Culture

Gaya Parenting di Jepang

Kultur parenting di Jepang sedikit berbeda dengan kultur parenting di belahan bumi lainnya. Alih-alih memanjakan anak, mereka mendorong anaknya untuk bisa mandiri sedini mungkin.

Menarik bukan? Penulis bernama Maryanne Murray Buechner berpikiran hal yang sama. Ketika menghabiskan waktunya selama enam tahun di Tokyo, ia mengungkap hal-hal unik dari kultur parenting di Jepang.

Buechner pun membagikan beberapa tips perihal parenting di Jepang yang ia petik selama dirinya hidup di negeri matahari terbit tersebut.

parenting jepang

Aturan Parenting di Jepang

Dalam artikelnya, Buechner menulis bahwa ia hidup di Tokyo dari tahun 2007 sampai 2012. Selama enam tahun tersebut, Buechner menemukan beberapa fakta menarik tentang kultur parenting orang Jepang. Dan tentu saja, dalam prosesnya ia jadi banyak belajar tentang parenting. Ia meyakini bahwa kultur parenting orang Jepang bisa menjadi contoh untuk semua orang tua di berbagai belahan dunia.

Inilah yang Buechner temukan dalam penelitiannya.

Kemandirian Anak

Hal pertama yang Buechner temukan adalah soal kemandirian anak. Anak didorong untuk bisa mandiri sedini mungkin. Anak-anak pergi ke sekolah tanpa ditemani meskipun menggunakan trasportasi publik.

Ia menuliskan, “Jepang memiliki tingkat kriminal yang rendah yang berarti negara ini bisa dikatakan aman, dan prinsip umum para orang tua yang percaya pada komunitasnya yang akan ikut mengawasi anak-anak mereka.”

Orang Tua Tidak Membicarakan Anaknya

Ketika kebanyakan orang tua berkeluh kesah kepada orang lain soal mengurus anaknya, namun tidak bagi orang Jepang. Orang Jepang hanya akan bercerita soal anak mereka ke orang yang paling dipercaya.

Juga, mereka menganggap bahwa membicarakan aktifitas anaknya sebagai sesuatu yang buruk. “Merupakan suatu kesombongan jika membicarakan anakmu yang masuk tim utama sepak bola di sekolahnya. Hal tersebut tidak perlu lagi dikoarkan, cukup dengan melihat anakmu di depan publik menggunakan seragam sepak bola tim utama.”

Bagaimanapun, kultur parenting di Jepang sangat kompetitif. “Parenting di Jepang termasuk hyper-competitive, sungguh suatu tekanan besar agar bisa menyekolahkan anakmu di sekolah yang bagus. Persiapan ujian masuk sekolah sangat intens”, tulis Buechner.

Keterikatan Yang Ekstrem

 Buechner pun menemukan bahwa para orang tua di Jepang mempraktikkan keterikatan ekstrem dengan anaknya, meskipun mereka tidak memperlihatkannya di depan publik.

“Biasanya para ibu di Jepang membawa serta anak mereka ke manapun, mengikatnya dalam gendongan seperti tas punggung. Baik itu di dalam rumah, pergi berbelanja, bahkan ketika bersepeda. (Di Nagano saya melihat seorang ayah yang menggendong anaknya sambil bermain ski.)  Kedekatan secara fisik ini mengekspresikan bagaimana afeksi para orang tua pada anaknya, meski tidak dengan ciuman atau pelukan”, tulis Buechner.

Buechner menambahkan bahwa kebanyakan orang tua di Jepang tidur bersama dengan anaknya. Ibu tidur di satu sisi, ayah di sisi lain dan anaknya tidur di tengah. Kebiasaan ini akan terus berlangsung selama masa pra-sekolah.

“Dan kamu akan melihat banyak ibu di Jepang yang membawa serta anak mereka yang masih kecil saat berendam di pemandian umum.” Tambah Buechner dalam artikelnya.

Orang Tua Mendorong Anaknya Agar Bisa Menahan Diri

Selama enam tahun di Tokyo, Buechner mengamati bahwa ada satu elemen penting dalam parenting orang Jepang, yaitu menahan diri.

Dari usia sangat dini, para orang tua mendorong anak-anak mereka untuk menjaga kedamaian dan harmoni dalam keluarga dan lingkungan dekatnya. Meskipun mereka harus menahan diri ketika marah atau cemas.

“Di manapun kita berada, di restoran, mal, museum, atau ketika berjalan kaki di trotoar ketika jam-jam sibuk, atau sedang hiking, saya melihat anak-anak Jepang terlihat sangat tenang dan terkendali. Berbeda dengan anak-anak saya yang berisik saling desak-desakan satu sama lain, mengobrol dengan suara yang kencang.” Tulis Buechner.

Pentingnya Menyiapkan Bekal Makanan

Sementara para ibu perkotaan menenggelamkan dirinya pada kesibukan pekerjaan sehingga menyiapkan bekal yang praktis untuk anak-anak mereka, namun berbeda dengan para ibu di Jepang yang sangat cermat perihal menyiapkan bekal makanan untuk anak mereka, khususnya bekal makan siang yang dibawa ke sekolah.

Meskipun para ibu mesti bangun lebih awal dari anggota keluarga yang lain, para ibu di Jepang berusaha untuk menyiapkan bekal makanan anak-anak mereka dengan sangat cermat. Para ibu memastikan bahwa isi bekal anak-anak mereka penuh dengan warna, yang menggugah selera, bentuk yang lucu, dan tentu saja menyehatkan.

Buechner menulis dalam artikelnya, “Para ibu di Jepang menerapkan standar yang tinggi soal bekal makanan anak-anak mereka, bangun lebih awal untuk menyiapkan makanan sehat yang disusun dengan cantik, ada ikan, tahu, sayuran, rumput laut, dan bola-bola nasi yang dibentuk menyerupai bentuk hewan atau tumbuhan.”

Kisah Dongeng Bukan Lelucon

Selama tahun-tahunnya hidup di Jepang, Buechner juga belajar tentang orang-orang Jepang yang senang bercerita tentang dongeng, legenda dan mitos pada anak-anak mereka.

“Hal yang umum bagi orang Jepang untuk menceritakan kisah-kisah dongeng, karakter-karakter legenda dan merayakan berbagai festival. Banyak festival yang dirayakan sepanjang tahun, seperti Tengu Matsuri yang dirayakan untuk menghormati sosok mitologi berhidung panjang yang disebut Tengu, atau Setsubun, hari ketika mengusir Oni dengan cara melemparkan kacang kedelai.” Tulis Buechner.

Kepulangan Buechner setelah bertahun-tahun tinggal di Jepang, membawa pengetahuan dan wawasan tentang kultur parenting di Jepang. Dan ia mencoba menerapkan beberapa hal di dalam keluarganya sendiri. Kalau kamu bagaimana?

Leave a Reply

Your email address will not be published.