Culture,  Fenomena

Geijutsu no Aki, Mengisi Kegiatan Musim Gugur dengan Menghargai Seni di Jepang

Hai Minasan~! Musim gugur di Jepang biasanya dihiasi oleh dedaunan merah yang memukau atau panen beras yang melimpah. Namun, ada satu fenomena budaya yang telah mengakar kuat dalam kesadaran kolektif masyarakat Jepang selama lebih dari satu abad namanya Geijutsu no Aki (芸術の秋) atau “Musim Gugur Seni”.

Istilah tersebut tidak berhenti sebagai ungkapan romantis tentang keindahan musim gugur, tapi menjadi sebuah konsep budaya yang telah membentuk kalender seni Jepang yang memengaruhi kebiasaan masyarakat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya bangsa.

Pandai Kotoba pada artikel ini akan mengupas tuntas secara mendalam mengenai fenomena Geijutsu no Aki untuk mengisi kegiatan musim gugur di Jepang mulai dari asal-usul sejarahnya, tokoh yang berperan dalam kemunculannya, aktivitas yang dilakukan masyarakat Jepang selama musim ini hingga berbagai bentuk seni yang dihargai dan dikembangkan. Penasaran dengan Geijutsu no Aki? Yuk, kita simak di bawah ini.

a936bdfc745c4ecabc0a87e40987bc8cb47a7736
Salah Satu Kegiatan saat Geijutsu no Aki adalah Melihat Pameran Seni
kochinews.co.jp

Contents

Geijutsu no Aki, Mengisi Kegiatan Musim Gugur dengan Menghargai Seni di Jepang

A. Asal-Usul Geijutsu no Aki (芸術の秋)

1. Akar Sejarah dari “Bijutsu no Aki” ke “Geijutsu no Aki”

Sejarah Geijutsu no Aki tidak dapat dipisahkan dari kemunculan istilah pendahulunya bernama “Bijutsu no Aki” (美術の秋) atau “Musim Gugur Seni Rupa”. Menurut dari berbagai sumber, istilah ini pertama kali muncul dalam edisi tahun 1918 dari majalah sastra Shincho (新潮) yang merupakan publikasi bergengsi yang masih terbit hingga hari ini. Dalam majalah tersebut, terdapat sebuah catatan yang menyebutkan “Bijutsu no Aki” (美術の秋) adalah istilah yang kemudian mengalami evolusi semantik menjadi “芸術の秋” yang kita kenal sekarang.

Namun, menarik untuk dicatat bahwa beberapa sumber menyebutkan bahwa istilah “Bijutsu no Aki” sudah mulai digunakan sejak era Taisho (1912-1926), jauh sebelum muncul dalam majalah Shinchō . Ada pula yang menyebutkan bahwa frasa “美術の秋” dalam majalah Shinchō tahun 1918 adalah titik balik yang membuat istilah ini semakin populer di kalangan masyarakat luas .

2. Peran Takamura Kotaro, Pelopor Semangat Ekspresi Diri

Meskipun bukan pencetus langsung istilah “Geijutsu no Aki”, sosok Takamura Kotaro (1883-1956) memegang peranan penting dalam pergeseran paradigma seni Jepang yang menjadi fondasi konsep ini. Takamura adalah seorang pematung dan penyair yang dikenal sebagai salah satu seniman modernis paling berpengaruh di Jepang.

Dalam esainya yang berjudul “Midori no Taiyou” (緑の太陽) atau “Matahari Hijau” yang diterbitkan pada tahun 1910, Takamura menyatakan sebuah pandangan revolusioner, “Jika seseorang melukis ‘matahari hijau’, saya tidak akan mengatakan bahwa itu salah. Karena mungkin bagi saya pun, matahari bisa terlihat seperti itu”.

Pernyataan ini tampak sederhana, tapi memiliki implikasi yang mendalam. Takamura menantang konvensi seni yang selama ini terikat pada representasi realistik dan aturan akademis yang ketat. Ia mendorong seniman untuk mengekspresikan persepsi dan perasaan pribadi mereka, bukan hanya mengikuti norma yang telah ditetapkan.

Semangat yang digagas Takamura ini menjadi perantara bagi munculnya generasi baru seniman yang berani mengeksplorasi bentuk-bentuk ekspresi baru. Pada era Taisho, semangat ini mewujud dalam berbagai gerakan seni yang menggabungkan pengaruh Barat dengan sensibilitas Jepang, menciptakan dinamika kreatif yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam konteks inilah istilah “Bijutsu no Aki” kemudian muncul sebagai respons terhadap meningkatnya aktivitas seni pada musim gugur.

3. Transformasi dari “Bijutsu” ke “Geijutsu”

Perubahan dari “Bijutsu no Aki” atau Musim Gugur Seni Rupa menjadi “Geijutsu no Aki” atau Musim Gugur Seni mencerminkan perluasan cakupan yang signifikan. Jika “Bijutsu” merujuk secara spesifik pada seni visual seperti lukisan, patung, dan kerajinan, maka “Geijutsu” memiliki konotasi yang jauh lebih luas mencakup musik, teater, tari, sastra, dan berbagai bentuk ekspresi artistik lainnya.

Transformasi ini terjadi secara bertahap sepanjang era Taisho dan Showa awal, seiring dengan semakin beragamnya bentuk seni yang dipraktikkan dan diapresiasi di Jepang. Dengan kata lain, “Geijutsu no Aki” adalah versi yang lebih inklusif dan demokratis dari pendahulunya, karena sebuah istilah yang mengakui bahwa seni bukan hanya milik kaum elite atau institusi, tapi merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat luas.

B. Mengapa Dilakukan pada Musim Gugur?

1. Faktor Iklim, Kenyamanan Fisiologis sebagai Prasyarat Dasar

Musim gugur adalah musim dengan suhu paling nyaman sepanjang tahun di Jepang. Panas dan kelembapan tinggi di musim panas membuat tubuh dan pikiran lelah, sementara dinginnya musim dingin menuntut banyak energi untuk menjaga suhu tubuh. Suhu musim gugur yang sedang yaitu “tidak panas, tidak dingin, terasa nyaman” yang membuat beban tubuh minimal dan kondisi mental paling rileks.

Secara spesifik, suhu siang hari di musim gugur turun hingga sekitar 18°C. Rentang suhu ini justru membuat orang dapat memusatkan perhatian dan meningkatkan aktivitas otak, sehingga lebih mudah memunculkan inspirasi dan kreativitas. Dilansir dar artikel Dewan Pendidikan Prefektur Kyoto juga menyebutkan bahwa setelah panas musim panas berakhir, kondisi iklim yang ekstrem mereda, mengurangi tekanan fisik dan mental, sehingga hati menjadi lapang. “Kelonggaran mental” ini adalah prasyarat yang tak tergantikan untuk menikmati seni baik dalam mencipta maupun mengapresiasi.

Ada satu detail fisiologis yang sering diabaikan adalah musim gugur selain membuat manusia nyaman, tapi juga membuat alat musik berada dalam kondisi terbaik. Perubahan suhu dan kelembapan memengaruhi ketepatan nada dan resonansi instrumen seperti piano. Iklim musim gugur yang stabil membuat kondisi alat musik lebih baik yang secara fisik juga mendukung gagasan “musim gugur seni”.

Orang mungkin bertanya, “Musim semi kan juga nyaman, mengapa bukan “Musim Semi Seni” saja? Salah satu penjelasan melibatkan hubungan antara makanan dan rasa aman psikologis. Musim gugur adalah musim panen, jadi makanan melimpah, “tidak ada kekhawatiran akan kelaparan, hati menjadi lega, maka muncul keinginan untuk menikmati seni”. Rantai logika ini memang sederhana, tapi menyentuh hukum dasar hierarki kebutuhan manusia seperti rasa aman material adalah prasyarat untuk pencarian spiritual.

2. Faktor Kelembagaan, Ketergantungan Jalur yang Terbentuk dari Penumpukan Pameran Besar

Jika hanya iklim yang nyaman, “Musim Gugur Seni” mungkin hanya menjadi perasaan hidup yang samar atau biasa aja. Yang benar-benar menyatukannya menjadi kesepakatan sosial adalah fakta kelembagaan bahwa pameran-pameran seni besar di Jepang hampir semuanya terkonsentrasi pada musim gugur.

Musim gugur memusatkan pameran seni paling representatif di Jepan seperti pameran seni Nika-ten, Nitten, Inten, dan pameran-pameran penting lainnya dibuka pada musim ini. Ambil contoh “Nitten” atau Pameran Seni Rupa Jepang, pameran seni komprehensif terbesar dan paling otoritatif di Jepang yang mencakup lukisan Jepang, lukisan Barat, patung, kerajinan, kaligrafi, dan berbagai kategori lainnya diselenggarakan setiap musim gugur dan menarik banyak pengunjung.

Selain itu, “Festival Seni” yang diselenggarakan Badan Urusan Kebudayaan juga telah ditetapkan sejak 1946 untuk diadakan pada 1 Oktober hingga 30 November setiap tahun. Festival seni resmi ini mencakup teater, musik, tari, seni pertunjukan populer, dan berbagai bidang lainnya dengan sejarah sekitar 80 tahun hingga saat ini. Sekitar “Hari Kebudayaan” pada 3 November, festival seni di berbagai daerah bahkan lebih terkonsentrasi.

Fenomena terkonsentrasinya pameran di musim gugur ini awalnya mungkin hanya pertimbangan iklim, tapi begitu menjadi kebiasaan, ia menghasilkan efek penguatan diri yaitu penonton terbiasa melihat pameran di musim gugur, seniman dan kurator juga terbiasa meluncurkan karya penting di musim gugur, media secara intensif meliput topik seni di musim gugur, akhirnya menjadikan “musim gugur = musim seni” sebagai kesepakatan sosial.

3. Faktor Estetika Budaya, Kedalaman Emosional Musim Gugur dan Ekspresi Artistik

Dalam estetika tradisional Jepang, posisi musim gugur sangat istimewa. Berbeda dengan kecerahan musim semi dan semangat musim panas, musim gugur membawa “keindahan yang melankolis”. Suara serangga adalah contoh paling khas. “Serangga” dalam sastra klasik Jepang adalah kigo (kata musiman) musim gugur yang telah dilantunkan berulang kali sejak era Man’yoshu.

Suara serangga di musim gugur membuat orang merasakan “Mono no Aware” atau pengamatan mendalam terhadap ketidakabadian segala sesuatu. Bangsawan era Heian bahkan memiliki kegemaran “melepas serangga” dan “mendengarkan serangga” dan memelihara serangga di taman untuk menikmati suaranya.

Kecenderungan estetika ini juga mengakar dalam lukisan. Dalam tradisi Yamato-e, empat musim adalah tema inti dan musim semi serta musim gugur sangat disukai. Dalam lukisan ukiyo-e era Edo yang masih ada, sering kali “sakura di Yoshino” (musim semi) dan “dedaunan merah di Tatsuta” (musim gugur) ditempatkan berdampingan untuk kontras membentuk perbandingan musim yang jelas. Maple merah musim gugur, bulan purnama, dan suara rusa adalah tema yang berulang kali digambarkan dalam lukisan tradisional.

Karena musim gugur membawa makna estetika yang begitu kaya dalam budaya Jepang, musim ini secara alami “cocok” untuk ekspresi artistik. Musim menjadi kegembiraan murni dan bercampur dengan kesepian dan rasa ketidakabadian. Kedalaman emosional inilah yang justru paling mahir ditangani oleh karya seni. Seperti yang dinyatakan dalam penjelasan pameran musim gugur di Museum Seni Asia Berlin, warna-warna cerah musim gugur mengandung kesadaran akan “keterbatasan segala sesuatu” yang membuat keindahan ini memiliki tekstur “pahitmanis yang terjalin”.

4. Momentum Sejarah, “Musim Gugur Seni Rupa” dalam Shincho 1918

Semua penjelasan di atas adalah faktor struktural jangka panjang, tapi kelahiran istilah spesifik dari “Musim Gugur Seni” memiliki titik waktu yang jelas. Pada 1918, dalam majalah sastra “Shincho” muncul istilah “美術の秋” (Bijutsu no Aki) atau Musim Gugur Seni Rupa. Ini secara luas dianggap sebagai sumber langsung “Musim Gugur Seni.” Kemudian “seni rupa” diperluas menjadi “seni” dan istilah ini pun berkembang menjadi “芸術の秋” (Geijutsu no Aki).

Detail sejarah ini patut diperhatikan, karena ini menunjukkan bahwa gagasan “musim gugur cocok untuk seni” ada lebih dulu sebelum kata “Musim Gugur Seni” ada. Istilah dari majalah itu lebih seperti penamaan dan konfirmasi terhadap fenomena sosial yang sudah ada, bukan penemuan yang tidak jelas. Jepang saat itu berada di era Taisho, minat masyarakat terhadap budaya dan seni meningkat, berbagai kegiatan pameran bertambah dan majalah dengan cermat menangkap suasana ini dan merangkumnya.

Selain itu, ada satu alasan fungsional yang sering disebutkan adalah malam musim gugur menjadi lebih panjang. Malam panjang musim gugur memberi orang lebih banyak waktu untuk melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi. Hal ini berbagi logika yang sama dengan asal-usul “Musim Gugur Membaca”, suasanya justru menggambarkan malam musim gugur yang cocok untuk membaca di bawah lampu.

Oleh karena itu, musim gugur dipilih sebagai “musim seni” karena kenyamanan iklim memberikan kondisi fisik, konsentrasi pameran memberikan kebiasaan kelembagaan, akumulasi estetika budaya memberikan tanah emosional, dan istilah dalam majalah Shincho 1918 memberinya nama. Keempatnya tak dapat dipisahkan dan bersama-sama membentuk identitas kolektif orang Jepang terhadap “Musim Gugur Seni”.

C. Kegiatan Apa Saja yang Dilakukan saat Geijutsu no Aki?

Selama Geijutsu no Aki, aktivitas orang Jepang dapat dibagi menjadi empat kategori besar di antaranya adalah:

1. Aktivitas Apresiasi, Memasuki Museum Seni dan Teater

a) Menikmati Pameran Seni Rupa Besar yang Terkonsentrasi

Musim gugur adalah periode ketika berbagai kelompok seni rupa besar di Jepang memusatkan penyelenggaraan pameran. Yang paling representatif adalah Nitten atau Pameran Seni Rupa Jepang yang mencakup lukisan Jepang, lukisan Barat, patung, kerajinan, kaligrafi, dan berbagai kategori lainnya diselenggarakan setiap musim gugur dan menarik banyak pengunjung. Pameran Nika-ten dan Inten juga dibuka pada musim gugur. Bagi orang Jepang biasa, mengunjungi museum seni untuk melihat pameran pada musim gugur adalah kebiasaan budaya musiman.

b) Musim Menonton Pertunjukan Festival Seni Badan Urusan Kebudayaan

Festival Seni yang diselenggarakan Badan Urusan Kebudayaan telah ditetapkan sejak tahun 1946 untuk diadakan setiap tahun dari 1 Oktober hingga 30 November. Festival seni resmi ini mencakup empat departemen pertunjukan di antaranya adalah teater, musik, tari, dan seni pertunjukan dengan banyak pertunjukan yang diadakan di seluruh negeri selama periode tersebut. Bagi mereka yang menyukai seni panggung, musim gugur adalah waktu terbaik untuk menonton pertunjukan secara terpusat.

c) Acara Khusus di Museum dan Fasilitas Budaya

Berpusat pada “Hari Kebudayaan” tanggal 3 November, museum seni, museum, kebun binatang, akuarium, dan lainnya di seluruh Jepang mengadakan pembukaan gratis, pameran khusus, dan kuliah terbuka. Hal ini menurunkan hambatan apresiasi seni, memungkinkan lebih banyak keluarga memasuki fasilitas budaya pada musim gugur.

Tambahan berdasarkan data survei, menurut survei opini publik Badan Urusan Kebudayaan, sekitar setengah siswa sekolah dasar dan menengah memiliki pengalaman mengapresiasi budaya dan seni di luar rumah dalam satu tahun terakhir. Konten apresiasi dengan proporsi tertinggi adalah “film non-animasi”sekitar 14,2%, diikuti oleh “animasi” sekitar 13,0% dan “museum sejarah alam” sekitar 10,1%. Data ini menunjukkan bahwa apresiasi seni musim gugur tidak terbatas pada “seni tinggi”, film dan museum juga merupakan komponen penting.

2. Partisipasi dan Kreasi dari Festival Budaya Sekolah hingga Lokakarya

a) Festival Budaya Sekolah

Musim gugur adalah musim ketika sekolah-sekolah di Jepang menyelenggarakan festival budaya atau yang dikenal sebagai Bunkasai. Siswa menampilkan lukisan, kaligrafi, karya kerajinan, melakukan pertunjukan musik, drama, dan tari. Festival budaya adalah bentuk paling langsung dari Geijutsu no Aki di kalangan remaja.

b) Kaligrafi dan Latihan Menulis

Tanggal 2 November adalah “Hari Kaligrafi” di Jepang yang ditetapkan oleh Yayasan Kaligrafi Jepang berdasarkan permainan kata “いい(11)もじ(02)” atau berarti “tulisan bagus”. Tujuan penetapan hari peringatan ini adalah mendorong orang untuk mengambil kuas atau pena dan berlatih menulis pada musim yang disebut “musim gugur seni” ini. Kaligrafi adalah konten wajib di sekolah dasar dan menengah Jepang dan musim gugur juga merupakan puncak latihan dan pameran kaligrafi.

c) Lokakarya Kreatif dan Aktivitas Pengalaman

Selama festival seni di berbagai daerah dan museum seni, lokakarya (workshop) untuk masyarakat umum diadakan. Misalnya, selama “Festival Musim Gugur Museum Seni” di Museum Seni Kota Fukuoka diselenggarakan proyek pengalaman seperti membuat lentera bercahaya, lilin Halloween, dan pin. Aktivitas-aktivitas ini menurunkan hambatan partisipasi seni, menarik keluarga dengan anak dan anak muda.

3. Berkeliling Festival Seni Lokal, Pengalaman Seni di Luar Museum

a) Festival Seni Bermekaran di Seluruh Negeri

Dalam beberapa tahun terakhir, musim gugur juga merupakan periode ketika festival seni dan pameran seni di berbagai daerah Jepang diselenggarakan secara intensif. Festival seni yang direkomendasikan pada paruh kedua tahun 2026 mencakup lebih dari 15 acara seperti Kobe Rokko Meets Art, Kyoto Experiment, Festival Seni Zushi, dan Gero Art Discovery. Festival-festival seni ini banyak menggunakan bangunan bersejarah, jalan pertokoan, dan lanskap alam sebagai ruang pameran.

b) Kasus Khas, Tomonoura de ART

“Tomonoura de ART” di Kota Fukuyama, Prefektur Hiroshima adalah contoh khas aktivitas seni lokal. Seniman benar-benar mengunjungi Tomonoura menciptakan karya setelah mendapatkan inspirasi dari pemandangan dan sejarah setempat, dan karya-karya tersebut dipamerkan di rumah machiya bersejarah, kuil, dan jinja. Aktivitas ini juga mencakup kompetisi fotografi, tur melihat karya, dan lokakarya (workshop). Bentuk ini menggabungkan apresiasi seni dengan berjalan-jalan di lingkungan kota dan pengalaman budaya lokal.

4. Praktik Seni Tradisional

a) Upacara Minum Teh dan Merangkai Bunga

Musim gugur juga merupakan musim untuk bersentuhan dengan seni tradisional Jepang. Upacara minum teh, merangkai bunga, dan tari tradisional sering diadakan di fasilitas budaya dan taman publik pada musim gugur. Seni tradisional ini sangat selaras dengan suasana tenang musim gugur.

b) Pengalaman Kreasi Baru seperti Menggambar di Akuarium

Akuarium Sendai Umino-Mori pada September tahun ini menyelenggarakan “Art Night Aquarium” yang memungkinkan peserta membawa alat gambar masuk ke akuarium setelah jam tutup, melakukan sketsa di depan makhluk laut yang nyata. Acara ini mengundang pelukis profesional untuk memberikan bimbingan, dan menyediakan pilihan alat seperti kuas dan perangkat digital. Bentuk yang menggabungkan observasi alam dengan kreasi seni ini mewakili tren baru aktivitas musim gugur seni.

Oleh karena itu, aktivitas Geijutsu no Aki jauh lebih dari melihat pameran biasa. Dari pameran karya siswa di festival budaya sekolah hingga apresiasi di museum seni, dari latihan kaligrafi hingga berjalan-jalan di festival seni lokal. dari pengalaman upacara minum teh dan merangkai bunga tradisional hingga sketsa malam di akuarium.

Orang Jepang berpartisipasi dalam seni dengan berbagai cara. Ciri umum dari aktivitas-aktivitas ini adalah menurunkan hambatan partisipasi, menyatu dengan kehidupan sehari-hari, dan menghubungkan wilayah dengan musim. Geijutsu no Aki tidak menjadi hak istimewa segelintir orang, tapi musim budaya yang ditujukan untuk masyarakat luas.

D. Siapa Pencetus dari Geijutsu no Aki?

Yang disebut sebagai “pencetus” bukan hanya satu orang yang menciptakan istilah ini dan era transisi dari periode Meiji ke Taisho dengan semangat zaman kolektif yang mendorong aktivitas musim gugur ini. Berikut ini adalah penjelasan selanjutnya ya.

1. Takamura Kotaro dan Pergeseran Estetika Seni

Takamura Kotaro (1883–1956) adalah seorang pematung, penyair, dan kritikus seni. Baginya, kontribusi paling langsung dan mendalam terhadap Geijutsu no Aki bukan penciptaan istilah itu sendiri, tapi mengubah cara memahami “apa itu seni” melalui sebuah esai yang diterbitkan pada tahun 1910.

Esai tersebut berjudul “Matahari Hijau” (緑色の太陽) diterbitkan pada tahun 1910 di majalah “Subaru”. Kalimat inti dari esai ini adalah satu kalimat yang sering dikutip, “Bahkan jika seseorang melukis ‘matahari hijau’, saya tidak akan mengatakan itu salah. Karena mungkin bagi saya juga, matahari bisa terlihat seperti itu”.

Kalimat ini terlihat sederhana,tapi di Jepang pada awal abad ke-20, kalimat ini sangat menantang. Saat itu, dunia seni rupa Jepang masih didominasi oleh reproduksi realistik dan norma akademis. Sebuah karya “benar” atau “salah” terutama bergantung pada apakah karya tersebut sesuai dengan realitas objektif dan standar otoritas.

Takamura Kotaro mengajukan sudut pandang yang berbeda. Kriteria penilaian karya seni seharusnya bukan apakah sesuai dengan realitas, tapi apakah mengekspresikan persepsi pribadi dan perasaan batin seniman. Ia bahkan menggunakan istilah Jerman “PERSÖNLICHKEIT” yang artinya “individualitas/kepribadian” untuk menekankan bahwa dalam karya seni terdapat”individualitas” seniman harus memiliki otoritas absolut.

– Kritik terhadap “Lokalisme” dan Pergeseran Paradigma

Takamura Kotaro menulis “Matahari Hijau” dengan motivasi langsung untuk mengkritik pandangan yang diajukan oleh pelukis Ishii Hakutei. Ishii berpendapat bahwa lukisan Jepang harus menampilkan karakteristik warna yang khas dari iklim Jepang yaitu “lokalisme”. Takamura Kotaro menentang pandangan ini secara keras. Menurutnya, lukisan harus mengekspresikan “gulungan warna yang bergetar di dalam batin” (内面に揺曳する色紙) dan dalam dimensi warna, ia tidak hanya menolak lokalisme, tapi bahkan menolak realisme.

Pergeseran ini sangat penting bagi Geijutsu no Aki. Jika inti seni adalah “mengekspresikan diri” dan bukan “mereproduksi dunia luar”, maka setiap orang berpotensi menjadi pencipta seni, dan setiap orang dapat menemukan resonansi dalam seni. Ini menyediakan landasan ideologis yang lebih inklusif bagi “Musim Gugur Seni”, seni bukan lagi hak istimewa segelintir orang, tapi pengalaman yang dapat dijangkau oleh masyarakat umum.

– Takamura Kotaro Mendorong Seniman Generasi Baru untuk Bangkit

“Matahari Hijau” secara luas dianggap sebagai “Deklarasi Impresionisme” pertama dalam seni modern Jepang atau sebagai pelopor Fauvisme. Setelah memasuki periode Taisho (1912–1926), didorong oleh kata-kata Takamura Kotaro mulai bermunculan seniman-seniman baru yang mencari cara ekspresi baru, termasuk dalam bidang lukisan Jepang (Nihon-ga). Seiring dengan itu, pameran seni pun menjadi lebih aktif.

Ini menjadi rantai logika kunci, Takamura Kotaro menyerukan kebebasan ekspresi → seniman generasi baru bangkit untuk menantang otoritas → pameran seni aktif → musim gugur secara bertahap menjadi musim pameran → “Musim Gugur Seni” secara alami muncul. Tanpa perubahan konsep seni ini, mungkin akan ada “musim gugur” untuk melihat pameran, tapi tidak akan ada “seni” musim gugur yang menjadi konsensus budaya luas.

2. Sumber Sebenarnya dari “Musim Gugur Seni Rupa” dalam Majalah “Shincho” 1918

– Jejak Faktual, Ekspresi dalam Majalah

Jika kita mencari “pencetus istilah”, titik waktu paling jelas adalah 1918. Menurut beberapa sumber, majalah sastra “Shincho” yang diterbitkan pada tahun itu menggunakan istilah “Musim Gugur Seni Rupa” (美術の秋) yang secara umum dianggap sebagai asal-usul langsung dari “Musim Gugur Seni” (Geijutsu no Aki).

Yang perlu diperhatikan adalah: munculnya ungkapan ini lebih seperti penamaan atas fenomena yang sudah ada, bukan penciptaan dari ketiadaan. Pada tahun 1918, Jepang sudah memiliki cukup banyak pameran seni seperti pameran Nika yang dimulai pada tahun 1914, dan masyarakat memiliki minat yang meningkat terhadap budaya dan seni. Majalah “Shincho” sebagai media menangkap suasana ini dan merangkumnya dengan kata “Musim Gugur Seni Rupa”.

– Dari “Seni Rupa” ke “Seni” Jadi Perluasan Cakupan

Jalur dari “Seni Rupa” ke “Seni” mencerminkan perluasan cakupan yang signifikan. “Seni Rupa” (Bijutsu) merujuk pada seni visual berupa lukisan, patung, kerajinan. Sedangkan “Seni” (Geijutsu) mencakup musik, teater, tari, sastra, dan bentuk ekspresi artistik lainnya. Transformasi terminologi ini terjadi secara bertahap sepanjang periode Taisho hingga Showa awal, konsisten dengan semakin beragamnya bentuk seni yang dipraktikkan dan dihargai di Jepang pada saat itu.

Ini juga menunjukkan bahwa “Musim Gugur Seni” bukan ide dari seseorang, tapi hasil evolusi bahasa yang diperkaya dalam praktik budaya.

3. Para Pelopor dan Organisasi Lainnya di Sekitar Periode Taisho

– Para Pendiri dan Anggota Awal Nika-kai

Jika kita melihat “pelopor” dari perspektif institusional, pembentukan Nika-kai (二科会) pada tahun 1914 adalah peristiwa penting. Organisasi ini adalah asosiasi seniman yang memisahkan diri dari pameran resmi (Bunten) untuk memprotes sistem otoritas dengan gagasan “melampaui aliran, menghormati nilai-nilai baru, dan mendukung kebebasan kreasi”.

Anggota pendirinya termasuk Ishii Hakutei, Yamashita Shintaro, Arishima Ikuma, Sakamoto Shigero, Umehara Ryuzaburo, Kishida Ryusei dan tokoh-tokoh penting lainnya dalam sejarah seni rupa Jepang. Pembentukan dan pameran berkelanjutan Nika-kai menyediakan wadah institusional bagi seniman untuk memamerkan karya baru pada musim gugur memperkuat hubungan antara musim gugur dan seni.

Menariknya, Ishii Hakutei disebutkan dalam “Matahari Hijau” Takamura Kotaro sebagai objek kritik. Ini menunjukkan bahwa pada saat itu dunia seni sedang dalam persaingan konsep yang intens dan justru persaingan inilah yang mendorong vitalitas seni.

– Pembentukan Bakat Seniman Generasi Baru

Pameran Nika memberikan panggung bagi seniman-seniman yang tidak ingin terikat oleh otoritas akademis. Di antara peserta pameran dan seniman terkait, banyak yang kemudian menjadi tokoh penting dalam sejarah seni modern Jepang seperti Yasui Sotaro, Kumagai Morikazu, Fujita Tsuguharu, Okamoto Taro dan lain-lain. Munculnya seniman-seniman ini memperkaya lanskap seni Jepang juga menyediakan konten berkelanjutan untuk “Musim Gugur Seni”.

Oleh karena itu, pencetus “Geijutsu no Aki” bukan muncul dari seseorang. Takamura Kotaro menyediakan landasan ideologis berupa seni adalah ekspresi bukan reproduksi. Majalah Shincho tahun 1918 menyediakan istilah asli “Musim Gugur Seni Rupa”. Nika-kai dan seniman inovatif periode Taisho menyediakan konten dan panggung. Ketiganya bekerja sama menjadikan “musim gugur” secara bertahap berubah dari sekadar deskripsi musim menjadi identitas budaya.

E. Seni Apa Saja yang Dibuat dan Dihargai di Geijutsu no Aki?

Seni yang dipamerkan dan dihargai selama Geijutsu no Aki sangat luas cakupannya terdapat beberapa kategori besar, pameran seni pertunjukan, dan pameran lokal, dan bahkan seni kontemporer dan seni media yang baru muncul dalam beberapa tahun terakhir. Yuk, kita lanjut lagi di bawah ini.

1. Lima Kategori Besar Seni Rupa, “Pameran Akbar” Skala Besar

Pameran seni rupa terbesar pada musim gugur adalah Nitten atau Pameran Seni Jepang. Nitten dibagi menjadi lima departemen terdiri dari lukisan Jepang, lukisan Barat, patung, seni kerajinan, dan kaligrafi dengan total sekitar 3000 karya dipamerkan di National Art Center, Tokyo setiap tahun dan setelah pameran di Tokyo juga akan berkeliling ke Kyoto, Nagoya, Osaka, Toyama, dan tempat-tempat lainnya.

Sistem Nitten diwarisi dari Pameran Seni Kementerian Pendidikan (Bunten) yang dimulai pada tahun 1907 dengan sejarah lebih dari seratus tahun. Pada awal berdirinya, hanya ada tiga kategori terdiri dari lukisan Jepang, lukisan Barat, dan patung. Seni kerajinan ditambahkan pada tahun 1926, kaligrafi ditambahkan pada tahun 1948, sehingga terbentuk struktur lima departemen saat ini.

Pameran penting lainnya pada musim gugur termasuk Inten atau Pameran Asosiasi Seni Jepang dan Nika-ten atau Pameran Nika-kai. Nika-ten sendiri didirikan pada tahun 1914 oleh seniman lukisan Barat yang memisahkan diri dari Bunten karena ketidakpuasan dengan standar penjurian dengan gagasan menghormati nilai-nilai baru dan kebebasan berkarya.

2. Seni Pertunjukan dari Tradisional hingga Modern

Festival Seni Badan Urusan Kebudayaan yang diselenggarakan setiap musim gugur sejak tahun 1946 adalah salah satu panggung seni pertunjukan paling komprehensif. Kegiatan tahun 2026 (ke-81) mencakup 11 pertunjukan utama termasuk Kabuki, orkestra, opera, drama, tari, balet, Noh, Bunraku, Shomyo, dan seni pertunjukan rakyat.

Berdasarkan klasifikasi historisnya, empat departemen inti festival seni adalah drama, musik, tari, dan seni pertunjukan populer. Dilansir dari laman Bunka, dalam pertunjukan utama, yang paling menonjol adalah pertunjukan Kabuki menjadi pembukaan festival seni tahun 2026 adalah karya klasik Kabuki “Honcho Nijushiko”.

Festival ini tidak hanya menampilkan teater tradisional seperti Noh, Bunraku, dan seni pertunjukan rakyat, tetapi juga mencakup opera, balet, dan drama kontemporer. Selain itu, musik juga mencakup musik tradisional dan modern dari kawasan Asia-Pasifik, seperti pertunjukan bertema “Koto” dari Ryukyu, Korea, dan Taiwan.

Di tingkat lokal, festival budaya seperti Festival Budaya Kota Matsudo juga mencakup berbagai bentuk pertunjukan yaitu di antaranya kaligrafi, merangkai bunga, upacara minum teh, puisi dan tarian, tarian Jepang, drum Taiko, paduan suara, tarian Hawaii, tarian perut, ansambel alat musik Barat, dan lain-lain.

3. Seni yang Berakar di Masyarakat, Kegiatan Lokal dan Partisipatif

Festival budaya lokal biasanya mencakup berbagai pameran dan pengalaman seni tradisional. Mengambil contoh Festival Budaya Kota Matsudo, konten pameran meliputi kaligrafi, lukisan cat minyak, merangkai bunga, keramik, bordir, pewarnaan Bingata, kerajinan kulit, kerajinan tangan umum, serta pengalaman melukis tinta untuk anak-anak dan upacara minum teh untuk anak-anak dan kegiatan partisipatif lainnya.

Festival Seni Distrik Nasu mencakup departemen kaligrafi, fotografi, lukisan, patung, kerajinan, keramik, merangkai bunga, dan upacara minum teh.

Lalu, upacara minum teh juga memiliki kehadiran yang sangat stabil selama Geijutsu no Aki. Dalam festival budaya Sapporo Higashi-ku, upacara minum teh dipandu oleh tiga aliran berbeda meliputi Edosenke, Urasenke, dan Urasenke. Di Festival Budaya Matsudo, ada juga upacara minum teh yang memerlukan tiket berbayar.

Selain itu, kaligrafi adalah salah satu bentuk seni yang paling sering muncul dalam kegiatan Geijutsu no Aki. Baik di Nitten sebagai salah satu dari lima departemen, di festival budaya lokal dengan pameran khusus kaligrafi maupun di festival budaya distrik dengan kaligrafi sebagai kategori independen, kaligrafi menempati posisi penting.

4. Tren Baru, Seni Kontemporer dan Ekspansi ke Ruang Kota

Sejak tahun 2026, Tokyo meluncurkan “ARTE TOKYO”, sebuah festival seni budaya internasional. Berbeda dengan pameran tradisional, festival ini menggunakan seluruh kota sebagai panggung, melibatkan seni kontemporer, arsitektur, seni media, serta seni pertunjukan site specific dan seni jalanan melalui proyek “ARTE TOKYO CIRCUS”.

Core area mencakup tiga wilayah yaitu area tepi laut, Hibiya-Marunouchi, dan Yoyogi-Shibuya dengan proyek seni malam di Taman Hama-rikyu yang memanfaatkan kontras antara keindahan taman tradisional Jepang dengan gedung-gedung tinggi di pusat kota.

Selain itu, festival Seni Zushi menggunakan rumah hunian terdaftar sebagai warisan budaya berwujud nasional (mantan Kediaman Honda), perpustakaan kota, taman, gang, dan hutan sebagai venue menampilkan pameran, musik, drama, lokakarya, dan pertunjukan. Karya-karya fotografer yang tinggal di Zushi, Daido Moriyama dipamerkan pada dinding konstruksi di depan Stasiun JR Zushi dan dinding kaca di lantai pertama perpustakaan kota menyatu ke dalam pemandangan jalanan sehari-hari.

Oleh karena itu, berbagai bentuk seni Geijutsu no Aki dapat diringkas dalam beberapa kata kunci. Pameran lima departemen terdiri dari lukisan Jepang, lukisan Barat, patung, kerajinan, kaligrafi adalah tulang punggungnya, seni pertunjukan terdiri dari Kabuki, Noh, Bunraku, opera, balet, orkestra adalah dimensi suaranya.

Sedangkan, seni tradisional terdiri dari upacara minum teh, merangkai bunga, kaligrafi adalah fondasi kehidupan sehari-harinya, dan seni kontemporer serta festival seni kota adalah wujudnya yang berkembang. Selama musim gugur di Jepang, bentuk seni apa pun dapat menemukan panggungnya sendiri baik di ruang pameran National Art Center, Tokyo maupun di gang-gang Kota Zushi.\

F. Alasan Lainnya Mengapa Menjadikan Musim Gugur sebagai Musim Menghargai Seni?

1. Koneksi dengan Estetika Jepang Tradisional

Musim gugur memiliki resonansi yang mendalam dalam estetika Jepang tradisional. Konsep-konsep seperti Mono no Aware (kesadaran akan kefanaan), Wabi Sabi (keindahan dalam ketidaksempurnaan dan kesederhanaan), dan Yuugen (keindahan yang misterius) semuanya sangat terkait dengan suasana musim gugur.

Dedaunan yang berubah warna dan kemudian berguguran adalah metafora sempurna untuk kefanaan hidup, sebuah tema yang telah lama menjadi pusat ekspresi artistik di Jepang. Ketika seniman Jepang menciptakan karya pada musim gugur, mereka sering kali menangkap suasana melankolis namun indah ini, menciptakan karya yang resonan dengan sensibilitas budaya yang mendalam.

2. Tradisi Kalender Musiman dalam Budaya Jepang

Jepang memiliki tradisi panjang dalam membagi tahun menjadi musim-musim yang masing-masing memiliki karakteristik budaya tersendiri. Dalam kigo (季語) atau artinya “kata musiman” yang digunakan dalam puisi haiku, musim gugur adalah musim dengan kekayaan citra dan simbol yang luar biasa seperti bulan purnama, angin musim gugur, dedaunan merah, serangga yang bernyanyi, dan panen.

Tradisi ini menciptakan kerangka budaya di mana setiap musim memiliki “kegiatan” yang sesuai. Jika musim semi adalah untuk menikmati sakura (hanami) dan musim panas untuk festival (matsuri), maka musim gugur adalah untuk seni. Dengan kata lain, Geijutsu no Aki adalah bagian dari pola budaya yang lebih besar di mana setiap musim memiliki identitas dan praktik budayanya sendiri.

3. Pengaruh Kalender Akademik dan Fiskal

Kalender akademik dan fiskal Jepang juga berkontribusi pada asosiasi musim gugur dengan seni. Tahun akademik di Jepang dimulai pada bulan April dan berakhir pada bulan Maret. Musim gugur jatuh pada pertengahan tahun akademik, ketika siswa telah menyesuaikan diri dengan rutinitas sekolah dan memiliki energi untuk terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti festival budaya dan pameran seni.

Selain itu, banyak organisasi seni dan lembaga budaya memiliki siklus perencanaan yang menjadikan musim gugur sebagai waktu puncak untuk pameran dan pertunjukan. Setelah musim panas yang sering kali sepi karena orang-orang pergi berlibur, musim gugur adalah waktu ketika kehidupan budaya kembali bergeliat.

4. Faktor Ekonomi dan Pariwisata

Dari perspektif ekonomi, musim gugur adalah waktu yang strategis untuk mengadakan acara seni. Cuaca yang nyaman mendorong orang untuk keluar rumah dan menghadiri acara. Selain itu, musim gugur juga adalah musim pariwisata yang populer di Jepang dengan banyak wisatawan domestik dan internasional yang datang untuk menikmati dedaunan musim gugur. Acara-acara seni pada musim gugur dapat memanfaatkan lonjakan kunjungan wisata ini.

G. Geijutsu no Aki dalam Konteks Global, Perspektif Perbandingannya

Keunikan Geijutsu no Ak dalam konteks global bukan terletak pada mengadakan pameran pada musim gugur saja, tapi hal ini umum terjadi di seluruh dunia. Jika model musiman di Barat biasanya terikat pada sistem pameran atau pekan seni tertentu, sedangkan “Geijutsu no Aki” di Jepang adalah kesadaran musiman yang melekat pada kehidupan sehari-hari yang telah menjadi bahasa bersama antara seniman, penonton, sekolah, dan media. Berikut ini penjelasan lebih lanjutnya ya.

1. Perbandingan dengan Model “Musim Seni” di Barat

– Sistem Pameran Tahunan dan Logika Pasar

Lembaga seni Eropa dan Amerika juga memiliki tradisi “musim seni” yang jelas, tapi logika pembentuknya berbeda dengan Jepang. Di London, Royal Academy Summer Exhibition yang dimulai pada tahun 1769 adalah pameran seni kontemporer tahunan dengan sejarah terpanjang di dunia.

Pameran ini diadakan setiap musim panas dan setelahnya rumah lelang serta galeri menyesuaikan diri dengan ritme ini, sehingga sebagian besar lelang dan penjualan terkonsentrasi antara Mei dan September, karena periode ini adalah saat pembeli potensial paling banyak berada di kota untuk melihat pameran. Musim di sini pada dasarnya adalah siklus pasar yang mana pameran menarik orang, orang membawa transaksi, transaksi mendorong pameran berikutnya.

Sedangkan, di New York, “musim seni” juga berpusat pada kalender akademik dan museum. Pada tahun 1967, New York Times mendeskripsikan musim gugur sebagai “pembuka musim seni 1967-1968” dengan pameran besar dimulai dari Oktober hingga November, tersebar di museum-museum seperti Metropolitan, MoMA, dan Guggenheim. Lalu, dilansir dari laman Roberts Projects, pada tahun 2026, ritmenya masih sama: Whitney Museum, MoMA, dan Metropolitan semuanya menempatkan pameran besar pada musim gugur. “Musim seni” di sini lebih seperti siklus operasional industri museum dan galeri.

– Pameran Besar sebagai “Peristiwa” vs. Musim Gugur sebagai “Bahasa”

Perbedaan kunci terletak pada tingkat abstraksi. Model Barat pada dasarnya adalah siklus operasional institusi yaitu ketika museum membuka pameran, musim dimulai, ketika pameran berakhir, musim berakhir. Orang “pergi melihat pameran” bukan “menyambut musim seni”.

Sedangkan “Geijutsu no Aki” di Jepang telah mengalami transformasi linguistik. Pada tahun 1918, majalah “Shincho” menggunakan “Bijutsu no Aki” untuk merujuk pada musim gugur yang pada awalnya mungkin hanya menjelaskan fenomena “banyak pameran pada musim gugur”. Namun seiring waktu, istilah ini tidak lagi hanya mendeskripsikan fenomena, tapi menjadi lensa untuk memahami musim itu sendiri, musim gugur dianggap sebagai musim seni. Ini jauh lebih mendalam daripada “musim pameran” sebagai deskripsi faktual.

2. Biennale dan Triennale, Siklus Musiman Lintas Negara dan “Titik Berat” Regional

– Siklus Biennale yang Berbeda

Model pameran besar global lainnya adalah Biennale dan Triennale dengan siklus waktu yang jauh lebih longgar daripada pameran tahunan. Venice Biennale dimulai pada tahun 1895, awalnya dirancang sebagai pameran seni untuk merayakan ulang tahun pernikahan raja Italia dan kemudian menjadi model untuk berbagai biennale internasional.

Biennale Seni dan Arsitektur diadakan setiap dua tahun dari April atau Mei hingga November. Selain itu, Documenta di Kassel, Jerman diadakan setiap lima tahun berlangsung selama 100 hari biasanya antara Juni dan September dengan tujuan awal sebagai “antidot” untuk memulihkan seni modern yang dicap sebagai “seni degeneratif” oleh Nazi.

Pameran-pameran ini mendefinisikan “musim seni” melalui siklus sendiri bukan melalui musim alam. Orang pergi ke Venesia atau Kassel bukan karena “ini musim gugur”, tapi karena “tahun ini adalah tahun biennale“.

– Art Basel dan Ekosistem “Pekan Seni”

Di tingkat pasar, model “pekan seni” mendominasi Frieze London, Art Basel, dan lainnya. Frieze London 2026 mengumpulkan 172 galeri dari 42 negara dan wilayah yang diadakan pada pertengahan Oktober dengan periode yang bersamaan dengan pameran besar institusi di seluruh London membentuk “Frieze Week” yang padat dan ramai. Model ini selain “musim” dalam arti luas, tapi puncak industri selama beberapa hari atau satu minggu.

3. Tokyo Gendai dan “Titik Masuk Global” dari Geijutsu no Aki

– Penyesuaian Musim oleh Pameran Seni Kontemporer Jepang

Posisi Tokyo Gendai dalam konteks global agak khusus. Pameran ini adalah pameran seni kontemporer internasional Jepang dan juga penyelenggara secara sadar memasukkan dirinya ke dalam kerangka budaya “Geijutsu no Aki”.

Tokyo Gendai pertama kali diadakan pada tahun 2023. Edisi 2025 awalnya dijadwalkan pada Juli, kemudian diubah ke September dengan alasan untuk “disesuaikan dengan kalender budaya Geijutsu no Aki” yang sejajar dengan Aichi Triennale dan Expo Osaka 2025. Keputusan ini menunjukkan bahwa “Geijutsu no Aki” bukan hanya kebiasaan masyarakat, tapi telah menjadi sumber daya budaya yang dapat dimanfaatkan oleh strategi komersial dan kuratorial.

– Arti Industri, Model Penjualan Jepang

Data dari laporan Tokyo Gendai juga mengungkapkan karakteristik pasar seni Jepang meliputi kolektor Jepang secara tradisional membeli karya melalui galeri dengan penjualan pameran hanya menyumbang sekitar 10%, jauh lebih rendah dari rata-rata global 29%. Pada tahun 2024, pasar seni global turun 12%, pasar Cina turun 31%, pasar Korea Selatan turun 15%, sementara Jepang tumbuh 2% secara keseluruhan, dengan sektor galeri tumbuh 7%.

Latar belakang ini penting untuk memahami posisi global Geijutsu no Aki bukan mesin transaksi, tapi ekosistem budaya. Penonton pergi melihat pameran pada musim gugur, tidak harus untuk membeli, tapi untuk membangun hubungan jangka panjang dengan seni. Pameran seperti Tokyo Gendai mengubah hubungan ini menjadi peluang dialog internasional.

Oleh karena itu, jika disimpulkan dalam satu kalimat menjadi “Musim seni” Barat adalah produk sistem institusi dan “Geijutsu no Aki” Jepang adalah produk bahasa budaya. Yang pertama dapat ditemukan dalam kalender museum dan jadwal lelang, sedangkan yang terakhir melekat pada ungkapan musiman dalam ucapan orang Jepang, dalam kalender festival budaya sekolah, dalam judul liputan media. Hal ini tidak memerlukan pameran tertentu untuk membuktikan keberadaannya, karena kegiatan ini sendiri adalah wadah yang digunakan orang Jepang untuk memahami musim gugur.

H. Tantangan dan Masa Depan untuk Geijutsu no Aki

Tantangan yang dihadapi Geijutsu no Aki (Musim Gugur Seni) di Jepang terutama terkonsentrasi pada dua tingkat: tingkat partisipasi dan tingkat operasional. Seperti apa itu? Yuk, kita lanjut lagi di bawah ini.

1. Kesenjangan Partisipasi, Menurunnya Minat Anak Muda dan Perbedaan Kelas Sosial

a) Tingkat Apresiasi Anak Muda Menurun

Data dari Survei Opini Publik tentang Kebudayaan yang diterbitkan oleh Badan Urusan Kebudayaan Jepang pada Maret 2025 menunjukkan bahwa di antara 25.000 responden berusia 18 hingga 70 tahun ke atas, proporsi yang “pernah mengapresiasi” kegiatan budaya dan seni di luar rumah dalam satu tahun terakhir adalah 43,1%, turun dari 52,2% pada tahun fiskal 2022. Di antaranya, proporsi pengalaman apresiasi kelompok usia 18-19 tahun hanya 33,3%, lebih rendah dari kelompok usia lainnya.

National Art Research Center (NCAR) dalam survei kesadaran terhadap 1.800 anak muda berusia 15-25 tahun pada tahun 2024 menemukan bahwa 51,7% responden menjawab “sama sekali tidak pergi ke museum seni”. Alasan tidak mengapresiasi adalah: “tidak tertarik” menempati peringkat pertama, “biaya tiket masuk/transportasi terlalu mahal” pada peringkat kedua, “tidak ada waktu” pada peringkat ketiga.

b) Pengalaman Seni Sangat Dipengaruhi oleh Kelas Sosial Keluarga

Data dari Nissei Research Institute menunjukkan bahwa pengalaman apresiasi budaya dan seni anak-anak memiliki korelasi positif yang jelas dengan pendapatan rumah tangga. Proporsi anak-anak dari rumah tangga dengan pendapatan tahunan di bawah 3 juta yen yang memiliki pengalaman apresiasi adalah 31,9%, sedangkan rumah tangga dengan pendapatan tahunan 10 juta-15 juta yen mencapai 51,6%, hampir 1,6 kali lipat.

Perbedaan ini lebih mencolok dalam jumlah kumulatif pengalaman, karena rumah tangga berpendapatan rendah (di bawah 3 juta yen) memiliki nilai kumulatif 72,5%, rumah tangga berpendapatan menengah-tinggi (10 juta-15 juta yen) mencapai 149,6%, selisihnya lebih dari dua kali lipat.

Kesenjangan ini lebih jelas tercermin dalam apresiasi pertunjukan “berharga tinggi”. Pengalaman apresiasi anak-anak dari rumah tangga dengan pendapatan tahunan di atas 20 juta yen dalam “musikal” dan “balet/tari modern” masing-masing mencapai 16,4%, sedangkan rumah tangga dengan pendapatan tahunan di bawah 3 juta yen hanya 1,4% dan 0,5%. Artinya, jenis seni dengan harga tiket tinggi pada dasarnya tidak dapat dijangkau oleh anak-anak dari keluarga berpendapatan rendah.

c) Perubahan Preferensi Konten, Dominasi Hiburan dan Media

Di antara konten yang diapresiasi anak muda, proporsi tertinggi adalah “film (kecuali animasi)” sekitar 14,2% dan “animasi” sekitar 13,0%, diikuti oleh “museum sejarah alam” sekitar 10,1%. Survei di Kota Himeji juga menunjukkan bahwa konten apresiasi kelompok usia 10-40 tahun didominasi oleh “seni media (film, manga, anime)” mencapai 60-70%. Ini berarti bahwa dalam kesadaran anak muda Jepang, “apresiasi seni” dan “menonton anime” memiliki batas yang kabur dan seni tradisional seperti teater, opera, dan pertunjukan tari berada di posisi yang jauh lebih rendah.

Analisis dari perspektif global melihat penyebabnya termasuk popularitas smartphone dan media sosial, anak muda terbiasa dengan metode hiburan digital dan menganggap museum sebagai pilihan yang “jauh” dan “tidak nyaman”. Ada juga pengamat yang berpendapat bahwa pendidikan seni di sekolah Jepang kurang memadai, dibandingkan dengan Jerman yang memiliki sekitar 10 tahun kursus seni wajib sejak kecil hingga besar.

2. Tekanan Operasional, Ketegangan antara Logika Komersial dan Misi Publik

a) Dana Publik untuk Organisasi Seni dan Teater Terus Berkurang

Dilansir dari laman Art Culture and Forum, “Visi Masa Depan” untuk Forum Promosi Budaya dan Seni tahun 2026 menunjukkan bahwa situasi yang dihadapi organisasi seni dan teater Jepang sangat keras meliputi pemotongan subsidi dasar dari pemerintah pusat untuk organisasi seni dan teater, pemotongan subsidi dari pemerintah daerah untuk organisasi seni, ditambah dengan kenaikan harga barang dan penuaan fasilitas budaya yang saling bertumpuk.

Dokumen tersebut secara langsung menunjukkan bahwa “lingkungan apresiasi kreatif dan apresiasi dibatasi, pemulihan pertunjukan langsung yang beragam di seluruh negeri masih belum memadai”. Namun, arah kebijakan budaya malah lebih mengarah pada evaluasi berdasarkan indikator “peningkatan pendapatan” yang dikhawatirkan akan “menyebabkan melemahnya lebih lanjut fondasi budaya daerah”.

Forum menyerukan agar anggaran Badan Urusan Kebudayaan ditingkatkan menjadi 0,5% dari anggaran nasional sebagai target jangka menengah hingga panjang untuk mendukung penciptaan budaya dan seni berkelanjutan, pelatihan bakat, reinvestasi infrastruktur teater, dan peningkatan lingkungan apresiasi seni bagi warga.

b) Peran Unik Pertunjukan Langsung Terancam

Visi masa depan dengan jelas menyatakan bahwa nilai inti dari pertunjukan langsung terletak pada “berbagi ruang dan waktu yang sama” yang “menghubungkan orang dengan orang, membina orang, membangun masyarakat daerah, mewarisi tradisi, dan memintal identitas”. Namun, ketika subsidi dasar dipotong dan biaya operasional naik, kehadiran jenis pengalaman ini menghadapi risiko berkurang.

“Kesedihan khusus dari tempat langsung” seperti napas aktor, getaran suara, keringat yang mengucur, suasana tempat adalah pengalaman yang tidak dapat digantikan oleh streaming atau video. Pembawa acara program ini juga menekankan ketika memperkenalkan festival seni bahwa “ada sentuhan yang hanya dapat dirasakan secara langsung”, dan menyebutkan bahwa saat ini ada diskon pelajar, diskon junior dan mekanisme lain untuk mendorong generasi muda memasuki tempat pertunjukan.

c) Ancaman yang Diabaikan terhadap Seni Tradisional

Tingkat apresiasi seni tradisional seperti Kabuki, Noh, Kyogen, dll. berada pada posisi rendah dalam keseluruhan budaya dan seni dan dalam jawaban survei kelompok usia muda, “seni tradisional” tidak pernah masuk dalam item jawaban teratas. Dampak berantai dari masalah ini tidak hanya terbatas pada tingkat apresiasi. Ketika penonton menyusut, penuaan praktisi dan kekurangan penerus menjadi masalah yang lebih mendesak.

Survei opini publik Badan Urusan Kebudayaan menanyakan, “Apa yang dibutuhkan agar anak muda dapat lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan budaya dan seni”. Jawabannya ada dua teratas di antaranya adalah “memperluas kesempatan kegiatan atau pembelajaran budaya di pendidikan sekolah” dan “menemukan dan membina praktisi serta menciptakan komunitas” Hal ini menunjukkan bahwa fondasi partisipasi anak muda memerlukan perbaikan dari tingkat pendidikan.

3. Kekuatan yang Melawan Tantangan dan Upaya Sisi Baik

a) Pemulihan Tingkat Apresiasi Anak Muda di Tokyo

Berbeda dengan gambaran suram nasional, data Strategi Budaya Tokyo 2030 menunjukkan bahwa “tingkat apresiasi anak muda” di Tokyo pada tahun 2024 mencapai 55,7%, jika dibandingkan dengan 21,8% pada tahun 2023 yang meningkat 33,9 poin persentase. Tingkat apresiasi di semua bidang dan kelompok usia meningkat dengan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi pada kelompok usia 10-30 tahun.

Namun pada saat yang sama, proporsi orang yang “memiliki minat tapi tidak mengapresiasi karena alasan ekonomi” meningkat dari 19,1% menjadi 37,6%, naik 18,5 poin persentasenya. Artinya, hambatan “tidak ingin pergi” relatif berkurang, tapi hambatan “tidak mampu pergi” menjadi lebih menonjol.

b) Perdagangan dan Pertukaran Internasional Membawa Kemungkinan Baru

Meskipun kesulitan operasional bersifat umum, ada juga sinyal positif di tingkat pertukaran internasional. Menurut “Laporan Pasar Seni Global 2025” dari Art Basel dan UBS, pasar seni Jepang tumbuh 2% pada tahun 2024 menjadi pengecualian dalam pasar yang menurun secara global. Pasar seni Jepang telah tumbuh 11% sejak 2019.

Faktor pendorong termasuk di antaranya pembukaan kembali dan pembukaan lokasi baru galeri internasional seperti Pace Gallery di Azabudai Hills, Ceysson & Bénétière di Ginza, pertumbuhan jumlah galeri kecil dan menengah, serta lebih banyak seniman Jepang yang mendapat perhatian internasional.

Tokyo Gendai sebagai pameran seni kontemporer internasional, pada tahun 2025 secara aktif menyesuaikan jadwal dari Juli menjadi September dengan tujuan untuk “menyatu dengan musim budaya tradisional Jepang (Geijutsu no Aki)” juga menetapkan jadwal yang lebih erat dengan Festival Seni Internasional Aichi 2025 dan Pekan Seni Tokyo pada November.

Oleh karena itu, tantangan yang dihadapi Geijutsu no Aki adalah jika secara horizontal, kesenjangan kelas sosial dalam pengalaman seni melebar. Jika secara vertikal, generasi muda teralihkan oleh konten hiburan dan media. Namun data Tokyo menunjukkan bahwa hambatan partisipasi bukan terutama pada “tidak tertarik”, tapi lebih pada “tidak mampu pergi” yang hambatan ekonomi menjadi faktor penentu yang semakin jelas. Sementara itu, kekurangan dana jangka panjang dan evaluasi komersialisasi yang dihadapi organisasi seni dan teater, membuat pertunjukan langsung yang seharusnya menjadi perekat komunitas dan pewaris tradisi saat ini menghadapi risiko menyusut.


Geijutsu no Aki adalah fenomena budaya yang kaya dan berlapis. Fenomena ini menjadi cerminan dari hubungan mendalam antara masyarakat Jepang dengan seni dan alam. Dari akarnya dalam tulisan Takamura Kotaro dan majalah Shincho pada awal abad ke-20 hingga manifestasinya dalam festival budaya sekolah, pameran museum, dan pertunjukan seni kontemporer, Geijutsu no Aki kini terus berkembang dan beradaptasi.

Yang membuat Geijutsu no Aki istimewa adalah kemampuannya untuk menjembatani berbagai aspek kehidupan Jepang yaitu di antaranya tradisi dan modernitas, alam dan budaya, individu dan komunitas. Musim gugur dengan keindahan tenang dan kefanaannya menyediakan lembaran sempurna untuk ekspresi artistik. Dan seni, dalam segala bentuknya, memberikan cara bagi orang Jepang untuk memproses, merayakan, dan merenungkan pengalaman hidup mereka.

Di era ketika dunia semakin cepat bergerak, Geijutsu no Aki menawarkan pengingat akan pentingnya memperlambat, merenung, dan menghargai keindahan. Apakah itu melalui mengunjungi pameran seni, menonton pertunjukan teater, atau hanya menikmati dedaunan musim gugur dengan mata seorang seniman, Fenomena Geijutsu no Aki ini mengundang kita semua untuk menemukan seni dalam kehidupan dan kehidupan dalam seni.

Musim gugur di Jepang selain tentang perubahan warna daun, tapi juga musim ketika jiwa bangsa Jepang menemukan ekspresi artistiknya yang paling dalam. Jika Minasan lagi berada di Jepang saat musim gugur, jangan lupa untuk menikmati seni dan hiburan yang diadakan pada musim ini ya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dalam wawasan budaya Jepang ya.

Nah, cukup segitu yang bisa Pandai Kotoba berikan mengenai Geijutsu no Aki untuk mengisi kegiatan musim gugur dengan menghargai seni di Jepang. Jika Minasan masih penasaran dan ingin baca lagi tentang budaya Jepang lainnya, di website kami banyak tersedia informasinya lho. Salah satunya ini nih: Macam-Macam Makanan Khas Musim Gugur di Jepang, Penuh Tradisi dan Estetika. Klik untuk membacanya.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *