Kisah

Teror-Teror Semakin Menjadi dan Kegagalan Polisi – Kasus Misterius The Monster with 21 Faces (Part 2)

Entitas misterius yang kini sudah mulai menyebut dirinya The Monster With 21 Faces, semakin gencar melancarkan pesan-pesan teror pada Glico Company, polisi dan media massa. Bahkan perusahaan-perusahaan lain.

Apa saja teror-teror lain yang kemudian dilancarkan mereka?

Bagi yang belum membaca part 1, silakan baca dulu ya. (Kembali ke Part 1)

the monster with 21 faces

Teror Sianida Dalam Produk Glico

Mei 1984

Entitas misterius yang kini sudah mulai menyebut dirinya The Monster With 21 Faces, terus melancarkan pesan-pesan teror pada Glico Company, polisi dan media. Semua surat berisikan pesan bernada sarkastik dengan menyertakan nama pengirim yang sama, yaitu The Monster with 21 Faces.

Dalam serbuan teror korespondensi ini, The Monster With 21 Faces melancarkan isu bahwasanya semua produk makanan Glico Company telah mereka bubuhi Potasium Sianida, zat beracun mematikan yang akan mengakibatkan ribuan kematian bagi siapapun yang mengonsumsinya. Isu ini menjadi alat untuk memeras Glico Company.

Akibatnya, Glico Company menarik semua produknya dari rak-rak toko yang tersebar di seantero Jepang. Hal ini tentu mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit bagi Glico Company.  Produk senilai 21 juta dollar Amerika ditarik dari pasaran, dan ironisnya jumlah tersebut tiga kali lebih besar dibandingkan permintaan tebusan ketika Katushisa Ezaki diculik yang pada akhirnya bisa meloloskan diri.

Karena teror tersebut, saham Glico pun jatuh, dan mengalami penurunan penjualan sebesar 130 juta dolar Amerika. Banyak karyawan yang terpaksa diberhentikan karena penurunan penjualan yang signifikan tersebut.

Namun kemudian baru diketahui bahwa teror berupa isu racun tersebut hanyalah tipuan. Tetapi ancaman dan teror The Monster with 21 Faces terus membayang-bayangi Glico Company.

Selama beberapa minggu setelahnya, kebakaran yang memberangus porperti-properti Glico Company terus terjadi. Seakan-akan The Monster with 21 Faces ada di mana-mana.

Teror Terhadap Perusahaan Makanan Lain

Morinaga

Setelah Glico, perusahaan makanan lainnya yang menjadi sasaran teror dan pemerasan adalah Morinaga Company.

Morinaga adalah perusahaan makanan ringan yang berbasis di Tokyo. Mungkin kita mengenalinya dengan produk susu Morinaga, yang merupakan produk dari anak perusahannya yaitu Morinaga Milk Industry.

Teror terhadap Morinaga pun dimulai dengan berdatangannya surat yang berisi teror-teror yang mirip dengan yang dialami oleh Glico.

Teror lewat surat terhadap Morinaga berisikan nada sarkastik yang sama, tata bahasa yang sama, dengan tulisan dari mesin tik yang diindikasi sama dengan surat teror yang diterima oleh Glico sebelumnya.

Surat-surat teror terhadap Morinaga tampak lebih mengerikan. Pernah ada satu surat yang meminta uang tebusan sebesar 400.000 dollar Amerika agar teror-teror terhadap Morinaga berakhir. Bahkan sepucuk surat tersebut disertai dengan 30 gram sianida di dalamnya. Ini menandakan bahwa The Monster with 21 Faces tidak segan-segan untuk melakukan hal paling buruk terhadap Morinaga.

Pada bulan Oktober 1984, sepucuk surat dikirim ke beberapa kantor berita Jepang. Tentu surat itu berasal dari entitas misterius The monster with 21 Faces, yang ditujukan kepada “Para Ibu di Seluruh Negeri”.

Surat itu berbunyi,

“Teruntuk para ibu di seluruh negeri. Pada musim gugur sekarang ini, selera makan tentu bertambah, dan makanan manis adalah pilihan tepat untuk memenuhi selera makan itu. Saat anda memikirkan makanan ringan yang manis, tentu Morinaga-lah jawabannya.

Kami menambahkan rasa khusus pada produk-produk Morinaga. Yaitu, rasa Potasium Sianida. Rasanya sedikit pahit, tapi tidak akan merusak gigi. Karena itu, belikanlah cemilan manis Morinaga untuk anak-anakmu.

Kami telah menyematkan tanda pada produk-produk Morinaga ini, bahwa produk tersebut mengandung racun. Kami telah menempatkan dua puluh kotak produk Morinaga tersebar di semua toko-toko dari Hakata sampai ke Tokyo.”

Polisi langsung bergerak cepat. Mereka menggeledah toko-toko di sepanjang Hakata sampai ke Tokyo. Dan, tidak seperti Glico yang hanya sekadar isu belaka, ternyata produk-produk Morinaga yang tidak ditarik benar-benar mengandung racun!

Lusinan kotak produk Morinaga seperti Morinaga Choco Balls dan Angel Pies benar-benar mengandung zat mematikan potasium sianida sebesar 0,2 gram.

Mengetahui hal tersebut, polisi semakin melakukan penggeledahan yang ekstensif terhadap produk-produk Morinaga. Puluhan ribu polisi ditugaskan untuk memeriksa semua produk Morinaga yang tersebar di toko-toko retail.

Bukan isapan jempol belaka, pada kemasan produk Morinaga yang telah dibubuhi racun tersebut, tertembel sebuah label yang bertuliskan:

“Bahaya: mengandung racun. Anda akan mati jika memakan ini. The Monster with 21 Faces.”

Selama beberapa minggu setelah itu, Morinaga banyak mendapat serangan teror melalui surat. Sebuah surat lain berbunyi:

“Morinaga adalah yang terbaik dalam produk makanan ringan. Sekarang rasanya bertambah enak karena kami menambahkan rasa baru: rasa sianida.”

Dalam surat tersebut tidak dijelaskan mengenai label “Bahaya” seperti surat sebelumnya. Sehingga membuat polisi semakin kelabakan untuk memeriksa setiap produk Morinaga yang sudah tersebar di pasaran.

Teror demi teror yang sangat meresahkan ini mengakibatkan saham Morinaga turun drastis. Sampai-sampai pemerintah Jepang turun tangan untuk mendorong pihak swasta untuk membeli saham Morinaga untuk membantu Morinaga tetap bertahan.

Saham Morinaga turun drastis mencapai 60%, dan terpaksa memberhentikan 450 orang karyawannya.

Beberapa bulan kemudian, polisi menemukan produk-produk Morinaga yang sudah tercemar racun di Osaka, Tokyo, Kyoto, Aichi dan Hyogo. Ini menunjukkan bahwa The Monster with 21 Faces tidak hanya menyebar isu dan gertakan belaka.

House Food

Setelah Glico dan Morinaga, salah satu perusahaan bernama House Food juga mengalami pemerasan dari The Monster with 21 Faces.

House Food adalah perusahaan yang terkenal dengan produknya seperti, tahu, kari, makanan ringan, minuman ringan, dan mie.

Pada November 1984, The Monster with 21 Faces mulai “menyerang” House Food.

Diawali dengan surat yang berbunyi,

“Kami adalah dalang dari segala yang menimpa Glico dan Morinaga. Jika anda tidak ingin bernasib serupa seperti mereka, maka tebuslah dengan uang. Jika anda tidak merespon, kami akan meracuni produk anda.”

Sepucuk surat tersebut disertai dengan sejumlah produk kari buatan House Food yang sudah dicemari racun oleh The Monster with 21 Faces. Simbol dari sebuah peringatan, jika tuntutan mereka tidak dipenuhi maka House Food akan menanggung segala akibatnya.

Setelah berminggu-minggu mengalami segala macam teror, House Food akhirnya memutuskan untuk memberi uang sejumlah 100 juta yen yang diminta oleh The Monster with 21 Faces.

The Monster with 21 Faces memberikan petunjuk dan arahan kapan, di mana dan bagaimana dalam urusan serah terima uang perasan tersebut. Yaitu pada tanggal 14 November 1984, berlokasi di Otsu (prefektur Shiga), dan lokasi penyerahannya ditandai dengan bendera putih di sebuah tempat sampah.

Polisi melibatkan diri dalam kesepakatan tersebut. Rencananya polisi akan membekuk The Monster With 21 Faces ketika urusan serah terima uang. Polisi membuntuti mobil van yang digunakan oleh beberapa karyawan House Food yang akan meletakan uang tebusan di sebuah tempat sampah yang ditandai dengan bendera putih yang diasmpirkan di atas tutup tempat sampah tersebut.

Tetapi, ketika para karyawan House Food sudah tiba di lokasi, bendera putih sebagai tanda sudah tergeletak di atas tanah. Itu pertanda bahwa kesepakatan dibatalkan. The Monster with 21 Faces tampaknya sudah mengetahui rencana polisi.

Dalam peristiwa itu, polisi mencurigai seorang pria yang dilihatnya ketika menuju ke area kesepakatan. Namun pria itu melarikan diri ketika polisi mendekatinya. Pria itu sempat dikenali wajahnya oleh petugas polisi yang kemudian mereka sebut sebagai : Pria Bermata Rubah.

Selain mencurigai Pria Bermata Rubah,  polisi pun menaruh kecurigannya pada sebuah kendaraan yang berada di area kesepakatan The Monster with 21 Faces dengan House Food tadi.

Kendaraan mencurigakan itu sudah terlihat polisi satu jam sebelum waktu yang pengantaran uang ke dalam tempat sampah. Kendaraan itu terparkir 50 meter dari tempat sampah yang disepakati.

Polisi kemudian mendekatinya untuk membuktikan apakah kecurigaan mereka benar atau tidak. Ketika didekati terlihat pengemudinya adalah seorang pria kurus berusia 40-an, yang langsung menancap gas untuk melarikan diri.

Polisi mengejar kendaraan mencurigakan itu, tetapi mulai kehilangan jejak. Kemudian polisi menemukan kendaraan itu terparkir begitu saja di wilayah Kusatsu, pengemudinya entah ke mana. Ketika polisi mengidentifikasi kendaraan tersebut, diketahui bahwa itu adalah kendaraan curian.

Dalam kendaraan sejenis wagon tersebut, polisi menemukan sebuah radio polisi di dalamnya. Dengan kata lain, radio polisi sudah dibajak oleh The Monster with 21 Faces. Inilah sebabnya polisi selalu kalah dua langkah dari The Monster with 21 Faces. Karena segala rencana dan komunikasi mereka sudah diketahui terlebih dahulu oleh para pelaku.

Polisi kemudian berspekulasi bahwasanya The Monster with 21 Faces tidak berniat untuk mengambil uang yang diserahkan oleh House Food. Alih-alih uang, The Monster with 21 Faces justru sedang mengamati respon polisi untuk mempelajari bagaimana taktik penyamaran pelaku di kemudian hari.

Fijiya Company

Pada Desember 1984, The Monster with 21 Faces mulai membidik perusahaan lain, yaitu Fijiya. Fijiya adalah perusahaan di bidang ritel dan restoran.

Memasuki awal tahun 1985, The Monster with 21 Faces menuntut sebuah tuntutan yang unik. Fijiya Company diminta untuk menyebarkan uang dari lantai teratas dua gedung pencakar langit di Tokyo dan Osaka.

Pada bulan Januari 1985, polisi mulai menyebarkan sketsa wajah dari Pria Bermata Rubah yang diduga sebagai bagian dari entitias The Monster with 21 Faces.

the mosnter with 21 faces pelaku
Pria Bermata Rubah

Bulan berikutnya, yaitu Februari 1985, The Monster With 21 Faces juga mulai membidik dua perusahaan Jepang besar lain yaitu Meiji dan Lotte. Menjelang Hari Valentine ketika orang-orang membagikan coklat satu sama lain, akan menjadi kematian massal yang menggemparkan.

Akhir Teror The Monster with 21 Faces

Selama periode 1984 sampai 1985, polisi Jepang terus disibukkan dengan urusan The Monster with 21 Faces. Meskipun sketsa Pria Bermata Rubah telah dibuat, dan kejadian pengejaran kendaraan wagon tadi, namun penyelidikan polisi sejatinya jauh dari kata titik terang.

Karena itu, salah satu surat kabar Jepang bernama Yomiuru Shinbun sempat membuat berita dengan headline:

“Kami tidak ingat kasus manapun selain kasus ini yang membuat polisi terlihat bodoh.”

Publik mulai meragukan kredibilitas polisi karena sudah nyaris setahun keresahan yang dibuat The Monster with 21 Faces tidak kunjung usai. Masyarakat mulai menyerukan untuk mengganti para pejabat polisi yang dianggap gagal mengusut kasus ini.

Musim panas tahun 1985, Shoji Yamamoto, Inspektur Polisi prefektur Shiga diberhentikan jabatannya dan dipindahtugaskan ke Badan Kepolisian Nasional. Shoji Yamamoto dianggap gagal karena tidak berhasil menangkap seseorang yang dicurigai pelaku yang mengendarai kendaraan wagon tadi.

Yamamoto Shoji telah menyadari kegagalan tersebut, dan meminta maaf kepada publik karena para petugasnya tidak mampu menahan pelaku.

Setelah pemberhentian tersebut, tampaknya merupakan hal yang berat bagi Shoji Yamamoto. Selang beberapa hari setelah jabatannya dicopot, tepatnya pada tanggal 7 Agustus 1985, Shoji Yamamoto menyirami dirinya sendiri dengan minyak tanah, dan membakar diri di halaman belakang rumahnya. Ia bunuh diri.

Lima hari kemudian setelah itu, pada tanggal 12 Agustus 1985, The Monster with 21 Faces mengirim surat kembali pada media massa. Tanpa disangka itu adalah surat terakhir dari mereka. Begini bunyinya.

“Yamamoto inspektur polisi dari Shiga sudah mati. Betapa bodohnya dia! Kami tidak punya teman atau tempat persembunyian di Shiga. Seharusnya bukan dia yang mati. Seharusnya Yoshino atau Shikata yang mati. Apa yang mereka lakukan selama satu tahun lima bulan ini?

Jangan biarkan orang jahat seperti kami lolos begitu saja. Dan masih banyak orang bodoh yang ingin meniru kami. Yamomoto mati sebagai seorang pria. Jadi kami memutuskan untuk berbela sungkawa kepadanya.

Jadi mulai saat ini, kami memutuskan untuk menghentikan segala macam teror ini. Kami memutuskan untuk menghentikan penyiksaan terhadap perusahaan pembuat makanan. Jika kemudian masih ada yang melakukan pemerasan terhadap perusahaan, kami tegaskan itu bukan kami lagi, tetapi orang bodoh yang meniru kami.

Kami adalah orang jahat. Kami memiliki banyak hal untuk dilakukan selain hanya mengganggu perusahaan makanan. Sangat menyenangkan menjalani hidup sebagai penjahat.”

-The Monster with 21 Faces-

Setelah surat itu tiba, kemudian entitas misterius yang menamai dirinya The Monster With 21 Faces pun lenyap, menghilang, dan tidak pernah terungkap siapa mereka sebenarnya.

Motif The Monster With 21 Faces

Tidak ada motif yang jelas perihal teror yang dilakukan oleh entitas misterius ini. Sekilas motif mereka hanyalah uang. Namun setiap uang tebusan disepakati untuk diserahkan, komplotan mereka tidak pernah hadir untuk mengambil uang tersebut.

Atau mungkin motif politik? The Monster with 21 Faces dikait-kaitkan dengan kelompok ekstrimis sayap kiri atau sayap kanan, bahkan dihubungkan dengan Korea Utara yang ingin mengacaukan perekonomian Jepang. Namun semua dugaan tersebut tidak pernah jelas juga.

Pada akhirnya, polisi mempertimbangkan bahwasanya motif The Monster with 21 Faces tidak didorong oleh kepentingan politik atau uang. Kemungkinan, yang mendorong mereka untuk melakukan serangkaian teror terhadap beberapa perusahaan makanan terbesar di Jepang, dipicu oleh dendam pribadi.

Manabu Miyazaki?

Setelah polisi merilis sketsa wajah “Pria Bermata Rubah”, pada Januari 1985, polisi menyebut satu nama yang diduga adalah pelaku, yaitu Manabu Miyazaki.

Selain memiliki deskripsi wajah yang sama dengan sketsa, pria ini pun memiliki latar belakang hidup yang berkolerasi dengan motif teror “The Monster with 21 Faces.”

Kira-kira satu dekade sebelumnya, yaitu pada tahun 1975-1976, Manabu Miyazaki pernah terlibat perselisihan masalah perburuhan dengan Glico Company.

Manabu Miyazaki adalah orang terdepan yang mengkritik Glico Company. Seperti, menunjukkan bagaimana Glico membuang limbah industri sembarangan yang dapat mencemari air konsumsi untuk publik.

Polisi juga memiliki keterangan bahwasanya Manabu Miyazaki adalah salah satu pemimpin Yakuza. Dari awal polisi sudah mencurigai organisasi Yakuza sebagai dalang di balik teror The Monster With 21 Faces.

Tapi, tidak ada bukti apapun yang dapat membenarkan dugaan tersebut. Karena Manabu Miyazaki memiliki alibi yang kuat bahwa ia benar-benar tidak terlibat dalam The Monster with 21 Faces. Sehingga ia pun dinyatakan tidak bersalah.

Manabu Miyazaki menerbitkan sebuah buku berjudul Toppamono. Buku yang membahas tentang bagaimana dirinya menjadi satu-satunya tersangka di salah satu kasus paling menggeparkan di Jepang.

Kasus Resmi Ditutup

Kasus ini belum bisa terpecahkan. Sampai kasus ini resmi ditutup pada 13 Februari 2000. Seminggu sebelumnya, diadakan konferensi pers di markas besar Badan Kepolisian Nasional Jepang.

Dalam konferensi pers tersebut, Yuji Aiura, seorang pejabat kepolisian mengakui kekalahan pihak kepolisian di tangan entitas misterius ini, yang telah membingungkan polisi selama lebih dari 15 tahun.

Setsuo Tanaka, seorang Kepala Polisi pun menambahkan dalam konferensi pers tersebut, dengan menyatakan:

“Sangat disesalkan bahwa kami tidak bisa menangkap para tersangka. Sangat penting menjadikan kasus ini sebagai pelajaran bagi kami ke depannya.”


Demikian kisah dari The Monster with 21 Faces. Entitas misterius yang sanggup membuat perusahaan-perusahaan besar merugi di kurun waktu 1984-1985. Di balik kejahatan yang dibuat entitas ini, terdapat pernyataan yang lebih penting dari sekadar uang dan kepentingan politik. Apakah itu? Entahlah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.