Rusa dalam Sejarah dan Budaya Jepang, Jadi Utusannya Sang Dewa!
Hai Minasan~! Di Negeri Sakura, harmoni antara manusia dan alam telah lama menjadi fondasi budaya yang kokoh. Salah satu simbol paling nyata dari hubungan sakral ini adalah rusa. Jauh sebelum menjadi daya tarik wisata yang ramah di kota Nara, rusa di Jepang telah menapaki jalan panjang sejarah, dihormati sebagai utusan dewa, dilindungi oleh undangang-undang kekaisaran, dan kini menjadi ikon budaya yang tak terpisahkan.
Pandai Kotoba pada artikel kali ini akan membahas mengenai perjalanan sang utusan dewa, mulai dari asal-usulnya, peran pentingnya dalam sejarah dan budaya, jenis-jenisnya, hingga bagaimana masyarakat Jepang memandang mereka dari masa ke masa. Yuk, kita simak di bawah ini.

pixnio.com
Rusa dalam Sejarah dan Budaya Jepang, Jadi Utusannya Sang Dewa!
A. Asal-Usul Rusa di Jepang
Rusa bukan hewan pendatang di Jepang. Mereka adalah fauna asli yang telah menghuni kepulauan Jepang sejak zaman prasejarah. Spesies rusa yang mendominasi adalah Rusa sika (Cervus nippon) atau dalam bahasa Jepang disebut nihonjika (日本鹿). Nama “sika” sendiri berasal dari kata “shika” (鹿), yang dalam bahasa Jepang berarti “rusa”. Keberadaan mereka telah tercatat dalam berbagai catatan kuno dan lukisan, membuktikan bahwa mereka adalah bagian dari lanskap alam Jepang sejak ribuan tahun lalu.
Populasi rusa sika tersebar di seluruh kepulauan Jepang, dari Hokkaido di utara hingga Kyushu di selatan, beradaptasi dengan berbagai habitat mulai dari hutan berdaun gugur di wilayah dingin hingga hutan campuran subtropis di wilayah hangat. Kemampuan adaptasi inilah yang memungkinkan mereka bertahan dan berkembang, bahkan di tengah perkembangan peradaban manusia.
B. Jenis-Jenis Rusa di Jepang
Meskipun Rusa sika (Cervus nippon) adalah spesies dominan dan paling dikenal, spesies ini memiliki beberapa subspesies yang tersebar di berbagai wilayah Jepang. Beberapa di antaranya adalah:
Dari semua subspesies, yang paling terkenal dan banyak dipelajari tentu saja adalah populasi Rusa sika di Nara yang dianggap suci. Rusa Hokkaido (yesoensis) dikenal karena ukuran tubuhnya yang lebih besar dan kemampuannya bertahan di musim dingin yang ekstrem, sementara Rusa Kerama (keramae) adalah subspesies langka yang hanya ditemukan di pulau-pulau kecil di Okinawa dan berstatus terancam punah.
C. Peranan Rusa dalam Sejarah dan Budaya Jepang
Untuk memahami bagaimana rusa bisa menjelma menjadi makhluk yang demikian istimewa di Jepang, kita perlu menelusuri perjalanan panjang mereka yang bukan hanya sebagai spesies, tapi sebagai entitas budaya yang hidup berdampingan dengan peradaban manusia selama lebih dari seribu tahun.
Peran rusa dalam sejarah dan budaya Jepang adalah narasi yang kaya, menarik, dan penuh dengan makna spiritual, hukum yang mengikat, serta transformasi identitas dari yang sakral menuju yang ikonik. Yuk, kita lanjut di bawah ini.
1. Legenda Kedatangan Dewa, Fondasi Sakral di Bukit Mikasa
Kisah sakral ini bermula pada tahun 768 Masehi, saat Kuil Agung Kasuga (Kasuga Taisha) didirikan oleh Klan Fujiwara yang saat itu mendominasi istana kekaisaran. Namun, sebelum batu pertama diletakkan, telah beredar legenda yang menjadi landasan spiritual bagi seluruh kawasan Nara.
Konon, Takemikazuchi No Mikoto, salah satu dewa pelindung Klan Fujiwara melakukan perjalanan dari Ibaraki menuju Nara. Yang membuat perjalanan ini abadi dalam ingatan kolektif masyarakat adalah caranya sang dewa datang menunggangi seekor rusa putih dan turun di puncak Gunung Mikasa.
Peristiwa mitologis ini yang menjadi titik balik fundamental dalam hubungan manusia-hewan di Jepang. Sejak saat itu, seluruh rusa yang hidup di hutan sekitar Gunung Mikasa dan Kuil Kasuga tidak lagi dipandang sebagai hewan biasa.
Mereka diangkat statusnya menjadi shinroku (神鹿) atau “rusa dewa”, utusan suci yang ditugaskan menjaga kota Nara dan menjadi perantara antara dunia manusia dengan alam para dewa. Dalam kepercayaan Shinto, ketika Kami diyakini bersemayam dalam segala aspek alam, tidak sulit bagi masyarakat untuk menerima bahwa hewan yang ditunggangi dewa sendiri pastilah memiliki esensi ketuhanan.
2. Hukum yang Mengikat, Perlindungan dengan Nyawa sebagai Taruhannya
Status sakral ini lebih dari menjadi cerita rakyat yang indah. Ia menjelma menjadi sistem hukum yang mengerikan bagi siapa saja yang berani melanggarnya. Pemerintah Kekaisaran Jepang yang saat itu sangat terintegrasi dengan institusi keagamaan Shinto dan Buddha mengeluarkan dekrit perlindungan bagi rusa-rusa suci ini. Hukumannya tidak main-main, hingga abad ke-17, siapa pun yang terbukti melukai atau membunuh rusa di wilayah suci Nara akan dijatuhi hukuman mati.
Bahkan, ketentuan ini tidak hanya berlaku bagi pelaku langsung. Dalam catatan sejarah mengungkapkan bahwa orang yang menemukan rusa mati dan tidak melaporkannya kepada otoritas juga dianggap telah melanggar hukum dan dapat dikenai hukuman yang sama beratnya. Ini menunjukkan betapa seriusnya masyarakat dan negara saat itu memandang perlindungan terhadap makhluk yang dianggap suci.
Konsekuensi dari hukum ini adalah terciptanya zona aman bagi populasi rusa di kawasan Nara. Selama berabad-abad, mereka berkembang biak tanpa ancaman perburuan, hidup dalam lanskap yang dilindungi di sekitar kuil-kuil dan hutan purba. Ada sebuah catatan dari tahun 1177 mengisahkan Kujo Kanezane, seorang bangsawan tinggi di istana yang sedang memeriksa sebuah kuil di Nara.
Ketika seekor rusa memasuki lorong di tengah kerumunan, Kanezane dilaporkan mendekatkan kedua tangannya dan membungkuk rendah pada hewan itu hingga ia menangis. Tindakan ini bukan ekspresi berlebihan, tapi cerminan dari keyakinan mendalam bahwa mereka sedang berhadapan dengan makhluk yang menyandang pesan dari alam dewa.
3. Sinkretisme dan Harmoni, Ketika Kuil dan Rusa Menjadi Satu
Perlindungan terhadap rusa juga tidak dapat dilepaskan dari lanskap keagamaan yang lebih luas di Nara. Kuil Kasuga Taisha sendiri memiliki hubungan erat dengan Kuil Kofukuji, sebuah kuil Buddha yang kuat. Pada masa itu, praktik keagamaan di Jepang dicirikan oleh sinkretisme Shinto-Buddha (shinbutsu shugo), ketika dewa-dewi Shinto dianggap sebagai manifestasi dari tokoh-tokoh suci Buddha .
Menariknya, empat dewa utama Kuil Kasuga yaitu Takemikazuchi, Ame no Koyane, Himegami, dan Futsunushi dianggap sejajar dengan tokoh-tokoh Buddha seperti Fukukensaku Kannon, Jizo, Juichimen Kannon, dan Yakushi Nyorai. Para biksu dari Kuil Kofukuji bahkan mengelola dan menjadi kepala kuil di Kasuga Taisha hingga Periode Meiji. Dalam ekosistem keagamaan yang demikian, rusa suci selain dilindungi oleh satu tradisi, tapi juga oleh dua aliran besar yang saling terkait dan memperkuat posisi mereka sebagai makhluk yang tak tersentuh.
Selain itu, kawasan di sekitar kuil khususnya Hutan Kuno Gunung Kasuga juga dilindungi secara ketat. Aktivitas berburu dan penebangan pohon telah dilarang di area ini selama lebih dari 1.100 tahun. Hasilnya, hutan ini tetap alami dengan pepohonan besar berdiameter 2 meter yang berusia ratusan tahun, serta menjadi habitat bagi lebih dari 800 spesies flora dan fauna. Perlindungan terhadap habitat ini secara tidak langsung turut menjaga kelestarian populasi rusa, menciptakan harmoni antara kuil, hutan, dan hewan suci yang telah berlangsung selama lebih dari satu milenium.
4. Transformasi di Era Modern, Dari yang Sakral Menjadi Harta Nasional
Memasuki era modern, status rusa di Nara mengalami pergeseran signifikan. Titik balik utama terjadi setelah Restorasi Meiji (1868), ketika pemerintah baru berupaya memisahkan Shinto dari Buddha (shinbutsu bunri) dan melakukan modernisasi besar-besaran di berbagai bidang. Meskipun demikian, perlindungan terhadap rusa tidak serta-merta dihapuskan.
Perubahan status yang paling menentukan terjadi setelah Perang Dunia II. Pemerintah Jepang secara resmi mencabut status sakral rusa, tapi sebagai gantinya mereka menetapkan populasi rusa di Taman Nara dan sekitarnya sebagai monumen alam (natural treasure) atau harta nasional (national treasure). Status baru ini memberikan kerangka perlindungan yang berbeda. Bukan lagi karena alasan spiritual, tapi karena nilai warisan budaya, sejarah, dan alam yang mereka wakili.
Penetapan sebagai monumen alam berarti bahwa rusa-rusa ini dilindungi oleh undang-undang konservasi modern. Pemerintah dan masyarakat bertanggung jawab untuk menjaga kelangsungan hidup mereka, bukan sebagai utusan dewa, tapi sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas kota Nara dan warisan nasional Jepang. Saat ini, lebih dari 1.200 ekor rusa berkeliaran bebas di Taman Nara dan kawasan sekitarnya dikelola oleh Yayasan Perlindungan Rusa Nara.
5. Warisan Genetik yang Terbukti, Membenarkan Legenda dengan Sains
Salah satu perkembangan paling menarik dalam beberapa tahun terakhir adalah bagaimana penelitian ilmiah modern justru mengonfirmasi validitas legenda kuno. Pada tahun 2023, sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Kaneko dan rekan-rekannya menerbitkan studi genetika revolusioner tentang populasi rusa di Nara.
Dengan membandingkan sampel genetik dari rusa yang dilindungi di dalam cagar alam Kuil Kasuga Taisha dengan populasi dari 30 lokasi berbeda, para peneliti menemukan fakta menakjubkan. Fakta tersebut adalah rusa yang berada di dalam cagar alam Kuil Kasuga Taisha memiliki garis keturunan genetik yang homogen dan murni yang dapat ditelusuri keberadaannya selama lebih dari seribu tahun. Dengan kata lain, kawanan rusa yang hidup di area paling suci di sekitar kuil saat ini adalah keturunan langsung dari populasi “rusa dewa” yang telah dilindungi sejak abad ke-8.
Sebaliknya, rusa yang berada di kawasan pengelolaan di luar cagar alam memiliki warisan genetik campuran, hasil persilangan dengan populasi rusa liar dari wilayah lain. Temuan ini memberikan legitimasi ilmiah terhadap keyakinan tradisional bahwa rusa di kawasan suci memang memiliki sejarah yang panjang dan berbeda dari populasi rusa biasa. Ahli genetika populasi hewan, Naoki Ohnishi menyebut penemuan ini sebagai “penemuan besar yang menjadi perbincangan di Jepang”.
Namun, temuan ini juga membawa dilema konservasi baru. Rusa keturunan campuran yang terus menghuni kawasan di sekitar Taman Nara berpotensi mengancam kemurnian genetik dari populasi di dalam cagar alam jika terjadi perkawinan silang. “Pertanyaannya sekarang adalah ‘apakah kita melanjutkan kebijakan pengelolaan yang telah ada selama lebih dari seribu tahun? Atau mengubah kebijakan ini untuk mengakhiri isolasi yang telah berlangsung selama lebih dari satu milenium?'” kata Kaneko.
6. Ikon Budaya yang Hidup
Saat ini, peran rusa dalam budaya Jepang telah bertransformasi menjadi ikon kota Nara yang mendunia. Mereka bebas berkeliaran di jalanan, taman, dan area kuil, berinteraksi dengan jutaan wisatawan yang datang setiap tahunnya. Tradisi memberi makan rusa dengan Shika Senbei atau kerupuk khusus untuk rusa) telah menjadi aktivitas wisata yang ikonik, dan rusa-rusa ini bahkan belajar membungkuk seperti orang Jepang memberi hormat untuk mendapatkan camilan.
Meskipun tidak lagi dianggap sakral oleh kebanyakan orang, penghormatan terhadap mereka tetap terpelihara. Masyarakat Nara bangga dengan warisan hidup mereka, dan rusa telah menjadi simbol yang memadukan unsur alam, agama, dan budaya dalam satu entitas yang hidup dan bernapas. Mereka adalah pengingat akan hubungan harmonis antara manusia dan alam yang telah dijaga selama lebih dari seribu tahun, serta menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban Jepang dari era mitologi hingga era globalisasi.
D. Posisi Rusa di Jepang, Dulu dan Kini
Seiring berjalannya waktu, posisi rusa di Jepang mengalami pergeseran, terutama setelah Restorasi Meiji (1868) ketika sistem kasta dan berbagai aturan kuno dihapuskan. Namun, status sakral mereka tidak serta-merta lenyap, melainkan bertransformasi. Berikut ini penjelasannya ya.
1. Masa Lalu: Ketika Rusa Hidup dalam Perlindungan Absolut
Untuk memahami posisi rusa saat ini, kita harus melihat kembali sejarah panjang perlindungan mereka. Sejak legenda kedatangan dewa Takemikazuchi di atas rusa putih pada tahun 768 M, rusa di kawasan Nara telah dianggap sebagai shinroku (神鹿) atau “rusa dewa” yaitu utusan suci yang mengawasi kota. Status sakral ini bukan hanya kepercayaan kosong, tapi ia menjelma menjadi hukum yang mengikat.
Hingga tahun 1637, membunuh rusa suci dapat dihukum mati, dan bahkan setelah hukuman mati dihapuskan, hanya sedikit orang yang berani mencoba. Kawasan suci di sekitar Kuil Kasuga Taisha menjadi zona lindung alami yang melindungi rusa dari perburuan selama berabad-abad. Akibatnya, populasi rusa di dalam kawasan suci ini terisolasi dari populasi lain di sekitarnya menciptakan garis keturunan genetik yang unik .
Di luar kawasan suci, nasib rusa berbeda. Mereka diburu dan di beberapa wilayah bahkan hampir punah. Namun di Nara, perlindungan terhadap rusa suci begitu kuat sehingga mereka berkembang biak dengan aman di bawah naungan kuil dan tradisi.
2. Masa Kini: Dua Wajah Rusa dalam Satu Kota
Memasuki era modern, posisi rusa di Jepang mengalami transformasi besar. Setelah Perang Dunia II, rusa di dalam kawasan suci Taman Nara ditetapkan sebagai monumen alam (natural treasure) oleh pemerintah Jepang. Penetapan ini memberikan kerangka perlindungan baru. Bukan lagi karena alasan spiritual semata, tapi karena nilai warisan budaya dan alam yang mereka wakili.
Namun, perlindungan ini membawa konsekuensi yang tak terduga. Selama 50 tahun terakhir, populasi rusa baik di dalam maupun di luar kawasan lindung telah meroket. Semakin banyak rusa yang mengambil tempat tinggal di seluruh Kota Nara dan lahan pertanian di sekitarnya. Saat ini, terdapat lebih dari 1.200 rusa yang hidup di Taman Nara dan jumlah ini terus bertambah .
Di luar kawasan suci, para petani telah lama menganggap rusa sebagai pengganggu (nuisance). Pada tahun 1977, kerusakan tanaman yang disebabkan rusa mencapai sekitar 10 juta yen ini menyebabkan para petani di kawasan tersebut menggugat Kuil Kasuga Taisha dan institusi lainnya pada tahun 1979. Kasus ini memicu perdebatan sengit yaitu “Apakah rusa memiliki pemilik?”. Warga mengklaim bahwa kuil memiliki rusa, tapi kuil membantah dengan mengatakan, “Kami melindungi mereka, tapi tidak memelihara mereka” .
Gugatan ini akhirnya diselesaikan enam tahun kemudian melalui mediasi. Yayasan Perlindungan Rusa Nara (Nara Deer Preservation Foundation) membayar uang penyelesaian. Sebagai hasilnya, pemerintah pusat pada tahun 1985 membagi Kota Nara menjadi dua zona berbeda :
- Kawasan Lindung (Cagar Alam): Meliputi area sekitar Kuil Kasuga Taisha di dalam Taman Nara. Di sini, rusa dilindungi sepenuhnya dan tidak boleh diganggu.
- Kawasan Pengelolaan: Meliputi area di luar cagar alam, termasuk lahan pertanian dan permukiman. Di kawasan ini, pemusnahan (culling) atau penangkapan rusa diperbolehkan dalam kondisi tertentu .
Pembagian wilayah ini menciptakan dualitas yang tegas, yaitu rusa suci di dalam cagar dan rusa liar yang berpotensi menjadi hama di luarnya. Namun, realitas di lapangan jauh lebih rumit. Rusa tidak mengenal batas administratif. Mereka bebas bergerak dan rusa yang muncul di dekat permukiman dan lahan pertanian “sangat dirasakan sebagai berasal dari Taman Nara” .
3. Dilema Pengelolaan: Antara Pariwisata dan Pertanian
Sejauh ini, pemusnahan rusa di kawasan pengelolaan belum pernah dilakukan. Kenapa? Jawabannya terletak pada ekonomi dan persepsi publik. Penduduk setempat khawatir bahwa pemusnahan akan membuat wisatawan menjauh dari Nara.
Rusa adalah daya tarik utama kota ini dengan jutaan wisatawan datang setiap tahunnya untuk memberi makan rusa dengan shika senbei (kerupuk khusus rusa) dan menyaksikan mereka membungkuk seperti orang Jepang memberi hormat.
“Ini adalah hewan yang dicintai meski menimbulkan masalah,” kata Shingo Kaneko, peneliti dari Universitas Fukushima. Pernyataan ini merangkum kerancuan yang dirasakan masyarakat Nara. Di satu sisi, mereka bangga dengan warisan budaya yang diwakili rusa. Di sisi lain, mereka harus menghadapi kerusakan tanaman yang terus berlanjut.
Penetapan rusa sebagai monumen alam bersama dengan anggapan bahwa mereka adalah rusa suci, kemungkinan besar berfungsi sebagai pencegah terhadap keputusan untuk memusnahkan mereka. Bahkan ketika pemerintah telah memberikan izin untuk pemusnahan di kawasan pengelolaan sejak tahun 1985, tekanan sosial dan budaya membuat kebijakan tersebut sulit diimplementasikan.
Sebagai perbandingan, studi di Kota Kyoto menunjukkan bahwa sikap publik terhadap rusa perkotaan cenderung negatif, tapi masyarakat lebih mendukung solusi non‑lethal seperti pemagaran (fencing) daripada kebijakan perburuan. Ini mengindikasikan bahwa resistensi terhadap pemusnahan mungkin bukan fenomena unik di Nara, tapi tren yang lebih luas di masyarakat Jepang.
4. Terobosan Ilmiah: Genetika Menentukan Kesakralan?
Pada tahun 2023 dan 2024, tim peneliti yang dipimpin Shingo Kaneko menerbitkan serangkaian studi yang mengubah paradigma perdebatan ini. Mereka membandingkan sampel genetik dari rusa di cagar alam Kuil Kasuga Taisha dengan populasi dari 30 lokasi berbeda di sekitar Nara.
Hasilnya mengejutkan. Para peneliti menentukan bahwa rusa di dalam cagar alam Kuil Kasuga Taisha memiliki warisan genetik yang homogen dan murni. Mereka mewakili garis keturunan yang telah ada selama lebih dari seribu tahun, kemungkinan besar merupakan keturunan langsung dari populasi “rusa dewa” asli yang dilindungi sejak abad ke-8.
Lalu, rusa di kawasan pengelolaan dan sekitarnya memiliki warisan genetik campuran, hasil persilangan antara populasi dari cagar alam dengan rusa liar dari wilayah lain di luar Nara. Dengan kata lain, penelitian ini mengonfirmasi bahwa isolasi populasi rusa suci selama lebih dari seribu tahun telah menghasilkan keunikan genetik yang tidak dimiliki oleh rusa di luar cagar alam .
Penemuan ini adalah “penemuan besar dan menjadi perbincangan di Jepang,” kata Naoki Ohnishi, ahli genetika populasi hewan di Pusat Penelitian Tohoku. Namun, temuan ini juga membawa implikasi praktis yang rumit. Rusa keturunan campuran yang terus menghuni kawasan di sekitar Taman Nara dapat mengancam ciri genetik unik dari populasi di dalam cagar alam jika terjadi perkawinan silang .
“Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita melanjutkan kebijakan pengelolaan yang telah ada selama lebih dari seribu tahun? Atau mengubah kebijakan ini untuk mengakhiri isolasi yang telah berlangsung selama lebih dari satu milenium?” kata Kaneko.
5. Pertanyaan Filosofis, Bisakah Genetika Menentukan Nilai Spiritual?
Penelitian ini memunculkan pertanyaan yang lebih dalam yaitu “dapatkah genetika menentukan nilai spiritual seekor hewan atau haknya atas perlindungan?”. Jika rusa di luar cagar alam terbukti bukan keturunan “murni” dari populasi suci, apakah mereka menjadi kurang layak dilindungi? Apakah pemusnahan menjadi lebih dapat diterima secara moral jika yang dibunuh adalah rusa “biasa” dan bukan keturunan “rusa dewa”?
Kaneko sendiri mengakui kompleksitas pertanyaan ini. “Sulit menjawab pertanyaan apakah ini lebih sakral. Namun, ada perbedaan besar dalam jangka waktu mereka tinggal di kawasan Taman Nara,” katanya. Ia menyarankan bahwa alih-alih dianggap suci atau tidak suci, akan lebih tepat jika rusa di cagar alam dianggap sebagai “aset budaya hidup” (living cultural assets).
Ohnishi setuju bahwa penelitian ini dapat mempunyai dampak nyata. “Jurnal ini akan memberikan kesempatan bagi warga Prefektur Nara dan warga kota Nara untuk mempertimbangkan kembali kebijakan pengelolaan rusa di wilayah tersebut” .
6. Konflik Nyata antara Kekerasan, Pelecehan, dan Realitas Hidup Berdampingan
Di balik perdebatan ilmiah dan kebijakan, terdapat realitas keras tentang hidup berdampingan dengan hewan liar. Yasuhiro Nakanishi, mantan kepala departemen pengelolaan Taman Nara di Pemerintah Prefektur Nara berbagi pengalamannya saat masih menjadi siswa di SMA Todaijigakuen yang terletak di dalam area Kuil Todaiji.
Suatu hari ia sedang minum air di lapangan baseball ketika seekor anak rusa mendekat. Karena naluri perlindungan, induk rusa berlari dan menjatuhkannya. “Mereka merusak tiga pasang kacamata pada masa siswa saya. Itu adalah kejadian biasa saat itu,” kenang Nakanishi. Ada juga orang-orang yang terluka parah akibat serangan rusa selama upacara pemotongan tanduk musim gugur.
Pada tahun 2010, seorang pria dijatuhi hukuman penjara 10 bulan karena membunuh rusa di Taman Nara, menunjukkan bahwa meskipun hukuman mati kuno telah dihapus, konsekuensi hukum bagi mereka yang menyakiti rusa masih ada.
Lebih mengkhawatirkan lagi, pada tahun 2023, fasilitas perlindungan Rokuen yang dibangun pada tahun 1929 untuk melindungi anak rusa dan induknya dicurigai melakukan pelecehan terhadap hewan. Ini menunjukkan bahwa bahkan di tempat yang seharusnya menjadi suaka, ketegangan antara manusia dan rusa tetap ada.
Nakanishi mengingatkan, “Mereka adalah hewan liar, bukan hewan peliharaan. Saya ingin orang-orang kembali ke pandangan fundamental itu” .
7. Dampak Pariwisata, Ketika Rusa Berubah Perilaku
Popularitas Taman Nara sebagai destinasi wisata juga membawa dampak pada perilaku rusa. Dari yang tadinya jinak, rusa di Taman Nara kini dapat menggigit wisatawan saat diberi makan. Pengelola Taman Nara memberi imbauan kepada wisatawan untuk tidak menahan makanan saat ingin diberikan ke rusa, tidak menggoda mereka, dan siapkan makanan segera diberikan jika dihampiri rusa yang membungkuk.
Peringatan keras juga datang dari temuan memilukan. Pada tahun 2019, 4,3 kilogram sampah ditemukan di dalam perut rusa yang mati di Taman Nara. Sampah tersebut terdiri dari plastik dan kertas yang diberikan oleh wisatawan yang tidak bertanggung jawab. Di area upacara pemotongan tanduk, kini terdapat pajangan berbentuk bola yang terbuat dari sampah yang diambil dari perut rusa dan jadi sebuah pengingat betapa berbahayanya membuang sampah sembarangan.
8. Solusi Tradisional, Upacara Pemotongan Tanduk
Salah satu cara masyarakat Nara mengelola hubungan mereka dengan rusa adalah melalui Shika no Tsunokiri atau Upacara Pemotongan Tanduk Rusa. Tradisi yang dimulai pada zaman Edo (1603-1868) ini diadakan setiap musim gugur, bertepatan dengan musim kawin rusa ketika pejantan menjadi agresif.
Selama upacara, sepuluh pria yang dikenal sebagai seko, memegang bendera merah dan salib bambu, menangkap rusa jantan. Tanduk mereka yang terdiri dari tulang matang yang secara alami telah melepaskan lapisan luarnya yang sensitif dipotong hati-hati dengan gergaji.
Tujuan upacara ini bukan untuk menyakiti, tapi untuk melindungi masyarakat dan rusa itu sendiri dari bahaya. Selama musim gugur, rusa jantan berkeliaran di jalanan dengan penuh kegembiraan dan agresi, dan tanduk mereka yang besar dapat merusak rumah, tempat suci, artefak bersejarah, serta melukai manusia dan rusa lain.
Setelah dipotong, tanduk tersebut dipersembahkan kepada para dewa di Kuil Kasuga dan rusa dikembalikan ke Taman Nara di mana mereka akan tetap dilindungi sebagai harta nasional dan menumbuhkan kembali tanduknya di musim semi.
Upacara ini adalah contoh luar biasa dari pendekatan Jepang dalam mengelola hubungan dengan satwa liar, yaitu menghormati tradisi dan status sakral rusa sambil tetap mengambil tindakan praktis untuk menjaga keselamatan bersama.
9. Mencari Harmoni untuk Abad Berikutnya
Lalu, bagaimana seharusnya abad berikutnya dari hubungan manusia-rusa di Nara berjalan? Nakanishi menawarkan perspektif yang bijaksana:
“Penting untuk menyadari bahwa rusa memiliki cara hidup mereka sendiri dan menjaga jarak tertentu dari mereka. Kita harus hidup dengan saling menghormati secara santai, tanpa menjadi terlalu akrab dengan mereka“.
Pandangan ini mencerminkan filosofi tradisional Jepang tentang harmoni dengan alam bukan dominasi atau pengabaian, tapi koeksistensi yang penuh rasa hormat dan kesadaran akan batas-batas alami.
Sementara itu, penelitian genetika terus berlanjut, dan masyarakat Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Apakah mereka akan mempertahankan kebijakan isolasi yang telah berlangsung selama seribu tahun untuk melindungi kemurnian genetik rusa suci? Atau membiarkan percampuran terjadi, dengan risiko kehilangan warisan genetik yang unik?.
“Informasi genetik ini kemungkinan besar akan memengaruhi opini masyarakat,” kata Kaneko . Dan pada akhirnya, opini masyarakat itulah yang akan menentukan masa depan hubungan antara manusia dan rusa di Jepang. Hubungan yang telah berlangsung selama lebih dari seribu tahun dan masih terus ditulis hingga hari ini.
E. Alasan Orang Jepang Suka dengan Rusa
Pertanyaan “Apakah orang Jepang suka dengan rusa?” mungkin terdengar sederhana, tapi jawabannya mengungkap lapisan kompleksitas budaya, dan sejarah yang telah terbentuk selama lebih dari seribu tahun.
Seperti halnya hubungan manusia dengan makhluk lain yang telah lama berdampingan, jawabannya bukan hanya “ya” atau “tidak”, tapi sebuah rangkaian emosi dan sikap yang kaya mulai dari pemujaan spiritual, kasih sayang yang tulus, kekhawatiran akan kerugian ekonomi, hingga kemarahan terhadap perilaku yang merusak.
Untuk memahami sepenuhnya bagaimana masyarakat Jepang memandang rusa, kita perlu menelusuri berbagai dimensi hubungan ini dari kecintaan yang terwujud dalam ritual dan interaksi sehari-hari hingga konflik yang muncul ketika hewan suci ini melanggar batas-batas kenyamanan manusia. Yuk, kita simak di bawah ini lagi.
1. Cinta yang Terwujud, Rusa sebagai Ikon dan Daya Tarik Wisata
Tidak dapat dipungkiri bahwa rusa khususnya populasi di Nara telah menjelma menjadi ikon budaya yang sangat dicintai. Hubungan ini tidak terjadi begitu saja, tapi dibangun di atas fondasi sejarah dan spiritual yang kokoh.
Di Kota Nara, rusa bukan hanya hewan liar yang kebetulan tinggal di sana. Mereka adalah maskot hidup yang gambarnya terpampang di mana-mana seperti dalam iklan pariwisata kota, di bus, tiket kereta api, dan berbagai suvenir.
Toko-toko dipenuhi dengan barang-barang bertema rusa, mulai dari boneka binatang hingga ikat kepala bertanduk rusa. Keberadaan mereka telah menyatu dengan identitas kota, sehingga sulit membayangkan Nara tanpa kawanan rusa yang berkeliaran di antara kuil-kuil kuno.
Selanjutnya, salah satu bukti paling menarik tentang kedekatan hubungan ini adalah perilaku unik rusa Nara yang membungkuk saat akan diberi makan. Perilaku ini yang dikenal sebagai ojigi bukan perilaku alami rusa di tempat lain. Penelitian dari Nara Women’s University mengungkapkan bahwa perilaku ini berkembang sebagai respons terhadap interaksi panjang dengan manusia .
Profesor Yoichi Yusa yang memimpin studi tersebut menjelaskan asal-usul perilaku ini. Dahulu kala, rusa di ibu kota Nara takut pada manusia, jadi mereka mungkin mulai membungkuk sebagai akibat dari stres. Namun, kota itu secara bertahap menjadi tempat wisata dan rusa belajar membungkuk kepada orang-orang untuk mendapatkan kerupuk beras Shika Senbei.
Yang lebih menarik lagi, penelitian yang sama menemukan bahwa lebih sedikit rusa yang membungkuk selama pandemi ketika Jepang ditutup untuk wisatawan internasional. Ini menunjukkan bahwa perilaku tersebut adalah respons yang dipelajari dan dipelihara melalui interaksi rutin dengan pengunjung. Fenomena ini unik di Nara dan belum ditemukan pada populasi rusa lainnya di dunia. Menjadi bukti bagaimana hubungan khusus telah membentuk perilaku hewan itu sendiri.
Ironisnya, kecintaan wisatawan terhadap rusa telah menciptakan dampak ekologis yang signifikan. Menurut sensus terbaru yang dilakukan Kota Nara, terdapat 313 rusa jantan, 798 rusa betina, dan 214 rusa muda di Taman Nara. Total 1.325 ekor dan meningkat 92 ekor dari tahun sebelumnya .
Nobuyuki Yamazaki dari Yayasan Pelestarian Rusa Nara menjelaskan korelasinya, “Peningkatan jumlah kerupuk rusa yang dimakan secara terus-menerus telah mengakibatkan reproduksi rusa yang lebih aktif. Ada juga lebih banyak wisatawan yang mengunjungi taman, dan rusa dapat memperoleh kerupuk dengan lebih mudah”.
Data pemerintah menunjukkan bahwa 9,3 juta orang mengunjungi Nara pada tahun 2022 dan sebagian besar dari mereka datang untuk berinteraksi dengan rusa, bukan hanya untuk melihat kuil-kuil bersejarah. Kecintaan ini yang diterjemahkan menjadi pemberian makanan dalam skala massal, secara tidak langsung telah meningkatkan tingkat reproduksi hewan-hewan tersebut.
Pusat dari interasi positif ini adalah Shika senbei. Shika senbei adalah kerupuk khusus rusa yang terbuat dari dedak padi dan gandum, aman untuk dikonsumsi rusa. Warung-warung di sekitar Taman Nara menjual kerupuk ini, dan ritual memberi makan sambil menyaksikan rusa membungkuk telah menjadi pengalaman wisata yang ikonik.
Yang menariknya, meskipun interaksi ini tampak sederhana, ia mencerminkan hubungan yang lebih dalam. Rusa di Nara telah belajar bahwa manusia adalah sumber makanan yang dapat diandalkan, dan manusia belajar bahwa mereka dapat berinteraksi dengan hewan ini tanpa rasa takut. Ini menjadikannya sebuah keseimbangan yang telah terjaga selama berabad-abad.
2. Cinta yang Bermasalah, Ketika Interaksi Berubah Menjadi Konflik
Namun, di balik citra harmonis ini, terdapat realitas yang lebih kompleks. Cinta dan kedekatan juga membawa konsekuensi yang tidak selalu positif.
Seiring bertambahnya jumlah rusa dan manusia, demikian pula jumlah masalah. Yamazaki mengakui bahwa “dalam beberapa tahun terakhir, kami telah melihat peningkatan kecelakaan dengan orang-orang yang didorong atau digigit rusa”. Beberapa rusa menjadi terlalu terbiasa dengan keberadaan manusia dan terlalu bersemangat untuk merebut kerupuk dari tangan wisatawan.
Yasuhiro Nakanishi, mantan kepala departemen pengelolaan Taman Nara di Pemerintah Prefektur Nara, berbagi pengalaman pribadinya. Saat masih menjadi siswa di SMA Todaijigakuen yang terletak di dalam area Kuil Todaiji, ia pernah dijatuhkan oleh induk rusa yang melindungi anaknya. “Mereka merusak tiga pasang kacamata pada masa siswa saya. Itu adalah kejadian biasa saat itu”, kenang Nakanishi. Bahkan selama upacara pemotongan tanduk musim gugur, ada orang-orang yang terluka parah akibat serangan rusa yang ketakutan atau agresif .
Peringatan Nakanishi sangat penting: “Mereka adalah hewan liar, bukan hewan peliharaan. Saya ingin orang-orang kembali ke pandangan fundamental itu”. Pernyataan ini menggarisbawahi ironi dalam hubungan manusia-rusa di Nara yaitu semakin dekat interaksi, semakin besar potensi konflik.
Sayangnya, tidak semua interaksi bersifat positif. Pada Juli 2024, sebuah video viral memperlihatkan seorang pria muda menendang dan menampar rusa di Taman Nara . Dalam video tersebut, pria itu terlihat menendang seekor rusa dengan keras hingga menghasilkan suara benturan, dan kemudian menampar wajah rusa lain yang menatapnya. Ia bahkan mengucapkan kata-kata dalam bahasa Jepang seperti “Jama!” (kamu menghalangi jalanku!) dan “Doke!” (minggir!) saat memukul rusa.
Insiden ini memicu kemarahan publik dan identitas pelaku menjadi perdebatan sengit di media sosial. Beberapa warganet mengklaim pelaku adalah turis Cina berdasarkan penampilan, sementara yang lain menunjukkan bukti bahwa pria itu mengenakan kaus dari perusahaan pakaian berbasis di Tokyo dan berbicara dalam bahasa Jepang yang mengindikasikan bahwa ia mungkin penduduk lokal.
Yang terpenting, insiden ini mengingatkan bahwa menyerang rusa di Taman Nara selain pelanggaran etika, tapi juga kejahatan. Rusa di Taman Nara secara resmi ditetapkan sebagai monumen alam oleh pemerintah Jepang karena signifikansi budayanya dan melukai mereka dapat dihukum hingga lima tahun penjara. Meskipun ini sebenarnya merupakan pengurangan hukuman dari era samurai, ketika melukai rusa dapat dihukum mati.
Kemudian, pada tahun 2023, skandal lain mencuat ketika fasilitas perlindungan Rokuen yang dibangun pada tahun 1929 untuk melindungi anak rusa dan induknya dicurigai melakukan pelecehan terhadap hewan. Ironi yang menyakitkan. Tempat yang seharusnya menjadi suaka bagi rusa yang rentan justru menjadi lokasi kekerasan.
Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa bahkan di masyarakat dengan tradisi penghormatan terhadap rusa selama berabad-abad, masih ada individu yang gagal memahami atau menghormati hubungan khusus ini.
Selain itu, bentuk “ketidaksukaan” lainnya yang lebih tidak disadari tapi sama mematikannya adalah pemberian makanan yang tidak tepat. Pada tahun 2019, 4,3 kilogram sampah ditemukan di dalam perut rusa yang mati di Taman Nara.
Sampah tersebut terdiri dari plastik dan kertas yang diberikan oleh wisatawan yang tidak bertanggung jawab. Sebagai pengingat keras, di area upacara pemotongan tanduk kini terdapat pajangan berbentuk bola yang terbuat dari sampah yang diambil dari perut rusa. Ini menjadi peringatan visual yang menyayat hati tentang konsekuensi dari “cinta” yang tidak bertanggung jawab.
3. Serangkaian Sikap, Studi Kasus dari Kyoto
Untuk memahami sikap masyarakat Jepang terhadap rusa secara lebih luas, kita perlu melihat di luar Nara. Sebuah studi komprehensif yang dilakukan di Kota Kyoto pada tahun 2022 memberikan wawasan berharga tentang bagaimana penduduk perkotaan memandang rusa liar dan pengelolaannya.
Studi yang melibatkan 542 responden di wilayah perkotaan Kyoto ini menemukan bahwa mayoritas penduduk memiliki sikap positif atau netral terhadap konsumsi daging rusa (venison). Sebanyak 187 responden (sekitar 34,5%) menyatakan sikap “sangat positif”, 161 responden (29,7%) menyatakan “positif”, dan 157 responden (29%) bersikap netral. Hanya 59 responden (10,8%) yang menyatakan sikap negatif .
Data ini menunjukkan bahwa meskipun rusa memiliki status khusus dalam budaya Jepang, masyarakat perkotaan cukup pragmatis dalam memandang mereka sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan terutama mengingat populasi rusa yang meledak dan menyebabkan kerusakan ekologis.
Penelitian ini juga mengungkapkan perbedaan gender yang signifikan. Pria cenderung memiliki sikap lebih positif terhadap konsumsi daging rusa dibandingkan wanita. Lebih menariknya lagi, analisis menunjukkan bahwa persepsi tentang rusa sangat memengaruhi sikap terhadap konsumsi dagingnya. Responden yang memandang rusa sebagai “suci” (holy) atau “imut” (cute) cenderung memiliki sikap negatif terhadap konsumsi daging rusa.
Sebaliknya, mereka yang mendukung kebijakan perburuan menunjukkan kesediaan yang lebih besar untuk mengonsumsi daging rusa. Ini menunjukkan adanya polarisasi dalam masyarakat, yaitu satu kelompok memandang rusa terutama melalui lensa emosional dan spiritual, sementara kelompok lain memandang mereka melalui lensa pragmatis dan ekologis.
Kemudian, studi yang sama juga mengidentifikasi hambatan utama dalam penerimaan daging rusa: kekhawatiran tentang keamanan pangan, termasuk parasit dan penyakit zoonosis. Analisis sentimen menunjukkan kerancuan dalam kelompok netral dan polarisasi dalam kelompok yang memiliki pendapat kuat.
Di Kyoto, meskipun terdapat 226 restoran yang direkomendasikan Michelin Guide dan ribuan tempat makan lainnya pada tahun 2024, hanya 22 restoran yang menyajikan daging rusa. Daging rusa yang disajikan pun bukan berasal dari pemburu lokal, melainkan dari pabrik pengolahan daging . Ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pasokan dan konsumsi daging rusa di perkotaan.
Selain itu, studi terpisah tentang sikap publik terhadap rusa perkotaan di Kyoto mengungkapkan bahwa masyarakat cenderung lebih mendukung solusi non‑lethal seperti pemagaran (fencing) daripada kebijakan perburuan . Ini mengkonfirmasi bahwa meskipun masyarakat pragmatis, mereka tetap memiliki preferensi terhadap metode pengelolaan yang tidak melibatkan pembunuhan langsung.
Resistensi terhadap perburuan kemungkinan besar dipengaruhi oleh status historis rusa sebagai hewan yang dihormati, serta kekhawatiran etis tentang metode pengelolaan satwa liar. Ini adalah contoh sempurna dari ambivalensi yang mewarnai hubungan manusia-rusa di Jepang.
4. Refleksi Sejarah antara Pemujaan dan Konsumsi Paksa
Untuk memahami kompleksitas sikap saat ini, kita perlu melihat bagaimana hubungan ini telah berubah sepanjang sejarah nih. Selama berabad-abad, rusa di Nara dilindungi secara ketat sebagai utusan dewa. Hukuman mati bagi mereka yang melukai rusa menciptakan zona aman yang memungkinkan populasi ini berkembang biak tanpa gangguan. Masyarakat setempat bertindak sebagai pelindung alami didorong oleh keyakinan spiritual yang mengakar.
Namun, sejarah juga mencatat periode kelam ketika rusa yang dihormati ini terpaksa dibunuh untuk makanan. Pada awal era Meiji (1868-1912), setelah gerakan anti-Buddha bernama Haibutsu Kishaku melemahkan kekuasaan Kuil Kofukuji dan dengan masuknya budaya makan daging, 40 ekor rusa dilaporkan ditangkap untuk dimakan. Warga yang marah kemudian mendirikan kelompok perlindungan bernama Shinroku Hogokai (kelompok perlindungan rusa suci), dan populasi rusa pulih kembali .
Yang lebih dramatis terjadi selama Perang Dunia II. Ketika persediaan makanan menipis akibat memburuknya situasi perang, rusa kembali diburu dan dimakan karena kebutuhan. Pada satu titik, jumlah mereka menyusut hingga hanya 79 ekor. Nakanishi mencatat bahwa “tidak seperti di era Meiji, orang mungkin tidak punya pilihan selain memakannya bahkan jika mereka tidak menginginkannya” .
Sejarah ini menunjukkan bahwa bahkan penghormatan spiritual yang paling dalam pun dapat terkikis oleh tekanan ekonomi dan kelangsungan hidup. Ini menjadi pengingat bahwa hubungan manusia-hewan selalu dinegosiasikan dalam konteks yang lebih luas.
Setelah perang selesai, status rusa terus berevolusi. Pada tahun 1957, mereka ditetapkan sebagai Monumen Alam Nasional dan pada tahun 1965 jumlah mereka pulih menjadi sekitar 900 ekor. Namun, kebangkitan ini juga membawa konflik baru terutama dengan petani yang tanamannya rusak oleh rusa yang mencari makan.
Pada tahun 1977, kerusakan tanaman mencapai sekitar 10 juta yen ini menyebabkan petani di kawasan tersebut menggugat Kuil Kasuga Taisha dan institusi lainnya pada tahun 1979. Apakah rusa memiliki pemilik menjadi poin perdebatan. Warga mengklaim kuil memiliki rusa, tapi kuil membantah dengan mengatakan, “Kami melindungi mereka, tapi tidak memelihara mereka”.
Kasus ini diselesaikan enam tahun kemudian melalui mediasi dengan Yayasan Perlindungan Rusa Nara membayar uang penyelesaian. Hasil penting dari kasus ini adalah penetapan zona terpisah yaitu kawasan lindung di mana rusa dilindungi dan kawasan pengelolaan di saat mereka dapat ditangkap atau diburu dalam kondisi tertentu. Solusi kompromi ini mencerminkan upaya untuk menyeimbangkan perlindungan warisan budaya dengan realitas ekonomi.
Dari kedatangan dewa di atas punggung rusa putih di era mitologi hingga menjadi subjek penelitian genetika dan pengelolaan konservasi modern, perjalanan rusa di Jepang adalah cerminan unik dari hubungan manusia dan alam.
Mereka adalah utusan dewa yang turun ke bumi, menjelma menjadi harta nasional yang harus dijaga dan kini berperan sebagai ikon budaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Melalui ritual, hukum, dan interaksi sehari-hari, masyarakat Jepang menunjukkan bahwa menghormati alam berarti juga menghormati sejarah dan diri mereka sendiri. Di taman Nara yang tenang, di bawah naungan kuil kuno, rusa-rusa itu terus hidup menjadi saksi bisu dan peserta aktif dalam harmoni abadi antara manusia, dewa, dan alam.
Nah, cukup sekian yang bisa Pandai Kotoba berikan mengenai rusa dalam sejarah dan budaya Jepang yang jadi utusannya sang dewa. Jika Minasan ingin tahu dengan sejarah dan budaya Jepang lainnya, di website ini tersedia banyak informasinya lho, Salah satunya ini nih: Beruang dalam Sejarah dan Budaya Jepang, Sang Dewa Hutan dan Simbol Konservasi Modern. Klik untuk membacanya ya.
Sampai jumpa di artikel selanjutnya!


