Jeruk dan Kotatsu, Kombinasi Sederhana yang Jadi Budaya Ikonik Musim Dingin di Jepang!
Hai Minasan~! Saat salju turun di luar menandakan Jepang sedang musim dingin. Di tengah ruangan dalam rumah-rumah di Jepang, ada sebuah meja rendah ditutupi selimut tebal. Di bawahnya ada sumber panas menghangatkan kaki kita yang berselonjor. Kemudian, di atas mejanya juga ada tumpukan jeruk mandarin berwarna oranye cerah menunggu untuk dikupas. Aroma jeruk bercampur dengan hawa hangat, sementara suara kulit jeruk yang terkelupas terdengar pelan-pelan.
Kegiatan ini bukan hanya kegiatan biasa aja lho. Kegiatan ini menjadi salah satu citra budaya paling kuat dan paling dicintai di Jepang, yaitu kombinasi antara jeruk atau mikan dan kotatsu atau penghangat tubuh. Selama berabad-abad, dua elemen sederhana ini antara buah jeruk yang mudah dikupas dan meja pemanas tradisional telah menyatu menjadi semacam ritual musim dingin yang melampaui lebih dari fungsinya yang praktis.
Dua kombinasi ini adalah tentang kenyamanan, kebersamaan, dan kehangatan yang tidak hanya bersifat fisik. Pandai kotoba pada artikel ini akan mengupas tuntas mengenai asal-usul dari masing-masing kedua elemen ini, mengapa kombinasi ini bertemu, bagaimana orang Jepang sendiri memandangnya, dan mengapa kombinasi ini tetap ikonik hingga hari ini. Penasaran dengan kombinasi? Yuk, kita simak di bawah ini.

flickr.com
Jeruk dan Kotatsu, Kombinasi Sederhana yang Jadi Budaya Ikonik Musim Dingin di Jepang!
A. Jeruk yang Jadi Wajah Buah Musim Dingin
Untuk memahami mengapa jeruk menjadi simbol musim dingin di Jepang, kita perlu mengenal jeruk ini lebih dekat. Dalam bahasa Jepang, jeruk disebut “mikan” adalah istilah umum untuk jeruk mandarin, tapi yang paling umum dikonsumsi dan paling identik dengan musim dingin adalah unshu mikan (温州みかん), sejenis jeruk satsuma mandarin yang dikenal karena tidak berbiji dan kulitnya mudah dikupas dengan tangan.
Sejarah jeruk di Jepang tidak dimulai dari buah ini. Jeruk-jeruk lain seperti koji dan yuzu telah dikenal sejak periode Nara hingga awal Heian dibawa dari Cina. Namun, unshu mikan memiliki kisah asal yang lebih unik. Menurut salah satu versi sejarah, pada sekitar 500 tahun lalu, seorang biksu Jepang bernama Chiei belajar di Cina dan membawa pulang biji jeruk dari daerah Huangyan. Biji-biji itu ditanam di Kyushu dan dari keturunan tanaman tersebut varietas yang tidak berbiji berhasil dikembangkan. Inilah cikal bakal dari unshu mikan. Versi lain menyebutkan bahwa unshu mikan lahir dari biji jeruk mandarin yang dibawa dari Cina ke Kyushu, kemudian dikembangkan lebih lanjut.

commons.wikimedia.org
Yang menariknya lagi, meskipun kini menjadi buah yang sangat dicintai, unshu mikan pada awalnya tidak langsung populer. Pada periode Edo, buah tanpa biji dianggap membawa kesialan karena biji diasosiasikan dengan kesuburan dan kelangsungan keluarga. Baru pada periode Meiji, ketika kemudahan konsumsi menjadi nilai yang lebih penting, popularitasnya meledak dan produksinya meningkat pesat.
Lalu, alasan di balik dari jeruk yang identik dengan musim dingin adalah Jawabannya terletak pada siklus panennya. Jeruk dalam kondisi matang antara bulan September hingga Desember dengan puncak musim panen pada bulan Oktober hingga Desember. Artinya, saat cuaca mulai dingin dan tubuh membutuhkan asupan vitamin, jeruk hadir tepat waktu.
Kandungan vitamin C-nya yang tinggi membuatnya dipercaya membantu menjaga kesehatan dan mencegah flu. Keyakinan ini yang telah tertanam dalam budaya Jepang selama berabad-abad. Selain itu, jeruk adalah buah yang “sosial”, karena harus dikupas dengan tangan, memakannya menjadi aktivitas yang mendorong interaksi dan kebersamaan bukan konsumsi cepat yang dilakukan sendirian .
B. Kotatsu, Berawal dari Perapian ke Meja Kehangatan
Kotatsu hari ini adalah sebuah meja rendah berisi di bawah meja terdapat pemanas listrik, rangka meja ditutupi selimut tebal, dan orang duduk di lantai dengan kaki dimasukkan ke dalam selimut agar bisa menghangatkan kaki dan tubuh bagian bawah. Namun bentuk ini bukan hasil desain sekali jadi, tapi produk evolusi berlapis selama lebih dari 500 tahun.
Mulai dari perapian memasak atau yang disebut “irori” pada periode Muromachi hingga struktur “lubang gali” pada periode Edo, kemudian “kotatsu portabel” yang lahir dengan popularitas tatami, lalu “revolusi keselamatan” kotatsu listrik pada era Taisho dan Showa, dan akhirnya menjadi furnitur serbaguna yang dapat digunakan sepanjang tahun. Setiap perubahan bentuk didorong oleh kekuatan nyata yaitu keselamatan, portabilitas, dan kebutuhan ruang keluarga. Berikut ini penjelasannya lebih lengkapnya ya.
1. Berasal dari Irori dan “Meja Pemisah” Pertama pada Periode Muromachi (abad ke-14)
Kotatsu berasal dari irori (囲炉裏) atau perapian terbuka di lantai rumah tradisional Jepang. Irori dapat membakar arang, menampung beberapa fungsi sekaligus seperti memasak, menghangatkan, menerangi, dan bahkan mengusir serangga dan mengeringkan benda. Namun perapian terbuka memiliki masalah, yaitu panas tidak mudah tersebar, jadi orang yang duduk di sekitarnya hanya bagian depan yang hangat, tapi punggung tetap dingin.
Sekitar abad ke-14 pada periode Muromachi, orang mulai meletakkan rangka kayu rendah dengan selimut di atas irori. Fungsi rangka ini adalah memisahkan area memasak dari area duduk sekaligus “mengurung” panas di dalamnya. Struktur awal ini disebut hori kotatsu (堀り炬燵) dari kata “hori” (堀り) berarti “menggali”, “ko” (炬) berarti api, dan “tatsu” (燵) berarti penghangat kaki. Ada sumber yang menyebutkan bahwa “kotatsu” awalnya ditulis sebagai “火楊子”, karena platform kayunya mirip dengan bangku injak khas Cina”楊”, kemudian berubah bunyinya menjadi “こたつ”.

terukensetsu.jp
Fondasi periode ini menetapkan inti kotatsu yaitu bukan pemanas itu sendiri, tapi “alat untuk mengurung panas”. Perapian tetap menjadi sumber panas, tapi inovasi terjadi pada “wadah” pada selimut dan rangka kayu mengubah pemanas terbuka menjadi pengalaman kehangatan yang terkurung dan terpusat.
2. Bentuk Tetap, “Lubang Gali” dan “Kotatsu Duduk” pada Periode Edo
Pada periode Edo (abad ke-17 hingga ke-19), kotatsu mengalami dua perubahan penting. Yang pertama adalah pembentukan hori gotatsu (kotatsu gali). Orang menggali lubang persegi di lantai di sekitar irori meletakkan platform kayu dan selimut di atasnya, orang duduk di tepi lubang dengan kaki menggantung ke dalamnya. Ini menyelesaikan masalah “posisi duduk yang canggung” dan memungkinkan orang menikmati kehangatan dengan postur tubuh yang lebih nyaman.
Yang kedua lebih revolusioner yaitu kemunculan kotatsu portabel. Pada akhir abad ke-17 dengan popularitas tatami, muncul oki gotatsu (置き炬燵). Orang tidak lagi menggantung kaki di atas irori, tapi menempatkan pot arang di dalam wadah tanah atau keramik meletakkannya langsung di atas tatami, lalu menutupinya dengan rangka meja dan selimut. Kata “Oki” (置き) berarti “menempatkan” dan menunjukkan bahwa kotatsu mulai dapat dipindahkan. Ini menandai dimulainya kotatsu melepaskan diri dari ketergantungan pada struktur bangunan rumah dan menjadi peralatan yang dapat dipindahkan sesuai kebutuhan.
Pada periode Edo pertengahan, selimut katun mulai digunakan secara luas di kalangan rakyat dan kaki rangka meja juga menjadi lebih tinggi. Kotatsu secara bertahap berubah dari “peralatan di atas perapian” menjadi “meja rendah yang berdiri sendiri”.
3. Titik Balik Keselamatan, Era Taisho dan Kotatsu Listrik Awal
Memasuki periode Taisho (1912-1926), kotatsu masih menggunakan arang sebagai bahan bakar. Karena selimut menutupi sumber api, risiko keracunan karbon monoksida dan kebakaran selalu ada. Untuk mengatasi masalah ini, pada tahun 1924, Jepang mengeluarkan kotatsu listrik pertama. Namun, kotatsu listrik awal tidak langsung populer karena harganya mahal dan teknologi pemanas belum matang, sehingga tingkat popularitasnya terbatas.
Periode ini juga memiliki inovasi mekanis yang menarik yaitu kotatsu berputar (回転式炬燵). Wadah besi berisi arang terhubung dengan rangka kayu heksagonal dan ketika terkena benturan, wadah besi dapat berputar dan tetap horizontal, sehingga arang tidak mudah tumpah. Karena lebih aman, ia disebut juga “kotatsu aman”. Ini menunjukkan bahwa sebelum elektrifikasi, orang telah berusaha sekuat tenaga untuk “membuat kotatsu lebih aman”.
4. Revolusi Sejati, “Kotatsu Yagura Listrik” tahun 1957
Kotatsu yang benar-benar mengubah teknologinya dan menjadi bentuk standar hingga hari ini dan lahir pada tahun 1957. Tahun itu, Tokyo Shibaura Electric (sekarang Toshiba) merilis kotatsu yagura listrik pertama. Penjualan 200.000 unit pada tahun pertama menjadi produk terlaris fenomenal. Inovasi intinya selain “mengganti arang dengan listrik”, tapi juga memindahkan elemen pemanas dari bawah meja ke bagian atas bagian dalam meja tepatnya di bawah permukaan meja atau di atas kakinya. Dengan demikian, orang dapat meluruskan kaki di bawah meja tanpa perlu meringkuk seperti pada kotatsu arang.
Data popularitasnya sangat mencengangkan. Pada tahun 1960, produksi kotatsu yagura listrik adalah 2,93 juta unit meningkat menjadi 3,25 juta unit pada tahun 1961 dan mencapai 6,17 juta unit pada tahun 1973 serta 7,78 juta unit pada tahun 1974. Pada tahun 1971, tingkat popularitas kotatsu listrik telah mencapai 84%, lebih cepat diterima secara nasional dibandingkan “meja gaya kursi” atau meja makan dengan kursi.
5. Perubahan Kualitas dari “Alat Pemanas” menjadi “Furnitur”
Pada tahun 1975, muncul “kotatsu gaya furnitur” (家具調こたつ). Sebelumnya, kotatsu adalah peralatan khusus musim dingin yang disimpan atau tidak digunakan pada musim panas. Kemunculan kotatsu gaya furnitur mengubah segalanya, karena permukaan mejanya dapat digunakan sebagai meja biasa, melepas selimut, dan menutup permukaan meja, maka pada musim semi, musim panas, dan musim gugur dapat digunakan sebagai meja rendah sehari-hari.
Pada saat ini, tingkat popularitas kotatsu mencapai 91% dan setiap rumah tangga memiliki rata-rata lebih dari satu unit. Kotatsu tidak lagi hanya menjadi “peralatan musim dingin”, tapi menjadi perabot tetap di ruang tamu. Desain juga mengikuti perubahan. Pada tahun 1980-an, rangka kayu berbentuk persegi mulai berubah menjadi persegi panjang, lebih menyerupai meja rendah tradisional Jepang.
Desain kaki lipat dan kaki yang dapat dilepas menjadi umum sebelum tahun 1980 yang memudahkan penyimpanan. Memasuki abad ke-21, muncul kotatsu tinggi yang dapat digunakan dengan kursi, kotatsu pribadi, dan desain bulat, persegi panjang, serta gaya lainnya untuk mengadaptasi berbagai gaya hidup modern.
Melihat kembali jalur ini, evolusi kotatsu dapat diringkas sebagai tiga lompatan berikut ini:
| Waktu | Bentuk | Mendorong Kekuatan |
|---|---|---|
| Abad ke-14: Muromachi | Platform + selimut di atas irori | Mengurung panas, memisahkan memasak dari duduk |
| Abad ke-17: Edo | Kotatsu portabel (pot arang + rangka meja) | Popularitas tatami, kebutuhan untuk dipindahkan |
| Tahun 1957: Showa | Kotatsu listrik (pemanas di atas meja, kaki dapat diluruskan) | Keselamatan, kenyamanan, popularitas massal |
| Tahun 1975 hingga sekarang | Kotatsu gaya furnitur | Dapat digunakan sepanjang tahun, menyatu dengan ruang tamu |
Inti dari evolusi ini selain “menjadi lebih hangat”, tapi juga menjadi lebih aman, lebih nyaman, lebih seperti furnitur. Dari “lubang gali” di atas perapian hingga meja rendah listrik yang dapat diluruskan kaki di bawah selimut, kotatsu selama lima ratus tahun terus menjawab satu pertanyaan, “bagaimana membuat orang Jepang dalam rumah yang insulasi termalnya terbatas dan tanpa pemanas sentral merasa cukup hangat dengan biaya serendah mungkin”. Jawabannya adalah akhirnya menjadi sebuah meja dan selimut.
C. Mengapa Jeruk dan Kotatsu Bisa Bertemu?
Pertemuan antara jeruk dan kotatsu pada dasarnya selain hasil dari merabaknya bisnis atau desain budaya yang disengaja, tapi juga “kesesuaian yang wajar” yang terbentuk secara alami karena empat lapisan alasan yang saling bertumpuk di antaranya adalah kecocokan musim, pertimbangan fungsional, kebutuhan sosial, dan latar belakang sejarah. Yuk, kita lanjut lagi di bawah ini.
1. Kecocokan Musim, Ketersediaan dan Kebutuhan yang Tepat Waktu
Alasan paling mendasar adalah bersifat material. Musim panen jeruk dan periode permintaan kotatsu yang tinggi sepenuhnya tumpang tindih. Jeruk matang sekitar bulan September hingga Desember dan justru merupakan buah dengan rasa manis tertinggi di musim dingin.
Pada saat yang sama, cuaca dingin membuat orang secara alami ingin berkumpul di sekitar sumber panas. Jeruk tersedia dalam jumlah besar dan harga murah pada musim dingin bahkan banyak keluarga membelinya sekotak penuh untuk persediaan. “Ada barang” dan “membutuhkan” bertemu secara alami, inilah yang menjadi premis paling dasar.
2. Rasionalitas Fungsional, “Hidup Malas” yang Sangat Cocok
Alasan ini adalah inti yang paling mudah diabaikan tapi paling krusial juga. Jawaban yang diberikan oleh konten kuis Jepang secara sangat langsung seperti jeruk menjadi camilan standar di atas kotatsu, tapi alasan utamanya yaitu buah ini adalah makanan yang cocok untuk gaya hidup “tidak bergerak” di kotatsu.
Karakteristik kotatsu adalah sekalinya masuk, kita tidak ingin bergerak. Sementara jeruk kebetulan memenuhi semua persyaratan yaitu “makan sambil berbaring”. Tidak perlu pisau, karena jeruk bisa dikupas dengan tangan. Lalu, tidak akan meninggalkan sisa, karena jeruk tidak mengotori selimut atau meja. Selain itu, mudah dibagikan, karena satu jeruk bisa dibagi untuk beberapa orang. Terakhir, ukurannya yang sekali suap bisa dimakan perlahan tanpa perlu bangun.
Sederhananya, jeruk adalah buah dengan “biaya konsumsi” terendah di atas kotatsu. Sambil menghangatkan kaki, mengupas jeruk sambil mengobrol, tidak perlu mengubah postur tubuh sama sekali. Orang Jepang bahkan menciptakan istilah khusus “Kotatsu Mikan” (こたつみかん) untuk menggambarkan keadaan “begitu jeruk disediakan, orang akan makan satu per satu tanpa henti dan semakin tidak ingin bergerak”.
Selain itu, ada pertimbangan fisiologis. Duduk di kotatsu membuat tubuh bagian bawah hangat, tapi udara tetap kering. Kandungan air jeruk yang kaya dapat melembapkan dan menghidrasi sambil menghangatkan badan. Ditambah lagi, kandungan vitamin C jeruk yang tinggi dianggap dapat membantu mencegah masuk angin di musim dingin, ini juga merupakan anggapan umum yang telah lama ada.
3. Fungsi Sosial, Alat Peraga untuk “Berkumpul”
Kotatsu di rumah tradisional Jepang sering kali menjadi pusat ruang keluarga—rumah Jepang kuno memiliki isolasi yang buruk, pemanas seluruh ruangan tidak efisien, kotatsu menjadi satu-satunya “pulau panas”, anggota keluarga secara alami akan berkumpul di sekitarnya. Jeruk pada saat ini berperan sebagai “media sosial”.
Karena jeruk harus dikupas dengan tangan, proses mengupas ini sendiri menciptakan interaksi seperti orang-orang duduk melingkar, mengupas jeruk sambil mengobrol, kulit jeruk menumpuk di atas meja. Jeruk tidak seperti camilan sekali makan, buah ini memperlambat kecepatan makan dan memperpanjang waktu berkumpul.
Dalam penelitian budaya, jeruk dianggap sebagai buah yang cocok untuk dinikmati bersama, sementara kotatsu menyediakan tempat untuk kegiatan bersama ini. Keduanya bersama-sama menciptakan kondisi ideal untuk percakapan keluarga yang menyenangkan.
4. Latar Belakang Sejarah, Kebiasaan Era Showa yang Mengakar
Kombinasi ini menjadi standar dan juga ada faktor spesifik era. Pada periode Showa sekitar tahun 1955-1965, AC belum populer, kotatsu adalah peralatan pemanas ruang tamu yang paling penting, anggota keluarga secara alami berkumpul di sekitarnya. Pada saat yang sama, budaya “membeli jeruk sekotak” juga terbentuk pada periode ini.
Pada akhir tahun, pedagang buah membeli jeruk dalam jumlah besar dengan harga murah, toko tutup selama tahun baru, keluarga menyimpan sekotak jeruk untuk kebutuhan tahun baru. Anak-anak menunggu di sekitar kotatsu sambil menunggu orang tua mengupas jeruk, kenangan ini menjadi “gambaran musim dingin” generasi tersebut dan kemudian melalui anime, iklan, dan media lainnya terus diperkuat, menjadi memori kolektif lintas generasi.
Oleh karena itu, alasan mengapa jeruk dan kotatsu bisa “bertemu” karena jeruk muncul pada waktu yang tepat (musim dingin), memenuhi kebutuhan yang tepat (mudah dimakan, menghidrasi, tidak mengotori), memainkan peran yang tepat (memfasilitasi interaksi keluarga), dan mendapatkan momentum sejarah yang tepat (budaya keluarga era Showa).
Kombinasi sempurna ini tidak dirancang oleh siapa pun, tapi hasil optimasi gaya hidup yang secara alami terpilih dalam kehidupan nyata Jepang. Justru karena setiap tautannya didasarkan pada “kenyamanan” yang sangat praktis, sehingga dapat bertahan selama beberapa dekade dan masih menjadi gambaran paling hangat dari musim dingin Jepang hingga saat ini.
D. Apakah Orang Jepang Sendiri Menyukai Kombinasi Ini?
Jawabannya simpelnya adalah orang Jepang sendiri suka dengan ini. Namun, “suka” dalam artian yang sangat kompleks yang bahkan lebih dari nostalgia budaya dan simbol identitas yang kuat, bukan hanya kebiasaan sehari-hari yang masih dijalankan secara umum. Dengan kata lain, orang Jepang memiliki tingkat pengakuan emosional yang sangat tinggi terhadap kombinasi jeruk dan kontatsu, tapi juga tingkat penerapan aktual dalam kehidupan nyata justru menurun drastis. Yuk, kita simak lagi di bawah ini.
1. Sisi “Suka”, Pengakuan dan Nostalgia yang Hampir Sepenuhnya Positif
Dari tingkat budaya dan emosional, kombinasi ini hampir tidak memiliki “haters” di Jepang. Kombinasi ini adalah “tradisi musim dingin” yang diakui secara resmi. Dalam pengantar budaya yang diterbitkan oleh Japan Heating Industrial Association disebutkan secara jelas yaitu:
“Berkumpul di sekitar kotatsu adalah salah satu kesenangan musim dingin di Jepang. Jika disertai dengan jeruk atau mikan yang sedang musim di atas meja, orang akan makan tanpa henti dan semakin malas bergerak. Bahkan ada istilah ‘Kotatsu Mikan’. Keadaan seperti ini bisa disebut sebagai tradisi musim dingin Jepang.” Lembaga resmi secara langsung menyamakannya dengan “tradisi” yang menunjukkan bahwa kombinasi ini memiliki posisi budaya yang mapan.
Dalam ingatan generasi Showa, kombinasi ini adalah standar mutlak. Artikel dari perusahaan konstruksi Kato menyebutkan bahwa ketika ditanya tentang “kotatsu”, banyak orang yang lahir di era Showa akan menjawab tanpa ragu “mikan”. Alasan pembentukannya sangat spesifik.
Pada era Showa sekitar tahun 1955-1965, AC belum populer, kotatsu adalah peralatan pemanas ruang keluarga yang paling penting, anggota keluarga secara alami berkumpul di sekitarnya. Pada saat yang sama, kandungan vitamin C mikan yang tinggi dianggap dapat mencegah masuk angin, menghangatkan tubuh di kotatsu sambil makan mikan yang kaya vitamin C, secara alami melakukan pencegahan flu. Kombinasi ini memiliki logika fungsional pada masanya.
“Kotatsu Mikan” telah menjadi istilah tetap. Berbagai sumber menggunakan istilah ini secara langsung untuk merujuk pada kombinasi tersebut. Dalam deskripsi bahasa Jepang di beberapa situs budaya, jeruk atau mikan bahkan disebut sebagai “camilan resmi kotatsu”, dan menggambarkan “mengupas jeruk dengan satu tangan di dalam selimut adalah keterampilan musim dingin nasional”. Kombinasi ini juga sering muncul di anime, manga, dan iklan, terus memperkuat simbol “musim dingin, rumah, santai”.
2. Sisi “Kenyataan”, Tingkat Penetrasi Turun Drastis, Generasi Muda Jauh dari Kombinasi Ini
Namun, jika beralih dari tingkat budaya ke tingkat perilaku aktual, gambaran menjadi jauh lebih dingin. Tingkat kepemilikan kotatsu itu sendiri sudah menurun tajam. Menurut survei Weather News tahun 2018, 49% rumah tangga di seluruh Jepang tidak memiliki kotatsu.
Tingkat kepemilikan di Tokyo hanya 38%, Hokkaido bahkan lebih rendah yaitu 25% karena sistem pemanas sentral yang populer. Survei lain dari situs pindahan tahun 2012-2013 menunjukkan tingkat kepemilikan nasional hanya 24,27%. Meskipun kedua data tersebut memiliki perbedaan metodologi, trennya sangat jelas yaitu kotatsu bukan lagi peralatan standar di rumah orang Jepang.
Bahkan ketika memiliki kotatsu, tidak semua orang ingin makan jeruk. Sebuah survei tahun 2016 terhadap 586 orang yang memiliki kotatsu di seluruh Jepang menemukan bahwa hanya sekitar 30% orang yang menjawab “ingin makan jeruk setelah masuk kotatsu”. Penulis menyimpulkan: “Meskipun disebut sebagai ‘standar’, proporsi ini cukup rendah.” Di antara mereka, pria berusia 20-an memiliki proporsi terendah, tapi yang lebih penting, penurunan ini bukan hanya “generasi muda meninggalkan jeruk”, tapi penurunan secara keseluruhan di semua kelompok usia.
Alasan penurunannya adalah sulit, mengotori tangan, dan pilihan yang terlalu banyak. Sebuah artikel dari Universitas Kindai secara langsung menunjukkan bahwa akhir-akhir ini dengan alasan mengupas kulit merepotkan dan mengotori tangan, generasi muda terutama semakin menjauh dari makan jeruk secara langsung, sementara penjualan produk olahan seperti jus dan jeli meningkat.
Pada saat yang sama, varietas buah yang tersedia di meja makan Jepang semakin beragam, jeruk tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan. Kotatsu juga menghadapi masalah yang sama: pemanas ruangan modern, isolasi yang lebih baik, dan preferensi gaya hidup Barat membuat orang tidak perlu lagi berkumpul di sekitar satu meja rendah.
Selain itu, data jajak pendapat online juga mencerminkan perpecahan. Dalam jajak pendapat Yahoo! Japan dengan lebih dari 24.000 suara, hanya 35,5% orang memilih “memiliki kotatsu dan juga memiliki jeruk”, sementara 33% mengatakan “tidak menggunakan kotatsu tapi memiliki mikan”, dan 20,6% mengatakan “tidak memiliki keduanya”. Meskipun ini bukan survei ilmiah, skalanya cukup besar, setidaknya menunjukkan bahwa kombinasi “keduanya ada” bukanlah mayoritas absolut.
3. Mengapa Ada Kesenjangan Sebesar Ini?
Kuncinya terletak pada “Suka” dan “Menggunakan” adalah dua hal yang berbeda. Orang Jepang “menyukai” Kotatsu Mikan, pada tingkat yang lebih besar adalah menyukai makna simbolis dan nilai nostalgia di baliknya. Ini mewakili masa kanak-kanak, kehangatan keluarga, musim dingin yang sederhana namun memuaskan.
Ketika gambaran ini muncul di iklan, anime, atau acara varietas, orang akan mengangguk dan berkata “bagus ya“, tapi ketika mereka benar-benar pulang ke rumah, mereka mungkin menyalakan AC, bersandar di sofa, dan mengupas jeruk impor sambil bermain ponsel.
Sebuah detail yang sangat menarik, yaitu artikel dari lembaga penelitian TBS tahun 2023 menemukan bahwa dalam pertanyaan “hal yang cocok untuk musim dingin”, “kotatsu” hanya 47%, “jeruk” 40%, keduanya di bawah 50%. Penulis menggunakan kata “kesepian” untuk menggambarkan data ini. Ini berarti bahwa bahkan pada tingkat “musim dingin = kotatsu/mikan” dalam kesadaran, keduanya juga mengalami devaluasi.
Namun, pada saat yang sama, kotatsu tidak menghilang. Hal ini berubah bentuk yang awalnya kotatsu gaya kursi makan, kotatsu tanpa selimut, kotatsu komersial di kafe. Penjualan kotatsu bahkan sempat pulih setelah gempa bumi tahun 2011 karena kesadaran hemat listrik (konsumsi daya sekitar setengah dari AC). Selain itu, Kotatsu Mikan sebagai gaya hidup yang lengkap di mana duduk di lantai, kaki masuk ke selimut, mengupas mikan dengan tangan, malas bergerak, saat ini memang sedang memudar.
Oleh karena itu, kombinasi ini yang “diingat dengan penuh kasih sayang tapi jarang dilakukan”. Kombinasi ini hidup dalam ingatan generasi Showa, dalam adegan anime, dalam narasi pariwisata, dalam kalimat “dulu memang begitu ya” yang diucapkan orang Jepang saat melihatnya.
Namun, dalam kehidupan nyata dengan perubahan struktur tempat tinggal, diversifikasi peralatan pemanas, dan perubahan pola konsumsi buah, kombinasi klasik ini sedang berubah dari “kehidupan sehari-hari” menjadi “pemandangan budaya”. Mungkin justru karena itu, kombinasi ini menjadi lebih ikonik. karena hal-hal yang tidak lagi kita lakukan setiap hari, sering kali menjadi lebih mudah untuk dijadikan simbol.
E. Mengapa Kombinasi Jeruk dan Kotatsu Tetap Ikonik?
Kombinasi ini tetap ikonik, karena telah berhasil berubah dari “kebiasaan hidup” menjadi “gambar budaya” dan bukan karena orang Jepang masih melakukannya setiap hari. Kombinasi ini telah dilepaskan dari praktik aktual menjadi simbol yang membawa serta makna emosional dan identitas musiman. Daya dukungnya berasal dari tiga lapisan, yaitu di antaranya rasionalitas yang dirasakan pada tingkat fungsional, fungsionalitas yang dilembagakan pada tingkat budaya, serta nilai nostalgia yang dapat dikonsumsi pada tingkat komersial. Yuk, lanjut di bawah lagi untuk penjelasan lebih lanjutnya.
1. Tingkat Fungsional, Rasionalitas yang Dirasa Masuk Akal
Kombinasi jeruk dan kotatsu bisa bertahan lama karena pertama-tama karena kombinasi ini “masuk akal” dalam pengalaman secara langsung. Meskipun alasan istilah “kotatsu + mikan” tidak rumit, kombinasi ini sangat presisi dalam menangani titik-titik nyeri kehidupan musim dingin.
Yang paling inti adalah “penyesuaian dengan keadaan malas”. Dikutip dari konten kuis Jepang secara langsung menunjukkan bahwa alasan sebenarnya jeruk menjadi standar di atas kotatsu adalah buah ini menjadi makanan yang paling cocok untuk “gaya hidup tidak bergerak” di kotatsu.
Karakteristik kotatsu adalah sekalinya masuk kita tidak ingin bergerak dan buah jeruk memenuhi kebutuhan “makan tanpa bergerak” ini, karena tidak perlu pisau, bisa dikupas dengan tangan, tidak mudah berantakan, tidak mengotori meja dan selimut, mudah dibagikan, dan bisa dinikmati bersama keluarga. Situs pengenalan budaya dari Asosiasi Industri Pemanas Jepang bahkan secara langsung menyebutkan bahwa begitu jeruk disediakan di atas meja, orang akan “makan terus tanpa henti dan semakin tidak ingin bergerak”. Fenomena ini disebut sebagai “tradisi musim dingin Jepang”.
Selain itu, ada lapisan “rasionalitas kesehatan yang dirasa masuk akal”. Pada era Showa, ketika AC belum populer, kotatsu adalah peralatan pemanas utama ruang keluarga dan jeruk kaya akan vitamin C dianggap dapat membantu mencegah masuk angin. Menghangatkan tubuh di kotatsu sambil makan jeruk ini secara logis membentuk narasi “menghangatkan dan mencegah penyakit”, meskipun efek aktualnya mungkin terbatas, tapi dalam pengalaman dirasakan cukup untuk membentuk kebiasaan.
Lapisan fungsional ini adalah “fondasi” dari daya tahan ikonik karena kombinasi ini tidak bergantung pada pemaksaan budaya, tapi pada kenyamanan yang paling praktis.
2. Tingkat Budaya, Telah “Dilembagakan” dan Menjadi Bahasa Musim Dingin
Sebuah kebiasaan jika hanya berhenti pada “berguna”, cepat atau lambat akan menghilang seiring perubahan kondisi. Kotatsu Mikan bisa naik menjadi ikon, kunci kedua adalah ia telah “dilembagakan” atau “dibakukan” seperti memiliki nama, memiliki status, dan terus muncul dalam narasi budaya.
Yang pertama adalah nama. Istilah “Kotatsu Mikan” (こたつみかん) itu sendiri adalah tindakan pelembagaan. Kombinasi ini bukan lagi deskripsi “makan jeruk di atas kotatsu”, tapi kata benda khusus yang menunjuk pada pengalaman musim dingin yang lengkap. Situs Asosiasi Industri Pemanas Jepang secara langsung menyebutnya sebagai “tradisi musim dingin Jepang”. Istilah ini muncul di media, dalam percakapan, dalam deskripsi pariwisata, yang berarti kombinasi ini memiliki “entri” dalam kesadaran publik.
Yang kedua adalah penggambaran yang khas. Pemerintah Prefektur Wakayama dalam materi promosi jeruk menulis, “Gambaran khas hari musim dingin yang dingin, biasanya membuat orang merindukan pemandangan anggota keluarga menghabiskan waktu sambil makan jeruk di atas kotatsu”.
Perusahaan Kikkoman dalam penjelasan budayanya juga menyebutkan bahwa “keluarga mengelilingi kotatsu sambil menikmati jeruk berwarna oranye cerah” adalah “tradisi musim dingin yang telah lama ada”. Ketika lembaga resmi dan perusahaan menggunakan kalimat yang sama untuk mendefinisikan sebuah adegan. Adegan itu telah menjadi “gambar standar” dalam arti tertentu.
Yang ketiga adalah penguatan media. Dalam anime, manga, iklan, dan acara varietas, Kombinasi “Kotatsu + Mikan” hampir menjadi bahasa visual default untuk adegan keluarga musim dingin. Situs budaya Jepang menyebutkan bahwa adegan “makan jeruk di atas kotatsu” sering digambarkan dalam anime. The New York Times bahkan dalam laporannya tahun 1999 menggambarkan kotatsu dan jeruk sebagai “versi Jepang dari kentang sofa“. Penggambaran berulang lintas media ini membuat kombinasi ini tidak hanya menjadi pengalaman pribadi, tapi menjadi “memori kolektif” dan bahkan orang yang tidak pernah melakukannya tahu bahwa “seharusnya begini”.
3. Tingkat Emosional, Menyediakan “Nostalgia yang Dapat Dikonsumsi”
Daya tahan sebuah ikon sering kali tidak bergantung pada seberapa banyak orang masih mempraktikkannya, tapi pada seberapa kuat kombinasi ini mampu menyediakan nilai emosional. Kombinasi jeruk dan kotatsu justru memiliki properti yang langka dan dapat “dikonsumsi” sebagai nostalgia.
Penelitian budaya telah menunjukkan bahwa gambaran “keluarga mengelilingi kotatsu sambil makan jeruk” bagi banyak orang Jepang terutama generasi yang lahir di era Showa adalah kenangan masa kecil yang konkret. Pada era 1950-60-an, kotatsu adalah pusat ruang keluarga, seluruh keluarga secara alami berkumpul di sekitarnya, dan sekotak jeruk adalah suguhan musim dingin yang standar.
Kenangan ini melekat pada generasi tersebu dan seiring waktu berubah menjadi perasaan “rindu akan masa lalu yang sederhana”. Artikel dari perusahaan konstruksi Jepang secara langsung menulis, “Berbicara tentang musim dingin adalah ‘jeruk di atas kotatsu’. Meskipun orang muda mungkin berbeda, tapi orang yang lahir di era Showa pasti akan menjawab demikian”.
Yang lebih krusial adalah ketika praktik aktual menurun, nilai nostalgia justru meningkat. Data menunjukkan tingkat kepemilikan kotatsu di Jepang terus menurun, proporsi rumah tangga tanpa kotatsu di seluruh negeri mencapai 49%. Namun justru karena “semakin sedikit yang menggunakannya”, kontatsu ini menjadi lebih berharga sebagai “simbol era”.
Kafe kotatsu adalah salah satu pengalaman kotatsu untuk wisatawan. Lalu, konten nostalgia kotatsu di media sosial dan semuanya ini mengubah “jeruk di atas kotatsu” dari “kehidupan sehari-hari” menjadi “pengalaman yang dapat dikonsumsi”. Orang tidak perlu memilikinya di rumah untuk “mengalaminya” sekali di kafe, lalu menghela napas “ah, ini dia musim dingin Jepang“.
Budaya ini menjelaskan sebuah paradoks yaitu semakin tidak umum di rumah, semakin ikonik di hati. Karena ikon tidak membutuhkan popularitas, ia membutuhkan jarak dan imajinasi. Ketika kotatsu mikan bukan lagi barang sehari-hari setiap rumah, kombinasi ini menjadi “pemandangan yang layak diabadikan” bukan “perabot yang terlupakan”.
4. Ringkasan Singkat dari Tiga Kondisi yang Saling Menguatkan
Kombinasi ini tetap ikonik, bergantung pada dukungan tiga lapisan yang saling menguatkan. Berikut ini adalah tabel ringkasan singkat dari penjelasan di atas.
| Lapisan | Inti | Peran |
|---|---|---|
| Fungsional | Mudah dimakan, tidak mengotori tangan, sesuai dengan keadaan malas di kotatsu | Memberikan “rasionalitas awal” kombinasi |
| Budaya | Memiliki istilah khusus, definisi resmi, citra media | Melepaskannya dari pengalaman pribadi menjadi simbol publik |
| Emosional | Nostalgia era Showa, memori keluarga, identitas musim dingin | Menyediakan “alasan untuk terus ada” bahkan ketika praktik aktual menurun |
Ketiganya bersama-sama membuat kombinasi “kotatsu + mikan” selain menjadi kebiasaan yang berguna, tapi juga menjadi “adegan yang harus ada” dalam budaya musim dingin Jepang. Bahkan jika suatu hari tidak ada lagi yang menggunakan kotatsu sungguhan untuk melewati musim dingin, selama anime masih menggambarnya, iklan masih menggunakannya, dan orang masih mengatakan “ah, ini dia musim dingin” saat melihatnya, ikon ini tidak akan mati. Karena kombinasi ini telah menjadi sepotong bahasa yang digunakan orang Jepang untuk membicarakan musim dingin, keluarga, dan kehangatan.


