Bahasa Jepang,  Bahasa Jepang Bisnis,  Fenomena

Fenomena Nomikai (飲み会): Budaya Minum Setelah Kerja yang Wajib?

Di Jepang, kehidupan kerja tidak selalu berakhir ketika jam kantor selesai. Setelah seharian bekerja, banyak karyawan yang melanjutkan kebersamaan mereka dalam sebuah tradisi yang dikenal sebagai Nomikai (飲み会) — acara makan dan minum bersama rekan kerja. Bagi sebagian orang, nomikai hanyalah kegiatan santai untuk melepas penat. Namun bagi yang lain, acara ini terasa seperti “kewajiban tidak tertulis” dalam budaya kerja Jepang.

Fenomena nomikai telah lama menjadi bagian dari dinamika perusahaan di Jepang. Melalui suasana yang lebih santai, atasan dan bawahan dapat berbicara lebih terbuka dibandingkan saat berada di kantor. Hubungan kerja pun dianggap menjadi lebih akrab dan harmonis. Namun di balik itu, muncul pertanyaan: apakah nomikai benar-benar pilihan sukarela, atau justru tekanan sosial yang sulit ditolak?

Artikel ini akan membahas lebih dalam tentang fenomena nomikai mulai dari asal-usulnya, perannya dalam budaya kerja Jepang, hingga perubahan pandangan generasi modern terhadap tradisi ini. Dengan memahami latar belakangnya, kita bisa melihat apakah nomikai masih relevan di era sekarang atau perlahan berubah mengikuti zaman.

Nomikai (飲み会)
Nomikai (飲み会) adalah acara makan dan minum bersama

Apa Itu Nomikai?

Nomikai (飲み会) adalah acara makan dan minum bersama yang biasanya dilakukan setelah jam kerja oleh rekan satu kantor di Jepang. Kata nomikai berasal dari kata 飲む (nomu) yang berarti “minum” dan 会 (kai) yang berarti “pertemuan”. Secara harfiah, nomikai berarti “pertemuan untuk minum”.

Dalam praktiknya, nomikai sering diadakan di izakaya (pub atau restoran khas Jepang), di mana karyawan berkumpul untuk makan, minum, dan berbincang dalam suasana yang lebih santai dibandingkan di kantor. Acara ini bisa bersifat informal antar teman kerja, atau resmi sebagai bagian dari kegiatan perusahaan.

Nomikai bukan sekadar acara minum biasa. Di Jepang, kegiatan ini sering dianggap sebagai bagian dari budaya kerja yang membantu mempererat hubungan antar karyawan, meningkatkan solidaritas tim, dan menciptakan komunikasi yang lebih terbuka antara atasan dan bawahan. Bahkan, dalam beberapa situasi, kehadiran di nomikai bisa terasa seperti kewajiban sosial meskipun tidak tertulis secara resmi.Dengan kata lain, nomikai adalah perpaduan antara kegiatan sosial dan budaya kerja yang unik dalam kehidupan profesional di Jepang.

Asal-Usul Budaya Nomikai di Jepang

Budaya Nomikai (飲み会) tidak muncul begitu saja, melainkan berkembang seiring perubahan sistem kerja dan struktur sosial di Jepang. Tradisi berkumpul sambil minum sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu, terutama dalam perayaan dan ritual masyarakat Jepang. Namun, nomikai dalam konteks dunia kerja mulai menguat setelah Perang Dunia II.

Pada masa pertumbuhan ekonomi pesat Jepang tahun 1950–1980-an, banyak perusahaan menerapkan sistem kerja seumur hidup (lifetime employment). Karyawan tidak hanya bekerja, tetapi juga membangun loyalitas tinggi terhadap perusahaan. Dalam suasana seperti ini, nomikai menjadi sarana penting untuk mempererat hubungan antarpegawai sekaligus memperkuat rasa kebersamaan dalam tim.

Di tengah budaya kerja yang sangat formal dan hierarkis, nomikai berfungsi sebagai ruang komunikasi yang lebih santai. Atasan dan bawahan dapat berbicara lebih terbuka tanpa tekanan suasana kantor. Bahkan muncul ungkapan tidak resmi seperti “nomunication” (gabungan kata nomu dan communication), yang menggambarkan bagaimana minum bersama dianggap membantu komunikasi di tempat kerja.

Seiring waktu, nomikai menjadi bagian dari rutinitas perusahaan, terutama setelah acara penting seperti:

  • Penyambutan karyawan baru
  • Perpisahan rekan kerja
  • Perayaan akhir tahun (bōnenkai)
  • Perayaan awal tahun (shinnenkai)

Meskipun awalnya bertujuan mempererat hubungan dan membangun solidaritas, budaya ini juga mulai dipertanyakan di era modern karena perubahan gaya hidup dan pandangan generasi muda terhadap keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi (work-life balance).

Gemini Generated Image 1fv7r71fv7r71fv7
Nomikai (飲み会) Penyambutan karyawan baru

Hubungan Nomikai dengan Budaya Kerja di Jepang

Dalam budaya kerja Jepang, hubungan antarpegawai tidak hanya dibangun melalui pekerjaan di kantor, tetapi juga melalui interaksi sosial di luar jam kerja. Di sinilah Nomikai (飲み会) berperan penting.

Lingkungan kerja di Jepang dikenal formal dan hierarkis. Ada sistem senioritas (senpai–kōhai), serta batas yang jelas antara atasan dan bawahan. Di kantor, komunikasi sering kali mengikuti aturan sopan santun yang ketat. Namun saat nomikai berlangsung, suasana menjadi lebih santai sehingga percakapan terasa lebih terbuka.

Nomikai sering dikaitkan dengan beberapa nilai penting dalam budaya kerja Jepang:

1. Membangun Solidaritas Tim

Dengan makan dan minum bersama, karyawan merasa menjadi bagian dari satu kelompok. Kebersamaan ini dianggap dapat meningkatkan kerja sama dan kekompakan di kantor.

2. Mempererat Hubungan Atasan dan Bawahan

Dalam suasana informal, bawahan bisa berbicara lebih bebas kepada atasan. Hal ini membantu mencairkan jarak hierarki yang biasanya terasa kaku saat jam kerja.

3. Sarana “Nomunication”

Istilah tidak resmi nomunication (gabungan nomu dan communication) menggambarkan keyakinan bahwa komunikasi akan lebih lancar saat minum bersama. Ide dan keluhan yang sulit disampaikan di kantor terkadang lebih mudah dibicarakan saat nomikai.

4. Bentuk Loyalitas terhadap Perusahaan

Di masa lalu, kehadiran dalam nomikai dianggap sebagai tanda komitmen dan loyalitas terhadap tim atau perusahaan. Meskipun tidak tertulis sebagai kewajiban, absen tanpa alasan jelas bisa menimbulkan kesan kurang berpartisipasi.

Namun, seiring perubahan zaman, hubungan antara nomikai dan budaya kerja mulai berubah. Generasi muda Jepang kini lebih menekankan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Banyak perusahaan juga mulai menyadari bahwa kebersamaan tim tidak harus selalu dilakukan melalui acara minum.

Apakah Nomikai Benar-Benar Wajib?

Secara resmi, Nomikai (飲み会) bukanlah kewajiban yang tertulis dalam aturan perusahaan. Tidak ada kontrak kerja yang menyebutkan bahwa karyawan harus menghadiri acara minum setelah jam kerja. Namun dalam praktiknya, banyak orang merasa bahwa nomikai adalah “kewajiban sosial” yang sulit ditolak.

Dalam budaya kerja Jepang yang menekankan harmoni kelompok (wa) dan kebersamaan tim, kehadiran di nomikai sering dianggap sebagai bentuk partisipasi dan solidaritas. Terutama bagi karyawan baru atau bawahan, menolak undangan nomikai bisa terasa canggung karena khawatir dianggap tidak kompak atau kurang menghargai rekan kerja.

Beberapa faktor yang membuat nomikai terasa seperti wajib antara lain:

1. Tekanan Sosial (Peer Pressure)

Walaupun dikatakan “sukarela”, ketika semua rekan kerja hadir, seseorang bisa merasa tertekan untuk ikut demi menjaga hubungan baik.

2. Hierarki dalam Perusahaan

Jika atasan yang mengundang, bawahan mungkin merasa sungkan untuk menolak. Dalam budaya yang menghargai senioritas, menjaga hubungan dengan atasan dianggap penting.

3. Harapan Tidak Tertulis

Ada ekspektasi bahwa momen santai di luar kantor membantu membangun kepercayaan dan komunikasi. Absen terus-menerus bisa memengaruhi persepsi orang lain. Namun, kondisi ini mulai berubah. Generasi muda di Jepang kini lebih berani menolak dengan alasan pribadi, seperti ingin beristirahat atau memiliki kegiatan lain. Banyak perusahaan juga mulai memahami pentingnya work-life balance dan tidak lagi menganggap nomikai sebagai indikator loyalitas.

Jadi, apakah nomikai benar-benar wajib?
Jawabannya: tidak secara resmi, tetapi dalam konteks budaya dan sosial, kadang terasa seperti kewajiban. Kini, perlahan-lahan, tradisi ini bergerak menuju bentuk yang lebih fleksibel dan menghargai pilihan individu

Gemini Generated Image pgtnqupgtnqupgtn
Nomikai (飲み会) Mempererat Hubungan Atasan dan Bawahan

Nomikai dan Konsep Tatemae vs Honne

Untuk memahami fenomena Nomikai (飲み会) secara lebih dalam, kita juga perlu mengenal dua konsep penting dalam budaya Jepang: tatemae (建前) dan honne (本音).

  • Tatemae adalah sikap atau pendapat yang ditampilkan di depan umum demi menjaga keharmonisan sosial.
  • Honne adalah perasaan atau pendapat yang sebenarnya, yang mungkin tidak selalu diungkapkan secara langsung.

Dalam lingkungan kerja Jepang yang formal dan penuh etika, karyawan sering menampilkan tatemae. Mereka menjaga tutur kata, bersikap sopan, dan menghindari konflik terbuka. Kritik atau ketidaksetujuan biasanya disampaikan dengan sangat hati-hati. Di sinilah nomikai memiliki peran unik.

Nomikai sebagai Ruang Honne

Saat suasana berubah menjadi santai di luar kantor, batas formalitas sedikit melonggar. Banyak orang merasa lebih nyaman untuk berbicara jujur tentang pendapat, keluhan, atau ide mereka. Minum bersama dianggap membantu mencairkan suasana dan membuka percakapan yang lebih terbuka.

Namun, bukan berarti semua orang benar-benar sepenuhnya menunjukkan honne mereka. Budaya menjaga harmoni tetap ada, hanya saja tingkat keterbukaannya bisa lebih besar dibandingkan saat di kantor.

Antara Kejujuran dan Tekanan Sosial

Menariknya, nomikai sendiri bisa menjadi bagian dari tatemae. Secara lahiriah, semua orang terlihat menikmati kebersamaan. Tetapi di balik itu, mungkin ada yang sebenarnya lelah atau ingin pulang lebih cepat  inilah honne yang tidak selalu terlihat.

Konsep ini menunjukkan bahwa nomikai bukan sekadar acara minum, melainkan juga ruang sosial yang mencerminkan dinamika komunikasi khas Jepang: keseimbangan antara menjaga harmoni dan mengungkapkan perasaan yang sebenarnya.

Aturan dan Etika Saat Mengikuti Nomikai

Meskipun Nomikai (飲み会) berlangsung dalam suasana santai, tetap ada aturan dan etika tidak tertulis yang perlu diperhatikan. Memahami hal ini penting agar tidak dianggap kurang sopan, terutama dalam lingkungan kerja Jepang yang sangat menghargai tata krama.

Berikut beberapa aturan umum saat mengikuti nomikai:

1. Jangan Menuang Minuman Sendiri

Dalam budaya Jepang, menuangkan minuman untuk orang lain adalah bentuk perhatian. Biasanya bawahan akan memperhatikan gelas atasan dan segera mengisinya jika kosong. Sebaliknya, orang lain juga akan menuangkan minuman untuk kita.

2. Perhatikan Hierarki Tempat Duduk

Dalam acara resmi, posisi duduk bisa mencerminkan hierarki. Atasan biasanya duduk di tempat terhormat (paling jauh dari pintu), sedangkan bawahan duduk lebih dekat pintu.

3. Tunggu Ucapan “Kanpai”

Jangan mulai minum sebelum semua orang siap dan ada ucapan kanpai (乾杯) sebagai tanda bersulang bersama.

4. Jaga Sikap dan Batasan

Walaupun suasana santai, tetap penting menjaga sopan santun. Hindari berbicara terlalu kasar, menyinggung atasan, atau minum berlebihan hingga kehilangan kontrol diri.

5. Tidak Wajib Minum Alkohol

Jika tidak bisa atau tidak ingin minum alkohol, biasanya diperbolehkan memilih minuman non-alkohol. Namun, menyampaikannya dengan sopan sangat penting.

6. Ikut Berpartisipasi dalam Percakapan

Diam sepanjang acara bisa dianggap kurang berbaur. Cobalah ikut berbicara ringan, tertawa, atau menunjukkan ketertarikan pada percakapan.

7. Ucapan Penutup

Setelah acara selesai, biasanya ada ungkapan seperti “otsukaresama deshita” sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras bersama.

ChatGPT Image 15 Feb 2026 17.47.15
Perhatikan Hierarki Tempat Duduk

Dampak Positif Nomikai

Meskipun sering diperdebatkan, Nomikai (飲み会) memiliki sejumlah dampak positif dalam konteks budaya kerja Jepang. Tradisi ini tidak hanya sekadar acara makan dan minum, tetapi juga sarana membangun hubungan sosial di lingkungan profesional.

Berikut beberapa dampak positif nomikai:

1. Mempererat Hubungan Antarpegawai

Dalam suasana santai, rekan kerja dapat berbicara lebih bebas dibandingkan di kantor. Kebersamaan ini membantu menciptakan rasa saling percaya dan kedekatan emosional.

2. Meningkatkan Kerja Sama Tim

Hubungan yang lebih akrab sering kali berdampak pada komunikasi yang lebih lancar saat bekerja. Tim yang merasa dekat secara personal cenderung lebih kompak dan solid.

3. Mencairkan Hubungan Hierarkis

Budaya kerja Jepang dikenal memiliki struktur yang jelas antara atasan dan bawahan. Saat nomikai, jarak tersebut bisa terasa lebih fleksibel sehingga percakapan menjadi lebih terbuka.

4. Sarana Penyampaian Ide dan Pendapat

Dalam suasana informal, karyawan kadang lebih berani menyampaikan ide, saran, atau bahkan keluhan yang sulit diungkapkan di kantor.

5. Mengurangi Stres Setelah Bekerja

Setelah hari kerja yang panjang, berkumpul bersama rekan kerja dapat menjadi cara untuk melepas penat dan tertawa bersama.

6. Membangun Rasa Kebersamaan (Sense of Belonging)

Nomikai memperkuat perasaan menjadi bagian dari kelompok atau tim. Hal ini penting dalam budaya Jepang yang sangat menghargai harmoni dan solidaritas.

Dampak Negatif dan Kritik terhadap Nomikai

Di balik berbagai manfaatnya, Nomikai (飲み会) juga tidak lepas dari kritik. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak orang yang mempertanyakan relevansi tradisi ini di tengah perubahan gaya hidup dan pola kerja modern.

Berikut beberapa dampak negatif dan kritik yang sering muncul:

1. Tekanan Sosial yang Terselubung

Walaupun tidak diwajibkan secara resmi, banyak karyawan merasa sulit menolak undangan nomikai. Terutama bagi karyawan baru atau bawahan, ada kekhawatiran dianggap tidak kooperatif jika tidak hadir.

2. Mengganggu Work-Life Balance

Nomikai biasanya diadakan setelah jam kerja, sehingga waktu pribadi berkurang. Bagi mereka yang ingin pulang cepat untuk keluarga atau istirahat, hal ini bisa menjadi beban tambahan.

3. Kelelahan Fisik dan Mental

Setelah bekerja seharian, menghadiri acara tambahan bisa membuat tubuh semakin lelah. Jika terlalu sering, hal ini dapat berdampak pada produktivitas keesokan harinya.

4. Beban Finansial

Meskipun terkadang perusahaan menanggung biaya, tidak jarang peserta harus membayar sendiri. Jika diadakan rutin, pengeluaran ini bisa terasa cukup besar.

5. Risiko Minum Berlebihan

Dalam suasana kelompok, sebagian orang mungkin merasa terdorong untuk minum lebih banyak dari biasanya. Hal ini bisa berdampak kurang baik bagi kesehatan maupun citra profesional.

6. Perubahan Nilai Generasi Muda

Generasi muda Jepang cenderung lebih menghargai waktu pribadi dan kebebasan memilih. Banyak yang merasa hubungan profesional tidak harus selalu dibangun melalui acara minum.

Gemini Generated Image eiohcieiohcieioh
Kelelahan Fisik dan Mental

Perubahan Budaya Nomikai di Era Modern

Seiring perubahan gaya hidup dan pola kerja, budaya Nomikai (飲み会) di Jepang juga mengalami penyesuaian. Jika dulu nomikai dianggap hampir sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan kantor, kini pandangannya mulai berubah, terutama di kalangan generasi muda.

1. Meningkatnya Kesadaran Work-Life Balance

Generasi muda Jepang semakin menghargai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Banyak karyawan kini lebih memilih menggunakan waktu setelah kerja untuk keluarga, hobi, atau istirahat dibandingkan menghadiri acara minum.

2. Dampak Pandemi COVID-19

Pandemi menjadi titik balik besar. Selama pembatasan sosial, banyak perusahaan menghentikan acara tatap muka, termasuk nomikai. Setelah situasi membaik, tidak semua perusahaan kembali mengadakannya secara rutin. Sebagian bahkan menyadari bahwa komunikasi tim tetap bisa berjalan tanpa pertemuan minum bersama.

3. Munculnya “Nomikai Online”

Saat pandemi, beberapa perusahaan mencoba mengadakan nomikai secara daring melalui video conference. Meski tidak sepenuhnya menggantikan suasana langsung, hal ini menunjukkan adanya adaptasi terhadap kondisi zaman.

4. Lebih Fleksibel dan Sukarela

Banyak perusahaan modern kini menekankan bahwa kehadiran benar-benar sukarela. Tidak hadir tidak lagi dianggap sebagai tanda kurang loyal. Budaya perusahaan pun mulai bergerak menuju pendekatan yang lebih menghargai pilihan individu.

5. Alternatif Kegiatan Non-Alkohol

Sebagian perusahaan mengganti nomikai dengan makan bersama tanpa alkohol, kegiatan olahraga, atau acara team building lainnya yang lebih inklusif.

Nomikai dalam Perspektif Orang Asing

Bagi orang asing yang bekerja di Jepang, pengalaman mengikuti Nomikai (飲み会) sering kali terasa unik sekaligus menantang. Tradisi ini bisa menjadi kesempatan berharga untuk memahami budaya kerja Jepang secara lebih dekat, tetapi juga dapat menimbulkan kebingungan jika tidak memahami norma sosialnya.

1. Kesempatan Memahami Budaya Jepang

Nomikai memberi gambaran nyata tentang bagaimana hubungan kerja di Jepang tidak hanya terbatas pada jam kantor. Orang asing dapat melihat langsung dinamika senior–junior, cara berbicara yang lebih santai, serta pentingnya kebersamaan dalam tim.

2. Tantangan Bahasa dan Komunikasi

Percakapan saat nomikai biasanya lebih cepat, penuh candaan, dan kadang menggunakan dialek atau bahasa informal. Bagi yang belum lancar berbahasa Jepang, ini bisa menjadi tantangan tersendiri.

3. Perbedaan Budaya Minum

Di beberapa negara, minum bersama rekan kerja bukanlah hal yang umum atau tidak melibatkan hierarki tertentu. Karena itu, aturan seperti tidak menuang minuman sendiri atau memperhatikan gelas atasan bisa terasa asing.

4. Tekanan Sosial yang Berbeda

Sebagian pekerja asing mungkin merasa lebih sulit menolak karena khawatir dianggap tidak menghormati budaya setempat. Namun di sisi lain, ada juga perusahaan yang lebih memaklumi jika orang asing tidak selalu ikut serta.

5. Peluang Membangun Relasi

Bagi banyak orang asing, nomikai justru menjadi momen terbaik untuk membangun koneksi profesional. Dalam suasana santai, mereka bisa berbicara lebih terbuka dan mempererat hubungan dengan rekan kerja Jepang.

Peluang Membangun Relasi

Apakah Nomikai Masih Relevan Saat Ini?

Di tengah perubahan budaya kerja dan gaya hidup modern, pertanyaan tentang relevansi Nomikai (飲み会) menjadi semakin menarik. Tradisi yang dulu dianggap bagian penting dari kehidupan kantor kini tidak lagi dipandang dengan cara yang sama oleh semua orang.

1. Perubahan Nilai Generasi Muda

Generasi muda Jepang cenderung lebih menghargai waktu pribadi dan fleksibilitas. Mereka tidak selalu melihat nomikai sebagai sarana utama membangun hubungan kerja. Bagi sebagian orang, komunikasi profesional bisa dilakukan secara efektif tanpa harus minum bersama.

2. Budaya Kerja yang Semakin Modern

Banyak perusahaan kini menerapkan sistem kerja fleksibel, kerja jarak jauh, dan pendekatan manajemen yang lebih terbuka. Dalam lingkungan seperti ini, hubungan tim tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pertemuan sosial setelah kerja.

3. Dampak Pandemi

Pandemi COVID-19 mempercepat perubahan ini. Ketika nomikai sempat terhenti, banyak perusahaan menyadari bahwa produktivitas dan komunikasi tetap dapat berjalan tanpa acara rutin tersebut. Setelah situasi membaik, tidak semua perusahaan kembali ke kebiasaan lama.

4. Nomikai dalam Bentuk yang Berbeda

Meski frekuensinya berkurang, nomikai tidak sepenuhnya hilang. Beberapa perusahaan mengadakannya lebih jarang, lebih santai, dan benar-benar bersifat sukarela. Ada pula yang menggantinya dengan kegiatan lain yang lebih inklusif dan tidak selalu melibatkan alkohol.

Kesimpulan

Nomikai (飲み会) merupakan salah satu tradisi unik dalam budaya kerja Jepang yang mencerminkan nilai kebersamaan, loyalitas, dan pentingnya harmoni dalam kelompok. Melalui acara makan dan minum bersama setelah jam kerja, hubungan antarpegawai dapat menjadi lebih akrab, komunikasi terasa lebih terbuka, dan solidaritas tim semakin kuat.

Namun, di balik manfaat tersebut, nomikai juga menghadapi berbagai kritik. Tekanan sosial, berkurangnya waktu pribadi, serta perubahan pandangan generasi muda membuat tradisi ini tidak lagi dipandang sama seperti dahulu. Apa yang dulu terasa hampir “wajib”, kini perlahan berubah menjadi pilihan yang lebih fleksibel.


Di era modern, relevansi nomikai sangat bergantung pada budaya perusahaan dan kebutuhan individu. Tradisinya mungkin tidak sepenuhnya hilang, tetapi bentuknya terus menyesuaikan dengan perkembangan zaman.Pada akhirnya, nomikai bukan sekadar acara minum bersama, melainkan cerminan dinamika sosial dan profesional di Jepang  antara menjaga keharmonisan kelompok dan menghargai kebebasan pribadi. Yuk, lanjutkan membaca artikel-artikel menarik lainnya di Pandaikotoba dan supaya nggak ketinggalan update seputar bahasa & budaya Jepang, jangan lupa follow Instagram @pandaikotoba belajar Jepang jadi lebih ringan dan menyenangkan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *