Culture

Kisah Sada Abe: Kontroversi, Cinta, Obsesi, dan Tragedi

Bayangkan Minasan, apa jadinya jika Minasan melihat seorang perempuan memotong alat kelamin kekasihnya dan membawanya ke mana-mana? Ngeri sekali ya. Inilah yang dilakukan oleh Sada Abe.

Kali ini Pandai Kotoba akan mengangkat sebuah kisah nyata tentang kasus pembunuhan yang dilakukan Sada Abe pada kekasihnya sendiri. Duduk yang nyaman Minasan, rebahan, siapkan camilan dan minuman kesukaan sambil membaca kisah ini.

Siapa itu Sada Abe?

kisah sada abe

Sada Abe, seorang wanita Jepang yang hidup pada awal abad ke-20, tidak hanya menciptakan skandal besar di masyarakat Jepang, tetapi juga meninggalkan jejak kontroversial dalam sejarah kriminalitas. Kisah hidupnya yang penuh gairah, cinta yang ekstrem, dan tragedi membawanya menjadi sorotan dunia.

Sada Abe (阿部 定) lahir pada tanggal 28 Mei 1905 di Kanda, Tokyo adalah seorang wanita Jepang yang dikenang karena mencekik kekasihnya secara erotis, Kichizo Ishida (石田 吉蔵Ishida Kichizō ) , pada tanggal 18 Mei 1936. Dan kemudian memotong penis dan testisnya serta membawanya kemana-mana di tas tangannya.

Kisah ini menjadi sensasional di Jepang, bernuansa mistis, dan sejak itu telah ditafsirkan oleh para seniman, filsuf, novelis, dan pembuat film. Salah satunya adalah film berjudul “In the Realm of the Senses” (1976). Kisahnya terus memikat perhatian sebagai studi kasus tentang obsesi, cinta yang ekstrem, dan batas-batas moralitas dalam masyarakat Jepang pada masa itu.

Keluarga Sada Abe

Sada Abe tumbuh di sebuah keluarga kelas menengah pembuat tikar tatami di daerah Kanda, Tokyo. Ia adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara. Sang ayah, Shigeyoshi Abe dikenal sebagai pria yang jujur dan tidak memiliki karakter buruk yang mencolok. Meskipun begitu beberapa orang yang mengenal dekat Shigeyoshi menganggapnya seorang pria yang egois dan boros. Sementara itu, ibu Sada Abe yang bernama Katsu Abe juga merupakan seorang perempuan yang biasa saja, tidak pernah berurusan dengan hukum selama hidupnya.

Kakak Sada, Shintaro dikenal sebagai pria hidung belang yang suka bermain wanita, bahkan ia kabur dari rumah setelah mencuri uang orang tuanya sendiri. Sementara itu, adik Sada yang bernama Teruki juga dikenal sebagai perempuan yang suka bergonta-ganti kekasih. Karena itulah, ayah Sada menjualnya ke rumah bordil sebagai hukuman. Ketika itu, menjual anak perempuan ke rumah bordil lazim dilakukan oleh para orang tua sebagai hukuman pada anak perempuannya yang melakukan pergaulan bebas.

Sada Abe sangat disayangi ibunya. Ibunya membiarkan Sada untuk melakukan apapun yang diinginkannya. Sada didorong oleh ibunya untuk belajar menyanyi dan bermain shamisen. Perlu diketahui, bahwa menyanyi dan bermain shamisen erat kaitannya dengan aktivitas yang dilakukan para geisha dan pelacur ketika itu. Apakah Sada didorong ibunya untuk menjadi seorang geisha? Entahlah.

Sada sering bolos sekolah dan memilih untuk belajar bermain shamisen dan menyanyi. Ia mulai mengenakan riasan mencolok, dan bergaul dengan sekelompok remaja yang melakukan aktifitas serupa.

Masa Remaja Sada Abe

Menginjak usia 15 tahun, Sada Abe mengikuti salah satu acara tamasya bersama teman-temannya. Namun, ketika acara tamasya tersebut ia diperkosa oleh salah satu kenalannya. Dari sini, Sada Abe mulai dicap sebagai perempuan yang memilih jalan pergaulan bebas.

Pergaulan bebas Sada Abe menjadi semakin tidak terkendali. Sehingga orang tuanya menjualnya ke rumah Geisha di Yokohama pada tahun 1922. Kakaa tertua Sada yang bernama Toku menyatakan bahwa Sada memang ingin menjadi geisha karena itulah orang tuanya menjualnya ke rumah geisha. Namun Sada sendiri menyatakan bahwa ayahnya-lah yang menjualnya secara paksa sebagai hukuman atas pergaulan bebasnya.

Sada yang dijual ke rumah geisha mulai sibuk menekuni profesinya di dunia yang sarat dengan aroma prostitusi. Namun, karir Sada di dunia geisha bisa dikatakan tidak mulus, dan dia menjadi geisha berpangkat rendah yang tugas utamanya adalah menyediakan layanan seksual. Selama lima tahun Sada menjalani profesi sebagai pelacur dan akhirnya tertular penyakit sifilis.

Sejak saat itu pula, Sada meninggalkan rumah geisha setelah mendapat penawaran dengan gaji yang lebih besar di salah satu rumah bordil di Osaka.

Sada Abe pada Tahun 1930-an

Pada periode tahun 1930-an, Sada pindah dari rumah geisha dan memulai kehidupannya menjadi seorang pelacur di rumah bordil Tobita, salah satu rumah bordil paling terkenal di Osaka. 

Namun, citra Sada abe langsung dicap buruk karena perilakunya sendiri. Pasalnya, ia mencuri uang dari kliennya dan berusaha kabur dari rumah bordil beberapa kali. Setelah dua tahun berada di rumah bordil Tobita, ia pindah bekerja sebagai seorang pramusaji. Namun tak butuh waktu lama, ia pun kembali menjadi pelacur karena ia tidak puas dengan gaji sebagai seorang pramusaji yang dianggapnya kecil.

Tidak seperti ketika menjadi pelacur di rumah bordil Tobita yang telah memiliki izin, kini Sada menjadi pelacur di rumah bordil yang tidak memiliki izin. Sehingga pada bulan Oktober 1934, Sada ditangkap polisi dalam sebuah penggerebekan rumah bordil tempat ia bekerja. 

Seorang pria bernama Kinnosuke Kasahara yang merupakan teman baik pemilik rumah bordil tempat Sada bekerja mengatur untuk bisa membebaskan Sada dari kurungan polisi. Tentu saja, usaha Kasahara ini bukan tanpa motif, ia tertarik dengan Sada dan bermaksud menjadikannya sebagai seorang gundik.

Pada tanggal 20 Desember 1934, Kasahara mendirikan rumah untuk ditempati Sada, dan kerap memberinya sejumlah uang sebagaimana yang dilakukan para pria yang memiliki wanita simpanan. 

Di kemudian hari setelah kasus pembunuhan yang dilakukan Sada, Kasahara dimintai keterangan perihal Sada, dan ia menyatakan pada pihak kepolisian, bahwa Sada termasuk perempuan yang memiliki hasrat seksual tinggi. “Dia (Sada) benar-benar kuat dan luar biasa, dia tidak puas kecuali kami melakukannya hingga empat kali dalam semalam,” jelas Kasahara.

Keterangan Kasahara pun ditutup dengan mengatakan bahwa: “Sada adalah tipe wanita yang harus ditakuti oleh semua pria.”

Hubungan Kasahara dan Sada berakhir ketika Sada ingin diperistri dan meminta Kasahara untuk menceraikan istrinya. Kasahara menolak, dan hubungan gelap mereka pun berakhir. Sada Abe pun pindah ke Nagoya.

Setelah pindah ke Nagoya, tepatnya pada tahun 1935, Sada berniat untuk benar-benar meninggalkan industri seks dan dunia pelacuran yang pernah digelutinya selama ini. Ia pun mulai bekerja di restoran. 

Selama bekerja di restoran Sada bertemu dengan seorang pelanggan restoran yang bernama Goro Omiya, seorang profesor sekaligus bankir. Keduanya memiliki ketertarikan satu sama lain, dan mulai menjalin hubungan asmara. Di tahun yang sama Sada kembali ke Tokyo agar bisa melanjutkan hubungan gelapnya dengan Omiya. Namun, Omiya mengakhiri hubungannya dengan Sada ketika mengetahui bahwa Sada mengidap sifilis dan membiayai pengobatan penyakit sifilis yang diderita Sada. Sada pun menyetujui untuk berpisah dengan Omiya, karena ia anggap Omiya tidak mampu memuaskan dirinya secara seksual. Setelah kepindahannya ke Tokyo, pada tanggal 1 Februari 1936 Sada bekerja sebagai pekerja magang di restoran bernama Yoshidaya.

Berkenalan dengan Kichizi Ishida

Setelah kembali ke Tokyo, Sada mulai bekerja sebagai pekerja magang di Yoshidaya pada tanggal 1 Februari 1936. Pemilik tempat Sada bekerja adalah seorang pria bernama Kichizo Ishida. Ishida dikenal sebagai seorang pria yang sering menggoda wanita, dan tidak terlalu fokus menjalankan bisnisnya yang lebih banyak dikelola oleh istrinya.

Tidak lama setelah Sada bekerja di Yoshidaya, ia mulai didekati oleh Ishida. Pada pertengahan April di tahun 1936, tiga bulan setelah Sada mulai bekerja di tempat Ishida, mereka untuk pertama kalinya melakukan hubungan seksual di restoran tempat mereka bekerja.

Sejak saat itulah hubungan gelap Sada dan Ishida dimulai. Hubungan gelap dengan maraton seksual yang luar biasa.

Beberapa kali mereka mengatur pertemuan agar bisa memuaskan hasrat seksual mereka. Tak hanya itu, aktivitas seksualnya pun bisa terbilang ekstrem. Aktivitas seksual mereka melibatkan unsur-unsur BDSM (bondage, dominance, submission, masochism), yang mencakup permainan peran dan eksplorasi keinginan yang tidak konvensional.

Sada yang menganggap telah bertemu dengan seseorang yang “cocok” dengannya terkait aktivitas seksual mengaku bahwa dengan Ishida ia menemukan cinta untuk pertama kali dalam hidupnya. Sada memandang Ishida sebagai pria yang seksi, dan ahli dalam memperlakukan kekasihnya. Perasaan kepemilikan dan obsesi pada Ishida membuat Sada cemburu setiap kali Ishida kembali pada istri sahnya.

Malam Insiden Pembunuhan

Sada dan Ishida mengatur pertemuan kembali untuk saling bereksplorasi dalam aktivitas seksual ekstrim mereka. Pada pertemuan ini, Sada mengatakan pada Ishida sambil memainkan pisau saat mereka melakukan hubungan seks, Sada mengatakan bahwa dirinya akan memastikan bahwa Ishida tidak akan pernah bermain-main dengan wanita lain. Ishida menanggapinya dengan tertawa.

Akitivitas BDSM pun mereka lakukan selama beberapa hari. Pada malam kedua Sada mencekik Ishida, dan Ishida pun menikmatinya, bagi para penikmat BDSM hal ini dianggap bisa meningkatkan kenikmatan. Pada malam tanggal 16 Mei 1936, Sada mencekik leher Ishida dengan selempang Obi untuk menahan pernapasan Ishida. Ketika melihat Ishida tampak kesakitan dan sulit bernapas, Sada sangat menikmatinya.Setelah permainan mereka selesai, Ishida meminum beberapa tablet obat penenang untuk meredakan rasa sakitnya.

Aktivitas cekik mencekik ketika berhubungan seksual ini berlanjut malam demi malam. Sampai pada tanggal 18 Mei 1936, tepatnya pukul 2 pagi, Sada melingkarkan ikat pinggangnya pada leher Ishida yang tengah tertidur, dan mencekiknya sampai mati. 

Setelah mengetahui Ishida tampak tidak bergerak dan kehilangan nyawa, Sada merasa sangat nyaman, seolah-olah beban berat telah hilang dari pundaknya, begitu katanya pada polisi. Sada kemudian berbaring selama beberapa jam di sebelah mayat Ishida.

Entah kenapa, Sada mengambil pisau dapur dan memotong alat kelamin Ishida kemudian membungkusnya dengan kertas robekan dari sampul majalah dan menyimpannya sampai dia ditangkap tiga hari kemudian.

Dengan darah yang keluar ketika memotong alat kelamin Ishida, Sada menulis dengan darah tersebut sebuah kalimat di paha kiri Ishida. Kalimat itu berbunyi Sada Kichi Futari Kiri yang berarti Sada Kichi Hanya Berdua. (Kichi adalah panggilan Ishida yang bernama lengkap Kichizo Ishida).

Kemudian Sada menulis 定 (“Sada”, karakter namanya) di lengan kiri Ishida. Sekitar pukul 8 pagi, Sada meninggalkan penginapan dan memberitahu staf penginapan agar tidak mengganggu Ishida. 

Kelak ketika dimintai keterangan oleh polisi, kenapa Sada memotong alat kelamin Ishida? Dengan tenang Sada menjawab, “Karena saya ingin mengambil bagian dari dirinya yang bisa mengingatkan saya pada kenangan yang paling indah.”

Penangkapan Sada Abe

Setelah membunuh Kichizo Ishida, Sada Abe tidak melarikan diri secara langsung. Sebaliknya, dia tampaknya menyisihkan diri dan menghabiskan beberapa waktu sendirian setelah peristiwa tersebut.

Pada tanggal 20 Mei 1936, Sada tinggal di sebuah penginapan di daerah Shinagawa. Dia menghabiskan hari itu dengan menulis sepucuk surat, dan dia berencana untuk bunuh diri dengan melompat dari tebing di gunung Ikoma sambil menggenggam penis Ishida.

Namun di hari yang sama sebelum Sada melaksanakan rencananya, tepat pada pukul 4 sore, polisi berhasil melacak keberadaan Ishida di Shinagawa dan menggerebek kamar tempat Sada menginap. Dengan tenangnya, Sada Abe berkata pada polisi, “Kalian mencari Sada Abe bukan? Ya itu saya. Saya Sada Abe,” ujar Sada sambil membuka sebuah bungkusan yang berisi potongan penis kekasihnya.

Abe ditangkap dan diinterogasi selama delapan sesi. Petugas yang menginterogasi terkejut dengan sikap Abe ketika ditanya mengapa dia membunuh Ishida. “Segera dia menjadi bersemangat dan matanya berbinar dan tampak mengerikan.” Jawabannya adalah: “Aku sangat mencintainya, aku menginginkannya untuk diriku sendiri. Tapi karena kami bukan suami-istri, selama dia hidup dia bisa dipeluk oleh wanita lain. Aku tahu kalau aku membunuhnya, tidak ada wanita lain yang bisa menyentuhnya lagi, jadi saya membunuhnya…..”

Persidangan Sada Abe

Proses persidangan Sada Abe merupakan salah satu momen yang paling mencolok dalam kasus kontroversial ini. Hari pertama persidangan Abe adalah tanggal 25 November 1936, dan pada pukul 5 pagi, banyak orang sudah berkumpul untuk hadir.

Saat persidangan, Sada Abe memberikan pengakuan terbuka mengenai peristiwa malam pembunuhan Kichizo Ishida. Dia menjelaskan dengan rinci bagaimana peristiwa tersebut terjadi, termasuk detail hubungan mereka, dinamika sesi bercinta yang ekstrem, dan tindakannya setelah membunuh Ishida.

Pengadilan menemukan bukti-bukti fisik yang mendukung peristiwa pembunuhan, termasuk keterangan saksi dan barang bukti yang dikumpulkan selama penyelidikan polisi. Salah satu elemen yang diperhitungkan dalam persidangan adalah penilaian kesehatan mental Sada Abe. Keputusan untuk memberikannya hukuman yang relatif ringan sebagian besar didasarkan pada pandangan bahwa dia menderita gangguan jiwa. 

Kemudian pada tanggal 21 Desember 1936, Sada Abe dinyatakan bersalah atas pembunuhan tingkat dua dan mutilasi mayat. Sada menyatakan ingin dihukum mati saja, namun persidangan menjatuhi hukuman enam tahun penjara. Keputusan untuk memberikannya hukuman yang relatif ringan sebagian besar didasarkan pada pandangan bahwa dia menderita gangguan jiwa. Sada Abe dipenjara di penjara wanita Tochigi, dan menjadi tahanan No.11.

Sada Abe mendapat keringanan hukuman pada 10 November 1940, dan dia dibebaskan tepat lima tahun setelah hari insiden pembunuhan yang dilakukannya.

Setelah dibebaskan dari penjara, Abe menggunakan nama samaran. Sebagai simpanan dari “pria serius” yang dia sebut dalam memoarnya sebagai “Y”, dia pertama-tama pindah ke Prefektur Ibaraki dan kemudian ke Prefektur Saitama. 

Faktor Psikologis Sada Abe

Pertimbangan utama dalam kajian psikologis Sada Abe adalah apakah dia menderita dari gangguan jiwa atau tidak. Keputusan hukum yang memberinya hukuman yang lebih ringan sebagian besar didasarkan pada pandangan bahwa dia mungkin menderita gangguan mental saat melakukan perbuatan tersebut.

Lingkungan sosial dan budaya tempat Sada Abe tumbuh dapat memiliki dampak besar pada pola pikir dan perilakunya. Tekanan sosial, norma-norma budaya, dan perubahan zaman bisa memainkan peran penting dalam membentuk sikap dan tindakannya.

Selain itu, kajian psikologis juga akan melibatkan pemeriksaan hubungan antara Sada Abe dan Kichizo Ishida. Dinamika hubungan ini, termasuk elemen BDSM dan kecenderungan mereka untuk mencoba batas-batas seksual, dapat memberikan wawasan tentang keadaan mental Sada Abe.

Sada Abe dan BDSM

Aktivitas seksual yang dilakukan oleh Sada Abe dan kekasihnya merupakan aktivitas seksual yang disebut BDSM. BDSM adalah singkatan dari tiga kategori utama dalam dunia aktivitas seksual dan hubungan interpersonal, yaitu Bondage (Pemasungan), Discipline (Disiplin), Dominance (Dominasi), Submission (Submisi), Sadism (Sadisme), dan Masochism (Masokisme).

Aktivitas BDSM melibatkan kesepakatan antara pihak-pihak yang terlibat. Berikut adalah beberapa aktivitas yang dapat termasuk dalam dunia BDSM:

  • Bondage (Pengikatan): Membatasi gerakan seseorang dengan tali, ikatan, atau alat khusus.
  • Discipline (Disiplin): Pemberian atau penerimaan hukuman atau pengaturan aturan untuk mengendalikan.
  • Dominance (Dominasi) dan Submission (Submisi): Hubungan di mana satu pihak mengambil peran dominan, sementara yang lainnya mengambil peran submisif. Ini bisa mencakup perintah, penyuruhan, atau penerimaan perintah.
  • Sadism (Sadisme) dan Masochism (Masokisme): Sadisme melibatkan penerimaan kesenangan dari menyakiti orang lain, sementara masokisme melibatkan penerimaan kesenangan dari menerima rasa sakit atau penderitaan.
  • Role Play (Peran): Berperan sebagai karakter tertentu atau menggambarkan situasi tertentu.
  • Fetishism (Fetisisme): Fokus pada objek atau bagian tubuh tertentu untuk memperoleh gairah seksual.
  • Sensory Play (Permainan Sensori): Penggunaan stimulasi sensorik yang intens, seperti panas, dingin, atau benda-benda halus.
  • Wax Play (Permainan Lilin): Meneteskan lilin panas ke tubuh sebagai bentuk sensasi dan stimulasi.
  • Humiliation Play (Permainan Penghinaan): Pengalaman penghinaan atau merendahkan diri sebagai bagian dari permainan seksual.

Karya-Karya yang Terinspirasi dari Kasus Sada Abe

Kisah kontroversial Sada Abe telah mengilhami berbagai karya seni, sastra, dan film. Karya-karya ini memberikan sudut pandang berbeda dan interpretasi kreatif terhadap kehidupan dan peristiwa Sada Abe. Mereka mencerminkan bagaimana kisah ini terus memikat dan memengaruhi dunia seni dan sastra sepanjang waktu.

Karya-karya yang terinspirasi dari peristiwa Sada Abe di antaranya:

1. “In the Realm of the Senses” (1976)

Film ini disutradarai oleh Nagisa Oshima dan merupakan adaptasi bebas dari kehidupan Sada Abe. Merupakan karya kontroversial, film ini menggambarkan secara eksplisit hubungan seksual Sada Abe dengan Kichizo Ishida dan peristiwa pembunuhan yang menyertainya.

2. “A Fool’s Love” (1960)

Buku karya Nobuko Yoshiya, seorang penulis Jepang, terinspirasi oleh kisah Sada Abe. Meskipun bukan representasi langsung dari kehidupan Sada Abe, karya ini mencerminkan ketegangan seksual dan konflik moral dalam hubungan antara dua wanita.

3. “Pandemonium” (1996)

Novel karya Kenzaburo Oe, pemenang Nobel Sastra Jepang, menggambarkan narasi yang terinspirasi oleh kisah Sada Abe. Meskipun bukan retelling langsung dari kasus Sada Abe, tema-tema kompleks yang muncul dalam novel ini menyoroti kompleksitas hubungan manusia.

4. “A Woman Called Sada Abe” (1975)

Film ini, disutradarai oleh Noboru Tanaka, merupakan interpretasi lain dari kisah Sada Abe. Seperti “In the Realm of the Senses,” film ini menggambarkan secara dramatis hubungan kontroversial Sada Abe dengan Kichizo Ishida.

5. “The Devil’s Ballad” (1975)

Novel karya Shusaku Endo, seorang penulis terkenal Jepang, terinspirasi oleh kisah Sada Abe. Meskipun bukan karya sejarah, novel ini menggambarkan suasana moral dan psikologis yang mirip dengan situasi yang dihadapi oleh Sada Abe.

Demikian Minasan kisah tragis dari seorang Sada Abe.Dalam menggali kisah kontroversial Sada Abe, kita menyaksikan lapisan-lapisan kehidupan manusia yang kompleks dan tak terduga. Kasus pembunuhan dan tindakan ekstrem yang melibatkan unsur seksualitas dalam cerita Sada Abe menjadi bukti betapa kompleksnya naluri manusia. Meskipun peristiwa ini menjadi terkenal karena unsur ketidaknormalan dan kegilaan, penting untuk memahami bahwa ini adalah kasus yang sangat tidak representatif dari beragam pengalaman seksualitas manusia. Sada Abe menciptakan bayang-bayang kegelapan dalam sejarah.

Ikuti terus artikel dan konten-konten menarik seputar Jepang lainnya di pandaikotoba.net, Instagram Pandai Kotoba, dan channel Youtube Pandai Kotoba.

Mata!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *