Nanakorobi Yaoki: Filosofi Pantang Menyerah dalam Budaya Jepang
Dalam kehidupan sehari-hari, orang Jepang dikenal memiliki semangat juang dan ketekunan yang luar biasa. Nilai ini tidak hanya terlihat dalam dunia kerja atau pendidikan, tetapi juga tercermin dalam bahasa mereka, terutama melalui kotowaza (ことわざ) — peribahasa tradisional yang mengandung kebijaksanaan hidup.
Salah satu kotowaza yang paling terkenal dan sering dijadikan motivasi adalah 「七転び八起き」(nanakorobi yaoki), yang secara harfiah berarti “jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali.”Ungkapan ini menggambarkan sikap pantang menyerah, terus bangkit setiap kali menghadapi kegagalan, dan melangkah maju tanpa kehilangan semangat.
Bagi masyarakat Jepang, nanakorobi yaoki bukan sekadar kata mutiara, tetapi sebuah prinsip hidup yang diajarkan sejak kecil bahwa seberapa banyak pun seseorang jatuh, yang penting adalah keberaniannya untuk bangkit lagi.
Makna Harfiah dan Kiasan 「七転び八起き」(Nanakorobi Yaoki)
Secara harfiah, ungkapan 「七転び八起き」 (nanakorobi yaoki) terdiri dari:
- 七 (nana) = tujuh
- 転び (korobi) = jatuh
- 八 (ya) = delapan
- 起き (oki) = bangkit
Jadi, arti literalnya adalah “jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali.”
Namun, makna kiasan dari kotowaza ini jauh lebih dalam. Ia melambangkan semangat pantang menyerah, keteguhan hati, dan kemauan untuk terus bangkit walaupun sering gagal. Tidak peduli seberapa banyak seseorang menghadapi rintangan atau jatuh dalam hidup, yang penting adalah keberaniannya untuk berdiri kembali dan terus melangkah maju.
Ungkapan ini mengajarkan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses menuju kesuksesan. Dengan setiap “jatuh,” seseorang belajar dan tumbuh lebih kuat. Itulah filosofi yang terkandung dalam 「七転び八起き」— semangat untuk tidak menyerah dan terus bangkit apa pun yang terjadi.

Asal-usul dan Sejarah Ungkapan 「七転び八起き」(Nanakorobi Yaoki)
Ungkapan 「七転び八起き」(nanakorobi yaoki) sudah ada sejak zaman kuno di Jepang dan dipercaya berakar dari ajaran Buddhisme serta semangat samurai yang menjunjung tinggi keteguhan hati.
Dalam ajaran Buddha, kehidupan dianggap sebagai siklus jatuh dan bangun, di mana manusia terus belajar melalui penderitaan dan kesalahan. Setiap kali seseorang “jatuh” dalam arti mengalami kegagalan atau kesulitan, ia memiliki kesempatan untuk “bangkit” dan mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Filosofi ini kemudian melahirkan pepatah yang menekankan pentingnya ketabahan dan kebangkitan moral setelah kejatuhan.
Selain itu, dalam zaman samurai (periode Edo), semangat pantang menyerah menjadi bagian penting dari kode kehormatan bushidō (武士道). Para samurai diajarkan untuk tetap tegar dan tidak takut gagal, karena keberanian sejati bukan berarti tidak pernah jatuh, melainkan kemampuan untuk bangkit kembali setelah kejatuhan.
Seiring waktu, 「七転び八起き」 menjadi bagian dari budaya Jepang yang diajarkan kepada anak-anak, digunakan dalam pendidikan, dan sering muncul dalam karya sastra, pidato, serta kehidupan sehari-hari. Hingga kini, peribahasa ini tetap menjadi simbol kuat dari semangat pantang menyerah dan daya juang masyarakat Jepang.
Nilai Filosofis dalam Kehidupan Sehari-hari
Kotowaza 「七転び八起き」(nanakorobi yaoki) bukan hanya sekadar pepatah, tetapi juga mencerminkan filosofi hidup masyarakat Jepang yang sangat menghargai ketekunan, kesabaran, dan kemampuan untuk terus berjuang menghadapi kesulitan. Nilai-nilai ini tampak dalam berbagai aspek kehidupan mereka dari sekolah, tempat kerja, hingga hubungan sosial.
Dalam dunia pendidikan, siswa di Jepang diajarkan bahwa gagal dalam ujian atau kompetisi bukanlah hal yang memalukan, asalkan mereka mau mencoba lagi. Guru sering menekankan pentingnya usaha berulang (doryoku 努力) dan semangat untuk tidak menyerah (akiramenai kokoro 諦めない心).
Di dunia kerja, semangat nanakorobi yaoki terlihat dari etos kerja orang Jepang yang disiplin dan tangguh. Mereka memandang kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri, bukan sebagai akhir dari perjalanan. Hal ini juga terlihat dalam budaya perusahaan Jepang yang menghargai proses, bukan hanya hasil akhir.
Sementara dalam kehidupan pribadi, peribahasa ini mengajarkan pentingnya menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan mulus. Setiap orang akan menghadapi masa sulit, namun yang membedakan adalah kemauan untuk bangkit setelah jatuh.
Dengan kata lain, 「七転び八起き」 menanamkan pesan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tidak pernah gagal, tetapi pada kemampuan untuk terus berdiri setelah setiap kejatuhan. Filosofi inilah yang menjadi dasar dari ketangguhan batin dan karakter kuat masyarakat Jepang hingga kini.
Contoh Penggunaan dalam Kalimat 「七転び八起き」(Nanakorobi Yaoki)
- たとえ失敗しても、七転び八起きの気持ちで頑張ろう。(Tatoe shippai shitemo, nanakorobi yaoki no kimochi de ganbarou. ) – Meskipun gagal, mari berjuang dengan semangat pantang menyerah.
- 人生は七転び八起きだ。大事なのは、何度でも立ち上がること。(Jinsei wa nanakorobi yaoki da. Daiji na no wa, nando demo tachiagaru koto.) – Hidup itu jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali. Yang penting adalah terus bangkit setiap kali terjatuh.
- 彼は何度も失敗したけれど、七転び八起きで夢を叶えた。(Kare wa nando mo shippai shita keredo, nanakorobi yaoki de yume o kanaeta. )- Dia gagal berkali-kali, tapi dengan semangat pantang menyerah, ia berhasil meraih mimpinya.
- 七転び八起きの精神は、日本人の心を表している。(Nanakorobi yaoki no seishin wa, Nihonjin no kokoro o arawashite iru.) -Semangat “jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali” mencerminkan hati dan jiwa orang Jepang.
- どんなに辛くても、七転び八起きで前に進もう。(Donna ni tsurakute mo, nanakorobi yaoki de mae ni susumou.) – Seberat apa pun hidup ini, mari terus melangkah maju dengan semangat pantang menyerah.

Perbandingan dengan Peribahasa Indonesia
Peribahasa Jepang 「七転び八起き」(nanakorobi yaoki) memiliki makna yang sangat dekat dengan beberapa peribahasa Indonesia yang menekankan semangat pantang menyerah dan keteguhan hati dalam menghadapi kegagalan.Berikut beberapa perbandingan yang relevan:
1. “Gagal sekali, bangkit seribu kali.”
➤ Sama seperti nanakorobi yaoki, peribahasa ini menggambarkan bahwa seberapa sering pun kita gagal, yang penting adalah terus bangkit dan mencoba lagi.
2. “Kegagalan adalah awal dari keberhasilan.”
➤ Menunjukkan bahwa kegagalan bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian dari proses belajar menuju kesuksesan makna yang sejalan dengan filosofi Jepang tentang belajar dari kesalahan.
3. “Tak ada gading yang tak retak.”
➤ Mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna; setiap orang bisa gagal, tapi yang utama adalah bagaimana ia memperbaiki diri setelahnya.
4. “Barang siapa tekun, ia akan menuai hasil.”
➤ Sejalan dengan semangat nanakorobi yaoki, peribahasa ini menekankan pentingnya ketekunan (gambaru 精進) dan konsistensi dalam berjuang mencapai tujuan.
Pelajaran Moral dari 「七転び八起き」(Nanakorobi Yaoki)
Peribahasa 「七転び八起き」(nanakorobi yaoki) menyimpan banyak pelajaran berharga tentang keteguhan hati, ketekunan, dan kekuatan untuk terus bangkit dalam menghadapi rintangan hidup. Ungkapan sederhana ini mengandung makna mendalam yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.Berikut beberapa pelajaran moral yang dapat kita ambil dari nanakorobi yaoki:
1.Jangan Takut Gagal
Kegagalan bukan akhir dari segalanya, tetapi bagian dari proses menuju kesuksesan. Orang yang sukses bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, melainkan yang berani mencoba lagi setelah jatuh.
2. Bangkit Lebih Kuat dari Sebelumnya
Setiap kejatuhan adalah kesempatan untuk belajar. Dengan bangkit, kita tidak hanya melanjutkan perjalanan, tetapi juga menjadi pribadi yang lebih tangguh dan bijak.
3.Konsistensi dan Ketekunan adalah Kunci
Tidak cukup hanya sekali berjuang; semangat nanakorobi yaoki mengajarkan pentingnya gambaru (頑張る) — terus berusaha dengan penuh semangat, tanpa menyerah pada kesulitan.
4. Optimisme dalam Menghadapi Hidup
Hidup selalu memiliki naik-turun. Ungkapan ini menanamkan sikap positif: meskipun hari ini kita jatuh, besok kita bisa bangkit dan memulai lagi dengan semangat baru.
5.Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil
Filosofi Jepang menekankan nilai dari perjalanan, bukan sekadar pencapaian akhir. Nanakorobi yaoki mengingatkan bahwa yang terpenting adalah keberanian untuk terus melangkah, bukan seberapa cepat kita tiba di tujuan.

Kotowaza Serupa yang Mengandung Makna Ketekunan
Selain 「七転び八起き」(nanakorobi yaoki), dalam bahasa Jepang terdapat banyak kotowaza (ことわざ) yang memiliki makna serupa, yaitu menekankan pentingnya ketekunan, kesabaran, dan semangat untuk tidak menyerah. Ungkapan-ungkapan ini mencerminkan nilai budaya Jepang yang menghargai usaha berkelanjutan dan pembelajaran dari proses.Berikut beberapa kotowaza yang memiliki makna sejalan:
1. 石の上にも三年 (Ishi no ue ni mo sannen)“Tiga tahun di atas batu pun akan terasa hangat.”➤
Artinya, jika kita terus bertahan dengan sabar, hasil baik pasti akan datang. Ungkapan ini menekankan nilai kesabaran dan konsistensi dalam berjuang.
2. 継続は力なり (Keizoku wa chikara nari)“Ketekunan adalah kekuatan.”
➤ Menunjukkan bahwa usaha yang dilakukan terus-menerus, meskipun kecil, akan menghasilkan kekuatan dan hasil besar di kemudian hari.
3. 雨垂れ石を穿つ (Amadare ishi o ugatsu)“Tetesan air pun dapat melubangi batu.”
➤ Mengajarkan bahwa usaha kecil yang dilakukan terus-menerus dapat mengalahkan sesuatu yang tampak mustahil. Ini simbol dari kekuatan ketekunan dan waktu.
4. 失敗は成功のもと (Shippai wa seikou no moto)“Kegagalan adalah sumber keberhasilan.”
➤ Maknanya mirip dengan pepatah Indonesia “Kegagalan adalah awal dari keberhasilan.” Setiap kegagalan memberi pelajaran berharga menuju kesuksesan berikutnya.
5. 努力は裏切らない (Doryoku wa uragiranai)“Usaha tidak akan mengkhianati.”
➤ Ungkapan modern yang sering digunakan untuk menyemangati diri sendiri atau orang lain, menegaskan bahwa hasil tidak akan mengkhianati kerja keras.
Kesimpulan
Peribahasa Jepang 「七転び八起き」(nanakorobi yaoki) bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cerminan filosofi hidup masyarakat Jepang yang menjunjung tinggi semangat pantang menyerah, ketekunan, dan kekuatan untuk bangkit dari setiap kegagalan. Ungkapan ini mengajarkan bahwa dalam hidup, jatuh adalah hal yang wajar, tetapi yang lebih penting adalah keberanian untuk terus berdiri dan melangkah maju.
Nilai-nilai seperti kesabaran (忍耐 nintai), usaha terus-menerus (努力 doryoku), dan keteguhan hati (根性 konjō) menjadi inti dari pesan yang disampaikan oleh kotowaza ini. Baik di sekolah, tempat kerja, maupun dalam kehidupan pribadi, semangat nanakorobi yaoki selalu menjadi sumber inspirasi untuk tidak mudah menyerah terhadap kesulitan.
Yuk, lanjutkan membaca artikel-artikel menarik lainnya di Pandaikotoba dan supaya nggak ketinggalan update seputar bahasa & budaya Jepang, jangan lupa follow Instagram @pandaikotoba belajar Jepang jadi lebih ringan dan menyenangkan!


