Kisah,  Leisure,  Travel

Hutan Aokigahara: Asal-Usul dan Mitosnya yang Mencekam

Hai, Minasan~! Hutan menjadi tempat banyak binatang liar dan makhluk hidup lainnya tinggal. Pemandangannya menyejukkan mata dan terasa lebih rindang dari dalam hutan. Aneka sumber daya alam bisa mudah didapatkan dengan menjelajahi hutannya.

Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki pemandangan yang indah juga dipenuhi dengan hutan lebat yang terhampar luas di setiap pulau. Kalau ngomongin hutan di Jepang, pasti terlintas di pikiran Minasan tidak jauh-jauh dari Hutan Aokigahara kan.

Hutan Aokigahara yang sejauh ini kita kenal adalah hutan yang angker, banyak kejadian yang tidak diinginkan, dan bahkan menyimpan banyak misteri dari dalam hutannya. Nah, Pandai Kotoba pada kali ini akan membahas Hutan Aokigahara dilihat asal-usul dan mitosnya yang mencekam. Penasaran? Yuk, kita lanjut ke bawah.

potret udara aoikagahara wikicommons
Potret Udara dari Hutan Aokigahara
commons.wikimedia.org

Hutan Aokigahara: Asal-Usul dan Mitosnya yang Mencekam

Asal-Usul Hutan Aokigahara

Kawasan hutan yang membentang dari lereng gunung di barat laut Gunung Fuji hingga ke daerah sekitar Danau Saiko, Danau Shojin, dan Danau Motosu.

Kawasan tersebut bernama Hutan Aokigahara atau nama tempat aslinya bernama Aokigahara Jukai. Disebut juga hutan belantara karena kondisinya yang masih asli tanpa celah di antara pepohonan yang terlihat seperti lautan hutan yang luas jika dilihat dari puncak gunung.

Berdasarkan asal-usul secara ilmiahnya, Hutan Aokigahara terbentuk dari lava meletusnya Gunung Fuji yang mengalir keluar dan mengarah ke Gunung Nagao (sisi barat laut Gunung Fuji). Letusan ini bernama Letusan Besar Jogan (貞観の大噴火) yang terjadi pada tahun 864 Masehi, sekitar 1159 tahun yang lalu pada Zaman Heian.

Letusan ini dikatakan sebagai letusan terbesar sejak awal sejarah Jepang dan lava yang mengalir keluar diperkirakan sangat besar sehingga membakar hutan, memenuhi danau, dan mengubah daerah tersebut menjadi tanah mati sehingga tidak ada tanaman atau hewan yang bisa hidup.

Letusan ini digambarkan dalam sebuah buku sejarah pada masa itu, Nihon Sandai Jitsuroku (日本三代実録). Kengerian letusan tersebut digambarkan dalam beberapa bagian seperti “membakar hutan, merobohkan rumah-rumah, dan mengubur ladang”.

Letusan yang dimulai pada bulan Juni di tahun yang sama, 864 Masehi, mengirimkan aliran lava ke Danau Motosu dan Danau Purba Seno, sembari memunculkan api dan menyebarkan material piroklastik seperti abu vulkanik dan bom vulkanik.

Aliran lava kemudian perlahan-lahan mengisi danau, dan akhirnya membelah Danau Purba Seno menjadi dua danau yang terpisah, yaitu Danau Shoji dan Danau Saiko.

Tanah yang tertutup oleh aliran lava berada dalam kondisinya yang tidak ada pohon yang bisa tumbuh dan tidak ada organisme hidup yang bisa bertahan hidup selama lima sampai enam tahun selanjutnya.

Kemudian, permukaannya secara bertahap mengalami pelapukan oleh angin dan hujan, lava berubah menjadi pasir dan kerikil, dan genangan air hujan mulai terbentuk di dalam cekungan-cekungan yang ada. Dari situlah bakteri dan mikroorganisme lainnya akhirnya dapat hidup

Ketika tanah menjadi lebih subur dan memiliki kapasitas penyimpanan air yang lebih banyak, tanaman yang dapat mentolerir kondisi nutrisi yang buruk dapat tumbuh di antara benih-benih yang terbawa angin.

Penguraian dedaunan, ranting-ranting, hewan mati dari gunung-gunung di sekitarnya secara bertahap meningkatkan kandungan nutrisi, dan lingkungan pun berubah menjadi lingkungan yang memungkinkan berbagai macam tanaman dan hewan untuk hidup dan tumbuh.

Dikatakan bahwa dibutuhkan waktu 200 tahun bagi pohon-pohon tinggi untuk tumbuh sampai batas tertentu, dan hanya beberapa tanaman yang terlihat di hutan selama sekitar 200-300 tahun setelah letusan, dan baru pada abad ke-11 pohon-pohon mulai tumbuh seperti sekarang ini.

Diperkirakan baru pada abad ke-14, area hutan yang lengkap tercipta, dan diperkirakan sekitar 300 tahun yang lalu, hutan mulai menyebar di area yang begitu luas sehingga dikenal sebagai Hutan Aokigahara. Dengan kata lain, Hutan Aokigahara ini berusia sekitar 300 tahun.

Sebagai hutan belantara muda, Hutan Aokigahara merupakan hutan yang masih dalam tahap pertumbuhan, dengan sebagian besar permukaannya masih berupa lava dahulu, tanah yang kurang subur, dan hanya sedikit spesies tanaman, terutama pohon jenis konifera seperti cemara pinus dan cemara Jepang.

Terlepas dari kondisi ini, Hutan Aokigahara adalah hutan belantara yang terus tumbuh dengan menambahkan tanaman hijau sedikit demi sedikit. Luasnya sekitar 30 kilometer persegi, setengah dari luas area di dalam Jalur Kereta Api Yamanote atau setara dengan enam Tokyo Disneyland.

Mitos Hutan Aokigahara

Jika banyak orang ditanya, termasuk Minasan, hal apa yang terlintas dalam benaknya tentang Hutan Aokigahara, pasti jawabannya adalah mitos dan urban legend-nya. Karena banyaknya kasus bunuh diri, Hutan Aokigahara sering disebut-sebut sebagai tempat yang berhantu.

Hutan Aokigahara menarik banyak orang dengan citranya yang misterius. Seorang reporter Jepang bernama Ramu Murata yang telah mengunjungi dan mengamati hutan ini selama lebih dari 20 tahun, membagikan dan mengungkapkan kebenaran tentang Hutan Aokigahara ini yang punya banyak mitosnya.

ramu murata yt
Ramu Murata dalam Sebuah Video Berita (2022)
youtube.com

Ramu Murata pernah menemani seorang paranormal melakukan wawancara di hutan tersebut. Paranormal itu memiliki raut wajah yang misterius dan berkata, “Ada banyak sekali roh di sini!”. Dia terkejut dengan banyaknya “jiwa” yang berkumpul. Namun, jumlah orang yang meninggal di Hutan Aokigahara paling banyak hanya puluhan per tahunnya.

Baru-baru ini, dikatakan bahwa jumlahnya telah menurun menjadi kurang dari 30 orang. Perhitungan sederhana menunjukkan bahwa kurang dari satu orang meninggal setiap sepuluh hari.

Metode bunuh diri yang paling umum ditemukan di Hutan Aokigahara adalah menggantung diri di pohon dengan seutas tali, meracuni diri sendiri dengan overdosis obat tidur dan kebanyakan alkohol, serta mengisap racun dari gas helium.

Namun, Hutan Aokigahara ini dikabarkan sebagai tempat terjadinya berbagai fenomena aneh lainnya selain fenomena spiritual. Hutan ini benar-benar harta karunnya mitos lho. Yuk, coba kita lihat beberapa mitos yang paling umum dan bagaimana kenyataannya.

1. Kompas Tidak Berfungsi di Dalam Hutan

Yang pertama dan paling terkenal adalah teori tentang kompas penunjuk arah tidak berfungsi di Hutan Aokigahara. Dalam hal ini kompas sebagai penunjuk arah kehilangan keefektifannya di hutan ini. Legenda ini muncul dalam banyak karya fiksi.

Banyak orang telah melihat adegan saat jarum kompas berputar-putar di tangan pahlawan yang tersesat di Hutan Aokigahara. Namun tentu saja, hal itu tidak benar-benar terjadi.

Dalam catatan Ramu Murata, ketika dia berusia 20 tahun dan melintasi Hutan Aokigahara dua kali hanya dengan menggunakan kompas. Dia mampu melintasi hutan ini hampir tanpa tersesat.

Memang benar bahwa beberapa bebatuan di hutan tersebut dikatakan mengandung mineral yang menghasilkan daya tarik magnetis, tapi daya tariknya sangat lemah dan tidak banyak berpengaruh jika kompas digunakan setinggi dada.

2. Tersesat dan Tidak Bisa Kembali

Mitos kedua dari Hutan Aokigahara adalah sekali seseorang masuk ke dalam hutan ini, maka tidak akan pernah kembali hidup-hidup. Ternyata ini juga tidak benar.

Ramu Murata pernah sengaja mencoba tersesat di Hutan Aokigahara, dia memasuki masuk ke hutan tanpa kompas atau GPS dan hanya berjalan-jalan. Dia tidak hanya sekali, tapi sampai tiga kali dengan hasil yang sama dan tidak tersesat.

Hutan Aokigahara terlihat seperti hutan yang luas, tapi sebenarnya hanya sekitar 4 km persegi yang ada banyak jalan setapak. Jalan setapak tua dan jalan setapak gunung yang membentang di dalam hutan ini. Sering kali ada tali yang ditinggalkan oleh mereka yang telah menjelajahi area tersebut. Mayat sering ditemukan di hutan ini karena banyak orang yang datang ke Hutan Aokigahara untuk bunuh diri.

Pada kenyataannya, hanya sedikit orang yang benar-benar tersesat di dalam hutan ini dan mati karena tidak bisa keluar. Banyak yang beranggapan tidak dapat menggunakan ponsel di dalam hutan adalah hal yang biasa dan bukan mitos belaka. Tapi di dalam hutan ini, sinyalnya sangat kuat dan di sebagian tempat terdapat sinyal yang cukup untuk mentransmisikan video.

3. Diciptakan sebagai Tempat Bunuh Diri dan “Banyak Orang” Tinggal di Sana

Ada juga mitos yang mengatakan bahwa Hutan Aokigahara diciptakan oleh orang-orang yang bunuh diri. Ini juga merupakan urban legend yang menjadi dasar dari film Jepang, Suicide Forest Village.

Dalam film tersebut, ada sebuah desa mengerikan yang diciptakan oleh orang-orang yang ditinggalkan dan bunuh diri di Hutan Aokigahara.

Sebenarnya, Ramu Murata benar-benar tidak pernah menemukan desa seperti itu ketika menjelajahi hutan ini dan hanya bisa menemukan tenda-tenda yang didirikan di beberapa area dalam hutannya. Tapi jangan kaget, memang ada sebuah desa di Hutan Aokigahara.

Foto udara menunjukkan area persegi panjang yang tertata rapi di sepanjang Rute 139 di sebelah selatan Danau Shojin. Desa ini terletak di Shojin 5-chome, Kota Kawaguchiko, dan umumnya dikenal sebagai Minshuku Mura (desa penginapan). Jalannya diaspal dengan baik dan memiliki lebih dari 70 rumah pribadi dan ada sekitar 10 minshuku (penginapan) yang beroperasi.

Masih dalam catatan Ramu Murata, ketika dia menjelajahi Hutan Aokigahara dengan menginap semalam, dia menginap di desa minshuku tersebut. Sebenarnya daerah di sekitar Hutan Aokigahara adalah tujuan wisata.

Tempat ini sering digunakan oleh orang-orang yang pergi ke Dataran Tinggi Fujikyu dan Taman Safari Fuji untuk bermalam, serta mereka yang mengunjungi Lima Danau Fuji dan mendaki Gunung Fuji. Meskipun mungkin tidak dapat merasakan suasana yang menakutkan di daerah tersebut, ini adalah tempat yang tepat untuk pergi dan bersenang-senang.

4. Ada Anjing Liar, Beruang, dan Hewan Buas Lainnya akan Menyerang Manusia dari Balik Pepohonan

Mitos terakhir adalah ada anjing liar, beruang, dan hewan buas lainnya dari balik pepohonan menyerang manusia di Hutan Aokigahara. Banyak yang mengatakan bahwa anjing-anjing yang ditinggalkan telah menjadi anjing liar dan membentuk kawanan, tapi sebenarnya tidak pernah terlihat anjing di Hutan Aokigahara. Jika mereka hidup berkelompok, mereka harus makan banyak daging dan daging dari mayat seseorang yang bunuh diri sesekali tidak akan cukup.

Lalu, mengapa tidak menangkap dan memakan tikus, tupai, atau hewan lainnya? Mungkin ada yang berpikir ini ide yang bagus, tapi ternyata juga sulit terjadi. Hutan Aokigahara tidak terlalu kaya akan sumber daya nutrisinya, jadi tidak banyak hewan kecil.

lanskap aokigahara wikicommons
Pemandangan Hutan Aokigahara dari Atas Gunung
commons.wikimedia.org

Bagaimana dengan beruang? Tidak ada beruang juga di hutan ini. Banyak mayat yang ditemukan di hutan ini telah digerogoti oleh hewan-hewan kecil seperti tikus dan musang karena dilihat dari bekas gigitan kecil.

Namun, ada juga banyak jejak hewan yang sangat besar yang tampaknya telah memangsanya. Kondisinya seperti kemejanya robek, kondisi tubuhnya rusak, dan tulangnya patah. Ada beruang atau tidaknya sebenarnya tidak terlalu yakin juga karena jejak hewannya yang sangat besar.

Seperti yang disebutkan di atas, tidak ada beruang di Hutan Aokigahara karena hutan ini miskin nutrisi, tapi kalaupun ada beruang kemungkinan yang hanya ada beruang hitam asia saja. Hutan ini tidak dipagari, jadi jika mereka ingin datang, mereka bisa datang sendiri.

Japanese black bear wikicommons
Beruang Hitam Asia (Ursus thibetanus japonicus)
commons.wikimedia.org

Rumor tentang beruang ini sangat mengganggu untuk beberapa orang. Bahkan jika tabir-tabir mitos yang disebutkan di atas sudah dibuktikan dan kenyataannya terungkap, tidak diragukan lagi bahwa Hutan Aokigahara ini tetap menjadi “hutan bunuh diri” yang mana orang-orang yang ingin mengakhiri hidupnya berkumpul di sana. Berbagai alasan dan hipotesis mengapa hal yang tidak diinginkan itu terjadi pun bermunculan, tapi pada akhirnya tidak ada jawaban yang jelas dan pasti.


Nah, itulah asal-usul dan berbagai macam mitos dari Hutan Aokigahara yang bisa Pandai Kotoba kasih dalam artikel kali ini. Penjelasan dan penjelajahan mendalam dari Ramu Murata tentang hutan ini memberikan kita banyak wawasan ya.

Kalau Minasan kira-kira percaya atau tidak dengan mitos-mitosnya? Untuk ini kembali ke perspektif masing-masing dan artikel ini mencoba untuk membahas fakta yang apa adanya saja ya.

Bagi Minasan yang penasaran dengan artikel horror lain, Pandai Kotoba juga pernah membahas apartemen Jiko Bukken yang katanya murah-murah ngeri itu lho. Klik di sini untuk membacanya. Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *