Bahasa Jepang,  Culture

Omoiyari: Empati yang Mengalir dalam Kehidupan Sehari-hari Orang Jepang

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan individualistis, Jepang memiliki sebuah nilai luhur yang menjaga kehangatan antar manusia omoiyari (思いやり). Konsep ini menggambarkan kepekaan hati, empati, dan perhatian terhadap perasaan orang lain tanpa harus diucapkan secara langsung. Dalam budaya Jepang, omoiyari bukan sekadar “rasa iba” atau “simpati,” melainkan kemampuan untuk memahami apa yang orang lain butuhkan dan bertindak dengan penuh pertimbangan demi kenyamanan bersama.

Sikap ini begitu mengakar dalam kehidupan masyarakat Jepang, mulai dari cara mereka berbicara, bersikap di tempat umum, hingga cara bekerja sama dalam komunitas. Omoiyari adalah bentuk empati yang halus namun nyata kepekaan yang mengalir dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari, menjadikan hubungan antar manusia terasa harmonis dan penuh rasa hormat.

Apa Itu Omoiyari (思いやり)?

Kata omoiyari (思いやり) berasal dari dua bagian:

  • 思う (omou) yang berarti memikirkan atau merasakan, dan
  • やり (yari) yang berasal dari kata kerja yaru, yang berarti memberikan atau melakukan sesuatu untuk orang lain.

Secara harfiah, omoiyari dapat diartikan sebagai “memikirkan perasaan orang lain dan bertindak dengan penuh perhatian.”Namun, makna sebenarnya jauh lebih dalam dari sekadar “empati.”

Dalam budaya Jepang, omoiyari mencerminkan rasa peka terhadap perasaan, kebutuhan, dan situasi orang lain tanpa harus mereka ungkapkan secara langsung. Orang yang memiliki omoiyari mampu membaca suasana, memahami emosi lawan bicara, dan menyesuaikan sikapnya agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan.

Omoiyari bukan hanya perasaan yang disimpan di dalam hati, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata seperti membantu tanpa diminta, berbicara dengan nada lembut, atau sekadar menjaga agar suasana tetap tenang dan menyenangkan bagi semua.

Dengan kata lain, omoiyari adalah empati aktif yang menjadi salah satu fondasi utama hubungan sosial di Jepang: peka, sopan, dan selalu mempertimbangkan perasaan orang lain sebelum bertindak.

Omoiyari
Omoiyari – Membantu orang tua yang kehujanan

Akar Budaya dan Nilai Filosofis di Balik Omoiyari

Konsep omoiyari (思いやり) bukanlah hal yang muncul secara tiba-tiba dalam masyarakat Jepang. Nilai ini tumbuh dari akar budaya dan filosofi yang telah mengakar selama berabad-abad, membentuk pola pikir dan perilaku sosial yang khas di Jepang.

Salah satu dasar pentingnya adalah nilai 和 (wa), yang berarti harmoni. Sejak zaman kuno, masyarakat Jepang menjunjung tinggi pentingnya menjaga keseimbangan dan kedamaian dalam hubungan antar manusia. Oleh karena itu, omoiyari menjadi sarana untuk mempertahankan wa dengan memahami dan menyesuaikan diri terhadap perasaan orang lain, agar tidak menimbulkan konflik atau ketegangan.

Selain itu, omoiyari juga berkaitan erat dengan konsep 恥 (haji), yaitu rasa malu. Dalam budaya Jepang, seseorang berusaha keras untuk tidak membuat orang lain merasa malu, tersinggung, atau tidak nyaman. Dengan memiliki omoiyari, seseorang akan berhati-hati dalam bertindak dan berbicara agar tidak melukai perasaan orang lain, bahkan tanpa disadari.

Akar omoiyari juga dapat ditemukan dalam ajaran Buddhisme dan Konfusianisme yang masuk ke Jepang sejak abad ke-6. Kedua ajaran ini menekankan pentingnya kasih sayang, kebijaksanaan, dan rasa hormat terhadap sesama. Dari sinilah lahir pandangan bahwa empati bukan hanya sikap moral, tetapi juga cara hidup yang menciptakan keseimbangan antara diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Dengan demikian, omoiyari bukan sekadar kebiasaan sopan santun, melainkan falsafah hidup yang mencerminkan keharmonisan, kesadaran sosial, dan penghargaan terhadap perasaan orang lain. Ia menjadi bagian dari identitas nasional Jepang empati yang tidak banyak diucapkan, namun selalu terasa dalam tindakan dan sikap sehari-hari.

Bentuk Omoiyari dalam Kehidupan Sehari-hari

Nilai omoiyari (思いやり) bukan hanya konsep abstrak yang diajarkan dalam budaya Jepang, melainkan sesuatu yang benar-benar hidup dalam perilaku sehari-hari masyarakatnya. Orang Jepang mengekspresikan empati dan kepedulian mereka melalui tindakan-tindakan kecil yang tampak sederhana, namun sarat makna dan ketulusan. Berikut beberapa contoh nyata bentuk omoiyari dalam kehidupan sehari-hari:

1. Menjaga Kenyamanan di Tempat Umum

Di transportasi umum seperti kereta, banyak orang Jepang berbicara dengan suara pelan, mematikan nada dering ponsel, dan menghindari membawa barang besar yang bisa mengganggu penumpang lain. Sikap ini mencerminkan kesadaran untuk tidak mengganggu kenyamanan orang lain wujud nyata omoiyari dalam ruang publik.

2. Memberi Isyarat Halus Tanpa Mengkritik Langsung

Daripada menegur secara keras, orang Jepang sering menggunakan kata-kata lembut seperti 「もう少し静かにしましょう」(mou sukoshi shizuka ni shimashou – mari sedikit lebih tenang) alih-alih berkata “Diam!”Pendekatan lembut ini menunjukkan kepekaan terhadap perasaan lawan bicara agar tidak merasa tersinggung.

3. Berbagi dan Membantu Tanpa Diminta

Misalnya, saat seseorang sedang sibuk, rekan kerja dengan omoiyari akan ikut membantu tanpa diminta atau menawarkan dukungan seperti 「手伝いましょうか?」(tetsudaimashou ka? – boleh saya bantu?).Tindakan kecil ini menunjukkan perhatian tulus dan rasa ingin meringankan beban orang lain.

4. Menunjukkan Terima Kasih dengan Tulus

Ungkapan seperti 「ありがとうございます」(arigatou gozaimasu) atau 「お疲れさまです」(otsukaresama desu) bukan sekadar formalitas. Dalam budaya Jepang, kata-kata ini adalah bentuk omoiyari, cara mengakui dan menghargai usaha orang lain, sekecil apa pun kontribusinya.

5. Mengajarkan Kepedulian Sejak Dini

Di sekolah, anak-anak Jepang dibiasakan membersihkan kelas bersama (souji), mengatur makan siang bersama (kyuushoku), dan membantu teman yang kesulitan. Semua kegiatan ini mengajarkan omoiyari sejak usia dini belajar memikirkan kenyamanan dan kebahagiaan orang lain.

6. Menyesuaikan Diri dengan Situasi dan Perasaan Orang Lain

Dalam percakapan, orang Jepang cenderung membaca suasana hati lawan bicara (kuuki wo yomu – “membaca udara”). Mereka akan menyesuaikan nada, ekspresi, dan pilihan kata agar tidak membuat orang lain tidak nyaman.

Bahasa dan Gestur yang Mencerminkan Omoiyari

Dalam budaya Jepang, omoiyari (思いやり) tidak selalu diungkapkan dengan kata-kata besar atau tindakan mencolok. Justru, keindahan omoiyari terletak pada cara halus seseorang memilih kata, nada bicara, dan gestur tubuh untuk menunjukkan rasa hormat dan empati kepada orang lain. Bahasa dan gerakan tubuh menjadi sarana lembut untuk mengekspresikan perhatian tanpa harus berkata banyak.

1. Bahasa yang Halus dan Penuh Pertimbangan

Bahasa Jepang kaya akan tingkat kesopanan (keigo), yang mencerminkan bagaimana seseorang menghargai dan mempertimbangkan posisi lawan bicaranya.

Contohnya:

  • 「すみません」(sumimasen) bukan hanya berarti “maaf,” tapi juga “terima kasih” dalam konteks tertentu menunjukkan rasa sungkan dan empati.
  • 「お疲れさまです」(otsukaresama desu) digunakan untuk mengapresiasi kerja keras seseorang.
  • 「ごめんね」(gomen ne) atau 「申し訳ありません」(moushiwake arimasen) diucapkan dengan lembut untuk menunjukkan rasa penyesalan yang tulus.

Setiap pilihan kata disesuaikan dengan situasi, agar tidak membuat lawan bicara merasa tidak nyaman sebuah wujud omoiyari dalam komunikasi sehari-hari.

2. Nada Bicara yang Menenangkan

Nada suara yang lembut dan tidak menekan merupakan bagian penting dari omoiyari. Dalam percakapan, orang Jepang cenderung menghindari nada tinggi atau ekspresi keras, karena bisa dianggap mengganggu keharmonisan (wa). Suara yang tenang dan sopan dianggap lebih “hangat” dan menunjukkan bahwa pembicara memahami perasaan lawan bicaranya.

3. Gestur Tubuh yang Menghormati dan Menenangkan

Gerakan tubuh juga menjadi ekspresi nyata dari omoiyari:

  • Membungkuk (ojigi) dengan tulus sebagai bentuk hormat, ucapan terima kasih, atau permintaan maaf.
  • Menundukkan kepala sedikit saat berbicara untuk menunjukkan kerendahan hati.
  • Tidak menatap terlalu tajam agar tidak membuat lawan bicara merasa tertekan.
  • Memberi ruang di antrean atau transportasi umum, menunjukkan empati terhadap kenyamanan orang lain.

4. Ekspresi Non-Verbal dalam Interaksi Sehari-hari

Bahkan dalam hal sederhana seperti menyajikan teh, menunggu orang lain bicara terlebih dahulu, atau mengucapkan “silakan duluan” (osaki ni douzo), semua merupakan bentuk omoiyari.Gestur-gestur kecil ini memperlihatkan rasa hormat, kesadaran sosial, dan perhatian terhadap situasi sekitar.

1000389420
「お疲れさまです」(otsukaresama desu) digunakan untuk mengapresiasi kerja keras seseorang.

Omoiyari di Sekolah, Tempat Kerja, dan Masyarakat Jepang

Nilai omoiyari (思いやり) menjadi bagian penting dari kehidupan sosial di Jepang bukan hanya di rumah, tetapi juga di sekolah, tempat kerja, hingga kehidupan bermasyarakat. Sejak kecil, orang Jepang belajar bahwa empati bukan hanya tentang memahami orang lain, tetapi juga tentang bertindak demi kebaikan bersama. Nilai ini diajarkan, dipraktikkan, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

1. Di Sekolah: Menumbuhkan Empati Sejak Dini

Pendidikan di Jepang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter. Anak-anak diajarkan omoiyari melalui kegiatan sehari-hari seperti:

  • Souji (掃除): kegiatan membersihkan kelas bersama. Siswa tidak hanya membersihkan ruangannya sendiri, tetapi juga area bersama, agar belajar menghargai kebersihan dan kerja tim.
  • Kyuushoku (給食): makan siang bersama di kelas, di mana siswa bergiliran melayani makanan dan membersihkan setelahnya. Ini mengajarkan rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap teman-teman.
  • Membantu teman yang kesulitan: misalnya, meminjamkan alat tulis atau menemani teman yang tertinggal. Melalui rutinitas ini, anak-anak belajar omoiyari secara alami memahami bahwa kebahagiaan pribadi terhubung dengan kenyamanan orang lain.
  • Hanashiai (話し合い): diskusi kelas di mana siswa diajak berbicara dengan sopan, mendengarkan pendapat teman, dan mencari solusi bersama tanpa konflik.

2. Di Tempat Kerja: Harmoni dan Kepedulian Kolektif

Dalam budaya kerja Jepang, omoiyari menjadi kunci keharmonisan dan efisiensi tim. Contohnya:

  • Karyawan sering menggunakan ungkapan seperti 「お疲れさまです」(otsukaresama desu – terima kasih atas kerja kerasmu) untuk menghargai rekan kerja.
  • Rekan satu tim berusaha membaca situasi dan membantu tanpa harus diminta, misalnya mengambil alih pekerjaan saat kolega tampak kewalahan.
  • Saat rapat, berbicara dengan sopan dan tidak memotong pembicaraan orang lain juga dianggap bentuk omoiyari.
  • Prinsipnya sederhana: menjaga perasaan orang lain agar suasana kerja tetap harmonis dan produktif.

3. Dalam Masyarakat: Empati sebagai Gaya Hidup Sosial

Dalam kehidupan bermasyarakat, omoiyari tampak dalam berbagai aspek kecil:

  • Orang Jepang menjaga kebersihan ruang publik, tidak membuang sampah sembarangan, dan sering membawa pulang sampah sendiri.
  • Saat ada bencana, warga saling membantu dengan tertib tanpa berebut bantuan cerminan kuat dari omoiyari kolektif.
  • Dalam interaksi sehari-hari, seperti menunduk sopan kepada tetangga, tidak berbicara keras di tempat umum, dan memberi jalan kepada orang lain.
  • Sikap-sikap ini menunjukkan bahwa omoiyari telah menjadi pola hidup bersama, bukan hanya nilai moral pribadi.

Perbandingan: Empati dalam Budaya Jepang dan Budaya Barat

Setiap budaya memiliki cara sendiri dalam mengekspresikan empati. Meskipun empati adalah nilai universal, cara memahaminya dan mengekspresikannya sangat dipengaruhi oleh norma sosial dan pandangan hidup masing-masing masyarakat. Dalam hal ini, omoiyari di Jepang dan konsep empati di budaya Barat memiliki perbedaan yang menarik baik dari segi bentuk, ekspresi, maupun tujuannya.

1. Empati dalam Budaya Jepang: Tindakan Halus dan Non-Verbal

Dalam budaya Jepang, empati atau omoiyari sering kali tidak diucapkan secara langsung, melainkan ditunjukkan melalui tindakan dan kepekaan terhadap situasi.

Ciri khasnya:

  • Orang Jepang berusaha membaca suasana hati atau kuuki wo yomu (空気を読む – “membaca udara”) agar bisa bertindak sesuai kondisi.
  • Menghindari kata-kata yang bisa melukai atau mempermalukan orang lain.
  • Menjaga harmoni (wa) lebih diutamakan daripada menonjolkan pendapat pribadi.
  • Empati berarti tidak membuat orang lain merasa tidak nyaman, bahkan dengan hal kecil seperti nada bicara atau pilihan kata.

Bagi masyarakat Jepang, omoiyari bukan hanya tentang “merasakan apa yang orang lain rasakan,” tetapi juga tentang menyesuaikan diri dan bertindak agar hubungan tetap damai dan seimbang.

2. Empati dalam Budaya Barat: Ekspresi Langsung dan Verbal

Di sisi lain, masyarakat Barat cenderung mengekspresikan empati secara terbuka dan verbal.

Contohnya:

  • Mengatakan secara langsung, “I understand how you feel” atau “I’m here for you.”
  • Mendorong seseorang untuk mengungkapkan perasaan secara jujur, karena dianggap penting untuk komunikasi yang sehat.
  • Fokus pada pemahaman individu, bukan hanya menjaga harmoni kelompok.
  • Dalam konteks Barat, empati lebih bersifat personal dan eksplisit, sementara di Jepang lebih kolektif dan implisit.

3. Perbedaan Utama dalam Sudut Pandang dan Tujuan

AspekJepang (Omoiyari)Barat (Empathy)
Cara EkspresiHalus, tidak langsung, lewat tindakanTerbuka, langsung, lewat kata-kata
Tujuan UtamaMenjaga harmoni sosial (wa)Mendukung dan memahami individu
Fokus EmpatiKenyamanan kelompokPerasaan dan kebutuhan pribadi
Gaya KomunikasiTidak konfrontatif, penuh pertimbanganTerbuka, jujur, dan ekspresif
Bentuk UmumMenyesuaikan diri, membantu diam-diamMemberi dukungan atau nasihat secara verbal

4. Kesimpulan: Dua Wajah dari Empati yang Sama

Meski berbeda dalam cara penyampaian, baik omoiyari maupun empati Barat memiliki akar yang sama yaitu keinginan untuk memahami dan menghargai orang lain.Di Jepang, empati berarti “membaca tanpa harus dikatakan,” sementara di Barat, empati berarti “mengatakan agar orang tahu kita peduli.”

Keduanya sama-sama berharga. Jika empati Barat menekankan keterbukaan hati, maka omoiyari mengajarkan kepekaan batin dua sisi yang saling melengkapi dalam membangun hubungan manusia yang hangat dan saling menghormati.

Omoiyari dalam Bahasa Modern dan Kehidupan Global

Di era modern yang serba cepat dan digital, nilai omoiyari (思いやり) tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Jepang bahkan semakin relevan di tengah dunia global yang penuh interaksi lintas budaya. Meskipun gaya hidup berubah, esensi omoiyari sebagai bentuk empati, kepedulian, dan kesadaran sosial tetap hidup dan berkembang, menyesuaikan diri dengan zaman.

1. Omoiyari di Era Digital dan Media Sosial

Dalam dunia modern, komunikasi tidak lagi terbatas pada tatap muka. Melalui pesan teks, media sosial, dan forum daring, omoiyari juga diterapkan dalam bentuk baru:

  • Menggunakan bahasa sopan dan emotikon yang lembut agar tidak disalahpahami.
  • Menghindari komentar tajam atau sindiran di media sosial.
  • Memberikan dukungan moral kepada teman yang sedang sulit, walau hanya lewat pesan singkat.

Semua ini mencerminkan omoiyari digital empati dalam ruang virtual yang tetap menghargai perasaan orang lain.

2. Omoiyari di Dunia Kerja Global

Konsep omoiyari kini menjadi nilai penting dalam kerja sama internasional. Banyak perusahaan Jepang menerapkan budaya kerja yang berlandaskan empati dan harmoni, bahkan di kantor luar negeri.

Misalnya:
Pemimpin yang memperhatikan kesejahteraan tim, bukan hanya hasil kerja.

Rekan kerja yang menyesuaikan gaya komunikasi dengan budaya asing tanpa kehilangan kesopanan khas Jepang.Dalam konteks global, omoiyari berperan sebagai “bahasa universal empati” yang memperkuat hubungan antarbudaya dan mendorong kerja sama yang saling menghormati.

3. Relevansi Omoiyari bagi Dunia Modern

Di tengah meningkatnya individualisme dan komunikasi yang serba cepat, omoiyari mengingatkan kita akan pentingnya perlahan dan peka terhadap orang lain.

Nilai ini bisa menjadi jembatan dalam hubungan internasional baik dalam diplomasi, pendidikan, maupun pertemanan antarbangsa.Bahkan di luar Jepang, banyak orang mulai mengadopsi nilai-nilai serupa seperti mindfulness, compassion, dan emotional intelligence, yang sejatinya sejalan dengan semangat omoiyari.

4. Omoiyari sebagai Nilai Global

Kini, omoiyari tidak lagi sekadar cerminan budaya Jepang, tetapi telah menjadi inspirasi global tentang cara berempati dengan bijak.Ketika seseorang belajar untuk berhenti sejenak, memperhatikan sekeliling, dan bertindak demi kenyamanan orang lain tanpa pamrih, di situlah omoiyari hidup di mana pun, dalam bentuk apa pun.

1000389423
Orang Jepang berusaha membaca suasana hati atau kuuki wo yomu (空気を読む – “membaca udara”) agar bisa bertindak sesuai kondisi.

Pelajaran dari Omoiyari: Peka tanpa Harus Dikatakan

Salah satu inti terindah dari budaya Jepang adalah kemampuan untuk “merasakan” tanpa perlu kata-kata inilah esensi dari omoiyari. Dalam kehidupan sehari-hari, omoiyari bukan hanya tentang sopan santun atau formalitas, tetapi tentang memahami kebutuhan, perasaan, dan situasi orang lain tanpa mereka harus mengungkapkannya secara langsung.

Konsep ini mengajarkan bahwa komunikasi sejati tidak selalu membutuhkan bahasa verbal. Misalnya, ketika seseorang terlihat lelah, rekan kerja mungkin menawarkan bantuan tanpa diminta. Atau ketika teman tampak sedih, seseorang memilih untuk diam menemani karena kehadiran yang tenang terkadang lebih bermakna daripada nasihat panjang.

Dalam dunia modern yang serba cepat dan penuh distraksi, omoiyari mengingatkan kita untuk melambat sejenak, memperhatikan sekitar, dan belajar membaca “antara kata-kata” (kuuki wo yomu — membaca suasana). Nilai ini membantu membangun hubungan yang lebih tulus, baik dalam lingkungan pribadi maupun profesional.

Pelajaran dari omoiyari adalah bahwa kepedulian sejati tidak selalu terlihat. Ia hidup dalam tindakan kecil senyum lembut, kata sederhana, atau bahkan keheningan yang penuh pengertian. Dengan menerapkannya, kita belajar untuk menjadi lebih peka, lebih lembut, dan lebih manusiawi dalam berinteraksi dengan siapa pun, di mana pun.> 「思いやりは、言葉よりも心で伝わる。」Omoiyari wa, kotoba yori mo kokoro de tsutawaru.“Omoiyari disampaikan bukan lewat kata, tapi lewat hati.”

Omoiyari dan Konsep “Enryo” (遠慮) — Tenggang Rasa dan Menahan Diri

Dalam budaya Jepang, omoiyari (思いやり) dan enryo (遠慮) bagaikan dua sisi dari satu koin yang sama. Jika omoiyari adalah kemampuan untuk memahami dan memikirkan perasaan orang lain, maka enryo adalah tindakan nyata untuk menahan diri agar tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.

Keduanya saling melengkapi dalam menjaga keharmonisan sosial (wa, 和) nilai yang sangat dijunjung tinggi di Jepang.

Makna Enryo dalam Kehidupan Sehari-hari

Kata enryo secara harfiah berarti “menjaga jarak” atau “berhati-hati,” namun maknanya jauh lebih dalam. Dalam konteks sosial, enryo berarti:

  • Tidak langsung menolak dengan keras, tapi memilih kata lembut seperti 「ちょっと…」 (chotto…) untuk menandakan penolakan halus.
  • Tidak mengambil porsi terakhir makanan di meja agar orang lain punya kesempatan.
  • Tidak berbicara terlalu keras di tempat umum untuk menjaga kenyamanan sekitar.

Semua contoh ini berakar dari omoiyari yaitu kesadaran terhadap perasaan orang lain dan usaha menjaga hubungan tetap harmonis.

Hubungan antara Omoiyari dan Enryo

  • Omoiyari: memahami dan memikirkan perasaan orang lain.
  • Enryo: menahan diri berdasarkan pemahaman tersebut.

Dengan kata lain, omoiyari adalah niat batin, sedangkan enryo adalah wujud perilaku lahirnya.Seseorang yang memiliki omoiyari akan secara alami menunjukkan enryo, karena ia sadar bahwa tindakannya bisa memengaruhi kenyamanan orang lain.

Contoh Nyata

Saat seseorang menawarkan bantuan, orang Jepang sering menjawab,「いえいえ、大丈夫です。」(ie ie, daijoubu desu – “Tidak, tidak apa-apa”)meskipun sebenarnya mereka merasa terbantu. Ini bukan karena menolak dengan tegas, melainkan bentuk enryo agar tidak membebani lawan bicara hasil dari omoiyari.

Kesimpulan

Omoiyari (思いやり) adalah sikap peka dan peduli terhadap perasaan orang lain yang menjadi dasar harmoni dalam budaya Jepang. Nilai ini tampak dalam tutur kata, tindakan sopan, kebiasaan menahan diri (enryo), hingga pendidikan anak sejak dini.


Melalui omoiyari, masyarakat Jepang menjaga hubungan sosial yang damai tanpa banyak bicara cukup dengan memahami dan bertindak dengan hati.Nilai ini mengajarkan kita bahwa empati sejati tidak selalu diucapkan, tetapi terasa melalui perhatian kecil dan kepekaan terhadap sesama. Minasan ingin lebih mengenal filosofi dan keindahan budaya Jepang lainnya mulai dari bahasa, makanan, hingga nilai kehidupan jangan lupa untuk terus membaca artikel menarik di Pandaikotoba, dan ikuti Instagram-nya agar tidak ketinggalan wawasan baru seputar Jepang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *