Kuliner,  Leisure

Cita Rasa 5 Jamur Khas Musim Gugur di Jepang Selain Jamur Matsutake

Hai Minasan~! Musim gugur di Jepang dikenal memiliki banyak keragaman hasil alam dan salah satunya adalah jamur. Jamur yang dikenal pada musim ini adalah jamur matsutake. Aromanya seperti jarum pinus yang sejuk dan harganya pun setinggi langit membuat statusnya yang tidak terjangkau. Namun jika kita mengalihkan pandangan dari jamur ini, kita akan menemukan dunia jamur yang jauh lebih kaya, lebih terjangkau, dan sama menariknya lho.

Beberapa nama jamurnya mungkin tidak seterkenal jamur matsutake, tapi merekalah yang menopang kehidupan kuliner khas musim gugur Jepang yang sesungguhnya. Ada yang berasal dari hutan pegunungan dalam, ada yang sudah dibudidayakan secara artifisial, ada yang terasa renyah, ada yang berlendir, ada yang cocok untuk tempura, ada yang ditakdirkan untuk dimasak bersama nasi. Masing-masing beradaptasi dengan ketinggian, jenis pohon, dan iklim yang berbeda, dan di berbagai daerah membentuk budaya produksi yang unik.

Pandai Kotoba pada artikel ini akan menjelaskan satu per satu mengenai cita rasa 5 jamur khas musim gugur Jepang selain matsutake karena layak untuk dikenali mulai dari masing-masing jenisnya, tempat habitatnya, dan cara mengolahnya menjadi kuliner khas musim gugur di Jepang. Ingin tahu apa saja jenis jamur? Yuk, kita simak di bawah ini.

Shiitake Lentinula edodes
Jamur Shiitake adalah Salah Satu Jamur Khas Musim Gugur di Jepang
commons.wikimedia.org

Cita Rasa 5 Jamur Khas Musim Gugur di Jepang Selain Jamur Matsutake

A. Jamur Maitake

Maitake dalam bahasa Jepang ditulis “舞茸” yang secara harfiah artinya “jamur yang menari”. Ada dua teori tentang asal nama jamur ini, yaitu yang pertama mengatakan bentuknya yang berlapis-lapis seperti sedang menari. Yang kedua mengatakan orang zaman dahulu begitu gembira saat menemukannya hingga menari-nari.

Untuk nama Inggrisnya justru lebih gambang, yaitu “Hen of the Woods” atau “ayam betina di hutan”, karena rumpun tutup jamur berwarna cokelat keabu-abuan itu memang menyerupai bulu ayam betina yang mengembang. Nama ilmiah untuk jamur ini adalah Grifola frondosa.

jamur maitake
Jamur Maitake
letscook.store

1. Ekologi dan Habitat Jamur Maitake

Maitake adalah jamur parasit fakultatif yang tumbuh menempel pada akar pohon dari keluarga Fagaceae seperti oak, kunugi, dan konara, menyerap nutrisi dari pohon hidup . Di alam liar, maitake dapat ditemukan pada pohon beech, oak, dan juga kadang-kadang pada pohon buah-buahan seperti plum, kesemek, persik, dan aprikot. Jamur ini tumbuh berkelompok besar membentuk rumpun bertingkat yang keluar dari pangkal batang pohon atau dari tanah di sekitar akar.

Maitake liar menyukai iklim sejuk. Jamur ini tumbuh subur di hutan pada ketinggian di atas 800 meter di mana suhu bahkan pada bulan Juli-September tetap sekitar 20°C dengan perbedaan suhu siang-malam yang besar dan sirkulasi udara yang segar. Suhu optimal untuk pertumbuhan miselium adalah 20-25°C dan miseliumnya cukup tahan panas hingga tidak berhenti tumbuh pada suhu 32°C . Namun untuk pembentukan tubuh buah, kelembaban relatif harus mencapai 90-95%. Jika kelembapan turun di bawah 80%, tubuh buah akan mengkerut.

Di Jepang, maitake liar terutama ditemukan di Hokkaido dan wilayah utara seperti Tohoku. Namun, budidaya buatan yang berhasil pada tahun 1970-an telah mengubah maitake dari makanan langka menjadi barang biasa di supermarket.

2. Daerah Produksi Khas di Jepang

Prefektur Niigata adalah produsen maitake terbesar di Jepang yang menyumbang sekitar 60% produksi nasional, lalu diikuti oleh Shizuoka, Nagano, dan Fukuoka. Selain itu, Yamato, Prefektur Miyagi juga merupakan daerah produksi maitake terkemuka. Maitake dari daerah Yamato menyumbang sekitar 50-60% produksi Prefektur Miyagi. Yang menariknya lagi, maitake dari perusahaan “Nanatsumori Fumoto Maitake” di Yamato berasal dari maitake kayu asli yang tumbuh liar di daerah Naruko, Prefektur Miyagi.

Karakteristiknya adalah tutup yang lebih putih, berdaging tebal, dan aroma yang khas. Bagian-bagian dari jamur ini hanya dapat dihasilkan dari bibit spesifik tersebut. Perusahaan ini adalah satu-satunya produsen maitake di Prefektur Miyagi yang memperoleh sertifikasi ASIAGAP (Asia Good Agricultural Practices) dengan manajemen menyeluruh atas seluruh proses produksi untuk memastikan keamanan pangan, pelestarian lingkungan, dan keselamatan kerja.

Perusahaan ini juga menerapkan praktik berkelanjutan di antaranya adalah maitake yang tidak memenuhi standar diubah menjadi produk kering atau bubuk dan bekerja sama dengan hotel serta perusahaan lokal untuk mengembangkan makanan penutup dan bumbu berbahan maitake sebagai upaya mengurangi food loss.

3. Mengapa Maitake Menjadi Cita Rasa Khas Musim Gugur?

Musim panen jamur maitake liar terkonsentrasi di musim gugur. Iklim sejuk adalah syarat utama tumbuhnya dan musim gugur menyediakan kombinasi suhu dan kelembapan yang ideal. Meskipun budidaya buatan membuat maitake tersedia sepanjang tahun, musim gugur tetap menjadi waktu yang paling dinanti untuk menikmati rasanya yang paling optimal.

4. Cara Mengolah Maitake dari Tempura hingga Takikomi Gohan

Maitake memiliki sensasi rasa umami yang sangat kuat bahkan ada yang merasa lebih menggembirakan daripada jamur matsutake. Dagingnya tebal, teksturnya renyah, dan aromanya khas. Berikut berbagai cara mengolahnya:

a) Tempura (天ぷら)
Cara memasak jamur ini adalah cara yang paling direkomendasikan dan paling digemari di daerah asal Miyagi. Maitake dilapisi adonan tipis lalu digoreng pada suhu 180°C hingga berwarna keemasan. Kunci tempura maitake yang renyah adalah jangan mencuci maitake dengan air, karena cukup lap dengan tisu dapur, lalu sobek dengan tangan bukan dipotong menggunakan pisau, lapisi tipis dengan tepung terigu sebelum dicelup adonan, dan goreng selama 5 menit untuk menguapkan kelembapan. Hasilnya adalah tempura yang tetap renyah bahkan setelah dingin.

maitake tempura
Tempura Maitake
commons.wikimedia.org

b) Takikomi Gohan (炊き込みごはん)
Jamur maitake dan salmon adalah kombinasi klasik untuk nasi campur khas musim gugur. Resep sederhananya yaitu beras 2-3 cawan, maitake 1 pak, salmon 1 potong, jahe, dan bumbu berupa kecap, sake, dan mirin. Maitake disobek dengan tangan, diletakkan di atas beras bersama bahan lain, lalu dimasak seperti biasa. Aroma maitake yang menyebar selama proses memasak sangat menggugah selera, dan umaminya meresap sempurna ke dalam nasi.

c) Kiritanpo Nabe (きりたんぽ鍋)
Hidangan hot pot khas Prefektur Akita ini tidak lengkap tanpa maitake. Bersama dengan seri atau seledri Jepang, maitake adalah bahan yang “wajib ada” dalam kiritanpo nabe. Maitake ditambahkan setelah bahan lain matang dan kaldu dari ayam serta maitake menjadi kunci kelezatannya.

d) Tumis dan Olahan Lain
Jamur maitake juga sangat serbaguna. Bisa dimasak dengan ditumis dengan mentega, dibuat pasta, sup, chinmi (pancake Korea), ditumis dengan saus tiram, bahkan dibuat gapao rice ala Thailand . Karena hampir tidak memiliki lendir dan bau yang mengganggu, jamur ini mudah berbaur dengan berbagai bumbu dan bahan.

5. Manfaat bagi Tubuh, Kandungan Bioaktif dan Khasiat Kesehatan

Maitake adalah salah satu jamur dengan profil fungsional paling menjanjikan. Berbagai penelitian telah mengungkap kandungan bioaktifnya yang luar biasa. Kandungan gizi dasar dari jamur ini adalah karbohidrat dan protein merupakan komponen utama maitake, masing-masing menyumbang sekitar 70-80% dan 13-21% dari berat kering. Maitake rendah kalori, kaya akan antioksidan, beta glukan, mineral, vitamin, serat, dan asam amino.

Kemudian, jamur maitake kaya akan serat pangan tidak larut air yang membantu meningkatkan volume feses dan memperlancar buang air besar. Ini menjadikannya pilihan baik untuk kesehatan pencernaan. Jamur ini juga mengandung beta glukan dalam jumlah tinggi terutama β-D-glukan yang memiliki aktivitas imunomodulator kuat. Senyawa ini bekerja dengan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan performa sel imun, dan memiliki sifat antikanker.

Penelitian menunjukkan bahwa polisakarida dari jamur maitake terutama proteo-β-glukan (PGM) memiliki aktivitas anti tumor. Sebuah studi pada model mice Alzheimer menunjukkan bahwa PGM dapat meningkatkan pembelajaran dan memori, mengurangi kehilangan neuron, dan mengurangi beban amiloid-β melalui aktivasi mikroglia. Meskipun penelitian ini berfokus pada Alzheimer, mekanisme imunomodulasi yang sama juga relevan untuk potensi anti kanker.

maitakeg8853
Takikomi Gohan dengan Maitake
sirogohan.com

Selain itu, manfaat lainnya adalah jamur maitake juga menunjukkan aktivitas antidiabetik, antimikroba termasuk anti-herpes simplex virus, anti-inflamasi, dan antioksidan. Ergosterol dalam maitake, ketika terpapar sinar ultraviolet berfungsi sebagai prekursor vitamin D,yang penting untuk kesehatan tulang. Triterpena dalam jamur ini memiliki sifat anti-inflamasi dan anti kanker. Senyawa fenolik seperti flavonoid dan asam fenolik memberikan efek antioksidan yang terkait dengan perlindungan kardiovaskular dan efek anti penuaan.

Oleh karena itu, dengan kombinasi profil gizi yang kaya, kandungan bioaktif yang beragam, dan fleksibilitas kuliner yang luar biasa, maitake memang pantas disebut sebagai “bintang” musim gugur Jepang yang sebenarnya dan jauh lebih terjangkau daripada jamur matsutake, tapi tidak kalah dalam hal manfaat dan kelezatan.

B. Jamur Shiitake

Jika jamur matsutake adalah bangsawan musim gugur dan jamur maitake adalah bintangnya, maka jamur shiitake adalah “orang biasa” yang tak pernah absen dari dapur Jepang. Shiitake menempati posisi yang jauh lebih penting, karena jamur ini adalah salah satu dari tiga jamur budidaya terbesar di dunia bersama champignon dari Barat dan jamur jerami dari Asia Tenggara dan Cina. Di Jepang, shiitake adalah jamur yang paling sering ditemui, paling serbaguna, dan paling dalam jejak budidayanya. Masakan Jepang tanpa shiitake hampir tak terbayangkan. Yuk, kita lanjut lagi di bawah ini.

1. Asal Nama dan Identitas Botani

Nama “shiitake” (しいたけ/椎茸) berasal dari tempat tumbuhnya yaitu pohon shii (椎), sejenis pohon dari keluarga Fagaceae. Secara historis, jamur ini sering ditemukan tumbuh di atas kayu tumbang pohon shii, sehingga dinamai demikian. Nama ilmiahnya adalah Lentinula edodes dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai “shiitake” atau “black forest mushroom“.

jamur shiitake 2
Jamur Shiitake yang Tumbuh di Alam
commons.wikimedia.org

Shiitake berasal dari Jepang dan Cina dan di alam liar tumbuh terutama pada kayu mati pohon berdaun lebar seperti kunugi, shii, konara, mizunara, dan kuri. Jamur ini muncul dua kali setahun di alam liar pada saat musim semi dan musim gugur yang menjadikannya jamur yang khas di kedua musim tersebut.

2. Ekologi dan Habitat Jamur Shiitake

Shiitake adalah jamur saprofit yang menguraikan kayu mati untuk mendapatkan nutrisi. Di alam liar, jamur ini tumbuh pada batang pohon berdaun lebar yang telah tumbang atau tunggul pohon yang mulai membusuk. Budidaya shiitake di Jepang memiliki sejarah yang panjang dan telah melalui tiga fase evolusi utama:

a) Budidaya Kayu Alami
Metode tradisional ini menggunakan batang kayu keras biasanya kunugi atau konara sebagai substrat. Batang kayu diinokulasi dengan bibit jamur, lalu diletakkan di hutan untuk ditumbuhkan secara alami. Metode ini menghasilkan shiitake dengan aroma dan tekstur yang paling kaya, tapi membutuhkan waktu dan lahan yang luas.

b) Budidaya Media Kultur
Metode modern ini menggunakan campuran serbuk kayu, bekatul, dan bahan organik lain yang dipadatkan menjadi blok, lalu diinokulasi dengan miselium shiitake. Budidaya media kultur jauh lebih efisien, dapat dilakukan di dalam ruangan sepanjang tahun, dan kini mendominasi produksi shiitake di Jepang. Pada tahun 2025, sekitar 95,1% produksi shiitake segar di Jepang berasal dari budidaya media kultur.

c) Varietas Unggul
Jepang telah mengembangkan berbagai varietas shiitake yang disesuaikan dengan kondisi iklim dan preferensi pasar yang berbeda. Di Prefektur Tokushima, varietas seperti Hokken 705, Hokken 73, dan Hokken 607 banyak digunakan. Sedangkan, di Prefektur Gunma, varietas Hokken 607, Hokken 705, Mori XR1, dan Mori 126 menjadi andalan. Sementara di Hokkaido, varietas Mori XR1 dan Mori 126 juga populer. Varietas-varietas ini dipilih untuk ketahanan terhadap penyakit, produktivitas, dan kualitas tutup jamur.

3. Daerah Produksi Khas di Jepang

Shiitake adalah jamur yang dibudidayakan secara luas di seluruh Jepang, tapi beberapa prefektur menonjol sebagai produsen utama. Prefektur Tokushima adalah produsen shiitake segar terbesar di Jepang dengan produksi mencapai 7.200 ton pada tahun tertentu, jauh melampaui prefektur lain. Shiitake dari Tokushima dikenal karena kualitasnya yang stabil dan pasokan yang besar.

Prefektur Iwate menempati posisi kedua dengan sekitar 4.292 ton, diikuti oleh Prefektur Gunma sekitar 3.912 ton, Prefektur Akita sekitar 3.770 ton), dan Hokkaido sekitar 3.562 ton. Untuk shiitake kering, daerah produksi utama meliputi Oita, Miyazaki, dan Kumamoto. Shiitake kering memiliki konsentrasi umami yang jauh lebih tinggi daripada shiitake segar, karena proses pengeringan mengubah senyawa guanilat dan menghasilkan rasa yang lebih dalam.

4. Mengapa Shiitake Menjadi Cita Rasa Khas Musim Gugur?

Shiitake liar muncul dua kali setahun biasanya pada musim semi dan musim gugur. Namun, musim gugur memiliki makna khusus dalam budaya kuliner Jepang. Setelah panasnya musim panas mereda dan hujan musim gugur membasahi hutan, kayu-kayu mati di lantai hutan menjadi lembap[ dan suhu turun ke kisaran yang ideal untuk pembentukan tubuh buah. Shiitake liar yang muncul di musim gugur sering kali lebih besar dan lebih tebal dagingnya daripada yang muncul di musim semi.

Yang lebih penting, jamur shiitake adalah salah satu jamur yang paling terkait dengan konsep umami dalam masakan Jepang. Umami dari jamur ini berasal dari kombinasi asam glutamat dan guanilat. Ketika shiitake dikeringkan, kadar guanilatnya melonjak, menciptakan sinergi umami yang kuat. Dalam masakan musim gugur Jepang mulai dari takikomi gohan hingga nabe hingga sup, shiitake sering menjadi tulang punggung rasa, menyediakan kedalaman yang tidak bisa diberikan oleh jamur lain.

5. Cara Mengolah Shiitake dari Hidangan Sederhana hingga Klasik

Shiitake adalah jamur yang paling serbaguna dalam aneka ragam kuliner Jepang. Jamur ini dapat digunakan segar atau kering dan setiap bentuk memiliki karakter dan aplikasi yang berbeda. Berikut ini macam-macam cara mengolahnya:

– Yaki Shiitake
Ini adalah cara paling sederhana dan paling memuaskan untuk menikmati jamur shiitake. Tutup jamur dipanggang di atas panggangan atau wajan, lalu diolesi dengan kecap asin dan mentega. Shiitake yang ditanam di kayu alami sangat cocok untuk metode ini karena teksturnya yang padat dan juicy. Satu gigitan memberikan ledakan umami yang bisa menyaingi hidangan daging mana pun.

yaki shiitake
Yaki Shiitake
recipe.yaoko-net.com

– Nikuzume
Jamur shiitake isi daging adalah hidangan klasik yang elegan. Batang jamur dilepas, dan tutupnya diisi dengan daging cincang, lalu dipanggang atau dilapisi panko dan digoreng. Setiap gigitan memberikan kombinasi juicy dari daging dan umami shiitake yang kaya.

– Takikomi Gohan
Nasi campur adalah salah satu hidangan musim gugur yang paling dicintai di Jepang. Jamur shiitake baik segar maupun kering adalah bahan penting dalam hidangan ini. Jika menggunakan shiitake kering, air rendaman yang kaya umami ditambahkan ke beras bersama dengan dashi, kecap asin, dan mirin menciptakan nasi yang penuh rasa. Salmon dan shiitake adalah kombinasi klasik untuk takikomi gohan musim gugur .

– Chawan Mushi
Puding telur kukus ini sering dihiasi dengan sepotong shiitake di atasnya menambahkan aroma dan umami yang dalam. Shiitake segar yang diiris tipis atau shiitake kering yang direndam keduanya dapat digunakan.

– Fukume Ni
Shiitake kering direndam dalam air, lalu direbus dalam air rendaman yang sama dengan kecap asin dan gula hingga menghasilkan rasa manis-asin yang kaya. Hidangan ini populer sebagai pendamping nasi, isian sushi roll, atau topping untuk mie somen. Dalam masakan osechi atau Tahun Baru Jepang, shiitake kering yang direbus dengan cara ini adalah elemen penting yang melambangkan umur panjang dan pertumbuhan yang makmur baik karena tumbuh besar secara bertahap maupun karena tutupnya yang retak menyerupai cangkang kura-kura menjadi simbol umur panjang.

– Nabe
Jamur shiitake segar adalah bahan pokok untuk setiap nabe dari yosenabe dasar hingga mizutaki dan sukiyaki. Memotong tutup jamur menjadi bentuk dekoratif tidak hanya menambah keanggunan pada hidangan, tapi juga memastikan kematangan yang merata dan memungkinkan umami meresap sepenuhnya.

– Suimono
Jamur shiitake segar atau kering dapat ditambahkan ke sup bening ini. Jika menggunakan shiitake kering, menambahkan air rendamannya memberikan rasa yang dalam dan kaya.

– Nishime dan Chikuzen Ni
Hidangan sayuran rebus ini yang secara standar disajikan sebagai bagian dari Osechi Ryouri yang sangat bergantung pada shiitake kering. Shiitake kering memberikan umami yang meresap ke seluruh hidangan menciptakan kedalaman rasa yang sulit dicapai dengan bahan lain.

– Tsukudani
Jamur shiitake terutama varietas yang lebih padat, sangat cocok untuk dibuat tsukudani atau sejenis lauk yang dimasak dengan kecap asin dan gula hingga hampir kering. Tsukudani shiitake sangat baik dikombinasikan dengan ikan dan kerang karena kemampuannya menciptakan sinergi umami .

– Salad dan Hidangan Barat
Shiitake juga berbaur dengan baik dalam hidangan bergaya Barat. Tumis dengan mentega dan kecap asin, tambahkan ke pasta, atau jadikan topping untuk sandwich dan salad.

6. Manfaat bagi Tubuh, Kandungan Bioaktif dan Khasiat Kesehatan

Shiitake adalah salah satu jamur yang paling banyak diteliti dalam hal manfaat kesehatan. Jamur ini mengandung berbagai senyawa bioaktif yang telah dipelajari secara ekstensif, terutama di Jepang.

Kandungan gizi dasar dari shiitake segar rendah kalori sekitar 42 kkal per 100 gram, tapi kaya akan protein, serat, dan berbagai vitamin dan mineral. Dalam 100 gram shiitake segar, terdapat sekitar 1,6 g protein, 12,3 g karbohidrat termasuk 2 g serat, 120 mg kalium, 3 mg kalsium, 29 mg fosfor, 14 mg magnesium, 2,07 mg niasin, dan 2 mg vitamin C. Jamur ini juga merupakan sumber vitamin B kompleks yang baik terutama B1 (tiamin), B2 (riboflavin), dan B3 (niasin).

Jamur shiitake juga memiliki senyawa bioaktif utama, yaitu di antaranya:

– Lentinan
Senyawa ini adalah β-1,3-glukan dengan berat molekul tinggi yang merupakan senyawa paling terkenal dari shiitake. Lentinan bukan obat yang menyerang sel tumor secara langsung, tapi “potensiator pertahanan inang” yang mengaktifkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan kanker dan penyakit infeksi. Di Jepang dan Cina, bentuk suntikan lentinan digunakan bersama kemoterapi untuk pasien kanker lambung meningkatkan fungsi imun dan kualitas hidup.

chawan mushi shiitake
Chawan Mushi dengan Shiitake
shiitakebrothers.com

– Eritadenin
Senyawa ini adalah turunan asam nukleat yang bertanggung jawab atas efek penurun kolesterol shiitake. Eritadenin menghambat enzim yang terlibat dalam metabolisme fosfolipid di hati, sehingga menurunkan kadar kolesterol serum. Studi pada tikus menunjukkan bahwa eritadenin memiliki aktivitas penurun kolesterol yang lebih baik pada diet tinggi lemak dibandingkan diet rendah lemak.

– AHCC (Active Hexose Correlated Compound)
Ini adalah senyawa glukan yang diekstrak dari shiitake dan telah diteliti secara luas untuk efeknya pada sistem kekebalan tubuh . Penelitian menunjukkan bahwa AHCC dapat meningkatkan aktivitas sel imun dan mendukung respons imun, dan sedang diteliti dalam konteks terapi seperti kemoterapi.

Sebuah studi pada wanita dengan infeksi HPV persisten menunjukkan bahwa AHCC dapat membantu sistem kekebalan tubuh melawan infeksi dengan sebagian besar pasien mengalami pembersihan infeksi setelah mengonsumsi suplemen selama beberapa bulan.

– Ergosterol
Ini adalah prekursor vitamin D. Ketika shiitake terpapar sinar ultraviolet baik dari sinar matahari alami maupun lampu UV, ergosterol berubah menjadi vitamin D2. Ini menjadikan jamur shiitake kering yang terpapar sinar matahari sebagai sumber vitamin D yang sangat baik yang penting untuk kesehatan tulang dan penyerapan kalsium.

Jamur shiitake juga memiliki khasiat kesehatan yang diteliti, yaitu di antaranya:

– Efek Anti Kanker dan Imunomodulasi
Lentinan dan ekstrak miselium shiitake (LEM) telah menunjukkan kemampuan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh pada pasien kanker, bukan menyerang sel tumor secara langsung. Studi pada hewan menunjukkan bahwa lentinan dapat meregresi tumor solid dan menghambat aktivitas enzim yang mengaktifkan prokarsinogen. Aktivitas anti tumor polisakarida shiitake pertama kali diamati pada petani yang terlibat dalam budidaya jamur obat yang memiliki tingkat kematian akibat kanker jauh lebih rendah daripada populasi umum.

– Efek Kardiovaskular
Eritadenin dan sterol dalam shiitake memiliki kemampuan untuk menghambat dan mengontrol produksi kolesterol dalam tubuh . Studi pada tikus yang diberi diet tinggi lemak menunjukkan bahwa tikus yang diberi suplemen shiitake mengembangkan lebih sedikit lemak di hati, lebih sedikit plak di dinding arteri, dan memiliki kadar kolesterol yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak menerima suplemen. Shiitake juga mengandung β-glukan yang bekerja mirip dengan yang ditemukan dalam sereal membantu menurunkan kolesterol dengan mengikat asam empedu.

– Efek Antiviral
Ekstrak shiitake telah menunjukkan aktivitas antivirus terhadap berbagai virus termasuk influenza dan polio. Aktivitas antivirus ini sebagian dimediasi melalui stimulasi produksi interferon dalam tubuh inang. Penelitian in vitro menunjukkan bahwa lentinan dapat memblokir infeksi sel-ke-sel oleh HIV-1, HIV-2, dan HTLV-I.

– Efek Anti-inflamasi dan Antioksidan
Shiitake kaya akan antioksidan termasuk senyawa fenolik dan ergothioneine. Studi menunjukkan bahwa ekstrak shiitake dapat menghambat produksi nitrat oksida (NO) dari makrofag yang diaktifkan menjelaskan potensi anti-inflamasinya. Aktivitas antioksidan ini membantu melindungi lipid dari peroksidasi dan melawan stres oksidatif.

– Efek Hepatoprotektif (Perlindungan Hati)
Fraksi polisakarida dari shiitake telah menunjukkan kemampuan untuk melindungi sel-sel hati pada hewan dan meningkatkan fungsi hati. Sebuah studi klinis kecil pada pasien dengan gangguan fungsi hati melaporkan bahwa asupan ekstrak miselium shiitake (1.800 mg/hari selama 8 minggu) menurunkan kadar AST, ALT, dan γ-GTP, meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan .

Meskipun shiitake umumnya aman, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Shiitake mentah atau setengah matang dapat menyebabkan “shiitake dermatitis” atau ruam kulit yang gatal terutama pada orang yang sensitif. Memasak jamur ini sepenuhnya menghilangkan risiko ini. Orang dengan asam urat tinggi mungkin perlu membatasi asupan shiitake karena kandungan purinnya yang tinggi. Suplemen shiitake juga tidak diatur sebagai obat dan dapat mengandung kontaminan, jadi konsultasikan dengan profesional kesehatan sebelum menggunakannya.

Jamur shiitake memang bukan jamur yang glamor seperti jamur matsutake. Jamur ini tidak memiliki aroma yang memabukkan atau harga yang membuat orang berdecak. Tapi shiitake adalah ibarat tulang punggung dapur Jepang, jamur yang hadir dalam sup miso sehari-hari, dalam nasi campur musim gugur, dalam Osechi Tahun Baru, dan dalam hampir setiap hidangan yang membutuhkan kedalaman rasa umami. Jamur ini juga “penjaga setia” yang tidak pernah menuntut perhatian, tapi tanpa kehadirannya, masakan Jepang akan kehilangan sebagian jiwanya.

C. Jamur Nameko

Nameko (なめこ/滑子) adalah jamur yang tidak bisa disalahartikan dengan jamur lain. Nama Jepangnya secara harfiah berarti “anak yang licin”. Kata “name” berasal dari “namaraka” (滑らか) yang berarti “licin” dan “ko” (子) berarti anak yang menjadi akhiran yang umum dalam nama jamur Jepang seperti kinoko (jamur). Nama ilmiahnya adalah Pholiota nameko.

Uniknya lagi, nama Jepangnya diadopsi langsung ke dalam nama ilmiahnya yang menjadi sebuah kehormatan yang menunjukkan betapa Jepang telah lama mengenal dan membudidayakan jamur ini. Jamur ini juga dikenal sebagai “mutiara hutan” dan merupakan salah satu jamur yang paling dicintai di Jepang dengan lendir khasnya yang menjadi ciri tak tergantikan dalam sup miso, nabeyaki udon, dan berbagai hidangan musim gugur.

jamur nameko
Jamur Nameko
commons.wikimedia.org

1. Identitas Botani dan Asal Usul

Nameko adalah jamur dari keluarga Strophariaceae dan genus Pholiota. Jamur ini adalah jamur asli Jepang dan yang membuatnya istimewa adalah hanya Jepang yang menggunakannya sebagai makanan. Di negara lain, jamur ini tumbuh liar tapi tidak masuk ke dalam tradisi kuliner. Ini menjadikannya salah satu dari sedikit jamur yang benar-benar “milik Jepang” secara kuliner.

Jamur ini pertama kali dideskripsikan secara ilmiah oleh T. Ito pada akhir abad ke-19 dan sejak itu menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner Jepang. Nama “nameko” sudah tercatat dalam literatur Jepang kuno dan budidayanya telah dilakukan selama beberapa generasi.

2. Ekologi dan Habitat Jamur Nameko

Nameko adalah jamur pembusuk kayu (木材腐朽菌) yang memainkan peran ekologis penting meliputi menguraikan kayu mati dan mengembalikannya ke tanah. Di alam liar, jamur tumbuh berkelompok pada pohon beech Jepang (Fagus crenata) serta pohon berdaun lebar lainnya seperti mizunara dan kunugi.

Pohon beech adalah inang alami yang paling penting. Di hutan beech pegunungan, nameko tumbuh subur pada batang pohon yang tumbang, tunggul, dan kayu mati yang masih berdiri. Menurut sumber dari Pusat Dukungan Aktivitas Hutan Akita, nameko liar membutuhkan tiga kondisi ideal yang spesifik untuk membentuk koloni besar:

  • Lantai hutan yang stabil: lereng landai yang tidak terganggu oleh longsor atau air hujan, sering kali di perbatasan antara lereng curam dan landai, atau di dekat aliran sungai
  • Kelembapan tinggi dengan drainase baik: hutan beech yang lembap tapi tidak tergenang dengan sirkulasi udara yang baik dan cahaya yang cukup
  • Suhu sekitar 15°C atau lebih rendah: yang biasanya terjadi selama musim gugur ketika daun beech menguning

Nameko liar biasanya ditemukan pada ketinggian 800-1000 meter di pegunungan. Waktu munculnya nameko liar sangat dapat diprediksi. Di Akita, misalnya musimnya adalah pertengahan Oktober hingga pertengahan November dengan puncak pada akhir Oktober hingga awal November, tepat ketika daun beech di lembah mulai menguning dan berguguran. Fenomena ini begitu konsisten sehingga para pencari jamur dapat merencanakan perjalanan mereka berdasarkan perubahan warna daun beech.

Selain itu, nameko liar memiliki kebiasaan pertumbuhan yang menarik, yaitu begitu mulai muncul, jamur ini akan terus muncul pada pohon yang berbeda selama satu bulan penuh. Ini berbeda dari banyak jamur lain yang muncul dalam periode singkat. Karena itu, nameko dijuluki “permata hutan beech“.

3. Budidaya Jamur Nameko dari Hutan ke Meja Makan

Meskipun nameko liar adalah pemandangan musim gugur yang indah, hampir semua nameko yang dijual di pasar Jepang saat ini berasal dari budidaya baik dari kayu gelondongan maupun dari media serbuk kayu.

Pertama, budidaya kayu gelondongan. Metode ini adalah cara tradisional dan masih dipraktikkan terutama di daerah seperti Prefektur Yamagata. Batang kayu biasanya dari pohon beech atau maple dipotong, dilubangi, dan diinokulasi dengan bibit jamur, lalu diletakkan di hutan untuk ditumbuhkan secara alami. Nameko yang dihasilkan dari metode ini memiliki aroma dan rasa yang lebih kuat, tekstur yang lebih padat, tapi bentuknya tidak seragam dan seringkali kotor karena tanah dan daun yang menempel.

Kedua, budidaya media serbuk kayu. Metode modern ini menggunakan campuran serbuk kayu dari pohon berdaun lebar, dedak, dan tepung jagung atau kedelai sebagai substrat. Substrat disterilkan, diinokulasi dengan miselium nameko, dan dibiarkan berfermentasi. Suhu ruangan dijaga pada 15°C selama 60-70 hari untuk fase inkubasi, kemudian kelembaban dan oksigen diberikan untuk memicu pertumbuhan tubuh buah. Panen terjadi 18-20 hari setelah induksi, memungkinkan produksi sepanjang tahun.

Perbedaan karakteristik antara kedua budidaya tersebut adalah jamur nameko kayu gelondongan beraroma dan rasa lebih kuat, tekstur lebih kenyal, bentuk tidak seragam, lendir lebih kental. Sedangkan, jamur nameko media serbuk kayu bertekstur lebih lembut, warna dan lendir lebih ringan, bentuk seragam, ukuran lebih kecil (untuk kemudahan konsumsi)

Di Prefektur Yamagata, panen nameko dilakukan dengan tangan bukan mesin. Satu per satu nameko dipotong dari batangnya dengan gunting, memilih hanya yang memenuhi standar. Karena nameko mudah rusak dari batangnya, pemotongan dilakukan sesingkat mungkin, lalu segera disortir berdasarkan ukuran dan dikemas.

4. Daerah Produksi Khas di Jepang

Prefektur Yamagata adalah salah satu produsen nameko terkemuka di Jepang dengan produksi melebihi 4.000 ton per tahun untuk nameko media serbuk kayu saja. Untuk nameko kayu gelondongan, Yamagata menempati peringkat pertama nasional. Daerah produksi utama di Yamagata meliputi:

  • Desa Sakae (鮭川村); pusat produksi nameko media serbuk kayu di wilayah Mogami
  • Kota Tsuruoka (鶴岡市): terutama daerah Asahi lama, yang terkenal dengan nameko kayu gelondongan
  • Kota Yusa, Kota Mikawa, Kota Yonezawa, Kota Shinjo, Kota Obanezawa: daerah produksi lainnya

Nameko dari Yamagata mendapat penilaian tinggi di pasar karena kualitasnya yang unggul. Selain itu, di prefektur lain seperti Prefektur Nagano dan Prefektur Niigata juga merupakan produsen nameko utama. Di Prefektur Fukushima, Kota Iwaki memiliki produsen nameko yang telah beroperasi selama 45 tahun.

5. Mengapa Nameko Menjadi Cita Rasa Khas Musim Gugur?

Nameko adalah jamur musim gugur yang paling terkait dengan musimnya. Berbeda dengan shiitake atau maitake yang tersedia sepanjang tahun melalui budidaya, jamur nameko liar memiliki musim yang sangat spesifik pada bulan September hingga November dengan puncak pada akhir Oktober hingga awal November.

Yang membuat nameko begitu istimewa di musim gugur adalah hubungannya dengan daun beech. Di Akita, para pencari jamur tahu bahwa ketika daun beech mulai menguning dari puncak gunung ke lembah, nameko akan segera muncul. Pemandangan daun beech kuning keemasan yang berpadu dengan rumpun nameko yang tumbuh di batang pohon yang tertutup lumut adalah salah satu pemandangan musim gugur paling ikonik di Jepang.

Namun, bahkan nameko budidaya pun memiliki nuansa musim gugur. Di Prefektur Yamagata, nameko kayu gelondongan dipanen pada November, dan produk ini mulai muncul di pasar langsung pada akhir Oktober hingga November. Di Prefektur Fukushima, nameko liar dipanen dari Gunung Mogura di Prefektur Niigata pada awal November.

6. Cara Mengolah Nameko

Nameko adalah jamur yang serbaguna tapi memiliki kepribadian yang kuat. Lendirnya yang khas membuatnya unik, tapi juga membatasi cara pengolahannya karena lendir tersebut larut dalam air, sehingga nameko paling baik dinikmati dalam hidangan berkuah atau setelah dibilas dan dimasak dengan cepat.

Hal yang paling penting adalah jangan makan jamur nameko secara mentah. Jamur nameko mentah atau setengah matang dapat menyebabkan masalah pencernaan karena kandungan airnya yang tinggi dan kemungkinan bakteri. Selalu masak jamur nameko sepenuhnya sebelum dikonsumsi.

Berikut ini adalah beberapa cara mengolah jamur nameko menjadi hidangan klasik yang banyak digemari:

– Sup Miso Nameko
Hidangan ini adalah hidangan paling ikonik dan paling digemari. Lendir nameko larut ke dalam sup menciptakan tekstur kental dan creamy yang membungkus lidah. Resep dasarnya sederhana, yaitu didihkan dashi, tambahkan nameko, masak 2-3 menit, matikan api, lalu larutkan miso. Tahu sutra sering ditambahkan untuk tekstur yang lembut. Kombinasi nameko dan tahu adalah “klasik dari yang klasik”.

Variasi sup miso yang populer di antaranya adalah:

  • Nameko + wakame (rumput laut)
  • Nameko + okra (kombinasi “lendir ganda” yang sangat baik untuk pencernaan)
  • Nameko + jahe parut (menghangatkan dan menyegarkan)
  • Nameko + fu (gluten gandum) dan mitsuba
  • Nameko + tahu + daun bawang
nameko miso shiru
Nameko Miso Shiru atau Sup Miso Nameko
delishkitchen.tv

– Nameko Oroshi
Nameko yang sudah direbus dicampur dengan parutan lobak, ditambah kecap asin dan sedikit cuka. Hidangan ini menyegarkan dan licin, sering disajikan sebagai pendamping makanan berlemak.

– Nameko Soba
Soba panas dengan kuah yang kaya akan nameko. Di Prefektur Yamagata, “Sansai Nameko Soba” adalah hidangan khas yang menggunakan nameko kayu gelondongan segar.

– Ankake
Nameko dapat digunakan sebagai bahan dalam saus kental (ankake) yang dituangkan di atas tahu, terong, atau ikan. Resep dari Kikkoman menunjukkan kombinasi terong, tahu, dan nameko dalam saus ankake yang lezat.

– Tempura
Meskipun kurang umum daripada maitake, nameko juga bisa dijadikan tempura. Namun, karena kandungan airnya yang tinggi, nameko perlu ditangani dengan hati-hati saat menggoreng. Di Prefektur Yamagata, tempura nameko kayu gelondongan dinikmati karena rasa dan teksturnya yang lebih kuat.

– Panggang Arang
Nameko kayu gelondongan, dengan teksturnya yang padat, dapat dipanggang di atas arang. Metode ini menguapkan kelembaban dan mengkonsentrasikan rasa, menciptakan pengalaman yang berbeda dari nameko rebus.

– Hidangan Lain
Nameko juga dapat ditambahkan ke pasta, dibuat sebagai lauk pendamping nasi, dicampur ke dalam chawanmushi, atau digunakan sebagai topping untuk hidangan seperti yamakake (natto dengan parutan yam).

Selain itu, berikut ini ada tips pengolahan dan penyimpanan untuk jamur nameko:

  • Pencucian: Meskipun nameko berlendir, jamur ini tetap perlu dibilas dengan cepat di bawah air mengalir. Jangan merendamnya terlalu lama karena lendir dan nutrisi akan larut.
  • Penyimpanan: Nameko tidak tahan lama. Di lemari es, ia hanya bertahan 2 hari hingga 1 minggu. Tanda-tanda kerusakan adalah lendir yang keruh dan bau asam.
  • Pembekuan: Cara terbaik untuk menyimpan nameko adalah membekukannya. Potong bagian akar, masukkan ke dalam kantong plastik untuk pembekuan, dan simpan hingga 1 bulan. Nameko beku dapat langsung dimasukkan ke dalam sup tanpa perlu dicairkan.
  • Pemilihan: Pilih nameko yang kemasannya tidak menggembung, dan lendirnya tidak keruh. Untuk nameko dengan akar, pilih yang tutupnya belum terbuka penuh dan berdaging tebal.

7. Manfaat bagi Tubuh, Kandungan Bioaktif dan Khasiat Kesehatan

Nameko bukan hanya lezat, tapi juga salah satu jamur dengan profil gizi paling mengesankan di Jepang. Lendirnya yang sering dianggap hanya sebagai keunikan tekstur, sebenarnya adalah sumber nutrisi yang luar biasa.

Menurut data dari Standard Tables of Food Composition in Japan edisi tahun 2020, kandungan gizi dasar dari jamur nameko adalah kalori: 21 kkal per 100g (sangat rendah), protein: 1,8 g, lemak: 0,2 g (sangat rendah), karbohidrat: 5,4 g, kalium: 240 mg, dan serat makanan: 3,4 g.

Profil gizi lengkap per 100 g berat kering adalah protein 24,98%, total gula 57,12%, lemak 3,21%, serat kasar 5,06%, abu 6,38%. Nameko mengandung 17 asam amino dengan asam amino esensial mencapai 28,10% dari total asam amino. Ini menjadikannya jamur berprotein tinggi, rendah lemak, dan rendah serat dan menjadikannya profil gizi yang sangat baik.

Lendir dari jamur nameko yang disebut “nume” (ぬめり) adalah serat makanan larut air yang disebut pektin. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa lendir ini jauh lebih kompleks daripada pektin biasa. Analisis dari Nature Scientific Reports mengungkapkan bahwa lendir ini mengandung:

  • Polisakarida: komponen utama, dengan D-glukosa sebagai monosakarida dominan
  • Protein: 41,04% dari total protein nameko berpindah ke lendir saat dimasak
  • Asam amino bebas: 84,24% dari total asam amino bebas berpindah ke lendir
  • Mineral: kaya akan kalium, kalsium, magnesium, dan fosfor

Yang menariknya lagi, ketika nameko dimasak, sebagian besar nutrisinya berpindah ke air rebusan. Itulah mengapa sup miso nameko sangat bergizi, karena semua kebaikan nameko larut ke dalam kuahnya.

Jamur nameko juga memiliki manfaat kesehatan yang diteliti, yaitu di antaranya:

a) Kesehatan Pencernaan dan Usus
Lendir nameko adalah prebiotik alami yang memberi makan bakteri baik di usus. Serat larutnya membantu mengatur pergerakan usus, mengatasi sembelit, dan memperbaiki diare. Pektin dalam nameko juga membantu menurunkan kolesterol dan gula darah.

b) Pengaturan Tekanan Darah
Kandungan kalium yang tinggi (240 mg per 100g) membantu mengeluarkan natrium berlebih dari tubuh yang pada gilirannya membantu menurunkan tekanan darah. Ini menjadikan nameko makanan yang baik untuk pencegahan hipertensi.

c) Metabolisme Energi
Nameko kaya akan niasin (5,3 mg per 100g) dan asam pantotenat (1,29 mg per 100g). Niasin berperan dalam metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, sementara asam pantotenat diperlukan untuk produksi energi dan sintesis antibodi. Kekurangan niasin dapat menyebabkan ruam kulit dan sariawan.

nameko ankake
Nameko Ankake
delishkitchen.tv

d) Peningkatan Imunitas
Nameko mengandung β-glukan, serat makanan yang telah terbukti meningkatkan sistem kekebalan tubuh. β-glukan mengaktifkan makrofag dan sel NK (natural killer) yang berperan dalam melawan infeksi dan sel abnormal.

e) Potensi Anti Tumor
Penelitian dari Cina menunjukkan bahwa ekstrak nameko memiliki tingkat penghambatan 70% terhadap sarcoma S-180 dan karsinoma ascites Ehrlich pada tikus. Aktivitas antitumor ini terkait dengan polisakarida dan lendirnya. Sebuah studi mengidentifikasi enam polisakarida dari nameko, dan dua di antaranya menunjukkan efek imunomodulator kuat dengan meningkatkan fagositosis makrofag dan sekresi sitokin (NO, IL-1β, IL-6, TNF-α).

f) Antioksidan dan Anti-inflamasi
Nameko mengandung ergothioneine, asam amino antioksidan yang jarang ditemukan dan memiliki kemampuan melindungi sel dari stres oksidatif. Penelitian juga menunjukkan bahwa nameko memiliki aktivitas anti-inflamasi dengan menghambat produksi nitrat oksida.

g) Kesehatan Otak dan Saraf
Lendir nameko mengandung nukleat yang menurut penelitian Jepang bermanfaat untuk menjaga energi dan fungsi otak. Kandungan asam glutamat dan serin yang tinggi juga mendukung fungsi kognitif dan metabolisme otak.

h) Efek Menenangkan (Anti Stres)
Asam pantotenat dalam nameko berperan dalam sintesis hormon kortikosteroid di kelenjar adrenal yang membantu tubuh mengatasi stres.

Yang menjadi catatan penting saat mengonsumsi jamur nameko di antaranya adalah:

  • Jangan makan mentah: Nameko mentah atau setengah matang dapat menyebabkan keracunan makanan karena kandungan airnya yang tinggi dan kemungkinan pertumbuhan bakteri. Selalu masak sepenuhnya.
  • Untuk penderita asam urat: Seperti jamur lainnya, nameko mengandung purin. Penderita asam urat tinggi sebaiknya membatasi konsumsi.
  • Bagi yang alergi: Meskipun jarang, beberapa orang mungkin alergi terhadap lendir nameko. Mulailah dengan porsi kecil jika baru pertama kali mencoba.

Nameko memang bukan jamur yang glamor. Jamur ini tidak memiliki aroma seperti jamur matsutake yang memabukkan atau keindahan maitake yang luar biasa. Tapi, nameko memiliki sesuatu yang tidak dimiliki jamur lai adalah kepribadian yang tak tertukar.

Lendirnya yang mungkin tampak aneh bagi orang asing, adalah salah satu keajaiban kuliner Jepang dan lebih dari itu adalah paket nutrisi yang luar biasa. Dalam semangkuk sup miso hangat di malam musim gugur, nameko bukan hanya hidangan biasa, tapi jamur ini adalah esensi musim gugur Jepang itu sendiri seperti hangat, menenangkan, dan terasa licin di lidah.

D. Jamur Hiratake

Hiratake (平茸) adalah jamur yang mungkin tidak sepopuler maitake atau shiitake di Jepang, tapi reputasinya di panggung global tidak tertandingi. Di luar Jepang, jamur ini dikenal sebagai Oyster Mushroom (jamur tiram) dan merupakan salah satu jamur budidaya paling penting di dunia. Di Jepang sendiri, hiratake memiliki sejarah kuliner yang panjang karena tercatat dalam Konjaku Monogatari dari periode Heian atau lebih dari seribu tahun yang lalu. Nama Jepangnya, “平茸” (hiratake) secara harfiah berarti “jamur pipih” yang merujuk pada tutupnya yang rata dan melebar.

1. Identitas Botani dan Sejarah

Hiratake memiliki nama ilmiah Pleurotus ostreatus dari genus Pleurotus yang mencakup banyak spesies jamur tiram di seluruh dunia . Dalam bahasa Jepang, jamur ini juga dikenal dengan nama Kantake (寒茸) yang berarti “jamur dingin”, karena kemampuannya tumbuh di suhu rendah.

jamur hiratake
Jamur Hiratake
ommons.wikimedia.org

Yang menariknya lagi, hiratake pernah menjadi “shimeji” di Jepang. Sebelum budidaya buna shimeji (ブナシメジ) menjadi dominan, hiratake dijual dengan nama “shimeji”. Ketika buna-shimeji yang lebih tahan lama dan bertekstur lebih baik muncul, hiratake kehilangan posisinya dan sempat menghilang dari pasar. Kini, hiratake telah kembali dengan identitasnya sendiri dan bahkan ada varietas unggul seperti Shimofuri Hiratake yang dikembangkan oleh Hokuto Corporation dari hasil persilangan antara hiratake Jepang dan spesies Pleurotus Barat.

2. Ekologi dan Habitat Jamur Hiratake

Hiratake adalah jamur saprofit yang tumbuh pada kayu mati pohon berdaun lebar . Jamur ini tersebar luas di hutan beriklim sedang di seluruh dunia yang menjadikannya salah satu jamur pangan yang paling kosmopolitan. Di Jepang, jamur ini dapat ditemukan tumbuh liar pada batang pohon tumbang dan tunggul pohon dari musim gugur hingga musim semi.

Berikut ini adalah kondisi pertumbuhan yang ideal untuk jamur hiratake:

  • Suhu optimal untuk miselium sekitar 25°C
  • Suhu pembentukan tubuh buah sekitar 10-20°C, dengan optimal pada 13-16°C
  • Kelembapan: di atas 80%
  • Cahaya antara 200-500 lux untuk pembentukan tubuh buah
  • Konsentrasi CO₂ di bawah 0.1% untuk perkembangan normal, di atas 0.3% menyebabkan batang memanjang abnormal dan tutup tidak berkembang

Hiratake liar tumbuh dalam rumpun besar yang bertumpuk, sering kali dengan berat mencapai 10 kg per rumpun . Karena tumbuh di lingkungan yang bervariasi, warna dan bentuknya tidak seragam, berbeda dengan versi budidaya yang lebih seragam .

Selain itu, hiratake memiliki kemiripan dengan jamur beracun Tsukiyotake (月夜茸) yang setiap tahun menyebabkan keracunan di Jepang. Cara membedakannya adalah batang Tsukiyotake jika dibelah menunjukkan noda hitam, sedangkan hiratake tidak. Dalam Konjaku Monogatari bahkan mencatat isah percobaan pembunuhan dengan menyajikan sup Tsukiyotake yang disamarkan sebagai hiratake.

3. Daerah Produksi Khas di Jepang

Hiratake dibudidayakan secara luas di seluruh Jepang dengan beberapa prefektur sebagai produsen utama. Produsen utamanya adalah Niigata, Ibaraki, Chiba, Mie, dan Yamagata. Data dari Prefektur Kochi menunjukkan bahwa Niigata dan Ibaraki adalah dua produsen hiratake terbesar di Jepang.

Yamagata menghasilkan hiratake dengan karakteristik khusus seperti batang yang kokoh dan volume yang besar, karena dipanen dalam bentuk rumpun. Hiratake Yamagata dijual dengan nama “Hiratake” dan memiliki tekstur lembut serta rasa yang dalam. Selain itu, Ishikawa mengembangkan “Haineko no Hiratake” yang dibudidayakan menggunakan media fermentasi paten hasil penelitian bersama Universitas Niigata dan produsen media Niigata. Media ini meniru lingkungan alami humus hutan dan kayu lapuk menghasilkan hiratake dengan aroma dan rasa yang mendekati jamur liar .

4. Mengapa Hiratake Menjadi Cita Rasa Khas Musim Gugur?

Hiratake liar muncul dari akhir musim gugur hingga musim semi dengan puncak di musim gugur dan awal musim dingin. Inilah alasan jamur ini disebut Kantake (寒茸) atau jamur dingin. Berbeda dengan jamur maitake atau matsutake yang musimnya lebih pendek, hiratake adalah jamur yang menemani peralihan dari musim gugur ke musim dingin.

Namun, karena budidaya media modern, hiratake saat ini tersedia sepanjang tahun. Meskipun demikian, hiratake liar tetap menjadi buruan di musim gugur dan petani serta pencari jamur menantikan kemunculannya di batang pohon tumbang dan tunggul.

5. Cara Mengolah Hiratake

Hiratake adalah salah satu jamur paling serbaguna dalam masakan Jepang maupun internasional. Karakteristiknya adalah tidak memiliki lendir, aroma yang bersih, tekstur yang kenyal, dan kemampuan menyerap rasa dengan baik. Dalam masakan Prancis, hiratake dikenal sebagai Pleurote dan digunakan dalam berbagai hidangan seperti fricassée dan blanquette.

Berikut ini adalah beberapa hidangan klasik Jepang dari jamur hiratake:

– Sup Miso
Hiratake adalah bahan umum dalam sup miso memberikan umami yang dalam tanpa lendir yang mengganggu.

– Nabemono
Hiratake cocok untuk hot pot karena teksturnya yang kenyal dan kemampuannya menyerap kaldu.

– Takikomi Gohan
Nasi campur dengan hiratake adalah hidangan musim gugur yang klasik.

– Tempura
Hiratake dapat digoreng sebagai tempura, meskipun teksturnya yang tipis memerlukan penanganan hati-hati.

tempura hiratakw
Tempura Jamur Hiratake
delishkitchen.tv

– Udon dan Soba
Hiratake ditambahkan ke dalam sup udon atau soba untuk menambah kedalaman rasa.

Berikut ini adalah beberapa hidangan Barat dan modern dari jamur hiratake:

– Sauté dengan Minyak Zaitun
Cara ini adalah cara yang sangat direkomendasikan. Sumber resmi Kementerian Pertanian Jepang (MAFF) mencatat bahwa hiratake berpadu sempurna dengan minyak zaitun dan dapat ditumis atau digunakan dalam pasta.

– Pasta
Hiratake dapat ditumis dengan bawang putih dan minyak zaitun, lalu dicampur dengan pasta untuk hidangan yang cepat dan lezat .

– Cream Soup
“Haineko no Hiratake Cream Soup” dari Ishikawa adalah contoh produk olahan yang memanfaatkan aroma hiratake yang kaya. Sup ini menggunakan hiratake dari media fermentasi, susu segar, bawang bombai, dan kentang, menciptakan sup krim yang aromanya menusuk hidung.

– Fricassée dan Blanquette
Dalam tradisi kuliner Prancis, hiratake (Pleurote) digunakan dalam hidangan seperti fricassée dan blanquette.

– Tumis Mentega
Hiratake ditumis dengan mentega adalah hidangan sederhana namun sangat lezat dan sering disajikan sebagai lauk atau topping .

Selain itu, berikut ini ada tips pengolahan dan penyimpanan untuk jamur hiratake:

  • Penyimpanan: Hiratake memiliki umur simpan yang lebih pendek dibandingkan buna shimeji. Inilah salah satu alasan mengapa jamur ini kalah populer dari buna shimeji di pasar Jepang. Simpan di lemari es dan konsumsi dalam beberapa hari.
  • Pembersihan: Karena hiratake sering ditanam dalam rumpun, bersihkan dengan hati-hati. Jangan merendamnya terlalu lama karena akan menyerap air.
  • Pemilihan: Pilih hiratake dengan tutup yang belum sepenuhnya terbuka, warna merata, dan batang yang kokoh.

6. Manfaat bagi Tubuh, Kandungan Bioaktif dan Khasiat Kesehatan

Hiratake (Pleurotus ostreatus) adalah salah satu jamur yang paling banyak diteliti dari segi nilai gizi dan manfaat kesehatannya. Review ilmiah dari Turkish Journal of Agriculture-Food Science and Technology mencatat bahwa hiratake mengandung berbagai mikokimia termasuk polisakarida (serat kasar dan β-glukan), asam amino esensial, ergothioneine, peptida, (gliko)protein, lektin, senyawa fenolik, poliketida (lovastatin), (tri)terpenoid, dan enzim .

Kandungan Gizi Dasar dari hiratake adalah jamur rendah kalori dan rendah lemak, namun kaya tapi:

  • Protein: 12-29% dari berat kering, dengan kualitas yang dianggap lebih tinggi daripada protein nabati
  • Serat makanan: termasuk β-glukan
  • Kalium: penting untuk kesehatan jantung dan tekanan darah
  • Asam folat: penting untuk pembentukan sel dan pencegahan anemia
  • Vitamin B kompleks: termasuk niasin, riboflavin, dan asam pantotenat

Di dalam jamur hiratake juga terdapat senyawa bioaktif utama. Berikut ini adalah beberapa senyawanya:

– β-Glukan
Polisakarida utama dengan aktivitas imunomodulator. β-glukan mengaktifkan makrofag, sel NK (natural killer), dan neutrofil, meningkatkan pertahanan tubuh terhadap infeksi dan sel abnormal.

– Lovastatin
Senyawa poliketida yang ditemukan secara alami dalam hiratake. Lovastatin adalah inhibitor HMG-CoA reduktase, enzim kunci dalam sintesis kolesterol. Ini menjelaskan potensi hiratake dalam menurunkan kolesterol.

hiratake nabemono
Hiratake Nabemono
hokto-kinoko.co.jp

– Ergothioneine
Asam amino antioksidan yang jarang ditemukan dengan kemampuan melindungi sel dari stres oksidatif. Ergothioneine dianggap sebagai “vitamin panjang umur” karena akumulasinya di jaringan yang mengalami stres oksidatif tinggi .

– Lektin
Protein pengikat karbohidrat dengan aktivitas anti tumor dan imunomodulator. Lektin dari hiratake telah diteliti karena kemampuannya menghambat proliferasi sel kanker dan merangsang respons imun.

– Senyawa Fenolik
Termasuk asam fenolik dan flavonoid memberikan aktivitas antioksidan yang melindungi lipid dari peroksidasi dan melawan radikal bebas.

Jamur hiratake juga memiliki manfaat kesehatan yang diteliti, yaitu di antaranya:

– Efek Penurun Kolesterol
Lovastatin dan β-glukan dalam hiratake bekerja sinergis untuk menurunkan kolesterol total dan LDL. Lovastatin menghambat sintesis kolesterol di hati, sementara β-glukan mengikat asam empedu di usus, meningkatkan ekskresinya.

– Imunomodulasi dan Anti Tumor
β-glukan dan lektin dari hiratake telah menunjukkan kemampuan untuk mengaktifkan sistem kekebalan tubuh. Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak hiratake dapat meningkatkan fagositosis makrofag dan aktivitas sel NK (natural killer). Efek antitumor sebagian dimediasi melalui stimulasi imun ini.

– Antioksidan
Ergothioneine dan senyawa fenolik dalam hiratake memberikan perlindungan antioksidan yang kuat. Ergothioneine adalah antioksidan yang sangat stabil dan dapat terakumulasi dalam sel, memberikan perlindungan jangka panjang terhadap stres oksidatif.

– Kesehatan Kardiovaskular
Kombinasi efek penurun kolesterol, kandungan kalium yang tinggi, dan aktivitas antioksidan menjadikan hiratake makanan yang baik untuk kesehatan jantung. Kalium membantu mengatur tekanan darah, sementara antioksidan melindungi pembuluh darah dari kerusakan oksidatif.

– Potensi Antidiabetik
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa polisakarida dari hiratake dapat membantu mengatur kadar gula darah, meskipun mekanismenya masih diteliti lebih lanjut.

– Efek Prebiotik
Serat dan β-glukan dalam hiratake bertindak sebagai prebiotik memberi makan bakteri baik di usus dan mendukung kesehatan mikrobiota usus.

Selain itu, yang menjadi catatan penting saat mengonsumsi jamur hiratake di antaranya adalah:

  • Jangan makan mentah: Seperti semua jamur, hiratake harus dimasak sepenuhnya. Jamur mentah dapat mengandung bakteri dan senyawa yang sulit dicerna.
  • Untuk penderita asam urat: Seperti jamur lainnya, hiratake mengandung purin. Konsumsi dalam jumlah sedang bagi penderita asam urat tinggi.
  • Kualitas produk: Kandungan bioaktif dalam hiratake dapat ditingkatkan melalui modifikasi komposisi substrat dan kondisi budidaya atau pascapanen. Ini berarti tidak semua hiratake memiliki profil nutrisi yang sama. Jamur yang ditanam dengan media fermentasi seperti “Haineko no Hiratake” mungkin memiliki kandungan bioaktif yang lebih tinggi.

Oleh karena itu, hiratake adalah bukti bahwa jamur yang “biasa” di Jepang bisa menjadi bintang global. Di seluruh dunia, jamur ini dikenal sebagai Oyster Mushroom dan menjadi salah satu jamur budidaya terpenting. Di Jepang, meskipun popularitasnya sempat tergerus oleh buna shimeji, hiratake tetap memiliki tempat istimewa dalam tradisi kuliner mulai dari sup miso sehari-hari hingga hidangan Prancis yang elegan.

Yang membuat hiratake istimewa bukan hanya kelangkaannya saja, tapi kemampuannya berbaur dengan apa pun seperti minyak zaitun, mentega, kaldu Jepang, saus krim, pasta, nasi. Jamur ini adalah jamur yang tidak menuntut perhatian banyak, tapi selalu memberikan yang terbaik. Dalam bahasa Jepang, ada ungkapan “出汁が出る” (dashi ga deru) yang artinya “mengeluarkan kaldu” dan hiratake adalah salah satu jamur yang paling pintar melakukannya.

E. Jamur Mukitake

Mukitake (剥き茸) adalah jamur yang mungkin tidak banyak dikenal di luar Jepang, tapi di dalam negeri jamur ini memiliki tempat istimewa yang sulit digantikan. Namanya berasal dari kata kerja “muku” (剥く) yang berarti “mengupas” yang menjadi referensi langsung pada ciri khasnya yaitu lapisan gelatin di bawah kulit tutupnya membuat kulitnya mudah terkelupas.

Di beberapa daerah, jamur ini dijuluki “Yama no Fukahire” (山のフカヒレ) yang artinya “sirip hiu dari gunung”, karena teksturnya yang kenyal dan licin setelah dimasak benar-benar mengingatkan pada sirip hiu. Nama ilmiahnya telah beberapa kali berubah. Nama yang paling umum digunakan adalah Panellus serotinus, tapi penelitian terbaru mengklasifikasikannya sebagai Sarcomyxa serotina atau Sarcomyxa edulis untuk tipe kuning. Nama Inggrisnya adalah “Late Fall Oyster“, karena sangat tepat menggambarkan karakternya adalah jamur tiram yang muncul di akhir musim gugur.

jamur mukitake
Jamur Mukitake yang Tumbuh di Alam
hokto-kinoko.co.jp

1. Identitas Botani dan Asal Nama

Mukitake termasuk dalam keluarga Mycenaceae, genus Sarcomyxa (dahulu Panellus). Nama spesies serotina berasal dari bahasa Latin yang berarti “terlambat” atau “datang belakangan” yang merujuk pada waktu kemunculannya yang sangat akhir di musim gugur ketika sebagian besar jamur lain sudah selesai berbuah.

Penelitian taksonomi terbaru dari Prefektur Aomori mengungkapkan bahwa apa yang selama ini disebut “mukitake” sebenarnya terdiri dari dua spesies berbeda meliputi tipe kuning (Sarcomyxa edulis) dan tipe hijau (Sarcomyxa serotina). Keduanya memiliki ciri morfologi yang berbeda dan tidak dapat kawin silang. Namun, dalam praktik kuliner, keduanya tetap disebut mukitake dan diperlakukan sama.

2. Ekologi dan Habitat Jamur Mukitake

Mukitake adalah jamur saprofit yang tumbuh pada kayu mati pohon berdaun lebar. Jamur ini tersebar di zona beriklim sedang hingga subarktik di Belahan Bumi Utara. Mukitake sangat terkait dengan pohon inang utamanya yaitu pohon beech. Jamur ini tumbuh berkelompok pada batang pohon beech yang tumbang, tunggul, dan kayu mati yang masih berdiri. Selain beech, ia juga dapat ditemukan pada mizunara, konara, dan pohon berdaun lebar lainnya.

Karakteristik pertumbuhan dari mukitake adalah jamur ini tumbuh berkelompok besar, bertumpuk-tumpuk pada permukaan kayu, sering dalam formasi yang menyerupai rak atau tangga. Rumpunnya bisa sangat padat dengan puluhan tutup jamur tumbuh berdampingan. Tutupnya memiliki batang yang sangat pendek atau hampir tidak ada dan menempel secara lateral pada substrat .

Jamur ini adalah salah satu jamur musim gugur yang paling “terlambat” kemunculan tumbuhnya. Musimnya adalah Oktober hingga Desember. Di Prefektur Iwate, panen biasanya baru dimulai pada akhir Oktober, ketika “musim jamur hampir berakhir” . Karena itulah jamur ini disebut “Late Fall Oyster“atau jamur tiram yang datang di penghujung musim gugur ketika sebagian besar pencari jamur sudah menggantung keranjang mereka.

Mukitake sering tumbuh berdampingan dengan Tsukiyotake (月夜茸) yang termasuj jamur beracun dan mematikan. Perbedaan kuncinya adalah jika batang mukitake dibelah secara vertikal, dagingnya berwarna putih bersih, sedangkan Tsukiyotake memiliki noda atau bercak ungu di dalamnya. Jamur mukitake juga tidak memiliki cincin di pangkal batangnya yang menjadi ciri Tsukiyotake.

3. Daerah Produksi Khas di Jepang

Prefektur Yamagata adalah salah satu daerah utama yang dikenal karena mukitakenya terutama untuk produk alami/liar yang dijual melalui program furusato nozei (donasi daerah). Mukitake Yamagata yang tumbuh di hutan pegunungan dalam dijual dalam kemasan 1 kg (2 kantong × 500 g) dan dikirim mulai pertengahan Oktober .

Prefektur Iwate juga merupakan sumber mukitake liar yang penting dengan panen yang dimulai pada akhir Oktober. Selain itu, Prefektur Aomori menjadi lokasi penelitian taksonomi utama untuk mukitak yang menunjukkan bahwa daerah ini memiliki populasi mukitake yang signifikan. Di daerah-daerah pegunungan dengan hutan beech yang luas seperti Tohoku dan Hokuriku, mukitake adalah salah satu jamur liar yang paling dicari di akhir musim gugur.

4. Mengapa Mukitake Menjadi Cita Rasa Khas Musim Gugur?

Mukitake adalah jamur penutup musim gugur. Ketika jamur-jamur lain sudah selesai berbuah dan hutan mulai bersiap untuk musim dingin, mukitake justru muncul. Musimnya yang Oktober hingga Desember menempatkannya tepat di peralihan antara musim gugur dan musim dingin.

Yang membuat mukitake istimewa di musim gugur adalah hubungannya dengan pohon beech. Di hutan beech pegunungan, ketika daun-daun beech menguning dan berguguran, mukitake mulai muncul pada batang-batang pohon yang tumbang. Pemandangan rumpun mukitake yang tumbuh bertumpuk pada kayu beech yang tertutup lumut adalah salah satu pemandangan musim gugur yang paling khas di Tohoku.

Karena musimnya yang sangat pendek dan posisinya di akhir musim, mukitake sering dianggap sebagai “hadiah terakhir musim gugur” menjadikannya bonus bagi mereka yang masih bertahan di hutan ketika jamur-jamur lain sudah habis.

5. Cara Mengolah Mukitake

Mukitake adalah jamur dengan tekstur yang sangat khas. Lapisan gelatin di bawah kulitnya ketika dimasak menciptakan sensasi licin, kenyal, dan “toron” (トロン) atau gambaran tekstur dalam bahasa Jepang yang menggabungkan kelembutan dan kelenturan . Inilah alasan jamur ini dijuluki “sirip hiu dari gunung”.

Mukitake harus dimasak lama dan matang sepenuhnya untuk dapat dimakan. Kulitnya sering dianggap memiliki sedikit rasa pahit, sehingga banyak orang mengupasnya sebelum dimasak dan ini yang menjadikan asal nama “mukitake”. Namun, beberapa sumber menyarankan bahwa tidak mengupas kulitnya juga baik karena kulit tersebut menyerap kaldu dengan sangat baik dan memberikan tekstur yang lebih kaya.

Berikut ini adalah beberapa hidangan klasik Jepang dari jamur mukitake:

a) Nabemono dan Sup
Mukitake sangat cocok untuk hot pot dan sup karena kemampuannya menyerap kaldu dengan luar biasa. Ketika dimasak dalam nabe, mukitake menjadi licin dan kenyal dan kaldunya menjadi lebih kaya. Sup miso dengan mukitake juga sangat umum dimasak.

b) Nimono
Mukitake adalah bahan klasik untuk nimono atau hidangan rebus. Karena teksturnya yang kenyal dan kemampuan menyerap rasa, jamur ini menjadi sangat lezat setelah direbus dalam kaldu dengan kecap asin dan mirin.

mukitake nimono
Mukitake Nimono
yasutani.com

c) Mukitake Kimchi
Hidangan ini adalah hidangan yang sangat populer di kalangan pencari jamur. Mukitake direbus, lalu dicampur dengan kubis, lobak, mentimun, wortel, dan bumbu kimchi. Hasilnya adalah kimchi dengan tekstur mukitake yang unik seperti licin, kenyal, dan meresap bumbu. Seorang blogger Jepang melaporkan bahwa mukitake kimchi buatannya mendapat “sambutan hangat” ketika disajikan pada pertemuan Imoni-kai atau pesta hot pot ubi dengan sepuluh teman sekampungnya .

d) Sukeni dan Ankake
Mukitake dapat dimasak utuh dalam kaldu berbasis kecap asin atau digunakan sebagai topping dalam hidangan seperti chahan (nasi goreng) dengan saus ankake mukitake.

e) Tempura
Mukitake juga bisa dijadikan tempura, meskipun teksturnya yang kenyal dan kandungan airnya yang tinggi memerlukan perhatian ekstra saat menggoreng.

6. Manfaat bagi Tubuh, Kandungan Bioaktif dan Khasiat Kesehatan

Mukitake adalah salah satu jamur dengan profil bioaktif paling menarik yang telah diteliti secara ilmiah dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian yang didanai oleh Grants-in-Aid for Scientific Research (KAKENHI) Jepang telah mengungkap berbagai khasiatnya yang luar biasa.

Analisis metabolomik terhadap bagian yang dapat dimakan dari mukitake mengungkapkan 358 senyawa yang teridentifikasi termasuk 91 senyawa terdeteksi melalui LC-TOFMS (asam lemak, fosfolipid, asilkarnitin, fitosterol, sfingolipid) dan 267 senyawa terdeteksi melalui CE-TOFMS (asam amino seperti glutamat, aspartat, ornitin; senyawa terkait asam nukleat; metabolit terkait glukosa)

Kemudian, analisis GC/MS menunjukkan bahwa jamur mukitake mengandung asam linoleat (asam lemak esensial) merupakan asam lemak dominan mencapai sekitar 74% dari total asam lemak. Asam palmitat sekitar 12%, asam linolenat sekitar 7%, dan asam oleat sekitar 2% . Selain itu, mukitake juga mengandung asam 10-hidroksi-sis-12-oktadekenoat, asam lemak langka yang telah diketahui memiliki efek memperbaiki gula darah dan menghambat sintesis asam lemak.

Jamur mukitake juga memiliki khasiat kesehatan yang diteliti, di antaranya adalah

– Efek Anti Metabolik Sindrom
Ini adalah khasiat mukitake yang paling banyak diteliti. Studi menggunakan model tikus obesitas menunjukkan bahwa ekstrak etanol mukitake memiliki efek anti-metabolik sindrom. Penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa ekstrak air panas mukitake memiliki efek memperbaiki perlemakan hati dan kerusakan hati.

mukitake tempura
Tempura Jamur Mukitake
delishkitchen.tv

Studi pada tikus model diabetes (diabetes model mice) yang diberi pakan mengandung 10% bubuk mukitake kering menunjukkan penurunan berat hati dan konsentrasi trigliserida hati, penurunan signifikan kadar insulin dalam darah, dan peningkatan kadar adiponektin atau hormon yang berperan dalam meningkatkan sensitivitas insulin dan anti inflamasi.

Temuan ini menunjukkan bahwa mukitake mengandung komponen yang dapat mencegah dan memperbaiki diabetes tipe 2 (diabetes yang terkait dengan resistensi insulin).

– Efek Anti Alergi
Penelitian KAKENHI menemukan bahwa mukitake menunjukkan aktivitas anti alergi. Ini menjadikannya bahan makanan yang menjanjikan untuk pencegahan atau perbaikan gejala alergi.

– Modulasi MikroRNA (miRNA), Potensi Anti-Penuaan dan Anti-Kanker
Ini adalah temuan yang paling menarik secara ilmiah. Penelitian menunjukkan bahwa komponen mukitake dapat memodifikasi ekspresi mikroRNA (miRNA) dalam sel HepG2:

  • Penurunan ekspresi miRNA34a: miRNA yang terkait dengan penuaan (aging)
  • Penurunan ekspresi miRNA125b: miRNA yang terkait dengan proliferasi sel tumor (kanker)

Temuan ini menunjukkan bahwa mukitake berpotensi menjadi bahan makanan multifungsi yang efektif untuk pencegahan penyakit terkait gaya hidup modern seperti sindrom metabolik, alergi, penuaan, dan kanker .

– Aktivitas Antioksidan
Penelitian sebelumnya juga melaporkan bahwa mukitake memiliki aktivitas penghilangan radikal bebas dan efek penghambatan glikasi yang merupakan proses yang terkait dengan penuaan dan komplikasi diabetes.

Selain itu, yang menjadi catatan penting saat mengonsumsi jamur mukitake di antaranya adalah:

  • Jangan makan mentah: Mukitake harus dimasak lama dan matang sepenuhnya untuk dapat dimakan. Jamur mentah atau setengah matang dapat menyebabkan masalah pencernaan.
  • Untuk penderita asam urat: Seperti jamur lainnya, mukitake mengandung purin. Konsumsi dalam jumlah sedang bagi penderita asam urat tinggi.
  • Ketersediaan: Mukitake liar sangat musiman dan ketersediaannya terbatas. Budidaya artifisial telah dilakukan tapi produksinya masih sangat kecil hanya sekitar 6 ton per tahun (data 2005) yang menjadikannya jamur yang tidak umum bahkan di Jepang.

Oleh karena itu, mukitake adalah jamur yang tidak banyak dikenal tapi sangat istimewa. Julukan “sirip hiu dari gunung” bukan terlalu berlebihan karena teksturnya yang kenyal dan licin setelah dimasak memang memberikan pengalaman kuliner yang unik dan mewah. Namun yang membuat mukitake benar-benar luar biasa adalah profil bioaktifnya yang terdiri dari asam lemak unik, aktivitas anti metabolik sindrom, efek anti alergi, dan kemampuan memodifikasi mikroRNA yang terkait dengan penuaan dan kanker.

Mukitake adalah bukti bahwa jamur yang paling sederhana sekalipun dapat menyimpan potensi kesehatan yang luar biasa. Di penghujung musim gugur ketika hutan mulai sunyi dan jamur-jamur lain telah pergi, mukitake muncul sebagai hadiah terakhir dari alam sebelum musim dingin tiba.


Jamur matsutake memang ikon khas musim gugur Jepang. Aromanya yang membuat candu dan harganya yang selangit menjadikannya simbol kemewahan musiman. Namun, jika kita lihat jamur lain selain matsutake, kita akan melewatkan jiwa sebenarnya dari musim gugur Jepang yang bukan terletak pada kemewahan, tapi pada kehangatannya sehari-hari.

Maitake yang digoreng sebagai tempura, renyah dan beraroma adalah kegembiraan yang bisa dinikmati siapa saja. Shiitake yang direbus dalam sup miso memberikan umami yang dalam dan menenangkan menjadi pelukan hangat di malam yang dingin. Nameko yang berlendir dalam sup miso dengan teksturnya yang unik adalah kejutan kecil yang membuat setiap suapan terasa hidup.

Hiratake yang ditumis dengan mentega, sederhana tapi sempurna adalah bukti bahwa kelezatan tidak memerlukan kerumitan. Dan juga mukitake yang dijuluki “sirip hiu dari gunung” adalah hadiah terakhir musim gugur menjadikannya sebuah bonus bagi mereka yang sabar menunggu. Jika Minasan sedang berada di Jepang pada musim gugur, jangan lupa sempat diri dan coba salah satu hidangan jamur khas musim ini ya. Semoga artikel ini bermanfaat.

Nah, cukup sekian yang bisa Pandai Kotoba berikan mengenai cita rasa 5 jamur khas musim gugur Jepang selain matsutake. Jika Minasan masih penasaran dan ingin baca lagi tentang budaya musim gugur di Jepang lainnya, di website kami banyak tersedia informasinya lho. Salah satunya ini nih: Geijutsu no Aki, Mengisi Kegiatan Musim Gugur dengan Menghargai Seni di Jepang. Klik untuk membacanya.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *