Culture

Orang Jepang, Bunga Sakura dan Perubahan Warna Gunung

Bagi orang Jepang, mekarnya bunga Sakura dan berubahnya warna gunung adalah pertanda bergulirnya musim di Jepang. Perubahan musim menjadi penanda berlalunya waktu, pengulangan masa lalu, dan harapan terhadap masa depan.

Orang Jepang Mencintai Bunga

Orang Jepang akan menikmati pesta melihat bunga pada musim semi saat bunga yang indah bemkaran seluruhnya.

Dahulu ada seorang pria Inggris bernama Robert Fortune yang mengunjungi Jepang pada akhir zaman Edo (1860). Ia kemudian menerbitkan buku tentang kesan-kesan saat berada di Jepang, yang berjudul Yedo and Peking (Yedo (Edo) merupakan sebutan lama untuk Tokyo.

Dalam bukunya tertulis,

“A remarkable feature in the Japanese character is, that, even to the lowest classes, all have an inherent love for flowers, and find in the cultivation of a few plants an endless source of recreation and unalloyed pleasure. If this be one of the tests of a high state of civilization amongst a people. The lower orders amongst the Japanese come out in a most favourable light.Contrasted with the same classes amongst ourselves.”

(“Sebuah ciri yang luar biasa dalam karakter orang Jepang adalah, bahkan masyarakat kelas rendah pun memiliki kecintaan yang dalam terhadap bunga, dan mereka menemukan sumber rekreasi yang tak terbatas dan kesenangan murni dalam budidaya beberapa jenis tanaman. Apabila ini menjadi salah satu tolak ukur untuk menilai seberapa tinggi suatu peradaban dalam sebuah masyarakat, maka kasta yang lebih rendah dalam masyarakat Jepang ternyata menjadi yang paling gemilah ketika dibandingkan dengan kelas yang sama dalam masyarakat kita.”)

Sejak dulu di Jepang semua orang mencintai bunga, baik dari kelas masyarakat yang tinggi hingga yang rendah. Rupanya itu mengejutkan bagi orang Inggris, yang saat itu merupakan negara berperadaban paling maju di dunia, karena Jepang dipandang sebagai negara tidak berperadaban yang sangat terbelakang. Tetapi, jika mencintai bunga merupakan standar tingginya peradaban seperti yang ditunjukkan oleh Robert Fortune, maka kelas bawah di Jepang telah jauh lebih unggul daripada orang-orang kelas bawah yang sama di Inggris.”)

Kecintaan orang Jepang terhadap alam sudah ada dari zaman dahulu. Di masa kini, Jepang pun lalu memimpin dunia dengan teknologi ramah lingkungan seperti mobil hemat bahan bakar dan lain-lain. Hal ini sangat berkaitan dengan mencintai dan takut pada alam, serta tradisi yang telah diperlakukan dengan penuh hormat.

Mekarnya Bunga Sakura

Salah satu yang paling dirasakan ketika perubahan musim adalah bunga Sakura, salah satu bunga kesayangan orang Jepang. Keistimewaan Sakura bukan hanya keindahannya saja. Bunga Sakura akan gugur setelah satu minggu dan hanya mekar dalam waktu yang singkat di musim semi.

Bunga Sakura, penanda berakhirnya musim dingin yang berat dan dimulainya musim semi yang baru.

orang jepang bunga sakura

Umumnya sakura mekar dari akhir Maret sampai awal April tetapi sebenarnya setiap tahun waktu mekarnya tersebut bisa berbeda-beda. Setiap bulan Maret, mekarnya bunga Sakura selalu menjadi topik di seluruh Jepang.

Media massa dan lainnya akan memberi informasi “waktu perkiraan mekarnya Sakura”. Bunga Sakura lebih dulu mekar di daerah yang hangat (kawasan bagian Selatan Jepang), lalu bergerak perlahan ke daerah yang dingin di Utara.

Perkiraan waktu mekarnya Sakura yang berada di wilayah yang sama dapat dihubungkan dalam sebuah garis, yang disebut “garis Sakura”. Waktu mekarnya bunga Sakura ini benar-benar menjadi topik pembicaraan hangat seluruh masyarakat Jepang. Hal ini sangat istimewa. Ini menunjukkan betapa pentingnya bunga Sakura bagi orang Jepang.

Di Jepang, awal tahun ajaran baru dan upacara masuk sekolah adalah bulan April, bersamaan dengan waktu mekarnya Sakura. Para siswa saling berpisah dengan teman sekolah lamanya untuk kemudian bertemu dengan teman yang baru di sekolah yang baru.

Karyawan baru mulai bekerja pada bulan April, demikian pula dengan Tahun Anggaran Pemerintahan yang dimulai pada bulan April. Saat itu banyak orang-orang dari desa yang datang ke kota untuk memulai hidup baru.

Bulan April merupakan saat permulaan suatu peristiwa ketika Sakura bermekaran. Di Jepang, Sakura adalah simbol dari “momen dalam sebuah kehidupan” dan “awal yang baru”.

Meskipun demikian, memang bukan hal yang umum untuk memulai tahun ajaran baru dan tahun anggaran pada bulan April di negara-negara lain di seluruh dunia.

Kecintaan orang Jepang akan bunga Sakura juga dapat terlihat dalam bidang militer. Amerika Serikat, sebagai contoh, menggunakan bintang sebagai lambang pangkat. Jenderal disebut “jenderal 4 bintang”, letnan jenderal disebut “jenderal tiga bintang”, mayor jenderal disebut “jenderal dua bintang”, dan sebagainya.

Di saat negara-negara lain melakukan hal yang serupa, tentara Jepang menggunakan lambang bunga, meskipun sepintas juga terlihat seperti bintang. Semakin tinggi pangkat seseorang, semakin banyak jumlah bunganya.

Orang Jepang dan Perubahan Gunung

Dedaunan di Jepang serentak berubah warna menjadi kuning atau merah setiap musim gugur (momiji). Selain menyaksikan mekarnya bunga Sakura, orang Jepang juga sangat mengagumi keindahan daun momiji di musim gugur.

Berbicara tentang daun momiji, setiap tahun di Jepang juga ada laporan perkiraan mengenai tempat mana saja kita bisa melihat daun momiji, atau kapan waktu yang tepat, sehingga kita dapat merencanakan perjalanan untuk melihatnya.

Bukan keindahan dan kemewahannya saja yang menyebabkan orang Jepang suka melihat daun momiji. Daun momiji akan berubah warna, lalu mengering dan berguguran, dan ketika melihat itu orang Jepang akan merasakan tentang singkatnya kehidupan, kesepian, dan kesedihan.

Gunung di Jepang juga mengalami perubahan seperti halnya pepohonan yang berubah seiring dengan perubahan musim. Pada umumnya, pegunungan di Jepang berwarna hijau, namun ketika musim gugur warna gunung berubah menjadi kuning atau merah, dan ketika musim dingin berubah menjadi putih.

Seperti di Jepang dan di Indonesia, secara umum warna gunung adalah hijau, namun tidak berarti di seluruh dunia juga demikian. Anak Amerika yang menggambar gunung akan menggunakan warna ungu untuk mewarnai gunungnya.

Setiap orang Amerika pasti tahu satu lagu yang cukup terkenal yang berjudul “America the Beautiful”. Salah satu liriknya yang berbunyi “purple mountain majesty” dinyanyikan secara berulang.

Di Jepang, alam dan terutama gunungnya akan berubah seiring perubahan musim, dan orang-orang Jepang sangat menikmatinya dan tidak semua negara dapat mengalami ini. Kecintaan orang Jepang terhadap alamnya ini karena orang Jepang selalu mempertahankan tradisi yang sudah ada.

Baca juga artikel lainnya tentang Budaya Jepang hanya di Pandai Kotoba!

Leave a Reply

Your email address will not be published.