Beruang dalam Sejarah dan Budaya Jepang, Sang Dewa Hutan dan Simbol Konservasi Modern!
Hai Minasan~! Kepulauan Jepang dengan bentangan alamnya yang membentang dari Hokkaido yang bersalju hingga hutan-hutan lebat di Pulau Honshu telah menjadi rumah bagi manusia selama puluhan ribu tahun. Namun, jauh sebelum peradaban manusia modern, sang makhluk besar berbulu tebal telah lebih dulu menjelajahi lembah dan gunung yaitu beruang. Dalam sejarah panjang Jepang, ia adalah dewa, tetangga, musuh, dan kini adalah spesies yang membutuhkan pertolongan.
Pandai Kotoba pada artikel kali ini akan mengupas tuntas perjalanan panjang hubungan antara manusia Jepang dan beruang mulai dari kisah di zaman es, merambah ke mitologi kuno, memasuki era industrialisasi yang penuh konflik, hingga berakhir pada upaya konservasi di abad ke-21.

pixnio.com
Beruang dalam Sejarah dan Budaya Jepang, Sang Dewa Hutan dan Simbol Konservasi Modern!
A. Asal-Usul dan Jenis-Jenis Beruang di Jepang
Untuk memahami peran beruang dalam budaya, kita harus terlebih dahulu memahami siapa mereka secara biologis. Meskipun Jepang secara geografis merupakan kepulauan yang terisolasi, punya keanekaragaman fauna yang menarik. Tidak semua orang tahu bahwa Jepang dihuni oleh dua spesies beruang yang sangat berbeda dan satu subspesies yang telah punah.
1. Higuma (Beruang Cokelat Ussuri)
Di hutan-hutan primer Hokkaido, hiduplah sang raja sejati yaitu Ursus arctos yesoensis atau yang dikenal sebagai Higuma (ヒグマ). Beruang cokelat Hokkaido ini adalah subspesies dari beruang cokelat Eurasia dan merupakan kerabat dekat beruang grizzly Amerika. Higuma adalah raksasa pejantan dewasa yang dapat mencapai berat lebih dari 400 kilogram dan berdiri setinggi 2,5 meter.
Higuma tiba di Jepang melalui daratan Siberia ketika Hokkaido masih terhubung dengan benua Asia pada masa glasial. Mereka adalah karnivora dominan di ekosistem Hokkaido, tidak memiliki predator alami selain manusia. Ukuran dan kekuatan mereka yang luar biasa inilah yang kemudian membentuk mitos sekaligus ketakutan mendalam masyarakat Ainu, penduduk asli Hokkaido.
2. Tsukinowaguma (Beruang Hitam Asia)

pixnio.com
Sementara itu, di pulau-pulau utama Honshu, Shikoku, dan Kyushu, hiduplah spesies yang lebih kecil tapi tidak kalah menarik yaitu Ursus thibetanus japonicus atau Beruang Hitam Asia Jepang. Nama “Tsukinowaguma” (ツキノワグマ) secara harfiah berarti “beruang dengan kalung bulan” yang merujuk pada pola bulu putih berbentuk bulan sabit di dada mereka. Ciri khas ini yang membuat mereka terlihat misterius dan sering dikaitkan dengan dunia spiritual.
Beruang hitam ini tiba di Jepang lebih awal dibanding sepupu mereka di Hokkaido, kemungkinan melalui semenanjung Korea. Mereka lebih arboreal atau suka memanjat pohon dan omnivora dengan berat rata-rata 60-120 kilogram. Meskipun lebih kecil dari Higuma, mereka tetap merupakan hewan yang sangat kuat dan berbahaya.
3. Beruang Shikoku (Punah)
Ada juga cerita pilu tentang subspesies beruang hitam yang pernah hidup di Pulau Shikoku. Karena deforestasi masif dan perburuan intensif pada era modernisasi, subspesies ini dinyatakan punah di alam liar pada tahun 1950-an. Kepunahan lokal ini menjadi titik balik kesadaran konservasi di Jepang.
B. Era Ainu, Ketika Beruang adalah Dewa yang Kembali
Tidak ada budaya di Jepang yang memiliki hubungan lebih intim dengan beruang selain suku Ainu. Bagi masyarakat adat Hokkaido ini, beruang disebut Kimun Kamuy dalam bahasa Ainu yang berarti “Dewa Gunung” adalah entitas spiritual tertinggi.
1. Sistem Iyomante, Ritual Pengiriman Dewa
Puncak dari hubungan spiritual Ainu dengan beruang adalah ritual Iyomante atau Kuma Matsuri. Ritual ini sering disalahpahami oleh orang luar sebagai “perayaan berburu beruang” biasa. Namun, sebenarnya ini adalah upacara keagamaan yang sangat kompleks.
Prosesnya dimulai ketika para pemburu Ainu menangkap anak beruang hidup-hidup di musim semi. Beruang kecil ini kemudian dibawa ke desa dan disusui oleh seorang wanita Ainu, diperlakukan seperti anggota keluarga, bahkan terkadang lebih baik dari anak manusia. Ia diberi makanan terbaik, dipanggil dengan sebutan sayang, dan hidup di tempat terhormat selama satu hingga dua tahun.

glam.uoregon.edu
Ketika tiba waktunya ritual, beruang tersebut “dikirim” kembali ke alam dewa melalui serangkaian doa dan persembahan. Masyarakat Ainu percaya bahwa beruang adalah dewa yang menyamar sebagai binatang. Dengan memperlakukan anak beruang dengan sangat baik, mereka berharap dewa tersebut akan pulang ke alamnya dengan hati gembira dan menceritakan kebaikan manusia kepada dewa-dewa lainnya. Kembalinya sang dewa ke dunia manusia akan membawa keberlimpahan daging dan bulu.
Dalam kosmologi Ainu, tidak ada kematian, yang ada hanya perjalanan pulang. Bagi Ainu, memelihara dan kemudian “mengirim” beruang adalah transaksi suci antara manusia dan alam semesta.
C. Zaman Samurai dan Agama, Dari Binatang Buas hingga Makhluk Legenda
Ketika peradaban Zaman Yamato (Jepang modern awal) mulai meluas, hubungan dengan beruang mulai bergeser. Bagi masyarakat agraris di Pulau Honshu, beruang bukan dianggap dewa yang dikirim, tapi hama yang merusak ladang dan ancaman bagi desa. Berikut ini penjelasannya:
1. Beruang dalam Folklor Jepang
Dalam cerita rakyat Jepang, Tsukinowaguma sering muncul sebagai kitsune atau tanuki, tapi dengan karakter yang lebih ambigu. Ada cerita tentang Yamabito (orang gunung) yang sebenarnya adalah beruang penjelmaan. Dalam beberapa legenda, wanita yang tersesat di gunung akan dilindungi oleh beruang, sementara di cerita lain, beruang adalah raksasa pemakan manusia.
Agama Shinto yang memuja roh alam punya pandangan yang lebih kompleks. Beberapa kuil Shinto di wilayah Tohoku memiliki Kumazuka (gundukan kuburan beruang) tempat di mana arwah beruang yang terbunuh didoakan agar tenang. Ini mencerminkan rasa bersalah sekaligus rasa hormat yaitu mereka membunuh, tapi mereka tidak ingin arwah hewan tersebut mengganggu.
2. Perburuan Beruang Ala Matagi
Di pegunungan dalam Tohoku dan Hokuriku, hiduplah komunitas pemburu tradisional yang disebut Matagi (マタギ/又鬼). Berbeda dengan pemburu rekreasi modern, Matagi memiliki kode etik berburu yang sangat ketat yang diwariskan turun-temurun. Seorang Matagi tidak boleh serakah. Mereka hanya boleh membunuh beruang dalam jumlah terbatas dan harus mengucapkan doa sebelum dan sesudah berburu.

shinjo-archive.jp
Mereka percaya bahwa beruang punya roh. Setelah membunuh seekor beruang, mereka akan memotong dagingnya dengan hati-hati dan melakukan upacara untuk “menenangkan” roh beruang tersebut. Jantung dan hati beruang dianggap sebagai makanan terlarang bagi wanita dan anak-anak karena dianggap terlalu “kuat” secara spiritual.
Budaya Matagi ini yang menjadi jembatan antara pandangan dunia Ainu yang menganggap beruang sebagai dewa dan pandangan dunia modern yang melihat beruang sebagai objek konservasi.
D. Abad ke-20, Revolusi, Konflik, dan Pemburuan Massal
Memasuki abad ke-20, Jepang mengalami transformasi paling dramatis dalam sejarahnya. Era Meiji (1868-1912) yang membuka Jepang dari sakoku dilanjutkan dengan ekspansi militerisme Showa, lalu kehancuran Perang Dunia II, dan diikuti oleh “keajaiban ekonomi” rekonstruksi pascaperang. Semua perubahan dahsyat ini meninggalkan jejak yang dalam pada lanskap alam dan relasi manusia dengan satwa liar.
Beruang yang selama berabad-abad hidup dalam keseimbangan yang rapuh tapi fungsional dengan masyarakat tradisional, tiba-tiba menghadapi musuh baru yang jauh lebih kejam daripada pemburu Matagi, yaitu negara industri dengan ambisi eksploitasi sumber daya tanpa batas.
Selanjutnya, di bagian ini akan mengupas secara mendalam bagaimana abad ke-20 menjadi titik balik paling kelam dalam sejarah beruang di Jepang. Masa ketika mereka diburu secara sistematis, kehilangan habitat secara masif, dan secara bersamaan diburu massal dalam kesadaran kolektif sebagai “monster pemakan manusia” yang harus dieliminasi.
1. Meiji dan Ekspansi, Ketika Hutan Menjadi Komoditas
1.1 Kebijakan Eksploitasi Sumber Daya Alam
Pemerintah Meiji dalam ambisinya untuk menyamai kekuatan Barat meluncurkan program modernisasi besar-besaran yang mencakup eksploitasi sumber daya alam secara intensif. Hutan-hutan primer yang selama berabad-abad menjadi rumah bagi beruang hitam atau Tsukinowaguma di Pulau Honshu, Shikoku, dan Kyushu mulai ditebang secara sistematis untuk memenuhi kebutuhan kayu konstruksi, bahan bakar kereta api, dan pembukaan lahan pertanian baru .
Deforestasi ini selain pengurangan luas hutan, tapi menjadi penghancuran total ekosistem yang telah terbentuk selama ribuan tahun. Pohon ek dan beech yang menghasilkan biji-bijian sebagai sumber makanan utama beruang ditebang dan digantikan oleh hutan tanaman industri, terutama sugi (Cedar Jepang) dan hinoki (Cypress Jepang) yang nyaris tidak menyediakan makanan bagi beruang .
1.2 Industrialisasi Kehutanan dan Dampaknya pada Satwa Liar
Seiring dengan industrialisasi, teknologi penebangan pun berubah. Gergaji rantai, sistem kabel untuk transportasi kayu, dan pembangunan jalan-jalan hutan skala besar memungkinkan eksploitasi hingga ke wilayah-wilayah terpencil yang sebelumnya sulit dijangkau. Akibatnya, fragmentasi habitat beruang mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Populasi beruang yang tadinya terhubung dalam metapopulasi luas mulai terisolasi di kantong-kantong kecil, memicu perkawinan sedarah dan penurunan keragaman genetik.
Data dari Proyek Konservasi Beruang Hitam Shikoku mencatat bahwa pada periode ini, hutan-hutan di Shikoku, salah satu wilayah dengan tutupan hutan tertinggi di Jepang mengalami transformasi radikal. Saat ini, 60% hutan di Shikoku telah berubah menjadi hutan tanaman, persentase tertinggi di seluruh Jepang. Angka ini adalah puncak gunung es dari proses yang dimulai pada era Meiji.
2. Tragedi Sankebetsu (1915), Titik Balik Pemburuan Massal Beruang
Tidak ada peristiwa tunggal yang lebih membentuk persepsi masyarakat Jepang terhadap beruang selain Insiden Beruang Cokelat Sankebetsu (三毛別羆事件) di Hokkaido. Tragedi ini bukan hanya serangan beruang biasa; tapi episode paling berdarah dalam sejarah konflik manusia-satwa liar di Jepang dan menjadi katalis utama bagi pemburuan massal beruang secara nasional.
Untuk memahami tragedi ini, kita harus membayangkan Hokkaido pada awal abad ke-20. Pulau utara ini masih merupakan wilayah perbatasan yang baru dibuka untuk pemukiman oleh pemerintah Meiji. Para pemukim yang kebanyakan petani miskin dari Honshu yang mencari kehidupan lebih baik dengan mendirikan desa-desa kecil di tengah hutan belantara yang masih menjadi wilayah kekuasaan higuma atau beruang cokelat Ussuri.
Desa Sankebetsu Rokusensawa sekitar 30 kilometer dari pantai barat Hokkaido adalah salah satu pemukiman perintis tersebut. Para penduduknya hidup dalam gubuk-gubuk kayu sederhana dengan dinding tipis yang tidak mampu menahan serangan predator besar. Mereka membuka ladang jagung di tengah hutan menciptakan konflik kepentingan yang tak terhindarkan dengan beruang-beruang yang selama ribuan tahun menganggap wilayah itu sebagai rumah mereka.
2.1 Kronologi Serangan: Lima Hari Teror
Pada pertengahan November 1915, seekor beruang cokelat jantan berukuran raksasa muncul di rumah keluarga Ikeda. Kehadirannya membuat kuda milik keluarga tersebut panik dan beruang itu pergi setelah mencuri jagung hasil panen. Seminggu kemudian, pada 20 November, beruang yang sama muncul kembali. Khawatir akan keselamatan keluarga dan ternak mereka, kepala keluarga Ikeda memanggil dua pemburu Matagi dari desa tetangga. Putra keduanya bernama Kametaro ikut serta dalam perburuan.
Mereka berhasil menyergap dan menembak beruang tersebut ketika ia muncul untuk ketiga kalinya. Namun, tembakan mereka gagal membunuhnya. Beruang itu melarikan diri ke pegunungan. Keesokan paginya, mereka mengikuti jejak darah hingga ke Gunung Onishika, tapi badai salju memaksa mereka menghentikan pengejaran. Mereka berspekulasi bahwa beruang itu kini telah “belajar takut” pada manusia. Spekulasi ini terbukti menjadi kesalahan fatal.
Kemudian, pada 9 Desember 1915, sekitar pukul 10.30 pagi beruang yang sama muncul kembali di pemukiman. Kali ini targetnya adalah rumah keluarga Ota. Entah karena terlalu bersemangat atau salah perhitungan, beruang itu menabrak dinding rumah hingga roboh dan masuk ke dalam.
Di dalam rumah hanya ada Abe Mayu, istri dari keluarga Ota dan seorang bayi bernama Hasumi Mikio yang sedang dititipkan. Ketika mereka berteriak ketakutan, hal itu justru memicu agresivitas beruang. Dalam hiruk-pikuk serangan, bayi Mikio tersapu pukulan cakar, digigit kepalanya, dan meninggal seketika.
Mayu berusaha melawan dengan melempari beruang menggunakan kayu bakar, tapi usahanya sia-sia. Beruang itu menyeretnya keluar rumah dan masuk ke dalam hutan. Tragedi ini baru diketahui ketika seorang penebang kayu yang tinggal di rumah tersebut, Nagamatsu Yokichi yang kembali untuk makan siang .
Tiga puluh penduduk desa segera membentuk tim pencari. Mereka menemukan beruang itu di hutan dan melepaskan tembakan. Namun lagi-lagi, senjata mereka gagal membunuh beruang tersebut. Yang mereka temukan kemudian, di bawah tumpukan salju di kaki pohon cemara Sakhalin adalah sisa-sisa jasad Mayu dengan hanya kepala dan sebagian kakinya yang tersisa . Beruang itu telah menyembunyikan mayatnya sebagai persediaan makanan, karena ini perilaku yang umum pada beruang.
Keesokan harinya pada tanggal 10 Desember 1915, beruang itu telah merasakan daging manusia, dan seperti yang kemudian dikatakan oleh seorang dokter hewan setempat, “Setelah merasakan daging manusia, beruang kemungkinan tahu bahwa manusia bisa dimakan” . Ia menjadi pemangsa manusia.
Malam harinya sekitar pukul 8 malam, beruang itu kembali ke rumah keluarga Ota. Penduduk desa yang sudah bersiaga dengan senjata menyambutnya. Seseorang berhasil menembak beruang itu dan tim penjaga yang berjumlah 50 orang yang ditempatkan sekitar 300 meter dari rumah segera bergegas ke lokasi. Namun, ketika mereka tiba, beruang itu sudah menghilang.
Para penjaga lega karena tidak ada korban jiwa. Mereka kembali ke rumah keluarga Miyake di hilir sungai untuk makan malam dan beristirahat, yakin bahwa beruang itu telah diusir. Mereka tidak menyadari bahwa beruang itu yang lolos dari rumah Ota, justru bergerak menuju rumah keluarga Miyake yang kini tanpa penjagaan.
Di rumah keluarga Miyake, para wanita dan anak-anak sedang berlindung, menghabiskan malam di dekat perapian. Yayo, sang istri kepala keluarga Miyake Yasutaro sedang menyiapkan makanan dan menggendong putranya yang masih bayi di punggungnya. Tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh dari tanah. Sebelum sempat bereaksi, beruang itu merobek jendela dan menerjang masuk ke dalam rumah .
Kepanikan melanda. Tungku perapian terguling, api padam, lampu minyak jatuh, dan ruangan menjadi gelap gulita. Yayo berusaha melarikan diri ke luar tapi tersandung dan jatuh bersama putra keduanya, Yujiro. Beruang itu menyerangnya dan menggigit bayi Umekichi yang digendongnya .
Nagamatsu Yokichi (Odo) satu-satunya penjaga yang tersisa di rumah, berusaha menarik perhatian beruang dengan berlari ke ambang pintu. Beruang itu meninggalkan Yayo dan anak-anaknya dan mengejar Odo. Odo bersembunyi di balik perabotanetapi tetap terkena cakaran beruang di punggung bawahnya.
Sementara itu, beruang itu menghajar Kinzo, putra ketiga keluarga Miyake, dan Haruo, putra keempat keluarga Saito hingga tewas dalam satu pukulan. Ia juga menggigit Iwao, putra ketiga keluarga Saito dan menjatuhkannya ke lantai.
Dalam situasi mengerikan ini, Take dari istri Saito Ishigoro mengangkat kepalanya dan menarik perhatian beruang. Sadar bahwa ia menjadi target berikutnya, Take meratap memohon, “Tolong selamatkan bayi dalam perutku, tolong…! Oh… tidak…! Tidak…! Ah…! Ah… pergilah…!”. Namun, beruang itu tidak memedulikan permohonannya. Ia menyerang Take dengan kejam dan mulai memakannya dari bagian atas tubuhnya.
Ketika tim penjaga kembali ke desa, mereka mencium suasana tidak biasa. Yayo yang terluka parah merangkak menemui mereka, dan semua segera tahu apa yang telah terjadi di rumah keluarga Miyake. Mereka mengepung rumah, tapi ragu memasuki kegelapan. Dari dalam, mereka mendengar rintihan wanita yang sekarat dan suara beruang mengunyah tulang.
Yayo dengan putus asa menolak usulan untuk membakar rumah, berharap anak-anaknya mungkin masih hidup. Tim terbagi dua, yaitu sepuluh pemburu di pintu depan dan sisanya di belakang rumah. Ketika tim belakang berteriak dan mengancam, beruang itu muncul di depan para pemburu yang menunggu. Orang terdepan mencoba menembak, tapi lagi-lagi senjatanya macet. Beruang itu lolos sekali lagi.
Dengan obor dari kulit kayu birch putih, mereka memasuki rumah keluarga Miyake dan menyaksikan pemandangan mengerikan. Terdapat lautan darah, dua bayi yang tewas dengan kejam, dan mayat Take. Perut Take yang telah robek mengeluarkan janinnya, tapi anehnya beruang tidak memakannya, dan janin itu masih bergerak.
Dalam dua hari tersebut, beruang yang kemudian dikenal dengan nama Kesagake, nama yang diberikan karena pola bulu menyerupai selempang di bahunya telah membunuh enam orang. Jika janin Take ikut dihitung, total korban jiwa adalah tujuh nyawa. Tiga orang lainnya luka-luka, termasuk Iwao yang akhirnya meninggal akibat cederanya.
2.2 Perburuan dan Akhir dari Kesagake
Pemerintah setempat segera mengirimkan regu pemburu profesional. Yamamoto Heikichi, seorang pemburu beruang legendaris dipanggil untuk memimpin perburuan. Awalnya Yamamoto ragu, karena ia yakin beruang yang diidentifikasi sebagai pelaku sebenarnya telah terbunuh sebelum insiden Sankebetsu. Namun, penduduk desa bersikeras dan Yamamoto akhirnya setuju.
Pada 14 Desember 1915, Yamamoto berhasil melacak dan membunuh beruang tersebut. Ketika bangkainya diukur, terungkap bahwa Kesagake adalah monster sejati. Panjangnya sekitar 2,7 meter dan beratnya mencapai 380 kilogram. Dari perutnya dikeluarkan sisa-sisa tubuh manusia, konfirmasi tak terbantahkan bahwa inilah biang keladi teror.
2.3 Dampak Psikologis dan Budaya
Insiden Sankebetsu meninggalkan trauma kolektif yang mendalam. Desa Rokusensawa ditinggalkan oleh seluruh penduduknya dan menjadi kota hantu. Namun, yang lebih signifikan adalah dampaknya pada kesadaran nasional.
Seorang saksi mata berusia tujuh tahun, Okama Haruyoshi tumbuh menjadi pemburu beruang yang produktif. Terdorong oleh dendam, ia bersumpah akan membunuh sepuluh beruang untuk setiap korban insiden tersebut. Pada usia 62 tahun, ia telah membunuh 102 beruang. Setelah pensiun, ia berpartisipasi dalam pembangunan monumen peringatan untuk para korban.
Situs tragedi ini kini menjadi “tempat rekonstruksi insiden beruang cokelat Sankebetsu” yang dikelola oleh Museum Kota Tomamae. Pengunjung dapat melihat replika rumah bergaya periode tersebut dan patung beruang ukuran raksasa menjadi pengingat abadi akan keganasan alam liar.
Tragedi ini juga menginspirasi berbagai karya budaya, di antaranya adalah novel The Bear Wind (1965) karya Yukio Togawa, The Bear Storm (1977) karya Akira Yoshimura, film Yellow Fangs (1990) yang disutradarai Sonny Chiba, serta berbagai manga, dokumenter, dan drama.
Dalam kesadaran populer Jepang, Sankebetsu menjadi simbol bahwa beruang khususnya higuma ternyata sekadar binatang liar, tapi “iblis merah” yang mampu berubah menjadi pemangsa manusia kapan saja.
3. Era Showa: Perang, Rekonstruksi, dan Pemusnahan Sistematis
3.1 Perang Dunia II dan Deforestasi Total
Perang Pasifik (1941-1945) membawa gelombang baru eksploitasi sumber daya. Kebutuhan kayu untuk kapal, pesawat, dan infrastruktur militer mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hutan-hutan Jepang ditebang habis-habisan. Setelah kekalahan Jepang, periode rekonstruksi pascaperang justru memperparah keadaan. Kebutuhan akan kayu untuk membangun kembali kota-kota yang rata akibat bom semakin meningkatkan tekanan pada hutan .
3.2 Kebijakan “Perluasan Penghijauan” Pascaperang
Pemerintah Jepang pascaperang menerapkan kebijakan “perluasan penghijauan” (kakudai zorin) yang secara ironis justru memperburuk habitat beruang. Kebijakan ini bertujuan mengonversi hutan alam yang rusak akibat perang menjadi hutan tanaman produktif di antaranya monokultur sugi dan hinoki yang ditanam dalam skala masif.
Data dari Prefektur Kochi di Shikoku menggambarkan skala perubahan ini. Pada tahun 1975, puncak periode perluasan penghijauan, luas area penghijauan mencapai 4.470 hektar sekitar 49 kali lipat dibandingkan luas penghijauan tahun 2017 yang hanya 92 hektar. Hutan alam yang cocok sebagai habitat beruang hitam berkurang secara dramatis.
Dampaknya seperti dicatat oleh studi akademis adalah fragmentasi habitat yang parah dan penurunan ketersediaan makanan alami bagi beruang. Beruang yang kelaparan terpaksa turun ke pemukiman dan menciptakan lingkaran setan konflik yang terus berulang.
3.3 Sistem Hadiah Perburuan (Bounty System)
Jika deforestasi adalah pukulan pertama, maka sistem hadiah perburuan adalah pukulan knockout bagi populasi beruang di Jepang. Sejak tahun 1920-an, pemerintah daerah mulai menawarkan hadiah uang untuk setiap beruang yang dibunuh. Kebijakan ini didasarkan pada asumsi bahwa satu-satunya beruang yang baik adalah beruang yang mati dan solusi sederhana untuk konflik antara manusia dan beruang.
Pada periode pascaperang, perangkap kotak (box traps) diperkenalkan, memungkinkan penangkapan beruang secara lebih efisien. Jumlah beruang yang dibunuh melonjak drastis. Puncaknya pada tahun 1970-an, hadiah yang ditawarkan untuk seekor beruang mencapai 400.000 yen. Nilai yang sangat besar pada masa itu, setara dengan sekitar USD $3,308. Hadiah sebesar ini menciptakan insentif ekonomi yang sangat kuat bagi perburuan, bahkan di wilayah-wilayah yang tidak mengalami konflik serius dengan beruang.
Akibatnya, beruang hitam Asia menghilang dari seluruh wilayah Shikoku kecuali di Pegunungan Tsurugi. Populasi beruang cokelat di Hokkaido juga mengalami penurunan drastis, meskipun tidak separah sepupu mereka di selatan. Data menunjukkan bahwa spesies dengan tingkat reproduksi rendah seperti beruang sangat rentan terhadap tekanan perburuan intensif. Mereka tidak mampu mengganti populasi secepat mereka dibunuh.
3.4 Kepunahan Lokal, Tragedi Beruang Shikoku
Nasib paling tragis menimpa subspesies beruang hitam di Pulau Shikoku. Kombinasi deforestasi masif dan perburuan intensif selama era Meiji hingga Showa menyebabkan populasi mereka runtuh total. Pada tahun 1950-an, subspesies ini dinyatakan punah di alam liar.
Kepunahan lokal ini meskipun menyedihkan, menjadi titik balik kesadaran konservasi di Jepang. Untuk pertama kalinya, dari para ilmuwan, pembuat kebijakan, dan masyarakat luas menyadari bahwa sumber daya alam bisa saja terbatas. Bahkan hewan yang dianggap “hama” sekalipun bisa punah jika dieksploitasi secara berlebihan.
E. Zaman Heisei dan Reiwa, Dari Musuh Menjadi Spesies yang Dilindungi
Memasuki dekade 1990-an, Jepang berada di persimpangan jalan. Enam dekade sejak insiden Sankebetsu, empat dekade perburuan intensif dengan sistem hadiah, dan tiga dekade deforestasi masif pascaperang telah membawa populasi beruang ke titik terendah sepanjang sejarah.
Subspesies beruang Shikoku telah punah. Populasi beruang hitam di Semenanjung Kii dan wilayah barat Honshu terfragmentasi dalam wilayah-wilayah kecil yang terisolasi. Bahkan beruang cokelat Hokkaido yang dianggap simbol keganasan alam liar menunjukkan tanda-tanda penurunan populasi yang mengkhawatirkan.
Namun ironisnya, tepat ketika beruang berada di ambang kepunahan lokal di banyak wilayah, kesadaran publik mulai berubah. Gerakan lingkungan global, tekanan dari komunitas ilmiah, dan perubahan nilai pasca-modernisme perlahan menggeser persepsi: beruang tidak lagi semata-mata “hama nasional” yang harus dibasmi, tapi”spesies yang terancam” yang membutuhkan perlindungan. Selanjutnya pada berikut ini membahas secara detail dari era perlindungan spesies, kebangkitan populasi yang tak terduga, hingga krisis baru abad ke-21 yang memaksa Jepang merumuskan ulang hubungannya dengan sang raja hutan ini.
1. Landasan Hukum, Dari Perlindungan Menuju Pengelolaan
1.1 Undang-Undang Perlindungan Satwa Liar dan Perburuan (Wildlife Protection and Hunting Law)
Sistem perlindungan satwa liar Jepang sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Satwa Liar dan Perburua, menyediakan berbagai instrumen untuk konservasi. Undang-undang ini mengklasifikasikan mamalia dan burung ke dalam beberapa kategori:
– Hewan Buruan (Game Species)
Menariknya, baik beruang cokelat (brown bear) maupun beruang hitam Asia (Asian black bear) masuk dalam kategori “hewan buruan” bersama dengan rusa shika, babi hutan, kelinci Jepang, dan berbagai spesies unggas. Status ini berarti beruang secara legal dapat diburu, tapi dengan regulasi ketat mengenai musim berburu, kuota, dan metode yang diizinkan.
– Hewan yang Dilindungi (Protected Species)
Untuk spesies yang tidak termasuk dalam kategori hewan buruan, penangkapan dan perburuan dilarang total kecuali dengan izin khusus untuk tujuan penelitian ilmiah, pengendalian populasi yang meledak, atau perlindungan jiwa manusia .
Klasifikasi ganda ini mencerminkan ambivalensi kebijakan konservasi Jepang, yaitu beruang diakui sebagai bagian dari keanekaragaman hayati yang perlu dilestarikan, tapi tetap diperlakukan sebagai “hama potensial” yang pengelolaannya memerlukan instrumen perburuan.
1.2 Buku Data Merah Jepang (Red Data Book of Japan)
Tonggak penting dalam kesadaran konservasi adalah penerbitan Buku Data Merah Jepang (Red Data Book of Japan) pada tahun 1991 oleh Badan Lingkungan Hidup. Buku ini yang disusun berdasarkan studi intensif sejak 1986 mendokumentasikan status keterancaman flora dan fauna Jepang.
Untuk mamalia, buku ini mengidentifikasi 4 spesies punah (Extinct), 11 spesies kritis (Critically Endangered), 20 spesies terancam (Endangered), 16 spesies rentan (Vulnerable), serta puluhan spesies lainnya dalam kategori mendekati terancam atau kekurangan data .
Beruang hitam di beberapa wilayah terutama populasi terisolasi di Semenanjung Kii dan Shikoku Barat masuk dalam daftar spesies yang memprihatinkan. Penerbitan buku ini selain menjadi latihan akademis, tapi menjadi dasar kebijakan konservasi nasional dan alat advokasi bagi para pegiat lingkungan untuk mendesak perlindungan yang lebih kuat.
1.3 Undang-Undang Konservasi Spesies Terancam Punah (1992)
Puncak dari arus baru konservasi adalah pengesahan Undang-Undang Konservasi Spesies Terancam Punah dari Fauna dan Flora Liar pada tahun 1992 . Undang-undang ini mengakui “pentingnya spesies fauna dan flora liar dalam ekosistem dan nilai esensialnya bagi kemanusiaan“. Tujuannya adalah memastikan konservasi spesies terancam punah dan berkontribusi pada pelestarian lingkungan alam bagi generasi sekarang dan masa depan.
Ketentuan kunci undang-undang ini meliputi :
– Penetapan Spesies Terancam Nasional (National Endangered Species)
Spesies yang diketahui ada di Jepang dan terancam punah ditetapkan sebagai “Spesies Terancam Nasional”. Untuk spesies ini, perburuan, pengumpulan, pembunuhan, atau perusakan dilarang keras, kecuali dengan izin khusus dari Direktur Jenderal Badan Lingkungan Hidup untuk tujuan tertentu.
– Larangan Transfer
Transfer individu dan organ Spesies Terancam Nasional baik utuh maupun olahan dilarang baik untuk tujuan komersial maupun non-komersial.
– Konservasi Habitat
Habitat alami Spesies Terancam Nasional ditetapkan sebagai “Kawasan Konservasi Habitat Alami.” Di “zona perlindungan,” aktivitas tertentu seperti konstruksi atau penebangan pohon dibatasi.
– Rehabilitasi Habitat dan Pemulihan Populasi
Pemerintah dapat mempromosikan rehabilitasi habitat alami dan pemulihan populasi Spesies Terancam Nasional bekerja sama dengan kementerian lain, pemerintah daerah, dan LSM.
Meskipun beruang hitam dan cokelat secara umum tidak masuk dalam kategori “Spesies Terancam Nasional” di seluruh wilayah, undang-undang ini memberikan kerangka kerja untuk perlindungan populasi-populasi lokal yang paling terancam, serta menetapkan preseden penting bahwa satwa liar memiliki hak eksistensi yang diakui negara.
2. Kebangkitan Populasi dan Paradoks Konservasi
2.1 Perluasan Habitat yang Tak Terduga
Salah satu konsekuensi paling tak terduga dari kebijakan konservasi dan perubahan demografis adalah perluasan habitat beruang secara dramatis. Menurut data yang dikutip oleh Koike Shinsuke, profesor di Tokyo University of Agriculture and Technology sekaligus ketua Japan Bear Network, selama 40 tahun menjelang 2018, distribusi beruang di Jepang berkembang hingga hampir dua kali lipat ukuran sebelumnya .
Fenomena ini disebabkan oleh kombinasi faktor di antaranya adalah:
– Perlindungan Hukum
Penghentian sistem hadiah perburuan dan penetapan kawasan lindung memberi ruang bagi populasi beruang untuk pulih.
– Reurbanisasi dan Penuaan Populasi
Ini adalah faktor kunci yang sering diabaikan. Ketika populasi manusia di pedesaan menyusut dan menua, desa-desa ditinggalkan, lahan pertanian terbengkalai, dan hutan secara efektif “merebut kembali” pemukiman manusia yang ditinggalkan Pohon kesemek dan kastanye yang tidak terawat di dusun-dusun yang ditinggalkan menjadi sumber makanan tak terduga yang menarik beruang langsung ke pemukiman.
Seorang pakar dari HKU Business School menggambarkan fenomena ini sebagai runtuhnya “buffer zone” tradisional yang disebut Satoyama. Satoyama adalah lanskap sosial-ekologis yang selama berabad-abad menjadi penyangga antara hutan dan permukiman manusia. Ketika satoyama ini terbengkalai dan ditumbuhi semak belukar, ia justru menjadi habitat yang menarik bagi beruang bukan penghalang.
2.2 Paradoks Keberhasilan Konservasi
Keberhasilan konservasi yang tak terduga ini menciptakan paradoks yang menyakitkan, yaitu beruang kini hadir dalam jumlah yang lebih besar dari sebelumnya, sementara habitat mereka belum sepenuhnya pulih dan kesiapan masyarakat untuk hidup berdampingan masih minim.
Sebuah studi akademis dari MDPI mencatat bahwa peningkatan populasi beruang dikombinasikan dengan gagal panen kacang pohon di pegunungan, memaksa beruang untuk “turun gunung” mencari makanan alternatif dan menemukannya dalam bentuk kebun buah yang ditinggalkan, tempat sampah yang tidak terkelola, dan ternak yang tidak dijaga.
Hasilnya adalah lonjakan konflik manusia-beruang yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tahun fiskal 2023 (hingga Maret 2024) mencatat 219 korban akibat serangan beruang, jumlah tertinggi yang pernah tercatat sepanjang sejarah Jepang. Enam di antaranya meninggal dunia. Dari April hingga Juli 2025 saja, sudah ada 55 kasus baru yang menunjukkan angka peningkatan yang berlanjut.
3. Krisis 2023-2025, Ketika Beruang Datang ke Kota
3.1 Skala Darurat Nasional
Tahun 2025 menjadi titik baru dalam konflik manusia-beruang. Pada Oktober 2025, jumlah korban tewas mencapai 13 orang yang menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah. Insiden-insiden mengerikan terjadi di berbagai wilayah:
- Seorang wanita di Prefektur Iwate tewas diserang beruang hitam saat berada di rumahnya sendiri.
- Seorang pria pengantar koran di Hokkaido tewas diterkam beruang cokelat.
- Beruang dilaporkan memasuki area bandara menyebabkan penutupan sementara landasan pacu.
- Penampakan beruang di 34 prefektur (di luar Hokkaido, Kyushu, dan Okinawa) mencapai 20.792 kasus antara April dan September 2025 yang melebihi total tahun sebelumnya dan mendekati rekor tertinggi tahun 2023.
Kementerian Lingkungan Hidup serta Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan secara resmi mendeklarasikan situasi ini sebagai “keadaan darurat yang tidak normal” dan mengalokasikan sumber daya darurat untuk merespons.
3.2 Akar Krisis, Gagal Panen dan Perubahan Iklim
Analisis ilmiah mengidentifikasi dua penyebab utama krisis ini, yaitu:
– Penyebab Ekologis Jangka Pendek
Musim panas 2025 mencatat suhu tertinggi dalam sejarah, disertai kekeringan parah yang menyebabkan gagal panen besar-besaran pada pohon ek dan beech yang menjadi sumber makanan utama beruang sebelum hibernasi. Beruang yang kelaparan terpaksa menjelajah jauh melampaui wilayah jelajah normal mereka untuk mencari makanan.
– Penyebab Struktural Jangka Panjang
Depopulasi pedesaan selama puluhan tahun telah menciptakan situasi di mana tidak ada lagi “tekanan budaya” yang membuat beruang takut pada manusia. Secara historis, kehadiran manusia yang konsisten di pegunungan melalui perburuan, kehutanan, dan aktivitas terkait yang menciptakan ketegangan yang mengkondisikan beruang untuk menghindari manusia. Hari ini tekanan itu hampir sepenuhnya hilang.
4. Respon Legislatif, Revisi Undang-Undang 2024-2025
Menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya, pemerintah Jepang bergerak cepat dengan serangkaian revisi legislatif fundamental.
4.1 Penetapan “Satwa Liar yang Dikelola” (April 2024)
Pada 16 April 2024, Kementerian Lingkungan Hidup menetapkan beruang cokelat dan beruang hitam Asia sebagai “satwa liar yang ditetapkan untuk dikelola” (specified managed wildlife) . Penetapan ini memiliki implikasi penting, karena pemerintah pusat kini dapat memberikan subsidi nasional untuk operasi penangkapan beruang di daerah-daerah yang mengalami konflik parah.
Sebelumnya, status ini hanya diberikan kepada babi hutan dan rusa shika. Dua spesies yang dianggap sebagai hama pertanian utama. Dimasukkannya beruang ke dalam kategori ini menandai perubahan fundamental dalam kebijakan yaitu beruang secara resmi diakui sebagai spesies yang memerlukan pengelolaan populasi aktif, bukan hanya perlindungan pasif.
4.2 Amandemen Pasal 38, Rezim Penembakan Darurat (April 2025)
Pemicu langsung amandemen berikutnya adalah keputusan Pengadilan Tinggi Sapporo pada 18 Oktober 2024. Dalam kasus tersebut, seorang pemburu yang melepaskan tembakan di area pemukiman untuk melindungi warga dari serangan beruang dinyatakan telah bertindak melanggar hukum, dan izin kepemilikkan senjatanya dicabut.
Keputusan ini memicu kemarahan luas, terutama di Hokkaido di mana pemburu merasa bahwa mereka ditempatkan dalam posisi mustahil seperti diminta melindungi masyarakat tapi dihukum jika menggunakan senjata. Tekanan publik memaksa pemerintah bertindak.
Pada April 2025, amandemen Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Satwa Liar disahkan. Ketentuan baru ini memungkinkan di antaranya:
- Pemerintah daerah (walikota) memberikan otorisasi untuk “penembakan darurat” (emergency shooting) ketika hewan berbahaya memasuki daerah berpenduduk.
- Penembakan dapat dilakukan bahkan sebelum terjadi bahaya langsung, cukup dengan kekhawatiran bahwa hewan tersebut akan memasuki area pemukiman atau diperlukan respons mendesak untuk mencegah cedera pada manusia.
- Kondisi tertentu harus dipenuhi seperti hewan dianggap tidak dapat ditangkap dengan cepat tanpa senjata api, dan tidak ada risiko warga terjebak di garis tembak.
- Walikota dapat membatasi lalu lintas dan mengeluarkan perintah evakuasi untuk mengamankan keselamatan warga.
- Pemerintah daerah memberikan kompensasi jika bangunan rusak akibat peluru.
Amandemen ini mulai berlaku pada 1 September 2025, tepat sebelum musim gugur ketika beruang paling aktif.
4.3 “Pemburu Pemerintah” dan Keterlibatan Polisi (November 2025)
Meskipun amandemen pada April 2025 memberikan landasan hukum, implementasinya menghadapi hambatan besa seperti “siapa yang akan menembak?”. Populasi pemburu Jepang telah merosot tajam dari puncak 500.000 orang pada 1970-an menjadi kurang dari 100.000 orang pada 2025 dengan usia rata-rata mencapai 68 tahun yang disebut “pasukan perak” (silver army).
Pemerintah merespons dengan dua inisiatif, yaitu:
– Program “Pemburu Pemerintah” (Government Hunter)
Pemerintah daerah mulai merekrut dan mempekerjakan individu berlisensi berburu sebagai pegawai publik yang bertugas khusus merespons kemunculan satwa liar berbahaya. Program ini menjamin pendapatan tetap dan perlindungan asuransi, mengatasi masalah ekonomi yang selama ini membuat perburuan tidak menarik.
– Keterlibatan Pasukan Penjinak Huru-Hara (Riot Police)
Pada 6 November 2025, Komisi Keamanan Publik Nasional merevisi peraturan untuk memungkinkan petugas polisi bersenjata senapan menembak dan mengeliminasi beruang liar yang muncul di dekat pemukiman. Revisi ini mulai berlaku pada 13 November 2025.
Tim penembakan polisi terdiri dari empat anggota, yaitu seorang supervisor lokal, dua petugas pasukan penjinak huru-hara bersenjata senapan, dan seorang petugas penghubung yang berkoordinasi dengan entitas terkait. Prefektur Iwate dan Akita adalah dua wilayah dengan insiden tertinggi masing-masing menerima dua tim.
Walikota Yuzawa, Prefektur Akita bernama Kazuo Sato menyambut baik keputusan ini, “Di saat laporan penampakan beruang semakin sering, ini akan mengurangi beban anggota klub berburu lokal yang melakukannya sambil tetap bekerja“. Sekretaris Jenderal klub berburu di Ichinoseki, Tokio Chiba (77), menambahkan, “Klub berburu kami memiliki sedikit anggota muda, jadi kehadiran petugas polisi sangat membantu“.
Namun kekhawatiran juga muncul. Ketua Dainihon Ryoyukai, Sasaki Yohei, memperingatkan bahwa menembak beruang tidak mudah, “Jika tembakan petugas meleset, beruang mungkin menyerang balik. Dan bahkan jika peluru mengenai sasaran, beruang masih bisa menyerang. Petugas akan memerlukan pelatihan yang signifikan“. Chiba juga skeptis, “Saya rasa mereka tidak akan bisa langsung menembak beruang yang bergerak“.
5. Paket Kebijakan Komprehensif Pemerintah (November 2025)
Pada 14 November 2025, pemerintah Jepang mengumumkan paket kebijakan komprehensif untuk menangani krisis beruang. Dipimpin oleh Sekretaris Kabinet Kihara Minoru, paket ini terdiri dari tiga kategori:
A. Langkah Darurat (Emergency Steps)
- Memobilisasi pensiunan polisi dan personel Pasukan Bela Diri untuk bertugas sebagai pemburu.
- Memanfaatkan program baru yang memungkinkan unit polisi bersenjata senapan terlibat dalam operasi eliminasi.
- Menyebarluaskan pengetahuan tentang sistem yang memungkinkan penggunaan senjata api darurat oleh pemburu di area padat penduduk atas kebijakan pejabat lokal.
B. Langkah Jangka Pendek (Short-term Measures)
- Meningkatkan imbalan untuk penangkapan beruang.
- Membantu pemerintah daerah mempekerjakan orang dengan lisensi berburu dengan menyubsidi biaya gaji dan peralatan.
- Memperluas penggunaan pagar listrik.
C. Langkah Jangka Menengah (Mid-term Initiatives)
- Mengurangi jumlah beruang liar.
- Merevisi pedoman untuk mengeliminasi beruang dari komunitas residensial untuk memisahkan wilayah manusia dan beruang.
Kihara meminta para menteri untuk terus bekerja memastikan keselamatan publik, dan menyusun peta jalan pada akhir Maret yang menguraikan target penangkapan beruang dan bagaimana pemburu pemerintah daerah harus ditempatkan, wilayah demi wilayah .
6. Tantangan Struktural, Kapasitas Pemerintah Daerah
Salah satu tantangan terbesar yang terungkap oleh krisis ini adalah ketidakmampuan teknis pemerintah daerah dalam mengelola satwa liar. Koike Shinsuke mengungkapkan fakta mengejutkan, yaitu kurang dari 6% pejabat di posisi terkait pengelolaan satwa liar di pemerintah prefektur memiliki pelatihan formal dalam ilmu satwa liar. Di tingkat kota, persentasenya pasti lebih rendah lagi.
Akibatnya, ketika konflik terjadi di lapangan, staf lokal tidak memiliki keahlian untuk merespons secara efektif. Mereka harus bergantung pada prefektur yang mungkin juga kekurangan ahli mengakibatkan respons yang tertunda dan tidak efektif. Koike menyerukan model yang lebih dekat dengan Amerika Utara seperti menempatkan profesional satwa liar terlatih di seluruh prefektur dan memungkinkan pengambilan keputusan cepat berbasis sains .
7. Kontroversi Etis, Antara Perlindungan dan Eliminasi
Revisi undang-undang dan kebijakan eliminasi aktif tidak luput dari kontroversi. Kritikus menunjukkan beberapa masalah:
A. Apakah Eliminasi Solusi atau Pengalihan Isu?
Beberapa ahli berpendapat bahwa fokus pada penembakan mengalihkan perhatian dari akar masalah seperti hilangnya satoyama dan tidak adanya pengelolaan lanskap proaktif. Profesor Minoguchi menekankan bahwa “penembakan” tidak selalu berarti “pembunuhan” dalam beberapa kasus, metode tanpa mematikan seperti penangkapan dan pelepasan kembali ke pegunungan dalam dapat dilakukan.
– Perlunya Teknologi Alternatif
Sebuah editorial di JAPAN Forward menyerukan pengembangan metode alternatif untuk menangani beruang berbahaya, memanfaatkan kemajuan pesat dalam teknologi seperti drone dan AI. Kementerian Lingkungan didesak untuk membentuk gugus tugas yang terdiri dari pemerintah daerah, kepolisian, dan perusahaan swasta untuk mendorong pengembangan teknologi tersebut dan reformasi hukum yang diperlukan.
– Pendidikan Publik yang Hilang
Koike Shinsuke mengkritik keras kurangnya pendidikan publik yang akurat. Media, menurutnya, telah memberitakan insiden beruang secara sensasional, sementara internet dibanjiri klaim tidak berdasar, “tips” tidak efektif, dan disinformasi langsung. Ini tidak hanya memicu kecemasan publik, tapi juga membahayakan keselamatan ketika warga bertindak berdasarkan informasi yang salah, mereka mungkin secara tidak sengaja memprovokasi situasi berbahaya.
Pemerintah, tegasnya, harus memimpin upaya pendidikan publik yang berkelanjutan dan proaktif berbagi informasi akurat tentang ekologi beruang, praktik keselamatan, dan respons yang tepat .
8. Jalan ke Depan, Menuju Koeksistensi di Abad ke-21
Profesor Koike menawarkan visi jangka panjang yang ia sebut “koeksistensi” (coexistence) yang selain pengelolaan konflik, tapi hubungan baru yang disengaja antara manusia dan beruang. Visi ini membutuhkan:
– Pemantauan Populasi dan Manajemen Adaptif
Selama beberapa dekade, manajemen beruang di banyak wilayah Jepang berfokus pada pemulihan dengan merespons ketakutan akan kepunahan lokal di tahun 1990-an. Namun, berapa wilayah kini harus mempertimbangkan sebaliknya dengan membatasi atau bahkan mengurangi jumlah beruang dan menyusutkan distribusi mereka .
Keputusan semacam itu memerlukan pemantauan ilmiah jangka panjang yang andal, sesuatu yang saat ini tidak dimiliki sebagian besar wilayah. Pembuat kebijakan membutuhkan data tentang struktur populasi, keragaman genetik, distribusi, dan tren. Di atas fondasi itu, otoritas harus mempraktikkan manajemen adaptif dengan terus-menerus menyesuaikan kebijakan dan intervensi berdasarkan hasil pemantauan .
– Reformasi Hukum dan Pendanaan Jangka Panjang
Banyak langkah yang diusulkan tidak dapat diimplementasikan di bawah kerangka hukum dan administratif saat ini. Anggaran, staf, wewenang, dan struktur operasional semuanya tidak mencukupi untuk skala tantangan yang dihadapi .
Jepang harus menghadapi kebenaran pahit, tanpa alat hukum baru, sistem tata kelola baru, dan aliran pendanaan yang terjamin, manajemen beruang modern tidak dapat berhasil. Skala insiden baru-baru ini harus menjadi peringatan. Kita saat ini mencoba mengelola konflik satwa liar abad ke-21 dengan institusi abad ke-20 .
– Rehabilitasi “Tekanan Budaya”
Salah satu wawasan paling mendalam dari analisis Koike adalah tentang pentingnya “tekanan budaya”. Kehadiran manusia yang konsisten di pegunungan yang mengondisikan beruang untuk menghindari manusia. Secara historis, tekanan ini diciptakan melalui perburuan, kehutanan, dan aktivitas terkait. Hari ini tekanan itu hampir sepenuhnya hilang.
Kita mungkin perlu menghidupkan kembali bentuk-bentuk aversive conditioning misalnya, secara aktif mengusir beruang dari zona penyangga untuk membangun kembali pemahaman bahwa manusia tidak boleh didekati. Ini bukan tentang kebencian atau kekejaman, tapi tentang menetapkan batas yang jelas antara dua spesies yang harus berbagi ruang.
F. Beruang dalam Budaya Populer Jepang Modern
Di luar konflik fisik, beruang juga menemukan jalannya ke dalam hati masyarakat Jepang melalui medium yang sama sekali berbeda: budaya pop.
1. Kumamon, Diplomat Beruang Tercinta
Siapa sih yang tidak kenal Kumamon? Maskot beruang hitam pipi merah dari Prefektur Kumamoto ini adalah fenomena global. Dirancang pada tahun 2010, Kumamon tidak memiliki kemiripan sedikit pun dengan tsukinowaguma yang menakutkan. Maskot ini imut, konyol, dan sering melakukan gerakan tari yang lucu.
Kumamon berhasil melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh kebijakan konservasi selama puluhan tahun, yaitu membuat orang Jepang jatuh cinta pada beruang. Meskipun ini adalah representasi yang sangat disterilkan, popularitas Kumamon membuka jalan bagi kampanye kesadaran lingkungan.
2. Rilakkuma, Filosofi Kemalasan
Lalu ada Rilakkuma, karakter beruang boneka malas yang diciptakan oleh Aki Kondo pada tahun 2003. Nama Rilakkuma adalah gabungan dari “rirakusu” (relaksasi) dan “kuma” (beruang). Rilakkuma tidak melakukan apa-apa selain bermalas-malasan, menonton TV, dan makan pancake.
Dalam masyarakat Jepang yang terkenal dengan etos kerja keras, Rilakkuma menjadi simbol perlawanan yang manis. Ini adalah bentuk lain dari domestikasi simbol beruang dari dewa yang menakutkan menjadi teman tidur yang nyaman.
G. Posisi Beruang di Jepang Kontemporer, Antara Kasih Sayang dan Ketakutan
Lalu, di mana posisi beruang di Jepang hari ini? Jawabannya adalah di ambang pintu.
Secara budaya, masyarakat Jepang memang terpolarisasi. Generasi muda yang tumbuh dengan Kumamon dan Rilakkuma cenderung memiliki pandangan positif atau netral terhadap beruang. Namun, bagi masyarakat pedesaan, terutama di wilayah Tohoku dan Hokkaido, beruang adalah ancaman nyata yang membunuh ternak dan mengancam nyawa manusia.
Pemerintah daerah kini menerapkan kebijakan “zona penyangga”. Desa-desa dipasangi pagar listrik, tempat sampah tahan beruang didistribusikan, dan tim peringatan dini dibentuk. Namun, solusi jangka panjang masih belum ada. Apakah kita harus mengembalikan hutan seperti sedia kala, atau haruskah kita menerima bahwa konflik ini akan terus berlanjut?
Sejarah beruang di Jepang adalah cermin dari sejarah lingkungan Jepang itu sendiri. Ketika manusia masih sedikit dan hutan masih luas, beruang adalah dewa. Ketika manusia mulai mendominasi, beruang menjadi musuh. Ketika hutan menyusut, beruang menjadi korban. Dan kini, ketika kita sadar bahwa alam tidak dapat terus dieksploitasi, beruang menjadi simbol konservasi.
Di era perubahan iklim dan kepunahan massal ini, kita membutuhkan kembali filosofi Iyomante. Bukan untuk mengorbankan beruang, tapi untuk mengorbankan ego manusia. Kita harus mengakui bahwa pulau-pulau indah ini bukan milik kita sepenuhnya. Dari Hokkaido yang dingin hingga hutan Shikoku yang sunyi, jejak kaki beruang telah ada jauh lebih lama dari jejak sandal jerami manusia.
Dan jika kita mau mendengar, di balik gemuruh sungai dan desau angin di puncak gunung, masih terdengar bisikan lembut dari Kimun Kamuy, sang dewa hutan yang setia menjaga rumah leluhurnya, menanti apakah manusia hari ini akan menjadi tetangga yang bijaksana, atau justru perusak yang serakah.
Masa depan beruang di Jepang tidak ditentukan oleh jumlah undang-undang yang disahkan, tapi oleh kemauan kolektif untuk berbagi ruang. Ini menjadi pelajaran yang tidak hanya relevan bagi Jepang, tapi bagi kita di seluruh dunia.
Nah, cukup sekian yang bisa Pandai Kotoba berikan mengenai beruang dalam sejarah dan budaya Jepang dari sang Dewa Hutan dan simbol konservasi modern. Jika Minasan ingin tahu tentang budaya Jepang lainnya, di website ini banyak informasinya lho, Ada satu rekomendasinya nih: Noppe, Mengenal Hidangan Rebus Khas Niigata yang Lezat. Klik untuk membacanya ya. Sampai jumpa di artikel selanjutnya!


