Kisah

“The Monster with 21 Faces” Entitas Misterius Penyebar Teror (Part 1)

Di Jepang, sepanjang pertengahan tahun 1984-1985. Sebuah entitas misterius menyebar teror, menculik presiden perusahaan, meminta tebusan uang dan emas batangan, meracuni produk makanan ringan dengan sianida, dan nyaris melumpuhkan salah satu perusahaan makanan bernama Glico Company.

Selama lebih dari tiga dekade, sang peneror tak pernah berhasil diidentifikasi polisi. Kasus ini pun terpaksa berakhir dengan gelimang tanya dan misteri.

Inilah kisah tentang salah satu kasus misterius paling terkenal dalam sejarah modern Jepang. Inilah kisah tentang teror yang disebar oleh sebuah entitas yang menamakan dirinya The Monster With 21 Faces.

the monster with 21 faces

Berawal Dari Penculikan Katsuhisa Ezaki

18 Maret 1984

Hari Minggu yang tenang di Ashiya, sedikit di luar Kobe–ibu kota prefektur Hyogo, Jepang. Di sebuah bukit kecil di antara perumahan mewah Ashiya, berdiri sebuah kediaman mewah seluas 650 meter persegi.

Cahaya dari lampu merkuri menerangi keempat sisi kediaman tersebut, menambah kesan elegan yang menenangkan. Pemiliknya tentu bukan sembarang orang. Pemiliknya adalah seorang presiden perusahaan makanan Glico Company bernama Katsuhisa Ezaki (42).

Katsuhisa Ezaki Glico
Katsuhisa Ezaki

Katsuhisa Ezaki adalah generasi ketiga yang memimpin perusahaan keluarga Ezaki Glico yang didirikan oleh kakeknya. Ezaki Glico atau Glico Company adalah perusahaan ternama yang memproduksi makanan ringan di Jepang. Salah satu produknya yang sangat mungkin akrab di kuping kita adalah makanan ringan dengan merek Pocky.

Ezaki tinggal di rumah mewahnya yang bergaya barat bersama istri dan ketiga anaknya. Sementara itu, terdapat bangunan tambahan di sebelah rumah tersebut, yang didiami oleh ibunda Ezaki yang berusia 70 tahun.

Malam harinya, Ezaki baru saja akan beristirahat setelah bekerja seharian penuh bahkan pada hari Minggu. Ezaki akan mengakhiri hari panjangnya dengan berendam di kamar mandi sambil bersantai, sementara istri dan anak-anaknya sudah bersiap untuk tidur.

Di sebelah rumah Ezaki, ibundanya yang tinggal sendiri sudah bersiap untuk tidur juga. Namun, menjelang pukul sembilan malam ia terkejut dengan kehadiran dua sosok pria yang memaksa masuk ke rumah. Keduanya mengenakan topeng ski berwarna putih dan menggenggam senjata api.

Melihat tampilan kedua sosok itu, jelas bagi ibunda Ezaki bahwa mereka perampok atau penjahat yang punya kemungkinan untuk menyakiti dirinya. Namun dugaan ibunda Ezaki kurang tepat. Kedua sosok misterius itu tidak tertarik untuk merampok atau menyakiti ibunda Ezaki.

Dalam ketidakberdayaan, ibunda Ezaki diikat oleh sosok misterius tersebut. Alih-alih menguras harta benda di rumah itu, kedua sosok misterius hanya menginginkan sebuah benda kecil yang ada pada ibunda Ezaki. Yaitu, sebuah kunci. Tepatnya kunci rumah sebelah, tempat putra sulungnya tinggal bersama menantu dan cucu-cucunya. Pasrah, Ibunda Ezaki terpaksa memenuhi permintaan kedua sosok misterius itu.

Berbekal kunci yang didapatkan dari ibunda Ezaki, kedua pria misterius bertopeng itu menyusup diam-diam ke dalam rumah Ezaki. Anehnya, mereka masuk dengan tenang tanpa kekhawatiran akan dipergoki. Setelah masuk rumah Ezaki tanpa harus membobol pintu, kedua pria misterius langsung berhadapan dengan istri dan putri sulung Ezaki yang masih terjaga malam itu. Sedangkan dua anak lainnya sudah tertidur dalam kamar.

Meiko, istri Katsuhisa Ezaki dan putri sulungnya—Mariko, langsung berada dalam kuasa kedua pria misterius itu. Saking terkejutnya, mereka tak sanggup berteriak ketika tiba-tiba melihat kedua pria bertopeng membawa pistol dan rifle berada di hadapan mereka.

Kedua pria misterius cepat mengikat Meiko dan Maruko. Meiko sempat memberanikan diri berkata kepada kedua pria misterius itu, agar tidak menyakiti siapapun dan ambil saja semua benda berharga di rumah itu. Namun kedua pria misterius sama sekali tidak menggubris perkataan Meiko.

Dengan tenang dan tampak penuh pengalaman, kedua pria misterius mulai menyisir semua ruangan dalam rumah. Di tengah sisiran, mereka menggunting kabel-kabel telepon yang berada di rumah itu. Mereka tidak ingin mengambil benda berharga apapun di rumah Ezaki. Tujuan mereka bukanlah untuk merampok, satu-satunya tujuan mereka adalah mencari Katsuhisa Ezaki.

Sementara itu, Ezaki yang memang sedang bersantai dalam rendaman air hangat di kamar mandi, tidak menyadari bahwa keluarganya sedang dalam ketakutan. Ezaki yang tengah melepas lelah bersantai dalam bak rendam, langsung terkesiap ketika kedua pria misterius bertopeng masuk ke dalam kamar mandi, dan berdiri di hadapannya.

Katsuhisa Ezaki sontak berteriak sambil keluar dari bak rendam dalam keadaan telanjang. Ia melakukan perlawanan seadanya yang langsung diredam oleh kedua pria misterius dengan penuh ketenangan. Salah satu dari pria misterius berkata dengan nada datar, “Jika anda tidak koperatif, maka keluarga anda dalam bahaya.”

Mendengar itu, Katsuhisa Ezaki hanya bisa pasrah. Ia tidak mau keluarganya disakiti oleh kedua pria misterius bertopeng itu. Saat itu juga, Katsuhisa Ezaki membiarkan dirinya digelandang pergi dalam keadaan masih telanjang.

Kedua pria misterius menggelandang Ezaki ke sebuah mobil yang diparkir tak jauh dari kediaman Ezaki. Mobil itu langsung melesat pergi ditelan gelap malam di Ashiya yang sepi. Membawa Katsuhisa Ezaki entah ke mana.

Keesokan harinya, para penculik misterius itu mulai melancarkan pemerasan yang ekstensif dan metodis kepada perusahaan yang dipimpin Katsuhisa Ezaki—Glico Company. Kemudian mereka mengklaim sebagai bagian dari kelompok rahasia, yang tak gentar oleh kepolisian Jepang sekalipun.

pocky
Pocky salah satu produk Glico.

Jumlah Tebusan Yang Luar Biasa

19 Maret 1984

Sehari setelah penculikan Katsuhisa Ezaki, polisi mulai melakukan serangkaian investigasi.

Berdasarkan cara pelaku memasuki rumah Kastuhisa Ezaki, polisi menduga bahwa pelakunya sudah mengenal keluarga Ezaki. Pelaku mungkin telah mempelajari tata letak rumah dan kebiasaan anggota keluarga di kediaman Ezaki. Oleh karena itu, motif penculikan bisa jadi mengarah pada motif personal.

Ternyata pihak penyelidik tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui motif di balik penculikan presiden perusahaan Glico Company ini. Ketika proses olah TKP, polisi menemukan selembar catatan di telepon umum tak jauh dari kediaman Ezaki yang diduga sengaja ditempatkan oleh pelaku.

Catatan tersebut menuntut tebusan atas penculikan Ezaki sebesar 1 milyar Yen, atau kira-kira 100 milyar rupiah. Selain permintaan uang tunai, pelaku juga meminta 100 kilogram emas batangan yang tertaksir senilai 24 milyar rupiah.

Permintaan yang sulit untuk dipenuhi dalam waktu singkat. Dengan total tebusan kurang lebih senilai 124 milyar rupiah, menjadikan kasus ini sebagai kasus penculikan dengan tebusan paling tinggi dalam sejarah Jepang.

Dengan tebusan sebesar itu, menambah kebingungan polisi menguak motif sebenarnya. Glico Company memang perusahaan makanan yang cukup terkenal, tetapi tidak bisa dibilang raksasa. Ini menambah tanda tanya besar mengapa Katsuhisa Ezaki menjadi sasaran. Pertanyaan ini terus membayangi proses penyelidikan.

Namun, tanpa disangka-sangka polisi tidak perlu bersusah payah untuk menemukan Katsuhisa Ezaki.


Kastuhisa Ezaki Berhasil Melarikan Diri

21 Maret 1984

Kurang dari tiga hari setelah hari penculikan, Katsuhisa Ezaki berhasil melarikan diri dari tempat penyekapannya  di sebuah gudang di kota Ibaraki, Osaka.

Ezaki langsung dimintai keterangan oleh polisi. Namun, sayangnya Ezaki tidak bisa memberikan keterangan lebih perihal motif dan identitas pelaku. Ezaki hanya bisa memberikan keterangan kepada polisi mengenai kondisi ketika ia disekap dan lokasi penyekapannya.

Kemudian Ezaki menceritakan yang dialaminya selama dalam penyekapan. Pelaku menutup kepala Ezaki dengan kantong sepanjang waktu, memberikannya pakaian, dan memberinya jus dan biskuit.

Serta perlaku berkata kepada Ezaki, bahwa anak Ezaki yang berusia 8 tahun juga diculik. Perkataan ini dusta adanya, karena satu-satunya yang diculik adalah Katushisa Ezaki sendiri.

Lalu bagaimana Ezaki bisa melarikan diri? Ternyata dalam penyekapan, Ezaki tidak dijaga sepanjang waktu. Ketika tak ada seorangpun, Ezaki berhasil melepaskan ikatan yang membelenggu dirinya, lalu berhasil mendobrak pintu gudang, kemudian berlari secepat yang ia mampu dengan bertelanjang kaki.

Katsuhisa Ezaki juga berkata pada polisi, bahwa pelaku tidak melukainya. Dan Ezaki menduga bahwa senjata milik pelaku adalah senjata mainan.

Polisi dengan berbagai usaha mulai melindungi Ezaki, yang bisa jadi akan menjadi sasaran pelaku untuk kedua kalinya karena berhasil melarikan diri.

Dengan lolosnya Katsuhisa Ezaki, rencana pelaku untuk meminta tebusan yang jumlahnya sangat luar biasa itu sudah bisa dikatakan gagal. Namun, kegagalan skema pemerasan yang dilakukan entitas misterius ini, justru menjadi awal dari teror yang lebih mencekam, mengerikan dan lebih masif.


Teror Yang Lebih Masif

10 April 1984

Kegagalan rencana pelaku misterius dalam penculikan Katsuhisa Ezaki, menimbulkan teror-teror yang beragam dan lebih masif. Fokus pelaku tidak lagi hanya pada Kastuhisa Ezaki, juga berdampak pada perusahannya Glico Company.

Pelaku misterius mulai melancarkan aksi teror pertamanya dengan membakar beberapa kendaraan yang terparkir di area kantor perusahaan Glico Company. Tak lama kemudian, beberapa properti perusahaan juga terbakar tiba-tiba.

Belum genap seminggu setelahnya, tanggal 16 April 1984, sebuah peti misterius yang dipenuhi asam klorida  ditemukan di area gedung perusahaan Glico Company di Ibaraki—kota yang sama dengan lokasi penyekapan Katsuhisa Ezaki.

Karena lokai penemuan peti misterius itu berada di dalam area perusahaan, diduga kemungkinan besar pelaku adalah yang memiliki akses masuk ke dalam perusahaan.

Bersamaan dengan peti berisikan asam klorida tersebut, ditemukan sepucuk surat yang ditujukan kepada Glico Company. Surat itu juga menuntut tebusan yang sama dengan sebelumnya dengan jaminan teror demi teror berakhir jika tebusan dipenuhi.

Pada waktu yang bersamaan, pelaku misterius ini pun mengirimkan surat pada media. Isinya berupa ejekan pada polisi yang belum juga berhasil mengidentifikasi siapa pelaku dari penculikan Katsuhisa Ezaki dan teror-teror terhadap Glico Company.

Penggalan isi surat tersebut,

“Kepada polisi bodoh. Apakah kalian idiot? Jika kalian memang profesional, tentu kalian akan bisa menangkap kami. Karena kami kasihan pada kalian yang banyak kekurangan, kami akan memberikan kalian beberapa petunjuk.”

Dalam surat tersebut tertulis beberapa petunjuk, seperti mobil yang digunakan saat melarikan Katsuhisa Ezaki adalah mobil berwarna abu-abu, serta makanan yang diberikan pada Ezaki dibeli dari jaringan supermarket terkenal.

Kemudian disusul dengan catatan pada akhir surat berupa ejekan pada polisi, “Haruskah kami menculik kepala polisi?”

Surat tersebut ditandatangani oleh si pengirim dengan nama “Kaijin Nijuichi Menso” alias “The Monster with 21 Faces.”

Untuk pertama kalinya melalui sebuah surat, komplotan misterius ini menegaskan identitas mereka sebagai komplotan penjahat dengan menamakan dirinya “The Monster with 21 Faces”.

Nama tersebut dicatut dari nama karakter penjahat dalam novel seri detektif karya Edogawa Rampo, sekaligus merepresentasikan kelihaian mereka dalam melakukan tindak kriminal, serta kelicinan mereka mengelabui kejaran polisi.

Entitas misterius yang kini sudah mulai menyebut dirinya The Monster With 21 Faces, semakin gencar melancarkan pesan-pesan teror pada Glico Company, polisi dan media massa. Bahkan perusahaan-perusahaan lain.

Apa saja teror-teror lain yang kemudian dilancarkan mereka?

Simak kelanjutan kisahnya di Part 2. Teror-Teror Semakin Menjadi dan Kegagalan Polisi – Kasus Misterius The Monster with 21 Faces (Part 2)


Leave a Reply

Your email address will not be published.