Culture

Tradisi Ohaguro, Ketika Gigi Hitam Adalah Sebuah Kecantikan

Semua orang pasti berpikiran bahwa salah satu hal yang menjadi standar kecantikan adalah gigi yang putih bersih. Namun, siapa sangka bahwa zaman dahulu di Jepang, banyak perempuan Jepang yang rela menghitamkan gigi demi sebuah standar kecantikan saat itu.

Tradisi menghitamkan gigi ini disebut tradisi Ohaguro.

Ya, gigi yang hitam pekat pernah menjadi standar kecantikan perempuan Jepang pada zaman dahulu. Jadi, jika Minasan tak sengaja masuk ke dalam mesin waktu dan terlempar ke zaman Kofun di Jepang, bersiap-siaplah terkejut karena semua perempuan berusaha cantik dengan menghitamkan giginya dengan melakukan Ohaguro.

Kali ini, Pandai Kotoba akan mengulas dengan singkat tradisi Ohaguro yang pernah hidup di Jepang berabad-abad lalu. Yuk, Minasan kita langsung simak!

Apa itu Tradisi Ohaguro?

tradisi ohaguro

Tradisi Ohaguro merupakan sebuah praktik kuno yang berasal dari Jepang, di mana gigi seseorang diwarnai menjadi hitam. Ohaguro secara harfiah berarti “gigi hitam” dalam bahasa Jepang. Pada awalnya, ohaguro diyakini berasal dari zaman Jomon (10.000 SM hingga 300 SM), di mana diyakini bahwa praktik ini dimaksudkan untuk mengusir roh jahat pada awal kemunculannya.

Dalam sejarahnya, Ohaguro kemudian berkembang menjadi simbol status sosial, kecantikan, dan kedewasaan bagi perempuan Jepang. Pada masa lalu, gigi yang diwarnai hitam dianggap sebagai simbol kecantikan dan kesopanan. Ohaguro  sering kali dihubungkan dengan usia siap menikah, serta menjadi cara bagi perempuan Jepang untuk mengekspresikan kematangan pribadi mereka sebagai seorang perempuan dewasa.

Asal Usul Tradisi Ohaguro

Tradisi Ohaguro diyakini berasal dari zaman kuno, tepatnya pada zaman Jomon (10.000 SM hingga 300 SM), dan terus berkembang seiring berjalannya waktu. Pada awalnya, Ohaguro dilakukan dengan tujuan untuk mengusir roh jahat dan melindungi kesehatan dari penyakit.

Pada periode Heian (794–1185 M), tradisi Ohaguro mulai diadopsi oleh kelas atas sebagai simbol status sosial, kecantikan, dan kedewasaan. Gigi yang diwarnai hitam dianggap sebagai tanda kemurnian dan kecantikan yang dihargai dalam masyarakat. Ohaguro menjadi suatu tanda bahwa seorang wanita telah mencapai usia pernikahan dengan kepribadian yang matang.

Selama periode Edo (1603–1868 M), tradisi Ohaguro semakin diterima secara luas di kalangan masyarakat, terutama di kalangan samurai kelas atas dan keluarga bangsawan. Namun, seiring dengan modernisasi Jepang pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Ohaguro mulai dilarang dan kehilangan popularitasnya. Praktik ini tidak lagi dianggap sebagai keharusan dalam definisi kecantikan dan kesopanan.

Mengapa Warna Hitam?

Mengapa warna hitam yang dipilih? Tidak biru atau hijau atau warna pelangi agar semarak? Beberapa teori menyatakan bahwa pada zaman dahulu benda-benda hitam pekat dianggap memiliki keindahan dan kecantikan. Sehingga orang-orang memilih untuk mewarnai giginya menjadi hitam dibandingkan memutihkannya seperti yang dilakukan orang-orang di zaman sekarang.

Tak hanya perempuan, laki-laki yang sudah berusia sekitar 15 tahun akan mewarnai gigi mereka dengan warna hitam untuk menunjukkan bahwa mereka telah menjadi dewasa. Dengan kata lain, tradisi Ohaguro pun bisa dibilang tradisi kedewasaan, layaknya Seijin no Hi pada zaman sekarang.

Dahulu, tepatnya pada akhir periode Heiang (749 hingga 1185 M), tradisi Ohaguro pun dilakukan oleh para bangsawan dan golongan orang kaya di Jepang secara umum. Jadi, tidak hanya dipandang sebagai tradisi kedewasaan saja, tapi sudah menjadi bagian dari cara mempercantik diri yang dilakukan hampir setiap hari.

Pelarangan Tradisi Ohaguro

Memasuki periode Edo Jepang (1603 hingga 1868), tradisi ohaguro sering dilakukan oleh  perempuan yang sudah menikah dan perempuan yang berprofesi sebagai geisha. 

Seperti yang kita ketahui, pada akhir zaman Edo dan awal zaman Meiji, Jepang mulai membuka diri dari isolasi mereka dan mulai banyak didatangi oleh orang-orang asing dengan membawa pengaruh Barat ke budaya Jepang. 

Orang-orang asing tersebut terkejut melihat perempuan-perempuan Jepang yang bergigi hitam dan mengira bahwa orang Jepang tidak memelihara gigi mereka dengan baik sehingga giginya busuk sampai berwarna hitam seperti yang terlihat.

Kemudian orang asing pun tahu bahawasanya gigi hitam itu dilakukan dengan sengaja karena sebuah tradisi yang disebut tradisi ohaguro. Orang asing pun bertanya-tanya mengapa perempuan Jepang mau mengotori gigi mereka hingga berwarna hitam seperti itu? Teori mengenai alasan tradisi Ohaguro mulai bermunculan berdasarkan pengamatan Barat ketika itu.

Teori pertama yang berasal dari masa pertukaran budaya Jepang dan budaya asing menyatakan bahwa tradisi ohaguro dilakukan untuk mencegah perempuan Jepang berselingkuh dari suaminya. Perempuan bergigi hitam jadi terlihat tidak menarik sehingga kemungkinan pria lain tertarik padanya semakin tidak mungkin. 

Namun para ahli ilmu sosial Jepang menepis pandangan Barat tersebut, pasalnya tradisi Ohaguro memang dilakukan sebagai bagian dari tradisi kedewasaan seseorang dan merupakan standar kecantikan Jepang sejak zaman dahulu kala.

Seiring berjalannya waktu, tradisi Ohaguro dilarang ketika Jepang masuk periode Meiji pada tahun 1870. Namun begitu, jika Minasan melihat di film-film lawas atau di tempat para geisha dan maiko berada, Minasan masih bisa melihat perempuan bergigi hitam sebagai bagian dari standar kecantikan Jepang pada masa lalu.

Cara Menghitamkan Gigi Ala Tradisi Ohaguro

Dalam tradisi Ohaguro, bahan yang digunakan untuk menghitamkan gigi adalah campuran cuka dengan besi yang teroksidasi yang disebut kazemizu. Biasanya, campuran ini diterapkan pada gigi menggunakan kuas atau bahan serupa. Proses oksidasi besi pada gigi menghasilkan warna hitam pekat yang merupakan ciri khas dari tradisi Ohaguro.

Dalam praktik tradisional, cuka digunakan untuk membantu mempercepat proses oksidasi besi, sehingga menghasilkan warna hitam yang lebih intens pada gigi. Proses ini memberikan tampilan hitam mengilap yang menjadi ciri khas dari tradisi Ohaguro. Meskipun pada awalnya tujuan dari penggunaan campuran ini adalah untuk mengusir roh jahat dan melindungi kesehatan gigi, seiring berjalannya waktu, tradisi ini menjadi simbol kecantikan dan kedewasaan dalam budaya Jepang.

Ohaguro Bettari

Ohaguro Bettari merupakan variasi dari tradisi Ohaguro yang berasal dari Jepang. Istilah “Bettari” secara harfiah berarti “sepenuhnya” atau “sangat,” yang menunjukkan tingkat intensitas tradisi Ohaguro itu sendiri. Dalam Ohaguro Bettari, gigi dimaksudkan untuk diwarnai dengan hitam yang lebih pekat dan lebih tahan lama, sehingga memberikan tampilan yang lebih mencolok dibandingkan dengan praktik tradisi Ohaguro yang biasa.

Proses Ohaguro Bettari melibatkan penggunaan bahan-bahan khusus yang diracik untuk memberikan warna hitam yang lebih dalam dan tahan lama pada gigi. Campuran ini biasanya terdiri dari bahan-bahan seperti besi yang dioksidasi, cuka, dan bahan tambahan lainnya yang bisa memberikan hasil akhir yang lebih intens.

Selain itu, istilah Ohaguro Bettari pun dikenal sebagai sebutan untuk yokai atau hantu Jepang perempuan bergigi hitam yang sangat pekat dan tentu menyeramkan.

Nah, demikian Minasan sekilas tentang tradisi Ohaguro yang pernah hidup di Jepang pada zaman dahulu.

Dengan warna hitam pekat yang mengilap, tradisi Ohaguro telah menceritakan kisah yang mendalam tentang keanggunan, status sosial, dan nilai-nilai masa lalu yang pernah dijunjung tinggi dalam masyarakat Jepang. Selain itu, dengan mengetahui tradisi Ohaguro pun menjadi bahan pemikiran untuk kita bahwasanya standar kecantikan terus berubah seiring perubahan zaman.

Mungkin, di masa depan apakah gigi putih tidak lagi menjadi standar kecantikan, dan tergantikan oleh gigi kuning misalnya? Jika iya, ini kabar baik untuk yang malas sikat gigi!


Bagi Minasan yang ingin tahu info lain tentang dunia Jepang, bisa ikuti Instagram Pandai Kotoba dan subscribe channel Youtube Pandai Kotoba, ya!

Mata!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *