Culture,  Kuliner,  Leisure

Serba-serbi Hasil Laut khas Musim Semi di Jepang yang Kaya Manfaat

Hai Minasan~! Musim semi di Jepang selalu identik dengan hamparan bunga sakura dan pucuk-pucuk tanaman liar di pegunungan. Namun, lautan yang mengelilingi kepulauan Jepang juga menyimpan kekayaan melimpah yang mulai bergeliat setelah musim dingin berlalu. Inilah yang disebut “shun” (旬) atau puncak musim bagi berbagai jenis hasil laut yang rasanya paling nikmat hanya beberapa pekan hingga bulan tertentu di musim semi.

Berbeda dengan ikan musim dingin yang cenderung gemuk dengan lapisan lemak tebal untuk bertahan di air dingin, hasil laut musim semi menawarkan profil rasa yang lebih ringan, segar, dan elegan. Hasil laut ini adalah cerminan dari musim semi itu sendiri, yaitu lembut, menyegarkan, dan penuh dengan kehidupan baru.

Dalam budaya kuliner Jepang, ikan musim semi memiliki sebutan khusus bernama “haru no kyoyu” (春の共憂) yang secara harfiah berarti “kebahagiaan bersama musim semi”. Ikan-ikan ini sering muncul di meja makan untuk merayakan berbagai acara penting seperti kelulusan, penerimaan kerja baru, hingga pernikahan di musim semi.

Pandai Kotoba kali ini pada artikel kali ini akan membahas serba-serbi hasil laut khas musim semi di Jepang yang kaya manfaat mulai dari jenis ikan lautnya, manfaat, hingga macam-macam olahannya seperti apa. Sebelumnya di atas sudah dipaparkan sedikit nih dan pengen tahu lebih jauh mengenai hasil laut khas musim semi di Jepang? Yuk, kita simak di bawah ini.

sawara
Ikan Sawara
hyoki.jp

Serba-serbi Hasil Laut khas Musim Semi di Jepang yang Kaya Manfaat

A. Tai (鯛) atau Sea Bream

Tai atau sea bream merah telah lama dihormati di Jepang sebagai “medetai” (めでたい), yaitu pelesetan kata yang berarti “penuh keberuntungan”. Sejak zaman kuno, ketika Dewa Keberuntungan Ketujuh menangkap ikan ini, ikan tai dikenal sebagai ikan perayaan.

Tidak heran jika tai selalu menjadi ikan utama dalam pesta pernikahan, upacara kelulusan, dan perayaan Tahun Baru yang biasanya disajikan utuh dengan kepala masih menempel sebagai simbol keutuhan dan kemakmuran. Sebutan khasnya untuk ikan ini adalah “Sakura-dai” (桜鯛) atau Ikan Bunga Sakura.

ikan tai
Ikan Tai (鯛) atau Sea Bream
shun-gate.com

1. Musim dan Ciri Khas

Musim semi adalah waktu terbaik untuk menikmati ikan tai. Antara bulan Maret hingga Mei, ikan laut ini memasuki musim pemijahan, dan tepat sebelum masa ini, ikan ini mengakumulasi lemak serta nutrisi yang membuat dagingnya lebih berisi dan penuh cita rasa. Tai yang ditangkap selama musim sakura disebut “Sakura-dai” atau Ikan Bunga Sakura. Dagingnya yang merah muda lembut konon menyerupai kelopak sakura, sementara teksturnya yang montok dan kenyal menjadi incaran para pencinta sashimi.

Wilayah penghasil ikan tai terbaik di Jepang adalah perairan di sekitar Selat Naruto di Tokushima dan Prefektur Nagasaki. Ikan tai Naruto yang berenang melawan arus deras selat memiliki daging yang sangat kenyal dan sering disebut sebagai “permata” oleh para koki.

2. Profil Rasa dan Tekstur

Tai termasuk ikan daging putih (shiromi) dengan rasa yang sangat halus, sedikit manis, dan berumami. Teksturnya padat tapi lembut saat digigit, membuatnya sangat cocok disantap mentah. Di musim semi, rasa manis alami ikan ini mencapai puncaknya, sementara aroma amisnya hampir tidak terdeteksi pada ikan segar berkualitas tinggi.

Salah satu penggemar berat ikan tai adalah seorang koki makanan laut asal Mie yang berkomentar, “Ikan tai yang ditangkap di perairan dingin musim semi memiliki keseimbangan lemak dan rasa asin dari laut yang tidak ditemukan di musim lain. Saat dimakan sebagai sashimi, ia meleleh di mulut dengan sisa rasa yang membuat kita ingin terus makan.”

3. Cara Menikmati dan Resep

a) Sashimi Tai
Cara termurni menikmati ikan tai segar. Disajikan dengan wasabi dan kecap asin, atau kadang dengan sedikit garam dan jeruk sudachi.

b) Tai-meshi (Nasi Tai)
Hidangan khas dari wilayah Kansai terutama Prefektur Ehime. Beras dimasak bersama dengan kaldu dashi dan potongan ikan tai utuh. Dagingnya yang lembut bercampur dengan nasi yang harum menciptakan kenikmatan sederhana namun mendalam.

c) Tai no Shioyaki (Tai Panggang Garam)
Pilihan populer lainnya, di saat ikan tai utuh dibaluri garam laut lalu dipanggang hingga kulitnya garing dan dagingnya tetap lembab.

d) Tai Kabuto-ni (Rebusan Kepala Tai)
Memanfaatkan bagian kepala dan tulang tai yang kaya kolagen. Direbus perlahan dengan kecap asin, mirin, dan gula hingga kuah mengental.

Ada juga tips dari koki profesional, yaitu untuk menikmati ikan tai sebagai sashimi, sebaiknya biarkan ikan “matang” atau difermentasi ringan selama 1-3 hari dalam lemari es setelah difillet. Proses ini yang disebut “jiukasei” (熟成) atau pematangan supaya meningkatkan kadar asam amino umami hingga rasa tai menjadi jauh lebih kompleks.

4. Manfaat Kesehatan

Ikan tai adalah sumber protein berkualitas sangat tinggi dengan kandungan lemak yang rendah. Ikan ini mengandung berbagai asam amino esensial yang diperlukan tubuh untuk membangun dan memperbaiki jaringan otot termasuk leusin dan lisin yang membantu pemulihan setelah aktivitas fisik. Selain itu, ikan tai juga mengandung vitamin D yang penting untuk penyerapan kalsium, membuatnya baik untuk kesehatan tulang terutama penting bagi lansia dan anak-anak yang sedang tumbuh.

B. Sawara (鰆) atau Japanese Spanish Mackerel

Tidak ada ikan yang lebih mewakili musim semi Jepang selain sawara. Cukup dengan melihat kanji namanya seperti (ikan) di sebelah kiri dan (musim semi) di sebelah kanan, kita sudah bisa menebak betapa eratnya ikan ini dengan musim semi. Ikan sawara disebut sebagai “haru o tsugeu sakana” yang artinya “ikan yang membawa kabar musim semi” terutama di wilayah Kansai.

ikan sawara
Sawara (鰆) atau Japanese Spanish Mackerel
takwahjapanseafood.com

1. Musim dan Ciri Khas

Ikan sawara mencapai puncak musimnya antara bulan Maret hingga Juni. Ikan lait ini bermigrasi ke Laut Pedalaman Seto (Seto Inland Sea) di Jepang bagian barat antara April hingga Mei untuk bertelur yang menjadikannya sangat melimpah di daerah tersebut. Namun, perlu dicatat bahwa preferensi regional memengaruhi waktu menikmati sawara. Di wilayah Kanto (Tokyo), ikan musim dingin disebut “Kan-sawara” (寒鰆) atau Cold Sawara yang memiliki kandungan lemak lebih tinggi dan dihargai karena rasa kaya. Sementara di Kansai, sawara musim semi yang lebih ramping dan segar lebih disukai.

Meskipun dagingnya tampak keputihan seperti ikan putih, sawara sebenarnya adalah ikan berdarah merah (red-fleshed fish) yang kaya akan lemak sehat. Ikan ini memiliki daging yang lembut dan mudah hancur dan menjadi tantangan tersendiri bagi para koki saat memotongnya.

2. Profil Rasa dan Tekstur

Ikan sawara menawarkan pengalaman rasa yang unik seperti dagingnya yang lembut memiliki rasa manis yang halus, tapi hampir tidak memiliki bau amis yang mengganggu. Kandungan lemaknya membuatnya terasa juicy di mulut saat dimasak. Dalam hidangan seperti Saikyo-yaki (miso putih bakar dari Kyoto), rasa manis dari miso berpadu sempurna dengan lemaknya yang kaya.

Sea bream mungkin lebih dikenal di luar Jepang, tapi banyak koki lokal justru menjadikan sawara sebagai favorit pribadi mereka. Seorang koki dari Mie mengomentari daging ikan sawara yang lembut tapi padat sebagai “keajaiban tekstur yang jarang ditemukan pada ikan berlemak”.

3. Cara Menikmati dan Resep

a) Sawara no Saikyo-yaki
Metode memasak tradisional Kyoto di mana fillet sawara direndam dalam pasta miso putih (Saikyo miso) selama 24 jam sebelum dipanggang. Hasilnya adalah permukaan mengkilap keemasan dengan daging yang lembut dan rasa miso manis yang meresap hingga ke dalam.

b) Sawara no Shioyaki (Sawara Panggang Garam)
Versi yang lebih sederhana namun tak kalah lezat. Sawara hanya dibaluri garam lalu dipanggang. Paling nikmat disajikan dengan parutan lobak daikon dan kecap asin.

c) Sawara Sashimi
Untuk sawara yang sangat segar, sashimi adalah pilihan yang memungkinkan kita merasakan rasa manis alami ikannya sebelum dimasak.

d) Sawara no Butter-yaki (Tumis Mentega Sawara)
Gaya Barat yang populer di rumah-rumah Jepang. Fillet sawara ditumis dengan mentega dan sedikit kecap asin menciptakan perpaduan rasa Jepang dan Barat yang lezat.

Ada perhatian khusus saat memasak ikan sawara ini. Daging sawara sangat lembut dan mudah hancur saat dimasak. Gunakan spatula lebar dan balik dengan hati-hati hanya sekali untuk menghindari daging yang hancur. Untuk hasil terbaik, pastikan wajan atau panggangan sudah panas sebelum meletakkan ikan, dan jangan terlalu sering membolak-baliknya.

4. Manfaat Kesehatan

Sawara adalah sumber yang sangat kaya akan asam lemak omega 3, terutama DHA dan EPA. DHA (docosahexaenoic acid) terkenal akan manfaatnya bagi fungsi otak dan penglihatan, sementara EPA (eicosapentaenoic acid) membantu mengurangi trigliserida dalam darah, mencegah penggumpalan darah, dan mengurangi peradangan dalam tubuh.

Ikan ini juga mengandung vitamin D dan vitamin B12 yang penting untuk sistem saraf dan pembentukan sel darah merah. Karena kandungan DHA dan EPA mudah rusak oleh panas ekstrem, metode memasak dengan suhu sedang seperti panggang atau tumis lebih disarankan daripada menggoreng dengan suhu sangat tinggi.

C. Katsuo (鰹) atau Bonito atau Skipjack Tuna

Katsuo atau dikenal dalam bahasa Inggris sebagai bonito atau skipjack tuna memiliki dua puncak musim utama di Jepang, yaitu musim semi (Maret hingga awal Juni) dan musim gugur. Namun, tangkapan pertama musim semi yang disebut “Hatsugatsuo” (Ikan Bonito Pertama) memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Jepang.

Tangkapan katsuo musim semi ini berbeda secara fundamental dari sepupunya di musim gugur. Katsuo musim semi memiliki kandungan lemak minimal karena belum mulai menggemukkan diri untuk musim dingin. Hasilnya adalah daging yang ramping, berwarna merah cerah, dan rasa yang ringan dan menyegarkan ini sangat kontras dengan katsuo musim gugur yang gemuk dan kaya lemak.

ikan katsuo
Ikan Katsuo (鰹) atau Bonito atau Skipjack Tuna
cookbiz.jp

1. Musim dan Asal Daerah

Hatsugatsuo biasanya mulai muncul di pasar dari bulan Maret dengan puncak musim antara April hingga Mei. Perairan di sekitar Semenanjung Kii dan pantai Pasifik Prefektur Kochi terkenal akan katsuo berkualitas tinggi. Di Kochi, hidangan khas “Katsuo no Tataki” telah menjadi ikon kuliner yang menarik wisatawan dari seluruh Jepang.

2. Profil Rasa Jadi Tantangan Kesegaran

Ikan katsuo memiliki tantangan unik seperti dagingnya membusuk sangat cepat setelah ikan mati. Tidak seperti ikan tai yang bisa dimatangkan selama beberapa hari, katsuo segar harus segera diproses dalam hitungan jam. Karena itu, katsuo mentah (nama katsuo) biasanya hanya dapat dinikmati di restoran tepercaya dengan hubungan langsung ke pelabuhan.

Rasa katsuo segar sangat khas, yaitu manis dan sedikit asam dengan aroma laut yang terasa hidup. Teksturnya padat namun lembut, berbeda dari tuna (maguro) yang lebih berlemak.

3. Cara Menikmati dan Resep

a) Katsuo no Tataki
Hidangan ini menjadi hidangan paling ikonik untuk katsuo. Seluruh fillet katsuo dibakar di atas jerami atau api terbuka dengan suhu sangat tinggi, hanya selama 10-30 detik per sisi. Api membakar permukaan luar, menciptakan lapisan beraroma asap, sementara bagian dalamnya tetap mentah (rare). Setelah itu, ikan diiris tipis dan disajikan dengan irisan bawang merah, jahe parut, bawang putih, dan saus ponzu (kecap asam jeruk). Api jerami memberikan aroma asap yang khas yang menyempurnakan rasa alami katsuo.

b) Katsuo Sashimi
Untuk katsuo yang sangat segar dan ditangani dengan baik, tidak ada yang mengalahkan sashimi polos dengan kecap asin dan wasabi.

c) Katsuo no Karee (Kari Bonito)
Versi yang kurang dikenal namun lezat, kari Jepang dengan potongan katsuo segar lebih ringan daripada kari sapi atau ayam, dan kesegaran ikan menjadi pelengkap sempurna untuk kuah kari yang gurih.

d) Katsuo no Aburi (Bonito Bakar)
Mirip dengan tataki, tetapi dengan tingkat kematangan lebih dalam.

4. Fakta Menarik, Dari Ikan Segar hingga Katsuobushi

Meskipun ikan katsuo segar adalah makanan musim semi yang istimewa, sebagian besar tangkapan katsuo di Jepang sebenarnya diolah menjadi katsuobushi yang berbahan dasar kaldu dashi yang menjadi fondasi masakan Jepang. Proses pembuatan katsuobushi melibatkan perebusan, pengasapan, dan penjemuran berulang kali selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, bahkan kadang diinokulasi dengan jamur Aspergillus glaucus untuk fermentasi lebih lanjut. Katsuobushi yang sudah jadi dapat disimpan selama bertahun-tahun. Olahan ini menjadi luar biasa berbeda dengan katsuo segar yang harus segera dimakan.

5. Manfaat Kesehatan

Ikan katsuo adalah salah satu sumber protein hewani terbaik dengan kandungan lemak jenuh minimal. Sebagai ikan berlemak (meski kadar lemaknya bervariasi antar musim), katsuo tetap merupakan sumber DHA dan EPA yang sangat baik bahkan katsuo tanpa lemak musim semi pun memiliki kandungan omega-3 yang signifikan. Ikan laut ini juga mengandung:

  • Selenium: Mineral yang bertindak sebagai antioksidan dan mendukung fungsi tiroid.
  • Vitamin B3 (Niacin) dan B12: Penting untuk metabolisme energi dan kesehatan sistem saraf.
  • Kalium: Membantu mengatur tekanan darah.
  • Tryptophan: Asam amino yang membantu produksi serotonin, neurotransmitter yang mengatur suasana hati dan tidur.

Katsuo juga dikenal sebagai sumber CoQ10 (Coenzyme Q10) yang tinggi, senyawa yang berperan penting dalam produksi energi sel dan bertindak sebagai antioksidan kuat.

D. Hotaru Ika (蛍烏賊) atau Firefly Squid

1. Keunikan dan Legenda

Hotaru Ika atau cumi-cumi kunang-kunang ini mendapatkan namanya dari kemampuan spektakulernya memancarkan cahaya biru kehijauan dari ribuan fotofora (organ penghasil cahaya) yang menutupi tubuhnya. Fenomena ini paling terlihat selama musim kawin di musim semi, ketika ribuan cumi-cumi ini bermigrasi ke permukaan perairan Teluk Toyama untuk bertelur menciptakan pemandangan bawah laut yang diterangi cahaya biru misterius. Hal ini menjadi salah satu pemandangan alam paling memukau di Jepang.

cumi2 hotaru ika
Cumi-Cumi Hotaru Ika
store.shopping.yahoo.co.jp

2. Musim dan Keunikan

Hotaru Ika biasanya ada di musim semi (Maret-Mei) sangat istimewa karena selain langka, mereka juga berada pada puncak rasa. Cumi-cumi ini berukuran sangat kecil, panjangnya hanya 4-6 centimeter, tapi memiliki konsentrasi rasa yang luar biasa. Mereka mengandung miso atau hati cumi yang kaya dan pahit-manis yang menjadi ciri khasnya.

Yang membuat hotaru ika sulit ditemukan di luar Jepang adalah umurnya yang sangat pendek. Begitu cumi-cumi ini ditangkap, mereka harus segera diolah karena sangat cepat rusak. Karena itu, hotaru ika biasanya direbus sebentar dalam air garam segera setelah ditangkap di Toyama, lalu didistribusikan ke seluruh Jepang dalam keadaan setengah matang. Hotaru ika segar mentah hanya dapat dinikmati di Toyama sendiri atau restoran dengan akses langsung ke pemasok.

3. Profil Rasa

Hotaru ika memiliki rasa yang sangat berbeda dari cumi-cumi biasa. Dagingnya lembut, hampir seperti mentega saat dimasak sebentar, dengan rasa umami yang kuat. Bagian dalamnya (miso) memberikan kontras rasa pahit-manis yang kompleks seperti kelezatan yang disukai oleh para penikmat makanan laut kelas berat.

3. Cara Menikmati

a) Hotaru Ika no Sumiso-ae (Cumi Kunang-kunang dengan Saus Miso Cuka)
Olahan ini adalah cara paling tradisional dan populer. Hotaru ika yang telah direbus disajikan dengan saus yang terbuat dari miso putih, cuka beras, dan sedikit gula. Sausnya yang asam, asin, dan sedikit manis menyempurnakan rasa pahit dari miso cumi menjadi kombinasi yang kompleks dan membuat ketagihan.

b) Hotaru Ika Sashimi
Hanya tersedia di Toyama atau restoran khusus. Cumi-cumi segar utuh disajikan mentah biasanya dengan sedikit garam dan kecap asin.

c) Hotaru Ika no Karaage
Versi goreng tepung yang lebih ramah bagi pemula. Cumi-cumi digoreng kering dengan tepung bumbu hingga renyah.

d) Tumis Hotaru Ika dengan Nanohana
Kombinasi dua keistimewaan musim semi. Hotaru ika ditumis dengan nanohana (pucuk bunga rapeseed) dan bawang putih dalam minyak zaitun atau mentega dibumbui dengan sedikit kecap asin. Hidangan ini sangat cocok dengan sake atau anggur putih.

4. Budaya Sekitar Hotaru Ika

Di Prefektur Toyama, kedatangan hotaru ika di awal musim semi adalah sebuah perayaan. Ratusan nelayan kecil pergi ke laut setiap malam untuk menangkap cumi-cumi ini selama jendela singkat mereka berada di perairan dangkal. Di Pelabuhan Uozu, pemandangan lampu-lampu kapal nelayan yang berkelap-kelip di malam hari saat menangkap hotaru ika menjadi simbol lanskap industri sekaligus keindahan visual. Festival Hotaru Ika diadakan setiap tahun, menarik wisatawan kuliner dari seluruh negeri.

5. Manfaat Kesehatan

Seperti semua seafood laut dalam, hotaru ika mengandung DHA dan EPA dalam jumlah tinggi. Selain itu, miso (hati) cumi-cumi ini dikenal kaya akan:

  • Taurin: Asam amino yang membantu menurunkan tekanan darah dan kolesterol.
  • Zat besi heme: Bentuk zat besi yang paling mudah diserap tubuh, penting untuk mencegah anemia.
  • Vitamin B12: Mendukung sistem saraf dan pembentukan sel darah merah.

Kandungan taurin dalam cumi-cumi juga membantu fungsi hati dan penglihatan menjadikannya makanan kesehatan yang ideal.

E. Shirasu (しらす) dan Sakura Ebi (桜海老)

Shirasu yang kadang disebut Shirauo di beberapa daerah adalah istilah kolektif untuk bibit ikan (fry) yang masih sangat muda terutama dari keluarga ikan sarden, teri, dan herring. Panjangnya hanya 2-3 centimeter, tubuhnya bening dengan semburat perak saat terkena cahaya. Musim shirasu dimulai pada bulan Maret dan mencapai puncaknya antara April hingga Juni, ketika miliaran bibit ikan laut ini bermigrasi ke perairan dangkal di sepanjang pantai Pasifik Jepang.

Sedangkan, Sakura Ebi atau udang bunga sakura adalah spesies udang kecil berwarna merah muda terang yang hanya ditemukan di perairan tertentu di Jepang terutama Teluk Suruga di Prefektur Shizuoka. Musim sakura ebi sangat singkat, hanya beberapa minggu di musim semi dan kadang lagi di musim gugur, karena mereka muncul ke perairan dangkal untuk berkembang biak.

shirasu
Shirasu
kurashiru.com

Warna merah muda cerah udang ini diyakini menyerupai kelopak bunga sakura, karenanya nama “sakura” diberikan. Bersama dengan shirasu, mereka adalah dua “baby seafood” yang paling dicari di musim semi.

1. Asal Daerah dan Keunikan

Shirasu dari Teluk Sagami di Prefektur Kanagawa terutama daerah Shonan, sekitar Kamakura dan Enoshima ini sangat terkenal dan di perairan ini adalah salah satu teluk paling dalam di Jepang (kedalaman hingga 1.000 meter) yang menyimpan banyak nutrisi yang dibawa arus laut ke perairan dangkal, menciptakan tempat makan ideal bagi bibit ikan.

Shirasu dari Shonan menjadi merek dagang sebagai “Shonan Shirasu” telah menjadi ikon kuliner daerah ini, menarik wisatawan yang datang untuk menikmati “shirasu-don” (mangkuk nasi dengan shirasu) di restoran-restoran di Kamakura dan Enoshima. Untuk sakura ebi, Teluk Suruga di Shizuoka adalah satu-satunya lokasi utama penangkapan di Jepang. Udang ini sangat rapuh dan harus diproses dalam beberapa jam setelah ditangkap.

2. Profil Rasa

Shirasu memiliki rasa yang sangat halus hampir tidak ada rasa “amis” dan hanya rasa asin lembut dari laut dengan sedikit manis alami. Teksturnya lembut, hampir seperti sutra saat menyentuh lidah. Sedangkan, Sakura ebi yang berukuran kecil memiliki konsentrasi rasa udang yang kuat, yaitu rasa manis, gurih, dengan tekstur yang sedikit renyah saat digoreng.

sakura ebi
Sakura Ebi
kikumasamune.shop

3. Cara Menikmati

Untuk Shirasu:
Ada tiga klasifikasi shirasu berdasarkan cara pengolahannya:

a) Nama Shirasu (Shirasu Mentah): Hanya tersedia di daerah penangkapan. Shirasu yang baru ditangkap, masih hidup dan berwarna bening sepenuhnya.

b) Kama-age Shirasu (Shirasu Rebus): Direbus dalam air garam mendidih sebentar, kemudian didinginkan. Hidangan ini adalah bentuk shirasu yang paling umum dijual.

c) Chirimen-jako (Shirasu Kering): Shirasu yang direbus lalu dikeringkan di bawah sinar matahari atau dengan mesin. Ini menjadi hidangan yang paling tahan lama dan sering digunakan di seluruh Jepang sebagai topping atau lauk.

Hidangan paling terkenal dengan shirasu, di antaranya adalah:

  • Shirasu-don: Semangkuk nasi putih panas ditutupi dengan tumpukan shirasu kama-age yang lembut dan sedikit asin, sering ditaburi dengan daun shiso (biji sesal), nori (rumput laut), dan sedikit kecap asin.
  • Shirasu Pizza/Pasta: Inovasi kuliner lokal di Shonan di mana shirasu menjadi topping pizza bergaya Jepang atau dicampur ke dalam pasta dengan mentega dan kecap asin.
  • Shirasu no Tamagoyaki: Telur dadar gulung Jepang yang dicampur dengan shirasu yang menciptakan perpaduan rasa gurih dan manis.

Untuk Sakura Ebi
Cara mengolahnya sebagai berikut:

a) Sakura Ebi no Kakiage: Udang sakura dicampur dengan sedikit wortel atau bawang bombay iris tipis, digoreng menjadi fritter renyah besar. Ini adalah keistimewaan di Shizuoka, sering disajikan di atas semangkuk soba atau udon panas.

b) Sakura Ebi-don: Mirip dengan shirasu-don tetapi dengan udang sakura yang biasanya digoreng renyah.

c) Sakura Ebi no Tenpura: Udang sakura utuh dicelupkan ke dalam adonan tempura ringan dan digoreng.

d) Sakura Ebi Chawanmushi: Puding telur gurih kukus yang di atasnya diberi sakura ebi.

4. Fakta Unik Shirasu dari Sejarah

Memancing Shirasu di Shonan memiliki sejarah yang panjang berasal dari akhir periode Edo (sekitar abad ke-19). Pada zaman itu, shirasu dikeringkan di bawah sinar matahari menjadi “tatami iwashi” atau tikar yang terbuat dari shirasu kering dan dijual sebagai oleh-oleh khas Enoshima. Pada periode Showa awal (1920-1930-an), shirasu asin bahkan digunakan sebagai umpan untuk memancing golden horse mackerel di Teluk Sagami dan Tokyo.

Baru pada tahun 1980-an dengan munculnya kaldron gas yang memungkinkan perebusan shirasu yang konsisten, industri shirasu modern berkembang. Pada tahun 1990-an, asosiasi nelayan Kanagawa mendirikan merek “Shonan Shirasu”, dan booming kuliner shirasu-don dimulai.

5. Manfaat Kesehatan

Shirasu dan sakura ebi adalah sumber nutrisi yang sangat baik:

  • Kalsium: Karena dimakan utuh (termasuk tulang atau cangkang), shirasu dan sakura ebi adalah sumber kalsium yang sangat baik, penting untuk kesehatan tulang dan gigi.
  • Zat Besi: Membantu mencegah anemia, terutama penting bagi wanita.
  • Magnesium: Mendukung fungsi otot dan saraf.
  • Protein berkualitas tinggi: Dengan semua asam amino esensial yang diperlukan tubuh.

Sakura ebi juga mengandung astaxanthin, antioksidan karotenoid kuat yang memberi warna merah muda pada udang terkenal akan manfaatnya bagi kesehatan kulit dan mata.

F. Hamaguri (蛤) atau Hard Clam

Hamaguri adalah kerang air asin berukuran besar dengan cangkang tebal yang memiliki pola radial yang indah. Dalam budaya Jepang, hamaguri melambangkan ikatan yang harmonis karena dua cangkang dari satu individu hanya dapat menutup sempurna dengan pasangannya sendiri.

Karena simbolisme ini, hamaguri menjadi elemen penting dalam upacara pernikahan Shinto dan perayaan Hinamatsuri (Festival Anak Perempuan) pada 3 Maret. Dalam perayaan ini, sup bening hamaguri (hamaguri no sumashijiru) disajikan sebagai doa agar anak perempuan tumbuh dengan hubungan yang harmonis di masa depan.

kerang hamaguri
Kerang Hamaguri
kurashiru.com

1. Musim dan Ciri Khas

Hamaguri mencapai puncak musim antara bulan Februari hingga April, tepat sebelum musim pemijahan mereka (Mei-Oktober). Pada periode ini, daging hamaguri paling montok, paling manis, dan paling kaya rasa. Kerang ini terutama dipanen di perairan dangkal di sepanjang pantai Jepang dengan Prefektur Mie (terutama daerah Kuwana) dan Prefektur Chiba terkenal akan hamaguri berkualitas tinggi.

Hamaguri berbeda dari kerang Asia (asari) yang lebih umum, hamaguri memiliki cangkang lebih tebal, daging lebih besar (berbentuk khas lonjong dengan tonjolan di sekitar “bibir”), dan rasa yang lebih manis dengan rasa laut yang lebih kompleks.

2. Profil Rasa

Daging hamaguri sangat lembut dan berair, dengan rasa manis yang kuat dan aroma laut yang khas. Saat dimasak sebentar terutama saat dikukus dengan sake atau dijadikan sup dan cairan alami di dalam cangkang keluar, menciptakan kaldu yang sangat gurih dan kaya umami.

3. Cara Menikmati

a) Hamaguri no Sakamushi (Kerang Dikukus Sake)
Metode paling sederhana dan paling elegan. Hamaguri diletakkan dalam panci dangkal dengan sedikit sake (anggur beras Jepang), ditutup, lalu dimasak dengan api besar hingga semua cangkang terbuka. Sake mengusir bau amis dan meningkatkan rasa manis alami kerang. Disajikan dengan sedikit garam dan irisan daun bawang. Ini dilakukan dalam beberapa menit, dan cairan yang tersisa di panci seperti campuran sake dan jus kerang yang alami adalah kaldu yang sangat berharga.

b) Hamaguri no Sumashijiru (Sup Bening Hamaguri)
Kaldu bening berbasis dashi dengan hamaguri rebus, daun mitsuba (peterseli Jepang), dan sedikit kulit yuzu (jeruk Jepang). Ini adalah tamu kehormatan Hinamatsuri dan pernikahan. Kuahnya sangat jernih, memungkinkan rasa halus binatang kerang terlihat.

c) Hamaguri no Yakimono (Hamaguri Panggang)
Kerang utuh dipanggang di atas api terbuka sampai cangkang terbuka, lalu disajikan dengan mentega atau kecap asin.

4. Manfaat Kesehatan

Hamaguri sangat bergizi terkandung di dalamnya ada:

  • Zat Besi Heme (Besi Heme): Bentuk zat besi paling mudah diserap oleh tubuh, sangat penting untuk mencegah dan mengobati anemia. Berbeda dengan zat besi non-heme dari sumber nabati, zat besi heme tidak terpengaruh oleh fitat atau tanin dalam makanan yang dapat menghambat penyerapan.
  • Vitamin B12: Sangat tinggi dalam kerang, penting untuk kesehatan sistem saraf, produksi sel darah merah, dan sintesis DNA.
  • Taurin: Asam amino yang membantu menurunkan kolesterol dan tekanan darah, serta mendukung fungsi jantung dan hati.
  • Protein: Sumber protein tanpa lemak berkualitas tinggi.

Karena taurin dan vitamin B12 larut dalam air, metode memasak seperti sup atau dikukus (di mana cairan masakan juga dikonsumsi) lebih disarankan daripada menggoreng atau merebus kemudian membuang airnya.

G. Karei (鰈) atau Righteye Flounder

Karei adalah sejenis ikan pipih (righteye flounder) yang mencapai puncak musim pada akhir Maret tepat saat bunga sakura bermekaran dan memberinya nama musiman yang indah yaitu “Hanami Karei” atau ikan Flounder yang menyaksikan bunga Sakura.

1. Musim dan Habitat

Ika karei ditangkap di perairan dingin di utara Jepang terutama di lepas pantai Hokkaido. Spesies karei hitam dari Hokkaido sangat dihargai di musim semi karena dagingnya yang menebal dan kandungan lemaknya yang sempurna. Selama musim dingin, ikan laut mengakumulasi lemak untuk bertahan, dan di awal musim semi, sebelum mereka menghabiskan energi untuk pemijahan, daging mereka berada pada puncak kualitas.

Varietas karei yang berbeda ditemukan di seluruh Jepang. Total ada lebih dari 40 spesies, tapi secara kolektif mereka dikenal sebagai ikan pipih “karei”.

ikan karei
Ikan Karei
delishkitchen.tv

2. Profil Rasa

Karei termasuk ikan daging putih dengan kandungan lemak lebih rendah dibandingkan sepupunya hirame (flounder lainnya), tapi memiliki rasa yang lebih ringan dan lebih halus dengan daging padat yang mempertahankan bentuknya saat dimasak. Karena kesederhanaan rasanya, ikan laut ini bagi koki mudah untuk menambahkan profil rasa, tapi ketika segar, dagingnya memiliki rasa manis alami yang tidak perlu banyak tambahan.

Karena rasa ringannya, karei menjadi favorit untuk sushi dan sashimi di musim semi. Dagingnya yang putih dan sedikit tembus pandang terlihat indah sebagai netta di atas nasi cuka.

3. Cara Menikmati

a) Karei no Nitsuke (Rebusan Karei)
Metode paling tradisional untuk ikan pipih. Seluruh karei termasuk kepala dan ekor direbus perlahan dalam kaldu dashi yang dicampur kecap asin, mirin, dan gula hingga kuah mengental dan mengkilap. Dagingnya yang padat menyerap bumbu dengan sempurna menciptakan hidangan yang manis, asin, dan gurih secara bersamaan.

b) Karei Sashimi
Untuk karei segar, fillet diiris tipis dan disajikan sebagai sashimi. Sering disajikan dengan ponzu (kecap asin yang dicampur jeruk) dan irisan daun bawang atau momiji oroshi (lobak merah parut).

c) Karei no Meunière
Gaya masak Barat yang populer di rumah-rumah dan restoran Jepang. Fillet karei dilapisi tepung terigu, digoreng dengan mentega hingga cokelat keemasan, lalu disajikan dengan perasan lemon. Ini adalah favorit di kalangan anak-anak dan mereka yang tidak menyukai rasa ikan laut yang “kuat”.

4. Perbedaan Karei vs. Hirame

Karei sering tertukar dengan hirame (flounder lainnya). Meskipun serupa, kedua ikan laut ini berbeda dalam susunan kerangka mulut dan sirip. Untuk pembeli kuliner, perbedaan utamanya adalah hirame memiliki kandungan lemak lebih tinggi dan daging lebih lembut, sementara karei lebih ramping dan padat. Kesegaran hirame sangat penting di saat segar nilainya sangat premium. Karei, meskipun kurang gemuk, memiliki rasa yang lebih konsisten dan lebih mudah didapat di seluruh Jepang.

5. Manfaat Kesehatan

Ikan pipih seperti karei adalah sumber protein tanpa lemak yang sangat baik. Kandungannya yang rendah lemak menjadikannya pilihan ideal bagi mereka yang memperhatikan asupan kalori tapi tetap ingin mendapatkan manfaat nutrisi dari ikan laut. Karei juga mengandung Vitamin D yang tinggi pada ikan berminyak yang penting untuk penyerapan kalsium dan selenium atau Mineral antioksidan yang mendukung fungsi tiroid dan sistem kekebalan tubuh.


Dengan semua kekayaan laut yang dimiliki musim semi, kedatangan ikan-ikan laut ini adalah pengingat bahwa alam menyediakan siklus yang sempurna. “Shun no gyokai” mengajarkan kita untuk menghargai apa yang diberikan alam pada waktu yang tepat, yaitu tidak perlu terburu-buru, tapi juga jangan sampai terlewat.

Saat bunga sakura berguguran di Jepang, di suatu restoran kecil dekat pelabuhan, sepiring katsuo no tataki atau semangkuk shirasu-don hangat sedang dinikmati. Di situlah rasa musim semi berada karena setiap gigitannya ibarat pelukan hangat dari lautan dingin yang menyambut hangatnya musim baru. Jangan lupa untuk mencobanya saat di Jepang ya.

Nah, cukup sekian yang bisa Pandai Kotoba berikan tentang serba-serbi hasil laut khas musim semi di Jepang yang kaya manfaat. Jika Minasan ingin tahu dengan kuliner Jepang lainnya, di website kami ini tersedia banyak infonya lho. Salah satunya ada ini nih: Sansai, Segarnya Sayuran Gunung di Jepang Khas Musim Semi. Klik untuk membacanya ya.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *