Mengenal Pegar Hijau, Burung Nasional Jepang yang Cantik
Hai Minasan~! Di kepulauan Jepang, di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan seperti Tokyo dan ketenangan kuil-kuil kuno di Kyoto, hiduplah “bangsawan” hutan yang mungkin tidak banyak dikenal oleh wisatawan asing.
Ia adalah pegar hijau atau dalam bahasa Jepangnya disebut Kiji (Japanese Green Pheasant). Burung ini yang telah menjadi bagian dari denyut nadi budaya dan alam Jepang selama ribuan tahun. Dengan bulu yang berkilauan bagai permata dan sejarah panjang dalam legenda, burung ini adalah simbol harmonis yang sempurna antara keindahan alam dan warisan budaya.
Pandai Kotoba pada artikel kali ini akan membahas burung kiji atau pegar hijau mulai dari ciri fisiknya, habitatnya, hingga alasan mengapa burung ini dipilih menjadi burung nasional Jepang. Penasaran? Yuk, kita simak di bawah ini.

commons.wikimedia.org
Mengenal Pegar Hijau, Burung Nasional Jepang yang Cantik
A. Berkenalan dengan Burung Pegar Hijau
Pegar hijau atau nama latinnya Phasianus versicolor adalah spesies burung berukuran sedang yang masuk dalam keluarga Phasianidae, masih kerabat dekat dengan ayam hutan, merak, dan burung pegar lainnya. Yang membuatnya sangat istimewa adalah statusnya sebagai spesies endemik Jepang. Artinya, burung ini tidak dapat ditemukan di alam liar belahan dunia mana pun kecuali di kepulauan Jepang .
Secara fisik, burung ini menunjukkan dimorfisme seksual yang sangat mencolok, yaitu penampilan jantan dan betina sangat berbeda. Pegar hijau jantan adalah definisi dari keindahan hewan yang mencolok. Ia memiliki tubuh yang didominasi oleh bulu berwarna hijau zamrud gelap yang berkilau di bagian dada, leher, dan mantelnya. Warna hijau ini tampak hidup saat terkena sinar matahari.
Kepalanya dihiasi dengan warna biru keunguan atau ungu kebiruan yang kontras dilengkapi dengan pial atau daging di sekitar wajah berwarna merah cerah yang mencolok. Ekornya panjang, melengkung indah dengan garis-garis abu-abu pucat. Ibarat lukisan alam yang hidup, itulah yang digambarkan untuk sang jantan.
Sedangkan, sang betina dirancang oleh alam untuk menjadi ibu yang penyamar. Bulunya didominasi oleh warna cokelat kehitaman dan gosong dengan corak yang lebih kusam. Ini adalah kamuflase yang luar biasa saat ia bersarang di rerumputan atau semak belukar, melindungi telur dan anak-anaknya dari predator. Betina juga berukuran lebih kecil dengan ekor yang jauh lebih pendek dibandingkan jantan.
Ukuran tubuh burung ini bervariasi dengan panjang total (termasuk ekor) berkisar antara 50 hingga 90 sentimeter. Jantan dewasa bisa memiliki berat hingga 1,36 kilogram, sementara betina sekitar 0,8 kilogram.
B. Kehidupan Sehari-hari Burung Pegar Hijau
Meskipun memiliki sayap dan mampu terbang, pegar hijau adalah burung yang lebih banyak menghabiskan waktu di tanah atau terestrial. Kita mungkin akan lebih sering melihatnya berjalan dengan anggun sambil sesekali mematuk tanah daripada terbang di atas pepohonan hutan. Yuk, kita simak lagi di bawah ini.
1. Aktivitas Sehari-hari
Burung pegar hijau adalah hewan diurnal yang berarti mereka paling aktif pada siang hari khususnya pada dua periode utama yaitu pagi dan sore hari.
Saat matahari terbit dan kabut mulai menyingsing di padang rumput atau tepi hutan, burung pegar hijau memulai aktivitasnya. Pagi adalah waktu krusial untuk mencari makan setelah semalaman beristirahat. Mereka akan turun dari tempat bertenggernya di malam hari biasanya di dahan pohon yang rendah dan aman dan segera mematuk-matuk tanah.
Kita mungkin akan melihat mereka berjalan dengan anggun tapi penuh kewaspadaan, sesekali menghentak-hentakkan kaki ke tanah. Getaran ini dipercaya dapat membantu mengusir serangga atau cacing dari persembunyian mereka di dalam tanah.
Kemudian, di tengah hari yang terik, aktivitas mereka cenderung menurun. Ini adalah waktu untuk beristirahat, bersembunyi di balik semak-semak atau rerumputan tinggi untuk berlindung dari panas matahari dan predator. Mereka juga akan melakukan preening atau membersihkan bulu dengan paruhnya. Perilaku ini penting untuk menjaga bulu tetap dalam kondisi prima, menghilangkan parasit, dan mengatur suhu tubuh.
Saat menjelang sore hari, aktivitas mereka kembali meningkat. Ini adalah waktu kedua untuk mengisi energi sebelum malam tiba. Mereka akan kembali ke area terbuka yang sama atau mencari lokasi baru dengan sumber makanan melimpah.
Terakhir, saat malam tiba, mereka akan terbang sebentar untuk mencapai tempat bertengger yang aman biasanya di dahan pohon yang cukup tinggi tapi masih tersembunyi oleh dedaunan. Memilih pohon bukan tanah adalah strategi cerdas untuk menghindari predator nokturnal seperti rubah atau musang.
2. Strategi Mencari Makan
Burung pegar hijau dikenal dengan hewan omnivora sejati. Jenis makanan mereka ada beragam dengan lebih spesifik sebagai berikut:
a) Menu Nabati (Mayoritas)
Sekitar 60-70% dari makanan mereka adalah tumbuhan. Ini termasuk biji-bijian. Mereka sangat menyukai biji-bijian dari berbagai rumput, gulma, dan tanaman pertanian seperti padi, gandum, dan kedelai yang jatuh ke tanah. Inilah sebabnya mereka sering terlihat di sekitar sawah setelah panen.
Kedua, buah-buahan dan biji beri. Ketika musim beri tiba, mereka akan melahap buah-buahan kecil seperti buah akebia, buah rubus (raspberi liar), dan buah dari semak-semak lainnya. Ketiga, tunas dan daun muda. Bagian tanaman yang lunak dan kaya nutrisi ini juga menjadi incaran terutama di musim semi.
b) Menu Hewani (Sumber Protein)
Bagian ini sangat penting terutama saat musim kawin dan untuk pertumbuhan anak-anaknya. Mereka makan serangga dan larva seperti kumbang, belalang, jangkrik, ulat, dan semut. Selain itu, hewan invertebrata lainnya, seperti cacing tanah adalah sumber protein yang mudah didapat setelah hujan. Mereka juga memangsa laba-laba, siput kecil, dan kelabang. Dalam kesempatan langka, mereka mungkin memakan kadal kecil atau tikus muda jika menemukannya.
Mereka menggunakan kombinasi antara penglihatan tajam dan pendengaran. Paruhnya yang kuat dan runcing berfungsi seperti pinset untuk mematuk biji-bijian kecil atau menangkap serangga yang bergerak cepat. Cakar mereka yang kuat di kaki juga berguna untuk menggaruk-garuk serasah daun atau tanah gembur untuk membongkar makanan yang tersembunyi.
3. Dinamika Sosial dan Teritorial
Burung pegar hijau memiliki struktur sosial yang berubah sepanjang tahun. Pada musim non-kawin (Musim Gugur hingga Akhir Musim Dingin), burung ini cenderung hidup menyendiri atau membentuk kelompok-kelompok kecil yang terpisah berdasarkan jenis kelamin.
Kita mungkin akan menjumpai sekelompok kecil pegar jantan yang berkeliaran bersama tanpa konflik atau sekelompok betina dengan anak-anaknya yang sudah hampir dewasa. Mereka lebih toleran satu sama lain karena fokus utama adalah bertahan hidup dan mencari makan bukan bereproduksi.
Lalu, pada saat musim kawin (Awal Musim Semi) segalanya berubah. Para pegar jantan yang tadinya damai tiba-tiba berubah menjadi “ksatria” yang garam. Mereka akan memilih dan mempertahankan wilayah teritorialnya dengan gigih. Wilayah ini bisa seluas beberapa hektar dan harus memiliki sumber makanan yang cukup serta tempat berlindung yang baik untuk menarik betina.
Konflik antarjantan biasanya tidak berujung pada perkelahian fisik yang mematikan. Mereka lebih sering melakukan ritual “adu kekuatan”. Dua jantan akan berhadapan, mengembangkan bulu-bulu lehernya, menundukkan kepala, dan mengeluarkan suara “kutuk-kutuk” yang keras. Mereka akan berjalan berputar-putar, saling menantang. Jika salah satu tidak mundur, mereka mungkin akan melompat dan mematuk, tetapi biasanya yang lebih lemah akan mengakui kekalahan dan mundur sebelum terluka parah.
Sedangkan di dalam wilayahnya, jantan akan melakukan pertunjukan memikat (courtship display). Ia akan berjalan dengan gagah di depan betina dengan satu sayap direndahkan hampir menyentuh tanah dan ekor yang dikembangkan indah seperti kipas. Pial merah di wajahnya akan tampak semakin cerah dan mengembang. Sambil berjalan, ia akan mengeluarkan suara panggilan khusus dan sesekali mematuk-matuk tanah seolah menawarkan makanan pada sang betina.
4. Reproduksi dan Pola Asuh
Setelah berhasil menarik hati betina, pejantan akan kawin dengannya. Namun, setelah kawin, pejantan tidak memiliki peran sama sekali dalam mengerami telur atau membesarkan anak. Tanggung jawab besar itu sepenuhnya dipikul oleh sang betina.
Betina akan memilih lokasi sarang yang sangat tersembunyi. Ia akan membuat cekungan dangkal di tanah, di bawah naungan semak-semak yang rimbun, di rerumputan tinggi, atau bahkan di bawah tumpukan kayu mati. Cekungan ini kemudian dilapisi dengan rumput kering, daun-daunan, dan bulu-bulu halusnya sendiri untuk membuatnya nyaman dan hangat.
Kemudian, betina akan bertelur satu butir setiap hari atau dua hari sekali hingga mencapai satu sarang penuh. Satu sarang biasanya berisi 6 hingga 15 butir telur berwarna cokelat zaitun polos. Setelah telur terakhir dikeluarkan, barulah ia mulai mengeraminya dengan tekun selama kurang lebih 23-25 hari.
Selama masa ini, ia hanya akan meninggalkan sarang sebentar untuk mencari makan, dan melakukannya dengan sangat hati-hati agar tidak menarik perhatian predator ke sarangnya. Ia akan berjalan menjauh dari sarang, lalu terbang atau kembali dengan rute yang berliku-liku untuk mengelabui musuh.
Anak-anak burung pegar yang disebut “chick“ lahir dalam keadaan sudah sangat berkembang (precocial). Mereka sudah bisa berjalan dan mematuk makanan sendiri beberapa jam setelah menetas. Sang induk akan segera memimpin mereka menjauh dari sarang untuk mencari makan. Ia akan menunjukkan tempat-tempat yang aman dan kaya makanan, serta melindungi mereka dari bahaya. Induk betina sangat protektif.
Jika ada predator yang mendekat, ia akan mengeluarkan suara peringatan keras. Anak-anaknya akan segera diam tak bergerak atau bersembunyi di balik rerumputan, sementara induknya mungkin akan berpura-pura sakit (broken wing act) untuk mengalihkan perhatian musuh dan menjauhkannya dari anak-anaknya. Anak-anaknya akan tinggal bersama induknya selama beberapa bulan, belajar segala hal tentang cara bertahan hidup hingga mereka mampu mandiri menjelang musim dingin.
5. Adaptasi dan Pertahanan
Hidup di alam liar penuh tantangan. Burung pegar hijau memiliki beberapa adaptasi kunci untuk bertahan sebagai berikut:
a) Kaki Kuat dan Cakar Tajam
Ini adalah alat utamanya. Digunakan untuk menggaruk tanah mencari makan, berlari kencang (mereka bisa berlari lebih cepat dari manusia!), dan melompat vertikal untuk menghindar.
b) Penerbangan Eksplosif
Meskipun tidak suka terbang, saat terdesak mereka bisa lepas landas secara vertikal dengan kepakan sayap yang sangat keras dan cepat. Penerbangan ini menghabiskan banyak energi, sehingga hanya digunakan untuk keadaan darurat.
c) Kamuflase dan Imobilitas
Bulu betina yang cokelat kusam adalah kamuflase sempurna. Saat merasa terancam, strategi pertama mereka adalah diam membeku. Dengan tubuh yang tidak bergerak dan warna yang menyatu dengan lingkungan, mereka praktis tidak terlihat. Ini adalah pertahanan paling efektif.
d) Indra yang Tajam
Mata mereka yang besar dan berada di sisi kepala memberikan bidang pandang yang sangat luas hampir 360 derajat, sehingga sulit didekati tanpa diketahui. Pendengaran mereka juga sangat sensitif terhadap suara-suara asing.
Dengan segala detail perilaku dan strategi hidupnya, burung pegar hijau bukan hanya hanya burung cantik yang menjadi simbol nasional. Burung ini adalah hewan dengan evolusi luar biasa yang dapat beradaptasi dengan lingkungannya, menjalani siklus hidup yang kompleks dengan penuh perjuangan dan keanggunan. Keberadaannya yang tersembunyi di antara rerumputan dan semak adalah pengingat akan kekayaan dan kerumitan alam yang sering luput dari pandangan kita.
C. Mengapa Pegar Hijau atau Kiji Menjadi Burung Nasional Jepang?
Pada tahun 1947, Masyarakat Ornitologi Jepang (日本鳥学会) menetapkan Kiji atau burung pegar hijau sebagai simbol nasional dengan mempertimbangkan serangkaian kriteria yang mencakup aspek biologis, estetika, budaya, dan bahkan kuliner. Perpaduan sempurna ini antara apa yang diwakili burung tersebut di alam dan bagaimana ia telah mengakar kuat dalam jiwa bangsa Jepang selama berabad-abad. Berikut ini adalah penjelasannya.
1. Simbol Keharmonisan dan Nilai Luhur Keluarga
Ini adalah alasan yang paling puitis dan menyentuh. Masyarakat Jepang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keluarga, harmoni, dan pengorbanan. Pegar hijau melalui perilaku alaminya dianggap sebagai personifikasi sempurna dari nilai-nilai ini.
Alasan paling kuat adalah gambaran induk betina yang berjalan dengan diikuti anak-anaknya yang berbaris rapi di belakangnya. Pemandangan ini melambangkan keharmonisan, ketertiban, dan kasih sayang seorang ibu dalam membimbing anak-anaknya.
Lebih dalam dari itu, ada peribahasa kuno “yakeno no kigisu” (焼け野の雉子) yang secara harfiah berarti “pegar di ladang yang terbakar”. Peribahasa ini merujuk pada legenda lama bahwa seekor pegar betina akan tetap setia mengerami telurnya dan melindungi anak-anaknya bahkan ketika ladang tempatnya bersarang dilalap api, rela mengorbankan dirinya sendiri demi keturunannya. Ini adalah metafora yang sangat kuat untuk pengorbanan seorang ibu.
Di sisi lain, pegar jantan melambangkan keberanian dan kekuatan. Dengan bulu yang indah dan postur yang gagah, serta keberaniannya dalam mempertahankan wilayah, ia menjadi simbol maskulinitas yang ideal. Kombinasi antara “keberanian” jantan dan “kasih sayang” betina ini menciptakan simbol keluarga yang utuh dan ideal dalam pandangan masyarakat Jepang.
2. Hubungan Erat dengan Mitologi dan Cerita Rakyat
Keberadaan kiji atau burung pegar hijau telah tercatat dalam sejarah lisan dan tulisan Jepang jauh sebelum penetapan resminya membuatnya akrab di telinga masyarakat dari generasi ke generasi.
Dalam mitologi Shinto, burung ini dianggap sebagai utusan (tsukai) dari Dewi Matahari, Amaterasu, dewa terpenting dalam agama Shinto yang dianggap sebagai nenek moyang langsung keluarga kekaisaran Jepang.Hubungan dengan Dewi Matahari ini memberikan aura sakral pada burung pegar menghubungkannya dengan asal-usul ilahi bangsa dan kekuasaan kaisar. Ia menjadi simbol kekuasaan, kelimpahan, dan janji (keberkahan).
Selain itu, hal ini mungkin alasan terkuat yang membuatnya dicintai oleh seluruh rakyat Jepang terutama anak-anak. Dalam cerita rakyat Momotaro (桃太郎), si Bocah Persik, sang pahlawan ditemani oleh tiga hewan setia dalam petualangannya mengalahkan raksasa (oni) yang terdiri dari seekor anjing, seekor monyet, dan seekor pegar hijau.
Dalam cerita ini, pegar digambarkan sebagai sosok yang cerdas, setia, dan pemberani. Ia menggunakan kemampuan terbangnya untuk mengintai musuh dan menyerang dari atas. Keakraban dengan cerita ini membuat kiji selain burung liar biasa, tapi menjadi “teman” dalam dongeng masa kecil.
3. Jejak Abadi dalam Sastra dan Sejarah Kuno
Legitimasi burung pegar hijau sebagai simbol nasional juga diperkuat oleh penyebutannya yang konsisten dalam karya-karya tertua Jepang yang membuktikan bahwa ia telah menjadi bagian dari kesadaran kolektif bangsa selama lebih dari seribu tahun.
Kehadirannya dapat ditemukan dalam tiga mahakarya sastra dan sejarah klasik di antaranya adalah Kojiki (古事記) atau Catatan Hal-Hal Kuno yang selesai pada tahun 712 sebagai catatan sejarah tertua yang masih ada di Jepang. Yang kedua, Nihon Shoki (日本書紀) atau Kronik Jepang yang selesai pada tahun 720) sebagai sejarah resmi kedua yang melengkapi Kojiki. Dan ketiga, Manyoshu (万葉集) dari akhir abad ke-8) sebagai antologi puisi tertua dan paling dihormati di Jepang.
Penyebutan dalam teks-teks fundamental ini menunjukkan bahwa sejak awal peradaban Jepang yang tercatat, burung pegar hijau telah hidup berdampingan dengan manusia dan menginspirasi para pujangga serta sejarawan.
4. “Alarm” Gempa Alami dari Alam
Jepang adalah negara yang sangat rentan terhadap gempa bumi. Sebelum ada teknologi canggih seperti sekarang, masyarakat Jepang mengamati alam sekitar untuk mencari tanda-tanda bahaya. Burung pegar hijau dikenal memiliki kepekaan yang luar biasa terhadap getaran tanah.
Banyak catatan dan kepercayaan turun-temurun menyebutkan bahwa burung ini akan berperilaku tidak biasa atau berteriak keras (menjerit) sesaat sebelum gempa bumi yang bahkan tidak dapat dirasakan oleh manusia terjadi. Kemampuan ini menjadikan mereka sebagai “sistem peringatan dini” alami yang berpotensi menyelamatkan banyak nyawa. Peran sebagai penjaga yang waspada ini tentu menambah nilai lebih di mata masyarakat.
5. Representasi Estetika dan Geografis Jepang
Selain nilai-nilai budaya dan historis, ada pertimbangan praktis dan estetis yang menjadikan kiji atau pegar hijau pilihan yang tepat, yaitu di antaranya:
a) Endemik Jepang
Kiji atau pegar hijau adalah spesies asli Jepang (Japanese green pheasant) yang hanya bisa ditemukan di pulau Honshu, Shikoku, dan Kyushu. Ini membuatnya secara unik mewakili keanekaragaman hayati negara tersebut.
b) Keindahan Fisik
Burung jantan memiliki bulu yang sangat indah dengan kilauan hijau zamrud, biru leher, dan pial merah yang mencolok. “Bentuknya yang anggun dan warna bulunya yang cerah” dianggap mencerminkan keindahan alam Jepang.
c) Burung Menetap (Residen)
Kiji atau pegar hijau adalah burung penetap (resident bird) yang berarti ia dapat terlihat di alam liar sepanjang tahun di berbagai daerah, termasuk di dekat pemukiman manusia. Ini membuatnya mudah dikenal dan diamati oleh masyarakat luas, tidak hanya pada musim tertentu .
d) Nilai Kuliner dan Berburu
Mungkin terdengar kontradiktif dengan statusnya sebagai simbol nasional, tapi salah satu pertimbangan awal untuk memilihnya adalah karena ia adalah burung buruan yang baik. Dagingnya lezat dan keberadaannya yang cukup umum memungkinkan perburuan sebagai olahraga sekaligus sumber pangan. Status ini menunjukkan bahwa di Jepang, simbol nasional tidak selalu harus dilindungi secara ketat seperti di negara lain, tapi lebih kepada representasi budaya.
Penetapan pegar hijau sebagai burung nasional Jepang pada tahun 1947 adalah sebuah keputusan yang komprehensif dan penuh makna. Burung ini merangkum keindahan alam (estetika), kekayaan mitologi dan sastra (sejarah), nilai-nilai luhur keluarga (sosial), dan bahkan kearifan lokal dalam membaca tanda-tanda alam (praktis). Burung ini adalah cerminan dari jiwa dan karakter bangsa Jepang itu sendiri.
D. Fakta-Fakta Menarik Lainnya tentang Burung Pegar Hijau
Di balik statusnya sebagai burung nasional Jepang yang anggun, tersembunyi serangkaian fakta mengejutkan, unik, dan bahkan kontroversial lho. Yuk, kita simak lagi satu per satu di bawah ini.
1. Bukan Hanya Satu, Tapi Tiga “Pahlawan” dengan Nuansa Berbeda
Salah satu kekeliruan umum adalah menganggap semua pegar hijau di Jepang tampak persis sama. Faktanya adalah para ahli membagi spesies ini menjadi tiga subspesies berbeda yang tersebar secara geografis. Perbedaan utama di antara mereka terletak pada intensitas dan nuansa warna bulu pada pegar jantannya. Ini seperti tiga saudara kandung dengan warna baju kesayangan yang sedikit berbeda. Pembagian ini adalah:
- Pegar Hijau Selatan (Phasianus versicolor versicolor): Ini adalah subspesies yang paling umum dan pertama kali diidentifikasi. Seperti namanya, mereka mendiami bagian selatan Jepang terutama di Kyushu dan Shikoku. Ciri khasnya adalah warna hijau gelap yang paling pekat dan mengilap di sekujur tubuhnya. Kilauan hijau mereka seperti permata giok yang paling dalam.
- Pegar Hijau Utara atau Pasifik (Phasianus versicolor robustipes): Sesuai dengan namanya yaitu robustipes berarti “kaki yang kuat”, subspesies ini ditemukan di wilayah utara terutama di pantai Laut Jepang di Honshu bagian utara dan mungkin juga di selatan Hokkaido (meskipun bukan asli Hokkaido). Warna mereka sedikit lebih pucat dengan semburat perunggu di bagian sayap dan punggung. Ada yang menggambarkannya sebagai campuran antara hijau dan tembaga.
- Pegar Hijau Iwai atau Pegar Hijau Tohoku (Phasianus versicolor tohkaidi): Subspesies ini mendiami wilayah tengah dan timur, terutama di semenanjung Kii dan daerah Tohoku di Honshu. Warna mereka berada di antara kedua subspesies lainnya. Mereka memiliki warna hijau yang kaya, tapi dengan sedikit kilauan ungu di bagian leher dan mantel membuatnya tampak lebih “berwarna” dibandingkan subspesies selatan yang lebih solid.
Perbedaan ini adalah hasil adaptasi terhadap lingkungan dan iklim yang berbeda di setiap wilayah kepulauan Jepang. Bagi para pengamat burung, membedakan ketiga subspesies ini adalah tantangan tersendiri yang mengasyikkan.
2. Suara yang Menjadi Nama dan Peringatan
Setiap burung memiliki suara khas dan suara pegar hijau begitu unik hingga memengaruhi penamaan dan kepercayaan lokal. Nama Jepang untuk burung ini adalah “Kiji” (雉) yang secara luas diyakini berasal dari onomatopoeia atau tiruan suaranya.
Jika kita pernah mendengar suara khas pegar jantan, suaranya terdengar seperti ledakan pendek yang keras seperti “Ken Ken!” atau “Ke Ke Ke!” yang diikuti dengan kepakan sayap yang keras. Dalam bahasa Jepang kuno, suara ini ditulis sebagai “Ki Gi Shi” atau “Ki Ji” dan seiring waktu itulah yang menjadi nama resminya. Jadi, setiap kali kita menyebut “Kiji”, kita sebenarnya sedang menirukan suaranya!
Selain percaya bahwa hewan ini sensitif terhadap gempa, masyarakat Jepang memiliki pengamatan yang lebih spesifik. Suara teriakan keras yang tidak biasa di luar konteks misalnya, di malam hari atau saat tidak ada ancaman langsung dapat ditafsirkan sebagai respons terhadap getaran frekuensi rendah atau perubahan tekanan udara yang mendahului gempa. Meskipun secara ilmiah belum terbukti secara konsisten, hubungan antara perilaku hewan dan gempa terus dipelajari, dan kepercayaan ini tetap mengakar kuat sebagai bagian dari kearifan lokal.
Burung ini selain punya suara yang keras, juga memiliki suara “kutuk-kutuk” pelan yang digunakan saat berkomunikasi dalam jarak dekat, misalnya antara induk dan anak atau saat pejantan sedang merayu betina.
3. Peribahasa yang Mengajarkan Kebijaksanaan
Keberadaan burung pegar hijau atau kiji tidak hanya berhenti sebagai tokoh dalam dongeng, tapi juga menjadi sumber inspirasi bagi peribahasa Jepang yang sarat makna.
Peribahasa yang berbunyi: Kiji mo nakazuba utaremai (雉も鳴かずば撃たれまい). Peribahasa ini secara harfiah berarti “Jika pegar tidak bersuara, ia tidak akan tertembak.” Ini adalah pelajaran kuno tentang kekuatan diam dan bahaya berbicara tanpa berpikir.
Dalam konteks berburu di masa lalu, pemburu akan mendeteksi keberadaan pegar dari suaranya. Jika seekor pegar diam saja, ia akan tersembunyi dengan aman di semak-semak. Tapi jika ia berkotek, ia akan menarik perhatian pemburu dan menjadi sasaran tembak. Maknanya kemudian meluas menjadi nasihat bijak seperti “Diam itu emas” atau “Jika engkau tidak ingin celaka, jagalah mulutmu.” Berbicara sembarangan atau menyombongkan diri hanya akan mendatangkan masalah.
4. Kontroversi Taksonomi Antara Spesies atau Subspesies?
Perdebatan ilmiah ini cukup menarik di kalangan ahli burung. Apakah burung pegar hijau adalah spesies yang benar-benar unik atau hanya “sepupu” dari kerabat dekatnya?
Pegar hijau (Phasianus versicolor) memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Pegar Leher Cincin atau Ring Necked Pheasant (Phasianus colchicus) yang tersebar luas dari Kaukasus hingga Asia Timur termasuk di daratan Cina. Kemiripan fisik dan genetik mereka sangat dekat dan yang paling penting mereka dapat kawin silang dan menghasilkan keturunan yang fertil (subur) .
Dalam ilmu biologi, salah satu definisi spesies adalah “kelompok populasi yang secara alami tidak dapat kawin silang dan menghasilkan keturunan fertil dengan kelompok lain”. Karena burung Kiji dan P. colchicus bisa kawin silang, beberapa ahli berpendapat bahwa burung ini seharusnya tidak dianggap sebagai spesies terpisah, tapi sebagai subspesies dari Phasianus colchicus dengan nama Phasianus colchicus versicolor.
Namun, karena isolasi geografisnya yang panjang di kepulauan Jepang dan perbedaan morfologi atau bentuk dan warna yang konsisten, banyak pula yang tetap mempertahankan statusnya sebagai spesies tersendiri. Perdebatan ini menunjukkan betapa rumitnya mengklasifikasikan keanekaragaman hayati.
5. “Rahasia” di Balik Warna Hijau yang Memukau
Pernah gak kita bertanya-tanya dari mana asal warna hijau zamrud yang spektakuler pada pegar jantan? Ternyata, itu bukan pigmen biasa lho. Warna hijau ini dihasilkan oleh struktur mikroskopis pada bulu, bukan pigmen warna.
Bulu-bulu tersebut memiliki lapisan-lapisan keratin yang sangat tipis dan tersusun secara teratur. Ketika cahaya matahari mengenai bulu ini, lapisan-lapisan tersebut membiaskan dan memantulkan cahaya hanya pada panjang gelombang tertentu (dalam hal ini warna hijau).
Ini adalah fenomena yang sama yang menghasilkan warna-warni pada sayap kupu-kupu atau gelembung sabun. Warna struktural ini jauh lebih cerah dan berkilau daripada warna yang dihasilkan oleh pigmen. Selain itu, pial merah cerah di wajah jantan diperkaya oleh pembuluh darah yang warnanya akan semakin merah dan membesar saat ia bersemangat, terutama saat musim kawin.
6. Peran dalam Kuliner dan Dampak Ekologis yang Tak Terduga
Sebagai burung buruan yang lezat, burung pegar hijau memiliki peran yang tak terduga dalam sejarah kuliner dan bahkan ekologi di tempat lain. Daging burung ini digambarkan memiliki rasa yang lebih kaya dan sedikit lebih kuat daripada ayam, tapi tidak terlalu “liar” seperti beberapa unggas buruan lainnya. Di Jepang, dagingnya kadang diolah menjadi sup atau hidangan panggang, meskipun saat ini perburuan liar diatur ketat.
Pada zaman feodal Jepang, terutama selama periode Edo, burung pegar hijau dianggap sebagai hidangan istimewa dan sering dipersembahkan sebagai hadiah berburu yang berharga kepada para penguasa feodal (daimyo) atau shogun.
Karena keindahan dan nilai berburunya, Kiji atau burung pegar hijau diperkenalkan ke berbagai belahan dunia pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. burung ini berhasil berkembang biak di beberapa tempat terutama di Kepulauan Hawaii dan beberapa bagian Amerika Utara seperti Pulau Vancouver di Kanada. Namun, di tempat lain, burung ini sering kawin silang dengan Pegar Leher Cincin yang sudah ada, sehingga populasi pegar hijau “murni” di luar Jepang sangat langka.
7. Simbol dalam Seni dan Kehidupan Modern
Pegar hijau atau Kiji terus menginspirasi hingga era modern. Burung ini sering muncul dalam beberapa media seperti berikut:
- Lukisan Tradisional: Burung pegar hijau adalah subjek populer dalam lukisan tinta dan warna, terutama yang bergaya Kacho-ga atau lukisan burung dan bunga. Burung ini melambangkan keindahan musim semi dan sering digambarkan di antara bunga sakura atau semak berbunga.
- Prangko dan Koin: Gambar burung pegar hijau telah beberapa kali muncul dalam desain prangko peringatan di Jepang.
- Maskot dan Merek Dagang: Beberapa perusahaan lokal di Jepang menggunakan burung pegar hijau sebagai maskot atau bagian dari logo mereka terutama yang berbasis di daerah pedesaan atau yang bergerak di bidang produk alami.
- Tim Olahraga: Nama “Kiji” atau “Green Pheasants” kadang digunakan sebagai julukan untuk tim olahraga sekolah atau klub lokal yang melambangkan kecepatan, keanggunan, dan semangat juang.
Dengan segala keunikan ini dari tingkat genetik hingga pengaruh budayanya, burung pegar hijau membuktikan diri sebagai makhluk yang jauh lebih kompleks dan menarik daripada hanya “burung nasional” biasa. Burung ini menyimpan cerita tentang evolusi, adaptasi, kebijaksanaan manusia, dan keindahan alam yang tak pernah habis untuk digali.
Burung pegar hijau Jepang atau dalam bahasa Jepangnya Kiji adalah burung cantik yang melukiskan sejarah, kepercayaan, dan nilai-nilai masyarakat Jepang. Dari bulu hijaunya yang memesona, perilakunya yang harmonis di alam, hingga perannya sebagai sahabat dalam dongeng dan mitos kuno, burung ini berdiri sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Jadi, kalau Minasan berkunjung ke Jepang, barangkali bisa berkesempatan untuk berjalan-jalan di pedesaan atau tepi hutan. Jika mendengar gemerisik dedaunan dan melihat sekilas kilauan hijau di antara rerumputan, mungkin di situlah baru saja bertemu dengan sang duta besar alam dan budaya Negeri Matahari Terbit ini ya hehe.
Nah, cukup sekian yang bisa Pandai Kotoba berikan tentang pegar hijau sang burung nasional Jepang yang cantik. Jika Minasan ingin tahu dengan budaya Jepang lainnya, di website ini tersedia banyak infonya lho, Salah satunya rekomendasinya nih: Mengenal Bonsai, Tanaman Hias Mini yang Penuh Seni. Klik untuk membacanya ya.
Sampai jumpa di artikel selanjutnya!


