Tradisi Makan Ikan Mentah dalam Budaya Jepang: Bukan Sekadar Tren Kuliner
Saat mendengar kata Jepang, banyak orang langsung teringat pada sushi dan sashimi hidangan ikan mentah yang terlihat sederhana, tapi punya cita rasa khas. Namun bagi sebagian orang Indonesia, makan ikan tanpa dimasak mungkin terasa aneh atau bahkan membuat ragu. “Memangnya aman?” atau “Kenapa tidak dimasak saja?” adalah pertanyaan yang sering muncul. Meski begitu, di Jepang, kebiasaan ini justru sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Menariknya, tradisi makan ikan mentah bukan sekadar tren kuliner modern atau gaya hidup kekinian. Kebiasaan ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan tumbuh dari kondisi alam, sejarah, hingga filosofi hidup masyarakat Jepang yang menghargai kesegaran dan rasa alami bahan makanan. Dari sinilah sushi dan sashimi lahir, lalu berkembang menjadi simbol kuliner Jepang yang dikenal di seluruh dunia.
Lalu, sebenarnya apa yang membuat orang Jepang begitu menyukai ikan mentah? Apakah hanya soal rasa, atau ada makna budaya di baliknya? Artikel ini akan mengajak minasan mengenal lebih dekat tradisi makan ikan mentah di Jepang dan memahami bahwa di balik sepotong sushi, tersimpan cerita panjang tentang budaya dan cara hidup masyarakatnya.

Jepang sebagai Negara Kepulauan yang Kaya Hasil Laut
Kalau melihat peta, Jepang tampak seperti rangkaian pulau panjang yang dikelilingi laut dari segala arah. Kondisi geografis ini membuat laut bukan sekadar pemandangan, melainkan bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Sejak dulu, banyak penduduk Jepang menggantungkan hidup pada hasil laut, mulai dari menangkap ikan, kerang, rumput laut, hingga berbagai jenis seafood lainnya. Tak heran jika makanan laut menjadi sumber protein utama dalam pola makan mereka.
Selain itu, perairan Jepang dikenal sangat kaya karena bertemunya arus laut hangat dan dingin. Pertemuan arus ini menciptakan ekosistem yang ideal bagi berbagai jenis ikan untuk berkembang biak. Akibatnya, hasil tangkapan ikan melimpah dan beragam sepanjang tahun. Ikan-ikan segar bisa dengan mudah ditemukan di pasar tradisional hingga supermarket, bahkan sering kali baru ditangkap pada hari yang sama.
Karena ketersediaannya yang melimpah dan kesegarannya terjaga, masyarakat Jepang terbiasa mengolah ikan dengan cara sederhana, termasuk menikmatinya secara mentah. Bagi mereka, ikan segar tidak perlu banyak proses cukup dipotong rapi dan langsung disajikan. Dari sinilah kebiasaan makan ikan mentah mulai tumbuh, bukan karena tren, melainkan karena alam Jepang memang mendukungnya.
Awal Mula Sushi dan Sashimi dalam Sejarah Jepang
Kalau sekarang sushi dan sashimi identik dengan restoran modern atau makanan kekinian, siapa sangka keduanya justru punya sejarah yang sangat panjang. Jauh sebelum menjadi hidangan populer, sushi awalnya bukan dibuat untuk gaya atau rasa, melainkan untuk kebutuhan praktis: mengawetkan ikan. Pada zaman dahulu, masyarakat Jepang menyimpan ikan di antara nasi yang difermentasi agar tahan lebih lama. Cara ini dikenal sebagai narezushi, dan hanya ikannya saja yang dimakan, sementara nasinya dibuang.
Seiring waktu, metode tersebut berkembang. Orang Jepang mulai menyukai kombinasi rasa nasi dan ikan, sehingga nasi tidak lagi dibuang. Dari sinilah muncul bentuk sushi yang lebih segar dan sederhana, seperti nigiri sushi yang kita kenal sekarang ikan segar di atas kepalan nasi. Pada periode Edo (sekitar abad ke-19), sushi bahkan menjadi makanan cepat saji khas kota, dijual di kios-kios pinggir jalan untuk orang-orang yang sibuk.
Sementara itu, sashimi lahir dari kebiasaan menikmati ikan dalam kondisi paling segar tanpa proses tambahan. Para nelayan dan koki menyadari bahwa ikan yang baru ditangkap terasa sangat lezat jika langsung diiris tipis dan dimakan begitu saja. Tanpa bumbu rumit, rasa asli ikan justru lebih terasa. Dari situlah sashimi berkembang sebagai hidangan yang menonjolkan kesegaran dan kualitas bahan.
Melihat sejarahnya, jelas bahwa sushi dan sashimi bukan sekadar makanan modern atau tren global. Keduanya merupakan hasil perjalanan panjang tradisi kuliner Jepang, yang tumbuh dari kebutuhan sehari-hari hingga akhirnya menjadi simbol budaya yang mendunia.

Mengapa Ikan Mentah Dipilih? Rasa Asli yang Lebih Nikmat
Bagi banyak orang, memasak adalah cara utama untuk membuat makanan terasa lebih enak. Tapi di Jepang, cara berpikirnya sedikit berbeda. Ketika ikan yang digunakan benar-benar segar, justru memasaknya dianggap bisa mengubah bahkan mengurangi rasa alaminya. Itulah sebabnya ikan mentah sering dipilih karena dianggap mampu menghadirkan cita rasa yang paling murni dan autentik.
Ikan segar yang baru ditangkap memiliki tekstur lembut, rasa manis alami, dan aroma laut yang ringan. Saat dimakan mentah, semua karakter tersebut masih utuh. Berbeda jika digoreng atau dibakar, teksturnya bisa jadi lebih keras dan rasanya tertutup bumbu. Bagi orang Jepang, menikmati ikan mentah seperti sashimi adalah cara terbaik untuk benar-benar “merasakan” kualitas bahan makanannya.
Menariknya lagi, bumbu yang digunakan pun sangat sederhana. Biasanya hanya kecap asin, wasabi, atau jahe. Fungsinya bukan untuk menutupi rasa, tapi justru menonjolkan kesegarannya. Konsepnya simpel: semakin segar ikannya, semakin sedikit yang perlu ditambahkan.
Dari sinilah terlihat bahwa memilih makan ikan mentah bukan keputusan aneh, melainkan bagian dari filosofi kuliner Jepang yang menghargai rasa asli dan kesederhanaan. Bukan soal berani atau tidak, tapi soal menikmati makanan dalam bentuknya yang paling alami.
Filosofi Kuliner Jepang: Menghargai Kesederhanaan dan Alam
Salah satu hal yang membuat kuliner Jepang begitu khas adalah kesederhanaannya. Jika dibandingkan dengan masakan dari banyak negara lain yang kaya rempah dan bumbu kuat, makanan Jepang justru cenderung ringan dan minimalis. Mereka tidak berusaha “menyembunyikan” rasa asli bahan makanan. Sebaliknya, tujuan utamanya adalah menonjolkan rasa alami yang sudah ada sejak awal.
Dalam budaya Jepang, ada pandangan bahwa alam telah menyediakan rasa terbaik. Tugas manusia hanyalah mengolahnya dengan cara yang tepat, bukan mengubahnya secara berlebihan. Karena itu, hidangan seperti sashimi cukup disajikan dengan potongan ikan segar, sedikit kecap asin, wasabi, atau jahe. Bumbunya sederhana, tapi justru di situlah letak keistimewaannya. Kesegaran bahan menjadi bintang utama.
Filosofi ini juga berkaitan dengan konsep menghargai musim atau shun, yaitu menikmati makanan saat bahan tersebut sedang berada pada kualitas terbaiknya. Ikan yang sedang musim dianggap lebih lezat dan bergizi, sehingga tidak perlu banyak tambahan apa pun. Cara makan seperti ini membuat orang Jepang lebih dekat dengan alam dan lebih menghargai proses alami makanan.
Pada akhirnya, tradisi makan ikan mentah bukan hanya soal selera, tetapi juga cerminan pola pikir. Kesederhanaan, keseimbangan, dan penghormatan terhadap alam menjadi nilai yang tertanam kuat dalam setiap hidangan. Dari sepiring sashimi saja, kita bisa melihat bagaimana budaya Jepang memandang makanan dengan penuh makna.
Seni dan Teknik di Balik Pembuatan Sushi dan Sashimi
Sekilas, sushi dan sashimi mungkin terlihat sederhana hanya nasi dan potongan ikan mentah. Tapi jangan salah, di balik tampilannya yang minimalis, ada teknik dan keterampilan tinggi yang tidak bisa dipelajari dalam semalam. Di Jepang, menjadi koki sushi bukan pekerjaan biasa. Banyak chef harus menjalani latihan bertahun-tahun hanya untuk menguasai dasar-dasarnya.
Salah satu kunci utamanya adalah teknik memotong ikan. Setiap jenis ikan punya cara potong berbeda, mulai dari ketebalan, sudut pisau, hingga arah serat daging. Potongan yang tepat bisa membuat tekstur terasa lebih lembut dan rasa lebih keluar. Sebaliknya, potongan yang salah bisa merusak sensasi makan. Karena itulah koki sushi sangat teliti, bahkan untuk satu irisan kecil sashimi.
Bukan cuma soal rasa, penyajiannya juga diperhatikan dengan serius. Warna ikan, bentuk nasi, hingga tata letak di piring diatur agar terlihat seimbang dan menarik. Dalam budaya Jepang, makanan juga dinikmati dengan mata. Tampilan yang rapi dan indah dipercaya bisa menambah selera makan. Tak heran kalau sepiring sushi sering terlihat seperti karya seni kecil.
Semua proses ini menunjukkan bahwa sushi dan sashimi bukan sekadar makanan cepat saji. Ada dedikasi, ketelitian, dan estetika di dalamnya. Itulah yang membuat kuliner Jepang terasa istimewa sederhana di luar, tapi penuh keahlian di balik layar.

Standar Kebersihan dan Keamanan Ikan Mentah
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul saat membahas sushi dan sashimi adalah, “Aman nggak sih makan ikan mentah?” Kekhawatiran ini wajar, apalagi kalau kita terbiasa makan ikan yang selalu dimasak. Tapi di Jepang, konsumsi ikan mentah bisa dilakukan dengan tenang karena ada standar kebersihan dan keamanan yang sangat ketat sejak dari laut sampai ke meja makan.
Prosesnya dimulai dari pemilihan ikan. Tidak semua jenis ikan boleh disajikan mentah. Hanya ikan tertentu yang kualitas dan kesegarannya memenuhi syarat. Setelah ditangkap, ikan langsung disimpan dalam suhu dingin untuk memperlambat pertumbuhan bakteri. Rantai pendinginan ini dijaga terus selama distribusi, sehingga ikan tetap segar saat sampai di pasar atau restoran.
Di dapur restoran pun, penanganannya sangat hati-hati. Peralatan harus bersih, teknik pemotongan dilakukan dengan cepat dan higienis, serta bahan mentah dipisahkan dari bahan lain untuk mencegah kontaminasi. Bahkan banyak koki sushi yang sangat disiplin soal kebersihan tangan dan alat masak. Semua detail kecil diperhatikan.
Karena itulah, makan ikan mentah di Jepang bukan tindakan nekat, melainkan hasil dari sistem keamanan pangan yang terkontrol. Kebiasaan ini bisa bertahan lama justru karena masyarakatnya serius menjaga kualitas dan kebersihan. Jadi, di balik sepiring sashimi yang terlihat simpel, ada proses panjang yang memastikan makanan tersebut aman untuk dinikmati.
Kandungan Gizi dan Manfaat Kesehatan
Selain terkenal lezat dan segar, ikan mentah seperti sushi dan sashimi juga punya nilai gizi yang tinggi. Inilah salah satu alasan kenapa makanan ini sering dikaitkan dengan gaya hidup sehat orang Jepang. Ikan laut mengandung banyak protein, vitamin, mineral, serta lemak baik yang dibutuhkan tubuh. Jadi meskipun terlihat sederhana, sebenarnya gizinya lengkap.
Salah satu kandungan paling penting adalah omega-3, yaitu lemak sehat yang baik untuk jantung dan otak. Omega-3 dikenal dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung, menjaga kadar kolesterol, serta meningkatkan fungsi otak dan konsentrasi. Karena ikan dimakan mentah atau hanya sedikit diproses, kandungan nutrisinya tetap utuh dan tidak banyak rusak oleh panas saat memasak.
Selain itu, sushi dan sashimi juga cenderung rendah minyak karena tidak digoreng. Rasanya ringan di perut dan tidak membuat enek. Pola makan seperti ini membuat asupan kalori lebih terkontrol. Tidak heran jika masyarakat Jepang dikenal memiliki angka obesitas yang rendah dan harapan hidup yang tinggi dibanding banyak negara lain.
Dengan kata lain, makan ikan mentah bukan hanya soal tradisi atau selera, tapi juga pilihan yang menyehatkan. Lezat dapat, manfaat kesehatan pun ikut terasa. Kombinasi inilah yang membuat sushi dan sashimi tetap digemari dari dulu hingga sekarang.
Perbedaan dengan Budaya Makan Negara Lain
Kalau di Jepang makan ikan mentah adalah hal biasa, di banyak negara lain justru sebaliknya. Termasuk di Indonesia, kita lebih terbiasa menggoreng, membakar, merebus, atau memasak ikan dengan bumbu yang kuat. Ikan mentah sering dianggap kurang aman atau terasa “amis”. Perbedaan ini sebenarnya wajar, karena setiap negara punya kondisi alam, iklim, dan kebiasaan kuliner yang berbeda.
Salah satu faktor utamanya adalah cuaca. Indonesia dan negara tropis lainnya memiliki suhu yang lebih panas, sehingga ikan lebih cepat rusak jika tidak segera dimasak. Memasak menjadi cara paling aman untuk membunuh bakteri dan memperpanjang daya tahan makanan. Sementara di Jepang, dengan sistem distribusi yang cepat dan teknologi pendinginan yang baik, ikan segar lebih mudah dijaga kualitasnya sehingga aman dikonsumsi mentah.
Selain itu, budaya rasa juga berpengaruh. Masakan Indonesia terkenal kaya rempah dan bumbu, seperti kunyit, cabai, bawang, dan santan. Kita cenderung menyukai rasa yang kuat dan gurih. Sebaliknya, kuliner Jepang lebih ringan dan minimalis, sehingga rasa alami bahan makanan lebih ditonjolkan. Karena selera yang berbeda, cara mengolah ikan pun ikut berbeda.
Dari sini terlihat bahwa tidak ada yang lebih benar atau salah semuanya hanya soal kebiasaan dan budaya. Jepang punya tradisi sashimi, Indonesia punya ikan bakar atau goreng. Justru perbedaan inilah yang membuat kuliner dunia semakin beragam dan menarik untuk dicoba.

Dari Tradisi Lokal Menjadi Kuliner Mendunia
Dulu, sushi dan sashimi hanyalah makanan sederhana yang dinikmati masyarakat Jepang sehari-hari. Bisa ditemukan di pasar, kios kecil, atau restoran lokal, tanpa kesan mewah sama sekali. Namun seiring waktu, kuliner khas ini mulai menarik perhatian dunia. Perpaduan antara rasa segar, tampilan cantik, dan kesan sehat membuat banyak orang penasaran untuk mencobanya.
Ketika budaya Jepang mulai dikenal lewat anime, film, dan pariwisata, sushi pun ikut “naik panggung”. Restoran Jepang bermunculan di berbagai negara, dari kota besar hingga pusat perbelanjaan. Bahkan kini sushi bisa ditemukan dalam bentuk yang lebih modern dan praktis, seperti sushi roll, bento, atau makanan siap saji di supermarket. Variasinya juga makin kreatif, disesuaikan dengan selera lokal, misalnya tambahan mayones, keju, atau saus pedas.
Meski sudah mendunia dan mengalami banyak inovasi, di Jepang sendiri sushi tetap dipandang sebagai makanan tradisional yang dekat dengan keseharian. Bukan sekadar tren atau simbol gaya hidup mewah, melainkan bagian dari budaya yang diwariskan turun-temurun. Inilah yang menarik: dari hidangan lokal yang sederhana, sushi dan sashimi berhasil menjadi ikon kuliner global tanpa kehilangan identitas aslinya.
Perjalanan ini membuktikan bahwa makanan bukan cuma soal kenyang, tapi juga cerita dan budaya. Dari sepotong ikan mentah, tradisi Jepang bisa dikenal dan dinikmati oleh orang-orang di seluruh dunia.
Kesimpulan
Dari pembahasan tadi, kita bisa melihat bahwa tradisi makan ikan mentah di Jepang bukanlah kebiasaan yang muncul begitu saja atau sekadar mengikuti tren kuliner modern. Kebiasaan ini tumbuh dari banyak faktor: kondisi geografis Jepang yang kaya hasil laut, sejarah panjang sushi dan sashimi, filosofi hidup yang menghargai kesederhanaan, hingga standar kebersihan yang tinggi. Semua unsur tersebut saling berkaitan dan membentuk budaya makan yang unik.
Bagi masyarakat Jepang, ikan mentah bukan sesuatu yang aneh atau ekstrem, melainkan cara paling alami untuk menikmati kesegaran dan cita rasa asli bahan makanan. Ditambah lagi dengan manfaat gizinya yang baik untuk kesehatan, sushi dan sashimi menjadi pilihan yang lezat sekaligus menyehatkan. Tak heran jika makanan ini tetap digemari dari generasi ke generasi.
Kini, meskipun sushi sudah mendunia dan hadir dalam berbagai versi modern, akarnya tetap sama: tradisi lokal yang sederhana namun penuh makna. Jadi, saat kita menyantap sushi atau sashimi, sebenarnya kita bukan hanya mencoba makanan Jepang, tetapi juga ikut merasakan sepotong budaya dan sejarahnya.Kalau minasan ingin mengenal lebih banyak tentang budaya, bahasa, dan kuliner Jepang lainnya, jangan lupa untuk terus membaca artikel menarik di Pandaikotoba, dan ikuti Instagram-nya untuk update harian seputar kosakata, budaya, dan filosofi hidup ala Jepang yang inspiratif.


