Culture

7 Urban Legend Jepang Berdasarkan Kisah Nyata

Dari tradisi penumbalan manusia sampai terowongan hantu, inilah 7 urban legend dari Jepang yang bikin bulu kuduk meremang!

TEROWONGAN INUNAKI

Inunaki adalah gabungan dari dua kata, yaitu inu yang berarti anjing dan naki/naku yang berarti menangis. Terowongan Inunaki bisa diartikan terowongan lolongan anjing.

Beredar kisah bahwa Terowongan Inunaki adalah satu-satunya akses menuju sebuah desa bernama Inunaki. Tak ada yang tahu apakah desa Inunaki benar-benar ada di balik terowongan itu atau tidak.  Mitosnya, ketika seseorang masuk ke desa Inunaki maka ia akan mengalami hal-hal supranatural.

Mitos angkernya Terowongan Inunaki kerap dikaitkan dengan pembunuhan sadis yang terjadi di terowongan itu.

Suatu hari pada bulan Desember 1988, sekelompok remaja menculik, merampok dan menyiksa seorang pria muda berusia 20 tahun bernama Umeyama Kouichi. Pemuda itu kehilangan nyawa dengan cara dibakar hidup-hidup dalam keadaan penuh luka di dalam terowongan.

terowongan inunaki jepang urban legend
Terowongan Inunaki setelah ditutup. (Foto: Kowabana)

 Letak terowongan ini memang berada di lokasi terpencil dan jarang dilalui oleh kendaraan. Oleh karena itu, terowongan ini kerap dijadikan tempat berkumpulnya komplotan geng.

Sampai sekarang, Terowongan Inunaki dianggap sebagai salah satu tempat paling angker di Jepang. Kesan angker dan misteriusnya semakin menjadi ketika akses masuk terowongan ini ditutup.

Penduduk setempat mengatakan perangkat elektronik kerap mati jika berada di lokasi sekitar terowongan ini, bahkan kendaraan-kendaraan tiba-tiba mogok. Ketika malam hari, konon kerap terdengar suara lolongan anjing dan jeritan mengerikan dari arah dalam terowongan.

Saking populernya urban legend ini, kisah Terowongan Inunaki pernah diadaptasi menjadi sebuah film horor berjudul Howling Village yang rilis tahun 2020 lalu.


BONEKA OKIKU

Okiku adalah boneka yang memiliki rambut dan tumbuh dengan sendirinya layaknya rambut manusia.

Kisah urban legend  ini bermula pada tahun 1918 di Hokkaido. Eikichi Suzuki membelikan boneka untuk adik perempuannya yang bernama Kikuko. Boneka ini adalah boneka tradisional Jepang yang disebut Okappa (boneka bergaya rambut bob-cut).

Sayangnya, Kikuko meninggal karena suatu penyakit. Kemudian abu Kikuko disemayamkan di kuil bersama dengan boneka kesayangannya yang diberi nama Okiku.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang merasa ada keanehan dengan boneka tersebut. Hal ini dikarenakan rambutnya yang terus memanjang seperti layaknya rambut manusia.

boneka okiku urban legend jepang
Boneka Okiku. (Foto: giupviec123)

Orang-orang percaya bahwasanya boneka tersebut didiami oleh arwah penasaran dari Kikuko yang tiba-tiba meninggal karena penyakit. Karena itulah boneka aneh ini ditempatkan khusus dan mendapatkan perawatan istimewa di Kuil Manenn-ji. Di kuil itulah boneka itu sampai sekarang masih berada, dengan rambut yang terus memanjang.

Hingga saat ini, boneka Okiku kerap dikunjungi oleh turis dan orang-orang yang penasaran dengan perwujudan Okiku. Namun, pengunjung dilarang untuk mengambil foto.

Meskipun rambut Okiku kerap dipotong oleh para pendeta yang merawat Okiku, panjang rambut boneka tersebut kini sudah nyaris mendekati lututnya. Okiku pun terkadang “jahil” pada para pendeta yang menjaganya. Para pendeta kerap bermimpi diganggu oleh Okiku.

Menurut beberapa orang yang pernah mengunjungi Okiku, mulut Okiku perlahan terlihat membuka, dan tampak gigi susu yang mulai tumbuh.


PENUMBALAN MANUSIA DI KASTIL MARUOKA

Hitobashira adalah semacam tradisi penumbalan manusia yang dipraktikkan di Jepang sampai abad ke-16. Kata Hitobashira terbentuk dari dua kanji yaitu hito yang berarti manusia, dan bashira/hashira yang berarti pilar atau tiang.

Terlihat dari arti katanya, Hitobashira adalah penumbalan manusia dengan mengubur manusia hidup-hidup dalam pilar atau pondasi bangunan. Para penguasa Jepang saat itu percaya bahwa dengan melakukan Hitobashira, maka pembangunan bendungan, kuil, jembatan dan bangunan lainnya akan berjalan dengan lancar.

Salah satu bangunan terkenal di Jepang yang konon dalam pembangunannya menggunakan Hitobashira adalah Kastil Maruoka di Sakai, prefektur Fukui. Ketika kastil ini dalam tahap pembangunan, terdapat salah satu dinding yang terus runtuh. Berkali-kali dibangun kembali, tetap saja dinding tersebut lagi-lagi runtuh.

hitobashira
Hashibashira

Oleh karena itu, penguasa melakukan penumbalan manusia atau Hitobashira. Beberapa orang dikumpulkan dan diperintahkan untuk berderet seperti pagar manusia tepat di pondasi yang akan dibangun kastil Maruoka, lalu mereka dikubur hidup-hidup.

Salah satu yang menjadi korban tumbal proyek tersebut adalah seorang anak bernama Oshizu. Sampai sekarang mitos beredar, bahwasanya ketika hujan di bulan April (bulan ketika Oshizu dikorbankan), parit-parit di sekitar kastil Maruoka akan banjir. Penduduk setempat percaya bahwa meluapnya air di parit ketika bulan April adalah air mata kesedihan dari seorang Oshizu.


KUTUKAN KAMAR MERAH (THE RED ROOM)

Ini termasuk urban legend paling mutakhir. Karena Kutukan Kamar Merah (The Red Room) adalah nama  animasi flash di internet pop up yang berisi nama-nama orang (random) yang akan mendapat giliran mendapat kutukan.

Red Room mulai populer dan menggemparkan dunia internet Jepang, tak lama setelah anak perempuan berusia 11 tahun menusuk teman sekelasnya sampai kehilangan nyawa di Nagasaki. Dan anak perempuan tersebut adalah fans dari The Red Room.

red room

Kutukan dari web pop-up ini sangat mengerikan. Tampilan awal adalah background berwarna merah darah dengan teks berbunyi: “Apakah kamu menyukainya?” Kemudian perlahan teks berikutnya muncul, “Apakah kamu suka dengan The Red Room?”

Seketika layar akan sepenuhnya berwarna merah darah, dan muncullah nama-nama korban kutukan yang berderet di layar. Konon, nama-nama yang muncul di The Red Room akan memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri.


AKA MANTO

Aka Manto secara harfiah berarti jubah merah. Ia adalah sesosok berjubah merah yang kerap menampakkan dirinya di toilet. Setelah menampakan diri dengan jubahnya, Akamanto akan menyuruh untuk memilih warna tisu toilet: tisu merah atau tisu biru?

akamanto

Apapun pilihannya semua akan berakhir sama mengerikannya. Jika memilih tisu berwarna merah, Akamanto akan menikam korban hingga bersimbah darah. Sama halnya dengan tisu berwarna biru. Jika memilih tisu berwarna biru, maka Akamanto akan mencekik leher korban hingga kehabisan napas.

Banyak orang percaya bahwa urban legend Akamanto berasal dari seorang pembunuh sadis bernama Ao Getto (selimut biru) dari prefektur Fukui tahun 1906.


HANAKO

Toilet Jepang memang melahirkan banyak hantu. Berikutnya adalah urban legend hantu toilet bernama Hanako!

Ada dua cara agar seseorang bisa hilang diculik Hanako. Pertama, ketuk pintu toilet tiga kali, lalu berkatalah, “”Hanako, soko ni imasu ka,” (“Hanako, apakah kamu di sana?”).

Jika kebetulan kamu sedang sial, maka jawaban dari Hanako adalah terbukanya pintu toilet dengan perlahan, lalu tampaklah wujud Hanako. Hanako yang bertubuh kecil, memakai rok merah dengan gaya rambut tradisional ala Jepang. Sejurus kemudian, korban akan ditarik ke dalam toilet kemudian hilang entah ke mana.

Cara yang kedua adalah Hanako akan menampakan dirinya sendiri tanpa harus dengan ketukan yang mengundang. Hanako akan menampakan diri, lalu bertanya pada calon korbannya: “Apakah kamu butuh teman?”

Apapun jawaban yang dilontarkan calon korban, Hanako tetap akan menyeretnya ke dunia hantu.

hanako urban legend jepang

Asal usul urban legend Hanako masih menyisakan misteri. Namun seorang peneliti cerita rakyat Jepang bernama Matthew Myers berpendapat bahwa kisah Hanako mulai beredar di tahun 1950-an. Kabar mitos pun menjalar dari mulut ke mulut, bahwasanya Hanako adalah hantu dari seorang anak perempuan yang bersembunyi di toilet ketika masa perang dunia ke-2. Tragisnya Hanako meninggal terkena serangan bom tepat ketika ia bersembunyi di toilet.


PUISI KUTUKAN

Ada sebuah puisi Jepang berjudul Tomino No Jigoku (Neraka Tomino). Jika puisi ini dibacakan dengan lantang, maka akan menyebabkan sakit kepala, terserang penyakit bahkan mendatangkan kematian.

Tomino No Jigoku ditulis oleh Yaso Saijo pada tahun 1919. Puisi ini ditulis setelah Saijo kehilangan keluarganya yang menjadi korban perang dunia ke-1.

Yaso Saijo (Foto: Wikimedia Commons)

Terlepas dari segala interpretasi makna dari puisi ini, justru yang paling dikenal adalah karena kutukannya. Pada tahun 1974, sebuah film berjudul Den-en Ni Shisu rilis.

Cerita film ini berdasarkan puisi Tomino No Jigoku. Tak lama setelah film rilis, sang sutradara yang bernama Terama Shuji meninggal karena penyakit liver. Meninggalnya sang sutradara menambah bobot kutukan dari puisi ini.

Bait awal puisi ini berbunyi:

ane wa chi wo haku, imoto wa hihaku,

(kakak perempuan memuntahkan darah, adik perempuan memuntahkan api)

kawaii tomino wa tama wo haku

(Tomino yang lucu memuntahkan perhiasan)

hitori jigoku ni ochiyuku tomino,

 (Tomino jatuh ke neraka sendirian).

Berani membacanya dengan lantang?


Referensi: gaijinpot

Leave a Reply

Your email address will not be published.