Culture

Akutagawa Ryunosuke, Penulis dengan Karya Mendalam dengan Jiwa yang Kelam

Akutagawa Ryunosuke adalah salah satu penulis cerita pendek yang dianggap paling berbakat di dunia sastra Jepang. Karya-karyanya tersebar ke penjuru dunia dan banyak meraih penghargaan. Namun, di balik semua pencapaian tersebut, jiwa Akutagawa hancur, dan harus berakhir dengan kematian yang tragis.

Siapa Akutagawa Ryunosuke sebenarnya? Minasan, mari kita selami kehidupan singkat dari seorang penulis Jepang ini, dengan kisah-kisah dalam cerita pendeknya yang mendalam sekaligus kelam.

Kehidupan Awal Akutagawa Ryunosuke

akutagawa ryunosuke

Lahir pada 1 Maret 1892 di Kyobashi, Tokyo. Ryunosuke adalah putra sulung dari seorang pedagang susu Toshizo Niihara dan istrinya Fuku Niihara. 

Uniknya, putra sulung mereka lahir di tahun 1892 yaitu tahun naga. Bulan Maret dianggap juga bulan naga. Jam kelahirannya pun diyakini sebagai jam naga yaitu jam 8 pagi. Semua kebetulan inilah yang memunculkan nama Ryunosuke, yang berarti “anak naga”.

Tujuh bulan setelah Ryunosuke lahir, tragedi menimpa tiba-tiba. Sang ibu, Fuku Niihara menderita penyakit mental atau gangguan jiwa. Karena penyakit tersebut, sang ibu dianggap tidak layak mengasuh Ryunosuke yang masih bayi.

Dengan demikian, Ryunosuke diadopsi dan dibesarkan oleh paman dari pihak ibunya yang bernama Akutagawa Dosho. Nama Akutagawa pun dilekatkan pada Ryunosuke sejak saat itu, jadilah nama yang dikenal sampai sekarang, yaitu Akutagawa Ryunosuke.

Sementara itu, sang ibu yang menderita penyakit mental akhirnya meninggal saat Ryunosuke berusia 11 tahun. Sedangkan sang ayah, tidak banyak keterangan yang menjelaskan tentangnya lebih detail.

Mulai Bersentuhan dengan Karya Sastra

Setelah Ryunosuke resmi diangkat anak oleh keluarga Akutagawa yang terpandang, Ryunosuke mulai bersentuhan dengan karya-karya sastra klasik.

Ryunosuke mulai membaca karya-karya sastra klasik Cina, karya-karya Mori Ogai dan karya-karya Natsume Sooseki yang menjadi bahan-bahan bacaannya.

Seakan-akan seperti ditakdirkan menjadi seorang penulis, pada masa sekolah menengah, Ryunosuke dikelilingi oleh teman-temannya yang kelak akan menjadi penulis sukses. Nama-nama seperti, Kume Masao, Kan Kikuchi, Tsuchiya Bunmei, dan juga Yuzo Yamamoto.

Meskipun ketertarikan pada dunia baca dan menulis sudah merasuki diri Ryunosuke, namun Ryunosuke baru benar-benar mulai menulis setelah ia masuk ke Universitas Kekaisaran Tokyo pada tahun 1913 jurusan sastra Inggris.

Membangun Keluarga

Beberapa tahun setelahnya Ryunosuke memiliki keinginan untuk menikahi teman semasa kecilnya bernama Yayoi Yoshida. Namun keinginan Ryunosuke tidak menjadi kenyataan karena keluarga Akutagawa tidak merestui hubungan mereka berdua. Cinta Ryunosuke pun kandas.

Namun demikian, Ryunosuke akhirnya menikahi seorang perempuan bernama Fumi Tsukamoto pada tahun 1918. Dari pernikahan tersebut Ryunosuke memiliki tiga orang anak, yaitu Akutagawa Hiroshi, Akutagawa Takashi, dan Akutagawa Yasushi.

Hiroshi kemudian hari menjadi seorang aktor. Takashi kelak menjadi seorang komposer, sedangkan Yasushi menemui ajalnya di usia muda ketika melaksanakan wajib militer di Birma.

Meskipun Ryunosuke mulai menulis sejak masa kuliahnya, namun ia tidak sungguh-sungguh mendedikasikan dirinya menjadi seorang penulis. Sempat ia menjadi seorang guru bahasa Inggris namun profesinya tersebutdirasa kurang cocok dengannya.

Setelah memutuskan untuk keluar dari profesinya sebagai guru bahasa Inggris, Ryunosuke akhirnya memutuskan untuk menjadi penulis penuh waktu dan mendedikasikan dirinya dalam menulis selama sisa hidupnya.

Jiwa yang Kelam

Pikiran artistik Ryunosuke mulai lelah dan ia merasa terus dihantui oleh sejarah hidupnya sendiri yang ia anggap kelam.

Mengetahui bahwa ibunya mengidap penyakit mental terus mengganggu pikirannya, yang membuat ia tidak yakin dengan dirinya sendiri, mudah bingung, gelisah, dan ditambah mengidap beberapa penyakit yang mulai menjangkiti fisiknya, salah satunya insomnia yang sangat parah.

Setelah menyelesaikan karyanya yang berjudul Zoku Saiho no Hito, pada dini hari tanggal 24 Juli 1927, Ryunosuke bunuh diri dengan cara meminum obat tidur vermol dan barbital dalam dosis yang sangat tinggi. Ia meninggal di usia yang masih terbilang muda, yaitu 35 tahun.

Spekulasi Kematian Akutagawa Ryunosuke

Motif  di balik bunuh diri Akutagawa Ryunosuke masih menjadi subjek perdebatan dan spekulasi. Ia meninggalkan beberapa surat catatan terakhir yang mencerminkan perasaan bingung dan tekanan mental yang ia alami, tetapi tidak memberikan penjelasan yang pasti mengapa ia memilih untuk mengakhiri hidupnya

Beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi keputusan tragisnya tersebut meliputi:

  • Depresi: Akutagawa dikenal menderita depresi sepanjang hidupnya. Kesehatan mental yang buruk ini dapat menjadi faktor utama dalam keputusannya untuk bunuh diri.
  • Konflik Batin: Beberapa karyanya mencerminkan konflik batin yang mendalam, dan ia mungkin merasa terjebak dalam pertentangan antara nilai-nilai tradisional Jepang dan pengaruh modernisme.
  • Tekanan Berkarya: Sebagai penulis terkenal, Akutagawa mungkin mengalami tekanan untuk terus menciptakan karya-karya yang memenuhi harapan penggemar dan kritikus sastra.
  • Isolasi dan Kesendirian: Kehidupan seorang penulis dapat menjadi sangat kesepian dan terisolasi. Hal ini dapat meningkatkan perasaan depresi dan isolasi sosial.
  • Masalah Pribadi: Beberapa catatan terakhirnya menunjukkan masalah-masalah pribadi yang tidak diungkapkan secara rinci.

Penghargaan Akutagawa (Akutagawa Prize)

Penghargaan Akutagawa (Akutagawa Prize) adalah penghargaan sastra yang sangat bergengsi di Jepang yang diperuntukkan kepada penulis sastra Jepang yang menunjukkan potensi dan prestasi luar biasa dalam karyanya. 

Penghargaan ini dinamai berdasarkan nama Akutagawa Ryunosuke, yang merupakan salah satu figur sastra paling berpengaruh dalam sejarah sastra Jepang.

Penghargaan Akutagawa pertama kali diberikan pada tahun 1935 oleh Jurnal Bungei Shunjū, sebuah majalah sastra terkemuka di Jepang. Setiap tahun, dua penghargaan diberikan: satu pada bulan Januari dan satu pada bulan Juli. 

Penghargaan ini memilih karya sastra pendek (biasanya cerita pendek atau novella) yang dianggap paling berpengaruh dan menjanjikan dalam sastra Jepang. Pemenang penghargaan ini menerima penghargaan uang dan tentu mendapat sorotan besar di dunia sastra Jepang.

Banyak penulis terkenal Jepang telah menerima Penghargaan Akutagawa dan penerima penghargaan ini sering dianggap sebagai penulis sastra yang menjanjikan yang akan terus berkontribusi pada sastra Jepang. Beberapa di antaranya seperti Yukio Mishima, Kenzaburo Oe, Haruki Murakami dan lainnya.

Seiring berjalannya waktu, penghargaan ini telah menjadi indikator penting dalam dunia sastra Jepang yang menyoroti penulis-penulis muda yang berbakat dan berpotensi.

Karya-Karya Akutagawa Ryunosuke Paling Terkenal

Karya-karya Akutagawa sering kali menggabungkan elemen-elemen sastra klasik Jepang dengan modernisme, menciptakan kisah-kisah yang kompleks dan mendalam. 

Berikut ini adalah karya-karya Akutagawa Ryunosuke yang paling terkenal, antara lain:

1. “Rashomon” (羅生門)

Cerita pendek ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1915 dan telah menjadi salah satu karya paling terkenal dan berpengaruh dalam kumpulan karya Akutagawa Ryunosuke. “Rashomon” kemudian diadaptasi menjadi film oleh sutradara legendaris Jepang Akira Kurosawa pada tahun 1950.

Cerita “Rashomon” menggambarkan peristiwa yang terjadi di dalam gerbang Rashomon, yang merupakan gerbang masuk ke Kyoto pada abad ke-12. 

Cerita dimulai dengan hujan deras yang mengguyur Kyoto, sang tokoh utama yaitu seorang penulis yang sedang mencari tempat perlindungan dari hujan menemukan tempat berteduh di bawah gerbang Rashomon yang hancur.

Di bawah gerbang tersebut, penulis tersebut bertemu dengan seorang pria gila yang terlihat seperti pengemis. Pria gila ini, yang disebut sebagai “orang gila dari Rashomon,” memiliki penampilan yang sangat memprihatinkan dan terlihat sangat menderita.

Penulis tersebut kemudian bertemu dengan seorang penjagal, yang tampak terkejut ketika dia menyadari bahwa penulis tersebut berencana untuk menulis sebuah cerita berdasarkan apa yang dia dengar di bawah gerbang.

Cerita yang disampaikan oleh penjagal tersebut adalah kisah tragis tentang seorang samurai yang tewas dan seorang wanita yang menjadi seorang janda muda. Namun, ketika penulis tersebut mendengar cerita dari sudut pandang wanita tersebut, ceritanya berbeda secara signifikan. Begitu juga ketika dia mendengar versi cerita dari sudut pandang seorang saksi mata lainnya.

Dalam “Rashomon,” Akutagawa Ryunosuke mengeksplorasi tema subjektivitas. Cerita mengilustrasikan bagaimana berbagai individu dapat memiliki pandangan yang berbeda tentang suatu kejadian, dan bagaimana kebenaran absolut seringkali tidak dapat dijangkau. 

Rashomon adalah karya yang mencerminkan kompleksitas manusia dan pandangan subjektifnya terhadap kenyataan.

2. “Yabu no Naka” (藪の中)

“Yabu no Naka” adalah sebuah cerita pendek yang ditulis oleh Akutagawa Ryunosuke yang rilis pada tahun 1921 dan merupakan salah satu karya sastranya yang paling terkenal.

Cerita “Yabu no Naka” (Dalam Hutan) mengisahkan tentang seorang pemuda yang tengah melakukan perjalanan melalui hutan lebat di suatu pegunungan.

Ketika dia berada di tengah hutan yang sunyi, pemuda ini mendapati dirinya dihadapkan pada situasi yang sangat aneh dan menakutkan. Dia bertemu dengan seorang pria tua yang tampaknya sedang menggali lubang di dalam hutan tersebut. 

Pria tua itu kemudian meminta pemuda untuk membantu menggali lubang itu. Kisah ini menggambarkan perasaan ketidakpastian dan ketakutan yang membayangi pemuda saat dia membantu pria tua tersebut menggali lubang misterius. 

Alur cerita yang penuh dengan ketegangan ini mengeksplorasi tema-tema seperti konflik batin, ketidakpastian, dan ketakutan. Cerita ini menjadi salah satu karya sastra terkenal Akutagawa yang menciptakan atmosfer misterius yang kuat.

“Yabu no Naka” adalah contoh klasik dari gaya penulisan Akutagawa yang menggabungkan elemen-elemen sastra Jepang klasik dengan pendekatan modern. Karya ini juga mencerminkan kemampuan Akutagawa untuk menghadirkan cerita yang menggugah pikiran dan memaksa pembaca untuk merenungkan makna-makna yang lebih dalam.

3. “Kappa”

“Kappa” adalah salah satu cerita pendek pertama kali rilis pada tahun 1927, menjelang akhir hidup Akutagawa.

Cerita “Kappa” berlangsung di dunia fiksi yang sangat aneh dan fantasional. Kisahnya berkisah tentang seorang penulis yang menemukan dirinya terperangkap di dunia Kappa, makhluk dalam mitos Jepang yang dikenal hidup di sungai dan danau. 

Penulis ini berinteraksi dengan makhluk-makhluk Kappa yang aneh dan mengeksplorasi kehidupan dan budaya mereka. Selama petualangannya di dunia Kappa, penulis ini menemui berbagai konflik dan situasi yang konyol sekalius menggelikan.

“Kappa” adalah contoh karya sastra Jepang yang sangat unik dan penuh dengan satir sosial. Cerita ini menggunakan dunia fiksi yang fantastis untuk mengkritik masyarakat Jepang pada masanya, termasuk norma-norma sosial dan perilaku manusia. 

Sambil menyelami kehidupan makhluk Kappa, Akutagawa menghadirkan kritik tajam terhadap budaya dan kebiasaan manusia.

Cerita ini juga menunjukkan ciri khas dari penulisan Akutagawa, yaitu kemampuannya untuk menggabungkan elemen-elemen sastra klasik Jepang dengan pendekatan modern yang inovatif. 

“Kappa” menjadi salah satu cerita pendek paling terkenal dan ikonik dalam sastra Jepang yang terus menginspirasi pembaca dan peneliti hingga saat ini.

4. “Hana” (鼻)

“Hana” pertama kali diterbitkan pada tahun 1916 dan merupakan salah satu contoh karya sastra Jepang yang menonjolkan penggunaan bahasa yang indah dan deskriptif untuk menggambarkan perasaan dan konflik karakter utamanya. 

Dalam cerita ini, Akutagawa Ryunosuke menciptakan gambaran yang kuat tentang perasaan dan psikologi karakternya, sehingga cerita ini memiliki daya tarik yang mendalam bagi pembaca yang ingin merenungkan tentang kompleksitas hubungan antar manusia.

Cerita “Hana” mengisahkan tentang seorang pemuda miskin yang tinggal di sebuah desa kecil. Pemuda ini sangat tergila-gila dengan seorang gadis cantik yang tinggal di desa tersebut, dan ia menjadi terobsesi dengan kecantikan gadis tersebut. 

Namun, ketika dia mendengar bahwa gadis itu akan menikah dengan seorang pemuda kaya dari kota besar, pemuda miskin tersebut merasa putus asa.

Alur cerita ini mengeksplorasi tema-tema seperti cinta yang tidak terbalas, kemiskinan, dan ketidaksetaraan sosial. Cerita ini juga mencerminkan keprihatinan Akutagawa terhadap nasib individu-individu yang terpinggirkan dalam masyarakat Jepang pada masanya.

5. “Kumo no Ito” (蜘蛛の糸)

“Kumo no Ito,” yang secara harfiah berarti “Benang Laba-laba,” pertama kali diterbitkan pada tahun 1918 dan telah menjadi salah satu karya Akutagawa Ryunosuke yang banyak menuai pujian dan dipelajari di sekolah-sekolah di Jepang.

Cerita “Kumo no Ito” mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Yoshihide, seorang pemain biwa (alat musik seni tradisional Jepang) yang miskin. 

Yoshihide mencintai seorang wanita bernama Osei, tetapi dia juga diperbudak oleh seorang tuan tanah yang kejam. Yoshihide hidup dalam kemiskinan dan merasa putus asa karena tidak bisa memberikan kebahagiaan kepada Osei.

Kisah ini menggambarkan perasaan cinta, keputusasaan, dan ketidakadilan sosial. Namun, apa yang membuat cerita ini sangat istimewa adalah bagaimana Akutagawa menggambarkan perasaan-perasaan ini dengan indah dan mengharukan. 

Selain itu, cerita ini juga terkenal karena mengandung makna simbolis yang mendalam dan berhubungan dengan mitologi Jepang.

6. “Jigokuhen” (地獄変)

“Jigokuhen” pertama kali diterbitkan pada tahun 1918. Dalam bahasa Inggris, judul ini sering diterjemahkan menjadi “Hell Screen” atau “The Hell Screen.” 

Karya Akutagawa Ryunosuke yang satu ini dianggap mendapat pengaruh sastra Barat, terutama pengaruh Edgar Allan Poe, yang terlihat dari nuansa gelap dan misterius dalam ceritanya.

Cerita ini mengisahkan tentang kehidupan seorang pelukis terkenal bernama Yoshihide, yang dipekerjakan oleh seorang penguasa yang sombong dan brutal untuk membuat lukisan besar yang menggambarkan adegan neraka. 

Yoshihide adalah seorang seniman yang brilian tetapi eksentrik, dan dia mengalami konflik batin saat mencoba menciptakan karya seni yang sesuai dengan kemauan penguasa. 

Proses pembuatan lukisan ini menjadi semakin terganggu oleh obsesi dan ketidakseimbangan psikologis Yoshihide, yang akhirnya membawanya menuju jalan yang gelap dan tragis.


Demikian Minasan, profil singkat dan hal-hal terkait penulis cerita pendek asal Jepang bernama Akutagawa Ryunosuke.

Dalam dunia sastra, Akutagawa Ryunosuke adalah sosok yang akan selalu diingat. Meskipun hidupnya terbilang singkat, namun karya-karyanya yang mendalam telah meninggalkan warisan yang kuat dalam sastra Jepang bahkan dunia internasional.

Bagi Minasan yang ingin tahu tokoh-tokoh Jepang yang berpengaruh lainnya bisa terus pantau artikel lainnya di pandaikotoba.net, ya. Dan jangan lupa untuk follow dan subscribe Instagram Pandai Kotoba dan Youtube Pandai Kotoba.

Mata ne~

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *