Hanabi, Meriahnya Kembang Api dalam Budaya dan Sejarah Orang Jepang!
Hai Minasan~! Musim panas di Jepang memiliki keunikan tersendiri. Keunikan ini bukan dilihat dari hiruk pikuknya kota atau keindahan alam, tapi lebih dari itu yang meriahnya cahaya dan suara yang membelah langit malam. Cahaya ini adalah hanabi (花火) atau “kembang api” dalam bahasa Jepang yang secara harfiah berarti “kembang api”.
Selain menjadi pertunjukan visual, hanabi adalah jantung budaya musim panas dan sebuah tradisi yang mengakar dalam sejarah, seni, dan jiwa masyarakat Jepang. Pandai Kotoba pada artikel kali ini akan membahas mengenai dunia hanabi atau kembang api di Jepang, mulai dari menelusuri asal-usulnya, memahami esensinya, sampai merasakan bagaimana festival kembang api atau hanabi taikai menjadi puncak perayaan musim panas di Negeri Sakura ini. Penasaran? Yuk, kita simak di bawah ini.

commons.wikimedia.org
Hanabi, Meriahnya Kembang Api dalam Budaya dan Sejarah Orang Jepang!
A. Hakikat dari Kembang Api di Jepang
Kembang api atau bahasa Jepangnya Hanabi 花火) adalah sebuah seni yang mengakar dalam filosofi dan keahlian turun-temurun. Untuk memahami hakikatnya, kita perlu melihat dari bentuk, teknik, hingga makna yang terkandung di dalamnya lho. Yuk, kita lanjut di bawah ini.
1. Berbentuk Sempurna, Mengapa Kembang Api Jepang Berbentuk Bola?
Perbedaan paling mendasar antara kembang api Jepang dan kembang api di banyak negara lain terletak pada wadahnya. Di luar Jepang, bubuk mesiu umumnya dimasukkan ke dalam wadah berbentuk silinder, sehingga ketika meledak, kembang api cenderung menyembur seperti air mancur dalam satu arah.
Sementara itu, kembang api Jepang yang otentik dibuat dengan wadah berbentuk bola. Bentuk bola ini bukan kebetulan, tapi hasil dari teknik penataan mesiu yang sangat teliti. Ketika cangkang bola ini pecah di angkasa, “bintang-bintang” (hoshi) api di dalamnya tersebar secara merata ke segala arah membentuk sebuah bola api raksasa yang sempurna .
2. Jenis-Jenis Hanabi
Para ahli kembang api atau disebut hanabishi di Jepang telah mengembangkan berbagai klasifikasi kembang api berdasarkan konstruksi dan efeknya. Secara garis besar, ada empat jenis utama yaitu di antaranya:
a) Warimono: Ciri Khas Kembang Api Jepang
Warimono adalah jenis kembang api paling klasik dan ikonik di Jepang. Saat cangkangnya pecah, bintang-bintang di dalamnya tersebar membentuk bola sempurna. Dari jenis ini, lahir dua pola yang paling terkenal yaitu:
- Krisan (Kiku): Menampilkan semburan cahaya panjang yang menyebar dari pusat mempertahankan bentuk bola seperti kelopak bunga krisan .
- Peony (Botan): Semburannya lebih pendek dan lurus, tanpa jejak panjang dengan inti yang terang di bagian tengah. Biasanya terdiri dari dua atau tiga lapisan warna. Para pembuat kembang api juga menyempurnakan jenis ini dengan lapisan bintang ganda atau tiga lapis menciptakan efek “kelopak” dan “putik” yang lebih kaya .

city.daisen.lg.jp
Kedua jenis kembang api ini mendapatkan nama dari bunga yang sangat dihormati di budaya Asia Timur seperti krisan adalah simbol kekaisaran, sementara peony dijuluki “Raja Bunga”.
b) Han Warimono: Semi-Bola dan Inovasi Warna
Jenis ini merupakan variasi dari Warimono dengan efek yang lebih kompleks. Salah satu contohnya adalah “Seribu Krisan” di saat setelah cangkang pecah, ada jeda sesaat sebelum puluhan kembang api krisan berwarna-warni mekar serentak memenuhi langit. Jenis ini pertama kali muncul pada era Taisho (awal abad ke-20).
c) Katamono: Seni Membentuk Gambar
Katamono adalah jenis kembang api yang dirancang untuk membentuk huruf, angka, atau berbagai pola di langit malam. Di masa lalu, teknik ini hanya bisa membuat bentuk sederhana, tapi sejak zaman Meiji, teknologi telah berkembang pesat sehingga kini dapat menciptakan bentuk yang rumit termasuk hati atau karakter tertentu .
d) Shikake Hanabi: Pertunjukan di Atas Air dan Karya Struktural
Jenis ini mencakup pertunjukan kembang api yang menggunakan struktur atau efek khusus. Contohnya adalah “Niagara” berupa tabung-tabung kecil berisi bintang api digantung pada kawat dan dinyalakan bersamaan menyerupai air terjun. Ada pula “Kembang Api Air” yang diluncurkan dari atas permukaan air dan menciptakan efek bunga kipas yang mekar di atas danau atau sungai .
3. Teknik Unik, Kamuro dan Warna yang Berubah
Selain bentuk, ada teknik khas lain yang membedakan hanabi Jepang, seperti Kamuro (atau Kaburo). Ini adalah jenis kembang api yang ketika meledak, “bintang-bintang” apinya tidak langsung padam, tapi terbakar perlahan dan menghasilkan garis-garis cahaya keemasan yang jatuh dengan lambat ke tanah. Efek ini sering digunakan sebagai penutup pertunjukan karena menciptakan pemandangan ikonik dan penuh emosi .
4. Filosofi di Balik Keindahan Hanabi
Di balik keindahan teknisnya, hanabi mengandung filosofi mendalam yang sejalan dengan pandangan estetika Jepang tentang ketidakkekalan (mujou). Masyarakat Jepang memandang kembang api seperti mereka memandang bunga sakura di musim semi: keindahan yang bersifat sementara, sebuah momen yang harus dinikmati sepenuh hati sebelum ia menghilang. Dalam studi akademis menyebutkan bahwa hanabi mengingatkan kita pada transiensi (sifat sementara), kesederhanaan, dan pentingnya keharmonisan sosial .
Lebih dari hanya ledakan meriah biasa, setiap kembang api adalah hasil dari kalkulasi presisi dan jiwa seni sang pembuat. Keindahannya yang singkat justru menjadi daya tarik utamanya mengajak penonton untuk hadir di momen itu dan merasakan “keindahan yang dapat dinikmati secara sederhana”.
B. Jejak Sejarah Kembang Api di Jepang
Perjalanan hanabi atau kembang api di Jepang adalah kisah panjang yang dimulai lebih dari empat abad lalu. Sejarah ini diwarnai oleh pengaruh asing, bencana alam yang memilukan, persaingan bisnis yang sengit, hingga semangat masyarakat yang tak pernah padam. Untuk dapat memahami mengapa kembang api begitu identik dengan musim panas Jepang, kita perlu menelusuri langkah demi langkah perjalanannya. Yuk, kita lanjut di bawah ini.
1. Awal Mula dari Cina ke Dunia, lalu ke Jepang
Sejarah kembang api dimulai bukan dari upaya menciptakan hiburan, tapi dari sebuah kegagalan. Pada masa Dinasti Tang (618-907 M), para alkemis Cina kuno sedang berusaha menemukan ramuan keabadian berupa obat yang bisa membuat manusia hidup selamanya. Namun, ketika mereka mencampurkan kalium nitrat, sulfur, dan arang, hasilnya bukan ramuan ajaib, tapi bubuk hitam yang meledak .
Catatan Tiongkok dari tahun 850-an menyebutkan bahwa ledakan ini menghasilkan cahaya, suara, asap, dan percikan api sampai membakar tangan, wajah, serta rumah para alkemis yang melakukan uji coba. Meskipun gagal sebagai ramuan hidup abadi, “bubuk mesiu” ini kemudian menjadi fondasi bagi dua jalur perkembangan yaitu senjata api dan kembang api.
Sebelum digunakan sebagai alat perang, masyarakat Cina kuno meyakini bahwa suara ledakan bisa mengusir roh jahat . Karena itu, bubuk mesiu dengan daya ledak rendah mulai digunakan dalam perayaan, mulai dari pernikahan hingga ritual keagamaan. Demi keamanan, mesiu dibungkus dalam tunas bambu dan dilempar ke api. Inilah yang dianggap sebagai bentuk awal kembang api. Seiring waktu, bambu digantikan dengan tabung kertas dan sumbu berbahan tisu dan lahirlah petasan seperti yang kita kenal.

benesse.jp
Lalu, pengetahuan tentang mesiu perlahan-lahan menyebar ke luar Cina. Marco Polo, seorang penjelajah Italia membawa pengetahuan tentang mesiu dari Cina ke Eropa pada akhir abad ke-13 sekitar tahun 1295. Dari Eropa, teknologi ini menyebar ke berbagai belahan dunia. Meskipun mesiu mulai dimanfaatkan secara luas untuk persenjataan, kembang api tetap bertahan sebagai bagian dari perayaan, salah satunya tercatat pada pernikahan Raja Henry VII dari Inggris pada tahun 1486.
Bagaimana kembang api sampai ke Jepang? Pertanyaan ini memiliki beberapa jawaban. Ada catatan yang menunjukkan bahwa berbagai bentuk kembang api telah diamati di Jepang sejak tahun 1558 dan istilah “hanabi” pertama kali digunakan pada tahun 1585. Namun, versi yang paling banyak disetujui oleh para ahli merujuk pada sebuah peristiwa penting pada bulan Agustus 1613.
Pada tahun itu, Tokugawa Ieyasu, pendiri Keshogunan Edo yang akan memerintah Jepang selama lebih dari 250 tahun menerima hadiah berupa kembang api. Hadiah ini datang dari dua sumber yaitu seorang utusan dari Raja James I dari Inggris yang diwakili oleh John Saris dan seorang pedagang Cina. Ieyasu sangat terkesan dengan hadiah tersebut dan ketertarikannya ini yang menjadi titik awal budaya kembang api di Jepang.
Namun, pada masa awal ini, hanabi masih merupakan hiburan eksklusif bagi kalangan bangsawan (daimyo) dan saudagar kaya. Mereka akan memesan pertunjukan kembang api secara langsung dari para pembuatnya dan menikmatinya dari atas perahu mereka di sungai.
2. Lahirnya Festival untuk Rakyat, Tragedi dan Kelahiran Tradisi
Titik balik yang mengubah hanabi dari hiburan kaum elit menjadi tradisi bagi seluruh rakyat Jepang terjadi pada tahun 1733. Tahun 1732 menjadi salah satu tahun tergelap dalam sejarah Jepang. Bencana yang dikenal sebagai Kelaparan Kyoho melanda, dinamai sesuai dengan era pemerintahan Keshogunan Edo saat itu (1716–1736).
Meskipun beberapa sumber menyebutkan angka korban jiwa yang sangat besar hingga hampir satu juta orang dan catatan sejarah yang lebih kredibel menunjukkan skala yang lebih spesifik. Bencana ini terutama menerjang pulau Kyushu, bagian barat Jepang. Pemicunya adalah serangkaian cuaca buruk. Hujan deras yang dimulai pada Desember 1731 merusak tanaman gandum dan jelai musim dingin.
Kondisi ini diperparah dengan cuaca dingin dan lembap yang berkepanjangan dari Mei hingga Juni 1732 menciptakan lingkungan sempurna bagi hama wereng untuk berkembang biak dan menyerang sawah-sawah di wilayah Chugoku, Shikoku, dan Kyushu. Akibatnya, diperkirakan hanya sekitar 10 persen lahan pertanian yang selamat dari serangan hama dan total panen padi Jepang tahun 1732 hanya mencapai 27 persen dari rata-rata normal. Harga beras pun melonjak hingga 5 sampai 7 kali lipat dari nilai normalnya .
Dampaknya sangat mengerikan. Di wilayah Fukuoka saja diperkirakan 20 persen populasi atau sekitar 66.000 orang dari 320.000 jiwa meninggal. Di beberapa desa nelayan yang sangat bergantung pada uang tunai untuk membeli makanan, angka kematian mencapai sepertiga dari populasi. Sumber resmi mencatat sekitar 12.172 kematian, tapi angka sebenarnya diperkirakan mencapai 169.000 jiwa.
Rakyat jelata yang miskin dan kelaparan menjadi korban paling rentan. Pada perayaan Tahun Baru tahun 1733, kemarahan masyarakat meledak. Sekitar 1.700 petani yang marah karena desas-desus penimbunan makanan menyerbu rumah seorang pedagang kaya, Takama Denbii dan melemparkan barang-barang serta karung berasnya ke sungai menjadi peristiwa yang tercatat sebagai aksi mogok pertama dalam sejarah Jepang.
Untuk menghibur publik yang dilanda duka, menenangkan roh-roh orang yang meninggal, dan mengusir wabah penyakit, Shogun Tokugawa Yoshimune, penguasa kedelapan Keshogunan Edo mengambil langkah berani. Pada tanggal 9 Juli 1733, ia mengadakan sebuah festival di tepi Sungai Sumida yang disebut Ryogoku Kawabiraki (Pembukaan Sungai Ryogoku). Ini adalah festival kembang api publik pertama yang tercatat dalam sejarah Jepang.
Acara ini ternyata disambut dengan antusiasme luar biasa oleh masyarakat. Meskipun hanya 20 kembang api yang diluncurkan, festival ini dengan cepat mengukuhkan diri sebagai tradisi musim panas yang dinanti-nantikan. Sejak saat itulah, festival kembang api di Sungai Sumida menjadi acara tahunan yang rutin diselenggarakan, dan secara bertahap popularitasnya menyebar ke berbagai daerah di seluruh Jepang. Festival ini juga menjadi titik awal kompetisi antar pengrajin kembang api yang pada akhirnya melahirkan rivalitas abadi antara Kagiya dan Tamaya.
3. Era Keemasan, Persaingan Sengit Kagiya dan Tamaya
Kemeriahan festival kembang api di Edo (nama lama kota Tokyo) mencapai puncaknya pada awal abad ke-19, berkat persaingan sengit antara dua produsen kembang api raksasa, yaitu Kagiya dan Tamaya.
Kagiya yang didirikan oleh Yahei pada tahun 1659 adalah peluncur kembang api resmi untuk festival Ryogoku sejak awal. Mereka adalah keluarga yang sudah mapan dan memiliki reputasi kuat. Sedangkan, Tamaya didirikan oleh Ichibei Tamaya (atau Seikichi Tamaya) pada tahun 1810 adalah cabang dari keluarga Kagiya.

mag.japaaan.com
Mulailah era kompetisi tahunan. Kagiya dan Tamaya bergiliran meluncurkan kembang api dari dua lokasi berbeda di tepi Sungai Sumida. Kagiya di bagian hilir (shita) dan Tamaya di bagian hulu (kami) dari Jembatan Ryogoku. Masyarakat Edo yang bertindak sebagai juri akan berteriak lantang nama pembuat kembang api favorit mereka seperti “Ta-ma-ya!” atau “Ka-gi-ya!” setiap kali melihat ledakan yang spektakuler.
Persaingan ini dengan cepat berubah menjadi fenomena budaya. Para penonton begitu antusias dan pada puncak kejayaannya, Tamaya bahkan dikabarkan lebih populer. Ada sebuah puisi senryu yang menggambarkan kekesalan Kagiya yang berbunyi berikut:
Tamaya da to mata mata nukasu wa to Kagiya ihi
(Kagiya berkata, “Tamaya dan lagi-lagi hanya Tamaya“)
Tradisi berteriak ini bertahan hingga hari ini. Setiap kali kembang api yang indah meledak di langit malam, Minasan akan mendengar penonton bersorak “Tamaya!” atau “Kagiya!” sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan pada sejarah panjang mereka.
4. Akhir dari Era Tamaya Terjadi Kebakaran Besar 1843 dan Hukuman Pengusiran
Pada puncak persaingan sengit antara Kagiya dan Tamaya adalah sebuah tragedi terjadi. Pada tahun 1843, terjadi kecelakaan kebakaran besar melanda pabrik kembang api Tamaya. Api yang berkobar hebat itu tidak hanya menghanguskan pabrik mereka sendiri, tapi juga menghancurkan sebagian besar wilayah kota Edo (sekarang Tokyo).
Pada zaman Edo, kebakaran akibat kelalaian dikategorikan sebagai kejahatan berat dengan hukuman yang sangat tegas. Sebagai konsekuensi dari tragedi ini, keluarga Tamaya yang berjaya harus menanggung hukuman yang sangat berat. Mereka diusir paksa dari kota Edo dan semua aset mereka disita. Kepala keluarga Tamaya saat itu bernama Ichibei juga turut diasingkan. Dengan ini, bisnis keluarga Tamaya yang telah memikat hati masyarakat Edo berakhir secara resmi hanya dalam satu generasi.
Namun, menariknya lagi, meskipun nama “Tamaya” sebagai sebuah perusahaan lenyap, semangat dan reputasi mereka tetap abadi. Bisnis mereka kemudian dilanjutkan oleh beberapa orang di luar keluarga, tapi sorakan “Tamaya!” terus bergema di setiap festival menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya menonton kembang api di Jepang .
5. Masa-Masa Sulit, Penundaan dan Penghentian Festival
Sejarah festival kembang api juga mengalami pasang surut. Setelah tragedi Tamaya dan seiring berjalannya waktu, festival Ryogoku yang terkenal itu beberapa kali terpaksa dihentikan. Pada periode Restorasi Meiji, terjadi kekacauan besar yang membuat festival sempat tidak terselenggara .
Memasuki abad ke-20, festival ini mengalami kemunduran yang parah pada tahun 1920-an dan bahkan berhenti total selama Perang Dunia II. Setelah perang berakhir, festival mulai bangkit kembali pada masa pendudukan, tapi tetap menghadapi tantangan. Dari tahun 1961 hingga 1977, festival ini kembali tidak diselenggarakan. Salah satu penyebab utamanya adalah kondisi lalu lintas di Tokyo yang memburuk.
6. Kebangkitan Kembali, Festival Kembang Api Sumidagawa (1978 – Sekarang)
Setelah jeda panjang, tradisi ini akhirnya dihidupkan kembali pada tahun 1978. Festival ini lahir kembali dengan nama baru yang kita kenal sekarang yaitu Festival Kembang Api Sumidagawa (Sumidagawa Hanabi Taikai). Sejak saat itu, festival ini diselenggarakan secara tidak terputus setiap tahunnya dan menjadi salah satu acara musim panas terbesar di Tokyo.
Festival ini bahkan sempat diundur pelaksanaannya pada tahun 2011 akibat bencana gempa bumi dan tsunami Sendai, tapi tetap tidak dibatalkan yang menunjukkan betapa pentingnya acara ini bagi masyarakat.
7. Revolusi Warna dan Bentuk dari Hanabi
Di balik drama sejarah, teknologi hanabi juga terus berevolusi. Pada masa awal Edo, warna kembang api masih terbatas pada warna jingga yang redup yang disebut “wabi” karena hanya menggunakan arang. Titik balik besar terjadi sekitar tahun 1879, ketika bahan kimia baru seperti kalium klorat mulai diimpor ke Jepang. Hal ini membuka jalan bagi para pembuat kembang api untuk menciptakan berbagai warna cerah yang belum pernah ada sebelumnya, seperti merah, biru, dan hijau.
Dari zaman Taisho (1912-1926) hingga zaman Showa (1926-1989), banyak produsen kembang api baru bermunculan di seluruh Jepang. Mereka terus mengembangkan teknik dan menciptakan berbagai variasi ledakan. Kembang api mulai diberi nama seperti bunga seperti krisan, peony yang sesuai dengan bentuk ledakannya di udara. Sejak saat itulah, kembang api Jepang mulai memperoleh cita rasa dan keunikannya sendiri yang mendunia.
C. Serba-serbi Festival Hanabi Taikai
Hanabi Taikai atau festival kembang api adalah kemeriahan utama dari musim panas di Jepang. Selain menjadi tontonan secara visual, festival ini adalah perayaan budaya, spiritualitas, dan kebersamaan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Setiap tahun, ribuan festival diadakan di seluruh pelosok negeri, dari metropolis hingga desa menarik jutaan pengunjung yang datang untuk menyaksikan langit malam yang diterangi oleh “bunga api”.
1. Kemeriahan yang Lebih dari Kembang Api Biasa
Suasana festival adalah perpaduan antara tradisi, kuliner, dan kegembiraan. Sepanjang jalan menuju lokasi pertunjukan, akan terlihat deretan pedagang kaki lima atau yang disebut dengan “yatai” yang menawarkan berbagai hidangan khas musim panas. Aroma kuliner yang menggugah selera seperti takoyaki, yakisoba, dan okonomiyaki bercampur dengan manisnya kakigori (es serut) dan wataame (permen kapas). Tak ketinggalan, minuman dingin seperti bir adalah teman setia untuk meredakan hawa panas.
Pengunjung terutama anak muda dan keluarga akan mengenakan yukata (kimono musim panas yang lebih tipis) dan geta (sandal kayu). Busana ini menjadi bagian dari pengalaman budaya yang memperkuat suasana festival. Mereka juga akan membawa uchiwa (kipas) sebagai properti untuk melawan panas sekaligus menjadi aksesori foto yang instagramable.
2. Spiritualitas dan Kebersamaan di Balik Gemerlap Hanabi
Selain sebagai hiburan, hanabi juga memiliki dimensi spiritual yang kuat terutama terkait dengan festival Obon yaitu perayaan untuk menghormati arwah leluhur yang diadakan pada pertengahan Agustus. Kembang api dipercaya sebagai cara untuk menyambut arwah yang kembali ke dunia dan mengantarkan mereka kembali ke alam roh.
Tradisi yang paling unik dapat ditemukan di Nagasaki di mana pada tanggal 15 Agustus masyarakat justru menyalakan kembang api dan mercon di area pemakaman. Tradisi yang sudah berlangsung sekitar 300 tahun ini dipengaruhi oleh budaya Buddha dan Cina yang bertujuan untuk menghilangkan kesepian arwah leluhur dan mengusir roh jahat. Ini adalah bukti bagaimana hanabi telah meresap ke dalam berbagai aspek kehidupan dan kepercayaan masyarakat Jepang.
3. Ikon yang Tak Tergantikan, Sumidagawa Hanabi Taikai
Festival Kembang Api Sumidagawa di Tokyo adalah yang paling ikonik. Sebagai penerus langsung dari festival pertama tahun 1733 yang diadakan untuk mengenang korban wabah dan kelaparan, acara ini diadakan setiap Sabtu terakhir bulan Juli. Ada lebih dari 20.000 kembang api diluncurkan dari dua lokasi berbeda disaksikan oleh hampir satu juta orang yang memadati tepian Sungai Sumida. Festival ini selain menghadirkan pertunjukan, tapi juga sejarah hidup yang terus berlanjut.
4. Festival-Festival Ikonik Lainnya
Keindahan hanabi tidak hanya terbatas di Tokyo. Berbagai festival dengan karakteristik unik tersebar di seluruh Jepang menawarkan pengalaman yang berbeda:
a) Festival Kembang Api Atami (Shizuoka)
Dimulai pada tahun 1952 untuk membangkitkan semangat masyarakat pasca bencana. Bentang alam teluk dan pegunungan menciptakan efek akustik yang memperkuat setiap dentuman kembang api.
b) Festival Kembang Api Omagari (Akita)
Diadakan setiap 30 Agustus, ini adalah salah satu kompetisi kembang api paling bergengsi di Jepang. Para ahli piroteknik dari seluruh negeri berkumpul untuk memamerkan teknologi dan desain terbaru mereka menjadikannya ajang inovasi.
c) Festival Kembang Api Katakai (Niigata)
Terkenal dengan Yonshakudama, kembang api terbesar di dunia dengan diameter 1,2 meter yang dapat meledak hingga selebar 800 meter. Festival ini merupakan bagian dari ritual di Kuil Asahara, menggabungkan unsur keagamaan dan hiburan publik.
5. Tradisi Mini, Kembang Api untuk Anak dan Keluarga
Hanabi taikai adalah acara besar dan spektakuler, tapi budaya hanabi di Jepang juga hidup dalam skala yang lebih kecil dan intim. Tradisi kembang api ini dapat digenggam yang dinikmati oleh keluarga, terutama anak-anak, selama liburan musim panas. Kembang api mini ini dapat dibeli dengan mudah di supermarket atau toko serba ada. Beberapa jenis yang populer di antaranya adalah:
a) Senko Hanabi
Kembang api yang dipegang tegak lurus ke bawah. Saat dinyalakan, kembang api ini menghasilkan bola api kecil yang berkilauan dengan tenang. Ada sebuah permainan tradisional di mana anak-anak berlomba melihat siapa yang bisa membuat senko hanabi-nya bertahan paling lama.
b) Nezumi Hanabi
Kembang api berbentuk tikus yang akan berlari dan berputar-putar di tanah saat dinyalakan.
c) Hebi Hanabi
Kembang api yang akan “meloncat” seperti ular saat terbakar.

543life.com
Tradisi ini adalah cara untuk memperkenalkan keindahan dan kesenangan hanabi kepada generasi muda sekaligus mengajarkan mereka tentang keselamatan. Menyalakan kembang api di halaman rumah atau di pantai bersama keluarga adalah bagian tak terpisahkan dari kenangan musim panas di Jepang.
Kemudian, hanabi taikai menjadi tontonan yang menarik yang terdiri dari banyak elemen seperti seni piroteknik yang memukau, semangat komunitas yang hangat, tradisi kuliner yang menggugah selera, dan dimensi spiritual yang mendalam. Di bawah langit yang diterangi cahaya, masyarakat Jepang merayakan keindahan yang fana, menghormati masa lalu, dan menikmati kebersamaan di masa kini. Hal ini menjadi pengalaman yang jauh lebih dalam dari pertunjukan biasa.
D. Berbagai Festival Hanabi Ikonik di Seluruh Jepang
Festival kembang api di Jepang bukan sekadar acara hiburan musiman. Setiap festival memiliki karakteristik unik, sejarah yang mendalam, dan keistimewaan yang menjadikannya lebih dari sekadar pertunjukan visual. Yuk, kita kenalan dengan festival-festival paling ikonik dari berbagai penjuru Jepang berikut ini.
1. Festival Kembang Api Atami di Teluk Shizuoka
Di pesisir Prefektur Shizuoka, kota pemandian air panas Atami menyelenggarakan salah satu festival kembang api paling istimewa di Jepang. Festival Atami dimulai pada tahun 1952, lahir dari semangat rekonstruksi setelah bencana topan yang menghanyutkan 140 rumah pada tahun 1949 dan kebakaran besar yang menghancurkan 979 bangunan pada tahun 1950.
Keunikan festival ini terletak pada bentang alamnya yang spektakuler. Teluk Atami yang dikelilingi pegunungan berfungsi seperti amphitheater alami menciptakan efek akustik yang memperkuat dentuman setiap kembang api. Pantulan cahaya di permukaan air menambah dimensi visual yang memukau, sementara puncak acara adalah “Air Terjun Niagara di Langit” di saat semburan kembang api diluncurkan secara bersamaan dalam grand final yang dramatis.
Akses menuju Atami sangat mudah hanya 36 menit dengan kereta Shinkansen dari Stasiun Shinagawa, Tokyo. Festival ini diadakan berkali-kali dalam setahun, tidak hanya di musim panas tapi juga di musim gugur dan musim dingin yang menjadikannya salah satu festival kembang api paling mudah diakses oleh wisatawan.
2. Kompetisi Kembang Api Nasional Omagari Jadi Medan Pertempuran Para Ahli
Berbeda dengan festival lainnya, Omagari Hanabi Taikai di Prefektur Akita adalah kompetisi paling bergengsi di Jepang. Festival ini mempertemukan para ahli piroteknik terbaik dari seluruh negeri untuk bersaing memamerkan keterampilan dan kreativitas mereka.
Acara ini diadakan setiap tahun pada hari Sabtu terakhir bulan Agustus di tepi Sungai Omonogawa, Kota Daisen. Lebih dari 900.000 penonton datang untuk menyaksikan pertunjukan yang berlangsung dari siang hingga malam. Uniknya lagi, ada sesi kembang api siang hari yang memanfaatkan cahaya, air, dan suara menciptakan pesona yang berbeda dari kembang api malam hari.
Salah satu yang paling dinantikan adalah “Bola No. 10” dengan diameter hingga 300 meter saat meledak. Para kontestan menampilkan “Kembang Api Kreatif” dengan harmoni warna, musik, dan komposisi yang indah, menjadikannya sebuah karya seni yang utuh.
Bagi penggemar kembang api, terdapat Museum Pelestarian Budaya dan Tradisi Hanabi (Hanabi Museum) di lokasi yang sama. Museum ini menayangkan film berdefinisi tinggi dalam empat layar dari depan, samping, dan atas yang memberikan pengalaman seolah-olah dikelilingi oleh kembang api. Pengunjung juga bisa mengikuti lokakarya membuat model desain kembang api pribadi yang kemudian dapat ditampilkan di layar.
3. Festival Katakai, Rumah bagi Kembang Api Terbesar di Dunia
Di Prefektur Niigata terdapat festival yang memiliki klaim paling spektakuler yaitu bernama Yonshakudama, kembang api tunggal terbesar di dunia yang tercatat dalam Guinness Book of World Records.
Kembang api raksasa ini memiliki diameter 1,2 meter, berat 420 kg, dan ketika meledak membentuk bunga api dengan lebar mencapai 800 meter pada ketinggian sekitar 1 kilometer di langit. Satu buah Yonshakudama dibanderol sekitar Rp17 juta.
Festival Katakai diadakan setiap awal September dengan durasi sekitar 3 jam. Yang membuatnya unik adalah setiap beberapa menit, pengumuman tentang sponsor kembang api dibacakan, sehingga setiap pertunjukan bisa berlangsung lama. Ada tiga tingkatan kembang api dalam festival ini: shakudama (ukuran 10), sanshakudama (lebih besar), dan yonshakudama sebagai penutup setiap malam pertunjukan.
Akar festival ini sangat dalam yang telah berlangsung selama lebih dari 400 tahun dan merupakan bagian dari ritual suci di Kuil Asahara menggabungkan dimensi keagamaan dan hiburan publik.
4. Kembang Api Tangan Toyohashi, Tradisi Ekstrem Berusia 450 Tahun
Jika festival lain menikmati kembang api dari kejauhan di Toyohashi, Prefektur Aichi, kita akan menyaksikan pemandangan yang sama sekali berbeda. Di sinilah tradisi Tezutsu Hanabi atau “kembang api tangan” lahir menjadi sebuah praktik ekstrem yang telah berlangsung selama lebih dari 450 tahun.
Kembang api ini berupa batang bambu berdiameter 10-20 cm yang diisi dengan sekitar 3 kg bubuk mesiu. Dasar bambu ditutup dengan tanah liat dan kertas. Para peserta setelah menjalani pelatihan khusus dan mendapatkan kualifikasi akan memegang bambu dengan tangan dan menyalakannya sambil berdiri tegak. Saat dinyalakan, mereka akan dihujani percikan api dari atas menciptakan pemandangan yang sangat berani dan dramatis.
Asal-usul tradisi ini konon dimulai pada tahun 1558, ketika Ohara Bizen No Kami yang merupakan seorang penjaga istana dari Istana Yoshida mempersembahkannya kepada Kuil Yoshida. Teknik ini berasal dari zaman perang di mana bambu digunakan sebagai alat komunikasi jarak jauh. Lalu, setelah masuknya senapan, alat tersebut dialihfungsikan menjadi kembang api untuk perayaan kuil.
Untuk alasan keamanan, para peserta menggunakan pelindung badan tapi tidak mengenakan pelindung kepala, membiarkan diri mereka “dihujani” oleh percikan kembang api. Saat ini, festival ini menjadi acara utama di Higashi-Mikawa dan berlangsung pada Jumat ketiga bulan Juli untuk kembang api tangan, dan Sabtu ketiga untuk pertunjukan kembang api di tepi Sungai Toyokawa.
5. Tiga Festival Kembang Api Terbesar di Jepang
Secara umum, ada tiga festival kembang api yang dianggap paling besar dan paling bergengsi di Jepang, masing-masing meluncurkan sekitar 20.000 kembang api dan menarik 700.000 hingga 1.000.000 penonton:
- Omagari Hanabi Taikai (Akita), kompetisi nasional para ahli piroteknik.
- Tsuchiura Hanabi Taikai (Ibaraki), salah satu festival kembang api tertua dan terbesar.
- Nagaoka Hanabi Taikai (Niigata), terkenal dengan kembang api skala besar dan sejarahnya yang terkait dengan rekonstruksi pasca perang.
Setiap festival kembang api di Jepang memiliki cerita dan identitasnya sendiri. Dari Atami lahir dari semangat bangkit kembali setelah bencana, Omagari adalah ajang kompetisi dan inovasi teknis, Katakai memadukan ritual keagamaan kuno dengan keajaiban piroteknik modern, dan Toyohashi melestarikan tradisi ekstrem dari era samurai.
Keempat festival ini, bersama dengan puluhan festival lainnya di seluruh Jepang menunjukkan bahwa hanabi selain menjadi hiburan massal yang seragam, tapi juga menjadi cerminan dari keberagaman budaya, sejarah lokal, dan semangat komunitas yang hidup di setiap daerah. Dari teluk yang bergema hingga sungai yang tenang, dari kembang api raksasa yang menghantam langit hingga bambu yang dipegang dengan tangan berani, setiap festival adalah pertunjukan yang tidak akan pernah terulang seperti halnya kehidupan itu sendiri.
Hanabi adalah cerminan jiwa Jepang yang terdiri dari perpaduan antara seni, tradisi, dan semangat komunitas. Dari sejarahnya yang kelam sebagai penenang arwah hingga persaingan sengit Kagiya dan Tamaya, festival kembang api telah berkembang menjadi perayaan kehidupan, keindahan, dan kebersamaan.
Hanabi Taikai lebih dari acara menonton biasa dan menjadi ritual musim panas yang menghubungkan generasi, mengobati luka masa lalu, dan merayakan harapan untuk masa depan. Saat langit malam diterangi oleh bunga-bunga api yang mekar, teriakan “Tamaya!” atau “Kagiya!” selain menjadi sorakan yang meriah, tapi juga gaung dari sejarah panjang yang masih terus hidup, dan akan terus mekar di setiap musim panas di Jepang. Jika Minasan sedang berada di Jepang saat musim panas, sempatkan diri untuk menikmati hanabi ini ya.
Nah, cukup segitu yang bisa Pandai Kotoba berikan mengenai meriahnya hanabi atau kembang api dalam budaya dan sejarah orang Jepang. Jika Minasan masih penasaran dan ingin baca lagi tentang budaya Jepang, di website kami banyak tersedia informasinya lho. Salah satunya ada ini nih: Semangka, Buah Penyegar di Musim Panas yang Terik di Jepang. Klik untuk membacanya.
Sampai jumpa di artikel selanjutnya!


