menjelang 50-an akhir, Musashi bertarung untuk Keshogunan Tokugawa dalam Pemberontakan Shimabara yang keji. Pemberontakan ini mengakibatkan ribuan penganut Kristiani Jepang beserta para sekutu ronin mereka dibantai habis.

Para jenderal keshogunan mempekerjakannya sebagai penasihat dalam menumpas para pemberontak yang telah melarikan diri ke sebuah puri.

Tahun 1640, empat tahun sebelum mengundurkan diri dan menulis Go Rin Sho, Musashi diminta oleh Tadatoshi Hosokawa, penguasa wilayah Hosokawa di Kumamoto, untuk menuliskan esensi gaya bertarungnya.

Pada Februari tahun berikutnya, Musashi memberi Hosokawa manuskrip setebal 15 halaman yang berjudul “Tiga Puluh Lima Artikel Tentang Seni Pertarungan), yang sebenarnya berisi tiga puluh enam artikel.

Tahun 1643, dua tahun sebelum kematiannya (diduga akibat kanker), Musashi memulai hidup di tempat yang sekarang dikenal sebagai Reigan Cave di luar kota Kumamoto.

Setelah mengembangkan keahlian yang membuatnya tak terkalahkan, Musashi mulai merenungkan seni tarung pedang dan kemenangan. Salah satu aturannya adalah: Satu-satunya tujuan dalam bertarung adalah untuk menang, dan untuk menang sepenuhnya.

Ini merupakan dasar filosofinya dan menjadi inti dari Go Rin Sho, tempat ia menuliskan pokok-pokok teknik kemenangannya.

April 1645, Musashi kembali mengasingkan diri di gua yang pernah dikunjunginya untuk bermeditasi dan menulis. Ia juga ingin mati di sana.

Namun, murid-muridnya, membawanya kembali ke rumah tempat ia tinggal sebagai tamu dari penguasa setempat. Akhirnya, Musashi wafat pada bulan berikutnya.

Legenda Miyamoto Musashi Dalam Buku dan Film

Segera setelah kematian Musashi, ia menjadi tema favorit bagi para kodan, atau pendongeng profesional Jepang. Pembuat boneka dan dramawan mulai membuat drama berdasarkan peristiwa-peristiwa hidupnya. Buku-buku tentang keberaniannya muncul tak lama kemudian.

Film pertama yang didasarkan pada kehidupan Musashi muncul pada tahun 1908. Sejak itu, muncul lebih dari 50 film lainnya. Beberapa yang paling populer dibintangi oleh aktor besar Toshiro Mifune dan Seven Samurai dan Yojimbo.

miyamoto musashi film

Buku berbahasa Inggris pertama tentang Musashi ditulis pada 1890-an. Beberapa buku lainnya , baik dalam bahasa Jepang maupun Inggris, ditulis pada abad ke-21.

Buku paling terkenal, Miyamoto Musashi, ditulis pada tahun 1953 oleh novelis besar Eiji Yoshikawa, dan menjadi serial dalam surat kabar Asahi selama empat tahun.

Buku Yoshikawa didasarkan pada fakta-fakta terkenal tentang kehidupan Musashi. Kisahnya dibangun sesuai dengan kerangka sejarah yang akurat pada masanya: gaya hidup orang-orang biasa, jalan hidup samurai dan ronin, bangkitnya Keshogunan Tokugawa, pertempuran dan intrik-intrik penguasa wilayah, masuknya agama Kristen dan senjata api ke negeri tersebut, dan akhirnya ditutupnya negeri itu dari dunia luar pada tahun 1635.

Beragam buku dan film ini membuat Musashi dikenal oleh setiap orang Jepang dan dianggap sebagai salah satu teladan bagi sekian banyak sifat para samurai paling terhormat.

Kemampuan untuk fokus pada tujuan spesifik, usaha terus-menerus untuk maju, dedikasi pada kualitas, keuletan, ketekunan dan semangat yang tak terpadamkan.

Seperti buku pedoman “seni berperang” yang ditulis Sun Tzu, ahli fabel militer Cina Kuno, strategi dan taktik Miyamoto Musashi didasarkan pada pandangan mendalam tentang sifat manusia, dan dipadukan dengan tingkat pragmatisme yang tidak biasa.

Ajarannya seputar seni bertarung dan keberhasilan dalam setiap upaya, menjadi pelajaran berharga bagi siapapun yang menghadapi tantangan keadaan, mulai dari orang militer dan pebisnis sampai atlet dan “petarung” kehidupan sehari-hari.

Budaya samurai, yang terbangun selama 700 tahun oleh kelas petarung penguasa di Jepang masih mempengaruhi setiap segi pemikiran dan tindakan bangsa Jepang. Banyak orang Jepang, baik disadari maupun tidak disadari, mendasarkan sikap dan tindakan mereka pada pemikiran dan tindakan Miyamoto Musashi, termasuk mengorbankan diri demi kesempuranaan, dan terus berusaha keras untuk meraih kesempurnaan itu.

Baca artikel lain tentang Budaya Jepang hanya di Pandai Kotoba!

Sumber:

Boye Lafayette De Mente. Samurai Strategies. 2005.

Leave a Reply

Your email address will not be published.