Culture,  Kuliner,  Leisure

5 Hal Tentang Makanan di Jepang Yang Mungkin Kamu Lewatkan

Setiap negara punya kebiasaan makan yang bermacam-macam, termasuk di Jepang. Budaya makan orang Jepang, dan tata caranya sangat unik. Selain memulai makan dengan itadakimasu dan diakhiri dengan gochisousamadeshita, apa saja ya hal-hal lainnya yang mungkin kamu lewatkan.

Bahan Makanan Mengikuti Musim

Keistimewaan makanan Jepang adalah bahan-bahannya pun tersedia sesuai musim.

Persentase hidangan sayur dan ikan di Jepang terbilang tinggi dibandingkan dengan daging. Makanan Jepang pun akan berubah tergantung pada musimnya, dan restoran-restoran di jepang bisa mengubah menu mereka sesuai musim.

Akhir-akhir ini berbagai macam sayuran dapat tersedia sepanjang tahun. Tetapi tetap ada sayuran musiman (masa ketika rasa sayuran mencapai puncaknya untuk dipanen), misalnya sayur musim semi, sayur musim panas, musim gugur, dan musim dingin.

Buah-buahan juga bervariasi tergantung pada musim. Buah musim semi adalah buah arbei, buah musim panas adalah semangka, pada musim gugur terdapat buah kesemek, dan di musim dingin terdapat jeruk.

Apabila di Indonesia musim tergantung matangnya buah-buahan, misalnya “musim mangga” atau “musim durian” dan sebagainya.

Bahkan ikan pun juga dapat bervariasi sesuai musim. Misalnya, ikan khas musim gugur adalah sauri pasifik.

Di tempat yang disebut Meguro di Tokyo, setiap tahun, jiak memasuki bulan September, diselenggarakan “Perayaan Ikan Sauri Pasifik”.

Orang-orang membakar ikan Sauri Pasifik dalam jumlah yang banyak dengan arang, untuk kemudian dibagikan kepada orang-orang yang telah berkumpul untuk menikmati kelezatan ikan Sauri Pasifik yang penuh lemak.

Di Prefektur Fukui terkenal dengan kepitingnya. Kepiting tersebut sangat mahal harganya, tetapi tetap sangat populer. Di Prefektur Fukui, ada ketetapan waktu penangkapan kepiting, yaitu dari bulan November sampai Maret. Pada masa ini, kepiting dari Prefektur Fukui akan banyak dinikmati.

Kentang Jepang dari Indonesia?

Di sisi lain, orang Jepang sangat menggemari kentang, yang bisa disantap sepanjang tahun. Tetapi tahukah kamu, dari mana kentang dibawa ke Jepang? Jawabannya adalah Indonesia. Kentang dibawa dari dari Jayakarta (Jakarta) oleh pedagang Belanda ke Jepang lebih ari 400 tahun yang lalu.

Konon katanya, kentang dalam bahasa Jepang disebut jagaimo, kata yang berasal dari istilah “Jayakarta kara kita imo” (Ubi yang didatangkan dari Jayakarta). Nah lho benarkah itu?

Peralatan Makan

Di Jepang, bukan hanya makanan saja, peralatan makan pun tersedia untuk bisa merasakan “rasa” musim, sesuai dengan perubahan musim. Peralatan makan yang dimaksud adalah perkakas untuk menyusun makanan.

Tetapi, dengan masakan Jepang, peralatan ini juga dapat berfungsi sebagai hiburan bagi mata, dan dengan kata lain, untuk menghargai, menikmati, dan merasakan rasa musim.

Penggunaan peralatan makan tertentu akan dibedakan sesuai dengan musim. Di restoran Jepang, pelayan akan mengenakan kostum (misalnya kimono) untuk dapat merasakan rasa musim secara implisit.

Dengan makna tersebut, bersamaan dengan rasa masakan Jepang, juga ada seni untuk mengesankan orang yang melihatnya. Budaya seperti ini hampit tidak terlihat di negara lain.

Makanan Sebaiknya Dipotong Kecil-Kecil

Salah satu perbedaan makanan Jepang dengan masakan Eropa adalah, makanan Jepang akan dipotong kecil-kecil supaya mudah untuk dimakan. Misalnya sashimi.

Orang yang pernah makan sashimi disajikan setelah dipotong terlebih dahulu dengan besaran tertentu supaya dapat dimakan dalam sekali suap. Ini menunjukkan perbedaan apresiasi koki, atau orang yang memasak, terhadap orang yang akan menyantap makanannya.

Steak yang merupakan makanan khas Amerika disajikan dalam bentuk potongan daging yang besar, dan orang akan makan dengan cara memotongnya menggunakan pisau dan garpu.

Menurut pemikiran orang Jepang, mustahil untuk membuang waktu seperti itu bagi orang yang akan memakannya. Mereka berpikir bahwa makanan lebih baik disajikan setelah dipotong kecil-kecil terlebih dahulu supaya mudah untuk dimakan. Hal itu merupakan sebuah bentuk kesopanan.

Menyangga Mangkuk Nasi

Ketika makan nasi, yang merupakan makanan pokok di Jepang, orang Jepang akan menyangga mangkuk yang merupakan perkakas untuk wadah nasi, membawanya ke dekat mulut, kemudian makan dari mangkuk tersebut.

Makan nasi dengan posisi mangkuk tetap berada di meja adalah tidak sopan.

Kebiasaan makan Jepang ini sangatlah berbeda dari budaya Eropa atau Amerika. Tampaknya bukan hanya Amerika saja, Korea rupanya makan nasi dengan mangkuk tetap harus diletakkan, tidak boleh disangga. Terbalik dengan Jepang.

Tetapi orang Jepang tidak mengangkat piring yang berisi lauk-pauk (hidangan utama). Karena ada peralatan makan yang harus diangkat dan ada peralatan makan yang tidak harus diangkat seperti ini, maka aturan makan Jepang harus dipelajari dan diperhatikan.

Berbeda dengan di Indonesia, orang Jepang makan tidak menggunakan tangan. Tangan kosong ya maksudnya. Cara menggunakan sumpit telah diajarkan secara ketat oleh orang tua sejak anak-anak. Di Jepang ada banyak sekali tata krama dan aturan ketika makan, tetapi sebagian besar sudah diajarkan oleh orang tua ketika anak-anak.

Baca juga artikel lainnya tentang Budaya Jepang hanya di Pandai Kotoba!

Leave a Reply

Your email address will not be published.