Unagi, Sang Belut Istimewa yang Jadi Jiwa Kuliner dan Tradisi Jepang
Hai Minasan~! Di tengah hiruk-pikuk Tokyo modern, ada satu aroma yang selalu bisa membawa ingatan pada masa lalu yaitu aroma manis gurih belut panggang yang mengepul dari restoran-restoran tua. Unagi atau belut air tawar Jepang, bukan cuma hidangan biasa lho. Unagi ini adalah jalinan rasa, sejarah, dan budaya yang telah mengalir dalam nadi masyarakat Jepang selama berabad-abad.
Dari ritual kuno untuk bertahan melawan panas musim panas hingga perjuangan modern melawan kepunahan, kisah unagi adalah cerminan dari ketahanan dan kecintaan mendalam sebuah bangsa terhadap warisan kulinernya. Pandai Kotoba pada artikel kali ini akan membahas unagi sang belut istimewa yang menjadi jiwa kuliner dan tradisi Jepang mulai dari asal-usul, berbagai macam olahan, dan perkembangannya saat ini. Daripada penasaran, yuk kita simak di bawah ini.

cocreco.kodansha.co.jp
Unagi, Sang Belut Istimewa yang Jadi Jiwa Kuliner dan Tradisi Jepang
A. Apa Itu Unagi?
Pertanyaan mendasar yang sering muncul adalah apa sebenarnya unagi itu? Banyak yang menganggapnya sama dengan belut sawah yang kita kenal, tapi ini ternyata kesalahpahamannya. Unagi dengan nama ilmiah Anguilla japonica adalah spesies sidat yang secara taksonomi berbeda dari belut air tawar Asia (Monopterus albus) yang biasa ditemukan di sawah-sawah kita. Perbedaannya terlihat jelas, yaitu sidat memiliki sirip dan sisik kecil yang menyerupai anyaman bambu, sementara belut sawah tidak bersirip dan tubuhnya hanya dilapisi lendir.

commons.wikimedia.org
Di Jepang, unagi menempati posisi istimewa yang berbeda dari kerabat dekatnya seperti anago (belut laut). Unagi memiliki daging yang lebih kaya lemak dan tekstur lebih lembut menjadikannya pilihan utama untuk hidangan mewah. Siklus hidup unagi yang misterius. Bertelur di perairan laut dalam seperti di Selat Mariana, kemudian larva-larva kecilnya berenang ribuan kilometer menuju sungai-sungai air tawar untuk tumbuh dan menambah kesan istimewa pada ikan ini.
B. Jejak Sejarah Unagi Dari Zaman Kuno hingga Periode Edo
Sejarah panjang konsumsi unagi di Jepang menjadi catatan kuliner yang panjang dan menjadi cerminan bagaimana sebuah makanan sederhana dapat naik pangkat menjadi ikon budaya. Perjalanan ini dimulai sejak zaman prasejarah dan mencapai puncaknya pada periode Edo (1603–1868), periode yang benar-benar mengubah wajah unagi. Pada masa inilah teknik pengolahan, cara penyajian, dan makna kultural unagi mulai terbentuk seperti yang kita kenal sekarang.
1. Akar Sejarah yang Dalam
Jejak konsumsi unagi di Jepang sangatlah tua. Berbagai temuan arkeologi membuktikan bahwa tulang belut ini telah ditemukan di situs-situs penggalian yang berasal dari zaman sebelum Masehi. Hal ini menunjukkan bahwa unagi telah menjadi bagian dari menu masyarakat kepulauan Jepang sejak ribuan tahun yang lalu, jauh sebelum catatan sejarah tertulis.
Secara tertulis, kata “unagi” dalam bahasa Jepang pertama kali muncul dalam Man’yoshu (万葉集), antologi puisi tertua di Jepang yang disusun pada periode Nara (abad ke-8). Dalam kumpulan syair kuno ini, unagi disebutkan sebagai salah satu bahan makanan yang dikenal masyarakat pada masa itu .
Pada zaman kuno, karena ukurannya yang besar dan mudah ditangkap di danau serta sungai, unagi dipercaya menjadi sumber protein penting bagi masyarakat. Di Cina, unagi bahkan sudah dihargai sebagai “superfood” dan digunakan dalam masakan obat-obatan. Pengaruh ini kemungkinan turut membentuk cara pandang masyarakat Jepang terhadap belut sebagai makanan bergizi.
2. Era Baru, Periode Edo dan Kelahiran Unagi Modern
Meskipun sudah dikonsumsi sejak zaman kuno, unagi tidak benar-benar populer hingga memasuki periode Edo. Apa yang terjadi pada masa pemerintahan Keshogunan Tokugawa ini sehingga mengubah nasib unagi? Adanya perubahan sosial dan ekonomi pada periode itu.

funachu.co.jp
Pada awal abad ke-17, ketika Tokugawa Ieyasu mendirikan kota Edo (sekarang Tokyo), unagi mulai dikenal sebagai makanan rakyat biasa. Saat itu, unagi sering dipotong-potong dan dipanggang dengan bumbu miso. Kandungan lemaknya yang tinggi membuatnya sangat mengenyangkan menjadikannya makanan favorit bagi para pekerja yang melakukan kerja fisik berat. Yang menariknya lagi, pada masa awal ini, unagi dijual dengan harga yang sangat murah sehingga mudah diakses oleh semua kalangan.
Ekspansi pertanian pada periode Edo juga menciptakan banyak lahan basah baru yang menjadi habitat ideal bagi unagi. Hal ini semakin meningkatkan ketersediaan dan popularitasnya sebagai makanan rakyat.
3. Revolusi Bumbu Fermentasi
Salah satu faktor kunci yang melahirkan hidangan unagi modern adalah meluasnya penggunaan bumbu fermentasi seperti kecap asin (shoyu), cuka, dan mirin (anggur beras manis untuk memasak). Perpaduan kecap asin dengan lemak unagi ternyata menciptakan harmoni rasa yang sangat digemari oleh masyarakat Edo.
Pada masa inilah teknik Kabayaki mulai berkembang. Istilah kabayaki (蒲焼) sendiri memiliki asal-usul yang menarik. Kata ini berasal dari kaba atau gama (蒲), nama Jepang untuk tanaman air Typha latifolia (sejenis rumput atau cattail). Bunga betina tanaman ini berbentuk silinder berwarna cokelat keemasan yang dianggap mirip dengan unagi yang ditusuk sepanjang tubuh dan dipanggang .
4. Lahirnya Teknik Kabayaki
Sebelum teknik Kabayaki dikenal, unagi biasanya hanya ditusuk dan dipanggang utuh. Namun, pada akhir periode Edo (sekitar tahun 1730-an), metode baru mulai berkembang. Dalam teknik Kabayaki modern, unagi dibelah, dibuang isi perut dan tulangnya, lalu ditusuk dengan tusukan besi atau bambu, dicelupkan ke dalam saus manis berbasis kecap asin dan mirin, kemudian dipanggang di atas bara api.

flickr.com
Proses ini selain memanggang, tapi menjadi seni dalam kuliner Jepang. Unagi dikukus terlebih dahulu sebelum dipanggang untuk melelehkan lemak berlebih dan menghasilkan tekstur daging yang lembut serta montok. Di sisi lain, cara Kansai memanggang unagi tanpa dikukus, menghasilkan tekstur yang lebih renyah di luar.
5. Perbedaan Teknik, Ada Filosofi di Balik Belahan
Salah satu aspek paling menarik dari sejarah unagi adalah perbedaan teknik membelah antara wilayah Kanto (Timur, pusatnya Tokyo) dan Kansai (Barat, pusatnya Osaka/Kyoto). Perbedaan ini bukanlah sekadar kebiasaan, melainkan mencerminkan filosofi budaya yang dalam.
Di wilayah Kanto yang dipengaruhi budaya samurai, Unagi dibelah dari bagian punggung. Masyarakat Kanto menghindari membelah ikan dari bagian perut karena dianggap mirip dengan tindakan harakiri atau seppuku (ritual bunuh diri samurai dengan membelah perut). Tindakan ini dianggap sangat tabu dan tidak beruntung. Selain itu, unagi ala Kanto melalui proses pengukusan sebelum dipanggang dan menghasilkan tekstur yang lebih lembut dengan kandungan lemak lebih rendah .
Sedangkan, di wilayah Kansai yang didominasi pedagang dan pengusaha, Unagi dibelah dari bagian perut. Bagi masyarakat Kansai, membelah dari perut bukan hal yang tabu. Sebaliknya, di kalangan pedagang terdapat prinsip keterbukaan dan kejujuran yang diekspresikan dalam pepatah “Hara o watte hanasu” (腹を割って話す) yang secara harfiah berarti “berbicara dengan perut terbuka” yang artinya berbicara dengan jujur dan terus terang. Unagi ala Kansai dipanggang langsung tanpa dikukus dan menghasilkan tekstur yang lebih garing dan rasa yang lebih kaya lemak.
5. Penyebaran Pengetahuan melalui Buku Cetak
Faktor lain yang turut mendorong popularitas unagi adalah berkembangnya budaya cetak pada periode Edo. Pengetahuan dan teknik memasak yang sebelumnya disampaikan secara lisan atau dirahasiakan, kini dapat dicetak dan disebarluaskan. Buku-buku kuliner praktis dicetak secara sistematis, berkontribusi pada popularitas hidangan-hidangan seperti unagi. Pada tahun 1824, bahkan terbit buku panduan yang memperkenalkan restoran-restoran populer di Tokyo kepada wisatawan dari daerah lain.
Popularitas unagi yang meledak pada pertengahan periode Edo ternyata membawa konsekuensi. Permintaan yang tinggi mendorong harga unagi melonjak, sehingga tidak lagi terjangkau bagi rakyat biasa. Namun, semangat berdagang tidak berhenti. Mereka yang tidak mampu membeli unagi tetap mempertahankan tradisi makan pada Doyo no Ushi no Hi dengan mengonsumsi makanan lain yang juga berawalan “U” seperti “udon”, “umeboshi” (acar plum), dan “uri” (termasuk mentimun, semangka, dan pare) .
Seiring waktu, penyajian unagi dalam wadah-wadah mewah seperti mangkuk dan kotak lacquer yang indah semakin memperkuat posisinya sebagai hidangan kelas atas. Warisan periode Edo inilah yang membentuk persepsi modern tentang unagi menjadi makanan istimewa yang sarat akan tradisi, keahlian, dan nilai budaya yang mendalam.
C. Doyo no Ushi no Hi, Hari yang Jadi Trik Pemasaran Unagi
Kisah di balik tradisi makan unagi pada Doyo no Ushi no Hi adalah salah satu contoh paling cemerlang tentang bagaimana sebuah ide pemasaran yang jenius dapat bertahan selama berabad-abad dan mengakar kuat dalam budaya sebuah bangsa. Hal ini menjadi cerita tentang menjual belut dan juga tentang bagaimana seorang cendekiawan abad ke-18 secara cerdik memanfaatkan kepercayaan kalender dan kebiasaan masyarakat untuk menciptakan tradisi yang masih bertahan hingga hari ini.
1. Apa itu Doyo no Ushi no Hi?
Untuk memahami cerita ini, kita perlu terlebih dahulu mengurai apa sebenarnya Doyo no Ushi no Hi. Istilah ini terdiri dari dua bagian. Doyo (土用) adalah periode sekitar 18 hari yang terjadi menjelang pergantian musim, berdasarkan konsep lima unsur dalam filosofi Cina. Doyo terjadi empat kali dalam setahun yaitu musim semi, panas, gugur, dan dingin menjelang risshun (awal musim semi), rikka (awal musim panas), risshu (awal musim gugur), dan ritto (awal musim dingin). Periode ini dianggap sebagai masa peralihan yang sangat panas dan melelahkan, di mana tubuh diyakini lebih rentan terhadap penyakit .
Lalu, Ushi no Hi (丑の日) adalah “Hari Sapi” berdasarkan siklus 12 shio dalam astrologi Cina. Dalam kalender tradisional, setiap hari ditandai dengan salah satu dari 12 hewan shio, dan siklus ini berulang setiap 12 hari. Ushi no Hi adalah hari yang dinaungi shio Kerbau atau Sapi (Ushi).
Jadi, Doyo no Ushi no Hi adalah hari yang dinaungi shio Kerbau yang jatuh dalam periode Doyo musim panas. Karena perhitungannya berdasarkan kalender lunisolar, tanggal pasti hari ini bergesar setiap tahunnya, selalu jatuh antara akhir Juli hingga awal Agustus. Dalam beberapa tahun, dua hari Kerbau bisa terjadi dalam satu periode Doyo yang sama dan hari kedua disebut “ni no ushi” .
2. Peran Penting Hiraga Gennai
Kisah di balik tradisi ini, sebagaimana diceritakan dalam berbagai sumber, selalu melibatkan Hiraga Gennai (1728–1788), seorang cendekiawan, penulis, pelukis, dan penemu serba bisa yang sering disebut sebagai “Leonardo da Vinci-nya Jepang”.
Menurut cerita populer yang berkembang, pada periode Edo (1603–1868), seorang pemilik restoran unagi mengalami masa-masa sulit. Meskipun belakangan dikenal sebagai makanan berstamina, pada masa itu, unagi justru dianggap sebagai hidangan musim dingin. Penjualannya merosot drastis di tengah teriknya musim panas, dan sang pemilik restoran pun putus asa.

commons.wikimedia.org
Dalam keputusasaannya, ia mendatangi Hiraga Gennai untuk meminta saran. Gennai kemudian memberikan sebuah ide yang mengubah segalanya. Sang cendekiawan menyadari adanya kepercayaan di kalangan masyarakat bahwa mengonsumsi makanan yang diawali dengan huruf “u” (う) pada Hari Sapi (Ushi no Hi) akan membawa keberuntungan dan membantu melawan rasa lelah akibat panas musim panas (natsubate). Contoh makanan berawalan “u” ini antara lain “udon”, “umeboshi” (buah plum asin), “uri” (mentimun, semangka, pare), dan tentu saja… unagi!
Gennai memanfaatkan hubungan ini dengan jenius. Dia menyarankan pemilik restoran untuk memasang papan besar di depan tokonya yang bertuliskan, “Hari ini adalah Doyo no Ushi no Hi” atau variannya adalah “Hari ini adalah Hari Sapi, hari untuk makan unagi”.
3. Dari Ide ke Tradisi Nasional
Hasilnya sungguh di luar dugaan. Trik pemasaran sederhana ini berhasil dengan luar biasa. Toko unagi tersebut kebanjiran pelanggan dan menjadi sangat ramai. Keberhasilan ini tidak luput dari pengaruh besar reputasi Gennai sebagai seorang cendekiawan terkemuka dan masyarakat mempercayai nasihatnya, sehingga efeknya pun menyebar luas.
Tidak butuh waktu lama bagi restoran-restoran unagi lainnya untuk mengikuti jejak ini. Kebiasaan makan unagi pada Doyo no Ushi no Hi pun dengan cepat menjadi tren dan akhirnya mengkristal menjadi sebuah tradisi nasional yang bertahan hingga hari ini.
4. Mengapa Trik Ini Begitu Efektif?
Kesuksesan “trik” Gennai bukan hanya karena kebetulan. Berikut ini adalah beberapa faktor yang membuatnya begitu efektif.
a) Kepercayaan pada Kalender dan Simbolisme
Masyarakat Edo sangat terikat dengan kalender lunisolar dan kepercayaan pada shio. Mengaitkan unagi dengan hari keramat seperti Doyo no Ushi no Hi memberikan legitimasi dan rasa urgensi untuk mengonsumsi hidangan tersebut.
b) Permainan Bunyi yang Cerdas
Hubungan antara “Ushi” (sapi), “Unagi” (belut), dan makanan “U” lainnya adalah sebuah asosiasi yang mudah diingat dan cerdas . Ini menciptakan kaitan yang kuat dan menarik di benak masyarakat.
c) Nilai Gizi yang Nyata
Di balik taktik pemasaran, ada kebenaran ilmiah. Unagi memang kaya akan protein, vitamin A, dan vitamin B yang secara efektif membantu memulihkan stamina dan mencegah sengatan panas. Trik dari Gennai hanya “membuka pintu” bagi masyarakat untuk menemukan manfaat nyata dari hidangan ini di saat mereka paling membutuhkannya.
Oleh karena itu, apa yang dimulai sebagai strategi untuk meningkatkan penjualan di musim sepi, berubah menjadi salah satu tradisi kuliner paling abadi di Jepang. Hingga kini, setiap musim panas, supermarket, restoran, dan toko serba ada di Jepang dipenuhi dengan promosi unagi menjelang Doyo no Ushi no Hi yang membuktikan bahwa ide pemasaran dari abad ke-18 ini masih tetap relevan dan kuat.
D. Unagi dalam Masyarakat, Kemewahan dan Kehidupan Sehari-hari
Jika kita menelusuri sejarah unagi, kita akan menemukan sebuah transformasi sosial yang menarik. Bayangkan, ada makanan yang pada masa lalu begitu murah dan mudah diakses oleh para pekerja di era Edo, sekarang telah bertransformasi menjadi simbol kemewahan yang hanya bisa dinikmati pada momen-momen istimewa. Perubahan status ini adalah cermin dari perjalanan panjang unagi dalam masyarakat Jepang yang tidak lepas dari dinamika ekonomi, budaya, dan tentu saja, kelangkaan.
1. Dari Makanan Rakyat ke Hidangan Kelas Atas
Pada masa awal periode Edo, unagi adalah makanan yang cukup “demokratis”. Kandungan lemaknya yang tinggi menjadikannya sumber energi yang sempurna bagi para pekerja kasar yang membutuhkan asupan kalori besar untuk beraktivitas. Namun, seperti halnya permintaan yang melonjak, kelangkaan mulai mengintai. Seiring berjalannya waktu, populasi unagi liar yang semakin susut dan meningkatnya biaya produksi memicu kenaikan harga yang signifikan.
Pada titik inilah unagi mulai bergeser dari meja makan rakyat jelata ke restoran-restoran mewah. Saat ini, menyantap seporsi unaju atau unagi panggang yang disajikan di atas nasi dalam kotak lacquer yang indah adalah sebuah kemewahan. Ada perbedaan kelas yang jelas antara hidangan ini dan versi yang lebih sederhana, seperti unadon yang disajikan dalam mangkuk biasa. Unaju dengan kemasan mewahnya adalah simbol dari hidangan istimewa yang biasanya dinikmati untuk merayakan sesuatu atau pada acara-acara penting.
2. Unagi di Mata Konsumen Modern
Kecintaan orang Jepang pada unagi tidak pudar begitu saja, tapi realitas ekonomi modern menciptakan hubungan yang rumit. Data dari survei nasional pada tahun 2025 mengungkapkan dilema ini dengan jelas. Sebanyak 23% dari responden mengakui bahwa mereka “sangat menyukai unagi” tapi terpaksa menghindarinya karena label harga yang sangat mahal.
Sebaliknya, bagi mereka yang mampu, unagi tetap menjadi santapan yang sangat dihargai. Lebih dari separuh responden (50%) menyatakan mereka bersedia membayar harga premium untuk mendapatkan unagi dengan kualitas terbaik . Fakta ini menunjukkan bahwa daya tarik unagi tidak hanya terletak pada rasanya, tapi juga pada eksklusivitas dan kualitasnya. Bagi banyak orang Jepang, unagi adalah makanan yang terkait erat dengan momen spesial, seperti perayaan tahun baru atau sebagai hadiah istimewa.
Data lain menunjukkan bahwa lebih dari 50% orang Jepang masih mengonsumsi unagi setidaknya setahun sekali dan 10% di antaranya menikmatinya secara teratur. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun menjadi makanan mewah, unagi tetap menjadi bagian dari siklus tahunan masyarakat terutama pada tradisi Doyo no Ushi no Hi.
3. Dilema dan Inovasi untuk Masa Depan Unagi
Status unagi sebagai barang mewah saat ini tidak lepas dari krisis keberlanjutan. Lebih dari sepertiga konsumen (lebih dari 33%) mengungkapkan kekhawatiran mereka tentang dampak ekologis dari penangkapan ikan yang berlebihan yang telah membuat unagi air tawar menjadi spesies yang terancam punah. Kesadaran akan kelangkaan ini turut mendorong harga semakin tinggi dan menciptakan ruang bagi inovasi.
Masyarakat Jepang yang dikenal dengan kecintaannya pada teknologi mulai terbuka pada solusi alternatif. Sebuah survei pada tahun 2025 menunjukkan bahwa 35% konsumen Jepang telah familiar dengan “cultured eel” atau belut hasil kultur sel dan tertarik untuk mencobanya, sementara 25% lainnya menyatakan keinginan untuk mencicipinya tanpa memedulikan harga. Data ini menunjukkan adanya harapan untuk masa depan unagi yang berkelanjutan yang mana inovasi dapat menjembatani kesenjangan antara kecintaan pada budaya dan kebutuhan untuk melestarikan alam.
Hal ini menjadi posisi unagi di masyarakat Jepang saat ini, yaitu sebuah hidangan yang sangat dicintai, simbol status dan tradisi, namun juga menjadi pusat dari perdebatan modern tentang keberlanjutan dan inovasi.
E. Seni dan Keahlian di Balik Sajian Unagi
Keistimewaan unagi terletak pada cita rasanya yang kaya dan juga pada seni dan keahlian luar biasa yang tercurah di balik setiap penyajiannya. Mengolah unagi selain memasak pada umumnya dan jadi sebuah disiplin yang membutuhkan pengabdian seumur hidup. Bahkan, ada sebuah pepatah terkenal di kalangan koki unagi yang menggambarkan kedalaman keahlian ini: “Tiga tahun untuk belajar menusuk belut, delapan tahun untuk menguasai bumbu, dan seumur hidup untuk menyempurnakan teknik memanggangnya”.
1. Filosofi dalam Setiap Tusukan dan Panggang
Tingkat kesulitan dalam mengolah unagi begitu tinggi sehingga keahlian ini diwariskan secara turun-temurun. Seorang koki seperti Hideki Morimoto dari restoran Ike Edoyakiunagi Asahitei yang mendapat penghargaan Bib Gourmand Michelin, bahkan telah ditugaskan untuk memanggang unagi sejak usia muda oleh ayahnya yang adalah pemilik restoran sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa penguasaan teknik memanggang yang dianggap sebagai puncak keahlian dimulai sedini mungkin melalui bimbingan langsung.
Seorang ahli unagi lainnya, Hiroshi Suzuki dari restoran Hitsumabushi Binchotan mengungkapkan bahwa kunci dari unagi panggang terbaik terletak pada tiga hal, yaitu cara memilih unagi, cara memanggangnya, dan semangat artisan yang dimiliki sang koki. Suzuki sendiri menjalani pelatihan keras selama sepuluh tahun, dimulai dari usia 22 tahun untuk mencapai tingkat keahlian ini.
2. Perbedaan Gaya Memanggang antara Kanto dan Kansai
Sama seperti perbedaan dalam membelah unagi, teknik memanggang juga terbagi menjadi dua aliran utama yang mencerminkan karakteristik wilayahnya:
a) Gaya Kanto (Tokyo dan sekitarnya)
Ikan dikukus terlebih dahulu hingga matang sebelum dipanggang. Proses pengukusan ini bertujuan untuk menghilangkan lemak berlebih pada unagi, menghasilkan tekstur yang lebih lembut dan rasa yang tidak terlalu berat. Gaya ini mencerminkan kehalusan dan keanggunan yang menjadi ciri kuliner ibu kota.
b) Gaya Kansai (Osaka dan sekitarnya)
Unagi dipanggang langsung tanpa melalui proses pengukusan. Hasilnya adalah kulit yang lebih renyah dan garing, sementara bagian dalam dagingnya tetap lembut dan berair. Karakteristik ini mencerminkan selera yang lebih berani dan kuat dari wilayah barat Jepang.

iamshachiku.com
3. Peran Arang Bincho dan Saus Rahasia
Di luar perbedaan teknik dasar, keahlian seorang koki unagi terletak pada detail-detail kecil yang membuat perbedaan besar. Salah satunya adalah penggunaan arang Bincho, arang kualitas tertinggi yang terbuat dari kayu oak. Arang jenis ini menghasilkan panas yang stabil dan bersih memberikan aroma asap yang khas dan rasa yang lebih sempurna pada unagi tanpa mengganggu cita rasa alaminya.
Selain itu, setiap restoran unagi yang memiliki reputasi tinggi biasanya menyimpan saus rahasia (tare) yang diwariskan secara turun-temurun. Saus ini yang terbuat dari campuran kecap asin, mirin, gula, dan sake sering kali telah berusia puluhan bahkan ratusan tahun dan terus diperkaya setiap kali digunakan. Proses mengoleskan saus secara bertahap saat unagi dipanggang menciptakan lapisan rasa yang kaya dan karamelisasi yang sempurna.
4. Variasi Hidangan Dari Kabayaki hingga Sup
Kekayaan seni kuliner unagi juga tercermin dari beragam cara penyajiannya. Setiap hidangan menawarkan pengalaman berbeda mulai dari yang paling klasik hingga yang inovatif. Penjelasannya ada di bawah ini ya.
a) Kabayaki, Ikon Olahan Unagi
Ini adalah teknik memasak unagi yang paling terkenal. Dalam Kabayaki, unagi yang telah dibelah dan dibuang tulangnya ditusuk, lalu dipanggang sambil diolesi saus tare manis dan gurih. Proses berulang kali memanggang dan mengolesi saus menciptakan lapisan glasir yang mengkilap dan penuh cita rasa. Penyajian Kabayaki di atas nasi menghasilkan unadonm atau jika disajikan dalam kotak lacquer mewah disebut unaju.
b) Shirayaki, Kemurnian Rasa Unagi
Berbeda dengan Kabayaki, Shirayaki adalah unagi yang dipanggang tanpa saus, hanya dibumbui dengan sedikit garam atau disajikan dengan wasabi. Tanpa “distraksi” dari saus, hidangan ini memungkinkan penikmatnya untuk merasakan esensi umami alami dan tekstur murni dari unagi itu sendiri. Ini adalah cara terbaik untuk menilai kualitas unagi yang digunakan.

commons.wikimedia.org
c) Hitsumabushi, Pengalaman Makan Tiga Cara
Kuliner khas Nagoya ini menawarkan pengalaman bersantap yang unik dan interaktif. Hitsumabushi terdiri dari potongan Kabayaki yang diletakkan di atas nasi dalam mangkuk kayu bernama ohitsu. Keunikannya terletak pada cara memakannya yang secara tradisional dilakukan dalam tiga tahap:
- Pertama: Makan polos, menikmati perpaduan unagi panggang dan nasi.
- Kedua: Tambahkan topping seperti irisan daun bawang, wasabi, dan nori (rumput laut) untuk menambah lapisan rasa dan tekstur.
- Ketiga: Tuangkan kaldu dashi atau teh hijau ke dalam mangkuk untuk menikmatinya sebagai ochazuke (sup nasi dengan teh). Cara ini menyegarkan dan memberikan pengalaman rasa yang sama sekali berbeda.
Menariknya lagi, asal-usul Hitsumabushi sendiri diyakini dimulai ketika restoran di Nagoya dan sekitarnya mencoba mengolah unagi dengan ukuran yang tidak seragam menjadi sajian yang tetap lezat dan tidak terbuang sia-sia.

park.ajinomoto.co.jp
d) Olahan Lain yang Tak Kalah Menarik
Selain tiga hidangan utama, kreativitas kuliner Jepang telah menghasilkan berbagai olahan unagi lainnya:
- Nigiri Sushi: Sepotong Kabayaki yang dipanggang dan diglasir diletakkan di atas nasi sushi berbentuk lonjong.
- Umaki: Telur dadar gulung Jepang (tamagoyaki) yang diisi dengan potongan unagi, memadukan tekstur lembut telur dengan rasa gurih belut.
- Kimosui: Sup bening yang terbuat dari kaldu yang kaya rasa dengan tambahan hati unagi (kimo) dan rempah-rempah.
- Hone Senbei: Kerupuk renyah yang terbuat dari tulang unagi yang digoreng, dimanfaatkan tanpa ada yang terbuang.
- Kimoyaki: Hati unagi yang dipanggang di atas arang dan diolesi saus, sering disajikan sebagai pendamping minuman.
Di balik setiap gigitan unagi yang meleleh di mulut, tersembunyi dedikasi, kesabaran, dan keahlian yang diwariskan lintas generasi. Mulai dari pemilihan unagi, teknik memanggang yang berbeda antara wilayah Kanto dan Kansai hingga saus rahasia yang disimpan selama puluhan tahun semua elemen ini menyatu dalam sajian yang selain menjadi makanan, tapi juga karya seni kuliner. Hidangan ini menjadi bukti nyata bagaimana orang Jepang mengangkat sebuah bahan makanan menjadi tradisi yang penuh akan makna dan keindahan.
F. Apakah Orang Jepang Masih Suka dengan Unagi?
Jawaban singkatnya adalah sangat suka. Namun, di balik kecintaan yang mengakar ini, terdapat sebuah hubungan yang kompleks ibarat cinta yang terus bertahan di tengah tantangan harga melambung dan ancaman kelangkaan. Data-data terkini menunjukkan bahwa unagi tidak hanya bertahan sebagai ikon kuliner, tapi juga menjadi pusat dari perubahan pola konsumsi dan inovasi di masyarakat Jepang.
1. Konsumsi Terbesar di Dunia
Tingkat kecintaan orang Jepang pada unagi terukur secara global. Sebuah studi internasional pada tahun 2025 yang menggabungkan analisis DNA dan data perdagangan mengungkapkan fakta mencengangkan, yaitu Jepang adalah konsumen unagi terbesar di dunia berdasarkan per kapita dengan rata-rata konsumsi mencapai 436 gram per orang per tahun.
Angka ini menempatkan Jepang di peringkat pertama di atas Hong Kong, Korea Selatan, dan Macau. Bahkan, Jepang diperkirakan mengonsumsi hampir setengah (50%) dari total pasokan unagi air tawar dunia yang nilai pasarnya mencapai hingga 10 miliar dolar AS.
2. Konsumsi Rutin dan Sikap Terhadap Unagi
Data survei nasional pada tahun 2025 memperkuat gambaran ini. Lebih dari 50% responden mengaku mengonsumsi unagi setidaknya setahun sekali, dan 10% di antaranya menikmatinya secara teratur. Ini menunjukkan bahwa unagi tetap menjadi bagian dari siklus tahunan masyarakat terutama dalam perayaan tradisi dan momen-momen spesial.

erecipe.woman.excite.co.jp
Sikap positif terhadap unagi juga terlihat dari kesediaan membayar lebih. 50% responden menyatakan mereka bersedia membayar harga premium untuk mendapatkan unagi berkualitas tinggi. Bahkan, sebuah survei dari situs kuliner Gurunavi menyebutkan bahwa hampir 90% orang Jepang mengaku “suka” terhadap unagi. Angka ini adalah bukti kuat bahwa secara emosional dan kultural, unagi masih sangat dicintai.
3. Dilema Cinta di Tengah Harga dan Kelestarian
Namun, hubungan ini tidak berjalan mulus. Survei yang sama mengungkapkan dilema yang dihadapi para pecinta unagi, hampir seperempat responden (23%) mengaku bahwa mereka “sangat menyukai unagi” tapi terpaksa menghindarinya karena harga yang terlalu mahal. Harga grosir unagi berkisar antara 6.000–9.000 yen per kg di Jepang dan untuk produk premium, konsumen rela membayar hingga lebih dari 19.000 yen per kg.
Di sisi lain, lebih dari sepertiga responden (lebih dari 33%) menyatakan kekhawatiran serius terhadap dampak ekologis dari penangkapan ikan yang berlebihan yang telah menjadikan unagi sebagai spesies yang terancam punah (masuk dalam Daftar Merah IUCN). Kesadaran ini menunjukkan bahwa masyarakat Jepang tidak hanya mencintai rasanya, tapi juga mulai peduli pada kelestariannya.
4. Keterbukaan pada Inovasi, Solusi Masa Depan
Kecintaan yang disertai keprihatinan ini membuka jalan bagi inovasi. Sebuah survei pada Januari 2025 menunjukkan adanya keterbukaan yang signifikan terhadap solusi alternatif, yaitu “cultured eel” atau belut hasil kultur sel. 35% responden menyatakan mereka familiar dengan produk tersebut dan bersedia untuk mencobanya. Bahkan 25% responden menyatakan keinginan untuk mencicipinya tanpa memedulikan harga.
Motivasi di balik ketertarikan ini sangat beragam. Hampir sepertiga responden tertarik karena alasan kesehatan (percaya bahwa produk kultur sel lebih bergizi dan aman dari kontaminan logam berat), sepertiga lainnya karena faktor keberlanjutan, dan lebih dari seperempatnya karena ketertarikan pada teknologi itu sendiri. Hampir 40% responden percaya bahwa makanan laut hasil kultur sel dapat mengatasi masalah penangkapan ikan berlebihan.
5. Tantangan Lintas Budaya dari Pasar Halal
Menariknya lagi, kecintaan pada unagi juga mendorong inovasi untuk menjangkau pasar global yang lebih luas. Salah satu tantangan terbesar adalah penggunaan sake dan mirin yang mengandung alkohol dalam saus Kabayaki tradisional yang menghalangi konsumen Muslim untuk menikmatinya. Sebagai respons, produsen Jepang seperti perusahaan Kohei berinovasi menciptakan saus unagi tanpa alkohol dengan kadar alkohol di bawah 0,5% yang memenuhi standar halal banyak negara untuk membuka pasar di Asia Tenggara dan Timur Tengah.
Dengan segala data ini, dapat disimpulkan bahwa orang Jepang tidak hanya masih menyukai unagi, tapi cinta mereka adalah sebuah fenomena budaya yang dinamis dan cinta yang mampu bertahan di tengah krisis, beradaptasi dengan inovasi, dan terus memperjuangkan eksistensinya di masa depan.
G. Populer di Mancanegara tapi Jadi Ekspor Budaya yang Berisiko
Selanjutnya, perjalanan unagi dari meja makan Jepang ke panggung global adalah kisah tentang bagaimana kelezatan budaya dapat menjadi pedang bermata dua. Popularitasnya yang meledak di mancanegara selain membawa nama Jepang ke seluruh dunia, tapi juga memicu krisis ekologi yang mengancam keberadaan spesies ini secara global.
1. Rasa yang Mendunia, Mengapa Unagi Begitu Populer?
Di luar Jepang, unagi paling dikenal melalui sajian sushi dan nigiri. Tekstur dagingnya yang lembut, rasa manis dari saus kabayaki, dan sensasi meleleh di mulut membuatnya mudah diterima oleh lidah internasional. Di restoran-restoran sushi di Amerika, Eropa, hingga Asia Tenggara, eel sushi atau unagi nigiri adalah salah satu menu paling populer dan sering menjadi “pintu masuk” bagi para penikmat kuliner Jepang pemula.
Namun, popularitas global ini bukan tanpa konsekuensi. Permintaan yang terus meningkat dari berbagai penjuru dunia telah mengubah unagi dari sekadar hidangan tradisional Jepang menjadi komoditas global yang sangat berharga.
2. Krisis Global, 99% Konsumsi Berasal dari Spesies Terancam Punah
Sebuah penelitian inovatif pada tahun 2025 yang menggabungkan DNA barcoding dengan data produksi dan perdagangan mengungkapkan fakta yang mencengangkan bahwa lebih dari 99% konsumsi unagi dunia berasal dari tiga spesies yang masuk dalam Daftar Merah Spesies Terancam Punah IUCN. Ketiga spesies tersebut adalah:
- Unagi Amerika (Anguilla rostrata): 75.3% dari total konsumsi global
- Unagi Jepang (Anguilla japonica): 18.0% dari total konsumsi global
- Unagi Eropa (Anguilla anguilla): 6.7% dari total konsumsi global
Studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Chuo (Jepang) dan Universitas Nasional Taiwan ini mengumpulkan 279 sampel produk unagi dari 26 kota di 11 negara dan wilayah. Hasilnya menunjukkan bahwa ketergantungan global pada spesies yang terancam punah ini sangat mengkhawatirkan.

commons.wikimedia.org
3. Mengapa Budidaya Tidak Cukup?
Salah satu akar masalah terbesar adalah ketidakmampuan manusia untuk membudidayakan unagi secara penuh. Berbeda dengan salmon atau udang yang siklus hidupnya dapat direplikasi di penangkaran, unagi memiliki siklus hidup yang sangat kompleks. Mereka bertelur di kedalaman laut sekitar 3 kilometer yang menjadi kondisi yang tidak mungkin diciptakan di fasilitas budidaya.
Siklus hidup unagi dimulai dari:
- Leptocephalus: Larva berbentuk pita yang terbawa arus laut
- Glass eel: Belut muda transparan yang mulai memasuki perairan tawar
- Elver: Belut yang mulai berpigmen
- Yellow eel: Belut dewasa yang hidup di air tawar
- Silver eel: Belut matang seksual yang bermigrasi kembali ke laut untuk memijah dan mati
Karena siklus ini tidak bisa direplikasi, industri budidaya unagi bergantung sepenuhnya pada tangkapan glass eel liar yang menjadi sebuah sistem yang secara fundamental tidak berkelanjutan. Setiap tahun, petani unagi “menarik” dari populasi liar tanpa “menabung” kembali. Di Hamamatsu, pusat budidaya unagi Jepang, tangkapan glass eel menurun drastis dari 140 ton pada tahun 1965 menjadi hanya 40 ton pada tahun 2000 mengalami penurunan sebesar 71% dalam 35 tahun.
4. Perdagangan Gelap, Lebih Besar dari Senjata dan Narkoba
Ketika populasi unagi Jepang menurun, permintaan global mencari sumber lain. Ini yang memicu salah satu perdagangan ilegal paling menguntungkan di dunia. Para ahli menyebutkan bahwa perdagangan gelap glass eel kini bernilai sekitar $4.8 miliar per tahun atau setara dengan €3 miliar (Rp52 triliun) dalam puncaknya menjadikannya lebih besar dari perdagangan senjata dan narkoba.

inaturalist.org
Europol menggambarkan perdagangan ini sebagai kejahatan transnasional yang sangat terorganisir, melibatkan penyelundupan, pemalsuan dokumen, dan pencucian uang. Jaringan kriminal bahkan mempekerjakan biolog, dokter hewan, dan kimiawan untuk memastikan belut hidup selama perjalanan panjang. Di bandara, glass eel yang transparan sulit dideteksi oleh mesin X-ray karena tampak seperti tumpukan pakaian.
5. Jaringan Global Penyelundupan
Belut-belut kecil ini ditangkap secara ilegal dari berbagai penjuru dunia dan dikirim ke Asia.
a) Eropa
Belut Eropa (Anguilla anguilla) telah dilindungi oleh larangan ekspor Uni Eropa sejak 2010 dan masuk dalam CITES Appendix II, namun penyelundupan terus berlanjut. Lebih dari 1 juta belut hidup disita pada tahun 2023 saja.
b) Afrika
Di muara Sungai Limpopo, Mozambik, glass eel ditangkap secara ilegal. Bahkan ada pekerja yang dikirim langsung dari Asia untuk menangkap belut guna melunasi utang.
c) Amerika Utara
Belut Amerika kini menjadi dominan dalam produk unagi di banyak pasar termasuk Singapura di mana 84.4% produk mengandung spesies ini.
d) Asia Tenggara
Indonesia dan Filipina juga menjadi sumber glass eel yang semakin penting karena regulasi yang lebih longgar.
6. Rantai Pasok yang Tidak Transparan
Kompleksitas perdagangan global unagi juga terlihat dari ketidaksesuaian data statistik. Penelitian menemukan perbedaan mencolok antara data FAO (28.600 ton per tahun) dan data dari “Informal Consultation” antara Jepang, Cina, Korea, dan Taiwan sebanyak 12.100 ton per tahun) dan perbedaannya hingga 2.4 kali lipat. Faktor utamanya adalah laporan produksi budidaya dari Cina yang sangat bervariasi.
Bahkan di Jepang sendiri, konsumen sering tidak menyadari bahwa unagi yang mereka makan mungkin berasal dari luar negeri. Label “produk dalam negeri” sering dipalsukan dan unagi dari Cina atau Taiwan dijual dengan harga lebih murah tapi sering disalahlabelkan sebagai unagi Jepang.
7. Dampak Ekologi yang Menyeluruh
Penangkapan glass eel secara masif memiliki konsekuensi ekologis yang mendalam. Belut memainkan peran penting dalam ekosistem air tawar dan laut. Sebagai juvenil, mereka menjadi mangsa bagi burung, mamalia, dan ikan besar. Sebagai dewasa, mereka menjadi predator yang mengontrol populasi invertebrata. Migrasi mereka antara laut dan air tawar membantu mengangkut nutrisi dan menjaga keseimbangan rantai makanan
Penelitian tahun 2025 menunjukkan bahwa glass eel yang diselundupkan dan kemudian dilepaskan kembali ke alam membutuhkan waktu hingga dua bulan untuk pulih dari stres transportasi. Selama periode ini, sistem kekebalan mereka melemah, membuat mereka rentan terhadap infeksi bakteri yang dapat menyebar ke populasi liar. Seluruh populasi belut Anguillid di dunia saat ini dalam kondisi menurun.
8. Upaya Perlindungan dan Jalan ke Depan
Menghadapi krisis ini, berbagai upaya dilakukan. Uni Eropa telah mengusulkan untuk memasukkan semua spesies belut ke dalam CITES (Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Terancam Punah). Jepang, Cina, Taiwan, dan Korea Selatan telah sepakat untuk membatasi tangkapan glass eel hingga 80% dari volume tahun 2014. Namun, karena tahun 2014 memiliki tangkapan yang tidak biasa tinggi (tiga kali lipat dari tahun 2013), batas ini dianggap terlalu tinggi dan tidak efektif.
Pilihan paling radikal adalah pengembangan belut hasil kultur sel (cell-cultured eel) yang tidak memerlukan penangkapan glass eel liar sama sekali. Survei menunjukkan bahwa sekitar 35% konsumen Jepang familiar dan terbuka untuk mencoba produk ini. Namun, solusi ini masih dalam tahap awal dan belum bisa memenuhi permintaan global yang sangat besar.

zaikei.co.jp
Popularitas unagi di mancanegara adalah bukti betapa kuatnya daya tarik kuliner Jepang. Namun, popularitas ini datang dengan harga yang sangat mahal, spesies yang terancam punah, perdagangan ilegal yang melampaui narkoba, dan ekosistem yang terganggu. Seperti yang diungkapkan oleh seorang peneliti, “Memuaskan selera saya terhadap unagi bisa menjadi tindakan yang kuat dan kontraproduktif, dan efek kumulatif dari begitu banyak makan bersama keluarga bisa sangat merusak”.
Pertanyaan besarnya adalah bisakah kita menikmati kelezatan unagi sambil tetap menjaga kelestariannya? Jawabannya mungkin terletak pada kombinasi antara kesadaran konsumen, penegakan hukum yang lebih ketat, dan inovasi teknologi. Namun satu hal yang pasti, perjalanan unagi dari meja makan Jepang ke panggung global adalah cerminan dari bagaimana sebuah budaya dapat menyebar dan bagaimana penyebaran itu dapat mengancam apa yang paling dicintai.
H. Krisis yang Dihadapi dan Masa Depan untuk Perkembangan Unagi
Krisis yang dihadapi unagi saat ini bukanlah sekadar masalah kelangkaan, melainkan sebuah persimpangan jalan antara mempertahankan tradisi dan menyelamatkan spesies. Di satu sisi, unagi adalah warisan budaya yang tak tergantikan. Di sisi lain, angka-angka menunjukkan bahwa populasi unagi Jepang (Anguilla japonica) telah berada dalam kondisi kritis selama lebih dari satu dekade. Berita baiknya, dunia tidak tinggal diam. Inovasi radikal dan diplomasi internasional kini menjadi garis depan perjuangan untuk menyelamatkan “belut istimewa” ini.
1. Fakta Kelangkaan yang Tak Terbantahkan
Data menunjukkan bahwa sumber daya unagi telah mengalami penurunan drastis selama beberapa dekade yang telah dijelaskan sebelumnya. Penangkapan glass eel (benih belut) di Jepang yang merupakan fondasi seluruh industri budidaya telah menyusut hingga lebih dari 95% dibandingkan dengan masa puncaknya pada tahun 1960-an. Dari lebih dari 200 ton per tahun pada masa itu, angka tangkapan pada 2024 hanya sekitar 7.1 ton.
Penurunan ini adalah konsekuensi dari penangkapan ikan berlebihan, hilangnya habitat, polusi air, dan perubahan iklim. Karena siklus hidup unagi yang sangat kompleks. Mereka hanya bertelur di kedalaman laut Samudra Pasifik, tapi manusia tidak bisa hanya”mengganti” populasi yang hilang melalui penangkaran tertutup. Budidaya unagi selama ini sangat bergantung pada penangkapan benih liar yang mana masih menjadi praktik yang secara fundamental tidak berkelanjutan.

nationalgeographic.com
Menghadapi situasi ini, sejak tahun 2014, IUCN (International Union for Conservation of Nature) telah memasukkan unagi Jepang dalam Daftar Merah Spesies Terancam Punah dalam kategori “Terancam” (Endangered/EN), setara dengan burung Toki yang ikonik di Jepang. Status ini menjadi pijakan bagi upaya konservasi internasional dan sekaligus sumber ketegangan diplomatik.
2. Diplomasi Global dan Regulasi, Pertempuran di CITES
Puncak dari ketegangan ini terjadi di panggung dunia. Pada tahun 2025, Uni Eropa mengajukan proposal untuk memasukkan semua spesies belut ke dalam Appendix II CITES (Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Terancam Punah). Jika disetujui, perdagangan internasional unagi akan memerlukan izin ekspor khusus dan jadi hambatan besar yang dapat mengganggu rantai pasok global terutama karena Jepang mengimpor lebih dari 70% konsumsi unaginya dari negara-negara seperti Cina, Taiwan, dan Korea Selatan .
Jepang bersama dengan Cina, Korea Selatan, dan Taiwan secara tegas menolak proposal ini. Pemerintah Jepang melalui Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan pada waktu itu menyatakan bahwa mereka telah melakukan pengelolaan sumber daya yang ketat secara regional, sehingga “tidak ada risiko kepunahan akibat perdagangan internasional”. Mereka berargumen bahwa penilaian IUCN terlalu pesimistis dan menggunakan metode evaluasi yang berbeda .
Akhirnya, pada bulan November 2025, dalam Konferensi Para Pihak (COP20) CITES di Uzbekistan, proposal Uni Eropa tersebut berhasil ditolak. Hal ini adalah kemenangan diplomatik bagi Jepang dan sekutunya. Namun, kemenangan ini bukannya tanpa risiko. Kritikus memperingatkan bahwa penolakan regulasi global hanya akan menjadi “kemenangan semu” jika tidak diikuti dengan komitmen kuat untuk menjaga sumber daya, karena kelangkaan nyata di lapangan tidak akan hilang hanya dengan keputusan politik .
3. Terobosan Ilmiah, Era Baru Unagi “Bikinan” Manusia
Di tengah hiruk-pikuk politik dan kekhawatiran ekologis, sains menawarkan secercah harapan nyata. Jalan keluar paling revolusioner adalah teknologi “Pembenihan Buatan” (Artificial Seed Production) atau “Budidaya Siklus Penuh” (Full-Cycle Aquaculture) di mana unagi dikembangbiakkan dari telur yang difertilisasi di laboratorium tanpa harus menangkap glass eel liar sama sekali .
Upaya ini telah dilakukan selama lebih dari tiga dekade oleh lembaga riset nasional Jepang (FRA) dan dimulai sejak 1990-an . Pada 2010, mereka berhasil menetaskan dan membesarkan unagi dari telur di laboratorium untuk pertama kalinya, tapi biayanya sangat mahal mencapai lebih dari 1 juta yen per ekor benih.
Setelah bertahun-tahun melakukan inovasi teknologi yang tak terhitung jumlahnya, biaya produksi berhasil ditekan secara signifikan. Pada 2016 masih sekitar 40.000 yen per ekor dan kini telah turun menjadi sekitar 1.800 yen (atau sekitar $11 USD) per ekor. Meskipun harga ini masih 3-4 kali lebih mahal daripada glass eel liar, ini adalah pencapaian monumental yang memungkinkan produk ini mulai diuji di pasar.
4. Tonggak Bersejarah, Penjualan Perdana Unagi dari Benih Buatan
Dilansir dari website FRA (Japan Fisheries Research and Education Agency) pada tanggal 29 Mei 2026, dunia menyaksikan tonggak sejarah. Perusahaan budidaya Yamada Suisan memulai penjualan terbatas dari unagi panggang (Kabayaki) yang berasal dari benih hasil pembenihan buatan. Ini adalah pertama kalinya produk semacam ini dijual untuk konsumsi umum, menandai transisi teknologi dari “laboratorium” ke “masyarakat”.
Dua ekor unagi panggang dijual dengan harga sekitar 9.000 yen (setara $57 USD) yang sebanding dengan produk premium kelas atas. Menteri Pertanian pada saat itu setelah mencicipi produk tersebut, memberikan pujian seperti, “Ini sangat lezat. Sungguh luar biasa. Saya hanya bisa mengatakan kata ‘lezat’.”.

marinemanager.njc.co.jp
Ini adalah langkah awal yang kecil tapi sangat simbolis. Tujuannya bukan untuk langsung menggantikan unagi liar, tapi sebagai “investasi awal” untuk melihat reaksi pasar dan membangun fondasi menuju produksi massal di masa depan.
5. Tantangan Sosial dari Bayang-Bayang Shine Muscat
Meskipun inovasi ini disambut dengan antusias, pemerintah dan pelaku industri bergerak dengan sangat hati-hati. Ada kekhawatiran besar untuk tidak mengulangi kesalahan yang terjadi pada varietas anggur premium Jepang, Shine Muscat.
Shine Muscat adalah varietas anggur yang dikembangkan oleh lembaga riset pertanian Jepang selama 33 tahun. Namun, karena gagal mendaftarkan hak kekayaan intelektualnya di luar negeri pada tahun 2006, bibitnya dibawa secara ilegal ke Cina dan Korea Selatan tanpa membayar royalti. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai 100 miliar yen per tahun, dan kualitas rendah dari produk impor turut merusak reputasi.
Untuk menghindari “Shine Muscat kedua”, pemerintah Jepang menekankan bahwa implementasi sosial dari teknologi unagi siklus penuh harus memastikan perlindungan aset teknologi dan hak kekayaan intelektual dengan matang sebelum teknologi ini disebarluaskan. Artinya, perjalanan menuju solusi tidak hanya melibatkan sains dan pasar, tapi juga strategi perlindungan teknologi yang cermat.
6. Harapan Lainnya, Daging Belut dari Sel (Cultured Meat)
Selain pembenihan buatan, ada satu jalur inovasi lain yang terus berkembang yaitu daging belut dari kultur sel. Pada bulan November 2025, tim peneliti dari Jepang melaporkan keberhasilan mereka dalam mengembangkan tiga garis sel preadiposit (sel lemak) dari otot belut Jepang yang mampu berproliferasi dan menumpuk lipid (lemak) dengan stabil. Temuan ini dipublikasikan di jurnal ilmiah NPJ Science of Food dan dianggap sebagai sumber daya berharga untuk menciptakan daging belut “buatan” yang lebih autentik di masa depan.
Jika pada pembenihan buatan kita masih membutuhkan unagi hidup (walaupun lahir di laboratorium), maka pada teknologi kultur sel, kita tidak membutuhkan unagi sama sekali dan cukup beberapa sel untuk dikembangbiakkan di bioreaktor. Ini adalah visi masa depan yang paling radikal untuk mengakhiri tekanan terhadap populasi liar.
7. Menuju Masa Depan, Harapan yang Terukur
Krisis unagi adalah cerminan dari tantangan besar yang dihadapi oleh banyak sumber daya laut dunia. Namun, respons Jepang menunjukkan bahwa jalan keluar tidak hanya sati. Maka diperlukan adalah:
- Diplomasi dan Manajemen: Mempertahankan kontrol melalui kerjasama regional (meskipun kontroversial) sambil tetap menjaga transparansi.
- Inovasi Produksi: Mendorong teknologi pembenihan buatan yang kini memasuki fase uji pasar.
- Perlindungan Kekayaan Intelektual: Memastikan teknologi tidak “dicuri” seperti Shine Muscat.
- Kesadaran Konsumen: Mendorong masyarakat untuk memahami bahwa unagi bukan hanya “makanan” tapi juga “makhluk hidup” yang membutuhkan perlindungan.
Dengan kombinasi ini, unagi tradisional dan unagi hasil inovasi mungkin bisa hidup berdampingan, memastikan bahwa generasi mendatang masih bisa menikmati kelezatan belut panggang yang meleleh di mulut tanpa harus mengorbankan kelestariannya di alam liar.
Unagi ini selain makanan Jepang pada umumnya, tapi juga narasi yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, kebutuhan nutrisi dengan ritual budaya, dan keahlian tradisional dengan inovasi modern. Dari trik pemasaran Hiraga Gennai hingga krisis kepunahan yang dihadapi saat ini, unagi mengajarkan kita tentang kompleksitas hubungan manusia dengan alam dan budaya.
Bagi orang Jepang, unagi adalah rasa musim panas, kenangan masa kecil, dan kebanggaan kuliner. Bagi dunia, unagi adalah simbol dari kelezatan yang harus dilestarikan. Masa depan unagi akan bergantung pada keseimbangan antara tetap mempertahankan warisan budaya dan mengambil langkah berani baik dalam budidaya, regulasi, maupun membuka diri pada alternatif baru untuk memastikan bahwa generasi mendatang masih bisa menikmati keajaiban rasa belut panggang yang meleleh di mulut.
Satu hal yang pasti, kisah unagi akan terus bergulir menjadi cermin dari bagaimana sebuah bangsa mencintai, merawat, dan memperjuangkan apa yang mereka anggap berharga. Jadi, jika Minasan lagi di Jepang saat musim panas, jangan lupa sempatkan diri untuk mencoba unagi ini ya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan kulinernya ya.
Nah, cukup segitu yang bisa Pandai Kotoba berikan mengenai 12 macam kuliner musim panas di jepang yang menjadi perpaduan antara tradisi dan kesejukan. Jika Minasan masih penasaran dan ingin baca lagi tentang kuliner Jepang, di website kami banyak tersedia informasinya lho. Salah satunya ini nih: 12 Macam Kuliner Musim Panas di Jepang, Perpaduan Antara Tradisi dan Kesejukan. Klik untuk membacanya.
Sampai jumpa di artikel selanjutnya!


